
Begitu turun dari mobil dua pasang suami istri muda itu berkumpul di halaman depan di bawah pohon yang rindang. Bermain bersama dengan Axel.
Quen yang biasa ceria jika bermain dengan anak kecil termasuk Axel yang memang sudah dekat kali ini dia juga nampak lebih banyak diam dan murung saja.
Alex yang menyadari akan hal itu menghampiri istrinya, memeluknya dari belakang lalu menyisipkan wajahnya di antara leher dan rahan Quen.
"Kenapa?" tanya pria itu.
"Tidak ada apa-apa, kamu ngagetin aku saja," ucap Quen lalu memutar badannya berhadapan dengan Alex.
Quen mengerutkan alisnya, "Papa kedua? Apaan?"
"Kak Al, aku melihat kedekatan kalian itu tidak seperti sepasang kakak dan adik, tapi anak dan ayah," ucap Alex sambil tertawa.
"Wajar, kan? Dia cuma punya satu adik, aku. Dan aku cuma punya satu kakak saja, baik lagi," jawan Quen sambil tersum manja dan menyandakan kepala pada dada bidang Alex.
Sementara tidak jauh dari tempat mereka, Aditya tampak berdiri mengamati keduanya.
"Kau lihat mereka berdua saling mencintai, andai benar kau tak bisa lepas darinya juga aku, tak masalah kika harus di madu, Dit. Tapi, yang jadi masalah adikku begitu tulus mencintainya, dan dua kali sudah kehilangan dia, tak apa aku sakit, tapi jangan dengan adikku, kau ingat-ingat itu.
Aditya menoleh ke arah Novi, memegang telapak tangannya yang diletakan pada bahunya. Pandangan pria itu nampak frustasi. Entah hilang kemana wajah dan tatapan penuh wibawa dokter sekaligus dosen Aditya Mahendra itu. Dia jauh lebih terlihat sepertu orang pecundang depresi saja.
"Jika suatu saat Alex yang bosan dan meninggalkan Quen sendiri, bagaimana?" dalam hati Aditnya meruntuk mengutuk dirinya sendiri, dia benar-benar gila dengan pertanyaan itu kepada Novita istrinya. Berandai boleh, tapi jangan sampai keluar, ibarat biarlah meledak dalam perut tapi, jangan di perut.
Novita nampak kaget dan tertunduk, "Jika memang itu yang kau mau, tidak masalah, asal tidak ada paksaan dari belah pihak mana pun dan satu lagi, kau harus tetap adil dalam membagi cinta dan waktumu untuk kami." Seketika itu juga, aor mata wanita itu menetes. Buliran-buliran bening itu lolos dari netranya hingga deras.
Masih dengan keadaan lemah, Aditya mengusap air mata istrinya, lalu memeluknya erat, "Maafkan aku, maaf, tak seharusnya aku begitu, mungkin aku dulu terlalu lama menghabiskan waktu bersamanya."
Novita tak mampu berkata apa-apa, leher ya terasa seperti tercekik. Sementara air matanya mengalir deras tiada henti.
'Aku tahu dan ngerti, seseorang yabg hadir saat kita dalam keadaan jatuh memang memberi kesan kuat dan tak terlupakan. Terlebih waktu tiga tahun yang kalian jalani bersama, itu bukanlah singkat. Kalian juga sudah hampir menikah saat itu tinggal selangkah lagi, aku yang bodoh, Dit. Aku yang tak bisa mengontrol diriku. Maafkan aku, ini salahku,' batin Novi terus meruntuk dirinya.
🍁 🍁 🍁 🍁
Dengan wajah sumringah Clara menerima Video call dari putranya yang kini sudah berada di Jepang.
"Kau sudah tiba, Nak?" tanya wanita itu.
"Ya, Ma. Ini ada waktu duapuluh menit. Setelah itu akan ada pertemua dengan clien," jawab Al yang nampak sambil melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Lalu, kembali tatapan mata yang teduh ktu menatap ke arah monitor.
"Sayang, apakah kau sudah menghubungi istrimu?" tanya Clara serius.
Al diam. Ekspresi wajahnya nampak berubah. Seketika itu juga. Dia tak lagi berani menatap mata itu. Sedikit memalingkan dan berkata, "Apa yang harus aku bicarakan jika menghubunginya, Ma?"
Be
begini kali, ya kalau Al lagi Vc sama mama Clara. penuh cinta banget tatapannya😍😍
"Sayang, dengerin mama ya, Nak? Kau ini suaminya berkewajiban melindungi dan menafkahi, nafkah ada dua jenis, lahir dan batin. Jika kau selalu membiarkan dia dan tak menganggap keberadaannya, apakah dia bahagia? Apakah nafkah batinnya terpenuhi? Bukankah kau tahu marahan tanpa bertegur sama itu tidak boleh lebih dari tiga hari tiga malam sayang. Kau sebagai kepala keluarga, harus belajar lebih bisa kontrol emosi dan memaafkan, ya? Jangan begitu. Jadilah nahkoda yang baik," jelas mama Clara dengan lembut dan penuh kesabaran.
Al hanya diam membisu, menatap wanita itu sekejap lalu mengangguk. "Terimakasih, Mama."
__ADS_1
"Ya sudah, tunggu apa lagi, kau matkan panggilan inu dan hubungi Nayla, ok?"
"Ya, Ma. Daaa!"
Al pun mematika video callnya dengan mama Clara lalu mengusap kasar wajahnya.
'Aaaarrrgh!" serunya frustasi. Al duduk di salah satu bangku dan menjambak kasar rambutnya sendiri dengan kedua tangan.
"Kenapa aku selalu kalah sama kamu, aku gak bisa berkata tidak sama kamu?" Al menyeringai kecil. "Salahku tak pernah dapat menemukan sosok sepertimu, kenapa kita dipertemukan sebagai anak dan ibu, Ra?"
Sebuah tangan memegang pundak kanannya, lalu sosok itu duduk di sebelahnya. "Kau, mau sampai kapan begini terus, Al? Cukuplah miliki dia sebagai ibu," tegur Vico. Sahabat sedari SMA-nya dulu. Yang paling tahu banyak dan paling Al percaya tentunya.
"Jadi, kau menikahi Nayla selain rasa iba dan ingin melindunginya dulu apa berharap untuk menemukan sosok Clara yang penyayang dalam dirinya?"
"Ya, tapi yang ada dia malah memusuhi Quen. Tidak masuk akal sekali, kan Vic kalau cemburu sama dia," ucap Al kesal.
"Ya sudah, besok ajak dia bicara dari hati ke hati, katakan kenapa harus cemburu sama adik ipar, sekarang patuhi dulu nasehat mama Clara, hubungi dia dan tanyakan kabarnya!"Seru Vico.
Al menghela napas berat diraihnya ponselnya dan melakukan panggilan suara, ia juga sempatkan melirik jam tangannya, masih ada waktu sekitar delapan menitan saja.
"Halo, Mas Al. Kau di amana? Apakah kau baik-baik saja?" sahut suara dari seorang wanita di seberang, begitu panggilan itu terangkat.
"Baik, aku sudah di Jepang." jawab Pria itu singkat.
"Kapan kau kembali, Mas?" tanya wanita itu lagi, sepertinya rasa rindu dan bahagi bercampur menjadi satu, dan rasa tak sabar untuk bertemu itu Al dapat merasakan dari bagai mana caranya saat menerima panggilannya. Tapi, Al masih merasa risih, belum bisa berdamai denga suara wanitanya yang berada di tanah air.
"Nay, aku ada miting, sudah dulu, ya?" tanpa menunggu jawaban dari Nayla, Al langsung saja mematikan telfonnya. Dan bergegas ke ruang pertemuan. Padahal, miting masih kurang lima menit lagi.
Pak, serius banget? fokus kerjaan apa berat mikir mama cantik?😅
"Tumben pak Al sudah masuk ruangan lima menit sebelum rapat di mulai, mungkin untuk hari ini dia kelebihan waktu," bisik seorang staf wanita pada staf di sebelahnya. Lalu, mereka berdua sama-sama terkikik.
Sementara Nayla yang mulai senang Al sudah menghubunginya, kembali raut wajahnya murung. Nampak kecewa, baru saja dia ingin bercerita banyak hal pada suaminya, tapi, tanpa perasaan Al mematikan panggilannya yang hanya berlangsung sekitar dua mintan saja. Alasannya rapat.
'Jika memang mepet dengan waktu rapat, kenapa harus menelfon, kamu mas? Kau yang begini, hanya membuatku sakit saja," gumam Nayla dalam hati.
Clara yang baru saja keluar dari kamae Vivian mendapati Nayla berdiri lesu dan tertunduk. Tangannya menggenggam ponselnya di depan dada. Terlihat jelas raut wajah menantunya sangat sedih.
"Nay, di mana Bilqis?" sapa Clara sambil berjalan mendekat.
"Dia tadi di ajak jalan-jalan kakek Andreas, Ma. Kenapa?" buru-buru wanita itu mendongak. Menunjukan senyuman palsunya kepada Clara.
"Oh, tolong buatkan mama teh hijau dengan setengah sendok teh gula, mama tunggu di teras belakang, ya Sayang," ucap Clara sambil membawa majalah harian ke belakang.
Nayla mendesah kesal saat menda0ati pandangan sinis dari Lyli di dapur. Dari awal dia memang sudah merasa kalau gadis itu tidak menyukai dirinya. Memang, apa salah dia sebenarnya? Sebelumnya mereka juga tak saling kenal. Bahkan sejak kejadian itu, saat Al bercanda kepada dia dan Hani untuk diperistri, dia semakin berami saja.
Nayla berusaha cuek, terus fokus dengan tugas dari mama mertunya.
Lima menit kemudian secangkir teh hijau panas sudah tersaji, dengan senang ia membawanya ke teras belakang untuk diberikan kepada Clara.
"Ini teh nya, Ma." ucap Nayla sambil meletakannya di atas meja.
"Terimakasih, kau hari ini sibuk tidak?"
__ADS_1
"Memangnya kesibukan apa yang Nayla punya selain bantu-bantu mama di rumah ini?" jawab wanita itu masih dengan senyum palsunya.
"Baiklah, duduk sini, temani mama." Clara meletakan majalahnya dan memandang ke arah Nayla.
"Kalian masih berantem? Sebenarnya apa masalah kalian? Maaf bukannya mama mau ikut campur dengan urusan rumah tangga kalian. Tapi, di sini mama kan orang tua, berhak kan menengai agar kalian tidak terus terusan seperti ini. Oarang berumah tangga itu dibangun karna cinta dan sama-sama suka, lalu, kenapa baru berjalan beberapa tahun saja harus saling diam dan tak menganggap satu sama lain? Harusnyankan tetap akur."
Nayla tertunduk mendengarkan pertaktaan mama Claran memanf yang dia katakan benar. Bahkan dari setiap kata pada kalimatnya tidak ada satu pun yang seolah menyalahkannya apalagi menyudutkan.
"Mungkin kali ini Nay yang keterlaluan, Ma. Dari dulu mas Al selalu menghadapi masalah yang sama dan juga dia yang mengalah. Nay tidak menyalahkan dia kalau sampai seperti ini. Tadi, dia juga sudah menghubungi Nayla walau cuma sebentar."
"Besok, jika Al pulang berusaha lah dekati dia, ajak dia mengobrol di dalam kamar agar privasi kalian terjaga. Mama ngerti, kamu tidak ingin inti dari masalah kalian diketahui siapapun. Tapi, tanpa kau ceritakan, kau tidak bisa menerima solusi dari pihak lain, kan?"
Dalam hati Nayla membenarkan, tapi, sungguh dia tidak mungkin menceritakan hal ini kepada Clara. Sebab, perselisihan terjadi karena Quen, dan gadis itu adalah putri kandung dari keluarga rumah ini, beda dengan suaminya. Hanya anak angkat. Bahkan di rumah ini saja dia diperlakukan seperti anak sendiri oleh Clara saja sudah begitu baik. Dia tidak ingin memperkeruh dan menjadikan masalah semakin lebar. Meski hatinya tetap saja sakit melihat Quen bersama suaminya walau dia sudah menikah.
Clara mengamati wajah Nayla. Ia bisa menilai kalau gadis itu tengah mempertimbangkan perkataannya. Ingin bercerita, tapi memikirkan dampaknya.
"Kau tahu segenggam garam, Nay?" tanya Clara.
"Iya, kenapa, Ma?"
"Bagaimana rasa garam air dalam gelas ini jika diberi segenggam garam, pasti asin, bukan? Bahkan pahit."
Nayla sedikit tertawa. Menganggap mertuanya melucu untuk menghiburnya, "Ya tentu saja, donk!"
"Tapi, jika dituang pada air sumur, garam itu tidak akan memberi efek apapun pada air tersebut. Air itu akan tetap tawar dan segar, kau tahh kenapa?"
"Ya, karena jumblah Volume air pada sumur dan di gelas jauh lebih banyak, Ma. Dan pastu sangat luas jika seluruh air di sumur itu tumpah." jawab Nayla dengan wajah yang mulai berseri.
"Sumur dan gelas ibarat hati, dan sikap kita, sementara segenggam garam adalah masalah, semua masalah itu intinya sama takarannya sama, hanya saja seberapa besar hati kita menanggapi persoalan itu hingga kita merasa itu berat lalu kita tertekan dan marah pada pasangan yang jadi pelampiasan. Ya mungkin enak dan lega setelah marah, tapi efek dan dampaknya apa? Hubungan yang semula dibangung dengan cinta tak lagi harmonis. Yang semula berjanji tuk saling mengisi kekurangan masing-masing jadi saling menyakiti."
"Ya, benar kata Mama. Hati Nay masih sesempir gelas, tapi, Nay terus berusaha untuk memperbaiki semuanya, Ma. Tapi kenapa tidak bisa?" jawab Nayla.
"Bukan tidak bisa, masih belum. Ya sama halnya dengan teh ini, kenapa mama minta sedikit gula? Agar tidak kemanisan."
Clara meraih secangkir teh yang mungkin sudah hangat bahkan mulai dingin. Di seruputnya teh itu. Lalu, tiba-tiba matanya terbuka lebar seperti orang terkejut.
"Tapi, kau rupanya terlaru larut dalam masalahmu, sehingga rasa teh ini tawar, kau lupa memasukan gula di dalamnya, Nay." ucap Clara sambil tertawa.
"Hah? Iya kah Ma?" Nayla terkejut. Secara reflek ia meraih cangkir itubdari mertuanya dan mencicipinya. Dan benar saja radanya tawar malah sedikit pahit, karena tehnya sangat kental.
"Eh, iya Ma. Maafin Nay ya ma?" ucap Nayla penuh rasa sungkan dan bersalah.
"Hahaha, itulah kenapa masalah jangan terlalu dipikir berat, jalani saja, sayang. Sudah tidak apa-apa, sekali-kali minum yang tawar ga masalah. Malah bebas deabets," jawab Clara lalu menghabiskan teh buatan menantunya yang tak sesuai riques itu.
Sejak saat itu Nayla banyak diam dan berfikir. Hari-harinya ia gunakan untuk mencerna baik-baik nasehat yang diberikan mama mertuanya, Clara.
"Hey, Nay. Lihatlah! Betapa beruntungnya kamu, memiliki suami baik, tampan dan mapan. lalu mertua yang juga tak kalah baik dan penuh kasih sayang. Tidakkah kau ingat bagaimana dengan suamimu yang terdahulu, ayahnya Bilqis, walau kau yang benar tetap di salahkan saja. dan baik sekali mereka bisa menerima Bilqis seperti anak dan cucunya sendiri." ucap Nayla seorang diri saat berdiri di atas bakon.
Tapi, kali ini Nayla sangat ceroboh, dia berbicaea seorang diri tanpa melihat situasi, hingga ada soerang yang mendengar kata-katanya dan iktu menimpali perkataannya.
"Kau boleh bangga karena anak bawaanmu diterima baik, tapi, apakah kau tidak berfikir jika Quen nanti juga memiliki anak? jelas mereka lebih sayang pada anaknya Quen."
Nayla terkejut mendengar suara itu lalu menoleh ke belakang untuk memastikan pemilik suara.
__ADS_1