Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 89


__ADS_3

"Iya, Sayang. Barusan Al kasih tau ke kita. Kita tunggu mereka turun saja, ya?" bisik Vano di dekat telinga Clara.


"Kau sudah tahu, Van?"


"Ya, barusan dari, Al. Kan pas Alex ambil air putih di kamar Quen di temani Al dan Nayla.


"Udah tahu kok gak bilang?" protes Clara sambil memukul lengan tangan suaminya.


Sedangkan Vano hanya tertawa mendapati tingkah istrinya.


"Wanita itu ya begini, Al. Susah dimengerti, kau yang sabar saja, ya? Mamamu juga bawel soalnya," ucap Vao lagi sambil terkekeh.


Al hanya menyeringai kecil dan dalam hati bergumam, 'Mama tak seribet mama juga kali, Pah.'


Tak lama kemudian Quen turun menghampiri  orang tuanya sambil tersenyum antara malu dan bahagia.


"Mama, Quen hamil," ucap wanita itu dengan logat khasnya yang sedikit manja.


"Iya, sayang. Kau jangan capek-capek, ya banyak-banyak istirahat. Duduk sini! Kau pengen apa untuk sarapan mama buatkan," ucap Clara penuh perhatian.


Tidak hanya orang tua dan kakek neneknya saja yang terlihat semakin sayang pada Quen. Al pun juga sepertinya senang dan turut bahagia.


Terlihat saat sarapan. Semua yang ada di meja makan di tawarkam kepada Quen. Sampai wanita itu bingung mau makan yang mana, dan ujung-ujungnya ia berlari ke westafel karena mual mencium aroma nasi panas yang terhirup hidungnya.


Dengan tergopoh Al berlari menghampiri Quen, mengelus punggungnya berulang kali.


"Kau kenapa?" tanyanya.


"Gak tahu, Kak. Aku mual banget nyium bau nasi," jawan Quen.


"Ya sudah, kau mau makan apa?"


"Gak tahu, males banget," ucap Quen manja.


"Susu hangat, roti dan es cream giamana? Kau mau?"


"Baiklah, itu saja."


Usai sarapan Vano mengajak Al dan Alex segera berangkat ke tempat yang dibicarakan semalam.


"Quen, kau itu apa di rumah saja, Sayang?" tanya Alex.


"Pokoknya ikut kamu terus maunya."


"Ya sudah, ayo berangkat sekarang," ajak Alex yang mang sudah bersiap dari awal.


Al yang menyopir mobilnya mengajak Alex dan Quen berkeliling-keliling sampai hampir satu jam mereka tidak tahu kemana tujuan sebenarnya. Masa iya belum sampai.


"Kak, apakah kau mau mengukur jalan panjanganya berapa KM? Kita sudah melewati jalan ini tadi, kenapa lewat lagi?" protes Quen.


"Sabar, bumil. Gak boleh marah-marah terus," jawab Al sambil tertawa. Tak lama kemudian terdengar suara denting pesan chat dari ponsel Al dibukanya pesan itu, lalu memandang ke arah papanya dan kembali fokus mengemudi. Kali ini Al memacukan mobilnya dengan kecepatan lebih dari sebelumnya.


Dua puluh menit kemudian mobil ferrary merah itu tiba di sebuah halaman paving yang luas. Entah itu halaman rumah atau apa, sebab, setelah halaman seluas kira-kira duabelas meter uti ditutup dengan tirai berwarna putih.


"Apa ini, Pa?" tanya Alex dan Quen hampir bersamaan.


"Tunggu, ini harusnya cukup duapuluh lima menit saja, kan bisa di tempuh? Kenapa sampai satu jam lebih? Kak Al muter-muter gak jelas,deh ini." gerutu Quen sambil melipat kedua lengan di depan dada.


"Tapi, sukses kan buat kalian tidak bisa menebak kemana kita akan pergi?" jawab Al sambil nyengir tertawa.


"Ya, ok. Sukses deh. Selamat, ya?"


"Alex, coba kau gunting tali ini!" Seru Vano seraha menyodorkan gunting pemotog tanaman untuk menggunti g tali tambang berwarna biru sebesar kelinging orang dewasa itu.


Tanpa ragu-ragu, Alex menerima gunting itu memotongnya, dan.... Tirai terbuka. Sebuah tempat gym terbuka lebar, di sana juga berdiri Nyala, Clara, Andreas, Andream juga Vivian.

__ADS_1


Alex menggantungkan senyumnya melihat bingung ke arah ipar dan papa mertuanya. "Apa-apaan ini?"


"Masuklah! Ayo kita lihat."


Vano berjalan sejajar dengan Alex, sementara Al menggandeng Quen di belakangnya dengan hati-hati.


"Alex. Ini hadiah pernikahan dari kami untuk kita. Sesuai bidang dan hobi yang kau geluti. Jadi, kakak dan papa usul untuk membuatkanmu tempat gym atas nama kau dan Quen." ucap Andreas, bangga.


Quen hanya tersenyum dan menatap ke arah Al lalu bertanya, "Jadi ini yang kalian sibukan selama satu bulan ini?"


"Ya... Begitulah. Kan bukan sulapan jadi tidak bisa selesai satu dua hari saja," jawab Al tanpa memandang wajah Quen yang terus memandangi ekspresinya.


Mereka pun masuk melihat isi dari ruangan itu. Selain semua peralatan olah raga sudah lengkap, di sana juga tersedia tempat untuk aerobik, atau sebagainya.


Selang beberapa menit kemudian, Alex baru menyadari sesutau. "Jadi kakak tadi sengaja muter-murer menunggu kedatangan mereka yang nampak santai daja di rumah, iya?" ucap Alex.


Dan hanya di timpali dengan tawa saja oleh Al dan Vano.


Pukul sebelas tiga puluh mereka semua pulang. Terlebih Quen tidak bisa terlalu capek, dan lagi nanti sore dia ada kuliah sekalian melihat ketentuan dari kampus di mana dia akan di tetampatkan untuk praktek.


"Kamu mau di mobil mana, Quen?" tanya Al penuh perhatian. Ikut papa sama mama aja," jawab Quen. Sementara Alex, mendadak ada panggilan untuk ke kampus.


Jadi, Al satu mobip hanya dengan Nayla saja. Di dalam mobil kedunya tidak banyak bicara, Al yang mulanya rilex sambil sedikit bernyanyi.


Tapi, terhenti dan pilih diam saat mendapati Nayla memasang wajah masam.


"Kamu sudah lapar belum?" tanya Al kepada istrinya yang lagi jutek.


"Biasa aja," jawab Nayla singkat sambil membuang pandangan ke arah luar jendela mobil.


"Ada caffe baru di dekat sini, tempatnya enak lo buat berduaan. Mungkin kamu mau yang romantis, Nay?" ucap Al sambil tersenyum tertahan.


Nayla menghembuskan napasnya agak kasar. Lalu menjawab, "Tidakah kau mengajak adikmu saja? Kau seprtinya senang sekali dia hamil, seolah kamu saja yang suaminya."


Al tersenyum. "Kau cemburu? Nay, dia itu adikku. Mana mungkin aku memperlakukan dia sebagai istri? Gak mungkin lah."


Mendengar hal itu Al langsung rem dadakan dam menghentikan mobilnya di tengah jalan dan memandang ke arah Nayla dengan tatapan tajam.


"Kamu bicara apa barusan, Nay? Apa maksut kamu?" tanya Al dengan tatapan penuh slidik.


Melihat Al yang seperti ini, Nayla merasa gentar. Memang dari awal diaemang selalu pasang muka serius dan cenderung judes. Tapi, itu tidak berlaku padanya. Kepadanya ia selalu menatap dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang. Walau akhir-akhir ini sering bertengkar tapi... Ini kedua kali setelah insiden dia memukul meja kaca di kamar mereka jelang pernikahan Quen dulu.


Dengan tubuh bergetar karena takut Nayla menjawab, "Ku rasa kau bohong, Mas jika aku wanita pertama yang kau cintai. Kurasa itu hanya untuk menyenangkanku saja. Kau pernah kan sebelumnya menjalin hubungan dengan wanita dan hampir tunangan? Itu tidak terpaksa kan? Memang kalian sama-sama suka. Saling menikah hanya untuk menutupi kenyataan saja. Bagus ekting kalian."


"Kamu bicara apa? Yang jelas?" Bentak Al dengan muka merah padam.


"Kau benar-benar suka sama Quen kan, Mas? Aku tak yakin yang dikandungnya itu anaknya Alex."


Mendengar tuduhan sedemikian rupa Al benar-benar hilang kesabaran ia menampar keras pipi Nayla dan berteriak, "Kau pikir aku ini lelaki macam apa, Nay? Mana mungkin aku meniduri adikku sendiri, hah? Atas dasar apa kau menuduh kami dengan tuduhan serendah itu?"


"Bukankah kalian pernah dipaksa menikah? Sampai tunangan sama-sama membatalkan dengan alasam tak suka. Kalian bohong, kan? Buktinya kalian masih seperti itu dan.... " Kalimat Nayla menggantung tak diruskan saat Al membuka pintu mobil dan mendorong Nayla keluar dan meninggalkannya pergi di tengah jalan.


Kali ini Al benar-benar kacau. Ia tidak bisa berfikir jernih melajukan mobilnya dengan kencang seperti orang gila yang tengah kesurupan.


(NB: udah gila, kesurupan pula?🤔 parah, ya?😹😹😹)


Di sebuah Bar Al memarkirkan mobilnya. Dia duduk di sofa yang jauh dari keramaian. Pertama yang ia lakukan di sana adalah menghisap shisha dan menikmatinya bermain-main dengan kepulan asap putih tebal menutup pandangannya.


Sekitar tigapuluh menit ia memutuskan untuk memesan beberapa botol dari berbgai merk minuman keras. Memang ini bukan kali pertama baginya. Dulu saat di Jepang ketika ia masih bergelut dalam dunia mafia. Walau hanya sekedar untuk menghargai tamu besar saja.


Tapi, tidak dengan kali ini. Dia benar-benar emosi dan pikirannya kacau sampai-sampai banyak minum dan mabuk parah.


Sementara Nayla yang ditinggalkan begitu saja oleh suaminya sendiri seperti wanita simpanan teramat amat marah dan juga malu. Dilihatinya area sekitar. Banyak sekali pasang mata yang memperhatikan dia dengann tatapan yang susah dijelaskan. Beruntung hand baknya selalu ada dalam genggaman. Dengan buru-buru sambil berjalan menjauh dan mencari tempat teduh ia mengeluarkan benda pipih itu dari dalam tasnya. Ia membuka kunco layar dan memesan taxi online. Tidak menunggu lama sebuah mobil avanza hitam berhenti tepat di depannya. Tanpa berfikir apapun wanita itu masuk begitu saja masih dengan muka kesal dan penuh emosi juga rasa malu tentunya ia duduk di bagian belakang.


Tapi, sopir taxi online itu bukannya menjalankan mobilnya. Justru malah melotot melihat Nayla yang dengan seenaknya saja masuk ke dalam mobil orang melalui kaca depan kemudi.

__ADS_1


Saking syocknya pria itu, dia sampai tak bisa berkata apa-apa hingga Nayla lah yang menegurnya lebih dulu.


"Mas, kenapa diam? Ayo jalan kok bengong, sih?" ucapnya makin bertambah kesal.


Pria itu pun membelalak dan menoleh ke belakang lalu berkata, "Eh, kau pikir siapa dirimu? Dan aku ini apamu?"


Nayla menjadi semakin bingung. Satu dia malah mematikan mesin mobil. Dua. Dia ditegur nyolot, bahkan makin ganas saja.


"Kau ini waras tidak, si .... "


Tanpa sengaja Nayla melihat mobil avanza hitam berhenti. Nampak seorang pria berpawakan tinggi kecil keluar mobil sambil menempelkan gawainya di antara telinga dan bibir. Bersamaan dengan itu ada nomor tak dikenal menelfonnya.


Nayla memandang ke arah pria di depannya dan layar ponselnya bersamaan. Lalu, ia memutuskan untuk mengangkatnya.


"Iya, saya sendiri."


Saat itu juga Nayla menyadari kecerobohannya kalau dia telau salah masuk ke dalam mobil orang.


Ia menutupi mulut dengan kedua tangannya, entah apa yang harus ia lakukan. Dia benar-benar sangat malu. Dengan segenap keberanian yang ia kumpulkan ia berkata pada pria itu.


"Mas, maaf. Maaf banget, aku salah masuk, kukira ini taxi online yang kupesan barusan. Sorry..." Tanpa berkata kata lagi, wanita itu pun pergi keluar mobil terkutuk itu dan segera pindah ke taxi online yang sebenarnya.


Dari dalam mobil, pria itu tersenyum geli mendapati tingkah Nayla yang menurutnya sangat lucu. "Hah, menarik sekali, dia?"


Tiba-tiba rasa penasaran pun mencuat dalam hati pria itu.


"Sepertinya dia gadis yang menarikm pemarah dan sedikit ceroboh."


Bersamaan dengan melajunya taxi online pesanan Nayla, pria itu juga turut melajukan mobilnya menguntit di belakang.


Setiba di rumah, Nayla mendapati keadaan sepi. Bahkan mobil suaminya pun juga tidak ada di garasi. Lalu, kemana dia? Apakah bekerja. Hanya terdengar suara Quen di dalam kamar Vivian. Keduanya nampak bercengkrama menceritakan bagaimana mama Clara saat hamilnya Quen dulu.


Tanpa pikir panjang Nayla pun segera naik ke atas menunu kamarnya.


Waktu sudah sore, tanpa terasa sudah menunjukan jam lima tigapuluh. Nayla mulai panik, menelfon Al sedari tadi nomor tidak aktif. Terlebih papa mertuanya juga sidah pulang.


Mau tidak mau Nayla pun ikut turun makan malam. Tapi, ia merasa tidak enak, kawatir ketika ditanya di mana keberadaan suaminya ia tidak tahu. Sedangkan yang terakhir kali bersama Al tadi dia sendiri.


"Al kemana, Nay kok belum pulang?" tanya Clara.


Nayla tersedak mendengar pertanyaan dari mertuanya. Sebab, ia pun tidak tahu di mana Al berada. Sejak tadi jam dua siang nomornya sudah tak bisa dihubungi.


"Mas Al, ya? Tadi di jalan ada telfon dan sepertinya dia buru-buru banget, Ma. Jadi, Nay naik taxi online," jawab Nayla, bohong.


"Memangnya kemana kau tidak tanya? Tumben sekali menurunkan istrinya di tengah jalan. Dia biasanya tidak begitu semendesak apapun, pasti mengantarkan sampai rumah, atau mengajaknya serta."


Dari eksprei Clara terlihat kalau ia tengah berfikir keras mengenai putranya.


Menyadari kalau ada yang tidak beres, segera Nayla menyahutnya lagi. "Awalnya dia mau antar Nay, Ma. Tapi, Nay nolak minta turun di jalan saka nail taxi online. Sebenarnya dia juga nampak keberatan. Tapi, Nay kasihan aja kalau harus bolak-balik.


"Oh, gitu... terus, gimana sekarang? Udah kelar belum urusannya? Coba telfon dia mau makan malam di rumah, apa makan di luar?"


Nayla semakin gelagapan, bingung mau jawab apa, sebab. dari tadi dia menelfon tidak diangkat dan sejak jam dua siang tadi nomor Al sudah tidak aktif.


Dengan berat hati ia pun mengeluarkan benda pipih dari dalam sakunya dan hendal menelfon Al. tapi, kali ini sepertinya ia terselamatkan dengan teriakan Quen.


"Ma, Alex dia tidak akan pulang malam ini. Dia menginap di rumah kak Novi, katanya."


seketika itu juga Nayla langsung menghembuskan napas lega.


"Emang Alex sudah sampai rumah kak Novi. Quen?" tanya Vivian.


"Belum, Nek. karena kak Novi belum landas. dari jadwalnya nanti baru jam sembilan malam.


"Lah, terus Alex nunggu di Bandara sejak tadi?" tanya Clara dan Vivian bersamaan.

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Dia ada yang dikerjakan di kampus, Nek."


__ADS_2