Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 52


__ADS_3

Quen mempersiapakan keperluan yang akan ia bawa ke New York besok. Dia sudak memoacking koper miliknya, tinggal milik Alex, suaminya.


"Sayang, kamu bawa baju berpa? Baju olah raga bawa, tidak?" tanya Quen pada Alex, yang sibuk bercermin menyibak-nyibakan potongan rambut barunya.


"Terserah, dikira-kira saja, dua minggu kita di sana, baju olah raga dan celana renang, bawain, saja," jawab pria itu, sibuk memandangi bayangan dirinya sendiri.


Quen diam sejenak, lagi pula mereka tidak berlibur dan tidur di hotel, kan? Mereka ke rumah orang tuanya, tentu saja tak perlu bawa banyak-banyak pakaian, mereka bisa mencucinya di sana.


Quen membongkar ulang isi koperya, mengurangi pakaian hampir setengahnya. Lalu, meletakan jadi satu pakaian ganti milik alex dengannya. Dan kopor Alex dibuarkan kosong untuk menaruh oleh-oleh dari indonesia yang tidak ada di sana, untuk kedua mertuanya.


Tigapuluh menit kemudian Quen sudah selesai mampacing semua yang perlu di bawa besok. Sengaja ia mengambil penerbangan malam karena dia ingin melihat bintang dengan jarak lebih dekat dari bumi. Walau mustahil pula untuk menyentuhnya.


Quen menyeret koper dan meletakannya di sebelah pintu kamar, dilihatnya Alex yang kini tengah berselfie ria sambil bergaya dengan berbagai pose. Quen tertawa seorang diri lalu, menghampiri suaminya yang yang ternyata sangat narsis abis itu.


"Sudahlah, Sayang. Bagaimanapun kau tetap saja tampan, gak perlu lah terlalu banyak gaya dan menyebarkannya di sosial media, semua tau, kok," ucap Quen sambil memeluk tubuh laki-laki itu dari belakang dan menempelkan kepalanya pada punggung Alex.


"Buat kenang-kenangan saja, ayo kita selfie," ajak Alex sambil tertawa.


Quen tidak menjawab, ia meraih smart phone dari tangan Alex, mematikannya lalu diletakan pada nakas.


"Sudah malam, yuk tidur, aku ngantuk nih," ajak Quen sambil membenarkan posisi di atas ranjang.


Tanpa protes, Alex berbaring di sebelah Quen, ia menoleh ke arah istrinya yang sudah memejamkan matanya sambil memluk guling menghadap dirinya.


"Sayang! Sudah tidur, ya?"


Quen membuka matanya perlahan agak menyipit, "Belum, sih. Kenapa?" Ini mungkin sangat ambigu, ngapain pula suami menanyakan istrinya sudah tidur apa belun pada malam hari dan suasana rumah juga sudah sepi?


"Kau capek?" tanya Alex.


"Ya, lumayan, sehari ini kita menghabiskan banyak waktu untuk berbelanja, dan jalan-jalan," jawab Quen dengan nada lemah dan lelah.


Tanpa sepatah kata pun, Alex menarik guling dari pelukan Quen dan menyinkirkannya, ia merentangkan tangan kirinya untuk dijadikab bantal Quen, sekaligu agar keduanya dapat berpelukan saat tidur nanti.


"Kemarilah!" Mata Alex memberi isyarat kepada Quen. Sedangkan wanita itu tersenyum dan berpindah posisi. Quen dapat merasakan kehangatan tubuh Alex yang menjalar pada dirinya, ia juga merasa nyaman saat menempelkan wajahnya pada dada bidang Alex.


Ah, sudah beberpa minggu menikah kenapa aku baru sadar dipeluk begini sangat nyaman? Pantas saja. Bagi pria maupun wanita yang sudah menikah akan sudah tidur jika LDM an, ternyata guling bernyawa lebih nyaman di peluk. Gumam Quen dalam hati.


Alex tidak hanya diam, ia memeluk sambil tangan kanannya memijati panggung dan pundak Quen. Tentu saja, dia akan lebih mudah cepat terlelap jika begini, sebab ia meraskaan kenyamanan yang lebih.


"Bagaimana? Enak tidak sayang?" tanya Alex.


"Ya, enak sekali, terus!" ucap Quen sambil memejamkan matanya lalu tak berapa lama kemudian dia benar-benar sudah terlelap.


Alex diam sesaat ia amati wajah cantik alami Quen yang sudah terlelap dan nampak lelah, diciumnya kening wanita itu beberapa kali dengan kecupan penuh kasih sayang.


🍁 🍁 🍁 🍁


"Kalian semua hati-hati, ya. Kabari kami kalau sudah tiba!" Seru Clara kepada Quen juga Alex dan kakak iparnya.


"Iya, Ma. Pasti, kami akan segera menelfon kalian nanti," jawab Quen dengan wajah ceria dan bahagia.


"Tunjukan sikap baik dan dewasamu di hadapan kedua mertuamu, jangan nakal dan ngambekan," Goda Al pada Quen, lalu mendarat sebuah cubitan di lengan Al yang lumayan keras hingga menimbulkan sedikit bekas merah di sana.


"Iya, komandan siap," jawab Quen.


"Duh, sakit banget nyubitnya, pasti pas hamilnya kamu, mama doyan makan kepiting," ucap Al meringis kesakitan sambil menggosok-gosok bekas cubitan itu.

__ADS_1


Vano berjalan mendekatti Alex lalu menepuk sebelah pundak pria itu yang baru sebulanan ini jadi menantunya.


"Alex, aku titipkan putriku kepadamu, ya? Tolong jaga dia baik-baik untukku," ucap Vano dengan suara yang mantap berwibawa dan wajah yang penuh harap serta serius.


"Iya, Pa. Pasti saya akan jaga dia baik-baik untuk papa juga untuk diri saya sendiri," jawab Alex dengan penuh rasa hormat.


Tiga puluh menit lagi pesawat yang akan dinaiki mereka berlima akan segera terbang. Al, Clara Vano dan juga Nayla pun kembali pulang, sementara mereka akan segera masuk ke kabin pesawat.


Sesuai riques kepada Alex sebelumnya, Quen duduk tepat di sebelah jendela pesawat. Memang ini adalah tempat favoritnya sedari kecil saat ikut papa atau kakeknya ke luar kota atau pulau, dan ini, kali pertama ia ke luar Negeri.


"Alex, kau tahu kenapa aku baru kali ini keluar Negeri dan itupun setelah menikah dengan anak orang luar negeri pula?" tanya Quen sambil menatap ke luar jendela.


"Tidak, memang kenapa? Kukira kau hanya cinta Indonesia dan tak ingin menengok luar negeri sekalipun." jawab Alex singkat.


"Bukan, itu karena aku tak ada cita-cita keliling dunia. Karena bagiku naik pesawat saja aku sudah senang walau tak tahu kemaba tujuanku, tapi, sekarang tidak. Bersamamu aku memiliki tujuan tidak hanya melihat angkasa dan bintang-bintang dari dekat serta bumi dari jauh saat mulai terbang dan akan landas."


Alex mengelus rambut Quen dan menatap wajah itu dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang.


"Kita akan sangat lama di udara, kau, tidurlah!" ucap Alex setelah beberapa jam di atas pesawat.


"Sebentar, aku belum mengantuk," jawab Quen.


Alex tidak mau lagi berdebat dengan istrinya yang sedikit keras kepala, ia menarik badan Quen pada pelukannya dan menempelkan di dada bidangnya untuk bersandar sabil berbisik, "Kau tidak ingin, kan terlihat layu dengan lingkar hitam di matamu saat berjumpa dengan papa mamaku, kan?"


Quen memanyunkan bibirnya dan menatap Alex dengan tatapan penuh permohonan.


"Untuk sampai New York kita memerlukan waktu kurang lebih duapuluh satu menitan sayang, kau masih bisa menikmatinya lagi besok," ucap Alex berusaha menjelaskan.


"Baiklah, aku akan memejamkan mata saat ini juga, kau juga tidurlah, jangan memandangi body sexy para pramugari," ucap Quen sambil menempelkan tangan kirinya di dada bidang suaminya.


Setelah duapuluh jam tigapuluh menit melayang di angkasa dalam garuda besi, mereka akhirnya menyentuh daratan New Yor. Sengaja dua putra dan putri pasangan Rita dan Nicolas tidak mengabari kedua orang tuanya, mereka memberi kejutan utuk ulang tahun yang ke limapuluh tahun Mama Rita.


Quen berjalan menuju taxi dengan menggenggam erat lengan Alex, Alex mengerti, pasti dia nervous untuk bertemu dengan mertua yang bahkan sama sekali ia belum pernah melihatnya selain pada foto yang ditunjukan pada Alex beberapa minggu lalu.


"Alex, papa ada di sini, apa di Canada sekarang?" tanya Novita sebelum Alex masuk taxi yang akan dinaiki bersama dengan Quen.


"Gak tau, harusnya dia ada di sini, bukannya besok ulang tahun mama?"


"Apakah kau tidak menelfon dan tanya sebelumnya?"


"Ya bukan kejutan lagi namanya, Kak. Ya sudah dilihat nanti saja, istriku capek dia butuh berbaring," ucap Alex sambil membukakan pintu untuk Quen.


Aditya dan Novi saling pandang dan keduanya sama-sama melempar senyum dan masuk ke taxi belakang Alex dan Quen dengan Axel duduk di tengah.


"Apakah mama dan papa tahu kalau kita rujuk?" tanya Aditya membuka pembicaraan, bahkan dia lupa menanyakan prihal ini sebelumnya.


"Yes, they know," jawab Novita singkat dalam bahasa ingris agar Axel tidak mengerti percakapan mereka jika membahas suatu hal yang lebih dalam tentang rumah tangga dan masa lalunya saat berkhianat pada Aditya.


"Is't true?  Since when?  did you tell them before?" tanya Aditya heran.


"they already thought I would be dumped and come back to you again, so I told them and they supported.  because, I said you remain alone," Novita tertawa saat mengatakan hal itu, sebab, ia tahu betapa curangnya dia, dan jelas Aditya tahu itu, karena walau ia kemarin mengetahui kalau mantan suaminya akan menikahi seorang gadis yang kini telah jadi adik iparnya, ia tetap saja datang dan terus memohon.


Aditya tak bisa marah. Ia malah ikut tertawa, sebab, selain ia juga masih mencintai Novita, ia tahu dan dapat merasakan kalau Quen bahagia bersama Alex. Terlebih, dengan cara curang pula dia mendapatkan Quen. Jika saja bersaing dengan cara sehat, jelas Aditya akan kalah.


"Dasar wanita rubah," ucap Aditua sambil memencet hidung Novita.


Sekitar tigapuluh menit kedua taxi itu sampai pada sebuah rumah besar dengan tumput-rumput hijau yang tumbuh di halaman serta pagar hifup dari tanaman perdu ya g sudah di pangkas rapi.

__ADS_1



Alex turun dari taxi mengeluarkan koper dan bawaan mereka, lalu menggandeng tangan Quen erat sambil memencet bel rumah.


Cukup lama dua pasangan itu menunggu hingga keluar seorang wanita paruh baya berdarah campuran Indonesia-Amerika, berjalan tergopoh-gopoh dan namoak syock melihat siapa yang datang.


"Selamat sore, Mama." sapa Alex yang berdiri bersama Quen di depan Novi Aditya dan Axel.


Dari bandara sampai ke kediaman orsng tua Alex dan Novita membutuhkan waktu duapuluh satu jam. Dan selisih waktu antara New York dan Jakarta duabelas jam lebih lambat.


Mereka mulai terbang dari Bandara soekarno Hatta jam sepuluh malam, di sini jam tujuh pagi, dan di Jakarta saat ini sekitar pukul 17.00WIB.


"Happy Birthday, Mama!" teriak Alex sambil memeluk wanita itu.


"Alex, Novi, kalian bahkan tidak mengabarikh terlebih dahulu? Masuklah! Ayo, pasti kalian belum sarapan, kan?" ucap wanita paruh baya itu antara terkejut bahagia dan tergopoh-gopoh bingung. Pertama dipandangnya Aditya, ia memeluk pria itu, "Kau sudah kembali rujuk dengan putriku lagi, Nak? Terimakasih sudah mau menerima dia kembali dan menjaka Axel dengan baik." dia menepuk pundak laki-laki itu berulangkali.


Lalu matanya memandang ke arah Axel ia tersenyum dan memelik bocah delapan tahun itu dan memanggilnya dengan panggilan cucuku. Terlihat dari mata dan senyuman wanita itu kalau ia benar-benaer sangat merindukan cucu sematawayangnya itu.


"Ma, aku punya kado spesial untuk ulang tahunmu nanti," jawab Alex, seraya sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya."


"Apa yang inginkau berikan pada mamamu yang sudah tua renta ini? Tiket liburan ke luar Negeri? Mama akan menolaknya, usia mama sudah tidak muda lagi," jawab wanita itu sinis, rupanya ia belum sadar kalau ada sosok wanita yang belum pernah dilihat sebelumnya saking sibuknya dengan Axel.


Sejurus kemudian Alex menemukan sesuatu yang dicarinya. Ia mengeluarkan dua buku kecil berwarna maroon dan hijau gelap dari dalam ranselhya dan memberikannya kepada mama Rita.


"Ini kadonya, selamat ulang tahun, Mama," ucao Alex sambil merangkul pundak Quen.


"Apa, Ini?" tanya mama Rita dengan tatapan tidak percaya melihat dua buku nikah lalu Al dan Quen secara bergantian. "Inikah menantu mama, Alex? Cantik sekali?" Mata wanita itu nampak berlinang air mata, ia bahagia sekaligus terharu, dilihatnya kembali buku nikah itu untuk mengetahui siapa nama wanita itu.


Quen melihat ke arah Alex dan maju untuk mencium tangan mertuanya begitu mendapat persetujuan dari suaminya melalui isyarat mata dan sedikit anggukan kecil.


"Namanya, Quen, ya? Sesuai dengan orangnya, cantinya seperti tuan putri." Puji mama rita lalu memeluk menantunya.


'Tentu dia sangat cantik, jika saja tidak, mana mungkin Alex akan memepertahankan dan Aditya sampi tergoda oleh kecantikan dan kemanisan sikapnya itu?' ucap Nobita dalam hati.


"Ayo, ke dalam kalian sarapan dulu. Pasti bibi sudah menyiapkan makanan untuk kalian.


"Kami sudah sarapan di pesawat tadi, Mama. Oh, iya Papa di mana?" tanya Novita sambil berjalan menyeret kopernya menuju kamar.


"Ya Tuhaaan, aku sampai lupa tidak memanggil papa kalian, dia ada di kebun belakang merapikan tanaman sayur dan bunga-bunga," jawab mama Rita. "Liz, panggilkan tuan, kemari!" teriak Rita kepada asisten rumah tangganya.


Tak lama kemudian papa Nicolas datang, melihat siapa tamu yang akan datang betapa terkejutnya beliau melihat kedua anaknya berkunjung dengan membawa pasangannya. Mula-mula ia tidak tahu kalau wanita yang dipeluk Alex adalah menantunya, ia mengira mereka masih pacaran. Jadi, ia membahas soal pernikahan.


"Alex, kau kapan akan menikahi gadis cantik ini?" tanya papa Nicolas.


"Pa, mereka sudah satu bulan ini menikah, lihat! Bahkan putramu telah membuatku sport jantung saja," ucap mama Rita sambil menunjukan dua buku nikah.


"Alex, kau ini sembarangan saja menantang-mentang anak laki-laki, apa kau pikir pernikahan kalian bisa bahagia tanpa doa restu dari kami? Tidak, ini tidak bisa dibiarkan," ucap papa Nicolas dengan wajah tidak terima.


"Pah, mereka sudah menikah dan menjalin hubungan putus nyambung sejak SMA kelas dua," bela Novita pada papanya.


"Justru itu, ayo, kita adakan pesta pernikahan besar-besaran di sini dengan adat sini, untuk membuktikan kalau putra kita sudah menikah." Papa Nicolas tertawa bahagia lalu merogoh sakunya meraih benda pipih dari dalamnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, Mr. Setelah pesta ulang tahun istriku besok, cepat siapkan pesta pernikahan di sini, bisa? Ok aku mau yang terbaik untuk putra dan menantuku pokokntya, jangan khawatir biaya, sudah kupersiapakan. Ok." lalu pria itu mematikan pangilannya dan kembali mengajak bicara Quen menanyai banyak hal.


Beruntung, Quen fasih dalam bahasa ingris jadi, dia tidak kesulitan ngobrol dengan papa mertuanta yang merupakan oranf asli USA. Dan menetap di New York bersama istri tercinta untuk menikmati masa tua merka berdua.


"Pa, kami lelah, bisakah kami istirahat dulu?" ucap Alex yang melihat wajah Quen sedikit memucat.

__ADS_1


__ADS_2