
Al mengemudikan
mobilnya dengan santi sambil sesekali melirik kea rah Queen yang membuang
pandangannya kea rah jendela. Keduanya sama-sama diam dan bungkam taka da
sepatah kata pun yang mereka ucapkan. Sampai pada saat mobil melewati jalan di
mana Queen setiap hari melewatinya untuk bekerja, barulah gadis itu bertanya.
Meskipun tanpa mengalihkan pandangannya dari luar jendela.
“Mau ke mana kita?”
“Menemui mertua kita, Sayang.”
‘Hah, mertua kita?’ batin Queen. Sejurus kemudian, ia
menoleh dengan cepat lalu berkata, “Apa maksut kamu?’’
“Masa kurang jelas? Benarkan mertua kita? Papa Vano dan mama
Clara orangtuamu, aku suamimu, dia berati mertuaku. Dan mereka juga adalah
orangtua angkatku, jadi ya mertua kamu juga, lah… walau mertua angkat, hehehe.”
Queen kembali memandang kea rah jendela. Mendengar
penjelasan Al barusan, diam-diam ia tersenyum seorang diri. Ia merasa lucu aja,
dan benar apa yang Al katakana. Orang tua kita mertua kita.
“Apa kau yakin kita kesana dengan pakaian seperti ini?”
“Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?”
“Kamu kemarin pada teman-temanku mengatakan kalau kita sudah
suami istri, ya tidak etis saja jika dengan pakaian dan riasan seperti ini
kesana. Apa yang mereka pikirkan tentang kita? Kecuali, aku tidak kenal dengan
oaring-orang di sana.”
Al diam sesaat. Ia membenarkan apa yang Queen katakan.
Terlebih dia juga bekerja di sana sebagai dokter, jelas saja dari kalangan
perawat, cleaning service juga pasti sangat mengenalnya.
“Kita putar balik ke apartemen dulu apa gimana?”
“Begitu saja lebih baik.”
Al pun memutar balik kendaraannya kembali ke apartemen.
Selama perjalan, ia merasa Queen sedikit lebih tenang. Ia berharap dengan
beginiia bisa membuka hati untuknya dan menerima kalau dial ah yang pantas ia
cintai, bukan pria lain.
Tiba di apartemen Al perhatikan wanita yang baru dinikahinya
itu juga nampak santai, wajahnya juga tak lagi menujukkan kemarahan sedikitpun
padanya, apalagi kebencian. Semua seolah sudah kembali normal walau belum
nampak rasa cinta di mata Queen untuk dirinya.
Al mengetuk pintu kamar Queen perlahan setelah ia sudah
mengganti pakaian resminya dengan celana jeans Panjang dan kaus hitam polos
presbodi.
“Masuk!” sahut Queen dari dalam.
Al membuka pintu kamar tersebut dan melihat Queen duduk di
meja rias sambil membersihkan riasannya, dan masih mengenakan pakaian kebaya
putih tulang yang dipakai untuk ijab qobul dengannya tadi. Peralahan Al
melangkah mendekati istri barunya sambil melihat wajahnya yang terpantul di
cermin.
“Ada apa?” Kalimat Queen terdengar seperti menggantung.
Mungkin ia ingin memanggil Namanya, atau menambah imbuhan Mas, juga Al tidak
tahu. Diletakkannya kedua tangan Al pada pundak Queen. Mereka sama-sama saling
pandang melalui cermin di hadapannya. Sampai pada akhirnya Queen tak mampu
terus memandang dirinya sendiri dan juga pria di belakangnya dan menunduk.
“Sekarang kau sudah resmi menjadi istriku. Aku tidak akan
melakukan lagi hubungan dengan paksaan seperti biasanya. Maafkan aku, ya? Tapi,
aku harap kau tahu, aku melakukan ini juga diluar kendaliku. Aku terlalu
cemburu dan tidak bisa menahan diri karena cintaku yang buta kepadamu, Queen.
Aku berharap, kau bisa menerima aku sebagai suamimu.”
Queen diam tak bisa menjawab. Ia merasa hatinya seperti
seolah tertusuk belati tajam saja saat mendengar kata-kata Al. Memang,
rangkaiannya tak seindah pujangga. Tapi, ada kesunggungguhan dalam tiap kata
yang dirangkainya.
“Aku ganti baju dulu,” jawab Queen dengan suara tenang.
Sambil memandang wajah tampan Al. Ia masih tak habis pikir, bagaimana bisa
sosok yang dulu dia panggil kakak, dan masuk dalam kartu keluarga sebagai
saudara seayah dan seibu, kini malah memisah KK sebagai suamai istri. Ingin
tersenyum saja malu, karena ada Al. Apalagi tertawa?
“Mau ganti baju, ya? Perlu bantuan?” jawab Al sambil
terkekeh.
Queen yang semula hatinya mulai melunak, kini ia kembali
mulai jengkel dengan tingkah Al yang demikian. Ia mengehmbuskan napas dengan
kasar dan berkata dengan nada sedikit tinggi, “Al, aku minta kamu keluar, akum
au ganti baju.”
“Kenapa harus keluar? Malu sama aku? Kita sudah suami istri
sayang, sudah halal mau diapain pun juga
tidak apa-apa, kan. Bukannya kemarin-kemarin aku dah sering lihat bodi polos
__ADS_1
kamu? Hehehe.” Al menjilat bibirnya sendiri sa,bil menatap kea rah Queen.
Queen yang merasa malu mendengar kata-kata Al. ditambah lagi
melihat ia cengengesan seperti itu langsung saja, seketika naik darah. Padahal,
sebelumnya juga dia sudah mulai bisa kalem dan bersikap normal. Tapi, lagi-lagi
Al terus saja menggodanya.
“Kamu bisa bisa diam tidak? Keluar!”
“Keluar di mana, sayang?” ucap Al masih dengan ekspresi yang
sama.
Queen merasa heran dengan Al. Kenapa dia tiba-tiba dalam
sebulan terakhir ini jadi berubah kek gini? Apakah seseorang yang sudah jatuh
cinta itu hilang akal seperti orang yang tidak waras? Apa artinya dengan Nayla
dulu juga seperti itu? Ish… kenapa aku peduli? Batin Queen.
“Kalau aku tidak mau,
gimana, dong? Lagian, dilihatin suami sendiri kenapa, sih tidak mau?” ucap Al
kembali mendekati Queen. Matanya menyusuri setiap inci tubuh wanita di depannya
itu.
“Aku minta kau pergi, cepat!” bentak Queen. Rupanya ia tidak
berani berkata keluar untuk yang kedua kalinya. Sebab, jika tidak, jawaban yang
ia dapatkan dari Al hanya membuatnya naik darah saja.
“Istriku, kau makin cantic saja jika marah begitu,” ucap Al
tiba-tiba saja meraih pinggang mendekapnya erat dalam pelukkannya kemudain membawanya ke atas ranjang
dan menindihnya sambil menikmati pemandangan di bawahnya.
“Apa yang kau lakukan? Menyingkir dari atas tubuhku.”
“Nyaman sekali jika seperti ini. Aku tidak mau! Ayo lah,
sebagai pasangan yang baru saja menikah, bersikaplah lembut pada suamimu ini,
Sayang,” ucap Al, kemudian menenggelamkan wajahnya pada dua bukit milik Queen.
“Al, apakah kau mulai pikun? Barusan kau bilang apa?
Bukankah kau tidak akan memaksaku? Dan akan menunggu sampai aku benar-benar mau
dan menerimamu?” ucap Queen sambil menarik rambut Al, berusaha menyingkirkan
wajahnya yang terus menempel di dadanya.
Kemudian Al mengangkat wajahnya sambil tersenyum, senyuman
maut bagi mereka yang tergila-gila padanya. Namun bagi Queen. Senyuman itu tak
lebih baik dari senyumannya seekor iblis. “Kan aku bilang Cuma melakukan
hubungan intim saja sayang. Kalau Cuma memeluk dan mencium, kan gak membuatmu
mandi keramas. Tahu lagi kalau kamu sangat menikmati ciumanku sampai kau bisa…
“
“PLAK!”
tamparan keras pada pipi Al sampai memerah.
“Tamparanmu sakit sekali, Sayang?” Al mengusap pipinya yang
memerah. Kemudian ia pun keluar dan menunggu istrinya di ruang tamu.
Sambil menunggu Queen, Al menciba menghubungi Vico yang
masih berada di negeri sakura tersebut. Kabar terakhir yang ia dapatkan
darinya, Ia sudah berjasil membunuh beberapa orang yang ingin mencelakai Al.
Tapi, selebihnya ia juga tidak tahu, karena Al juga sedang tidak enak badan.
“Hallo, gimana, Vic?”
“Al, ada kabar baik, aku akan segera kembali ke Indonesia.
Tapi, aku agak telat, karena aku akan menyamar sebagai turis biasa yang
berlibur. Tidak bisa menggunakan jet pribadi milikmu,’’ jawab Vico dari
seberang sana.
“Kabar baik? Kabar bai kapa?” tanya Al mulai penasaran. Vico
memang teman yang sering diajak berantem oleh Al selain Juna dalam urusan
asmara. Tapi, dua orang temannya ini dalam pekerjaan memang paling bisa
diandalkan.
“Ceritanya sangat Panjang. Aku tidak mungkin bisa
menjelaskannya lewat telfon. Akan aku beri tahu kau setelah sampai di sana,
Ok.”
“Baiklah, kau di mana sekarang?”
“Aku ada di Eropa, hehehe.”
“Kau, apa maksutmu? Apakah penyelidikkan sampai ke sana?”
ucap Al mulai geram.
“Tentu saja tidak, Al. Setelah satu bulan aku bekerja keras
membuat pengalihan data dirimu menutup dan mengeblok semua situs, ya beri aku
liburan setidaknya satu atau dua minggu lah.”
“Baik, segeralah kembali jika kau rasaa sudah cukup!” ucap
Al, datar.
“Aku akan kembali dua minggu lagi, wahai sodaraku… Oh, ya,
selamat, ya. Katanya kau baru saja menikah. Di mana istri mudamu? Apakah dia
sudah mau menerimamu? Atau jika kau ingin masih harus melakukannya dengan
paksa? Hehehe.”
“Bukan urusanmu.” Al pun mematikan panggilannya. Sekalipun
di akhir dia sempat dibikin emosi dengan sahabatnya sendiri. Tapi, ia tetap
saja bisa bernapas lega begitu ingat semua masalah sudah teratasi, dan menemukan
__ADS_1
akarnya.”
Al menoleh ke belakang begitu mendengar suara pintu kamar
terbuka. Ternyata Queen sudah siap. Al sempat terpana dengan kecantikan wajah
Queen yang seolah terpancar kuat. Wanita itu membiarkan rambut pirangnya
tergerai indah dengan mengenakan dress berwarna biru dari bahan jeans sepanjan
lutut, di tambah juga ia mengenakan haighells hitam dan tas warna maroon di
tangannya. “Kamu sudah siap, Sayang?”
“Ya,” jawab Queen, singkat. Kemudian berjalan menuju pintu
utama.
Sambil menunggu lip, Al meraih tangan Queen memasukan
jemarinya di sela-sela jari tangan Queen dan menggenggamnya erat. Queen
mendongak ke atas, melihat ke wajah Al. Begitupun Al ia juga tengah menunduk .
Spontan tatapan mereka saling bertemu, bahkan Queen juga membalas senyuman Al.
Meskipun kemudian ia langsung menunduk.
Queen jadi bingung dengan Al. Mana sikap dia yang
sebenarnya? Kenapa perubahannya lebih cepat dari seekor bunglon? Hah, seperti
apapun, yang Queen rasakan adalah, Al akan baik dan kalem jika ia sedang marah.
Tapi, kena dibaikin dikit aja nglunjak dia. Kumat edannya.
***123
Karena Al dan Queen sudah pergi lebih dulu, kakek Andrean
mengajak makan keempat saksi yang telah diundangnya. Bagaimanapun, sebenarnya
juga merasa tidak enak. Terutama pada Diaz. Tapi, bagaimana lagi? Al, kaklau
tidak dituntun begini, malah ia khawatir diam-diam menggoda Queen saat status
sudah menikah dengan Diaz. Jika begitu, hubungan mereka rusak. Lalu apa bedanya
Queen dengan Nayla?
“Ini kita ma uke mana, Kek?” tanya Juna, bersemangat.
“Hanifah tahu lah kita akan ke mana, iya, kan Hanifah?” ucap
Kakek Andrean.
Hanifah sebenarnya tidak tahu mau kemana kakeknya ingin
pergi. Tapi, ia merasa ucapan kakek Andrean hanya menunjukan pada mereka
tentang kedekatannya pu akhirnya ia memberi dua pilihan pada sang kakek.
“Kita ma uke mana, Kek? Ke rumah mendiang nenek Vivian, atau
ke cafenya om Reza?”
“Kita ke cafenya om Reza saja, kita makan di sana, lalu
kakek akan pulang nanti.”
“biar kita anter kakek saja,” usul Hanifah.
“Tidak apa-apa kalau memang mengantarkan kakek. Tapi, kakek
minta, jangan sampai membahas tentang masalah tadi. Sebab, Al menikahi Queen
secara diam-diam. Nayla tidk tahu akan hal ini,” ucap kakek Andrean pada
mereka.
Semua Diam, hanya wajah dua pria muda yang tengah mengemudi dan duduk di sebelahnya lah
yang dipandangan Andrean nampak aneh. Jika Juna mungkin jug a sudah tahu prihal perselingkuhan Nayla dengan
Jebvin, sementara Diaz… seperti apa marahnya dia, secara gak langsung wanita
yang dicintainya juga di rebut pada saat hari H pertunangannya sendiri. Dan
sebulan kemudian, ia malah jadi saksi pernikahan mereka. Sekalipun di mata Diaz
Queen terlihat begitu terpaksa dan tertekan. Tapi, apa yang membuatnya
menghindar saat bertemu dengannya ia juga belum tahu.
“Diaz, apakah kamu ada acara hari ini?” tanya kakek Andrean.
“Tidak, Kek. Memang ada apa, Kek?”
“Tidak, kakek khawatir kau hari ini sibuk aja. Emang kamu
mau piket apa nanti?”
“Kebetulan hari Minggu libur, Kek,” jawab Diaz.
Kemudian, Andrean dan yang lain pun semuanya ikut tertawa.
Kecuali Diaz. Ia hanya tersenyum tipis saja.
Semuanya hari ini mungkin sama-sama bahagia. Tapi, tidak
dengan Diaz. Hanya saja, Hanifah pinter ambil hati dan mencairkan suasana hati
Diaz yang dasarnya pendiam, kian beku dengan moment yang baru saja dilihatnya.
“Diaz, kapan kalian berencana untuk menikah?” tanya kakek
Andrean ketika mereka sudah berada di kediaman kakek Andrean. Sementara Gea dan
Juna sudah kembali, nereka misah setelah makan siang di tempat Reza.
Taka da jawaban dari pria itu. Ia hanya diam, dan tenang. Selama
ini Diaz memang belum pernah untuk tidak jujur dengan perasaannya sendiri.
Terlebih pada kakek Andrean. Sebab, beliau tahu, kalau dari awal dia Sukanya sama
siapa.
“Diaz, kalian sudah satu bulan an bertunangan. Apakah tidak
ada perubahan? Percayalah, cinta ittu datang karena kita saling bersama. Mau
sampai kapan kalian begini?”
Diaz berfikir, kenapa kakek Andrean bisa kompak dengan
umiknya? Mereka semua sama-sama tahu siapa yang sebenarnya ia cintai. Tahu
bagaimana saat bertunagan dengan Hanifah. Kenapa malah terus menanyakan
pertanyaan yang menurutnya sama sekali tidak penting beginni?
“Kami belum bahas
__ADS_1
tentanag hal ini, Kek. Lagipula, Hanifah juga belum lulus kuliah, kan?”