
Pagi ini Berlyn bangun lebih awal. dia tidak akan membiarkan
mamanya heran dengan baju yang dia pakai. Sebab, semalam dia tidak bertemu
dengan Clarissa. Jadi, jelas, tak bisa bertukar pakaian. Ia segera mandi dan
memakai seragamnya sendiri, jadi, saat mamanya masuk kamar hendak
membangunkannya…
“Hey, Sayang. Kau sudah rapih? Jam berapa kau bangun?” tanya
Queen merasa surprise.
Gadis itu tersenyum, menunjuk pergelangan tanganya kemudian telunjuknya mengacung ke samping kemudian merenggangkan kelima jari kiri dan mengacungkan jempol kananannyal. Yang artinya, dia banguin jam
setengah enam. Pantas saja jika sudah berseragam rapi.
“Buku pelajaran sudah disiapkan apa belum, Sayang? Kalau
belum, kita siapkan dulu.”
Gadis itu hanya mengacungkan telunjuknya sambil tersenyum
pada mamanya. Dalam hati, bukan dia yang menyiapkan jadwal itu. tapi, Clarissa. Semalam pulang dari singapura gadis kecil itu coba cek tas sekolahnya, ternyata semua sudah rapi dan sesuai jadwal hari ini.
“Anak mama benar-benar kian pinter. Ya sudah, tunggu mama di
meja makan, mama akan siapkan sarapan untuk kamu, oke?” Queen berjalan sambil
menggandeng tangan anaknya.
Sampai di dapur, ia mematikan oven dan mengambil sebuah cake
warna kuning, seperti bolu, Cuma lebih pucat, tepatnya warnanya seperti keju,
cake itu berbentuk bulat, kemudian, ia
meletakkannya dalam sebuah wadah yang lebar.
Setelahnya ia memotong dan meminta agar putrinya mencobanya.
Dari texture saja terlihat, kalau cake tersebut sangat lembut dan enak.
“Coba kamu makan, Sayang. Jika enak, mama akan buatkan lagi
untukmu lebih banyak. Tapi, jika tidak, harap dimaklumi, ya? Mama masih tahap
percobaan dan masih belajar,” ucap Queen seraya menyodorkan piring kecil berisi
sepotong cake tersebut dengan garpu kecil.
Dengan antusias pula Berlyn mencicipi. Dia diam sesaat tanpa
ekspresi, membuat Queen penasaran dan takut kalau saja rasanya tidak enak.
“Bagaimana, Sayang? Tidak enak, ya?”
Gadis itu meletakkan garpu yang dipegangnya kemudian
memberikan dua jempol pada mamanya.
“Seenak apa sampai kau beri dua jempol, Sayang?” ucap Queen sambil
tertawa saat menerima ciuman dari putrinya.
Sedangkan di Singapuram di sebuah rumah flat nomor 24 blok 33 Pasyris
terjadi kehebohan di pagi hari, mana kala Jeslyn hendak membangunkan Berlyn.
Tapi, di dalam kamar yang dia dapati adalah seorang gadis kecil nemakai rok span hitamhitam jaket kulit hitam dan dipadukan serta dipadukan dengan spatu hak tinggi sampai paha yang biasa artis K-Pop pakai. Dengan dandanan sesanggar itu, gadis kecil itu duduk dengan gaya cool di kursi belajarnya. Lalu, dengan santainya menyapa wanita tua itu dengan
Bahasa Mandarin. “Cau an, Ama. Ni hau ma?” yang berarti selamat pagi ama. Apa
kabar?
“Clarissa? Di mana Berlyn?” tanya wanita itu terkejut sambil
mengedarkan pandangannya ke sluruh penjuru ruangan.
“Hahaha. Tentu saja dia sudah berada di Indonesia, coba saja
telfon dia,” jawab Clarissa sambil terkikik. Kemudian melompat turun.
“Kapan kau datang? Dan bagaimana dia pergi?”
“Semalam, saat ama dan semuanya tidur. Cepat bukan? Aku kan
punya pintu ajaibnya doraemaon,” jawabnya sambil terus terkikik.
Karena kesal dan merasa sia-sia jika terus berdebat dengan
cucunya yang satu ini, ia pun berbalik arah meninggalkan kamar cucunya. Dicarinya benda pipih yang hampir tiap detik ia pegang, langsung ia memvideo call pada Queen menantunya.
Pagi itu, Queen meletakkan ponselnya di atas nakas kamarnya.
Kebetulan, Al masih belum bangun pagi ini. Mungkin saja semalam dia meminum banyak air dari ceret. Jadi, dia tidurnya kian lama saja.
Mendengar suara bising dari ponsel istrinya Al mengeliat,
melenturkan saraf-sarafnya ototnya yang tegang dan kemudian diraihnya benda pipih tersebut dan menjawabnya.
“Mami, tumben sepagi ini kau telfon. Apakah ada masalah?”
tanya Al dengan suara serak dan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
“Di mana Queen, Al?” tanya Jeslyn dengan lembut.
Al kembali mengeliat dan sebelah tangannya meraba-raba sisi
sebelahnya dengan mata yang masih terpejam. “Dia tidak ada, Mam. Dia di kamar mandi,” ucapnya sambil melihat jam dinding yang tergantung di atas pintu kamar.
“Mama penting, ya? biar aku cari dia,” ucap Al dengan langkah yang berat.
“Ya, cepat cari dia. Di sini sudah pukul setengah delapan
harusnya di sana sudah pukul setengah tujuh pagi kan, Al? kau bahkan belum bangun,” omel Jeslyn dadi dalam layar sentuh itu.
Al tak hiraukan omelan maminya. Ia berjalan menuju toilet
dalam kamarnya dengan Langkah yang sedikit sempoyongan. Di dalam kosong tak ada
siapapun. Tapi, dalam wastafelnya basah. Artinya dia sudah bangun.
“Bentar ya, Ma. Mungkin dia di kamar nyiapin sarapan,” ucap Al. Bahkan dia saking masih ngantuknya tidak sadar kalau dia salah bicara.
Tiba di ruang makan ternyata istrinya tengah asyik bersama
putrinya menikmati cake.
“Halo papa! Cuci muka dulu, Pa!” teriak Clarissa dari layar
tersebut dengan suara yang keras, sementara Al hanya tersenyum tipis saja melihat ulah putrinya yang satu ini.
“Ama mau bicara sama mama kamu, Sayang. Setelah memberikan
ponselnya pada ama, papa sekalian mandi, dong,” jawab Al.
“Kenapa mandi, Pa?” tanya Clarissa lalu tertawa tertahan.
Hampir saja dia kelepasan mau bilang, gitu saja papa sudah ganteng apa lagi
mandi. Makin banyak pelakor ngantri. Tapi, ia sadar, itu bukan kata-kata yang
pantas dikatakan oleh anak susianya.
“Papa harus bekerja sayang.”
“Orang sini, kalau mau bekerja cukup cuci muka dan gosok
gigi saja. Mandi itu malam sebelum tidur setelah segala aktifitas kelar, pa,”
jelas Clarissa panjang lebar.
“Ini kan Indonesia, Sayang. Air tak semahal di sana,” jawa
Al dengan santai. “kamu bicara sama mama dulu, ya?” Al pun memberikan ponselnya
pada Queen.
Sementara Clarissa terus mengamati mamanya. Dalam hati ia
bergumam, ‘Beruntung sekali aku memiliki papa dan mama yang cantik dan tampan. Pasti banyak predator di luaran sana yang menginginkan salah satu dari mereka. Jadi, sebagai penerusnya papa,
aku akan jaga mereka.’
“Hay, Mama. Apakah kau tidak rindu aku?” sapa Clarissa.
Sementara Berlyn hanya tersenyum saja. Mungkin gadis kecil itu membatin, kalau
dirinya sudah sebulan lebih tinggal di sini, meskipun sebagai Berlyn.
“Insyallah akhir bulan mama, papa dan Berlyn main ke sana, oke? Kamu baik-baik di sana, ya. jangan nakal.”
__ADS_1
“Aku anak baik, mana mungkin nakal.”
Queen hanya tersenyum saja, sementara Jeslyn, wanita tua itu
hanya tertawa pahit. Karena dia yang tahu segalanya mengenai Clarissa yang kelakuannya melebihi gadis dewasa.
“Mami apa kabar?” sapa Queen.
“Mami baik-baik saja. (Itu yang terucap dari mulutnya. Tapi, dalam hati, dia menggerutu anakmu yang super ini telah membuat mami jantungan) Bagaimana kau, Berlyn dan Al? apakah kalian bertiga baik-baik saja?”
“Iya, Mam. Kami bertiga baik-baik saja di sini,” jawab Queen.
“Ya sudah, kau pasti sibuk kita lanjut lain kali saja, ya?”
ucap mami Jeslyn. Kemudian mengahiri panggilannya.
Karena ini sudah setengah tujuh, dan Queen sendiri belum
mandi, akhirnya, dia meminta agar Dedi yang mengantarkan Berlyn ke sekolah. Ia
akan ke klinik nanti sekitar pukul sembilan. Karena semalam dia tidur lebih awal, dan tidak sempat menyiapkan baju kerjanya Al. Segera ia berlari ke kamar menyiapkan pakaian yang akan suaminya pakai ke kantor.
“Berlyn sudah berangkat, Sayang?” tanya Al yang baru saja kelur dari kamar mandi dan hanya
mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah pusarnya sampai setengah pahanya saja.
“Sudah. Baru saja. Aku minta Dedi yang anter. Soalnya aku
juga belum mandi,” ucap Queen sambil mnyiapkan kemeja, dasi celana kantor dan cd milik suaminya.
“Semalam tumben ya jam setengah sembilan sudah ngantuk
banget. Kamu juga tidur cepet, gak?”
“Iyaa, tapi, jam enam aku sudah bangun, sampai Berlyn sudah
mandi dan memakai seragamnya sendiri.”
“Kenapa, ya? apakah kita terlalu capek?” terka Al.
“Bisa jadi, kamu tidur lebih awal. tapi, bangun siangan. Sekarang masih ngantuk tidak? Kubuatkan kopi hitam, ya?”
“Boleh.”
Ya sudah, pakai bajumu. Aku tunggu di meja makan,” ucap
Queen hendak beranjak. Tapi, Al dengan cepat menarik lengan istrinya dan
membawa dalam pelukannya.
“Ini sudah siang. apakah kau tidak takut terlambat?’’ ucap
Queen merasa tidak pede. Karena dia belum mandi dan masih bau dapur. Sementara
suaminya masih fresh baru keluar dari oven. Dari kamar mandi maksutnya.
Emangnya cake, dari oven?
“Memang kenapa kalau aku terlambat? Tidak ada yang akan
memarahiku, kecuali kau,” bisik Al terus dan kian mengeratkan pelukannya.
“Ya, ya. Tapi, aku masih bau dapur,” jawab Queen. Malu-malu
sambil memalingkan wajawanya ke samping.
“Masa, sih? Coba lihat? Kau tetap cantik dan wangi,” ucap Al
sambil mencium leher Queen.
Sementara Queen hanya diam saja.
“Terimakasih, atas semuanya.”
“Semuanya? Apa? Kau yang banyak mendukungku.”
“Tapi aku bukan siapa-siapa tanpa papa dan mamamu. Dia
mengasuhku sejak usia enam tahun, dan gara-gara ulahku juga, papa mama harus meninggal dengan seperti itu.”
“Cukup!” Queen meletakkan telunjuk kanannya di depan bibir Al.
“Aku percaya ini takdir. Bersamamu aku bahagia, cukup jangan
lagi sentuh dunia hitam itu lagi, jadilah manusia yang normal. Dengan begini
saja kita tidak kekurangan apapun.”
“Coba katakana. Apa yang harus aku lakukan sebagai ungkapan
“Cukup kau cintai aku dan setia sampai nanti, saat salah
satu diantara kita mati.”
Al kembali memeluk Queen, sepertinya ia lupa kalau masih
belum memakai apa-apa selain handuknya tadi.
****
Akhir pekan pun tiba, dengan semangat, Novi mempersiapkan
keperkuannya ke Jakarta untuk bertemu dengan sulungnya. Memang setiap dua
minggu sekali Axel selalu mengunjunginya ke Jogja. Tapi, sudah lama sekali dia
tidak bisa menikmati harinya dengan bebas bersama sulungnya. Apalagi, sudah
tiga bulan ini dia tidak bertemu dengan Lutfy. Keponakannya dari adik
satu-satunya yang dia milikki.
“Uda, siap semua?” tanya Candra.
“Sudah, semuanya beres,” jawab Novi.
Candra pun mengangkut barang-barang ke dalam bagasi mobil. Di sana, barang bawaan
mamanya sudah rapi tertata. Tinggal berangkat saja.
“Ini kita langsung ke rumah kamu, apa ke rumah adik kamu,
Nov?” tanya mama Dian, yang kini duduk di kursi belakang bersama Adriel.
Sementara Novita duduk di depan menemani suaminya mengemudi.
‘’Ke rumah dulu, Ma,” jawab Novi sambil tersenyum lembut,
menoleh ke belakang.
“katanya Axel hanya berkunjung saat membersihkan rumah saja
kalau di sana, Nov?”
“Benar, Ma. Tapi, Novi uda telfon tadi, kalau kita akan
berkunjung. Novi minta dia agar pulang dulu menunggu kita.”
“Wah, benar-benar anak berbakti dia, ya?”
“Alhamdulillah, Ma.’'
“Oh, iya. Jadi, selama ini semenjak kamu pindah, dia lebih
suka tinggal di rumah om-nya, ya? kasian banget Axel, ya? andai saja dia mau
pindah juga ke Jogja. Kalaian bisa berkumpul bersama.
“Dia aja kuliahnya tetap di Jakrta, dan Mama minta dia pindah ke Jogja tinggal bareng kita. Sama aja bohong. Toh selama ini dua minggu
sekali dia juga ke rumah, kan Ma?” timpal Candra.
“Iya, juga sih. Mama jadi merasa bersalah sama kalian,” ucap
mama Dian dari belakang dengan wajah murung.
Candra memasang muka datar menanggapi tingkah mamanya yang
baginya lebai. Berkali-kali merasa bersalah tapi omong doang. Beruntung ada Novi.
Jika tidak, mungkin ibu dan anak ini juga akan beradu mulut.
“Ma, jangan begitu. Sudah menjadi kewajiban kami untuk
berbakti pada mama. Iya, kan Ndra?” ucap Novita.
Tak ada jawaban dari Candra. Dia dengar tapi berlagak tidak
mendengar.
“Ndra!” Novita mengencangkan suaranya dan mencubit lengan
suaminya.
__ADS_1
“Ya, Novita benar, Ma. Walau aku-nya nyesek.”
“Candra!” bentak Novi dengan suara tertahan sambil melotot
ke arahnya.
“Candra Cuma bercanda, Ma. Jangan ambil hati,” ucap pria itu
sambil terkekeh.
“Mama merasa kalau kau ini adalah orang lain, Ndra. Tapi,
Novita lah yang anak mama,” ucap mama Dian.
Candra hanya diam dan cengar-cengir saja. Dan selama
perjalanan, mereka bertiga hanya mengobrolkan sesuatu yang ringan saja hingga
tanpa sadar mereka sudah tiba di depan rumah milik Novita.
Candra sengaja tidak turun. Ia menunggu putra sambungnya
yang kini sudah beranjak dewasa yang keluar membukakan pagar untuk mereka.
Diam-diam pria itu juga memiliki rasa rindu juga dengan Axel. Walau dia
cenderung pendiam dan tak banyak bicara, tapi, menyenangkan juga jika diajak
sharing dan membicarakan sesuatu. Terlebih itu terkait psikology.
Tidak lama kemudian seorang remaja berkulit putih dengan
tinggi kira-kira 182cm berlari dari dalam rumah menuju pagar dan membukakannya.
Setelahnya, ia langsung menyambut papa mama dan adiknya.
Adriel yang memang sangat dekat dengan kakanya, dia langsung melompat minta
gendong dan tak mau turun. Sepertinya Axel kelelahan. Terlihat di pelipis dan
rambutnya yang basah oleh keringat.
“Kamu bersih-bersih rumah sendiri, Xel?” tanya Novita sambil
memperhatikan putranya.
“Tidak. Aku ajak Bilqis buat bantuin. Habis nanyain mama
sama Adriel terus,’’ jawab Axel dengan datar.
Mendengar jawaban itu, seketika Candra dan Novita saling
pandang dan sama-sama tertawa tertahan saja.
Axel tidak mau berdebat. Meskipun dijelaskan juga percuma,
dia langsung memberi salam dan sambutannya pada nenek tirinya itu, kemudian
mempersilahkan, dan masih dalam keadaan menggendong Adriel yang bongsor itu.
“Selamat siang, Tante,
Om. Nek,” sapa Bilqis dari dapur sambil membawa nampan berisi minuman dan
timamissu. Mungkin dia bawa dari salah satu putline mamanya. Sebab, Nayla
pernah cerita, kalau Bilqis sama sekali tidak bakat dalam dunia perkuean.
“Lama gak ketemu, ya Bilqis. Makin besar dan makin cantik saja.
Wah, kak Axel ngrepotin kamu, kamu harus minta imbalan padanya nanti, kan malam minggu ini,” ucap Novita, sengaja menggoda putra sulungnya.
“Ma, aku Cuma minta bantuan dia saja,’':jawab Axel tetap dingin.
Hanya saja, menurut Novi dan Candra Bilqis kini banyak
berubah. Dia jadi sedikit pemalu dan tak pernah lagi mepetin Axel.
Setelah berbincang-bincang dan melepas penat. Malam sekitar pukul enam, mereka berniat
pergi ke rumah Alex, untuk menjenguk Lutfy, sama ibunya juga tentunya.
Sementara Axel, ia mengantarkan Bilqis pulang dulu. Jadi, dia berangkat lebih awal, sejak pukul empat lewat tigapuluh menit tadi.
Setiba di depan rumahnya, Bilqis langsung turun dari motor
sport warna merah milik Axel. Di bukannya tas, ia mengorek isinya sampai
dikeluarkan seluruh barang yang ada di dalamya dan menumpahkannya di atas tanah paving sampai membalik posisi tas. Tapi, sepertinya yang di acari tidak ada.
Axel yang sedari tadi cuek dengan kelakuan Bilqis tidak
tahan juga untuk tidak bertanya. Akhirnya dilepmarkannya sebuah pertanyaan juga.
“Ada masalah?”
Dengan muka melas Bilqis menoleh ke arah Al dan berkata
dengan wajah melas, “Mama berada diluar kota. Dan baru besok siang akan pulang. Sedangkan
aku tidak membawa kunci. Entah lah, aku memang benar lupa tidak membawanya apa
menghilangkannya aku juga tidak tahu. Gimana, dong?”
Axel menghela napas panjang dan bergumam dengan lirih,
sangat lirih hampir tak bisa didengar. “Hmm! Merepotkn sekali.”
“Terus gimana?” Dengan nada yang mendadak meninggi yang menunjukkan kekesalannya dia bertanya.
“Kak Axel mau antar aku pulang ke rumah mama Queen, tidak?”
“Ayo!” ucapnya dengan muka datar dan dingin.
“Kak Axel kek gak ihlas gitu. Sudahlah tidak usah. Daripada nanti
di jalan aku jatoh,” gerutu Bilqis berlagak ngambeg.
“Ya sudah kalau tidak mau. Aku ke rumah omku saja.” Axel
langsung memutar sepeda motornya dan melajukannya dengan pelan, pergi
meninggalkan komplek perumahan Bilqis.
“Dasar pria kulkas! Si bocah dari kutup utara, terkutuk kau!”
umpat Bilqis dengan kesal sambil melempar salah satu sendal yang dikenakannya ke arah Axel.
Karena jarak Axel yang belum jauh, dan kebetulan sendalnya
Bilqis lumayan berat, ia melemparnya dengan sekuat tenaganya. Alhasil benda itu mengenai kepala Axel.
“Apa-apaan, ini?” Pria itu pun berhenti mengambil benda itu dan
mengembalikan pada yang punya.
Bilqis yang melihat adegan di depannya. Wajahnya memerah
karena takut, ia menunduk dan menghadap pagar. Tak memiliki nayali. Jangankan melihat.
Melirik saja dia tidak berani.
“Punyamu?”
“Maaf. Maafkan aku.”
“Kenapa harus melemparkan sendal padaku?”
“Kau tidak mau mengantarkan aku ke tempat mama Queen. Tanpa rasa
bersalah bahkan kau langsung ngeloyong pergi begitu saja. Jadi pria tega banget sih ninggalin wanita yang lupa tak bawa kunci rumah?” ucap Bilqis panjang lebar.
“Ayo kuantar!” jawab Axel datar dan dingin.
“Gak!” seru Bilqis setengah berteriak.
“Kan?”
“Ya kamu sedikit merayuku napa? Maksa dikit gitu tidak bisa
apa?” ucap Bilqis dengan kesal.
Axel pun turun dari motornya. Tanpa banyak bicara
diangkatnya tubuh ramping Bilqis dan dinaikan ke atas ninja merah empat tag miliknya dan dia naik di depannya lalu menyalakan motor dan melaju.
“Hey, hey! Apa yang kau lakukan, Kak? Apakah kau sudah gila?”
tanya Bilqis dengan mata terbelalak karena terkejut. Kenapa tiba-tiba saja Axel turun dan menggendong dirinya.
“Katanya kau minta dipaksa!”
Seketika, gadis itu pun diam saat mendengarkan jawaban singkat
__ADS_1
datar dan dingin dari Axel.