Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Will Die 32


__ADS_3

Seketika Berlyn mendelik. Ia hampir tak percaya atas apa yang baru saja terjadi padanya. Dia memberanikan diri melirik ke arah Axel yang tengah mengemudikan mobil.


Gadis itu berkata dalam hati, 'Baru saja dia menciumku, mengambil ciuman pertamaku tanpa izin. Berani sekali dia? Apakah dia sudah tidak waras? Kukira dia mencintai kak Bilqis. Lagipula, siapa sih, yang tidak berfikir demikian, dia peduli dan perhatian. Sampai-sampai nekat mencari pria yang melecehkannya untuk di hajar di depan kak Bilqis.'


Sementara Axel terus fokus menatap jalanan yang lumayan ramai. Sesekali dia menoleh sekilas memperhatikan Berlyn yang baru saja diciumnya. Melihat reaksinya yang tiba-tiba mematung, dia berani jamin kalau ini yang pertama baginya. kali ini, karena Axel melajukan kendaraanya dengan santai, ia memberanikan diri memegang tangan Berlyn.


Mendapati tiba-tiba tangannya dipegang dengan tangan yang kekar dan terdapat bulu halus dan lurus di bagian lengan dan pangkal jari-jarinya. Berlyn menoleh cepat memandang wajah Axel. Tapi, rupanya pria itu menyebalkan sekali. Dia memang sengaja menggodanya. Tangan kirinya menggenggam erat tangan kanannya yang ia taruh diatas paha. Tapi, sedikitpun ia tak menoleh ke arahnya. Jangan memandang, melirik saja sama sekali tidak.


Axel dalam hati bersorak. Karena ia merasa telah sukses menggoda gadis yang dicintainya. Ia juga merasa senang, bisa dengan gantle menciumnya. Padahal sebelumnya ia ragu-ragu. Dia takut, Bilqis akan berontak dan menolaknya. Tapi, ia malah diam saja.


Tiba di tempat pertandingan, Axel melihat Berlyn kesulitan melepaskan pengait sabuk pengaman yang dia gunakan. Memang sedikit alot dan susah dilepaskan. Makanya, dia enggan memakainya. Tapi, justru malah apes, kena tilang gara-gara itu.


"Berlyn, dari ekspresimu tadi Kak Axel yakin, kau baru pertama kali melakukannya, kan? Aku juga. Kau adalah gadis pertama yang aku cium setelah nenek dan mamaku," ucap Axel sambil memandang wajah gadis itu yang bersemu kemerahan karena malu.


Sekali lagi,Axel memegang tangan Bilqis dan menempelkannya tepat di pada jantungnya. Ia berharap agar gadis itu bisa merasakan detakan jantungnya yang sangat kencang.


Berlyn terpaku, dia tidak ada keberanian menatap wajah Axel. Yang berani dia lakukan hanya menatap dada bidang itu, dibalik balutan kaus oblong namun, masih sedikit mencetak bentuk tubuhnya yang indah di mana telapak tangannya menempel pada dada kirinya dan diatas tangannya ada telapak tangan pria itu yang lebar dan kekar.


Sementara Adriel yang sudah merasa lama menunggu kedatangan Berlyn dan saudaranya merasa mulai tak tenang. Untuk menelfon juga tidak bisa, karena ponselnya ia letakkan di dalam loker. Akhirnya, ia memutuskan untuk keluar ke tempat parkir. Remaja itu terenyum kala mendapati mobil kakakknya. Ia berjalan cepat berharap Berlyn juga berada di dalam sana.


Berlyn yang kebetulan menyadari kedatangan Adriel dengan segera menarik tangannya dari dada bidang Axel. Gadis itu memberi intruksi kalau ada yang datang.


"Mungkin pertandingannya sudah akan dimulai. Ya sudah ayo!" ucap Axel, sambil melepaskan kaitan sabuk pengamannya.


"Kukira kalian belum juga datang. Ayo masuklah, aku sudah menyiapkan tempat duduk kusus untuk kalian berdua," ujar Adriel sangat bahagia.


Axel berjalan di depan Adriel dan Berlyn. Sementara Adriel terus memandang wajah gadis itu. Berlyn menyadari kalau Adriel telah menatapnya. Ia menoleh membalas tatapan mata itu. Kemudian, tangan Adriel meraih tangan gadis tersebut dan menggandengnya.


"Semoga aku nanti menang, ya?" ucap Adriel.


Kemudian dibalas anggukan serta senyuman tipis oleh Berlyn.


"Tapi, menang atau kalah kan juga bukan masalah. Semua akan seperti janji kita kemarin, kan?"


Berlyn langsung melotot ke arah Adriel. Karena ia merasa tidak pernah menyetujui janji gila Adriel yang semua merugikan dirinya. Namun, bocah itu hanya tertawa saja sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya sudah, kau duduklah di sana bersama kak Axel. Aku akan kembali bergabung sama timku." Kemudian Adriel pun meningalkan Berlyn dan pertandingan pun di mulai.


Semua suporter berteriak kencang memberi dukungan tim masing-masing, hingga akhirnya, Tim Adriel lah yang menang. sampai babak semi final, atau penentuan mereka mendapatkan juara kesatu.


Saking senangnya, Adriel bubar dari anggota tim basketnya, ia berlari keluar lapangan menghampiri Berlyn. Di depan sang kakak, ia menagih sesuatu pada gadis itu apa yang telah jadi kesepakatan yang sebenarnya hanya Adriel sendiri yang menyetujuinya.


"Berlyn! Mulai sekarang kau adalah pacarku. Mana sekarang? Bukankah jika aku menang kau yang akan menciumku. Tapi, jika aku yang kalah, maka aku yang nenciumu?" ucap remaja itu sambil tertawa. Jelas dia tertawa, karena dia bertingkah bodoh dan tebal muka.


Berlyn tidak merespon selain hanya tersenyum malu-malu sambil menunduk. Sementara Axel, ia hanya diam mematung terkejut dengan apa yang dikatakan adiknya barusan.


"Kalian jadian?" tanya Axel sambil memandang ke arah Adriel dan Berlyn secara berantian.

__ADS_1


"Hahaha, iya Kak. Aku belum memberi tahumu, ya? Terimakasih sudah menjaga pacarku," ucap Adriel ceria. Padahal, dia sendiri sebenarnya takut kalau tiba-tiba saja gadis itu mencakar muka gantengnya.


Axel sekali lagi memperhatikan raut wajah Berlyn. Tidak ada penolakan di sana. Artinya itu benar. Jadi ekspresi yang tadi itu bukan karena yang pertama. Tapi, bisa saja karena ia merasa bersalah pada Adriel.


"Berlyn, kau pulanglah dulu bersama calon kakak iparmu, ya? Aku masih lama," ucap Adriel, kemudian merangkul kakaknya dan mengucapkan terimakasih atas apa yang Axel lakukan padanya. Ia menyadari, perjuangan sang kakak melatihnya basket sampai bisa membuatnya seperti saat ini, seperti apa jelas itu tidak mudah.


"Ayo kita pulang!" ajak Axel pada Berlyn.


Sampai di mobil, Berlyn memberi isyarat kalau ia akan pergi naik taxi saja. Tapi, sepertinya Axel tidak bisa terima itu.


Jadi, Berllyn memberi kesempatan. Mengatakan dengan bahasa isyarat. Kalau memang ada yang ingin dibicarakan, kita bisa bicara sekarang. Tapi, setelahnya ia akan pulang sendiri.


"Baik, kita bicara di dalam mobil saja. Di sini terlalu banyak orang," ucap Axel. Berlyn pun menyetujuinya.


"Kau sudah berapa lama jadian sama Adriel?"


Berlyn mengelengkan kepalanya. Ia memberi isyarat, kalau baru kemarin ia memberi jawaban. Hanya saja, Adriel sudah lama mengatakannya.


"Maafkan aku. Apa yang sudah pernah ia lakukan padamu?"


Kembali berlyn mengelenkan kepala, kemudian ia menjawab dengan bahasa isyarat, kalau Adriel belum pernah menciumnya sama sekali. Dia minta ciuman pertanya saat usai pertandingan Basket. Tapi, karena dia malu dia tidak akan melakukan. Axel diam. Ia memang merasa sedih atas kenyataan yang ia hadapi. Tapai, ada rasa bangga karen dia lah yang pertama.


"Aku menyangi adikku, Lyn. Tapi, aku juga cinta kamu. Oke, aku tidak akan membuat masalah antara kalian berdua, selamat. Tapi, tidak masalah kan jika aku terus membuatmu merasa nyaman saat disampingku? Aku akan terus berusaha membuat kau mencintaiku? Merebut dengan cara elegant. Siapa tahu, sosok yang kau butuhkan sebagai pasangan adalah aku, bukan Adikku. Kau masih terlalu muda untuk mengerti ini. Jadi, kau masih mempermasalhkan usia. Cintaku ke kamu tidak akan pudar, Lyn. Selaagi janur kuning belum melengkung kan sah-sah saja pacar orang ditikung," ucap Axel sambil tertawa. Ia tak mau menunjukkan rasa sedih dan kecewanya pada Berlyn. Ia harus tetap tenang santai saja.


Berlyn kembali memberi isyarat, kalau ia harus pergi. Awalnya Axel bersikeras ingin mengantarnya. Tapi, dengan sopan dan juga senyuman adis itu menolak.


"Ma... af," ucap Berlyn dengan lambat. Membuat pria yang ada di sebelahnya terkejut.


"Lyn, kau bisa bicara?" tanya nya masih tidak percaya.


Gadis itu tersenyum lembut. Namun, hanya satu kata itu saja, setelahnya, dia kembali mengatakan dengan bahasa isyarat. Kalau ia sudah izin pada papa dan mama kalau setelah melihat pertandingan bola basket dia akan ke rumah temannya dulu. Jadi, Axel tidak perlu merasa bersalah.


****


Mendengar cerita dari kembarannya yang telah terjebak dengan dua cinta antara kakak beradik Clarissa tiada hentinya tertawa terpingkal sampai seperti orang kesurupan.


Merasa risih dengan Clarissa yang hanya tertawa terus menerus tanpa mau bicara, Berlyn menggebrak meja cafe.


Tapi, bukannya malah diam. Gadis itu kian menjadi saja. Ia tak menyangka kalau kembarannya yang lembut dan kalem bisa semarah ini jika ditertawakan.


Akhirnya Berlyn pun beranjak meraih tasnya bersiap pergi. Tapi, dengan sigap Clarissa menangkap tangan saudari kembarnya. Lalu, mulai serius bicara.


"Oke, memang kamu sudah jadian benar apa tidak dengan Adriel?"


Berlyn mengelengkan kepalanya.


"Lalu, kenapa kau mengatakan sudah pada kakaknya? Apakah kamu lebih menyukai adiknya?" tanya Clarissa.

__ADS_1


Berlyn mengangguk. Kemudian ia menjelaskan dengan bahasa isyarat, kalau ia menyukai Axel hanya sebagai kakak saja. Lain perasaannya saat ia bersama Adriel.


"Ya sudah, kamu jalani saja. Tapi, saranku, karena kamu masih SMA, jadi kamu cukup fokus dengan pelajaran saja. Jangan sampai prestasimu mrosot karena cinta. Kelak, jika kau sudah lulus, kau bisa memilih dengan siapa kau akan menjalin hubungan asmara.


Berlyn adalah type anak yang mudah menerima nasehat dan saran baik. Terlebih, jika nasehat itu dia dapat dari sosok hebat dan sukses dari orang seperti Clarissa. Memang ada benarnya. Sebab, sejauh ini dia juga tidak pernah melihat Axel pacaran. Dekat dengan wanita lain selain dirinya dan kak Bilqis juga tidak. Malah baru hari ini, dia mengatakan kalau dirinya telah jatuh cinta. Itu pun pada dirinya.


Dengan bahasa isyarat, Berlyn bertanya pada kembarannya, bagaimana harusnya dia menyikapi Adriel? Sedangkan dia juga menyukai pria itu, dan tak ingin dia dengan yang lain.


"Itu mudah saja, Lyn. Cukup beri saja dia jawaban, kita masih sekolah. Jangan mikirin pacaran dulu, fokus belajar saja, oke? Jika dia mau sabar menunggu hingga waktunya tiba, Fix, dia cowok idaman. Namun, kalau akhirnya dia menggandeng cewek lain, ya kamu jangan tangisi dia. Bukan kau yang kehilangan dia. Tapi, dia yang menyia-nyiakanmu yang memiliki rasa cinta tulus padanya, Demi masa depannya kau tak mau membebani pikirannya dengan asmara yang hanya merosak kosentrasinya belajar."


Berlyn diam. Mencoba mencerna apa yang baru saja Clarissa katakan. Ya, itu memang benar. Gadis itu tersenyum menatap kagum pada kembarannya. dia merasa sangat banga memiliki Berlyn sebagai saudari kembar. Meskipun usia mereka sama, hanya selisih lima menit saja terlahir di dunia. Tapi, pola pikir gadis itu seperti orang yang mendekati kepala tiga saja. Sangat losis dan masuk akal.


"Aku punya sesuatu untuk kau baca, lihatlah!" ucap Clarissa, kemudian mengeluarkan sebuah buku harian bergambar transformer dari dalam tas yang dibawanya.


Berlyn menerima buku itu kemudian ia terkejut sampai melotot kala mendapati nama pemilik dari buku itu.


"Kenapa? Kau terkejut, ya? Hahaha Aku berhasil mencurinya. Bagaimana caranya kau tak perlu bertanya. Itu buku sudah sejak lama sekali, saat ia masih duduk di bangku SMA. Tepatnya duabelas tahun silam. Kau buka, dengan isi buku itu, aku yakin, jalan pikirmu akan berubah," ucap Clarissa lagi.


Karena penasaran, Berlyn membuka buku tersebut, entah di halaman yang keberapa ia mendapati tulisan, milik Axel yang mungkin, sejak itu dia merasa tersiksa karena merasakan cinta dalam diam.


"Ya Tuhan, apakah aku ini ila. Di sekelilingku banyak wanita dewasa yang cantik dan mencintaiku. Tapi, kenapa aku ya justru malah mencintai bocah berusia lima tahun itu? Sudah berkali-kali kucoba mengatakan tidak. Tapi, hati kecil ini terus memaksa agar aku menunggunya sampai dia dewasa.


Benar kata orang. Kita tidak bisa memilih pada siapa cinta ini akan jatuh. Jika saja bisa, aku ingin menjatukan pada sosok yang lebih pantas."


Berlyn menutup buku itu. Ia kembali mengingat masa lalunya. Seperti apa Axel memperlakukan dirinya. Tapi, dia yang memang tidak tahu apa itu cinta juga tak peka dan mengerti. Entlahlah, apakah dia yang menjadi wanita terlalu payah. Dengan cepat Berlyn memberikan buku itu pada Clarissa. Ia mengatakan dengan bahasa isyarat kalau ia tak ingin menyimpan buku ini.


"Untuk apa kau kembalikan padaku? Simpan saja!"


Berlun mengelengkan kepalanya. Tapi, tiba-tiba ponsel Calrissa berdering.


"Halo, paman?"


"Nona. tiga orang yang kita incar sudah berhasil kita tangkap."


"Oh, kerja bagus! Baiklah, aku akan ke sana sekarang!" ucap Clarissa kemudian mematikan panggilannya.


"Aku ada urusan sebentar, kau mau ikut denganku apa tidak?"


Berlyn mengangguk sambil beranjak. Tanpa sadar, ia memasukkan buku harian milik Axel yang dicuri kembarannya ke dalam tas miliknya. Kemudian, ia pun ikut masuk ke dalam mobil Clarissa yang di dalamnya sudah ada seorang sopir menunggunya.


Berlyn menyenggol lengan Clarissa. Dengan bahasa isyarat ia bertanya, "Urusanmu di sini sebenarnya, apa? Ini mau ke mana sih?"


"Oh, iya. Aku mau cerita sama kamu, lupa. Kamu, sih cerita dua orang itu, kan aku jadi tertawa... "


Berlyn memasang muka masam. Ia membatin, 'Apaa-apa kok selalu aku saja yang dijadikan sasaran. LUpa, ya lupa saja, jangan lempar alasan ke kembarannya, dong!'


"Aku kesini datang kusus untuk memberi pelajaran pada bandot tua itu. Kemudian, membereskan Tiara. Lalu, memberi kejutan pada ama, juga papa dan mama, gimana?"

__ADS_1


Berlyn tersenyum dan mengangguk. Tanda kalau ia setuju dengan rencara saudari kembarnya.


__ADS_2