
“Pa, kau dan mama terlalu banyak habiskan waktu untuk
mengasuh anak orang, sampai-sampai kalaian lupa jika kalaian memiliki satu anak
lagi yang tinggal di Jepang,” ucap seorang gadis kecil di dalam layar sentuh
Al.
Sementara Al hanya tersenyum sambil bertopang mengamati
ekspresi marah karena cemburu putrinya yang super itu.
“Pa, aku kangen sama kalian, aku juga ingin bisa hidup
berkumpul bersama kalian. Apa kita bongkar saja rahasia kita kalau Beryn itu
kembar?” usul Clarissa.
“Baik. Kau pulanglah ke rumah bersama amamu, dan kita hidup
berkumpul bersama selamnya,” jawab Al dengan santai dan tanpa beban.
Mendengar tanggapan papanya yang sangat santai mengizinkan,
Clarissa malah terlihat gelagapan sendiri. Bagaimana dia bisa melakukan itu. ia
yakin, jika ada salah satu musuh papanya muncul dan menggunakan anaknya sebagai
balas dendam ia bisa saja menyelamatkan diri sendiri dengan caranya, andai dia
yang tertangkap. Tapi, jika Berlyn? Dia tidak menganggap saudara kembarnya
adalah anak yang lemah. Tapi, rasa khawatir jelas ada, mengingat dia adalah
sosok yang sangat penfian dan kalem begitu. Siapa yang tega?
“Maaf, Pa. aku Cuma bercanda saja. Ayolah Pa, mengertilah
aku. Aku juga kangen sama papa mama dan Berlyn. Sekali-kali, tinggalkan mereka
sebentar saja, datanglah kemari. Tidak mungkin kan jika aku yang ke sana, kan?”
ucap gadis kecil yang mengenakan jas kecil. Nampak lucu. Tapi, pola pikir dan
kelakuannya sudah seperti orang dewasa saja.
Sedangkah Al, dia terus diam menikmati tingkah putrinya yang
sangat persis dirinya. Ia sudah menduga jawaban Clarissa. Seperti apapun dia,
ia tetap tidak ingin mencelakakan saudarinnya. Makanya, ia dengan santai
mengatakan iya iya saja, jarena ia tidak akan berani ambil resiko sebesar itu.
semakin ke sini, Al kian merasa bercermin jika melihat seperti apa nakalnya
Clarissa, sungguh dia banyak menurun dirinya. “Papa tidak janji kapan. Tapi,
akan papa usahakan dengan segera kami ke sana, oke? Apakah kau tidak lelah? di
sana sudah malam bukan? Baju juga kamu belum ganti, Sayang,” ucap Al
mengingatkan.
“Iya, Pa. kau di kantor, kan sekarang? Ya sudah, Clarissa
tidur dulu, ya. selamat bekerja.”
“Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi indah.”
“Kreek!”
Al segera mematikan panggilan videonya Ketika tiba-tiba saja
pintu ruangannya ada yang membuka tanpa seizinnya.
“Al, apakah kau sudah menandatangi perjanjian kerja sama
dengan PT. Rajawali? Sepertinya ada beberapa perjanjian yang ambigu di dalamnya
setelah kupelajari, kita hanya mendapatkan 10% saja dari total keuntungan yang
di dapat.” ucap Juna terlihat sangat tergopoh.
“Aku malah belum membacanya sama sekali,” timpal Al dengan
santai. Sepertinya dia dalam suasana hati yang bagus. Terlihat sekali dari tampangnya
yang terlihat santai menanggapi Juna.
“Syukurlah, coba kau baca saja dulu. Barangkali aku salah,”
ucap Juna lagi.
“Ya sudah, aku percaya sama kamu. Jika kau berkata tidak,
maka ya tidak.”
Juna mengamati pria di depannya terlihat sangat aneh saja.
Tidak seperti biasanya. “Ada apa?” tanya Juna yang heran karena tidak ada
sedikitpun tampang serius di benak Al.
“Apa? Tentu saja tidak ada masalah,” jawab pria itu sambil
menaikkan kedua bahunya.
“Ya, tentu saja aku tahu itu. Kau terlihat bahagia, biasanya
juga selalu diam dengan tampang serius dan dinginmu.”
“Sejak kapan kau jadi kepo?” tanya Al balik sambil tertawa.
“Kau sayang-sayangan sama siapa? Dari cara bicara kamu
berbeda dengan kau saat bicara sama Queen.”
“Sialan, kau menguping?” jawab Al langsung memiting leher
Juna.
“Sory, aku tidak sengaja. Serius, kau punya pacar, Al? Gila
kau, sudah lama nikah sama Queen. kamu tega?” tanya Juna. Ia masih tidak
percaya kalau Al ada main gila dengan wanita lain. Ia menebak, kalau benar Al berselingkuh
wanita itu pasti berada di luar negeri, sebab, di siang bolong begini ia
mengucapkan selamat malam.
“Itu tidak seperti yang kau pikirkan, aku tetap setia dengan
satu istri saja.”
“Ya, yang ini tidak kau nikahi? Cuma kau gombali saja.”
“Kau jangan macam-macam, ya? Kelak, suatu saat juga akan
mengerti siapa dia. Cepat atau lambat. Ya sudah ayo kita pulang.”
“Jam kerja masih ada setengah jam lagi.”
“Ini bonus dari bos. Aku sudah rindu putriku di rumah.” Dengan
sigap Al meraih tas kerjanya dan beranjak keluar ruangan.
“OH, oke.” Juna hanya menatap pria yang dulu Ketika ia duduk
di bangku SMA selalu menitipkan Queen padanya untuk di jaga. Sebelum ia pergi
ke Jepang. Tapi, sekarang, ia malah menikahi gadis itu yang ternayata baru ia
ketahui kalau mereka bukanlah saudara kandung.
Sesampai di tempat parkir, Juna sudah tidak mendapati mobil
Al. ia merasa kalau Al terlalu kilat hari ini. Ada apa? Entahlah, Juna tidak
mau terlalu berat berfikir. Selingkuh atau tidak, kelak suatu saat juga bakal
ketahuan.
Sementara Al yang sudah buru-buru, ia menelfon istrinya
menanyakan apakah dia berada di Klinik atau sudah di rumah sekarang.
__ADS_1
“Halo, Al. ada apa?” jawab Queen dari seberang sana.
“Kau di mana, Sayang?” tanya Al setelah istrinya menjawab
panggilannya.
“Aku berada di rumah. Apakah perlu sesuatu?”
“Ya, tolong siapkan aku beberapa baju santai di koper untuk
tiga hari di Jepang. Jangan lupa sekalian pasportku, ya?” ucap Al dengan nada
yang menunjukkan rasa cinta dan sayang pada wanita yang ditelfonnya.
“Baik. Ya sudah, kau hati-hati di jalan, oke?”
“Terimakasih, Sayang.”
Queen tidak menjawab selain tersenyum. Dimatikannya telefon
dari suaminya dan segera menyiapkan segala keperluannya. Ia tahu, siapa yang
ingin suaminya temui.
Selang tigapuluh menit, Queen mendengar anak-anak di depan
menyapa suaminya. Kebetulan, dia juga sudah menyiapkan semuanya. Ia keluar
kamar dan melihat ke luar. Ternyata benar, Berlyn dan Adriel nampak antusias
menyambut kedatangan Al. Queen tersenyum seorang diri melihat bagaimana Al
memperlakukan dua anak itu. sungguh sangat fatherly sekali. Pria yang dulunya
adalah seorang mafia tingkah berat. Kini ia menunjukkan sikap terlebut dan
penyangnya pada anak-anak, keluarganya dan pada semua oarng yang baik padanya.
“Oke, kalian mainlah bersama. Papa akan ada perjalanan
bisnis ke luar negeri setelah ini. Kalian baik-baiklah di rumah, ya?” ucap Al
sambil mencium kening Adriel dan Berlyn secara bergantian.
“baik, Papa. Hati-hati, ya?” jawab Adriel. Lalu, kembali dua
anak itu bermain bersama.
Di depan pintukamar, Al mendapati Queen berdiri di sana
menyambut dirinya dengan senyuman.
“Apakah si kecil menelfonmu lagi?” tanya Queen.
“Ya, aku tidak mengatakan kalau aku akan ke sana sekarang.
Ini adalah kejutan,” jawab Al kemudian ia menoleh ke belakang, memastikan
akalau Berlyn dan Adriel tidak melihat ke arah mereka.
“kau berangkat malam ini juga?”
“Iya, Sayang. Pesawat sudah siap,” ucap Al sambil memeluk
dan mencium Queen, dan menodorngnya ke dalam kamar. Ia juga tidak lupa menutup
pintu dan menguncinya. Khawatir, jika nanti salah satu dari anak-anak yang
tiba-tiba saja membuka pintu dan melihat ia dan Queen sedang melakukan sesuatu
yang harusnyavhanya orang dewasa ketahui saja.
Usai mendapatkan haknya sebagai suami, Al segera bersiap
mandi dan berganti pakaian rapi yang sudah Queen siapkan sebelumnya.
“Pakai sepatu yang ini saja ya, Al?” ucap Queen sambil
menunjukkan sepatu tali berwanra biru dongker dan putih.
“Boleh, lah,” timpal Al sambil mengenakan kaus kaki pendek
sebatas mata kaki.
Lima menit kemudian, Al sudah rapih mengenakan celana jeans
warna merah cerah serta sepatu biru dongker kombinasi putih, di tambah rambut
yang dudah tertata tidak begitu rapih dan sedikit basah. Jelas, itu akan sangat
menarik perhatian setiap wanita dari negara mana pun yang melihatnya.
“Sayang, kau tidak salah, ya? mendandaniku seperti hendak
apel pacar saja. Aku ini mau bertemu dengan anak kita,” ucap Al.
“Sudah rahasia umum, Al. di balik suami yang tampan harum
dan wangi ada istri yang pintar merawatnya,” jawab Queen dengan cuek. Sambil
mengambil handuk bekas Al yang digeletakkan begitu saja di atas lantai setelah
memakainya.
“Tapi, wanita jaman sekarang nakal. Lebih suka dengan suami
orang.”
“Kan suami orang, bukan suamiku.”
“Kau bagi mereka orang. Dan aku bagi mereka…. “ Al tertawa
sambil terus melihat ekspresi istrinya. Sampai-sampai ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Queen menoleh ke belakang. Menatap tajam ke arah suaminya
dan berkata, “Kalau ada salah satu dari mereka menyukaimu, ya tergantung kau.
Jika kau mau, memang kau yang buaya. Tapi, jika kau setia, kau adalah suami
idaman.”
“Iya, Sayang. Terimakasih, ya?” ucap Al sambil merangkul
Queen dari samping dan mencium pipinya. “aku berangkat dulu, titip Berlyn dan
anak-anak, ya?” imbuhnya, sambil menatap mata wanita dalam pelukkannya.
“Ya, kamu hati-hati.”
Al terus menatap istrinya sambil melangkah meninggalkan
kamar. Rasanya ia berat jika pergi seorang diri tanpa mengajak serta istri
bersamanya. Tapi, ini dia lakukan juga demi semua. Ia tahu, Clarissa sama-sama
merindukan mama dan saudarinya. Tapi, memang keadaannya yang tidak
memungkinkan. Dia datang sendiri melihat langsung perkembangan perusahaannya di
sana sekalian memberi kejutan pada putrinya yang sangat kekurangan kasih sayang
darinya dan juga Queen.
“Papa mau ke mana?’’ tanya Bilqis saat ia bermain bersama
Berlyn dan juga Adriel di depan tv ruang keluarga.
“Papa mau ke Jepang dulu, mungkin selama tiga hari. Bilqis,
titip adik, ya? di mana kak Axel? Tadi sepertinya da di sini?” tanya Al.
“Aku di sini, Om. Apakah Om lama ke Jepangnya?” tanya remaja
itu.
“Sekitar tiga hari. Om titip rumah sama adik-adik kamu, ya?”
“Baik, Om. Hati-hati.”
Al memeluk Axel, Adriel dan terakhir Berlyn. Mereka beruda
berbicara menggunakan isyarat mata dan Bahasa batin yang hanya dikethui oleh
ayah dan anak itu saja.
Batin Berlyn bertanya seperti yang ditanyaka Queen saat ia
__ADS_1
baru tiba dari kantor tadi.
‘Apakah Clarissa menelfonmu dan mengancam akan kemari?’
Al tersenyum dan mengangguk pelan. Dan Berlyn pun tertawa
sampai menutup mulutnya.
“Kelak, kita akan ke sana bersama, oke?” ucap Al dengan
lirih, mungkin hanya Berlyn saja yang mendengar itu.
“Ya,” jawab bocah itu kemudian mencium pipi papanya, dan
dibalas oleh Al dengan mencium ubun-ubun putri kandungnya itu. kemudian ia
menurunkan Berlyn dari gendongannya dan meninggalkan tempat tersebut sambil
menyeret kopernya.
Setelah melihat Al masuk ke dakam mobil, dan sempat
melambaikan tangan pada mereka, Berlyn langsung berlari mencari mamanya yang
kini sudah berada di dapur, membantu bibi menyiapkan makan malam.
“Kau di sini rupanya, Sayang? Ada apa?” tanya Queen sambil
meletakkan piring ke atas meja dan berjongkok memegangi kedua sisi lengan
putrinya.
Berlyn hanya diam memandang mamanya saja.
Queen melihat ke sekeliling. Ruangan tersebut sepi. Tidak ada
Adriel, Bilqis dan Axel. Kemudian Ia berbisik pada Berlyn putrinya dan berkata,
“Papa ke Jepang kasih kejutan pada saudarimu. Kau jangan bilang-bilang, oke?”
Gadis kecil itu tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya lalu
berlari entah hendak ke mana. Yang jelas, ia turut senang atas kejutan yang diberikan
papanya untuk kembarannya yang sedari kecil tidak pernah diasuh sendiri oleh
papa mama dan berkumpul dengannya. Terlebih setelah kepergian tante Novita dan om
Chandra untuk selama-lamanya, ia rela mengalah mengurangi video call denganya
dan mama karena takut ketahuan. Jika dia bukan gadis kecil yang baik, pasti
akan protes, marah dan tidak terima dengan keputusan kedua orang tuanya yang mengarsuh
dan merawat Adriel karena trauma dan tinggal di rumahnya. Tapi, dia dengan
lapang dada membiarkan saja dan malah sering bertanya perkembangan psikis
Adriel. Ia juga ikut senang saat tahu Adriel sudah mulai normal. Sekalipun pada
akhirnya bocah itu tidak mau tinggal bersama Om dari mamanya kembali. Dan setiap
hari sabtu sampai malam senin Axel dan Bilqis juga ikut datang ke mari menginap
bersama.
‘Tidak masalah, Alin kalau kita hanya bisa chat an saja. Yang
penting antara kita tidak putus komunikasi, kan beres, ya?’ kalimat yang
dikirimkan Clarissa kala itu masih teringat jelas di benak Berlyn. Sebenarnya,
ia iangin sekali mengatakan kalau papa sedang menuju Jepang agar dia senang. Tapi,
karena ini kejutan, ia menahannya. Mengalihkan dengan bermain bersama Adriel
sambil menunggu makan malam siap.
Sedangkan Axel, ia mengantar Al sampai gerbang. Karena, ia
tidak mengemudikan mobilnya sendiri. Melainkan om Dedi lah yang mengemudikan
mobil tersebut mengantarnya sampai Bandra. Setelah menutup dan mengunci gerbang
dengan baik, pria itu berjalan masuk ke dalam rumah. Tapi, saat ia hendak masuk
ternyata Bilqis menunggunya di ambang pintu.
“Aku mau bicara sama kak Axel,“ ucap gadis itu, dan memberi
isyarat agar sedikit menjauh dari pintu rumah.
Dengan mudah, Axel menagkap isyarat yang diberikan oleh
gadis yang berada di depannya. Ia berjalan menjauh dari halan, berdiri di taman
halaman depan.
“Bicaralah!” ucap Axel singkat dan dingin.
“Maaf, jika aku tidak pernah bosan bertanya. Apakah kak Axel
sudah memiliki sedikit rasa untukku?” tanya gadis itu dengan sedikit takut dan
ragu.
Axel diam. Ia mengalihkan pandangannya ke obyek yang lebih
jauh. Memandang pohon akasia di belakang rumah tersebut. Kemudian, ia menghela
napas dalam-dalam dan menghembuskannya melalui mulut dengan pelan.
“Bilqis, kak Axel katakana sekali lagi padamu, ya? Mungkin
juga ini yang terakhir kalinya, dan tak akan pernah kakak karakan lagi. Kak Axel
sayang sama kamu, sama seperti sayangnya pada Adriel, oke?”
“Tapi, kenapa kau tadi menunjukkan sikap yang berbeda padaku?
Kau memberika boneka padaku dan membiarkan aku menciumu di depan Tiara,” protes
Bilqis.
“Berlyn juga menciumku di depan umum, dan justru aku yang
memintanya, bukan?”
“Dia masih kecil, Kak. Aku sudah dewasa. Siapapun orangya jika
melihat kau bersama Berlyn jalan juga pasti sudah menebak, jika bukan adik, ya
keponakannya. Tapi, aku?”
“Jika tadi aku menolak dan menegurmu di depan Tiara, apakah
kau tidak merasa malu?” ucap Axel kemudian pergi meninggalkan Bilqis sediri di
taman.
Sementara gadis itu hanya diam mematung di sana tanpa mau
menoleh melihat Axel yang pergi meninggalkannya.
“Percuma saja, kan aku mencintaimu, Kak. Jawaban yang
kudapat juga selalu sama. Baiklah, mungkin aku akan menyerah. Dari dulu, sejak
lima tahun silam kau tidak pernah memandangku sekalipun, walaupun kenyataannya
dalam hatiku kau adalah yang terindah. Tanpa sadar Bilqis menitikkan air
matanya. Baru kali ini ia merasakan cinta yang teramat sakit. “Kak Axel. Kau adalah
tentang apa yang selalu kutulis. Sedangkan aku, adalah apa yang tak pernah kau baca,”
gumamnya seorang diri sambil menghapus air matanya dengan kasar. Benar, ia
berkata Axel juga anggap Berlyn adik, terlebih selisih usia mereka yang sangat
jauh. Tapi, lain dengan hatinya. Hatinya selalu berkata lain. Berlyn lah satu-satunya
gadis yang special di mata Axel. Mungkin juga, pria itu mencintainya. Bukankah cinta
itu buta? Tak pandang usia, kasta dan apapun, karena, cinta tidak pernah salah
dan tak boleh dipersalahkan. Sekalipun cinta itu membawa luka dan sakit, bahkan petaka.
__ADS_1