
Saat keduanya sudah menghabiskan makannya mereka masih mengobrol di sana. Cukup lama. Rupanya Quen merasa nyaman juga dengan Alex. Dia bahkan sampai lupa waktu. Padahal neneknya tadi berpesan agar segera pulang.
"Kau sudah punya pacar, Quen?" Akhirnya pertanyyan itu keluar dari bibir Alex.
Dasar bodoh, sejak putus denganmu aku tidak pacaran lagi, Alex.
"Kenapa? Ini sudah jam dua tuh. Ga terasa kita mengabiskan waktu terlalu lama," ucap Quen menutupi groginya.
"Kau mau ku antar pulang sekarang?" tanya Alex nampak kecewa.
"Bahkan aku lupa kalau Nenek tadi berpesan kalau aku harus segera pulang hari ini, Lex," Jawab Quen jujur.
Alex memperhatikan ekspresi wajah Quen. Benar dia tidak seperti tengah berbohong. Apa benar Quen diam-diam ada rasa dengannya dan ia merasa nyaman saat bersama dirinya. Apakah nanti usai ujian smester dia bisa menjadi milikku lgai? Batin Alex.
"Ya sudah, ayo ku antar."
Lagi-lagi Quen terbius suara sexy Alex membuat dia ingin selalu berlama-lama dengan pria ini.
"Lain kali kita bisa pergi lagi, ok."
Alex kaget dengan perkataan Quen yang baru saja di dengarnya. Apa? Lain kali kita bisa pergi lagi? Sepertinya kita masih satu rasa.
"Iya tidak apa-apa, ayo!" Seru Alex
"Sebentar, aku belum membayar ini," ucap Quen lalu memanggil pelayan dan mengeluarkan dompetnya.
"Mas, semua ini berapa?"
"Gratis buat couple yang datang pertama kali di hari ini, mbak," jawab pelayan itu.
"Hah, tapi kamk bukan...."
Dengan cepat Alex menarik pinggang Quen merapatkan tubuhnya. "Terimakasih kalah begitu, semoga resto ini semakin sukses, ya?" ucap Alex lalu berjalan keluar dengan tangan masih memeluk pinggang Quen.
"Ih, Alex kok gitu sih, kamu? Kita dikira pacaran, lo." Protes Quen setiba di mobil
"Kan cuma dikira, Quen. Apa memalukan sekali ya jadi pacar aku?" tanya Alex balik bertanya.
"Bukan gitu maksut aku, Lex."
"Ya sudah, ayo aku antar kamu, kasian jika nenekmu menunggu," ucap Alex dengan suara yang sabar dan bibir yang memamerkan senyuman khasnya yang hangat.
Setiba di depan rumah Quen, Alex menghentikan mobilnya, Quen bersiap turun membuka sabuk pengamannya. Baru saja mau membuka pintu, Alex memanggilnya.
"Quen!" Pria itu menatap dengan tatapan yang sulit dideskripsikan. Quen sangat mengenal bahasa tubuh itu, tapi, tidak mungkin juga dia mencium mantan, kan setelah mengantarkannya pulang.
"Iya, Lex?" Gadis itu menoleh dengan anggun. Dan benar saja, Alex mendekatkan wajahnya ke arah Quen.
Apa-apaan kau Lex? Dia akan marah jika kau nekat. Umpat Alex dalam hati.
Sementara Quen semakin yakin dengan asimsinya. Tanpa ragu-ragu Quen mencium pipi Alex dan buru-buru keluar lalu mengatakan terimakasih dan berlari ke dalam.
Alex tertawa seorang diri menyentuh bekas ciuman Quen dengan ujung jari jarinya lalu mengecup jarinya sendiri. "Gadi ini... Selalu saja gemesin."
Quen terus berlaru sampai ke dalam rumah, dia malu dengan apa yang baru saja dilakukannya.
"Duh, kalau q dicap cewek bitchi ma Alex, gimana dong? Uuuhhhh maen nyosor aja jadi cewek," umpat Quen seorang diri.
"Kenapa lari-lari, Quen?" tanya Clara yang melihat ekspresi aneh putrinya.
"Tidak ada apa-apa, di mana kakak, Ma?"
"Ada di taman ngobrol sama kak Lyli." Clara menunjuk ke halaman belakang di mana ada kursi panjang berwarna putih dengan sandaran yang berukir duduk dua orang terlihat kepalanha saja. Karena posisi kursi membelakangi pintu atau rumah bagiang belakang.
"Gitu, donk. Dilihat kan enak. Kakak jadi orang kaya kulkas dingin mulu," ucap Quen lalu berjalan ke arah dapur.
Di sana dia membuka kulkas dan menemukan buah kiwi. Tanpa meletakan tasnya, ia mengambil satu buah kiwi berukuran besar mengupas lalu memotongnya dan membawanya ke kamar.
__ADS_1
"Sudah makan kamu, Quen?"
"Sudah Ma. Tadi sama teman di ajak mampir makan dulu, Ma."
"Kamu tiap hari selalu makan di luar, buat kesehatan ga baik, Quen. Kau sudah dewasa dan kuliah di fakultas kedokteran harusnya tahu itu." kembali Clara mulai mengomel habis-habisan.
"Ma, yang ajak aku makan juga anak bagian kesehatan, kok. Dia ambil jurusan olahraga. Sekali-kali kan gak papa," bantah Quen.
"Ok, siapa nama temanmu? Dan apakah yang mentraktirmu hanya satu orang itu itu saja setiap hari? Tidak, kan? Mungkin mereka makan di luar cuma satu kali dalam seminggu denganmu saja, tapi, kamu?"
"Ok lah, habis ini Quen gak makan di luar lagi, kalau gitu." Quen berjalan sambil menghentakan kakinya meninggalkan dapur. Tak lupa bibirnya pun manyun lima meter.
🌸 🌸 🌸
Pagi ini suasana rumah Keluarga Andrean sudah sangat sibuk mempersiapkan kedatangan orang tua Lyli. Memang belum lamaran, sebatas memberi jawaban. Tapi, setidaknya akan ada jamuan dan makan siang, bukan?
Kebetulan hari ini Quen juga tidak ada kuliah, sekalian semua bisa menemui tamu penting bagi mereka, Vano pun juga izin dari kantor.
"Menunya apa aja, Ma? Sudah cukup belum?" tanya Quen begitu melihat banyak makanan di meja makan.
"Sepertinya sudah, Quen. Ayo! Diberesia semua. Dan buru-buru mandi jam sepuluh kan, Lyli ibu kamu kemari?" tanya Clara.
Lyli hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman tipis.
Sekitar pukul sepulug lewat tigapuluh menit Ibu dan Ayah Lyli sudah sampai di kediaman rumah Clara.
Terlihat tatapan takjub di mata Rika dan suaminya melihat betapa besar dan mewahnya rumah itu. Di sama juga ada Andreas, Andrean Vivian Vano Clara dan Quen.
Setelah perkenalan mata Rika terfokus pada Quen yang mengenakan mini dress putih selutur dengan bahu terbuka serta rambut pirangnya yang dibiarkan tergerai hanya menyenakan penjepit rambut saja. Membuat dia nampak cantik dan manis.
"Ini adiknya Nak Al, ya?" tanya Rika.
"Iya, Bu Rika, itu anak saya yang nomor dua," jawab Clara dengan bangga.
"Cantik, ya anaknya."
"Lalu bagai mana jawaban lamaran kami kemarin, Bu Rika? Diterima atau gimana?" ucap Vano langsung ke inti.
"Begini, Pak Vano, kami sebagai orang tua pasti ingin yang terbaik untuk satu-satunya putri kami. Dan baik bagi kita belum tentu baik bagi Tuhan, kan?" jawab Rika ragu-ragu.
"Maksutnya gimana ya Bu?" tanya Clara penasaran.
"Saya bingung mau menyampaikannya bagai mana, Bu. Takut salah, tapi ini sangat penting untuk masa depan Al dan Lyli."
"Buk, jika perlu kau bicaralah secara pribadi dengan Bu Clara saja. Bagaimana?" Usul pak Beni, ayah Lyli.
"Bagaimana, Bu, Clara?" tanya Pak Beni sekali lagi.
Clara melihat ke arah Vano, Vivian dan kedua papanya untuk meminta persetujuan. Karena semuanya sudah memberi jawaban dengan sebuah anggukan lembut, Clara pun meng iyakan.
"Mari, Bu Rika. Kita duduk di taman belakang saja di sana sangat sejuk!" Ajak Clara.
Di ruang tamu, semua orang nampak ceria dan bahagia menggodai pasangan baru Al dan Lyli. Begitupun Quen. Tak kalah jadi bahan bulan bulanan kakaknya gara-gara ketahuan om Reza makan dengan cowok di sana.
Sementara di taman belakang, suasana hati kedua wanita yang telah menyandang sebagai ibu muda itu mulai kalut dengan kenyataan.
Di mulai dari Rika yang membuka obrolan dengan pertanyaan.
"Bu Clara, maaf sebelumnya jika saya kurang sopan. Tapi, sekali lagi saya tegaskan ini demi masa depan Al dan Lyli mumpung semua belum terlanjue," ucap Rika berhati-hati.
"Iya, mau tanya apa, Bu?" tanya Clara santai sambil meletakan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Sementara matanya memandang ke arah Rika dengan penuh perhatian.
"Begini, saya mau tanya, tolong jangan marah, ingat ini demi masa depan anak-anak kita. Dan paling penting andq harus menjawab dengan jujur," ucap Rika ragu-ragu.
"Baik, Bu. Insyaallah saya tidak akan marah dan menjawabnya dengan jujur."
"Apakah Al itu anak kandung Bu Clara dan pak Vano?" tanya Rika dengan terbata-bata.
__ADS_1
Deg! Jantung Clara serasa berhenti berdetak, ia tidak menyanka rahasia yang dia simpan rapat-rapat selama uni ada seorang yang mengetahui.
mungkin ini sebagian dari permainan dunai, sekecil apapun rahasia seseorang baik buruknya akan ketahuan pula sekalipun dia sudah menguburnya dalam-dalam.
"Atas dasar apa anda bertanya tentang itu, Bu Rika? Apakah masalah jika dia bukan anak kandung saya? Seluruh keluarka besar kami menganggap Al adalah putra keluarga Andrean, Bu." ucap Clara. Wajahnya yang ceria kini berubah seperti langit yang tiba-tiba saja gelap karena mendung tinggal menunggu hujan turun.
"Iya. Saya tahu, Bu. Bukan soal itu yang mau saya bahas bukan soal itu," ucap Rika berusaha menenagkan hati Clara.
"Begini, Bu. Dua puluh enam tahun silam saya meletakan bayi laki-laki di depan rumah salah satu warga, dan dua hari kemudian saya dengar bayi itu di bawa ke panti asuhan, saya rasa Al adalah anak kandung saya, kakaknya Lyli. Jadi mereka tidak bisa menikah karna sedarah. Memang bukan se ibu," ucap Rika mulai bercerita.
🌸 🌸 🌸 🌸
Kala itu Rika menjalin hubungan dengan seorang pengusaha, menang dia tau dan sadar kalau itu salahm demi ingin hidup mewah seperti teman-teman sekolahnya dia rela menjadi wanita simpanan meski dia masih duduk di bangku SMA.
"Mas Bram, yakin cinta sama Rika?" ucap Rika manja pada sosok tajir yang di kenalnya di sebuah club malam tempo hari.
"Iyalah, kau mau apa, hem? Ini Da duit buat kamu ambil! Ambil semuanya Rika belanjakan habiskan jika kurang minta lagi pada Mas, ok?" Pria itu menghujankan beberapa lembar uang seratus ribuan, kira-kira nominalnya sepuluh jutaan.
Rika tersenyum nakal dan terus menggoda pria dalam pelukannya itu. Tak peduli meskipun dia sudah beristrin dia hanya peduli akan uang saja untuk bisa hidup mewah dan membantu ibunya yang sudah tua dan janda.
Suatu hari, Rika merasa was was lantaran sudah hampir tiga bulan dia tidak datang bulan.
"Kau kenapa murung gitu, sayang?" apakah kangen sama Mas sudah lima hari kita tidak jumpa? Ayok sini mas obatin kangen, mu." Goda Bram sambil menjawil dagi Rika.
Tidak seperti biasa, Rika hanya diam saja. Tidak merespon apapun. Dia tetap muruh bahkan wajahnya juga nampak pucat.
"Kau kenapa? Uang sepuluh juta kemarin sudah habis, ya? Mau lagi? Berapa? Puasin mas dulu, yuk!" Bram menarik tangan Rika dan mendekapnya dalam pelukan.
"Mas, hampir tiga bulan aku gak dapet," ucap Rika to the point.
"Beli obat pelancar datang bulan, sayang. Pasti kamu stres ni kan dua minggu lagi sudah ujian nasional, kan? Takut nilai jelek? Atau guru Les yang mas kirim tidak baik?"
"Aku takut hamil, Mas. Bagaimana jika Aku hamil?" Mata Rika mulai berkaca-kaca kekat menatap Bram.
"Memang kamy sudah, tes?" tanya pria itu enteng.
Rika hanya mengelengkan kepala sambil menyeja air matanya.
"Kenpa tidak di tes dulu positif atau negatifnya biar kita tahu," ucap Bram sambil mengelus belakang kepala Rika.
"Aku takut, Mas. Bagaimana kalau aku hamil?" ucap Rika terisak.
"Mas pasti akan tanggung jawab, jangan takut." Bram memeluk Rika agar dia merasa tenang.
Setelah Rika tenang Bram mengajaknua ke mall untuk belanja dan makan malam, tak lupa mereka mapir ke sebuah apotik untuk membeli alat tes kehamilan.
Sekitar pukul sembilan malam Rika tiba di rumahnya dan ternyata ibunya belum tidur karena masih menunggunya.
"Ibu, belum tidur?" tanya Rika begitu melihat ibunya duduk di ruang tamu.
"Kau dari mana saja jam segini baru pulaang, Rik?"
"Hari ini restoran rame, Bu. Rika lembur. Dan ini Rika belikan oleh-oleh buat Ibu. Kan Sabtu juga hari gajian," ucap Rika sambil tersenyum memberikan satu bungkus udang asam manis kepada ibunya.
"Bukannya semunggu lagi kau ujian kelulusan? Berhentilah melakukan kerja sampingan. Di restoran itu sangat capek, Nak. Buar sekolah dan biasa hidup menjadi tanggungan ibu. Hasil memulung pasti cukup untuk menguliahkan mu nanti."
"Sudahlah, Bu. Ibu istirahat saja di rumah. Gapapa buat kebutuhan sehari-hari bisa dibeli dengan gaji Rika." Rika mengeluarkan belanjaan yang isinya sembako yang di dapatnya dari Mall tadi bersama bram.
"Apa saja itu, Rik? Kok banyak sekali?" tanya ibu Rika penasaran.
"Ini ada beras lima kilo, bumbu-bumbu daging, ikan, telur sayur dan buah buahan. Cukup untuk menu makan kita seminggu, Bu." Dengan cekatan gadis itu menata bahan-bahan makanan ke dalam kulkas dan freezer.
Ketika ia melihat ibunya berjalan ke keluar untuk makan, dengan cepat Rika mengambil tes pek dan menyembunyikannya di dalam saku seragam putih abu-abunya. Agar tidak ketahuan.
"Bu, Rika ngantuk. Besok pagi harus kerja. Dapur juga sudah rapi, Rika tidur dulu, ya?" ucap Rika. Dan langsung pergi ke kamarnya.
Sebenarnya dia gelisah tapi, karena kelelahan dan Bram juga berjanji akan menikahinya jika benar dia hamil, maka malam itu Rika bisa istirahat dengan tenang. Terlebih seminggu lagi ujian nasional tidak akan terlihat juga jika dia hamil. Untuk wanita berbadan mungil sepertinya, kadang usia kandungan lima bulan pun perutnya masih tidak terlihat, hanya saja badannya terlihat sedikit berisi.
__ADS_1