
Setiba di apartemen, Queen berganti pakaian santai.
Sementara Al, ia duduk santai di meja makan memperhatikan istrinya yang tengah
menyiapkan bahan-bahan makanan untuk makan malamnya.
Cukup lama Al berdiam diri duduk di tempatnya memperhatikan
Queen yang dengan lincahnya mengerjakan beberapa hal bersamaan, akhirnya ia
pun melipat lengan kemejanya dan berjalan menuju dapur menawarkan bantuan
padanya.
“Perlu kubantu, tuan putri?” tawarnya dengan lembut dan
mesra sekali. Harusnya begitu. Tapi, karena hanya ada rasa muak dan kebencian
saja di hati Queen saat melihat Al, jadi ia pun merasa risih.
“Tidak perlu, aku sudah biasa mengerjakannya sendirian. Kau
mandi saja,” jawab Queen singkat tanpa mengalihkan pandangannya pada teflon dan
adonan tepung untuk menggoreng ikan dori.
"Aku maunya mandi bareng sama kamu, gimana dong?"
"Aku sudah mandi di rumah sakit tadi."
"Jika kau tidak mau mandi bareng cukup mandiin aku saja, gimana? Hehehe."
"Kau pergilah! Jangan menggangguku."
Al yang merasa gemas karena selalu diabaikan, ia pun memeluk
pinggang Queen dari belakang. Menyisipkan wajahnya pada leher Queen dan
bermanja-manja di sana. “Kamu tahu tidak? Tadi, ketika aku mengantarkan kakek
pulang, dia tidak mengizinkanku untuk segera kembali ke rumah sakit, padahal
aku dah rindu berat sama kamu, Sayang.”
“Aaaaal! Aku masih masak dan ada di depan kompor nih, bisa
diam gak?”
“Ya sudah, izinkan aku membantumu kalau begitu,” bisik Al
dengan sensual di dekat telinga Queen.
“Baiklah, kamu taruh ini semua ke meja makan, semua sudah
selesai dan kita bisa makan bersama.”
Al mengedarkan pandangannya pada tumis broccoli, capri
kembang kol wortel dan jagung manis serta ikan dori goreng tepung dan balado
telur. Dalam hati Al memuji kemampuan Queen yang dapat memasak semua masakan
ini dengan cepat dan pasti juga rasanya enak. Tapi, sepertinya tidak ada waktu
untuk menggomali istrinya. Dia lagi dalam mood buruk, memang lelah, kangen sama
papa, atau lagi masa-masa pms aja miht? Gumam Al.
Tidak berhenti di situ, saat makan malam pun Al juga terus
berusaha merayu dan meluluhkan hati Queen. Berkali-kali dia menyuapkan makanan
kepada Queen.
“Besok ikut ke kantor ya sayang, kita akan kedatngan tamu
penting, aku tetap mau kau yang jadi asistenku di kantor, walaupun di rumah kau
adalah nyonyaku.”
“Mana mungkin aku menyandang namamu sebagai nyonya Al? Aku
tidak pantas untuk itu, aku hanya istri kedua yang biasa di pandang sebelah
mata oleh orang-orang, dan mendapatkan cap seorang pelakor. Lain halnya dengan
Nayla. Dia istri pertamamu, dan dialah yang menyandang status nyonya untukmu.
Bawa saja dia bersamamu.”
“Queen, berhentilah berkata demikian, kau berkata seperti
itu tidak pantas,” keluh Al.
“Apanya yang tidak pantas? Memang kenyataannya begitu, kan?”
jawab Queen sambil membereskan bekas sisa-sisa makan malam mereka.
“Kau bukanlah simpananku, aku menikahimu secara sah dan
resmi, hubungan kita diakui negara dengan bukti buku nikah yang ada pada dirimu
dan juga aku saat ini.”
“Tapi semua itu tidak merubah kenyataan, tetap saja aku
istri kedua dan akan dipandang sebagai wanita perebut suami orang, Al.
Sekarang, kau pergilah, pulanglah ke rumah istri pertamamu, ku dengar dari bik
Yul kau juga sudah beberapa hari ini tidak pulang kan? Aku tidak mau terjadi
kesalahpahaman antara aku dan Nayla lagi.”
“Kamu mengusirku, Queen?”
Queen diam tak menjawab, ia mengelap tangannya setelah
selesai mencuci piring dan membersihkan dapur.
“Tidak, aku tidak mau pergi.” Al pun mengankat tubuh Queen
dan membawanya ke dalam kamarnya. Di sana, ia mulai melakukan apa yang biasa ia
lukan pada Queen. Sedangkan Queen yang masih belum bisa menerima dirnya, ia pun
memprotesnya.
“Al, bukan kah pagi tadi kau bilang padaku kalau kau tidak
akan memaksaku sampai aku benar-benar menerimamu?”
“Ya, kau benar sayang. Aku malam ini menginginkanmu, dan aku
juga tidak akan memaksamu,” ucap Al sambil membuka satu persatu kancing
kemejanya dan melemparkannya asak ke atas lantai.
“Ya sudah, kau mau apa?”
“Mau meninta hakku sebagai seorang suami pada istrinya.” Al
pun menerkam Queen yang duduk di ranjangnya, memeluk dan ******* bibir wanita
__ADS_1
itu sambil tangannya bergerilya kemana-mana.
“Apa maksutmu? Sudah kukatakan padamu, aku tidak mau.” Queen
mendorong keras wajah Al dari dirinya. Ia masih saja merasa jijik di sentuh
oleh pria itu.
“Sayang, kau tahu kan hukumnya menolak permintaan suami?
Kamu dosa besar, loh. Sudah jadi hak suami minta dilayani istrinya, dan kewajiban istri adalah
melayani suaminya.” Al tersenyum puas dan penuh kemenangan.
Queen pun akhirnya diam, ia pasrah saja tanpa melakukan
perlawanan dan umpatan pada Al.
Malam ini pun terasa sangat lamban dan tak kunjung siang bagi Quen. Bahkan Al, seperti tiada lelahnya saja menggagahi dirinya dengan berbagai posisi. Sampai bermandikan peluh di sekujur tubuhnya.
“Menyenangkan bukan jika melakukan ini tanpa paksaan dan
suka rela? Lihat saja, kita seperti pasangan yang saling mencintai dan
melengkapi satu sama lain. Aku juga tidak main kasar padamu jika kau selalu
menurut. Tetaplah jadi istri yang baik untukku,” bisik Al di sela-sela
desahannya di dekat telinga Queen yang memejamkan matanya, sejak ia melakukan di depan cermin.
Queen tidak tahu sudah berapa lama ia melayani Al. Ia merasa
kelelahan dan sangat lemas. Sementara di sebelah kanannya, Al sudah tertidur
pulas sambil tangannya memeluk erat pada pinggangnya. Wanita itu mengamati wajah
tampan Al yang penuh dengan peluh. Tanpa sadar, tangannya diarahkan pada kening
hingga pipi Al. Diperhatikannya wajah tampan itu ditatapnya lekat-lekat.
“Bagaimana kau bisa mirip sekali dengan papaku? Wajar saja
aku tidak tahu kalau kau bukan kakak kandungku.” Tanpa sadar, Queen mendekatkan
wajahnya mencium bibirnya dan mengingat kembali apa yang dulu pernah Al katakana
padanya saat ia masih belum tahukalau dia bukanlah kakak kandungnya. Al pernah
bicara kalau cinta pertamanya adalah mama, ia juga mengatakan cinta pertama
seorang anak laki-laki itu adalah mamanya, begitu pun dengan anak perempuan.
Sebab, laki-laki pertama yang memeluknya, mencium dan memberikan cinta yang
besar dalam hidupnya adalah seorang ayah. Ayah yang baik, akan menjadi harapan
setiap putrinya agar kelak ia juga bisa mendapatkan pasangan yang sepertinya.
‘Al… Apakah kau sudah dari dulu diam-diam mencintaiku karena aku mirip mama? Jika memang iya, kenapa tak coba kau katakan dengan baik-baik? Kenapa harus dengan cara seperti ini? Bukannya menerimamu, yang ada aku malah membencimu. Andai saja kau belum jadi suamiku, aku ingin membunuhmu saja, Al.'
Queen terus memandangi wajah Al dengan posisi tangan kiri
masih di pipinya hingga ia pun ikut terlelap.
***123
Kabar kalau Vano sudah sadar begitu cepat menyebar. Tidak
hanya Vico yang ada di luar negeri. Melainkan juga dari keluarga mantan suami Queen.
Alex, dan Novita juga mendengarnya. Novita yang mengetahui hal itu, ia
mengabari kedua orang tuanya yang ada di New York dan juga mengajak kedua
hubungan keluarga, tak ada masalah dinantara mereka, dan akan begitu seterusnya.
“Alex, kau ada di mana?” tanya Novita melalui panggilan
selulernya.
“Aku baru saja tiba di rumah, Kak. Tadi ada urusan di luar
sama Zahara.”
“Kamu denger kabar tidak kalau om Vano sudah sadar?”
“Apa, Kak? Papa sudah sadar? Bagaimana kondisi dia sekarang?”
“Kakak Cuma tahu dari IG milik Queen saja. Apakah kau lelah?
Jika tidak bagaimana kalau malam ini juga kita kesana?”
“Sekarang ya Kak?”
“Kenapa? Kamu belum berani ketemu sama Queen, ya?” tanya
Novita saat mendengar nada sedikit keberatan Alex.
“Jika kau khawatir, kakak bisa lah telfon Queen terlebih
dahulu, jika dia memang ada di rumah sakit tidak apa-apa, kita tunda saja dulu.
Jika tidak, ya kita ke sana sekarang saja.”
“Jangan, Kak. Baiklah kita akan berangkat sekarang. Aku
siap-siap dulu, Kak. Setelah ini aku akan menjemputmu. Apakah Axel juga akan
ikut?”
“Tidak, kita pergi berdua saja. Besok biar mama dan papa yang pergi kesana, aku akan jaga Axel."
Alex pun menutup panggilan dari kakanya dan kemudian besiap
untuk pergi menjemput Noviyta terlebih dahulu.
***
Semakin malam Vano
semakin bosen saja, ingin mengajak ngobrol dengan bibi juga dia sudah kehabisan
topik pembicaraan. Akrinya, ia pun meminta bibi untuk memanggilkan perawat agar
membantunya pergi ke ruang ICU di mana istrinya dirawat.
“Bi, tolong panggilkan perawat, mintakan kursi roda pada
mereka saya jenuh berada di kamar,” ucap Vano pada bibi yang juga nampak jenuh
dan bosan.
“Baik, Tua.” Wanita paruh baya itu pun akhirnya keluar
meninggalkan bangsal di mana Vano di rawat. Kurang dari sepuluh menit lamanya,
wanita itu kembali bersama seorang perawat muda yang tengah mendorong kursi
roda.
“Pak Vano mau jalan-jalan ke mana? Perlu saya temani?” sapa
perawat itu yang usianya sekitar tigapuluh dua tahunan. Jelas dia lebih muda
__ADS_1
darinya dan juga istrinya.
“Tidak perlu. Terimakasih,” jawab Vano dingin.
“Mari, Pak saya bantu anda berpindah ke kursi roda.” Sekali
lagi, wanita itu menawarkan bantuannya dan hendak memegangi tubuh Vano.
“Maaf.” Dengan cepat Vano menampik tangan perawat itu. Kemudian
matanya beralih memandang ke arah bibi dan meminta wanita paruh baya itu untuk
membantu dirinya. “Bi, tolong bantu saya,” ucapnya. Kemudian dengan di dorong
bik Yul, Vano menunjukan jalan menuju ICU. Lalu perawat tadi? Entahlah, Vano
mencuekkannya. Ia merasa tidak nyaman dekat perempuan seperti itu. Jika saja
Clara ada dan bersamanya, pasti ia akan sangat cemburu. Ia faham betul
bagaimana istrinya. Karena istrinya masih belum sadar, ia berusaha untuk tetap setia dan menjaga cintanya pada Clara.
Begitu tiba di dalam ruang ICU, Vano membiarkan bibi melihat
dan mengamati Clara, mungkin juga wanita paruh baya itu juga berdoa untuk
kesembuhannya. Sebab, ia yakin, wanita itu adalah wanita baik, keajaiban yang
dia dapatkannya juga pasti termasuk doanya juga selain keluarga dan orang-orang
terdekatnya.
Begitu ia merasa ingin berbicara sendiri dengan sang istri,
barulah Vano meminta wanita itu untuk menunggunya di luar.
“Bi, Bibi menunggu di luar saja tidak apa-apa. Sebab,
jumblah pengunjung yang boleh masuk di sini sangat terbatas,” ucap Vano dengan
perlahan, ia berusaha untuk tidak menyinggung hati wanita yang hampir dua tahun
lamanya ini bekerja mengurus papa dan juga anak-anaknya.
“Baik, Tuan.”
Setalah memastikan kalau bik yul sudah berada di luar, Vano
menyentuh tangan istrinya dan mengelus kening serta mengecupnya berkali-kali.
“Sayang, waktu sudah bayak berubah, Queen bukan lagi
istrinya Alex sejak setahun yang lalu. Al anak yang kita adopsi sekitar
duapuluh enam tahun silam kini dia juga bisa kita sebut menantu, karena tadi pagi
dia telah menikahi adinya sendiri, putri kita. Tidak apa-apa, Sayang, jangan
halangi mereka. Walaupun Queen masih belum bisa menerimanya, aku yakin kelak
mereka juga akan saling mencintai dan mengisi kekurangan satu sama lain. Jadi,
cepatlah sadar, bujuk putri kita, jika perlu, ceritakan padanya kisah cinta
kita.”
“Sayang, mau sampai kapan kau akan terus begini? Aku sudah
menepati janjiku pasca kecelakaan kala itu. Kita pergi bersama, mengalami
kecelakaan dengan kondisi yang sama, jika ada salah satu di antara kita yang
mati, maka kita akan menyusulnya dan begitu pun sebaliknya. Aku sudah sadar,
lihat saja, Queen bilang aku tidak seperti orang yang habis kritis, kamu kapan
sayang? Jangan biarkan aku kesepian sendiri tanpamu.”
Vano masih sibuk dengan pikiran dan perasaanya di dalam
bersama Clara. Sedangkan Bik Yul hanya diam menunggu sambil duduk di depan
ruang ICU, sesekali ia memandang oada tiga orang berpakaian formal mengenakan
jas hitam yang nampak kaku bagaikan patung it uterus berdiri dari sejak ia
datang sampai sekarang. Yang ada di benak wanita paruh baya itu adalah, ‘Apakah
mereka tidak capek? Apaklah kainya tidak kesemutan atau minimal pegal, gitu?’
Ditengah-tengah kesibukannya dengan tiga orang tersebut yang
merupakan suruhan Al, tiba saja ponsel dari dalam dompetnya berdering. Dengan
segera ia pun mengangkatnya.
“Halo, Tuan.”
“Halo, di mana sekarang, Bi?” jawab suara seorang pria
kira-kira usianya sekitar enamppuluh delapan tahunan itu.
“Ini, saya ada di depan ruang ICU. Tuan Vano ada di sana.”
“Apa? Bagaimana mungkin?”
“Iya, Tuan, dia tidak seperti orang sakit. Tadi, Nona Queen
juga bilang, jika tuan Vano terus begini, ia akan bisa cepat pulang.”
“Baik, saya akan ke sana sekarang. Apakah Queen sudah
pergi?”
“Iya, mungkin juga tuan Al. Sebab, Tuan Al tadi tetap berada
di mobil dan hanya berpesan pada saya untuk meminta nona Queen segera kembaali,
kerena besok harus bertemu dengan clien penting.”
“Baiklah kalau begitu, Bi. Saya akan ke sana sekarag.”
Andrean pun mematikan panggilannya, dan segera bersiap menuju rumah sakit.
Nayla tersenyum mendengar pembicaraan kakek mertuanya di
telfon barusan. Ia yakin, kalau mala mini suaminya tidak akan pulang. Sebab,
selain sudah beberapa hari ini dia seperti lupa dengan rumah, Tadi sore ia juga
sempat berantem. Dan kakek mertuanya juga akan ke rumah sakit, kemungkinan juga
sampaimpai besok.
“Bilqis, maafkan mama ya sayang? Mungkin ini sedikit kejam.
Tapi, ini terpaksa mama lakukan,” gumamnya seorang diri sambil mencampurkan
sesuatu ke dalam susu yang akan diberikannya pada Bilqis.
Nayla semakin senang saat mendengar kakek mertuanya berkata pada anak buah suaminya agar menjaga rumah dengan baik, sebab, ia akan kembali besok pagi.
Setelah menerima panggilan dari Andrean, Bik Yul kembali masuk ke dalam ruang ICU di mana Clara di rawat. dengan perlahan, wanita paruh baya itu menyampaikan berita kalau papa dari tuan Vano akan segera kemari. Tidak mau membuat papanya khawatir, Vano pun meminta bantuan Bik Yul untuk kembali ke kamarnya lagi.
__ADS_1