Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 169


__ADS_3

Queen memperhatikan kakaknya yang begitu menikmati makan siangnya, saking lahapnya bahkan Al tidak berbicara sedikitpun, tidak seperti biasanya.


"Enak, doyan apa laper sih kak bakmi nya?" tanya Quen membuka pembicaraan.


"Makan jangan sambil bicara, tersedak nanti. Pernah lihat orang mati tersedak tidak?" jawab Al jutek.


Dari cara Al berbicara, Queen dapat menangkap kalau sebenarnya kakaknya diam bukan karena dia terlalu menikmati. Akan tetapi bakmi yang dimakannya terlalu pedas. Dia juga sadar kalau tadi melihat sang kakak menuang banyak sambal tidak seperti biasa, dan terkejut ketika melihat saus di depannya. Jelas, Al salah ambil.


"Jadi kau tadi menunah banyak sambal sebenarnya kau mengira itu saus, kan? Makanya kakak banyak diam,bukan takut tersedak doang. Tapi, juga karena kepedasan," ledek Quen sambil menertawai kakaknya.


"Kata siapa? Nggak, kok. Memang sengaja ngambil sambel agak banyak aja," kilah Al lalu meraih es lemon di depannya dan menyeruputnya.


"Oh, ya sudah, habiskan sekalian berserta kuahnya kalau gitu," tantang Quen sambil menahan tawa.


"Kakak udah kenyang," jawab Al, sambil memegangi perutnya.


Queen tertawa, "Emang sejak kapan kau bisa kenyang hanya dengan separuh porsi bakmi? Biasanya juga sampai satu setengah, yang setengahnya punyaku. ayo, habiskan!" perintah Quen berlagak sok lebih tua dari kakaknya.


"Ada imbalannya, tidak?" Al memandang Quen sambil menyeringai dan mengelap bibirnya yang ada bekas sisa makanan.


Queen berkerut kening, menatap aneh kepada kakaknya. ''Imbalan? Cuma menghabiskan makanan sendiri saja minta imbalan? Imbalan apa yang kau minta, Kak?"


"Kamu punya apa memang untuk diberikan pada kakak?"


"Apa? Emang kakak minta apa?"


"Itu." Al menunjuk kearah yang Quen tidak emngeti menggunakan dagunya.


"Minta apa, sih kak?" tanya Queen akhirnya menyerah.


"Cium," jawab Al sambil memandang Queen dan tersenyum, entah apa arti pandangan dan senyumannya itu. Queen tidak bisa mengerti.


"Eh, bukannya udah biasa, ya Kak? mau nyium ya cium aja!" jawab Quen berlagak tenang. Sebenarnya dia merasa aneh aja dengan tatapan mata kakaknya yang begitu.


"Hahaha." Al hanya tertawa. Entah apa yang dia tertawaan yang jelas, ia menertawai dirinya sendiri.


Dia merasa gila saja semakin hari semakin tak bisa mengerti dirinya sendiri.


Keduanya terdiam tanpa kata, meciptakan keheningan, selain musik yang mengalun dari cafe.


Quen yang sebenarnya sudah kenyang dan tak bisa menghabiskan lagi makanannya lagi, ia hanya mengaduk-ngaduknya saja. menunggu sang kakak mengajaknya pergi dari tempat ini.


Al mengamati adiknya yang terlihat nampak bosan ia hendak memegang tangannya agar berhenti memainkan makanan dan membawanya pergi dari tempat itu. Tapi, belum juga dia memegang punggung tangan Queen, ponsel nya sudah berbunyi duluan dengan sangat cepat queen meraih ponselnya dan mengangkat panggilan itu di depannya.


"Halo, Diaz. ada apa?" jawabnya ceria.


"...."


"Ini aku lagi makam sama kakak, Uda selesai, sih. Kamu di mana?"


"...."


"Ya udah, nanti aku tunggu deh."


"...."


"Ok, bye!"


"...."

__ADS_1


Wajah Quen nampak bersemu merah dan tersenyum malu-malu. melirik Al sesaat dan berkata lirih, "I love you to."


Lalu dia pun mematikan panggilannya.


"Kenapa dimatiin? Sudah ya telponnya?" tanya Al sambil memandang sinis ke arah adiknya.


"Ya udahlah, namanya juga dimatiin. Kalau belum ya pasti masih ngobrol, kenapa sih, Kak, kamu jutek banget?"


"Ayo balik ke kantor!" seru Al sambil berdiri dan membawa ponsel serta dompetnya.


Dengan senang hati Quen pun juga ikut bergegas, memasukan ponselnya ke dalam tas dan menyusul kakaknya yang lebih dulu berjalan. Saking cepatnya Al berjalan, Quen sampai tertinggal jauh di belakangnya.


"Kak, tunggu aku!" serunya sambil berlari.


Al nampak tidak peduli. jangankan berhenti untuk menunggu, menoleh saja tidak.


Tidak ada pilihan lain selain mempercepat langkahnya. Sampai pada akhirnya Queen pun berhasil memegang lengan kakaknya dan menggandeng nya jalan.


"Tumbuhan cepet banget, biasanya juga nungguin aku," ucapnya manja sambil berusaha mengimbangi agar dapat bejalan dengan sejajar.


Al hanya diam tidak menjawab, kedua tangannya bahkan dimasukan ke dalam saku tak peduli dengan Quen yang masih saja mengapit lengannya. dia tidak berkata sepatah pun sampai tiba di mobil.


Queen merasa ada yang aneh dengan kakaknya. sebelum Diaz tadi telfon sepertinya dia baik-baik saja dan masih bisa tersenyum. tapi, kenapa setelahnya diam? Apa merasa terabaikan karena aku terlalu asik dengan Diaz tadi, ya? Quen mengamati Al dan berusaha mencari cara agar dia tidak marah lagi. Ia pun tersenyum saat menemukan sebuah ide.


sepanjang perjalanan menuju kantor kembali Quen hanya diam saja tidak berbicara hanya fokus ke dapan melihat jalanan yang pada dan sesekali melirik Al yang juga sok serius. padahal, Quen tahu, pikiran kakaknya sampai kemana-mana.


sampai pada akhirnya mereka berdua tiba di parkiran kantor Queen melihat kakaknya nampak buru-buru keluar tapi sebelum dia membuka pintu dan keluar,


Queen memanggilnya.


"Kak, tolong aku. ini gimana sih lepasin sabuk nya? Susah banget," ucapnya.


Al pun mengurungkan niatnya membuka pintu mobil, ia melihat ke arah Quen yang terlihat benar-benar kesulitan. Lalu, ia pun mendekatkan tubuhnya ke arah Queen untuk membuka sabuk pengait pengaman yang katanya sulit tadi. Tapi, ternyata itu hanya modus Quen saja agar kakaknya tidak marah, iya mengalungkan kedua lengannya pada pundak kakaknya dan mencium pipinya hampir mengenai bibir sehingga hal terbelalak kaget sambil dan menatap wajah Quen.


Al pun ikut tersenyum miring. Tiba-tiba saja hasratnya seperti terpancing ingin melakukan lebih, terlebih melihat Quen bdalam posisi seperti itu. matanya memandang ke bawah pandangannya terpaku pada sepasang bukit kembar adiknya.


Al memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa seperti hampir pecah. Ia melepaskan kaitan sabuk pengaman yang sama sekali tidak sulit lalu buru-buru menjauh dari Quen dan berkata, "Ada gak sih pakaian yang belahan dadanya ga rendah gitu?"


"Ada, tapi tadi kebetulan aja pengen pakai yang ini, gak kalah sexy sama mbak Iren, kan aku?" ucap Quen sambil tersenyum.


Al kembali memandang Queen dengan matanya yang tajam. Ingin sekali dia ******* bibir dan meremas payudaranya. tapi, dia sadar. itu adalah adiknya.


"Ya sudah ayo keluar!" serunya.


🍁🍁🍁🍁


Nayla melihat Jevin yang masih pulas tertidur di sebelahnya. Ia bangun, memungut pakaiannya yang berserakan di atas lantai dan membawanya ke dalam kamar mandi. di sana, ia berenam di bethup dengan air panas.


Ia lupa sudah berapa kali dia melakukan hal ini dengan Jevin. Yang dia ingat, hanya semenjak pulang dari Jepang Al sudah tak pernah lagi menyentuh dirinya, bahkan, tidur saja dia lebih memilih di sofa. dan tidak jarang pula, ia tidur di kamar tamu.


Usai mandi dan berpakaian rapi Nayla punkeluar, mendapati Jevin sudah terjaga. wanita itu pun duduk di tepi ranjang dan melempar senyum pada pria yang baru saja menggaulinya layaknya sepasang suami istri.


"Sudah mandi, ya?" tanya Jevin seraya membuka kedua tangannya, memberi isyarat agar Nayla masuk ke dalam pelukannya.


Nayla pumemaiki ranjang, dan memluk pria itu. kepalanya menempel di dada bidang Jevin sambil mengelus-elusnya.


"Terimakasih atas segalanya, ya Jev."


"Apa, Nay? Aku tidak merasa memberi apapun padamu."

__ADS_1


"Kau selalu memberiku kebahagiaan batin yang tidak pernah kudapatkan dari mas Al, Jev."


Pria itu mengelus rambut Nayla dan mengangkat dagunya sehingga wanit itu mendongak ke arahnya dan Jevin pun mendekatkan wajahnya, kembali ******* bibir itu sambil tangannya membelai lembut area dadanya.


"Jev... " hanya itu yang keluar dai bibir Nayla.


"hemb?" jawab Jevin tanpa menghentikan aktivitas nya.


Nayla mendorong pelan tubuh pria itu dari pelukannya.


"Kenapa?" tanya Jevin sambil menatap Nayla. sepertinya pria itu kembali bernafsu.


"ini sudah jam satu. Kita balik aja, yuk!" ajak Nayla.


"Aku sudah ambil cuti sehari, kenapa harus buru-buru. sebenarnya kamu anggap aku apa, sih? kau sayang gak sama aku?"


"Ya, aku sayang sama kamu, jika tidak, apa kau pikir aku mau tidur bersamamu berkali-kali?"


"Tapi masih ada Al di hatimu. aku cuma yang kedua saja," ucap Jevin.


"Jika aku minta cerai sama mas Al, dan dia tahu aku hidup bersamu, apa ya g dia pikirkan tentang dirimu? apakah kamu masih bisa nyaman bertemu dengan atasanmu, sementara istrinya kau ambil? ayolah, Jev. kamu berfikir lah sedikit ke depan gimana.


"Itu cuma alasan kamu saja, kan? kamu takut hidup miskin bersama seorang karyawan sepertiku setelah hidup mewah bersama CEO ku?"


"Apa kau memandangku serendah itu, Jev? aku bersama mas Al itu sebenarnya tidak bahagia. aku tidak butuh uang dan harta seperti yang ia berikan, jika saja aku bisa memilih aku lebih bahagia secara batin. mas Al tidak peduli denganku, dia tak pernah mesra, hubungan rumah tanggaku tidak harmonis, jika rumah tanggaku tidak bermasalah apa mungkin aku akan menghianatinya? aku cuma butuh kasih sayang Jev. terlebih semenjak kembali dari Jepang dia sama sekali tidak memberiku nafkah batin. aku juga menahan saja hidup dengannya."


Nayla pun mulai terisak sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


Jevin pun bingung dan panik, ia memeluk dan mengelus punggung Nayla.


"Maafin aku ya, Nay. aku gak bermaksud begitu, aku cuma terbawa emosi, aku sayang sama kamu, Nay. aku ingin bersamamu selamanya dan tak ingin hanya jadi kekasih gelap mu. aku ingin jadi suami sah mu dan aku akan menerima kau apa adanya, Bilqis juga akan aku anggap seperti putri kandungku sendiri."


"Kamu ngertiin aku dulu, ya? kau tahu, kan kenapa aku tak lagi datang ke kantor? Aku merasa mas Al sudah berbeda, dia tak lagi seperti dulu."


"Memang apa penyebab awalnya? kenapa tiba-tiba dia tak lagi mau menyentuhmu setelah kembali dari Jepang."


"Panjang ceritanya, Jev. Saat itu mas Al baru telfon ke kakek, katanya masih lama di Jepang. Dan tiba-tiba saja saat malam hari dia pulang dan melihat banyak tanda merah di dada dan leherku, katanya dia mendadak pulang karena Quen hilang aku sakit, semua ini gara-gara, Queen, Jev. Dia yang menghancurkan hubungan rumah tangga ku dan Al," ucap Nayla, kembali terisak.


"Queen, ya penyebabnya? Ya sudah aku akan bantu kamu agar dia tidak begitu mengisruh hubungan rumah tanggamu, selama kau bahagia, aku akan lakukan apapun demi kamu," ucap Jevin dengan serius.


"Dan, selama ini aku merasa mas Al sepertinya lebih memprioritaskan dia ketimbang aku," ucap Nayla, mengompori Jevin.


"Aku janji sama kamu, mulai saat ini akan membuat kaulah yang Al perioritsskan, bukan lagi adiknya itu. Harusnya dia tahu, pria kalau sudah menikah itu ya istrinya yang dibahagiakan bukan adiknya. lagipula, di kantor, mereka itu... " Jevin tidak jadi meneruskan kalimatnya, ia sadar, jika Nayla tahu, hanya akan membuatnya kian sedih.


"Ya sudah, aku mandi dulu, ya? Setelah ini kita makan dan kuantar kamu pulang," ucap Jevin bergegas ke kamar mandi.


Setelah melihat Jevin masuk kamar mandi, Nayla tersenyum sambil mengepalkan tangannya dan bergumam lirih, "YESS!"


Baru kali ini dia merasa lega dan bahagia, sebelumnya tidak, bahkan ia tak menyangka akan ada laki-laki yang benar-benar jatuh cinta sejatuh-jatuhnya kepada dirinya sampai rela melakukan apapun, dan satu laki-laki lagi yang tetap mempertahankan rumah tangganya sekalipun dia ketahuan selingkuh


tak lama kemudian, Nayla mendengar suara pintu kamar mandi dibuka, Nayla segera memasang ekspresi wajah murung dan berlagak sedih, agar Al tidak curiga.


"Ayo, kita siap-siap pergi, kamu mau makan apa?" tawar Jevin.


"Terserah, deh. Eh, tapi mending kita makan di hotel aja deh, Jev. nggak usah kemana-mana habis itu langsung antar aku pulang ya?" ucap Nayla deenhan manja.


"Iya, Sayang." Jevin memberi pelukan ringan dan mengecup kening Nayla, setelah itu, mereka pun bergegas menuju ke restoran yang ada di hotel tempat mereka chek in.


Keduanya makan sambil asik bersenda gurau tak sadar kalau ada seseorang yang mengawasi mereka dari jauh, bahkan, video dan foto-foto mereka.

__ADS_1


Usai makan siang, Jevin segera mengantarkan Nayla pulang dan kembali ke rumahnya, ia merasa lelah setelah bercinta dalam waktu yang cukup lama dengan Nayla.


Setibanya di rumah Nayla merasa lega karena anak dan kakek mertuanya belum kembali, ia pun segera naik ke lantai atas menuju kamar, kamarnya sudah rapi, ia pun memakai pakaian santai dan menuju ke halaman belakang untuk bersantai sambil membaca majalah untuk berjaga-jaga, jika sewaktu-waktu mereka atau Al yang datang lebih dulu, tidak meninggalkan pertanyaan uang membuat Al curiga.


__ADS_2