
Tak lama kemudian
seorang dokter perempuan paruh baya datang menuju kamar yang di pesan oleh Al.
“Permisi, bisa anda keluar dulu? Izinkan saya memeriksa
pasien,” ucap dokter tersebut.
“Dok, saya suaminya. Mana mungkin saya bisa meninggalkan
dia?” ucap Al. Terlihat sekali kalau dia sangat keberatan saat diminta untk
pergi.
Akhirnya, dokter itu
pun mengizinkan Al untuk tetap tinggal, sementara Vico berada di luar ruangan.
Setelah melihat kondisinya, mulai dari detak nadi dan
menyentuh perutnya, dokter itu hanya tersenyum dan menuliskan beberapa resep
yang terdiri dari beberapa suplemen untuk Queen.
Karena sudah selesai, Vico pun kembali masuk ke dalam.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Apakah dia baik-baik
saja? Kenapa masih belum sadar juga dia?” tamya Al panik.
“Tidak apa-apa, Pak. Anda mulai sekarang jangan bikin dia
sedih, usahan pikirannya selalu tenang, banyak beristirahat tidak boleh terlalu capek apalaghi
stress. Karena wanita yang berbadan dua itu jauh lebih sensitive dari wanita
datang bulan.” Dokter itu menjelaskan dengan penuh senyuman.
Al masih bengong, bahkan dia tidak mengerti apapun,
sementara Vico langsung merangkul sahabatnya dan berkali-kali mengucapkan kata
selamat. Al hanya diam, menanggapi semuanya tanpa ekspresi.
“Selamat ya Bro! Aku turut bahagia untukmu.”
Al melepaskan diri dari pelukan sahabatnya, ia duduk di sofa
dan meminum softdrink. ‘Mengucapkan selamat hanya karena Queen tidak
kenapa-napa? Lebai sekali,’ batinnya sambil menghela napas.
“Kau tidak bahagia?”
“Bahagia untuk apa? Dan bagaimana aku bisa bahagia sedangkan
Queen juga masih belum sadar?”
“Oke, ya sudahlah! Aku mau keluar dulu sebentar, kasih tips
buat mereka yang telah membantu Queen,” pamitnya.
Al tidak menjawab, ia hanya melihat punggung sahabatnya dari
belakang sampai lenyap dari pandangannya.
“Al, kepalaku pusing banget,” rintih Queen sambil memegangi
kepalanya yang terbentur tadi begitu ia sadar.
Dengan segera Al berlari menghampiri istrinya. “Sayang kau
sudah sadar? Apakah masih ada yang sakit?” tanya Al panik sambil mengelus
kening hingga belakang kepala Queen.
“Kepalaku sakit,” keluh Queen sambil menyentuh telapak
tangan Al dan meletakkannya di bawah pipinya sambil tiduran miring.
Vico yang baru sadar kalau dompetnya ketinggalan di dalam
kamar Al dan Queen mau tak mau ia harus terpaksa kembali, padahal, kurang
beberapa langkah lagi ia juga sudah sampai di ruangan meneger hotel tersebut.
“Kamu kenapa? Apakah sakit banget?” tanya Al panik.
Queen diam, ia berusaha mengingat apa yang baru saja
terjadi. Ya, dia ingat. Tadi, dia memergoki Nayla dan Jevin, lalu Nayla
menyerangnya. Hanya saja yang Queen sesalkan, kenapa dengan begitu saja dia
sudah pingsan? Harusnya ia tidak apa-apa dan membalasnya.
“Al, kenapa kau masih di sini? Ceraikan Nayla sekarang. Aku
gak mau kau mempertahankan dia. Dia sudah menduakanmu,” ucap Queen penuh dengan
paksaan.
“Iya, Sayang, besok saja aku urus semuanya,” jawab Al
menenangkan hati Queen.
Tapi, rupanya Queen tidak bisa tenang. Ia malah kian menjadi
saja, seolah tidak mau memberi kesempatan untuk wanita itu memperbaiki
hubungannya dengan Al. Ia takut Al terkena bujukan Nayla. Karena dia melihat
dan mendengarnya sendiri bagaimana tadi Nayla malah menyalahkan Al dibalik
__ADS_1
scandalnya dengan Jevin. Bahkan, Al sendiri juga mengakui kalau dia tidak bisa
melakukannya dengan Nayla.
“Aku gak mau dengar alasanmu lagi, Al. Aku mau kau tidak
menundanya lagi, pergi sekarang urus perceraianmu dengannya!”
“Sayang, kan masih ada besok. Kenapa buru-buru?” Sebenarnya
Al masih ingin menemani Queen dan tidak tega untk meninggalkannya, sekalipun ada
Vico di sini. Tapi, Queen yang emosinya sedang tidak stabil, menanggapinya
sudah lain. Ia merasa kalau suaminya masih ingin memberi kesempatan dan
memperbaiki hubungannya dengan Nayla.
“Baik kalau kau tidak mau menceraikannya!” Queen pun
beranjak dari tempatnya dan berlari kea rah jendela, ia hendak memanjatnya.
Kebetulan Vico sudah tiba di sana, dan ia mendengar percakapan mereka berdua, begitu ia masuk dan
melihat Queen seperti hendak mau bunuh diri, pria itu langsung meninju Al
hingga tubuh pria itu jatuh terpelanting, karena serangan Vico sangat mendadak.
Jangankan persiapaan, kapan sahabatnya masuk saja Al bahkan tidak tahu.
“Kau kalau **** jangan dipeliara napa? Jika memang dia mau
kau menceraikan Nayla, cepat berangkat!” bentak Vico.
“Lebih baik aku mati daripada kau masih bersama wanita itu.
Aku gak mau kau dengannya Al!” seru Queen.
“Iya, Queen, kau turunlah! Semuanya bisak kita bicarakan
baik-baik,” bujuk Vico.
“Sayang, ini lantai lima, sangat bahaya, ayo turunlah!” ucap
Al sambil melangkah maju.
“Jangan mendekat!” teriak Queen sambil menangis. Ia tidak
peduli, betapa berantakannya dia saat ini.
“Al, kau kenapa masih saja suka menggodanya, wanita hamil
itu emosinya gak stabil,” bisik Vico.
“Hah, emang dia hamil? Bagaimana kau bisa tahu? Diakan
istriku,” jawab Al sambil menatap aneh ke arah Vico.
“Bicara apa dia? Dia gak bilang kalau Queen hamil.”
Bahkan dalam keadaan segenting ini, mereka masih sempat
berdebat.
“Berbadan dua itu istilah untuk wanita hamil, cepat
selamatkan dia, cukup jangan buat dia cemburu lagi. Atau, kau akan menyesal
seumur hidup!”
Al pun teringat pesan dokter tadi untuk selalu membuat Queen
tenag dan tidak stress. Hanya saja, kenapa dokter itu tidak bilang hamil saja?
Apa sih susahnya? Pikir Al.
“Sayang, aku akan urus perceraianku segera, aku mau sekarang
hanya menemanimu dulu, oke? Aku tidak akan kembali dengannya lagi. Yang kumau
Cuma kamu sebagai istriku.”
Queen masih diam, tidak bergeming di atas jendela hotel
itu. Dia takut Al hanya membujuknya
saja, dia takut, kalau Al tidak bersungguh-sungguh.
“Kamu bohong!” bentaknya sambil terisak.
“Queen, apa yang kau lakukan?”
Al dan Vico pun langsung menoleh ke arah pintu yang baru
saja terbuka, di sana, ia melihat papa dan kakeknya berdiri di belakang kursi
roda, dan seorang wanita yang cantik dan kalem duduk di sana melihat ke arahnya
yang memanjat jendela hotel.
“Mama?” lirih Al dan Queen bersamaan.
Al bingung harus kemana. Ke mamanya yang baru sadar, atau
pada istrinya yang tengah dilanda stress?
“Selamatkan istrimu, dan bawa dia pada mama kalian!” cetus
Vico sambil menepuk pundak Al.
Al pun melangkah mendekati jendela dan mengulurkan kedua
tangannya kea rah Queen dan meminta wanita itu untuk turun.
__ADS_1
“Ayo, Sayang, turunlah!” Al pun menangkap tubuh Queen. Dan
masih sempat menciuminya beberapa kali. Ia berfikir kalau Queen sendiri juga
pasti tidak tahu kalau dirinya tengah mengandung. Tapi, yang Al rasakan saat
ini, cintanya kian bertambah saja pada wanita dalam pelukannya.
“Maafkan aku yang banyak merepotkanmu, ya?” bisik Al merasa
bersalah. Walau ia puas dengan usaha yang dilakukan Queen hari ini. Tapi, dalam
hatinya ia sangat menyesal. Andai saja dia sadar dari awal, kalau sifat
posesifnya itu karena hamil atau bawaan bayi. Dia tidak akan merepotkannya dan
langssung membongkar sendiri kedok Nayla dan Jevin yang sebenarnya dia sendiri
sudah lama tahu.
“Turunkan aku,” ucap Queen malu-malu.
“Kenapa? Apa kau malu sama mama mertuamu? Mertuamu, apa
mertuaku?” goda Al sambil tersenyum genit.
Queen memberontak dan memukul lengan Al, akhirnya Ia pun
bisa turun dari gendongan Al dan berlari ke arah Clara dan bersimpuh di depan
wanita itu.
“Mama!”
“Hati-hati, jangan berlari-lari,” ucap Clara sambil
menangkap putrinya.
“Mama, bagaimana kau bisa sadar dan keluar rumah sakit
secepat ini? Kapan kau sadar? Kenapa tidak mengabariku? Apakah Al sudah tahu
ini?”
Queen bahkan langsung mencecar mamanya dengan berbagai
pertanyaan.
“Mama, kapan kau sadar? Kenapa kami bisa tidak tahu?” tanya
Al seraya berjalan mendekati Clara.
“ Kemarilah, Nak! Mama sangat rindu denganmu, bagaimana
kabarmu?” Clara mengelus kepala putranya yang tengah menunduk di depannya.
“Aku baik-baik saja, Ma. Tapi, aku sekarang bukan kakanya
Queen lagi,” jawab Al sedikit takut.
Clara hanya tersenyum sambil mengamati wajah putranya yang
memang sangat jauh berbeda dari terakhir kalinya bertemu. Aura ganas dan arogan
juga sudah hilang. Tergantikan dengan wajah sosok pria yang kalem, baik dan memiliki kepribadian yang hangat.
“Calon ayah, makasih, Ya sudah mau kasih mama cicit, sungguh
kejutan yang sangat luar biasa!” Clara tersenyum memandang Al dan Queen bergantian,
lalu memegang tangan Vano yang sedari adi berada di pundaknya.
“Al jadi calon ayah?” tanya Queen sambil melihat ke araah Al.
Al hanya tersenyum, mengajak Queen berdiri san menyentuh
perut istrinya dan berkata, ‘’Di dalam rahimmu ada calon anak kita sayang. Jaga
dia dengan baik, ya?”
Queen terkejut dan hampir tidak mempercayai itu. Sampai-sampai
ia hanya menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Apa lagi yang kalian sembunyikan dariku? Mama yang baru
sadar saja sudah tahu kalau aku hamil. Bagaimana aku sendiri bahkan tidak tahu?”
"Kami ke sini karena mendengar laporan dari dokter yang memeriksamu tadi. Dia bilang, Al tidak terlihat bahagia dengan kehamilanmu," jawab Clara sambil tersenyum. Karenya kenyataannya, tidak seperti yang ada dalam pikiran mereka tadi.
"Al aja yang tidak mengerti istilah lain untuk wanita hamil. Makanya cuek-cuek saja, Tante," sahut Vico.
“Aku juga baru tahu, Sayang!” bisik Al dengan suara yang
sedikit nakal.
‘’Ya sudah, ayo kita sama-sama pulang. Kamu ikut dengan kami
juga, Vico?” tanya Vano pada sahabat putranya.
“Lain kali saja , Om.”
“Bilang aja ngenes gak ada pasangan sendiri,” ledek Al
sambil merangkul Queen.
Vico hanya bisa tertawa dan menunjukkan kepalan tangannya
pada Al.
"Meledek kau, Bro! Awas kau."
Semuanya pun tertawa. Vico pun akhirnya pergi meninggalkan hotel datang ke kantor polisi untuk membantu Al menyelesaikan masalahnya.
__ADS_1