Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 223


__ADS_3

Setiba di apartemen, Queen berganti pakaian santai.


Sementara Al, ia duduk santai di meja makan memperhatikan istrinya yang tengah


menyiapkan bahan-bahan makanan untuk makan malamnya.


Cukup lama Al berdiam diri duduk di tempatnya memperhatikan


Queen yang dengan lincahnya mengerjakan beberapa hal bersamaan, akhirnya ia


pun melipat lengan kemejanya dan berjalan menuju dapur menawarkan bantuan


padanya.


“Perlu kubantu, tuan putri?” tawarnya dengan lembut dan


mesra sekali. Harusnya begitu. Tapi, karena hanya ada rasa muak dan kebencian


saja di hati Queen saat melihat Al, jadi ia pun merasa risih.


“Tidak perlu, aku sudah biasa mengerjakannya sendirian. Kau


mandi saja,” jawab Queen singkat tanpa mengalihkan pandangannya pada teflon dan


adonan tepung untuk menggoreng ikan dori.


"Aku maunya mandi bareng sama kamu, gimana dong?"


"Aku sudah mandi di rumah sakit tadi."


"Jika kau tidak mau mandi bareng cukup mandiin aku saja, gimana? Hehehe."


"Kau pergilah! Jangan menggangguku."


Al yang merasa gemas karena selalu diabaikan, ia pun memeluk


pinggang Queen dari belakang. Menyisipkan wajahnya pada leher Queen dan


bermanja-manja di sana. “Kamu tahu tidak? Tadi, ketika aku mengantarkan kakek


pulang, dia tidak mengizinkanku untuk segera kembali ke rumah sakit, padahal


aku dah rindu berat sama kamu, Sayang.”


“Aaaaal! Aku masih masak dan ada di depan kompor nih, bisa


diam gak?”


“Ya sudah, izinkan aku membantumu kalau begitu,” bisik Al


dengan sensual di dekat telinga Queen.


“Baiklah, kamu taruh ini semua ke meja makan, semua sudah


selesai dan kita bisa makan bersama.”


Al mengedarkan pandangannya pada tumis broccoli, capri


kembang kol wortel dan jagung manis serta ikan dori goreng tepung dan balado


telur. Dalam hati Al memuji kemampuan Queen yang dapat memasak semua masakan


ini dengan cepat dan pasti juga rasanya enak. Tapi, sepertinya tidak ada waktu


untuk menggomali istrinya. Dia lagi dalam mood buruk, memang lelah, kangen sama


papa, atau lagi masa-masa pms aja miht? Gumam Al.


Tidak berhenti di situ, saat makan malam pun Al juga terus


berusaha merayu dan meluluhkan hati Queen. Berkali-kali dia menyuapkan makanan


kepada Queen.


“Besok ikut ke kantor ya sayang, kita akan kedatngan tamu


penting, aku tetap mau kau yang jadi asistenku di kantor, walaupun di rumah kau


adalah nyonyaku.”


“Mana mungkin aku menyandang namamu sebagai nyonya Al? Aku


tidak pantas untuk itu, aku hanya istri kedua yang biasa di pandang sebelah


mata oleh orang-orang, dan mendapatkan cap seorang pelakor. Lain halnya dengan


Nayla. Dia istri pertamamu, dan dialah yang menyandang status nyonya untukmu.


Bawa saja dia bersamamu.”


“Queen, berhentilah berkata demikian, kau berkata seperti


itu tidak pantas,” keluh Al.


“Apanya yang tidak pantas? Memang kenyataannya begitu, kan?”


jawab Queen sambil membereskan bekas sisa-sisa makan malam mereka.


“Kau bukanlah simpananku, aku menikahimu secara sah dan


resmi, hubungan kita diakui negara dengan bukti buku nikah yang ada pada dirimu


dan juga aku saat ini.”


“Tapi semua itu tidak merubah kenyataan, tetap saja aku


istri kedua dan akan dipandang sebagai wanita perebut suami orang, Al.


Sekarang, kau pergilah, pulanglah ke rumah istri pertamamu, ku dengar dari bik


Yul kau juga sudah beberapa hari ini tidak pulang kan? Aku tidak mau terjadi


kesalahpahaman antara aku dan Nayla lagi.”


“Kamu mengusirku, Queen?”


Queen diam tak menjawab, ia mengelap tangannya setelah


selesai mencuci piring dan membersihkan dapur.


“Tidak, aku tidak mau pergi.” Al pun mengankat tubuh Queen


dan membawanya ke dalam kamarnya. Di sana, ia mulai melakukan apa yang biasa ia


lukan pada Queen. Sedangkan Queen yang masih belum bisa menerima dirnya, ia pun


memprotesnya.


“Al, bukan kah pagi tadi kau bilang padaku kalau kau tidak


akan memaksaku sampai aku benar-benar menerimamu?”


“Ya, kau benar sayang. Aku malam ini menginginkanmu, dan aku


juga tidak akan memaksamu,” ucap Al sambil membuka satu persatu kancing


kemejanya dan melemparkannya asak ke atas lantai.


“Ya sudah, kau mau apa?”


“Mau meninta hakku sebagai seorang suami pada istrinya.” Al


pun menerkam Queen yang duduk di ranjangnya, memeluk dan ******* bibir wanita

__ADS_1


itu sambil tangannya bergerilya kemana-mana.


“Apa maksutmu? Sudah kukatakan padamu, aku tidak mau.” Queen


mendorong keras wajah Al dari dirinya. Ia masih saja merasa jijik di sentuh


oleh pria itu.


“Sayang, kau tahu kan hukumnya menolak permintaan suami?


Kamu dosa besar, loh. Sudah jadi hak suami minta dilayani istrinya, dan kewajiban istri adalah


melayani suaminya.” Al tersenyum puas dan penuh kemenangan.


Queen pun akhirnya diam, ia pasrah saja tanpa melakukan


perlawanan dan umpatan pada Al.


Malam ini pun terasa sangat lamban dan tak kunjung siang bagi Quen. Bahkan Al, seperti tiada lelahnya saja menggagahi dirinya dengan berbagai posisi. Sampai bermandikan peluh di sekujur tubuhnya.


“Menyenangkan bukan jika melakukan ini tanpa paksaan dan


suka rela? Lihat saja, kita seperti pasangan yang saling mencintai dan


melengkapi satu sama lain. Aku juga tidak main kasar padamu jika kau selalu


menurut. Tetaplah jadi istri yang baik untukku,” bisik Al di sela-sela


desahannya di dekat telinga Queen yang memejamkan matanya, sejak ia melakukan di depan cermin.


Queen tidak tahu sudah berapa lama ia melayani Al. Ia merasa


kelelahan dan sangat lemas. Sementara di sebelah kanannya, Al sudah tertidur


pulas sambil tangannya memeluk erat pada pinggangnya. Wanita itu mengamati wajah


tampan Al yang penuh dengan peluh. Tanpa sadar, tangannya diarahkan pada kening


hingga pipi Al. Diperhatikannya wajah tampan itu ditatapnya lekat-lekat.


“Bagaimana kau bisa mirip sekali dengan papaku? Wajar saja


aku tidak tahu kalau kau bukan kakak kandungku.” Tanpa sadar, Queen mendekatkan


wajahnya mencium bibirnya dan mengingat kembali apa yang dulu pernah Al katakana


padanya saat ia masih belum tahukalau dia bukanlah kakak kandungnya. Al pernah


bicara kalau cinta pertamanya adalah mama, ia juga mengatakan cinta pertama


seorang anak laki-laki itu adalah mamanya, begitu pun dengan anak perempuan.


Sebab, laki-laki pertama yang memeluknya, mencium dan memberikan cinta yang


besar dalam hidupnya adalah seorang ayah. Ayah yang baik, akan menjadi harapan


setiap putrinya agar kelak ia juga bisa mendapatkan pasangan yang sepertinya.


‘Al… Apakah kau sudah dari dulu diam-diam mencintaiku karena aku mirip mama? Jika memang iya, kenapa tak coba kau katakan dengan baik-baik? Kenapa harus dengan cara seperti ini? Bukannya menerimamu, yang ada aku malah membencimu. Andai saja kau belum jadi suamiku, aku ingin membunuhmu saja, Al.'


Queen terus memandangi wajah Al dengan posisi tangan kiri


masih di pipinya hingga ia pun ikut terlelap.


***123


Kabar kalau Vano sudah sadar begitu cepat menyebar. Tidak


hanya Vico yang ada di luar negeri. Melainkan juga dari keluarga mantan suami Queen.


Alex, dan Novita juga mendengarnya. Novita yang mengetahui hal itu, ia


mengabari kedua orang tuanya yang ada di New York dan juga mengajak kedua


hubungan keluarga, tak ada masalah dinantara mereka, dan akan begitu seterusnya.


“Alex, kau ada di mana?” tanya Novita melalui panggilan


selulernya.


“Aku baru saja tiba di rumah, Kak. Tadi ada urusan di luar


sama Zahara.”


“Kamu denger kabar tidak kalau om Vano sudah sadar?”


“Apa, Kak? Papa sudah sadar? Bagaimana kondisi dia sekarang?”


“Kakak Cuma tahu dari IG milik Queen saja. Apakah kau lelah?


Jika tidak bagaimana kalau malam ini juga kita kesana?”


“Sekarang ya Kak?”


“Kenapa? Kamu belum berani ketemu sama Queen, ya?” tanya


Novita saat mendengar nada sedikit keberatan Alex.


“Jika kau khawatir, kakak bisa lah telfon Queen terlebih


dahulu, jika dia memang ada di rumah sakit tidak apa-apa, kita tunda saja dulu.


Jika tidak, ya kita ke sana sekarang saja.”


“Jangan, Kak. Baiklah kita akan berangkat sekarang. Aku


siap-siap dulu, Kak. Setelah ini aku akan menjemputmu. Apakah Axel juga akan


ikut?”


“Tidak, kita pergi berdua saja. Besok biar mama dan papa yang pergi kesana, aku akan jaga Axel."


Alex pun menutup panggilan dari kakanya dan kemudian besiap


untuk pergi menjemput Noviyta terlebih dahulu.


***


Semakin malam Vano


semakin bosen saja, ingin mengajak ngobrol dengan bibi juga dia sudah kehabisan


topik pembicaraan. Akrinya, ia pun meminta bibi untuk memanggilkan perawat agar


membantunya pergi ke ruang ICU di mana istrinya dirawat.


“Bi, tolong panggilkan perawat, mintakan kursi roda pada


mereka saya jenuh berada di kamar,” ucap Vano pada bibi yang juga nampak jenuh


dan bosan.


“Baik, Tua.” Wanita paruh baya itu pun akhirnya keluar


meninggalkan bangsal di mana Vano di rawat. Kurang dari sepuluh menit lamanya,


wanita itu kembali bersama seorang perawat muda yang tengah mendorong kursi


roda.


“Pak Vano mau jalan-jalan ke mana? Perlu saya temani?” sapa


perawat itu yang usianya sekitar tigapuluh dua tahunan. Jelas dia lebih muda

__ADS_1


darinya dan juga istrinya.


“Tidak perlu. Terimakasih,” jawab Vano dingin.


“Mari, Pak saya bantu anda berpindah ke kursi roda.” Sekali


lagi, wanita itu menawarkan bantuannya dan hendak memegangi tubuh Vano.


“Maaf.” Dengan cepat Vano menampik tangan perawat itu. Kemudian


matanya beralih memandang ke arah bibi dan meminta wanita paruh baya itu untuk


membantu dirinya. “Bi, tolong bantu saya,” ucapnya. Kemudian dengan di dorong


bik Yul, Vano menunjukan jalan menuju ICU. Lalu perawat tadi? Entahlah, Vano


mencuekkannya. Ia merasa tidak nyaman dekat perempuan seperti itu. Jika saja


Clara ada dan bersamanya, pasti ia akan sangat cemburu. Ia faham betul


bagaimana istrinya. Karena istrinya masih belum sadar, ia berusaha untuk tetap setia dan menjaga cintanya pada Clara.


Begitu tiba di dalam ruang ICU, Vano membiarkan bibi melihat


dan mengamati Clara, mungkin juga wanita paruh baya itu juga berdoa untuk


kesembuhannya. Sebab, ia yakin, wanita itu adalah wanita baik, keajaiban yang


dia dapatkannya juga pasti termasuk doanya juga selain keluarga dan orang-orang


terdekatnya.


Begitu ia merasa ingin berbicara sendiri dengan sang istri,


barulah Vano meminta wanita itu untuk menunggunya di luar.


“Bi, Bibi menunggu di luar saja tidak apa-apa. Sebab,


jumblah pengunjung yang boleh masuk di sini sangat terbatas,” ucap Vano dengan


perlahan, ia berusaha untuk tidak menyinggung hati wanita yang hampir dua tahun


lamanya ini bekerja mengurus papa dan juga anak-anaknya.


“Baik, Tuan.”


Setalah memastikan kalau bik yul sudah berada di luar, Vano


menyentuh tangan istrinya dan mengelus kening serta mengecupnya berkali-kali.


“Sayang, waktu sudah bayak berubah, Queen bukan lagi


istrinya Alex sejak setahun yang lalu. Al anak yang kita adopsi sekitar


duapuluh enam tahun silam kini dia juga bisa kita sebut menantu, karena tadi pagi


dia telah menikahi adinya sendiri, putri kita. Tidak apa-apa, Sayang, jangan


halangi mereka. Walaupun Queen masih belum bisa menerimanya, aku yakin kelak


mereka juga akan saling mencintai dan mengisi kekurangan satu sama lain. Jadi,


cepatlah sadar, bujuk putri kita, jika perlu, ceritakan padanya kisah cinta


kita.”


“Sayang, mau sampai kapan kau akan terus begini? Aku sudah


menepati janjiku pasca kecelakaan kala itu. Kita pergi bersama, mengalami


kecelakaan dengan kondisi yang sama, jika ada salah satu di antara kita yang


mati, maka kita akan menyusulnya dan begitu pun sebaliknya. Aku sudah sadar,


lihat saja, Queen bilang aku tidak seperti orang yang habis kritis, kamu kapan


sayang? Jangan biarkan aku kesepian sendiri tanpamu.”


Vano masih sibuk dengan pikiran dan perasaanya di dalam


bersama Clara. Sedangkan Bik Yul hanya diam menunggu sambil duduk di depan


ruang ICU, sesekali ia memandang oada tiga orang berpakaian formal mengenakan


jas hitam yang nampak kaku bagaikan patung it uterus berdiri dari sejak ia


datang sampai sekarang. Yang ada di benak wanita paruh baya itu adalah, ‘Apakah


mereka tidak capek? Apaklah kainya tidak kesemutan atau minimal pegal, gitu?’


Ditengah-tengah kesibukannya dengan tiga orang tersebut yang


merupakan suruhan Al, tiba saja ponsel dari dalam dompetnya berdering. Dengan


segera ia pun mengangkatnya.


“Halo, Tuan.”


“Halo, di mana sekarang, Bi?” jawab suara seorang pria


kira-kira usianya sekitar enamppuluh delapan tahunan itu.


“Ini, saya ada di depan ruang ICU. Tuan Vano  ada di sana.”


“Apa? Bagaimana mungkin?”


“Iya, Tuan, dia tidak seperti orang sakit. Tadi, Nona Queen


juga bilang, jika tuan Vano terus begini, ia akan bisa cepat pulang.”


“Baik, saya akan ke sana sekarang. Apakah Queen sudah


pergi?”


“Iya, mungkin juga tuan Al. Sebab, Tuan Al tadi tetap berada


di mobil dan hanya berpesan pada saya untuk meminta nona Queen segera kembaali,


kerena besok harus bertemu dengan clien penting.”


“Baiklah kalau begitu, Bi. Saya akan ke sana sekarag.”


Andrean pun mematikan panggilannya, dan segera bersiap menuju rumah sakit.


Nayla tersenyum mendengar pembicaraan kakek mertuanya di


telfon barusan. Ia yakin, kalau mala mini suaminya tidak akan pulang. Sebab,


selain sudah beberapa hari ini dia seperti lupa dengan rumah, Tadi sore ia juga


sempat berantem. Dan kakek mertuanya juga akan ke rumah sakit, kemungkinan juga


sampaimpai besok.


“Bilqis, maafkan mama ya sayang? Mungkin ini sedikit kejam.


Tapi, ini terpaksa mama lakukan,” gumamnya seorang diri sambil mencampurkan


sesuatu ke dalam susu yang akan diberikannya pada Bilqis.


Nayla semakin senang saat mendengar kakek mertuanya berkata pada anak buah suaminya agar menjaga rumah dengan baik, sebab, ia akan kembali besok pagi.


Setelah menerima panggilan dari Andrean, Bik Yul kembali masuk ke dalam ruang ICU di mana Clara di rawat. dengan perlahan, wanita paruh baya itu menyampaikan berita kalau papa dari tuan Vano akan segera kemari. Tidak mau membuat papanya khawatir, Vano pun meminta bantuan Bik Yul untuk kembali ke kamarnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2