Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 209


__ADS_3

  Al mengemudikan


mobilnya dengan santi sambil sesekali melirik kea rah Queen yang membuang


pandangannya kea rah jendela. Keduanya sama-sama diam dan bungkam taka da


sepatah kata pun yang mereka ucapkan. Sampai pada saat mobil melewati jalan di


mana Queen setiap hari melewatinya untuk bekerja, barulah gadis itu bertanya.


Meskipun tanpa mengalihkan pandangannya dari luar jendela.


“Mau ke mana kita?”


“Menemui mertua kita, Sayang.”


‘Hah, mertua kita?’ batin Queen. Sejurus kemudian, ia


menoleh dengan cepat lalu berkata, “Apa maksut kamu?’’


“Masa kurang jelas? Benarkan mertua kita? Papa Vano dan mama


Clara orangtuamu, aku suamimu, dia berati mertuaku. Dan mereka juga adalah


orangtua angkatku, jadi ya mertua kamu juga, lah… walau mertua angkat, hehehe.”


Queen kembali memandang kea rah jendela. Mendengar


penjelasan Al barusan, diam-diam ia tersenyum seorang diri. Ia merasa lucu aja,


dan benar apa yang Al katakana. Orang tua kita mertua kita.


“Apa kau yakin kita kesana dengan pakaian seperti ini?”


“Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?”


“Kamu kemarin pada teman-temanku mengatakan kalau kita sudah


suami istri, ya tidak etis saja jika dengan pakaian dan riasan seperti ini


kesana. Apa yang mereka pikirkan tentang kita? Kecuali, aku tidak kenal dengan


oaring-orang di sana.”


Al diam sesaat. Ia membenarkan apa yang Queen katakan.


Terlebih dia juga bekerja di sana sebagai dokter, jelas saja dari kalangan


perawat, cleaning service juga pasti sangat mengenalnya.


“Kita putar balik ke apartemen dulu apa gimana?”


“Begitu saja lebih baik.”


Al pun memutar balik kendaraannya kembali ke apartemen.


Selama perjalan, ia merasa Queen sedikit lebih tenang. Ia berharap dengan


beginiia bisa membuka hati untuknya dan menerima kalau dial ah yang pantas ia


cintai, bukan pria lain.


Tiba di apartemen Al perhatikan wanita yang baru dinikahinya


itu juga nampak santai, wajahnya juga tak lagi menujukkan kemarahan sedikitpun


padanya, apalagi kebencian. Semua seolah sudah kembali normal walau belum


nampak rasa cinta di mata Queen untuk dirinya.


Al mengetuk pintu kamar Queen perlahan setelah ia sudah


mengganti pakaian resminya dengan celana jeans Panjang dan kaus hitam polos


presbodi.


“Masuk!” sahut Queen dari dalam.


Al membuka pintu kamar tersebut dan melihat Queen duduk di


meja rias sambil membersihkan riasannya, dan masih mengenakan pakaian kebaya


putih tulang yang dipakai untuk ijab qobul dengannya tadi. Peralahan Al


melangkah mendekati istri barunya sambil melihat wajahnya yang terpantul di


cermin.


“Ada apa?” Kalimat Queen terdengar seperti menggantung.


Mungkin ia ingin memanggil Namanya, atau menambah imbuhan Mas, juga Al tidak


tahu. Diletakkannya kedua tangan Al pada pundak Queen. Mereka sama-sama saling


pandang melalui cermin di hadapannya. Sampai pada akhirnya Queen tak mampu


terus memandang dirinya sendiri dan juga pria di belakangnya dan menunduk.


“Sekarang kau sudah resmi menjadi istriku. Aku tidak akan


melakukan lagi hubungan dengan paksaan seperti biasanya. Maafkan aku, ya? Tapi,


aku harap kau tahu, aku melakukan ini juga diluar kendaliku. Aku terlalu


cemburu dan tidak bisa menahan diri karena cintaku yang buta kepadamu, Queen.


Aku berharap, kau bisa menerima aku sebagai suamimu.”


Queen diam tak bisa menjawab. Ia merasa hatinya seperti


seolah tertusuk belati tajam saja saat mendengar kata-kata Al. Memang,


rangkaiannya tak seindah pujangga. Tapi, ada kesunggungguhan dalam tiap kata


yang dirangkainya.


“Aku ganti baju dulu,” jawab Queen dengan suara tenang.


Sambil memandang wajah tampan Al. Ia masih tak habis pikir, bagaimana bisa


sosok yang dulu dia panggil kakak, dan masuk dalam kartu keluarga sebagai


saudara seayah dan seibu, kini malah memisah KK sebagai suamai istri. Ingin


tersenyum saja malu, karena ada Al. Apalagi tertawa?


“Mau ganti baju, ya? Perlu bantuan?” jawab Al sambil


terkekeh.


Queen yang semula hatinya mulai melunak, kini ia kembali


mulai jengkel dengan tingkah Al yang demikian. Ia mengehmbuskan napas dengan


kasar dan berkata dengan nada sedikit tinggi, “Al, aku minta kamu keluar, akum


au ganti baju.”


“Kenapa harus keluar? Malu sama aku? Kita sudah suami istri


sayang,  sudah halal mau diapain pun juga


tidak apa-apa, kan. Bukannya kemarin-kemarin aku dah sering lihat bodi polos

__ADS_1


kamu? Hehehe.” Al menjilat bibirnya sendiri sa,bil menatap kea rah Queen.


Queen yang merasa malu mendengar kata-kata Al. ditambah lagi


melihat ia cengengesan seperti itu langsung saja, seketika naik darah. Padahal,


sebelumnya juga dia sudah mulai bisa kalem dan bersikap normal. Tapi, lagi-lagi


Al terus saja menggodanya.


“Kamu bisa bisa diam tidak? Keluar!”


“Keluar di mana, sayang?” ucap Al masih dengan ekspresi yang


sama.


Queen merasa heran dengan Al. Kenapa dia tiba-tiba dalam


sebulan terakhir ini jadi berubah kek gini? Apakah seseorang yang sudah jatuh


cinta itu hilang akal seperti orang yang tidak waras? Apa artinya dengan Nayla


dulu juga seperti itu? Ish… kenapa aku peduli? Batin Queen.


 “Kalau aku tidak mau,


gimana, dong? Lagian, dilihatin suami sendiri kenapa, sih tidak mau?” ucap Al


kembali mendekati Queen. Matanya menyusuri setiap inci tubuh wanita di depannya


itu.


“Aku minta kau pergi, cepat!” bentak Queen. Rupanya ia tidak


berani berkata keluar untuk yang kedua kalinya. Sebab, jika tidak, jawaban yang


ia dapatkan dari Al hanya membuatnya naik darah saja.


“Istriku, kau makin cantic saja jika marah begitu,” ucap Al


tiba-tiba saja meraih pinggang  mendekapnya erat dalam pelukkannya kemudain membawanya ke atas ranjang


dan menindihnya sambil menikmati pemandangan di bawahnya.


“Apa yang kau lakukan? Menyingkir dari atas tubuhku.”


“Nyaman sekali jika seperti ini. Aku tidak mau! Ayo lah,


sebagai pasangan yang baru saja menikah, bersikaplah lembut pada suamimu ini,


Sayang,” ucap Al, kemudian menenggelamkan wajahnya pada dua bukit milik Queen.


“Al, apakah kau mulai pikun? Barusan kau bilang apa?


Bukankah kau tidak akan memaksaku? Dan akan menunggu sampai aku benar-benar mau


dan menerimamu?” ucap Queen sambil menarik rambut Al, berusaha menyingkirkan


wajahnya yang terus menempel di dadanya.


Kemudian Al mengangkat wajahnya sambil tersenyum, senyuman


maut bagi mereka yang tergila-gila padanya. Namun bagi Queen. Senyuman itu tak


lebih baik dari senyumannya seekor iblis. “Kan aku bilang Cuma melakukan


hubungan intim saja sayang. Kalau Cuma memeluk dan mencium, kan gak membuatmu


mandi keramas. Tahu lagi kalau kamu sangat menikmati ciumanku sampai kau bisa…



“PLAK!”


tamparan keras pada pipi Al sampai memerah.


“Tamparanmu sakit sekali, Sayang?” Al mengusap pipinya yang


memerah. Kemudian ia pun keluar dan menunggu istrinya di ruang tamu.


Sambil menunggu Queen, Al menciba menghubungi Vico yang


masih berada di negeri sakura tersebut. Kabar terakhir yang ia dapatkan


darinya, Ia sudah berjasil membunuh beberapa orang yang ingin mencelakai Al.


Tapi, selebihnya ia juga tidak tahu, karena Al juga sedang tidak enak badan.


“Hallo, gimana, Vic?”


“Al, ada kabar baik, aku akan segera kembali ke Indonesia.


Tapi, aku agak telat, karena aku akan menyamar sebagai turis biasa yang


berlibur. Tidak bisa menggunakan jet pribadi milikmu,’’ jawab Vico dari


seberang sana.


“Kabar baik? Kabar bai kapa?” tanya Al mulai penasaran. Vico


memang teman yang sering diajak berantem oleh Al selain Juna dalam urusan


asmara. Tapi, dua orang temannya ini dalam pekerjaan memang paling bisa


diandalkan.


“Ceritanya sangat Panjang. Aku tidak mungkin bisa


menjelaskannya lewat telfon. Akan aku beri tahu kau setelah sampai di sana,


Ok.”


“Baiklah, kau di mana sekarang?”


“Aku ada di Eropa, hehehe.”


“Kau, apa maksutmu? Apakah penyelidikkan sampai ke sana?”


ucap Al mulai geram.


“Tentu saja tidak, Al. Setelah satu bulan aku bekerja keras


membuat pengalihan data dirimu menutup dan mengeblok semua situs, ya beri aku


liburan setidaknya satu atau dua minggu lah.”


“Baik, segeralah kembali jika kau rasaa sudah cukup!” ucap


Al, datar.


“Aku akan kembali dua minggu lagi, wahai sodaraku… Oh, ya,


selamat, ya. Katanya kau baru saja menikah. Di mana istri mudamu? Apakah dia


sudah mau menerimamu? Atau jika kau ingin masih harus melakukannya dengan


paksa? Hehehe.”


“Bukan urusanmu.” Al pun mematikan panggilannya. Sekalipun


di akhir dia sempat dibikin emosi dengan sahabatnya sendiri. Tapi, ia tetap


saja bisa bernapas lega begitu ingat semua masalah sudah teratasi, dan menemukan

__ADS_1


akarnya.”


Al menoleh ke belakang begitu mendengar suara pintu kamar


terbuka. Ternyata Queen sudah siap. Al sempat terpana dengan kecantikan wajah


Queen yang seolah terpancar kuat. Wanita itu membiarkan rambut pirangnya


tergerai indah dengan mengenakan dress berwarna biru dari bahan jeans sepanjan


lutut, di tambah juga ia mengenakan haighells hitam dan tas warna maroon di


tangannya. “Kamu sudah siap, Sayang?”


“Ya,” jawab Queen, singkat. Kemudian berjalan menuju pintu


utama.


Sambil menunggu lip, Al meraih tangan Queen memasukan


jemarinya di sela-sela jari tangan Queen dan menggenggamnya erat. Queen


mendongak ke atas, melihat ke wajah Al. Begitupun Al ia juga tengah menunduk .


Spontan tatapan mereka saling bertemu, bahkan Queen juga membalas senyuman Al.


Meskipun kemudian ia langsung menunduk.


Queen jadi bingung dengan Al. Mana sikap dia yang


sebenarnya? Kenapa perubahannya lebih cepat dari seekor bunglon? Hah, seperti


apapun, yang Queen rasakan adalah, Al akan baik dan kalem jika ia sedang marah.


Tapi, kena dibaikin dikit aja nglunjak dia. Kumat edannya.


***123


Karena Al dan Queen sudah pergi lebih dulu, kakek Andrean


mengajak makan keempat saksi yang telah diundangnya. Bagaimanapun, sebenarnya


juga merasa tidak enak. Terutama pada Diaz. Tapi, bagaimana lagi? Al, kaklau


tidak dituntun begini, malah ia khawatir diam-diam menggoda Queen saat status


sudah menikah dengan Diaz. Jika begitu, hubungan mereka rusak. Lalu apa bedanya


Queen dengan Nayla?


“Ini kita ma uke mana, Kek?” tanya Juna, bersemangat.


“Hanifah tahu lah kita akan ke mana, iya, kan Hanifah?” ucap


Kakek Andrean.


Hanifah sebenarnya tidak tahu mau kemana kakeknya ingin


pergi. Tapi, ia merasa ucapan kakek Andrean hanya menunjukan pada mereka


tentang kedekatannya pu akhirnya ia memberi dua pilihan pada sang kakek.


“Kita ma uke mana, Kek? Ke rumah mendiang nenek Vivian, atau


ke cafenya om Reza?”


“Kita ke cafenya om Reza saja, kita makan di sana, lalu


kakek akan pulang nanti.”


“biar kita anter kakek saja,” usul Hanifah.


“Tidak apa-apa kalau memang mengantarkan kakek. Tapi, kakek


minta, jangan sampai membahas tentang masalah tadi. Sebab, Al menikahi Queen


secara diam-diam. Nayla tidk tahu akan hal ini,” ucap kakek Andrean pada


mereka.


Semua Diam, hanya  wajah dua pria muda yang tengah mengemudi dan duduk di sebelahnya lah


yang dipandangan Andrean nampak aneh.  Jika Juna mungkin jug a sudah tahu prihal perselingkuhan Nayla dengan


Jebvin, sementara Diaz… seperti apa marahnya dia, secara gak langsung wanita


yang dicintainya juga di rebut pada saat hari H pertunangannya sendiri. Dan


sebulan kemudian, ia malah jadi saksi pernikahan mereka. Sekalipun di mata Diaz


Queen terlihat begitu terpaksa dan tertekan. Tapi, apa yang membuatnya


menghindar saat bertemu dengannya ia juga belum tahu.


“Diaz, apakah kamu ada acara hari ini?” tanya kakek Andrean.


“Tidak, Kek. Memang ada apa, Kek?”


“Tidak, kakek khawatir kau hari ini sibuk aja. Emang kamu


mau piket apa nanti?”


“Kebetulan hari Minggu libur, Kek,” jawab Diaz.


Kemudian, Andrean dan yang lain pun semuanya ikut tertawa.


Kecuali Diaz. Ia hanya tersenyum tipis saja.


Semuanya hari ini mungkin sama-sama bahagia. Tapi, tidak


dengan Diaz. Hanya saja, Hanifah pinter ambil hati dan mencairkan suasana hati


Diaz yang dasarnya pendiam, kian beku dengan moment yang baru saja dilihatnya.


“Diaz, kapan kalian berencana untuk menikah?” tanya kakek


Andrean ketika mereka sudah berada di kediaman kakek Andrean. Sementara Gea dan


Juna sudah kembali, nereka misah setelah makan siang di tempat Reza.


Taka da jawaban dari pria itu. Ia hanya diam, dan tenang. Selama


ini Diaz memang belum pernah untuk tidak jujur dengan perasaannya sendiri.


Terlebih pada kakek Andrean. Sebab, beliau tahu, kalau dari awal dia Sukanya sama


siapa.


“Diaz, kalian sudah satu bulan an bertunangan. Apakah tidak


ada perubahan? Percayalah, cinta ittu datang karena kita saling bersama. Mau


sampai kapan kalian begini?”


Diaz berfikir, kenapa kakek Andrean bisa kompak dengan


umiknya? Mereka semua sama-sama tahu siapa yang sebenarnya ia cintai. Tahu


bagaimana saat bertunagan dengan Hanifah. Kenapa malah terus menanyakan


pertanyaan yang menurutnya sama sekali tidak penting beginni?


 “Kami belum bahas

__ADS_1


tentanag hal ini, Kek. Lagipula, Hanifah juga belum  lulus kuliah, kan?”


__ADS_2