Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 86


__ADS_3

Quen mengucek matanya beberapa kali, di lihatnya jam weker berbentuk love berwarna maroon itu menunjukan pukul dua tiga puluh menit. Artinya kurang setengah jam lagi Alex pulang.


Dengan langkah berat wanita itu beranjak ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh. Setelahnya, dia langsung ke dapur sambil mengikat rambutnya asal.


Di sana ia melihat si mbok Darmi sudah sibuk memasak sesuatu.


"Nyonya," sapa wanita berusia limapuluh tahunan itu dengan senyumnya yang ramah.


"Itu, Mbok masak, apa?" tanya Quen sambil melirik ke panci yang ditutupi dengan tutup stenlis.


"Itu sayur sop, Nyonya," jawab mbok Darmi.


Quen merasa risih di panggil dengan sebutan nyonya. Tapi, memang faktanya dia sudah menjadi nyonya Alex, bukan?


"Mbok, panggil Quen saja, saya tidak enak banget dipanggil begitu," ucap Quen sambil tertawa cangggun.


"Aduh, ya tidak sopan dong, Nyah. Saya gak biasa," jawab mbok Darmi dengan penuh kerendahan diri.


"Jangan gitu, dulu mbok di rumah saya, manggilnya juga gitu. Tuan Alex tidak akan marah dan mempermasalahkan panggilan. Bukannya mbok Darmi dah lama bekerja di sini? Sejak Alex SMP, kan?"


"Haduuh, gimana, Ya? Ya udah, kalau gitu manggil mbak Quen saja, ya?" jawab mbok darmi sumringah.


"Baiklah, gitu juga boleh," jawab Quen.


Quen melihat yang di masak mbok darmi baru sayur sop. Ia pun membeuka freezer mengeluarkan satu ikan dori filet lalu merendamnya dengan air dingin.


Saat ia asik menyiapkan bumbu, sedangkan mbok darmi mencuci bekas perabot yang kotor, terdengar bunyi bel.


"Mbok, tolong ini, ya? Biar saya saja yang membuka pintunya. Pasti Alex." Quen pun sedikit berlari kelur.


Saat pintu berhasil dia buka ternyata bukan Alex yang datang. Melainkan ada tamu teman SMAnya. Entah siapa yang ia cari. Ia datang sendiri dan langsung tersenyum hangat saat melihat Quen.


"Helena, apa kabar? Yuk, masuk!" Saru Quen lalu memeluk dan saling cium pipi kiri dan pipi kanan.


Helena pun masuk lalu duduk dengan rasa sungkan. "Aku kemari mau antar undangan ulang tahun aku buat kalian. Di mama, Alex?" Gadis iti mengeluarkan selembar undangan berwarn Merah muda dari dalam tas-nya dan menyodorkannya kepada Quen.


"Alex, dia masih belum pulang. Tapi, tenang saja, pasti sebentar lagi dia akan sampai rumah." Quen menerima undangan itu dan membuka isinya.

__ADS_1


"Dia nge-gym?"


"Tidak, dia sekarang jadi dosen di universitas kami belajar dulu," jawab Quen sambil tertawa.


Panjang umur, baru saja dia dibicarakan. Ternyata sudah datang aja. Tanpa memencet bell dan mengetuk pintu, dia membukanya sendiri dan sedikit terkejut begitu mendapati siapa yang berada di dalam rumahnya.


"Nah, itu dia! Sayang, kau sudah tiba?" sambut Quen, mengambil tas kerja lalu hendak pergi menyimpannya di kamar. Tapi, Alex menahan. Dengan cepat tangan kekar itu meraih pinggang Quen memeluknya dan sendikit memberi ciuman di kening dan bibir.


Quen mendorong tubuh Alex sambil tersenyum. Ia merasa sungkan dan tidak enak di lihat oleh Helena.


"Kalian ngobrolah dulu, aku ambilkan minum, ya?" tanpa persetujuan dark Alex, wanita itu pun pergi berhambur. Cukup lama pula Quen membuatkan minuman, entah apa yang dia berikan untuk tamunya.


Ketika Quen kembali dengan nampam berisi dua gelas jus jambu merah dan beberapa makanan ringan ia terkejut mendengar pembicaraan Helena dan Alez. Ia tak mampu meneruskan kalimatnya. Seolah dalam lehernya seperti ada yang mencekiknya, suaranya tertahan tak bisa keluar.


"Hele, sekalian makan malam bersama ka...." tubuh Quen terasa kaku dan membeku pada saat itu.


"Kau tidak resmi memutuskan hubungan denganku, Lex. Kau bilang kita cuma break. Tapi, tapi, apa yang ku dapat? Kau malah menikah dengan Quen? Apakah kau tidak tahu bagaimana gilanya aku saat itu sampai aku shock dan pinsan di atas pelaminan? Bagai mana tidak? Pulang dari Singapura kau memberi kabar dan sepakat kita akan datang dalam malam resepsi bersama tapi, kau tak bisa dihubungi. Ketika aku tiba kau malah duduk sebagai mempelai prianya. Apakah saat kau melakukan itu kau tidak memikirkan bagaimana aku, Lex? Kau pria, tak mungkin Quen tahu sudah berapa kali kau bermain dengan wanita. Tapi aku? Sekali saja denganmu. Selanjutnya laki-laki juga akan tahu kalau aku sudah tidak perawan lagi. Kau biarkan aku begitu saja menjadi barang bekas." Isak Helena.


Quen terkejut mendengar ucapan wanita yang tengah berbicara dengan suaminya. Ia menutup mulutnya dengan tangannya sampai ia melupakan kalau nampan di tangannya lumayan berat. Tak akan bisa di angkat dengan tangan sebelah. Alhasil benda itu pun jatuh dan menimbulkan suara pecahan yang ranying.


"Maaf, aku tidak hati-hati. Biar aku beresekan, kalian lanjutkanlah!" Seru Quen sambil berlari ke halaman belakang.


Alex tak memperdulikan Helena. Ia sibuk mengejar Quen dan mencarinya.


Sedangkan Quen sendiri bersembunyi di balik dinding tempat tidur tukang kebun. Ia menangis sambil menutup mulut dengan kedua tangannya agar tidak menimbulkan suara.


"Ya tuhan. Seharunya aku menerima ini dengan hati tenang. Bukankah ini adil? Aku menikah dengan Alex juga sudah ridak lagi perawan. Tapi, kenapa saat mendengar ucapan Helena tadi hatiku terasa sakit?" batin Quen. Sedangkan air matanya semakin deras mengalir tak terkendali.


"Quen! Kau di mana sayang?" teriak Alex.


Hening~~~ tak ada jawaban.


Alex terus melangkah, mengintari halaman belakang. Ia yakin Quen tidak jaug dari sini. Karena begitu gia berlari keluar, ia langsung bergegas menyusulnya.


Quen terus terisak. Mendengar suara Alex hatinya terasa semakin sakit saja. Entah sakit yang bagaimaka ia pun tak dapat mengerti dan mejelaskannya.


Alex terus melangkah hingga tiba di dekat kamar penjaga kebun, ia melihat Quen duduk melipat kedua lutunya bersandar pada dinding dan menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya sambil memeluk kedua kakinya.

__ADS_1


Perlahan Alex mendekati Quen dan ikut berjongkok, dengan hati-hati pria itu mengelus punggung Quen.


"Maafkan aku."


Quen masih tidak merespon, dia masih menyembunyikan wajahnya.


"Akan aku jelaskan. Sebelum aku mendekatimu Helena sudah lebih dulu mengejarku. Tapi, aku mengabaikannya. Aku hanya fokus dengan dirimu. Tapi, bersamamu aku merasakan sesuatau yang berbeda. Ada perasaan aneh yang selalu ingin menjagamu sehingga aku tidak pernah melakukan hal yang lebih dari sekedar menggandeng tanganmu, itu pun aku lakukan untuk menunjukan pada dunia kalau kau miliku. Lain halnya dengan yang lain, justru dengan mudahnya memberikan tubuhnya padaku secara cuma-cuma. Tapi, aku hanya melakukannya dengan Helena kala itu. Karena aku tahu, dia tidak pernah dekat dengan lekai manapun selain aku. Ya intinya dia cuma pelampiasan nafsuku saja, Quen. Aku sudah jujur padamu, jika kau benci aku mulai saat ini, terserah, kau boleh benci dan marah. Tapi aku mohon jangan acuhkan aku begini atau pergi meninggalkan aku, aku mohon, Quen."


"Aku gak marah sama kamu, terimakasih atas kejujurannya. Masa lalumu tak ada kaitannya denganku, begitupun sebaliknya. Maafkan aku yang barusan, ya?" Quen berusaha tersenyum sambil mentap mata Alex.


Alex tertegun sesaat melihat wanitanya menangis karenanya. Bahkan masih berusaha tersenyum. Ia mengulukan kedua tangannya dan menyeka air mata itu lalu memeluknya.


"Aku yang salah, maafin aku, ya?" bisik Alex sambil mendekap erat tubuh Quen.


Sementara Helena sudah merasa bosan menunggu di ruang tamu sendirian. Bahkan sudah hampir tiga puluh menit pemilik rumah satu pun tak ada yang kembali menemuinya. Akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi saja.


             🍁 🍁 🍁


Sudah dua minggu lebih Vico putus dengan Lyli. Membuatnya berlaku formal seperti orang yang tidak saling mengenal, keramahan tak lagi Lyli temukan di wajah pria itu, apalagi joke-joke nya seperti dulu. Jika Vico ada perlu dengan Al, ya langsung saja dia menunggu di mana kiranya tidak melihat gadis itu lagi.


Di taman belakang Al dan Vico asik mengobrolkan entah apa, yang jelas keduanya nampak asik dan saling terbahak.


Clara menghampiri merka sambil membawa makanan ringan buatannya sendiri.


"Asik sekali kalian! Ngobrolin apa?"


"Eh, ada tante, ya? Gak ada tan, biasa urusan kerja tante."


"Vico, maaf ya. Bukannya mau ikut campur, lagi berantem sama Lyli, ya? Kok beberpa minggu ini tante lihat kalian saling diam?"


"Kami sudah putus tante. Biarkan saja. Dia tidak mau serius. Memutuskanku saat aku melamarnya, jadi, tak perlu dipertankan bukan wanita seperti itu?"


"Curhat, nih, yeeee," sahut Al sambil memakan snake bawang buatan mamanya.


Clara tertawa, dan pamit kembali ke dalam "Hahaha, ya sudah. Kalian lanjut, mama mau ke dalam dulu. Vico makan malam bareng kita, ya?"


Begitu Clara sudah masuk ke dalam dua pria muda itu kembali melanjutkan obrolannya dan kembali tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2