Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
part 27


__ADS_3

"Kamu lihatin apa?" Tiba-tiba saja Clara muncul dan memeluk Vano dari belakang.



Vano tidak menjawab, hanya mengenggam kedua lengan Clara saja, tanpa membalikan tubuhnya.



Cukup lama keduanya berdiri terpaku di depan jendela, "Van," panggil Clara.



"Heemb," jawab Vano, tak bersemangat.



"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Cerita, dong!"



Vano melepaskan kedua lengan Clara yang melingkar pada pinggangnya, dia berputar berhadapan dengan Clara, tanpa melepaskan genggaman pada kedua tangan Clara, Vano tersenyum sesaat, lalu menggelengkan kepala.



"Kamu jangan bohong! Aku ini sebentar lagi jadi isterimu, belajarlah selalu terbuka padaku," ucap Clara.



"Tidak, Ra. Tidak ada apa-apa," jawab Vano.



"Lalu? Sudahlah jujur saja." Mata Clara menatap penuh selidik.



"Ra, aku bingung harus bagaimana, bahkan cara menyampaikannya padamu saja aku masih belum ngerti," ucap Vano sambil memalingkan pandangan.



"Sudahlah, tidak apa-apa, kamu bilang saja," ucap Clara, tersenyum.



"Maaf sebelumnya, kamu tau, kan, kalau Ibu kandungku itu masih ada, dan satu kota pula dengan kita," ucap Vano ragu-ragu.



Clara mengerti arti dari apa yang Vano katakan, bahkan dia juga mulai faham dengan yang Vano pikirkan sedari tadi.



"Bagaimanapun, dia tetap ibu kandungmu, dan sebentar lagi, Tante Amanda juga mamaku, Van. Kita ga perlu ikut campur masalah orang tua kita, biarlah itu jadi urusan mereka, tugas kita sebagai anak, hanyalah menghormati keduanya, toh papa Andrean sudah menemukan kebahagiannya dengan mama Vivian, kan?"



"Jadi, maksut kamu .... " Vano tidak meneruskan kalimatnya, melihat Clara tersenyum, dia mengerti, lalu memeluk erat gadis yang dia cintai itu.



"Kapan kamu akan mengabari mama Amanda untuk pernikahan kita?" tanya Clara dalam pelukan Vano.


__ADS_1


"Menurut kamu, kapan enaknya?"



"Lebih cepat, lebih baik."



"Apakah itu tidak mebuat papa dan mama merasa tidak nyaman, Ra?"



"Memang kenapa? Aku sudah menyampaikan hal ini pada mereka, dan mereka tidak keberatan, toh mama Amanda ga mungkin sendiri, dia pasti dengan suaminya."



"Terimakasih, Ra. Terimakasih," ucap Vano terharu, belum pernah pria itu merasa dirinya sebahagia ini, entah seperti apa hatinya sungguh tak bisa diungkapkan oleh kata-kata.



"Ra," ucap Vano, melepas pelukannya. "kamu mau, kan ikut aku ke rumah mama Amanda?"



"Iya, Van. Aku mau," Jawab Clara.



So as long as I live I love you


Will heaven hold you


You look so beautiful in white


This day I'll cherish


You look so beautiful in white


Tonight



Ponsel Clara bedering diliriknya layar gawainya, Erwin is calling ...



[Halo, Win]



[Loha loha Lala Kumarla, ini, gaun You buat kawin, eh kawin, ahahaha salah, buat nikah, uda jadi! Ah, Clara rempong apa sih, bedanya nikah ma kawin sama aja,] gerutu Erwin dari seberang.



[Hoah, aku males debat ma kamu, lalu gimana, aku mekap dari kamu, apa cari WO sendiri?]



[Tenang, Enyelir Boutique bekerja sama dengan WO MUA terkemuka di Jakarta, ok?]



[Ok, aku serahin semua ke kamu.]

__ADS_1



[By the way, pesta diselenggarakan di mana?]



[Di rumah saja, Win, kan enak, hehe] ucap Clara.



[Ok, ya sudah, ya cyn Eyke banyak clien. Daaa Lala kumarla Clara,] ucap Erwin lalu mematikan sambungan telefonnya




****



"Clara, kamu sudah siap, Nak?" panggil Vivian dari balik pintu.


Clara menarik tarik napas dalam-dalam, "Insyaallah, Ma."



Clara masih duduk di depan meja rias, tatapannya lurus kedepan melihat pantulan wajahnya pada cermin. Aku merasa hari ini benar-benar cantik. Di tambah kebaya hasil desainnya Erwin yang membuatku anggun, elegan serta nampak berkelas.



"Clara, calon suamimu sudah siap, ayo, turun, Nak, acara ijab qobul biar cepat terlaksana," kata Andrean yang tiba-tiba datang menyusul.



Rasa deg-deg an dan nervous mendadak muncul tanpa di undang ketika Clara melihat banyak tamu undangan yang hadir, mata indahnya dengan paduan mekap tajam menyapu seluruh ruangan, mengamati setiap siapapun yang turut menghadirinya.



Teakhir Clara melihat ke arah Vano yang duduk didepan penghulu dengan khitmad, di belakangnya duduk Amanda dan suami barunya.



Dengan dituntun oleh Vivian dan Andrean perlahan Clara melangkah duduk di sebelah Vano.



Sesaat Vano terpaku melihat penampilan Clara yang nampak cantik dan sangat anggun.



"Sudah siap saudara Vano?" ucap pak penghulu membuyarkan lamunan Vano.



Melihat hal itu Clara hanya senyum-senyum sendiri, sedangkan Erwin, Eren dan Selly di belakang mulai heboh.



Acara ijab qobul berjalan lancar, akhirnya Clara dan Vano sah menjadi suami isteri, tinggal menunggu nanti malam acara resepsi.



__ADS_1


__ADS_2