
Bilqis yang hanya diam saja di sepanjang perjalanan sampai
di rumah Queen juga masih sempat saja membikin drama yang menyusahkan Axel
tentunya.
“Masuk yuk kak!”
“Tidak, langsung pulang saja.”
“Kenapa?” tanya Bilqis denghan raut wajah kecewa.
“Papa dan mamaku menunggu."
“Aku yang akan jawab jika tante Novi memarahimu.”
“Lalu?”
“Kak Axel yang nanggun, hehehe,” jawab Bilqis sambil
cengar-cengir gak karuan. Membuat Axel kian kesal saja.
Axel mendesah kesal kemudian ia akhirnya ikut masuk pada
halaman rumah yang luas itu. kebetulan, sore itu Berlyn bersama Al berada di
halaman depan. Ada yang seru sepertinya, Al tengah membacakan buku cerita untuk
putrinya. Tak lama kemudian dari dalam rumah Queen muncul dengan nampan di
tangannya yang berisikan dua gelas teh dan satu gelas susu.
“Papa, Al. mama Queen, apa kabar?” sapa Berlyn yang di
belakangnya ada Axel mengikuti.
“Hey, Bilqis! Kamu kemari sama kak Axel? Sini-sini duduk,”
sambut Queen antusias.
Axel tersenyum ramah pada ketigsa tuan rumah dan bersalaman
pada mereka selain Berlyn. Gadis kecil itu hanya tersenyum padanya dan
pandangannya diedarkan ke belakang Axel dan Bilqis.
Axel ikut menoleh. Mungkin ia berfikir kalau gadis kecil di hadapannya melihat
seseorang yang datang. Tapi, tidak ada siapa-siapa di sana. Lain halnya dengan
Bilqis yang memang sudah terbiasa
bersama Berlyn. Ia jadi tahu apa maksut dari isyarat itu.
“Kamu nyari kak Adriel?”
Gadis itu tersenyum dan mengangguk.
“Dia tidak ikut. Dia masih ke rumah Lutfy. Apakah kau mau
bermain bersamanya besok?” tanya Bilqis pada bocah yang dia anggap adiknya
sendiri.
Dengan semangat Berlyn mengangguk.
“Apakah mama dan papa kamu berkunjung, Xel?” tanya Al,
antusias.
“Iya, Om. Bersama nenek juga. mereka sekarang berada di
rumah om Alex. mungkin besok mereka akan bermain ke sini," jawab remaja itu. Ikut duduk di atas karpet yang digelar.
“Oke, minta mereka ke sini besok. Kami akan menunggunya,”
jawab Al.
“Bilqis kamu malam ini mau nginap di sini, apa tidak?” tanya
Queen. Sebab, biasanya jika kemari bersama Axel atau siapapun, biasanya Tiara, dia tidak pernah menginap.
“Iya, Ma. Tadi itu aku ke rumah kak Axel pas mau pulang mama
ngabarin kalau dia berada di luar kota dan akan kembali besok siang. ternyata sampai depan gerbang kunci rumahku hilang.”
“Ya sudah, tunggulah mamamu pulang di sini saja. Apakah kau
sudah bilang padanya kalau kau berada di sini?”
“Sudah, Ma.’'
“Ya sudah, ayo masuk dulu, Xel! Ajak Queen.
“Terimakasih, Tante. Aku akan segera kembali. Besok, bersama
papa dan mama juga Adriel saya akan kemari lebih lama,” jawab remaja itu dengan sopan.
Sementara Bilqis hanya melihat pria itu dengan muka yang
susah dijelaskan. Dengan kesal ia membatin, ‘Sama aku saja bicaranya ngirit sampai pelit. pada yang lain kok tidak?’
Karena ini malam minggu dan besok akan kedatangan tamu
besar, Queen mengajak Berlyn dan Bilqis jalan-jalan. Bersama Al juga tentunya.
dia membiarkan Bilqis menjaga adiknya, sedangkan Al menemani Queen berbelanja
bahan makanan, bumbu-bumbu dan sayuran buah serta ikan. Tak lupa, daging mereka juga
membelinya. Buat persediaan.
Setelah belanjaan sudah di rasa cukup, dan malam juga sudah
mulai larut, jam delapan mereka sudah keluar meninggalkan pusat perbelanjaan.
Sebenarnya ada rasa tidak puas di benak Berlyn. Tapi, mau tidak mau dia juga harus pulang. Toh, sewaktu-waktu jika ia ingin bermain di time zone juga bisa saja. Terlebih ada kak Bilqis yang menginap di rumahnya. Pasti diizinkan oleh papa dan mama mereka. Itulah kenapa, Berlyn sangat menyukai Bilqis. Dia meiliki kasih sayang yang tulus kepadanya.
Tiba di rumah sudah hampir pukul sepuluh saja. Karena
jalanan ibu kota yang sering macet apalagi ini malam minggu dengan sangat cekatan Queen menyiapkan baju tidur unutk dua gadis itu dan memintanya agar gosok gigi, cuci tangan, wajah dan kaki sendiri. Dia dan Al tidak perlu membacakan cerita untuk Berlyn. Karena sudah ada Bilqis sebagai gantinya. Sementara Queen, bersama bibi lembur menyiapkan bahan mulai dari mencuci
sayuran, memotong ikan, dagin dan ayam, menyiapkan bumbu-bumbu serta temat yanga kan digunakan besok. Karena kemungkinan Novita sekeluarga tiba di rumahnya juga sekitar pukul setengah delapanan. Jadi, saat da dan rombongannya
datang, jamuan dan untuk makan siangnya juga sudah siap. Begitulah kira-kira maunya Queen.
Dia sebenarmya bisa saja memesan makanan di restoran
__ADS_1
langgananannya. Tapi, kali ini ia lagi good mod dalam memasak jadi, ia
menyiapkannya sendiri. Kan juga ada bibi.
Pagi hari pukul setengah lima, Queen langsung membagi tugas.
Ia meminta Al segera bangun dan merapihkan tempat tidur. Sementara bibi, menyapu seluruh rumah, sekalian mengepelnya. Setelah itu bantu masak. Kemudian, Dedi dan Al bagian beres-beras halaman. Bahkan Bilqis yang kebetulan menginap
juga tidak kelewatan mendapat bagian. Queen meminta agar dia dan Berlyn merapihkan tempat tidur dan selimut mereka. Itu saja. Selebihnya. Karena Bilqis
sudah merasa dewasa dan bisa melakukan banyak hal, dia ikut juga bantu-bantu di dapur. Sementara Berlyn ikut menyirami bunga dan halaman bersama Dedi dan papanya.
Pukul setengah tujuh, semua sudah siap. Tinggal meminta
mereka satu persatu mandi agar semua terlihat rapi. Termasuk juga Queen. Usai
mandi dia memilih dress berwarna navi selutut dengan rambut yang dibiarkan
tergerai. Ia hanya mengenakan penjepit rambut agar rambut bagian depannya tidak
mengenai wajah.
Dugaan Queen ternyata sama sekali tidak meleset. Tepat pukul
Delapan lewat lima belas menit, Novita bersama pasukannya telah datang. Ternyata
tidak hanya sekeluarga saja. Tapi, Alex yang kebetulan libur juga ikut datang
bersama Zahara dan putra mereka juga tentunya.
“Kak, Novi! Apa kabar, makin subur saja, ya?” ucap Queen
terkagum saat ia melihat perubahan drastis pada tubuh Novita.
“Apakah kau mengejekku?” timpal Novita sambil menatap tajam
pada Queen berlagak marah. Lalu, keduanya sama-sama tertawa.
“Kukira Cuma aku saja yang berubah ukuran badan karena
menyusui, Queen. Ternyata kak Novi juga,” tipal Zahara.
“Iya, gini kan makin cantik,” ucap Queen.
“Tiap hari aku yang diomelin sama dia. Padahal pelakunya
mama,” ucap Candra sambil terkikik.
“Apa kabar, Tante?” sapa Queen sambil memeluk mama Dian
memberi sambutan yang baik pada mertua Novita.
“Kabar mama baik-baik saja. Kau apa kabar? Denger-denger
sudah buka praktik sendiri, ya?” tanya ama Dian.
“Alhamdulillan, Ma. Biar jam kerja bisa atur sendiri dan
memiliki waktu lebih buat temani anak dan suami,” jawab Queen dengan rendah hati.
“Sehat selalu, ya bu dokter, Cantik,” ucap mama Dian
Mereka pun makan bersama, Queen tidak tahu, mereka sudah
sarapan apa belum. Hanya saja, dia berharap satupun dari mereka belum ada yang
sarapan. Dan untuk hidangan maka besar masih ada nanti, untuk makan siang.
bermain bulu tangkis. Sementara yang cewek-cewek hanya duduk santai, ngobrol dan menceritakan apa yang bisa dibicarakan karena saking lamanya tidak bertemu sambil sesekali menjaga Lutfi.
Sementara Bilqis, dia bermain bersama Adriel dan Berlyn. Permainan yang bisa
dimainkan oleh anak laki-laki dan anak perempuan misalnya. Awalnya ular tangga,
lalu berganti bermain monopoli.
Saking asiknya mereka. Tanpa terasa sudah sore saja. Waktu
sudah menunjukkan pukul 14.30. mau tidak mau mereka pun berpamitan pada sang
tuan rumah. Padahal, sebenarnya Novita, Candra dan Zahara juga sebenarnya masih
betah. Apalagi Adriel.
“Lain kali, kita main lagi ke sini, oke? Atau kalau ada
waktu, biar tante, om dan Berlyn ikut ke Jogja bareng sama kak Axel, gimana?
Adriel setuju?” ucap Queen membujuk bocah itu.
“Adriel masih mau sama Berlyn,” rengak bocah itu.
Karena kuwalahan dan semua ide dilakukan untuk membujuk
bocah itu tidak mempan sama sekali, Queen pun meminta agar Adriel tetap
tinggal.
“Kak Nov. memang kapan kalian mau kembali ke Jogja? Apakah
mala mini juga?”
Novita bingun, dilihatnya suami, kemudian mertuanya.
“Besok dia sudah sekolah, Queen,” jawab Novita dengan berat hati.
“Adriel, nurut sam mama, ya? kasian dia. Tante janji, minggu depan kami akan ke tempat Adriel, bagaimana?” ucap Queen lagi.
“Oke, aku percaya sama Tante karena selama ini kau tidak
pernah bohong. Pasti juga bisa tepati janji, kan?” ucap Adriel.
“Nah, begitu, dok, good boy.” Kemudian Queen pun memeluk
Adriel dan mereka pun bersiap untuk pulang.
Saat bersalaman dan berpelukan dengan Novita, Queen melihat
seperti ada yang aneh dengan Novita. Entah, perasaannya saja, atau karena
seharian beraktifitas, mekap yang dia gunakan untuk memoles bibir sudah luntur atau dia memang yang kurang sehat juga wanita itu tidak tahu. Sebab, menurut
Queen. Novita sedikit pucat.
“Kak, Nov. hati-hati, ya?” ucap Queen.
Wanita itu hanya tersenyum saja.
__ADS_1
Sedangkan Al yang kini bersalaman dan berpelukan dengan
Candra juga berpesan agar menjaga Novita dengan baik. “Jaga istrimu dengan baik, Bro. jangan hanya dijadikan selimut bernyawa saja,” timpal Al. sepertinya
dia juga berpendapat dengan Queen yang menganggak kalau Novita terlihat pucat.
“Oh, pasti itu, Bro!” timpal Candra. Tanpa ikatan anak buah dan bos, mereka berdua sangat mencair dan sangat akrab.
Baru saja Novita hendak lewat ambang pintu tiba-tiba saja
ambruk dia pingsan, membuat Queen, mama dian dan Zahara berteriak histeris ahampir bersamaan.
“Kak, Novi! Kak Candra awas!”
“Novita! Ya ampun!” pekik mama Dian, tak kalah terkejut.
Karena tempat Novi berdiri berdekatan dengan Alex, maka
dengan sigap pria itu langsung memapah kakanya. Queen langsung menatakan sofa
ruang tamunya untuk membaringkan tubuh Novitan yang tidak sadarkan diri.
“Di sini coba,” ucap Queen yang sudah panik dan berfikiran
buntu.
“Sayang, masukkan dalam kamar tamu saja. Sekalian kau
periksa dia,” usul Al.
“Oh, iya kau benar. Alex. bawa dia ke kamar itu,’ ucapnya
sambil menunjuk ke sebuah kamar yang dulu itu adalah tempat mama dan papanya sebelum mereka memutuskan untuk berpindah ke kediaman yang terakhir mereka
tempati itu.
Semuanya menunggu di luar, sementara Queen ditemani mama
Dian memeriksa Novita di dalam kamar tersebut.
“Queen, apa yang terjadi dengannya? Apakah dia darah rendah
atau kecapekan? Dia di rumah itu tidak pernah bisa diem ada saja yang
dikerjakan,” ucap mama Dian berceloteh sendiri saking paniknya.
“Ya, bisa jadi dia kecapekan, Tante. Kan semenjak kalian
datang dia sama sekali tidak berbaring, kan? Mulai sekarang, Tante yang ketat sama dia. Perhatikan pola makan dan istirat dia yang teratur. Gak boleh capek-capek, selamat Tante, anda akan menjadi seorang nenek.”
Rupanya Candra sudah tidak sabar menunggu lama-lama di luar.
Ia berfikir, bagaimana pun cara Queen memeriksa Novita, toh Novi adalah
istrinya. Jadi, bersamaan dengan itu Candra sudah berada diambang pintu dan dia juga mendengar apa yang Queen katakan.
“jadi, maksut kamu Novita hamil, Queen? Kalau kau beri ucapan pada mamaku selamat akan jadi nenel. Maka, aku akan jadi papa kandung.”
“Ya. selamat, kau akan menjadi seorang ayah dan memiliki
anak sendiri,” timpal Queen. Beruntung Axel dan Adriel tidak berada di situ.
Atau akan terjadi salah paham dan merasa dianak tirikan jika tidak tepat
membicarakannya bersama mereka berdua. Karena bagaimanapun, Candra bukanlah
ayah kandung mereka. Rasa takut akan diperlakukan beda setelah kelahiran
adiknya pasti ada.
Dengan segera Candra berlari menghampiri istrinya. Tanpa
rasa sungkan, ia mencium dengan lembut kenung Novita dan juga tangannya sampai
berkali-kali.
“Akhirnya, kamu hamil juga, Sayang. Terimakasih, ya? Aku gak
minta anak cewek ataupun cowok. Terserah Tuhan saja. Jika Cewek, maka anak kita
lengkap. Jika Cowok, semuanya atlit motogp dan merekalah juaranya,” ucap Candra
panjang lebar.
Mama Dian mengamati sekitar. Ia melihat kedua cucunya tidak
ada yang terlihat hendak masuk. Mumpung berita kehamilan Novi masih belum terdengar di luar. Mama Dian beranjak menutup pintu dan menguncinya dari
dalam. Jadi, di sana hanya ada empat orang saja. Queen, Candra mama Dian dan Novi. Dengan perlahan wanita paruh baya itu menarik lengan putranya perlahan dan memintanya duduk di tepi ranjang.
“Ndra. Kamu dengarkan mama, ya? ini juga demi kebaikan
kalian, jangan langsung menunjukkan ekspresi gembira atas kehamilan Novita di
depan kedua putramu. Ingat. Mereka itu anak sambung. Kau harus bisa adil jika kau terlalu menunjukkan kebahagiaanmu, mama kawatir mereka akan berfikir jika
kelak anak itu lahir, mereka berfikir kasih sayangmu terhadap mereka akan berubah. Terutama
pada Axel. Ajak dia bicara dari hati ke hati. Kalau Adriel, dia masih
anak-anak. selama sikap kalian berdua pada mereka tidak berubah, mungkin masih
baik-baik saja. Boleh saja kau ekspresikan kebahagiaan kalian. Tapi, jangan berlebihan
dan jangan di depan mereka.”
Candra diam sejenak, ia berusaha meresapi apa yang mamanya
sampaikan. Setelah dia pikir-pikir, memang ada benarnya juga. bagaimana pun,
mama juga pasti sudah berpengalaman akan hal itu. ia juga ingat bagaimana saat
mendiang adiknya dulu lahir, ia juga merasa dinomorduakan dan sering
terabaikan. Padahal, itu seayah dan seibu. Apalagi yang seperti Adriel dan
Axel. Memang sudah menjadi rahasia umum kalau anak pertama itu sering terabaikan dan biasanya jadi sasaran kemarahan ibunya Ketika si adik rewel atau berebut mainan. Jadi, demi kebaikan anak-anak sambungnya, ia juga harus bisa adil dan jaga sikap
“Iya, baik Ma. Aku mengerti ini,” jawab Candra dengan bersungguh-sungguh.
“Ya sudah. Kau keluarlah, dan katakana pada mereka kalau
mama mereka tidak apa-apa. Hanya kecapekkan saja. Katakan nanti di waktu yang tepat agar mereka bisa menerima,” ucap mama Dian sambil menoleh kea rah pintu. Tapi, tatapan matanya tetap tertuju pada Candra.
“Ma. Terimakasih banyak sudah mau nasehatin Candra. Aku
awalnya juga berfikir demikian. Tapi, kalau yang ingetin aku, kesannya juga
__ADS_1
berbeda kan, kalau mama sendiri yang ingatin dia. Terimkasih banyak, ya Ma?” ucap novita sekali lagi tanpa melepaskan tangan mama mertuanya.
"Sudah seharusnya, mama yang orang tua itu bantu nasehatin kalian yang muda. Mama minta maaf ya jika mungkin ada kata atau tingkah mama yang membuat hati kamu berkenan. Sekarang kamu harus banyak istirahat dan jangan bandel, oke?" ucap mama Dian pada menantunya.