Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
42(National Husban)


__ADS_3

"Ini benar obat aborsi yang dikonsumsi Clara." Lusi menolah pada dua rekan dokternya.



"Apa pasien juga priksa kandungan di sini, Dok?" tanya seorang dokter wanita paruh baya kepada Lusi.



"Iya, cuma siapa yang menangani kita tidak tahu." Lusi mengerutkan keningnya dan berfikir keras.



"Bagaimana kalau kita lihat CCTV, saja, dok?" saran asisten Lusi.



"Oh, iya kamu benar, ayo kita kesana."



Begitu Lusi melihat rekaman CCTV tidak ada hal janggal, bahkan saat pengambilan vitamin ibu hamil di apotik RS juga semua baik-baik saja.



Tapi begitu ia akan pergi, di loby rumah sakit ada seorang wanita mengenakan masker bertabrakan dengan Clara, membuat Tas keresek dari apotik miliknya terjatuh. Sepertinya wanita itu sengaja menukarkan miliknya dengan milik Clara, dan Clara tidak menyadarinya.



"Pak, tolong potong Video ini dari perempuan ini mengambil obat sampai tertabrak, lalu kirimkan ke WA saya, ya. Cepat!" perintah Lusi pada petugas cctv.



Bersama Reza Lusi menemui Vano di cafe dekat dengan kantornya, ia menunjukan bukti rekaman kalau memang ada yang mengincar Clara.



Vano terdiam berusaha mengingat sosok dalam rekaman yang sengaja menukarkan vitamin dan obat aborsi.



"Dia menggunakan masker, kita sulit untuk mengenalinya," ucap Reza.



"Ya, tapi bentuk tubuh wanita itu aku merasa familiar," ucap Vano.



"Apakah kamu tahu?" tanya Lusi penuh rasa kawatir.



"Ya, tapi aku tidak yakin kalau itu dia. Kami sudah lama tak ada komunikasi."



"Ya sudah Van, yang penting kamu jaga Clara baik-baik. Kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan hubungi kami," ucap Reza sambil merangkul pundak Lusi.



"Iya, trimakasih ya banyak merepotkan kalian," jawab Vano.



*********


Seorang wanita dengan rambut tergerai indah mengenakan dres Warna putih se lutut berjalan menggendong bayi cantik berusia sekitar empat bulanan sambil menenteng rantang di tangan kanannya.



"Selamat siang, Bu," sapa setiap karyawan dengan hormat pada nya saat ia memasuki area kantor.



"Selamat siang juga," jawab wanita itu sambil tersenyum ramah.



Wanita itu menuju ruang resesionis dua wanita di sana pun juga memberi salam serta hormat.



"Siang Bu Clara, apakah anda mau ke ruangan Pak Vano?"



"Iya, apakah Pak Vano ada di ruangan?"



"Iya ada, Bu. Perlu saya antar?"



"Trimakasih, saya akan kesana sendiri." Sambil mengajak ngobrol Quenza Clara berjalan menuju ruangan suaminya.



Tanpa mengetuk pintu Clara langsung begitu saja membukanya dan masuk.



"Selamat siang, Papa," sapa Clara sambil tersenyum dan memainkan tangan Quenza di gendongannya melambaikan ke arah Vano yang nampak serius dengan berkas di tangannya.



"Sayangku, kalian kemari? Naik apa sayang? Ayo sini." Dengan antusias Vano berdiri meninggalkan pekerjaannya menyambut anak dan istinya.



"Kamu kangen Papa, ya sayang? Ayo sini ikut papa," dengan Hati-hati Vano mengambil putrinya dari gendongan Clara.



"Aku bawain kamu makan siang Van, mau makan sekarang apa nanti?" ucap Clara duduk di sebelah Vano.



"Kamu masak apa, sayang?" ucap Vano sambil meraih tubuh Clara di sebelahnya mencium pipi wanita yang amat ia cintai itu sambil memangku putrinya.



"Itu aku buatin kamu sop ayam sama perkedel kentang, mau?"

__ADS_1



"Iya, boleh. Tapi di suapin." Manja Vano.



"Udah besar juga," jawab Clara sambil tertawa dan mengambilkan makanan yang ia letakan di meja kerja Vano.



"Kan aku mangku Quenza, Sayang," bantah pria itu. Dan akhirnya Clara pun mengalah, menyuapi suaminya.



Kita jalan-jalan, yuk. Sekalian aku antar kalian pulang," ajak Vano usai makan siang.



"Kebetulan, popok Quenza habis, Van."


"Ya sudah, kita ke minimareket sebelah saja," ajak Vano. Kebetulan letaknya tidak jauh, dan di pinggiran jalan terdapat tanaman pepohonan yang rindang, jadi tidaka akan membuat para pejalan kaki kepanasan.



Tidak jauh dari area kantor Vano, Clara melihat seorang anak laki-laki berusaia lima tahunan berada di tengah jalan raya dan hampir tertabrak mobil.



Berutung Quen digendong oleh papanya, jadi Clara bisa menyelamatkan anak laki-laki itu dengan tepat waktu, meski sikunya terserempet mobil.



"Clara, hati-hati!" Seru Vano kaget.



Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, melihat kondisi jalan lalu menyebrang menghampiri Clara dan anak kecil yang diselamatkannya.



"Ra, yang kamu lakukan itu bahaya banget, lho," ucap Vano khawatir, sampai wajahnya pun memucat.



"Aku gak papa, Van." Clara bangkit berjalan menyebrangi jalan sambil menggandeng anak itu ke trotoar. Sementara Vano, dia ke mini market membeli air mineral untuk mereka.



"Dek, kamu tahu tidak berada di tengah jalan seperti tadi itu bahaya, di mana ibu kamu?" tanya Clara sambil tersenyum lembut.



"Aku tidak tahu dia di mana, harusnya dia sudah menjemputku," jawab anak itu polos.



Tak lama kemudian datang seorang wanita muda berpakaian formal, kira-kira usianya empat tahun lebih tua dari Clara.



"Revan, maafin mami telat jemput kamu." Dengan penuh rasa bersalah wanita itu memeluk erat anak itu.




"Trimakasih ya, Mbak sudah jaga anak saya," ucap wanita itu yang tak lain ibu dari anak bernama Revan.



"Lain kali hati-hati, jika tidak diselamatkan istriku dia sudah tertabrak mobil," ucap Vano yang tiba-tiba saja muncul dengan dua botol air mineral.



"Vano? Benarkah ini kamu, Van?" ucap wanita itu berjalan mendekati Vano sambil memegang lengannya.



"Lama kita tidak jumpa, kamu apa kabar?" ucapnya lagi tak perduli dengan orang sekitar. Jangankan Clara. Quenza yang sedari tadi dalam gendongan Vano saja tidak disapanya.



"Kalian sudah kenal rupanya? Ya sudah mari mampir kerumah," ajak Clara, berusaha tersenyum meski hatinya terasa tidak enak.



Di dalam mobil, Quen yang biasa ceria duduk di depan bersama mamanya hari ini juga sedikit rewel, samapai-sampai Clara kwalahan.



"Dia kenapa sih, Sayang? Tumben rewel banget?" tanya Vano sambil fokus pada jalanan.



"Aku tidak tahu, Van. Tadi juga baik-baik saja anaknya."



"Coba kamu cek popoknya. Atau mungkin ada sesuatu yang mengenai kulitnya." Vano pun mulai panik.



"Tidak ada, Van. Sudah lah tidak apa-apa, nanti sampai rumah biar aku mandiin dia." ucap Clara dengan lembut dan penuh rasa sabar.



Sesampai di rumah Clara baru ingat dengan nama Dela, dia adalah mantan pacar Vano dulu dan putus saat ia masih SMA. Setelah sekian lama kini dia muncul lagi dengan seorang anak laki-laki, bahkan kalau dilihat sangat mirip dengan Vano.



"Kamu sekarang tinggal di mana Del?"


Tanya Vano saat makan malam.



"Di Jakarta aku masih belum punya tempat tinggal pasti, sebulan ini kami hanya tinggal di kos-kosan kecil," jawab Dela sambil menyuapi putranya.



"Memang sebelumnya kalian tinggal di mana?"


__ADS_1


"Sudah lima tahun setengah, tepatnya sejak saat itu aku ke Bandung bersama kakek dan nenekku," ucapnya lagi sambil menunduduk.



"Suamimu ada di mana Del?" tanya Clara memberanikan diri.



"Aku adalah single mother putraku, jadi tidak bersuami, di Bandung aku melahirkan Revan sendiri di bantu oleh kakek nenek, jadi Revan tumbuh tampa seorang ayah." Dela menyeka air matanya yang mulai membasahi pipi.



"Maafkan aku, Del. Aku tidak bermaksut.... "



"Tidak apa-apa Clara, kamu kan bertanya jadi aku menjawab." Kembali Dela tersenyum di sela-sela tangisnya.



Sudah satu minggu Dela tinggal di rumah mereka, Clara merasa Revan tidak hanya mirip nama dan wajah saja dengan Vano, tapi kepribadiannya pun sama persis.



Di tambah cara Dela memberi perhatian kusus pada Vano, mengingat semua makanan yang di sukai Vano dengan alasan selera Revan pun sama. Membuat Clara berfikir kalau Revan adalah darah daging suaminya.



Semakin lama Dela semakin berani memberi perhatian kusus pada Vano, tidak hanya soal makanan dan minuman, tapi ia juga bahkan menyambut Vano pulang serta menyiapkan kemeja Vano.



Hal itu jelas membuat Clara menjadi tertekan, keberadaannya tak lagi di anggap, Vano selalu mengobrol tiap malam bersama Dela di ruang tengah, kembali ke kamar saat sudah mengantuk saja.



Sampai pada puncaknya Clara benar-benar tidak tahan. Saat itu Clara tengah malam terbangun karena Quen menangis, Vano tidak ada di sebelahnya sedangkan waktu sudah menunjukan pukul 1.00 dini hari.



Setelah menyusui Quen, clara keluar kamar mencari suaminya. Dari balik sofa terlihat Vano ketiduran dalam posisi duduk bersandar, ia tersenyum kecil sambil berjalan mendekati suaminya dengan maksut membangunkannua dan mengajaknya pindah ke kamar.



Setelah mematikan tv Clara terkejut, dilihatnya Dela juga ketiduran di sana sambil menyandarkan kepalanya di dada suaminya.



Clara membanting remot tv dan berlari menuju kamarnya, dia tak mampu lagi menahan air matanya. Langsung dia tiduran sambil memeluk Quen.



"Clara, maafin aku, yang kau lihat tidak seperti yang kau fikirkan," ucap Vano dengan rasa bersalah.



Clara menyembunyikan air matanta dari hadapan suaminya dengan membenamkan wajahnya pada tubuh mungil bayi dalam pelukannya.



"Ra." Vano duduk di sebelahnya sambil menyentuh pundaknya.



Namun tak ada respon dari Clara. Walaupun tidak melakukan hubungan suami istri hati wanita mana yang tidak sakit melihat pemandangan seperti itu.



Pagi-pagi sekali, sebelum semuanya bangun Clara menyiapkan segala keperluannya juga putrinya, begitu Quen sudah dimandikan dan dia juga sudah rapi, baru ia ke dapur membuat roti bakar dan segelas susu untuk dirinya sendiri.



Dengan perlahan Clara memakannya di meja makan seorang diri, tiba-tiba ada seorang yang memeluknya dari belakang.



"Kok sarapan sendiri, Sayang? Mana roti bakar buat aku?" ucap pria itu sambil membenamkan wakahnya pada leher Clara.



Clara tidak mau berdebat atau apa, dia langsung meminum susunya, melepaskan diri dari pelukan Vano dan berjalan ke kamar.



Vano masih diam, ia pun juga menyadari kalau dia juga salah, hanya saja dia tak berfikir kalau Clara akan meninggalkan rumah.



Karena tak lama kemudian dia keluar dari kamar dengan menggondong Quenza di sebelah kiri, sementara tangan kirinya menenten tas bayi berukuran besar.



"Aku mau ke rumah mama," ucap Clara tanpa melihat Vano.



"Biar aku antar." Vano bergegas meraih tas yang di bawa istrinya.



"Tidak perlu, taxi online yang kupesan sudah datang." ucapnya sambil menarik tas di tangannya agar terlepas dari genggaman Vano.



"Ra, aku tahu kamu marah sama aku, biar aku jelasin," ucap Vano berusaha mencegah Clara pergi.



"Tak ada yang perlu dijelasin, Van. Sudah menjadi resikoku menikah dengan national husban sepertimu, di rumah kau suamiku, tapi di luar kau suami semua wanita, terlebih di rumah ini masih ada satu wanita dari bagian masa lalumu, kan?" ucap Clara lirih sambil tersenyum getir lalu melangkah pergi meninggalkan Vano yang mematung di depan pintu.



Dalam hati Vano mengutuk dirinya sendiri, menyesalkan bagaimana bisa dia ketiduran di ruang tengah, dan lagi, kenapa Dela tidak pindah, dan malah ikut tidur bersamanya jika tidak mau membangunkan dirinya.



"Arrkhh!" Erang Vano frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri.




__ADS_1


__ADS_2