
Begitu masuk ke dalam rumah besar tersebut. Queen dan Al
langsung disambut oleh putrinya. Gadis kecil itu berteriak meski hanya mampu
berkata. “Pa… Ma… “
Namun dari sorot matanya yang berbinar, sudah bisa mewakili
apa yang akan ia katakan.
“Halo, Sayang. Apakah harimu sangat menyenangkan?” ucap Queen sambil memegang tangan kecil putrinya yang berada pada gendongan
suaminya.
Gadis kecil itu tertawa dan menunjuk ke sebuah arah. Al mencium pipi cubi itu dan berjalan mengikuti petunjuk putrinya.
“Apakah kau membuat surprise untuk kami, sayang?” tanya Al penasaran.
Sementara Berlyn hanya tersenyum penuh arti. Melihat Berlyn yang seperti ini, dia sungguh mirip sekali dengan mamanya. Al melirik sekilas pada istrinya yang berjalan di sebelahnya, lali kembalu mencium pipi Putrinya sekali lagi.
Tiba di ruang tengah, ada sebuah mainan berbentuk kue dan
ice cream cone di pinggirnya. Queen dan Al tertawa sambil berkata, “Apakah itu hasil karyamu, Sayang?”
Gadis itu tertawa, mengangguk dan menunjuk pada kakek
buyutnya.
“Oooo jadi, kakek buyut membelikanmu mainan play doh dan kau
membuat kue serta ice cream itu untuk kami? Bagus sekali sayang? Apakah kau
ingin seperti tante Nayla?” tanya Queen.
Gadis itu menggelengklan kepala dan memberi isyarat, kalau dia akan melakukan ini hanya untuk papa dan mamanya saja.
"Ih, kamu baik banget, deh. Mama sama papa makin sayang tau, sama kamu." Kali ini Queen yang berjinjit untuk mencium pipi Putrinya.
Tak lama kemudian, Clara dan Vano membawa sebuah kue dengan
tema pernikahan yang dihiasi mawar merah dan putih serta Mutiara di pinggiran kuenya. Cantik, mewah namun elegant dengan tambah patung miniatur pengantin lelaki dan perempuan.
“Acara apa, ini?” tanya Queen bingung.
“Heppy anniversary yang ke enam, Sayang,” ucap papa Vano dan juga mama Clara.
“Ya ampun… bagaimana aku bisa lupa, gini sih?” Queen menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Al, Queen selamat ya sayang. Semoga hubungan kalian langgeng dan kian biak lagi sampai akhir nanti," ucap kakek Andrean sambil memeluk kedua cucunya secar bergantian.
"Terimakasih, Kakek. Bahkan kalian masih ingat dengan kecil seperti ini," ucap Queen terharu sambil mengusap air matanya.
"Kalian terlalu sibuk mengurus kasus perusahaan yang dipegang Al, apa benar-benar lupa dengan tanggal pernikahannya, sih?" tanya Andrean sambil tertawa.
"Duh, hampir saja aku mati, Kek di hari pernikahan sendiri waktu itu."
Andrean yang sudah tahu semuanya hanya tertawa dan berkata, "Walau awalnya kurang baik. Tapi, karena niatnya bagus, akhirnya bahagia juga kan?"
"Kakek Benar."
"Apa, Al hampir terbunuh? bagaimana bisa?" tanya Clara terkejut.
"Hehehe, apakah papa belum cerita Sam kamu, Ra? Nanti saja tanyakan pada suamimu. Dia sudah papa beri tahu semua." Andrean hanya terkekeh saja. Bukan menertawakan putri sambungnya. Melainkan teringat bagaimana kisah cinta Al dan Queen yang seolah berbanding terbalik dengan Clara dan Vano dulu.
Sedangkan Queen hanya tersipu malu saja saat mengingat bagaimana ketika dulu ia dengan liciknya mengambil pistol dari pinggang Al dan hendak menembakkan pada perutnya. Namum, pistol tersebut kosong tanpa peluru.
Al yang menyadari bagaimana kondisi Queen berusaha mengalihkan perhatian dengan menanyakan sesuatu pada putrinya yang masih ia gendong sedari tadi.
“Oh, papa tahu. Berlyn juga ingin membuatkan sesuatu untuk
papa dan mama, ya? Apakah ada sesuatu yang Berlin ingin katakana pada kami?” tanya Al lagi.
Kemudian gadis kecil itu mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya dan memberikan pada papanya.
Ternyata sebuah ucapan doa yang dittulis dengan tulisan
tangan yang masih acak-acakan. Tapi, masih bisa dibaca meskipun tulisannya
tidak rapi. Namun, jika mengingat usia Berlyn yang baru lima tahun, ini lebih
baik daripada anak yang seusia dengannya.
“Selamat hari ulang tahun pernikahan papa dan mama. Semoga
kalian selalu sehat dan menjadi orangtua terbaik untukku dan juga Clarissa. I love you mom and dad.”
“Terimakasih, Sanyang,” ucap Al dan Queen bersamaan sambil mencium sisi pipi putrinya.
Mereka pun merayakan hari ulang tahun pernikahan dengan
keluarga saja. Meskipun sederhana, tapi cukup membuat pasangan suami istri muda itu merasa bahagia dan juga sangat terharu. Setelah perayaan dan makan malam bersama, mereka menggunakan waktunya untuk bercengkrama bersama, dan juga
melakukan panggilan video dengan Clarissa salah satu putri kembarnya dan mami Jeslyn yang berada di Singapura.
Pukul Sembilan malam, Al meminta agar putri kecilnya segera
tidur. Ia berencana mengajaknya jalan-jalan ke mall. Tanpa tawar menawar gadis kecil itu mencium pipi Al, kemudian bergantian menghampiri Queen dan menciumnya sebagai ucapan selamat tidur.
Awalnya Al ingin mengantarkan Berlyn ke kamarnya, dan
__ADS_1
membacakan dongeng untuknya. Tapi, bocah itu menolaknya. Mungkin ia ingin papa dan mamanya menghabiskan lebih banyak waktu bersama di hari ulang tahun pernikahannya. Meskipun ia tidak mengerti apa itu pernikahan. Tapi, ia tahu, ulang tahun dan juga potong kue adalah sebuah perayaan yang menyenangkan.
“Al, Queen. Ini sudah larut. Dan kalian besok ingin mengajak Berlyn jalan-jalan bukan? Cepatlah istirahat biar tidak kesiangan bangun,” ucap Clara pada kedua anaknya.
“Oh, baik Ma. Kalau begitu kami masuk kamar dulu, ya?” ucap Queen bersemangat dan mengajak Al ke kamar buru-buru.
Al merasa sedikit heran dengan tingkah istrinya yang tidak seperti biasa. Aneh saja, tiba-tiba dia yang sangat bersemangat untuk masuk ke kamar. Kembali Al tertawa seorang diri teringat Ketika di mobil tadi istrinya memanggilnya sayang.
Tiba di kamar,
Al langsung memeluk istrinya dari belakang dan mencium lehernya dari belakang.
“Al…. “
“Apa? Kau maubini, kan? Apakah kau sudah tidak sabar lagi?”
“Hah? Mau apa?” Queen memegang tangan suaminya dan ia berbalik badan berhadapan dengan pria
yang telah mencumbunya dari belakang.
“Kamu horny ya? Di mobil manggil aku sayang mesra banget, dan tadi pas di suruh mama buat istirahat juga semangat banget?” tanya Al to the point.
“Ih, dasar mesum, deh kamu!” seru Queen sambil memukul
lengan pria di hadapannya. "memang harus horny apa jika seperti itu?" imbuhnya.
“Lalu apa?” Seolah Al masih belum juga terima dengan alasan istrinya.
“Aku lupa kalau ini adalah anniversary kita yang ke enam,
dan aku Cuma ingin ngajak kamu berbicara empat mata saja, kok.” Queen pun beranjak mengambil piyama. Itupun ia mengambil yang tidak sexi.
Sementara Al hanya menggaruk kepalanya saja yang tidak gatal. “Kamu mau bicara apa sih, Sayang?”
“Kemari!” Queen menepuk tempat sebelahnya ia bersandar.
Tanpa sepatah kata pun, Al menurut saja dan duduk di sebelah
istrinya, masih dengan pakaian kantor.
“Kamu gak mau mandi dulu?”
“Ngapain? Habis ini kan kita bakal kringetan bareng. Sekalian aja mandi juga bersama,” jawab Al sambil tersenyum nakal.
Queen hanya tertawa mendengar jawaban konyol itu. Dia tidak
berani mengatai omesh atau ucapan yang menuju ke penolakan karena ada dua hal. Satu, ini adalah hari ulang tahun pernikahannya, dan yang kedua, dia berharap Al mau izinkan dia pergi ke Bandung. Jika Al tidak mengizinkan, maka ia akan menolak memberikan hak suaminya.
“Yang, aku tiga hari lagi ada acara ke Bandung berkunjung ke Yayasan sosial.“
Al diam tidak menanggapai, perkataan istrinya. ia malah meraih buku yang ada di nakas dan membacanya.
Dengan sengaja ia melakukan Gerakan naik turun pada dada bidang pria itu dan
mendekatkan wajah, sehingga hembusan napasnya mengenai daun telinga suaminya.
Al masih diam. Tapi, raut wajahnya menunjukkan kalau dirinya tidak tenang dan mulai gusar. Bahkan napasnya juga kian berat.
Merasa tidak tahan dengan godaan Queen, dilemparkannya buku dalam genggamannya ke atas nakas
dan mulai menyergap tubuh ramping wanita di sebelahnya hingga berada di bawah tubuhnya.
“Al, kau mau apa?” tanya Queen dengan raut wajah bingung, dan berlagak polos, tak tahu apa yang diinginkan pria yang telah menindih dirinya.
Al tidak menjawab, ditariknya piyama wanita dibawahnya hingga kancingnya terlepas melompat dan menggelinding ke atas lantai.
“Hey, apakah kau sudah gila? Aku mengajakmu bicara kau tidak menjawab apapun dan sekarang, apa yang kau lakukan? Kau merusak kancing piyamaku!” cetus Queen sambil
mendorong tubuh Al di atas badannya.
“Oke, kau boleh pergi. Tapi, berikan hakku dan lakukan dulu kewajibanmu!” Al kembali ke posisi sebelumnya dan membalik dengan kilat, ia berbaring di bawah dan Queen yang ada
di atas.
“Kewajiban apa yang harus aku lakukan?” tanya Queen berlagak tak mengerti. Tapi, bibirnya
tersenyup genit, bahkan nada bicaranya pun juga bercampur dengan sedikit
desahan untuk memancing napsu Al.
“Apa perlu aku mengatakannya, Sayang? Mari kita bercinta.” Tangan Al sibuk meloloskan piyama yang dikenakan Queen dan melepas kaitan branya.
Secara reflek
kedua tangan Queen menutupi buah dadanya yang terbuka karena branya juga telah lolos dari tempatnya, dan terjun bebas ke atas lantai. Tapi sayang, Queen kalah cepat dengan Al, Al yang lebih dulu menahan kedua tangannya.
“Al… “
Tak sabar dengan apa yang dilakukan Queen Al langsung membalikkan tubuh wanitanya dibbawahnya kembali. Sebab, jika tidak begitu apa yang diinginkan tidak akan bisa segera tercapai, karena napsunya sudah berada di ujung tanduk. Al merasa keplanaya sudah sangat pusing sampai rasanya seperti mau
pecah saja rasanya.
******
Setelah menyempatkan
diri untuk mandi dan berganti pakaian serta berdandan rapi, Candra segera melajukan kendaraannya ke rumah Novita. Sampai di sana, Novita sudah rapih, begitu juga dengan Adriel. Dia yang selalu menyambutnya paling nomor satu.
“Halo good boy, apa kabar?” tanya Candra sambil menggendonhg bocah berusia enam tahun tersebut.
__ADS_1
“Kabarku baik, Om. Kabar Om Candra sendiri bagaimana? Kau lama sekali tidak main ke sini. Adriel kangen sama Om Candra,” jawab bocah itu polos.
“Benarkah kau
merindukan om, Hansome? Om sangat terharu sekali. Maaf, jika akhir-ankhir ini
om jarang datang ke mari, Om Candra banyak pekerjaan di kantor good boy.”
Tidak seperti biasanya, Axel yang selalu saja langsung pergi dan menghindar saat bertemu dengan Candra, kali ini tetap berada di tempatnya, bahkan mau menyapanya.
“hey, Om," ucap pria remaja itu, membuat Candra seperti tidak mempercayai itu sampai bengong.
“Candra, kau sudah sampai?” tanya Novita, membuyarkan lamunan pria itu.
“Ya, tentu saja aku sudah datang,” jawab Candra sedikit gugup. Ia masih belum bisa percaya kalau Axel baru saja menyapanya.
Dengan Langkah perlahan
dan sedikit ragu-ragu, Candra melangkah mendekati Axel. Pria itu pun juga memberi tempat untuk duduk di sebelahnya.
Axel, maukah ikut jalan-jalan bersama kami?” tanya Candra dengan hati-hati sekali, ia takut akan jaban ketus dari Axel. Tapi, tidak takut dengan penolakannya. Dengan di
sapa saja Candra sudah merasa ada harapan untuk memenangkan hatinya.
“Tidak, Om. Axel di rumah saja. Apakah besok Om ada acara?” Meskipun maih dengan nada datar, tapi, pertanyaannya membuat hati pria yang di sebelahnya itu terasa melambung tinggi ke angkasa saja.
“Em… sepertinya tidak, selama tidak ada urusan kerja, om Candra selalu menghabiskan waktu di
sini, atau jika tidak ya tetap stay di kontrakan saja. Apakah kau ingin mengajak om keluar?”
“Ya, benar. Aku akan mengajak om Candra ke suatu tempat.” Axel menatap Candra dengan matanya
yang memang selalu nampak menyorot tajam, bulu mata yang lentik serta alisnya yang lurus dan tebal menunjang daya pikat pria tersebut. Setiap Wanita yang bertatapan dengannya, pasti langsung klepek-klepek dibuatnya.
“Baik, Om akan berusaha tepat waktu. Kapan, kira-kira besok? jam berapa??” tanya Candra kegirangan.
“Terserah Om saja. Aku tidak akan menentukkan. Cukup kabari aku saja jika Om akan berangkat kemari agar aku bisa bersiap juga,’’ ucap Axel meyakinkan.
“Jangan begitu, dong Xel. Kamu tentukan saja waktunya .. Biar om Candra bisa segera bersiap,’' jawab Candra.
“Oke, kalau begitu pagi saja biar tidak panas. Om Candra bisa sarapan bersama kami di sini,” jawab Axel membuat Candra lega mendengarnya.
Novita sudah kembali dari kamarnya sambil membawa tas tangannya. ia juga sudah mengganti sandal jepit yang dikenakan tadi dengan flatshoes warna hitam. sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih.
"Apakah kita berangkat sekarang, Ndra?"
"Boleh."
Melihat Novita sudah berada di dekatnya, pria itu pun berpamitan pada Axel yang memilih tinggal di rumah dari pada ikut. Lagi pula, dia juga sudah dewasa. Pasti juga memiliki acara sendiri jika tidak mau keluar ya di rumah game online dengan beberapa temannya melalui chat.
"Ya sudah, kami berangkat dulu, ya Xel. kau berhati-hatilah di rumah, ok?" Candra menepuk pundak Axel.
"Baik. Hati-hati, Om. Aku titip mama dan adikku."
Novita tersenyum tipis saat mendapati putranya sudah mulai akrab dengan Candra.
"Ya sudah, baik-baik di rumah, ya? Kau mau titip apa?" tanya Novita pada Axel.
"Apa saja terserah kalian."
Karena rumah sepi, Axel pun pergi ke kamarnya untuk membaca buku yang dia sewa dari perpustakaan sekolah. Buku tentang rumus matematika dan juga sains.
Dua mata pelajaran itu memang kegemaran Axel sejak kecil. sejak mengenal angka, dia sudah menyukainya. karena kebenaran matematika itu adalah mutlak dan pasti. lain halnya dengan sejarah.
Sementara di dalam mobil, novita menggoda Candra. "Jangan-jangan kau apa-apa kan Axel, Ndra. Bagaimana tiba-tiba bisa seramah itu denganmu bahkan kalian kelihatannya sangat dekat," ucapnya sambil melihat ke arah Candra dengan sok serius. Tapi, di bibirnya menunjukkan senyuman bahagia.
"Memang ku apa kan dia? Aku sendiri juga hampir tidak percaya ini. Tapi, aku bahagia dengan dia yang seperti ini dia akan mengajakku ke suatu tempat besok," jawab Candra sambil terus fokus pada setir mobil yang dipegangnya.
"Oh, ya? Kemana katanya?" Novita penasaran. Dia membatin, apakah Axel akan mengajaknya ke tempat gym omnya, beradu kekuatan boxing dan angkat beban agar dia tahu seberapa kuatnya Candra untuk dijadikan pelindung mamanya selain suami? Ah, itu bisa saja jadi.
Candra hanya mengangkat kedua pundaknya tanpa menoleh ke arah Novita.
"Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya bilang, aku bisa berangkat pagi menghampirinya di rumah, dan sarapan bareng bersama kalian."
Novita menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya melotot seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Candra. 'Benarkah dia bilang begitu dia mempersilakan sarapan bersama kami? This is extraordinary.
"Mungkin dia sudah yakin kalau aku ini benar-benar sudah layak untuk dijadikan papa sambungnya kan aku sudah janji sama kamu aku bakal sayang kok sama dia dan juga Adriel. Sekalipun kita sudah memiliki anak kita sendiri nanti," jawab Candra dengan nada lirih.
Kemudian dua insan tersebut menoleh ke belakang melihat ke arah Adriel bocah berusia 6 tahun itu yang tengah asyik bermain gadget tanpa peduli dengan dua orang dewasa yang berada di depannya.
"Kamu jangan gr dulu. Axel itu penuh surprise lo siapa tahu kamu diajak adu gulat dan kalau menang kau boleh menjadi ayah kandungnya jika kau kalah darinya... aku tidak mau mengatakannya," ucapkan Novita sambil terkikik.
Mendengar jawaban itu mata Candra melotot. i.Ia terkejut dengan cepat menoleh ke arah Novita lalu kembali menghadap ke jalanan. "Kamu serius dia seperti itu? soal usia boleh dia lebih muda dariku tapi soal tenaga dan kekuatan bahkan skill aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dia setiap minggu dia rajin ke GYM dan juga tempat fitness. Sedangkan aku hanya duduk bermain gadget dan layar monitor Aku saja mana mungkin aku bisa mengalahkan nya?" ucap chandra prustasi.
"Kamu anggap serius kah kata-kataku?" Novita tertawa.
"Memang kamu bercanda?"
"Jangan anggap serius kata-kataku. Tapi, jangan pula kau anggap aku berbohong padamu. aku cuma sekedar kasih tahu saja kalau dia itu penuh surprise."
"Lalu, gimana dong? kira-kira apa yang akan ia lakukan bersamaku?"
"Mana kuatahu."
"Baiklah, besok lah kita lihat saja. Bukankah rasa takut itu untuk dihadapi, bukan untuk dinikmati?"
"Itu kamu ngerti."
Saking asiknya bercanda tanpa terasa mobil mereka sudah sampai di parkiran mcdonald.
__ADS_1