
“Mr.Akhira!” sapa pak
Darto dengan suka cita setelah sekian lama tidak bertatap mula dengan big
bossnya, akhirnya dia bisa bertemu secara langsung setelah beberapa menit yang lalu dia menghubunginya secara langsung.
“Selamat malam, Pak Darto,” jawab pria yang mengenakan setelan jas berwarna hitam itu dengan nada dingin, datar namun tetap sopan. Hal itulah yang membuat ia sangat dipatuhi dan disegani oleh anak buahnya.
“Apa yang membawa anda ke mari, Mr? Anda sendirian, saja?” tanya
pria itu setelah duduk di depan tamunya.
“Ada yang perlu dibahas. Saya ke sini bersama istri saya.”
“Di mana dia? Apakah dia berada di dalam mobil?” tanya pak
Darto sambil melihat sekitar. Karena dia merasa tidak melihat siapapun selain atasannya. Mr. Akhira.
“Dia numpang kamar mandi. Diantar oleh salah satu asisten
rumah tangga anda.”
“Oh. Suatu kehormatan bagi saya, Tuan. Anda datang kemari
secara langsung bersama nyonya Akhira pula,” ucap pria tua itu sambil
menuangkan wine pada dua gelas yang sudah disiapkan di sana sebelum ia kembali tadi. Lalu, menyodorkan satu gelas untuk pria yang berada di hadapannya.
“Maaf. Saya sudah lama berhenti minum. Istri saya melarang,”
jawab pria itu dengan tegas. Seraya menanmpik dengan sopan, membuat pria tua KW-nya kakek Sugiono itu dibikin geleng-geleng olehnya dan membatin, ‘Pasti istrinya juga orang besar. Hebat sekali wanita itu bisa merubah dan membuat orang sebesar Mr.Akhira bisa benar-benar patuh, tanpa merasa direndahkan sama sekali.’
“Terimakasih, ya Kak,” ucap seorang wanita dari dalam.
Sepertinya dia lah istri dari big bossnya yang telah menumpang ke kamar mandi diantar oleh salah satu asisten rumah tangganya yang masih berusia sangat muda.
Mungkin 19-20 tahunan. Makanya, wanita itu memanggil dengan sebutan kakak. Bukan bibi.
“Uhuk!” Pak Darto tersedak wine yang diminumnya sendiri kala
melihat wanita yang baru saja muncul di hadapannya dan duduk di sebelah tamu besarnya itu. ia benar-benar kaget bukan kepalang.
“Dokter, Queen?” sapa pria itu.
“Dokter Darto, ya? tak di sangka, anda ternyata rekan kerja
suami saya. Bergerak di bidang apa, Dok?” sapa Queen dengan ramah. Karena dia benar-benar tidak tahu menahu ada urusan apa antara dia dengan pria yang dia
kenal saat berada di rumah sakit jiwa Bandung beberapa bulan lalu.
“Kalian saling kenal? Bagus. Ya, dia adalah istri saya. Dan
satu-satunya.” Al menatap sinis pada pria di hadapannya dan merangkul Pundak Queen, kemudian mencium kilat pipinya. Membuat wajah wanita itu memerah karena malu.
“I… iya, Mr. saya kenal saat berada di rumah sakit jiwa. Dia
adalah salah satu dokter yang dikirim dari rumah sakit umum dari Jakarta yang sangat berbakat. Berkat kecerdasannya membaca gestur dan Bahasa tubuh, menebak jalan
pikiran seseorang, beliau disarankan untuk menempuh Pendidikan psikolog,” ucap pria tua itu.
“Dokter, anda terlalu berlebihan. Saya, bisa demikian juga
berkat dukungan suami saya yang mendukung saya dari enol,” ucap Queen merendah.
Membuat Al tersenyum simpul sambil menatap dalam wajah wanita itu dari samping.
“Baiklah. Kurasa kau sudah tahu, ya apa yang ingin kubahas.
Ini ada kaitannya dengan peliharaanmu yang baru,” ucap Al to the point. Membuat
pria yang ada di depannya kian gemetaran hebat saja.
“Ba baik, Mr. saya tahu tugas saya. Tidak akan saya lepaskan
dia. Secepatnya akan saya kerjakan tugas mulia ini. Maafkan saya jika selama ini saya tidak tahu apa-apa. Saya juga baru tahu, kalau dokter Queen adalah istri anda. Jika saja saya tahu lebih awal, saya akan perlakukan dia dengan baik.”
“Baik. Karena ini sudah malam. Kami berdua akan pamit dulu.
Ayo, Sayang!” ucap Al sambil beranjak memandang Queen yang masih bengong karena ia benar-benar tidak tahu alur pembicaraan antara suaminya dan dokter Darto.
"Kenapa tidak menginap saja, Mr? Saya siapkan kamar untuk anda dan Nyonya," tawar pria tua itu dengan bersungguh-sungguh.
"Terimakasih, Pak. Masih banyak hal yang harus diurus di rumah. Kami akan segera pergi."
Queen berjalan lebih dulu keluar meninggalkan ruang tamu
yang sangat luas dan megah itu. sementara Al, menepuk Pundak pria yang tingginya kira-kira sepundaknya itu sambil berbisik lirih, “kerjakan dengan baik dan jadikan sepadan dengan yang sudah dia lakukan. Kau juga tahu, apa yang sudah dilakukan dia pada istriku, bukan? Mertuaku, adalah orang yang mengasuhku sejak kecil.”
“Ba baik, Mr. Baik, dia akan membayar segelanya,” jawabnya
dengan terbata-bata. Pria tua itu benar-benar ketakutan sehingga seluruh tubuhnya bergetar hebat. Terlebih mendengar, kalau Clara dan Vano adalah orang yang mengasuh big bossnya. Artinya, kakek dari Akhira pemilik awal geng mafia yang ia ikuti adalah kakek kandung dari dr.Queen. Rasanya dia hampir ngompol di celana saja saat itu.
“Oh, ya. perlu diingat. Istriku itu berhati baik dan lembut
bagaikan sutra. Jangan biarkan dia melihat kekerasan, oke?” imbuh Al lalu
benar-benar pergi. Meninggalkan tempat tersebut dan menyusul istrinya yang kini mungkin sudah masuk ke dalam mobil.
Setelah mobil Al dan Queen pergi meninggalkan halaman
mension megah itu, Pak Darto turut menyusul keluar. Sementara di depan teras, berdiri Bondan dan juga satpam yang ia pekerjakan menjaga rumah tersebut.
“Bos, apakah itu tadi yang Namanya Mr.Akhira?” tanya Bondan
terkagum-kagum. Bukan karena ketampanannya, atau kehebatannya. Melainkan, wanita yang berjalan menuju ke mobilnya pertama tadi.
__ADS_1
“Ya, dia. Kenapa? Apakah kau mengagumi pria semuda itu
adalah bos dari si tua ini?” tanya pak Darto, tampa memandang ke arah Bondan sama sekali.
“Bukan. Tapi, wanita yang bersamanya tadi, bukankah dia
adalah musuhnya Lyli? Bukankah Lyli ingin balas dendam pada wanita bernama Queen
itu?” tanya Bondan berkali-kali.
“Yah, itulah yang aku juga kaget. Lyli, telah menghancurkan keluarga boss besar kita.”
“Lalu, apa rencana anda, Boss?”
“Kita habisi Lyli. Perlahan. Dibandingkan Boss, dia tidak
ada apa-apanya. Lyli hanya kesenangan, dan dalam kontrak itu, tetap aku saja kan yang diuntungkan? Aku juga bisa membuangnya kapan saja jika aku sudah
bosan, bukan? Lagipula, jika dibandingkan boss, Lyli itu tidak ada apa-apanya.
Semua property yang kumiliki ini juga berkat bekerja dengannya selama
bertahun-tahun, dari sejak sebelum kakek Mr, Akhira meninggal dunia.”
“Lalu, apa yang ingin anda lakukan pada Lyli, Boss?” tanya
Bondan.
“Akan kucarikan dia masalah agar aku bisa mencampakkannya. Setelah itu, dia akan sengsara. Jika kesengsaraannya sudah diketahui oleh nyonya Akhira, kita culik
dia, kita bunuh, dan kita jual organ tubuhnya. Ginjal, mata, hati, jantung dan hati sepertinya masih dalam kondisi yang baik.”
“Baiklah, boss. Siap laksanakan,” ucap Bondan. Dia juga
sudah memiliki rencana untuk menjebak Lyli. Dia tahu sekarang, Al adalah Mr.Akhira. tak lama kemudian, Bondan berbisik pada pak tua di sebelah kirinya
yang tingginya tidak lebih dari sebahunya itu.
Cukup lama. Entah apa yang dibicarakan oleh Bondan. Tapi,
bibir pak tua itu menunjukkan senyuman tanda ia puas dan setuju dengan apa yang
dikatakan oleh pengawal pribadinya.
“Bagus. Bagus itu Bondan. Dia saja yang tidak tahu, telah
bermain dengan apa. Dikira ekor tikus. Tidak tahunya, adalah ekor king kobra,” jawab pak Darto puas,
“Ya, Boss. Kita membutuhkan bantuan Karin kali ini. Biarkan Karin yang menuliskan rencana kita ini.”
“Karin?”
“Begini, Boss.” Kembali pria itu berbisik dan pria itu
“Ya sudah. Ini sudah malam. Kau beristirahatlah. Besok kita
mulai lagi semua rencana kita.” Pak Darto pun masuk ke dalam mension besarnya. Ia tak menyangka, kalau yang dijadikan simpanan olehnya ini adalah sisa-sisa dari bpdyguard bossnya yang berada di dalam markas utama. Yang jika dalam
perkantoran, mereka adalah karyawan biasa, tak memiliki jabatan seperti
dirinya. Tapi, sudahlah. Belum jauh, dia akan segera membuangnya’’
***
Selama perjalanan, Al terus memperhatikan Queen yang masih
banyak diam. Ia tahu, pasti sangat sakit kehilangan kedua prang tua secara bersamaan dan dengan cara yang tak pernah diduga sebelumnya. Apalagi diharapkan. Terlintas dalam benaknya saja tidak.
Tujuh tahun silam, nyawa mereka juga nyaris melayang dalam
kecelakaan maut yang Lyli sebabkan karena mengeblongkan rem mobil yang mereka
gunakan. Tapi, dua tahun kemudian keduanya kembali pulih, sehat dan bisa bersama mereka lagi. Tapi, tidak dengan kali ini. Keduanya sama-sama tidak tertolong.
“Jika kau ngantuk, tidurlah, Sayang,” ucap Al memulai pembicaraan. Memecah kesunyian dalam mobil tersebut. Jalan tol pun juga sudah
mulai sepi.
“Aku akan menemanimu menyupir. Jika kau lelah, aku akan
menggantikanmu,” jawab Queen perlahan. Sambil tersebyum, meskipun hatinya kini
mungkin tengah menangis.
“Tidak masalah jika kau tidur, Sayang. Aku sudah terbiasa
begini. Jangan terlalu khawatirkan aku,” jawab Al menghibur dengan senyuman
palsunya. Jelas saja palsu. Meskipun bibir tersenyum. Namun, tidak dengan
hatinya.
“Ini sebentar lagi juga sudah akan sampai, kan? Aku mau
tidur di kamar papa dan mama,” jawab Queen sambil menatap Al dengan wajah yang datar tanpa senyuman.
“Iya. Ya sudah. Tidak apa-apa jika kau tertidur. Aku akan
menggendongmu ke kamar papa dan mama nanti jika kita sudah sampai.”
Queen membalas dengan senyuman lembut saja. Ingin sekali dia menempel meletakkan beban pada dada bidang pria di sampingnya dengan menyandarkan
kepalanya. Tapi, Al tengah mengemudi. Jika sampai terjadi sesuatu juga tidak
lucu.
__ADS_1
“Apa hubunganmu dengan dokter Darto?” tanya Queen tiba-tiba.
Al sudah menebak sebelumnya. Jadi, dia sudah mempersiapkan jawaban yang logis, masuk akal dan kiranya Queen tidak akan menyangkut pautkan antara Lyli dan kematian papa Vno dan mama Clara.
“Dari beliau dulu aku menemukan hipnoterapy yang bisa
mengembalikan kesadaran Alex. makanya, dia menyesal saat cerai sama kamu.”
Queen seketika diam. Dia memang tidak pernah tertarik
membahas hal itu. karena sangat menyakitkan. Tapi, untuk mendapatkan jawaban
yang memuaskan, wanita itu rupanya tidak kehabisan pertanyaan. Padahal, Al sendiri sengaja menjawab demikian
agar tidak memperpanjang soal pertemuannya dengan pria KW-nya kakek Sugiono itu
lagi. Sebab, ia kawatir akan keceplosan, atau bahkan Queen akan tahu sendiri.
Karena untuk menebak sesuatu, dia memang ahlinya.
“Lalu, ada urusan apa sampai malam-malam begini kau
menemuinya? Dan tadi juga sebenarnya kau akan menemuinya sendiri tanpa
seizinku, bukan?” tanya Queen sambil menatap kea rah pria yang ada di
sebelahnya dengan tatapan penuh selidik.
“Karena aku pikir kau lelah. jadi, aku pergi sendiri saja. Tapi,
karena kau tahu, ya sudah. Kau malah mengejarku. Harusnya kau cukup menelfonku saja.”
Queen menatap dengan senyuman tertahan. Baru kali ini ia
melihat suaminya pandai bersandiwara. Mengarang cerita seperti orang bernapas.
“Apakah ada yang aneh? Kenapa kau melihatku begitu?” tanya
Al mulai salah tingkah.
“Apa kau bisa jamin akan menjawab panggilanku jika aku tidak
mengejar? Kau bisa saja mengabaikan dan berkata mode silent, Sayang. Aku tidak dengar.”
Mendengar jawaban itu, Al hanya cengar-cengir sendiri sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Suasana kala itu sangan mencair. Keduanya terus mengobrol membahas sesuatu yang ringan sepanjang perjalanan. Hingga , tanpa
terasa, mereka sudah sampai di rumah tepat bersamaan dengan suara adzan subuh.
artinya, semalaman mereka berdua sama-sama tidak ada yang tidur. Mungkin setelah
subuh keduanya akan balas dendam dan akan tidur sampai nanti lewat tengah hari.
“Kita jadi tidur di kamar papa dan mama tidak ini? Tanya Al
setelah keduanya usai menyelesaikan sholat subuh.
“Iya. Aku kangen mereka.” Mata Queen menatap lekat pada mata
pria yang ada di hadapannya.
Al tersenyum simpul dan memegan kedua pipi istrinya,kemudian
mencium keningnya dan berkata, “Siapa yang kau rindukan? Jika kau rindu papa, tatap wajahku. Tapi, jika mama yang kau rindukan, tataplah ke dalam mataku, di sana kau bisa melihat bayangan wajahmu yang sangat mirip dengan mama, Sayang.”
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Queen langsung memeluk erat
tubuh Al. air mata yang sedari tadi ia tahan untuk tidak jatuh, akhirnya
meleleh juga.
“Kau benar, Al. kau benar. Kita memang sudah ditakdirkan untuk
bersama. Apa yang terjadi di masa lalu bukanlah suatu kebetulan. Tapi, memang sudah Tuhan atur untuk kita saat ini, dan kedepannya nanti.”
“Ya sudah. Kau dari kemarin belum tidur sama sekali. Kita istirahat,
yuk!” ajak Al sambil merangkul Pundak istrinya berjalan bersama menuju kamar
kedua orang tuanya. Tiba di sana. Mata Queen langsung tertuju pada sebuah foto
papanya. Entah apa yang mendorongnya, ia sangat ingin sekali melihatnya. Padahal,
foto yang sama juga ada di ruang tamu.
Cukup lama wanita itu menggenggam foto pada frame warna emas situ dan menatapnya dalam. Kemudian entah apa yang menggerakkan keinginannya untuk membongkar bingkai
tersebut, dan akhirnya ia menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan yang ia duga, itu adalah tulisan tangan mamanya.
‘Van. Di mana janjimu akan membiarkan aku pergi lebih dulu untuk menghadap pada tuhan? Sekarang kau benar-benar ingkar. Lalu, apakah kau bisa tenang di sana? Sementara aku di dunia merasa benar-benar sendiri dan sepi. Queen dan Al sudah memiliki hidupnya sendiri. Mana masa tua yang kau janjikan untuk tetap tinggal bersama? Baik. Mungkin ini takdir yang tak bisa kau dan aku elakkan. Aku sadar, manusia hanya mampu berencana saja, sementara Tuhan lah yang memberi semua keputusannya. Aku mau kau jemput sekarang. Aku lebih baik mati saja jika kau tidak bersamaku. Sekalipun
kau bilang bahwa kau tetap ada dan hidup dalam hatiku. Tapi, kenapa aku masih saja merasa sepi? Kita janji akan hsehidup semati. Kau sudah mati, maka sebentar lagi adalah aku.’
Queen memandang Al setelah membaca sepucuk surat itu. ia
yang mulai tenag, kini kembali menangis dalam pelukan suaminya.
“Kita doakan saja yagterbaik untuk mama dan papa sayang. Memang ini yang mama minta, dan
tuhan telah mengabulkannya. Dia mati bukan karena bunuh diri. jadi, surga tidak haram untuknya. Dari pada dia tetap hidup ada diantara kita tapi batinnya tersiksa?” ucap Al menghibur istrinya.
“Iya, kau benar Al. kau benar,” bisik Queen sambil terisak
dalam pelukan Al.
#Em... Ada yang nyangka kalau Al adalah big bossnya pak Darto?
__ADS_1