Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Extra part


__ADS_3

"Fatih, nama kamu Ahmad Alfatih,kan?" tanya Vano saat di meja makan.



"Benar, Pa."



"Mulai sekarang, kami akan memanggilmu dengan panggilan Al, kau bersedia?"



"Iya, Pa Al bersedia."



"Ok anak baik, papa kerja dulu, sarapan yang banyak biar cepat besar, ya!" Vano bangkit sambil mengusap lembut kepala Al.



"Hati-hati, Papa!" Seru Al sedikit berteriak.



Vano menoleh sambil tersenyum dan melambaikan tangan kepada putra angkatnya.



"Mama, kanapa papa tetap kerja di hari libur?"



"Papamu cuma ada sedikit urusan saja, nanti kalau selesai kita berkumpul bersama di rumah, ok!"



"Ok, Mama. Al mau ke kamar dulu, ya." Anak itu pun berhambur menuju kamarnya



"Al, kamu siap-siap ganti baju dan ikut mama jemput adik Quen di rumah oma, ya sayang," Teriak Clara dari dapur, membereskan sisa sarapan.



"Iya, Ma!" Jawab Al dari kamarnya.



Sepuluh menit kemidian Al sudah siap dengan pakaian rapi.



"Kita berangkat sekarang, Ma?"



"Baik. Mama ambil tas dulu, ya."



Clara bergegas keluar setelah taxi online yang ia pesan sudah berada di depan rumah.



Sudah satu bulan Al menjadi anak angkat Clara dan vano. Al sangat berbahagia dan merasa beruntung tidak hanya memiliki orang tua angkat yang tulus menyanginya. TapiĀ  adik perempuan lucu serta oma, dan dua kakek yang juga menyanginya.



"Mama, maafkan Al kalau dulu sangat memebencimu." Dengan wajah menunduk Al berucap saat ia dan Clara tengah merendam kaki di kolam ikan kecil-kecil samping runah Andrean.



"Kau membenciku? Kenapa?" tanya Clara penuh rasa sabar.



"Karena, tante Dela bilang kau wanita jahat. Merebut papa Vano darinya, ternyata dia yang jahat." jawabnya polos.



"Lalu, kenapa kau baru mengatakan setelah sebulan?"



"Karena aku mengira kau sama dengan dia, mengadopsi aku hanya untuk menjadi pengasuh untuk adik Quen, dan bantu beres-beres rumah. Ternyata tidak... Maafkan aku, Mama." Al pun menangis.



"Sini mama peluk. Sudah, Al jangan nagis lagi, ya. Minggu depan kita ke water park, Kau mau?"



"Baik, apakah papa juga iku, Ma?" tanya Al dengan wajah sumringah dan mengusap air matanya.



"Tentu saja iya. Kita ajak juga adik Quen." Clara tersenyum manis.



"iya Mama iya... Aku Al mau. Horeee aku akan ajari adik Quen berenang." Al pun keluar dari kplam berhambur masuk ke dalam rumah.



"Hati-hati, Al. Kaki mu basah awas terpeleset," teriak Clara.



"Kakek, Andreas ada di sini juga?" tanya Al dengan suara lugu khas anak-anak.



"Iya, kau sejak kapan di sini?" Andreas langsung berjongkok dan menggendong anak kecil di depannya itu.



"Sudah dari tadi, Kek."



"Mana papa dan mamamu?"



"Papa, dia tadi pagi kerja, Kek. Mama itu dia." Al menunjuk Clara yang baru saja masuk dari pintu samping.


__ADS_1


"Ayah, baru datang ya?"



"Iya, ini aku mau ajak Andrean dan Vano memancing sebenarnya, tapi dia tidak ikut, ya?"



"Kakek, ajak Al saja kalau Papa tidak ada," sahut Al Sambil tersenyum dalam gendongan Andreas.



"Kau mau itu kami memancing?" Tanya Andreas dengan wajah senang.



"Tentu saja, Kek."



Tak lama kemudian Andrean muncul bersama Vivian yang tengah menggendong Quenza.



Dengan menenteng tiga alat pancing, Andrean mengajak berangkat sang kakak, "Ayo kak, biar pulang tidak terlu larut!"



"Ayo kita juga sudah siap," Jawan Andras.



"Al, juga ikut, ya?" tanya Andrean senang.



"Iya, kek."



"Kita bertiga lomba yuk, siapa yang paling dapag banyak atau besar dia yang menang, kamu setuju, Al?" tukas Andrean lagi.



"Tentu saja!"



Clara dan Vivian hanya melihat mereka bertiga pergi, berdua mereka merawat Quenza di rumah.



"Coba Ma, biar aku gendong, Quen. Aku ini mamanya, kalau dipikir-pikir kok jarang rawat dia, ya."



"Sudahlah, dia baik-baik saja sama mama, lagian selama ini mama cuma rawat satu anak kamu saja, biarkan Quen sama mama saja, kamu fokus aja sama Vano tidak inginkah kalian liburan berdua saja?"



"Tapi, Ma.... "



"Kami bertiga sanggup rawat Al dan Quen, kau lihat, Papa dan Ayahmu juga sangat menyayanginya, bukan?"




"Tidak masalah, habis itu kalian harus berlibur berdua saja, kami sudah siapkan semuanya."



"Jadi, Mama.... " Clara bengong lalu tertawa.



"Cuma dua tiket ke Bali dua minggu." Vivian tersenyum pada putrinya.



"Hony moon lagi deh aku sama Vano, itung-itung lepasin penat setelah ujian smester."



******



Clara berdiri di depan jendela kamar hotel melihat sunset di pulau dewata. Sengaja ia memesan kamar yang menghadap laut untuk sekedar menikmati indahnya mentari yang terbit di pagi hari, dan tenggelam di kala senja.



Sepasang tangan kekar memeluk pinggangnya erat sambil wajahnya di benamkan di lehernya dengan manja dari belakang.



Clara membalikan tubuhnya, memandang wajah tampan Vano lekat-lekat lalu tersimpul senyuman di bibir merahnya.



"Sejak kita memiliki dua orang anak kita jarang ada waktu luang, jika malam kau sudah lelah tertidur," ucap Vano.



"Kita nikmati malam ini dan selanjutnya selama di sini, Ok." Clara memegang kedua pipi Vano dan menenpelkan dahinya dengan dahi Vano.



"Apakah kamu lelah?" bisik Vano pelan tapi sangat sensual dan terdengar sexy.



Clara mengelengkan kepalanya dan memberikan senyuman menggoda.



"Ayo!"



"Kemana?"



"Kita beri satu lagi adik pada Al."

__ADS_1



Belum sempat Clara menjawab Vano sudah menggendong tubuh ramping Clara ke atas kasur.



"Kenapa kau tegang begini, Ra?" Vano menyipitkan matanya memandang tiap inci wajah Clara di bawahnya.



"Tidak apa-apa, aku agak takut aja, dan sedikit Nervous." Clara memalingkan wajahnya dari pandangan Vano.



"Memang selama enam bulan ini kita baru kali ini melakukannya, tapi jangan takut gitu, donk!" Vano memegang dagu Clara dengan tangan kanannya mengarahkan ke wajahnya.



"Aku kan habis lahiran, Van. Pelan, ya."



"I'll do slowly."



*


*


*


*



Clara terbangun dalam keadaan di peluk Vano, pelukan itu terlalu erat sampai ia merasa sesak. Perlahan diPindahkannya tangan Vano. Dipandanginya setiap inci wajah rupawan itu.


Clara tersenyum sendiri mengingat kejadian semalam setelah sekian lama tidak melakukannya.



Dikecupnya bibir itu dengan lembut lalu Clara bangun, tangannya meraba-raba kasur mencari sesuatu, tapi, yang ia cari tertindih tubuh suaminya, takut terbangun jika mengambilnya ia pun akhirnya meraih kaus Vano dan mengenakannya.



Clara berdiri di depan cermin ia tersenyum sendiri. Bagaimana tidak, kaus ini sangat pas dan membentuk tubuh jika Vano yang memakai, tapi saat ia kenakan sangat kedodoran.



Setelah cukup lama berputar-putar di depan cermin dia pergi ke toilet untuk mencuci muka dan menggosok gigi.



Mata Vano masih terpejam, tangannya meraba-raba kasur, karena tidak merasakan adanya seseorang di sampingnya ia membuka matanya, seluruh pandangannya di edarkan ke penjuru kamar tapi Clara tidak ada.



Ia pun duduk tak lama kemudian muncul Clara dari dalam toilet dengan mengenakan kausnya di padu dengan hot pant seatatas paha, rambutnya diikat asal memebentuk gelungan dengan wajah segar yang semakin terlihat mempesona dan sexy bagi Vano.



Tidak tahan dengan pemandangan di depannya, ia pun bangkit memeluk erat pingging istrinya dengan erat.



"Selamat pagi sayang," ucap Clara sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk.



"Pagi juga cantikku," jawab Vano dengan suara serak khas pria bangun tidur.



"Cepat cuci muka gih, ayo kita sarapan dan keliling pulau dewata!" seru Clara.



"Masih pengen di sini dulu, deh."



"Kamu capek?"



"Tidak, masih pengen mengulang yang tadi malam."



Clara melepaskan pelukan Vano dengan cepat ia memutar badan dan menjauh beberapa langkah dari Vano. Dengan tatapan bingung ia berkata, "Memang semalam kurang?"



Vano hanya cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Iya."



"Tidak ah, aku mau jalan-jalan dulu pokokny!" seru Clara kekeh pada pendiriannya.



"Ayo lah sayang, sebentar saja baru kita jalan-jalan." Vano merayu dan memeluk Clara.



"Van.... " Clara tidak melanjutkan kalimatnya, dengan cepat melepaskan kedua tangan Vano di pingganngya dan berlari ke kamar mandi sambil menutup mulut.



Vano mengejar Clara sambil menggedor-gedor pintu, ia sangat panik mendengar Clara muntah-muntah di dalam.



"Ra, Clara kau kenapa? Buka pintunya."






HAPPY ENDING.


Kasih saran dong, mau Al dulu apa Quen dulu yang mau diceritakan untuk novel selanjutnya?

__ADS_1




__ADS_2