
“Mbak, kamu yang sabar, ya?” ucap beberapa ibu-ibu yang
mengerumuni Sherly. Membantu gadis itu berdiri.
“Saya tidak apa-apa. Terimakasih. Saya harus kejar pacar saya,” ucap Sherly saat sadar betapa gilanya dia dan apa yang ia lakukan. Dengan
buru-buru dia berlari menuju mobilnya dan mengejar mobil Axel yang sudah lebih
dulu meninggalkan café.
Sebelum ia menyalakan mesin mobil, ia sempat melihat keadaan
di luar. Bergitu banyak ibu-ibu bapak-bapak di sana. “Astaga… aksi edanku dilihat orang banyak? Ah, sudahlah anggap ini sebagian kecil dari usaha mendapatkan Axel. Sementara, singkirkan dulu rasa malu. Nanti, kalau salah satu dari mereka melihat Axel pasti juga akan meneriakinya agar menikahiku, hahaha,”
ucap gadis itu sambil mengemudikan mobilnya.
Duapuluh menit menguntit mobilnya Axel, ia melihat mobil pria
yang diuntinya masuk ke dalam sebuah rumah besar, megah dan mewah. Ia pun ikut masuk. Tidak sulit bagi Sherly memasukki pintu gerbang rumah itu. sebab, selang dua menitan Axel masuk, ia sudah tiba di sana. Mungkin Dedi juga mengira kalau mereka bersama hanya saja naik mobil yang berbeda.
“Ck! Wanita ini,” keluh Axel kesal saat ia tahu kalau Sherly mengikutinya. Tapi, ia tetap berlaku biasa. Menganggap dia tidak ada. Sambil mencangklong
tasnya, pria itu keluar dari mobil dan memencet bel rumah itu.
“Kak Axel? Kau sudah pulang? Kebetulan sekali, aku mama
Queen dan Berlyn masak sesuatu yang special untukmu,” sapa Bilqis begitu melihat kalau Axel lah yang datang.
“Oh, ya? Masak apa, kalian?” tanya Axel sambil beranjak masuk.
“Axel! Aku belum selesai bicara!” dengan cepat Sherly meraih
lengan Axel dam merangkulnya, ia mendongakkan wajahnya menatap pria yang beberapa inci
lebih tinggi darinya sambil menyunggingkan senyuman.
Axel memasang wajah kaku dan datar, tak mau peduli dan
memandang balik ke arah Sherly yang dengan erat merangkul lengan kirinya.
“Kau berjalan terlalu cepat. Jangan tinggalin aku lagi, ya?” ucap gadis itu dengan nada manja, sambil menyelipkan anak rambut yang mengenai wajahnya ke belakang telinganya. Sepertinya ia memang sengaja begitu agar, siapapun yang melihatnya mengira kalau mereka pacaran.
__ADS_1
“Siapa dia, Kak?” tanya Bilqis yang sempat terpaku melihat
pemandangan di hadapannya.
“Aku Sherly, kau siapa?” jawab Sherly dengan cepat sambil
mengulurkan tangan kanannya menyalami gadis belia yang tentunya jauh lebih muda
darinya.
Bilqis tersenyum getir. Ingin sekali dia menampar dan menjauhkan
tubuh gadis itu dari Axel. Tapi, ia harus jaga sikap. “Aku Biliqs,” jawab gadis itu
sambil membalas jabatan tangan Sherly. “Kalian masuklah!”
“Kak Axel sudah datang,” ucap Adriel dari dalam sambil
berlari berhambur memeluk kakaknya.
Tidak lama kemudian, Berlyn datang mengenakan celemek dan
ada tepung mengenai salah satu pipinya. Gadis kecil itu tersenyum menyambut kedatangan Axel. Karena, di keluarga ini memang sudah terbiasa menyambut
“Hey, Cantik! Ada apa dengan pipi mu?” tanya Axel. Seketika mood
dia berubah Ketika melihat Berlyn berada di hadapannya. Ia berjongkok dan mengusap pipi lembut gadis kecil itu, dan menghilankan tepung yang menempel di sana.
Berlyn hanya tertawa sambil menutupi wajahnya. Menandakan ia
malu kalau mukanya cemong dilihat banyak orang, sedangkan ia sendiri tidak sadar. Kemudian ia melihat ke arah Sherly dan memegang tangan Axel, memberi isyarat menanyakan siapa gadis yang berada bersamanya.
“Dia sepupu om Candra, Berlyn. Namanya kak Sherly,” ucap
Axel pelan. Wajahnya juga kembali menunjukkan ekspresi yang jenggah.
Gadis itu tersenyum ke arah Sherly dan mengajak tamunya untuk duduk di ruang tamu. Kemudian, ia berlari ke dapur. Tidak berselang lama,
ia dan mamanya keluar dengan segelas jus jeruk yang dibawa Queen di atas nampan.
“Oh, ada tamu, ya? Siapa dia, Xel? Kok kamu gak bilang kalau
__ADS_1
ajak teman?” tanya Queen dengan ramah setelah keduanya berkenalan.
“Saya Sherly dari Jogja, Tante. Keponakan dari om Chandra. Kita memang sudah lama berhubungan,” jawab Sherly dengan ramah. Sambil mengambil posisi bergeser lebih dekat dengan Axel.
“Mama Queen. Aku mau kembali dulu,” ucap Bilqis dari belang sudah
siap dengan tas canglongnya.
“Loh, kamu mau ke mana, Sayang? Kan kita belum makan siang?
makan siang dulu, ya?” bujuk Queen pada Bilqis yang membuatnya kaget karena tiba-tiba berpamitan pulang.
“Tidak apa-apa, Ma. Bilqis makan di rumah saja.” Gadis itu sudah memegang tangan Queen dan menciumnya. Tapi, Queen masih menahannya. Berusaha
merayu agar dia mau tinggal dan mau makan siang bersama dulu.
“Apakah mama kamu sudah kembali? Katanya masih nanti malam? Makan
dulu, ya? Kita sudah terlanjur masak banyak.”
“Kan ada tamu, Ma. Ajak saja dia makan di sini,” jawab Bilqis
dengan ketus dan tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
Axel tahu, Bilqis itu cemburu pada Sherly. Ia juga tahu kalau gadis yang ia kenal sejak kecil itu pasti sedih dan mengira, penolakannya semalam itu karena Sherly. Ia ingin menjelaskan kalau antara dia dan Sherly
tidak ada apa-apa. Sherly melakukan itu karena ada hal yang ingin ia dapatkan darinya. Tapi, ia tidak mampu menjelaskannya pada Bilqis. Sebab, jika ia nanti
menjelaskannya, yang ada Bilqis akan GR kembali, seperti saat kejadian
memberinya boneka di depan Tiara. Jadi, tidak ada pilihan selain membiarkan dia dalam salah paham ini. Dibencipun Axel juga sudah siap. Dari pada Bilqis menanggung cinta bertepuk sebelah tangan selamanya. Bukankah itu akan lebih sakit? Karena, ia hanya menyukai Clarissa saja. Mungkin sejak pandangan pertama, saat ia melihat gadis kecil ini masih berusia lima tahun.
Bilqis langsung menarik tangannya saat sebuah pesan dari ojek
online yang dia pesan sudah masuk, mengatakan kalau ia sudah berada di depan rumah.
“Mama, aku pamit dulu, taxi yang kupesan sudah tiba,” ucap
gadis itu lalu berlari keluar.
Queen hanya menghela napas dalam dan mengeluarkannya dari
__ADS_1
mulut dengan kasar. Kemudian, ia dan Axel saling berpandangan. Keduanya sempat saling membisu. Tapi, Queen bisa dengan cepat mengusai keadaan.