Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Will die 2


__ADS_3

“Pa, kau dan mama terlalu banyak habiskan waktu untuk


mengasuh anak orang, sampai-sampai kalaian lupa jika kalaian memiliki satu anak


lagi yang tinggal di Jepang,” ucap seorang gadis kecil di dalam layar sentuh


Al.


Sementara Al hanya tersenyum sambil bertopang mengamati


ekspresi marah karena cemburu putrinya yang super itu.


“Pa, aku kangen sama kalian, aku juga ingin bisa hidup


berkumpul bersama kalian. Apa kita bongkar saja rahasia kita kalau Beryn itu


kembar?” usul Clarissa.


“Baik. Kau pulanglah ke rumah bersama amamu, dan kita hidup


berkumpul bersama selamnya,” jawab Al dengan santai dan tanpa beban.


Mendengar tanggapan papanya yang sangat santai mengizinkan,


Clarissa malah terlihat gelagapan sendiri. Bagaimana dia bisa melakukan itu. ia


yakin, jika ada salah satu musuh papanya muncul dan menggunakan anaknya sebagai


balas dendam ia bisa saja menyelamatkan diri sendiri dengan caranya, andai dia


yang tertangkap. Tapi, jika Berlyn? Dia tidak menganggap saudara kembarnya


adalah anak yang lemah. Tapi, rasa khawatir jelas ada, mengingat dia adalah


sosok yang sangat penfian dan kalem begitu. Siapa yang tega?


“Maaf, Pa. aku Cuma bercanda saja. Ayolah Pa, mengertilah


aku. Aku juga kangen sama papa mama dan Berlyn. Sekali-kali, tinggalkan mereka


sebentar saja, datanglah kemari. Tidak mungkin kan jika aku yang ke sana, kan?”


ucap gadis kecil yang mengenakan jas kecil. Nampak lucu. Tapi, pola pikir dan


kelakuannya sudah seperti orang dewasa saja.


Sedangkah Al, dia terus diam menikmati tingkah putrinya yang


sangat persis dirinya. Ia sudah menduga jawaban Clarissa. Seperti apapun dia,


ia tetap tidak ingin mencelakakan saudarinnya. Makanya, ia dengan santai


mengatakan iya iya saja, jarena ia tidak akan berani ambil resiko sebesar itu.


semakin ke sini, Al kian merasa bercermin jika melihat seperti apa nakalnya


Clarissa, sungguh dia banyak menurun dirinya. “Papa tidak janji kapan. Tapi,


akan papa usahakan dengan segera kami ke sana, oke? Apakah kau tidak lelah? di


sana sudah malam bukan? Baju juga kamu belum ganti, Sayang,” ucap Al


mengingatkan.


“Iya, Pa. kau di kantor, kan sekarang? Ya sudah, Clarissa


tidur dulu, ya. selamat bekerja.”


“Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi indah.”


“Kreek!”


Al segera mematikan panggilan videonya Ketika tiba-tiba saja


pintu ruangannya ada yang membuka tanpa seizinnya.


“Al, apakah kau sudah menandatangi perjanjian kerja sama


dengan PT. Rajawali? Sepertinya ada beberapa perjanjian yang ambigu di dalamnya


setelah kupelajari, kita hanya mendapatkan 10% saja dari total keuntungan yang


di dapat.” ucap Juna terlihat sangat tergopoh.


“Aku malah belum membacanya sama sekali,” timpal Al dengan


santai. Sepertinya dia dalam suasana hati yang bagus. Terlihat sekali dari tampangnya


yang terlihat santai menanggapi Juna.


“Syukurlah, coba kau baca saja dulu. Barangkali aku salah,”


ucap Juna lagi.


“Ya sudah, aku percaya sama kamu. Jika kau berkata tidak,


maka ya tidak.”


Juna mengamati pria di depannya terlihat sangat aneh saja.


Tidak seperti biasanya. “Ada apa?” tanya Juna yang heran karena tidak ada


sedikitpun tampang serius di benak Al.


“Apa? Tentu saja tidak ada masalah,” jawab pria itu sambil


menaikkan kedua bahunya.


“Ya, tentu saja aku tahu itu. Kau terlihat bahagia, biasanya


juga selalu diam dengan tampang serius dan dinginmu.”


“Sejak kapan kau jadi kepo?” tanya Al balik sambil tertawa.


“Kau sayang-sayangan sama siapa? Dari cara bicara kamu


berbeda dengan kau saat bicara sama Queen.”


“Sialan, kau menguping?” jawab Al langsung memiting leher


Juna.


“Sory, aku tidak sengaja. Serius, kau punya pacar, Al? Gila


kau, sudah lama nikah sama Queen. kamu tega?” tanya Juna. Ia masih tidak


percaya kalau Al ada main gila dengan wanita lain.  Ia menebak, kalau benar Al berselingkuh


wanita itu pasti berada di luar negeri, sebab, di siang bolong begini ia


mengucapkan selamat malam.


“Itu tidak seperti yang kau pikirkan, aku tetap setia dengan


satu istri saja.”


“Ya, yang ini tidak kau nikahi? Cuma kau gombali saja.”


“Kau jangan macam-macam, ya? Kelak, suatu saat juga akan


mengerti siapa dia. Cepat atau lambat. Ya sudah ayo kita pulang.”


“Jam kerja masih ada setengah jam lagi.”


“Ini bonus dari bos. Aku sudah rindu putriku di rumah.” Dengan


sigap Al meraih tas kerjanya dan beranjak keluar ruangan.


“OH, oke.” Juna hanya menatap pria yang dulu Ketika ia duduk


di bangku SMA selalu menitipkan Queen padanya untuk di jaga. Sebelum ia pergi


ke Jepang. Tapi, sekarang, ia malah menikahi gadis itu yang ternayata baru ia


ketahui kalau mereka bukanlah saudara kandung.


Sesampai di tempat parkir, Juna sudah tidak mendapati mobil


Al. ia merasa kalau Al terlalu kilat hari ini. Ada apa? Entahlah, Juna tidak


mau terlalu berat berfikir. Selingkuh atau tidak, kelak suatu saat juga bakal


ketahuan.


Sementara Al yang sudah buru-buru, ia menelfon istrinya


menanyakan apakah dia berada di Klinik atau sudah di rumah sekarang.

__ADS_1


“Halo, Al. ada apa?” jawab Queen dari seberang sana.


“Kau di mana, Sayang?” tanya Al setelah istrinya menjawab


panggilannya.


“Aku berada di rumah. Apakah perlu sesuatu?”


“Ya, tolong siapkan aku beberapa baju santai di koper untuk


tiga hari di Jepang. Jangan lupa sekalian pasportku, ya?” ucap Al dengan nada


yang menunjukkan rasa cinta dan sayang pada wanita yang ditelfonnya.


“Baik. Ya sudah, kau hati-hati di jalan, oke?”


“Terimakasih, Sayang.”


Queen tidak menjawab selain tersenyum. Dimatikannya telefon


dari suaminya dan segera menyiapkan segala keperluannya. Ia tahu, siapa yang


ingin suaminya temui.


Selang tigapuluh menit, Queen mendengar anak-anak di depan


menyapa suaminya. Kebetulan, dia juga sudah menyiapkan semuanya. Ia keluar


kamar dan melihat ke luar. Ternyata benar, Berlyn dan Adriel nampak antusias


menyambut kedatangan Al. Queen tersenyum seorang diri melihat bagaimana Al


memperlakukan dua anak itu. sungguh sangat fatherly sekali. Pria yang dulunya


adalah seorang mafia tingkah berat. Kini ia menunjukkan sikap terlebut dan


penyangnya pada anak-anak, keluarganya dan pada semua oarng yang baik padanya.


“Oke, kalian mainlah bersama. Papa akan ada perjalanan


bisnis ke luar negeri setelah ini. Kalian baik-baiklah di rumah, ya?” ucap Al


sambil mencium kening Adriel dan Berlyn secara bergantian.


“baik, Papa. Hati-hati, ya?” jawab Adriel. Lalu, kembali dua


anak itu bermain bersama.


Di depan pintukamar, Al mendapati Queen berdiri di sana


menyambut dirinya dengan senyuman.


“Apakah si kecil menelfonmu lagi?” tanya Queen.


“Ya, aku tidak mengatakan kalau aku akan ke sana sekarang.


Ini adalah kejutan,” jawab Al kemudian ia menoleh ke belakang, memastikan


akalau Berlyn dan Adriel tidak melihat ke arah mereka.


“kau berangkat malam ini juga?”


“Iya, Sayang. Pesawat sudah siap,” ucap Al sambil memeluk


dan mencium Queen, dan menodorngnya ke dalam kamar. Ia juga tidak lupa menutup


pintu dan menguncinya. Khawatir, jika nanti salah satu dari anak-anak yang


tiba-tiba saja membuka pintu dan melihat ia dan Queen sedang melakukan sesuatu


yang harusnyavhanya orang dewasa ketahui saja.


Usai mendapatkan haknya sebagai suami, Al segera bersiap


mandi dan berganti pakaian rapi yang sudah Queen siapkan sebelumnya.


“Pakai sepatu yang ini saja ya, Al?” ucap Queen sambil


menunjukkan sepatu tali berwanra biru dongker dan putih.


“Boleh, lah,” timpal Al sambil mengenakan kaus kaki pendek


sebatas mata kaki.


Lima menit kemudian, Al sudah rapih mengenakan celana jeans


warna merah cerah serta sepatu biru dongker kombinasi putih, di tambah rambut


yang dudah tertata tidak begitu rapih dan sedikit basah. Jelas, itu akan sangat


menarik perhatian setiap wanita dari negara mana pun yang melihatnya.


“Sayang, kau tidak salah, ya? mendandaniku seperti hendak


apel pacar saja. Aku ini mau bertemu dengan anak kita,” ucap Al.


“Sudah rahasia umum, Al. di balik suami yang tampan harum


dan wangi ada istri yang pintar merawatnya,” jawab Queen dengan cuek. Sambil


mengambil handuk bekas Al yang digeletakkan begitu saja di atas lantai setelah


memakainya.


“Tapi, wanita jaman sekarang nakal. Lebih suka dengan suami


orang.”


“Kan suami orang, bukan suamiku.”


“Kau bagi mereka orang. Dan aku bagi mereka…. “ Al tertawa


sambil terus melihat ekspresi istrinya. Sampai-sampai ia tidak melanjutkan kalimatnya.


Queen menoleh ke belakang. Menatap tajam ke arah suaminya


dan berkata, “Kalau ada salah satu dari mereka menyukaimu, ya tergantung kau.


Jika kau mau, memang kau yang buaya. Tapi, jika kau setia, kau adalah suami


idaman.”


“Iya, Sayang. Terimakasih, ya?” ucap Al sambil merangkul


Queen dari samping dan mencium pipinya. “aku berangkat dulu, titip Berlyn dan


anak-anak, ya?” imbuhnya, sambil menatap mata wanita dalam pelukkannya.


“Ya, kamu hati-hati.”


Al terus menatap istrinya sambil melangkah meninggalkan


kamar. Rasanya ia berat jika pergi seorang diri tanpa mengajak serta istri


bersamanya. Tapi, ini dia lakukan juga demi semua. Ia tahu, Clarissa sama-sama


merindukan mama dan saudarinya. Tapi, memang keadaannya yang tidak


memungkinkan. Dia datang sendiri melihat langsung perkembangan perusahaannya di


sana sekalian memberi kejutan pada putrinya yang sangat kekurangan kasih sayang


darinya dan juga Queen.


“Papa mau ke mana?’’ tanya Bilqis saat ia bermain bersama


Berlyn dan juga Adriel di depan tv ruang keluarga.


“Papa mau ke Jepang dulu, mungkin selama tiga hari. Bilqis,


titip adik, ya? di mana kak Axel? Tadi sepertinya da di sini?” tanya Al.


“Aku di sini, Om. Apakah Om lama ke Jepangnya?” tanya remaja


itu.


“Sekitar tiga hari. Om titip rumah sama adik-adik kamu, ya?”


“Baik, Om. Hati-hati.”


Al memeluk Axel, Adriel dan terakhir Berlyn. Mereka beruda


berbicara menggunakan isyarat mata dan Bahasa batin yang hanya dikethui oleh


ayah dan anak itu saja.


Batin Berlyn bertanya seperti yang ditanyaka Queen saat ia

__ADS_1


baru tiba dari kantor tadi.


‘Apakah Clarissa menelfonmu dan mengancam akan kemari?’


Al tersenyum dan mengangguk pelan. Dan Berlyn pun tertawa


sampai menutup mulutnya.


“Kelak, kita akan ke sana bersama, oke?” ucap Al dengan


lirih, mungkin hanya Berlyn saja yang mendengar itu.


“Ya,” jawab bocah itu kemudian mencium pipi papanya, dan


dibalas oleh Al dengan mencium ubun-ubun putri kandungnya itu. kemudian ia


menurunkan Berlyn dari gendongannya dan meninggalkan tempat tersebut sambil


menyeret kopernya.


Setelah melihat Al masuk ke dakam mobil, dan sempat


melambaikan tangan pada mereka, Berlyn langsung berlari mencari mamanya yang


kini sudah berada di dapur, membantu bibi menyiapkan makan malam.


“Kau di sini rupanya, Sayang? Ada apa?” tanya Queen sambil


meletakkan piring ke atas meja dan berjongkok memegangi kedua sisi lengan


putrinya.


Berlyn hanya diam memandang mamanya saja.


Queen melihat ke sekeliling. Ruangan tersebut sepi. Tidak ada


Adriel, Bilqis dan Axel. Kemudian Ia berbisik pada Berlyn putrinya dan berkata,


“Papa ke Jepang kasih kejutan pada saudarimu. Kau jangan bilang-bilang, oke?”


Gadis kecil itu tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya lalu


berlari entah hendak ke mana. Yang jelas, ia turut senang atas kejutan yang diberikan


papanya untuk kembarannya yang sedari kecil tidak pernah diasuh sendiri oleh


papa mama dan berkumpul dengannya. Terlebih setelah kepergian tante Novita dan om


Chandra untuk selama-lamanya, ia rela mengalah mengurangi video call denganya


dan mama karena takut ketahuan. Jika dia bukan gadis kecil yang baik, pasti


akan protes, marah dan tidak terima dengan keputusan kedua orang tuanya yang mengarsuh


dan merawat Adriel karena trauma dan tinggal di rumahnya. Tapi, dia dengan


lapang dada membiarkan saja dan malah sering bertanya perkembangan psikis


Adriel. Ia juga ikut senang saat tahu Adriel sudah mulai normal. Sekalipun pada


akhirnya bocah itu tidak mau tinggal bersama Om dari mamanya kembali. Dan setiap


hari sabtu sampai malam senin Axel dan Bilqis juga ikut datang ke mari menginap


bersama.


‘Tidak masalah, Alin kalau kita hanya bisa chat an saja. Yang


penting antara kita tidak putus komunikasi, kan beres, ya?’ kalimat yang


dikirimkan Clarissa kala itu masih teringat jelas di benak Berlyn. Sebenarnya,


ia iangin sekali mengatakan kalau papa sedang menuju Jepang agar dia senang. Tapi,


karena ini kejutan, ia menahannya. Mengalihkan dengan bermain bersama Adriel


sambil menunggu makan malam siap.


Sedangkan Axel, ia mengantar Al sampai gerbang. Karena, ia


tidak mengemudikan mobilnya sendiri. Melainkan om Dedi lah yang mengemudikan


mobil tersebut mengantarnya sampai Bandra. Setelah menutup dan mengunci gerbang


dengan baik, pria itu berjalan masuk ke dalam rumah. Tapi, saat ia hendak masuk


ternyata Bilqis menunggunya di ambang pintu.


“Aku mau bicara sama kak Axel,“ ucap gadis itu, dan memberi


isyarat agar sedikit menjauh dari pintu rumah.


Dengan mudah, Axel menagkap isyarat yang diberikan oleh


gadis yang berada di depannya. Ia berjalan menjauh dari halan, berdiri di taman


halaman depan.


“Bicaralah!” ucap Axel singkat dan dingin.


“Maaf, jika aku tidak pernah bosan bertanya. Apakah kak Axel


sudah memiliki sedikit rasa untukku?” tanya gadis itu dengan sedikit takut dan


ragu.


Axel diam. Ia mengalihkan pandangannya ke obyek yang lebih


jauh. Memandang pohon akasia di belakang rumah tersebut. Kemudian, ia menghela


napas dalam-dalam dan menghembuskannya melalui mulut dengan pelan.


“Bilqis, kak Axel katakana sekali lagi padamu, ya? Mungkin


juga ini yang terakhir kalinya, dan tak akan pernah kakak karakan lagi. Kak Axel


sayang sama kamu, sama seperti sayangnya pada Adriel, oke?”


“Tapi, kenapa kau tadi menunjukkan sikap yang berbeda padaku?


Kau memberika boneka padaku dan membiarkan aku menciumu di depan Tiara,” protes


Bilqis.


“Berlyn juga menciumku di depan umum, dan justru aku yang


memintanya, bukan?”


“Dia masih kecil, Kak. Aku sudah dewasa. Siapapun orangya jika


melihat kau bersama Berlyn jalan juga pasti sudah menebak, jika bukan adik, ya


keponakannya. Tapi, aku?”


“Jika tadi aku menolak dan menegurmu di depan Tiara, apakah


kau tidak merasa malu?” ucap Axel kemudian pergi meninggalkan Bilqis sediri di


taman.


Sementara gadis itu hanya diam mematung di sana tanpa mau


menoleh melihat Axel yang pergi meninggalkannya.


“Percuma saja, kan aku mencintaimu, Kak. Jawaban yang


kudapat juga selalu sama. Baiklah, mungkin aku akan menyerah. Dari dulu, sejak


lima tahun silam kau tidak pernah memandangku sekalipun, walaupun kenyataannya


dalam hatiku kau adalah yang terindah. Tanpa sadar Bilqis menitikkan air


matanya. Baru kali ini ia merasakan cinta yang teramat sakit. “Kak Axel. Kau adalah


tentang apa yang selalu kutulis. Sedangkan aku, adalah apa yang tak pernah kau baca,”


gumamnya seorang diri sambil menghapus air matanya dengan kasar. Benar, ia


berkata Axel juga anggap Berlyn adik, terlebih selisih usia mereka yang sangat


jauh. Tapi, lain dengan hatinya. Hatinya selalu berkata lain. Berlyn lah satu-satunya


gadis yang special di mata Axel. Mungkin juga, pria itu mencintainya. Bukankah cinta


itu buta? Tak pandang usia, kasta dan apapun, karena, cinta tidak pernah salah


dan tak boleh dipersalahkan. Sekalipun cinta itu membawa luka dan sakit, bahkan petaka.

__ADS_1


__ADS_2