
Nayla membuka sebuah album foto di mana di dalamnya banyak
terdapat kenangan saat masa-masa indah bersama Al. dia, dan juga Bilqis. Saat mereka masih awal menikah dan di Jepang.
Dengan tangan gemetar Nayla membuka asal album tersebut.
Nampak di sana sebuah foto ia duduk berjajar dengan Al di depan
penghulu, Al mengenakan jas hitam dan kemeja putih di dalamnya sedangkan Nayla mengenakan kebaya putih dengan riasan yang bisa di kata tebal namun flawless. Khas pengantin.
Ya, itu foto saat keduanya ijab qobul beberapa tahun silam, dan kini tinggalah
kenangan. Rumah tangganya kandas karena kesalahannya sendiri.
“Mama, apakah kita akan pindah? Kenapa, Ma?”
Nayla segera menyimpan buku album itu dan mengusap air matanya, ia membalikkan
tubuhnya ke belakang. Melihat putrinya berdiri dengan boneka dolfi biru yang
dibelikan Al saat terakhir kali mereka ke dufan sekitar dua tahun silam.
Dengan langkah gontai Nayla berjalan menghampiri putrinya.
“Iya sayang. Kita akan keluar dari rumah ini sekarang.”
“Mama dan papa benar-benar bercerai? Tapi, kenapa Ma? Apakah
tante Queen benar-benar mengandung anak papa dan mengusir kita?”
“Iya, tante Queen hamil, dan keberadaan kita sudah tak lagi diinginkan lagi. Ayo kita pergi, Nak.”
Mendengar jawaban dari mamanya, Bilqis hanya diam ia
menunduk dan berjalan mengekor di belakang Nayla keluar meninggalkan kamar itu.
“Mas Al, Queen. Kami pamit dulu, aku minta maaf jika selama
ini banyak berbuat salah. Dan terimakasih atas semuanya,” ucap Nayla sambil menyeret kopernya yang terakhir. sedangkan yang lain, sudah dibawa Dedi ke dalam mobil.
“Sama-sama, Nay. Kamu dan Bilqis hati-hati ya. Jaga diri
baik-baik,” jawab Al. Sementara Queen hanya diam dan membuang muka saja. Ia terlalu sakit walau hanya menatap Nayla dan putrinya.
Nayla dan Bilqis pun pergi dengan membawa banyak barang
bawaan mereka. Sedangkan Queen, ia malah merasa tidak nyaman tinggal di rumah itu lagi. Ia mencari-cari alasan terus untuk bisa keluar dari sana.
“Aku bosan di sini, Al. Aku mau tinggal di apartemen saja.
Tidak apa-apa kecil,” ucap Queen.
“Kan sebentar lagi mama akan kembali sayang. Kenapa kamu
tiba-tiba begitu?”tanya Al dengan penuh perhatian.
“Aku merasa bosan dengan suasana rumah ini. Terserah kamu
mau apa tidak. Jika kau menolak, aku
akan pergi dan tinggal di sana sendiri.”
Al memandang Queen dan tersenyum tertahan. Ia tahu, kalau
istrinya cemburu dan semua sudut tempat ini hanya mengingatkan dengan Nayla
saja. Tanpa berkata sepatah kata pun, Al langsung memeluk dan mencium pipi
Queen berkali-kali.
Belum selesai Al merayu dan meluluhkan Queen yang tengah
dongkol, papa, kakek dan mama mereka ternyata sudah tiba saja.
“Mereka sudah tiba. Ayo kita keluar,” ajak Al.
Queen yang sedari tadi hanya terdiam segera saja beranjak dan turun ke tangga.
Senyuman ceria sudah berseri saja di wajah cantiknya. “Mama!” sapa wanita itu.
Ternyata tidak hanya bertiga mereka datang. Ada dua perawat
yang juga turut mendampingi mamanya.
“Sayang. Kau kenapa, Nak? Apakah kau baru saja menangis?
Apa yang terjadi?” Kali ini Clara yang balik mencecar pertanyaan pada putrinya karena kawatir.
“Aku tidak kenapa-napa, Ma,” jawab Queen, memalingkan wajahnya dari mamanya.
Sejurus kemudian Clara melihat Al dari dalam berjalan menuju
ke arahnya. Ia meperhatikan putranya dengan seksama. Al terlihat sangat
berantakan. Lengan kemeja yang sudag terlipat sampai siku, krah yang tak rapi,
dua kancing yang sudah lepas dasinya yang tak beraturan, serta kemeja yang sudah lecek. Kenapa mereka ini
sebenarnya? Bahkan wajah Al juga terlihat nampak lelah. Clara tidak bisa
melihatnya seperti itu. Ia masih belum menerima kenyataan Al sebagai menantu. Yang dia tahu, dia adalah anaknya. Dia kakanya Queen. Jadi, kasih sayang yang diberikan pada Queen, sama besarnya pula dengan rasa sayangnya yang ia berikan
kepada Al.
“Apakah kau baru saja berantem dengan Al?” tanya Crlara lirih.
Queen hanya menjawab dengan gelengan kepala saja. Sementara
Al sudah berdiri di sebelah Queen berada di depan mama angkatnya.
“Mama, sebaiknya kamu cepat ke kamar saja. Lihat selang
infusmu! Darahnya bahkan mulai naik ke atas,” ucap Al mengingatkan.
Clara melihat ke tangan kirinya lalu ia tersenyum dan
mendongak ke atas melihat ke arah suaminya, Vano.
“Bawa aku ke kamar sekarang, Van.”
Vano mendorong kursi roda itu menuju kamarnya, di belakang
di ikuti dua perawat dan juga dua anak-anaknya. Tapi, sampai depan pintu dua
perawat itu menghadang Al dan Queen. Dia meminta agar mereka tetap menunggu di
luar saja dulu.
Al dan Queen pun saling beradu pandang. Lalu keduanya
sama-sama menuju ruang tamu dan duduk di sofa tanpa sepatah kata pun. Sementara
bibi sibuk mengurus setrikaan, meletakkan ke lemari pemiliknya masing-masing.
“Apakah mereka baru saja bertengkar, Van?”
Vano hanya tertawa kecil. Mereka memang seperti itu. Tapi,
tidak akan terjadi apa-apa. Kau pasti tahu lah bagaimana kakak beradik yang
tumbuh sejak kecil bersama, lalu menjadi sepasang suami dan istri?”
“Tidak akan serius, kan pertengkaran mereka?”
“Tenang saja. Al akan selalu bisa memenangkan hati istrinyad. Dan Queen sendiri juga hatinya mudah luluh oleh putra kita.” Vano mengecup kening istrinya dan menyandarkan kepalanya pada dada bidangnya.
__ADS_1
Queen yang awalnya merasa tidak nyaman dan ingin segera
keluar dari rumah itu pun urung berkat kehadiran mamanya kembali di
tengah-tengah mereka. Tapi, ia kadang-kadang juga masih sering ngambeg jika
mendengar nama Nayla disebut oleh suaminya.
“Namanya akan masih aku sebutkan, Sayang. Selama perceraianku dengannya masih belum selesai,”
ucap Al yang melihat Queen cemberut suatu hari.
“Iya. Aku ngerti.”
“Jangan cemberut gitu. Ayo kita berangkat bareng. Kamu mau
kerja tidak?” goda Al sambil memasang satu kancing pada jasnya.
“Kamu tidak pakai dasi, Al?”
“Tidak.”
“kenapa?”
“tidak apa-apa. Nanti gak ada kepentingan khusus selain mau
interview calon arsitek baru untk perusahaan.”
“Kamu yang interview sendiri? Tumben banget?”
“Iya sayang. Aku penasaran sama dia. Dia sangat mirip dengan
almarhum Aditya.”
Queen langsung menatap ke arah Al dengan keras. “Kamu serius?
Jangan-jangan hantunya dia, mau bekerja sama kamu? Kan dia mati juga karena kamu tuh... Kamu hati-hati ya, aku khawatir dia kembali untuk balas dendam.”
“Hahaha. Kau ini kebanyakan nonton dan baca bacaan urban
lgend sayang. Mana ada seperti itu? Mungkin kebetulan saja. Apakah kau
penasaran degan kembaran mantanmu?”
Queen memasang wajah sebal pada Al yang terus-terusan
menggodanya tiada henti.
"Hahaha. Ya sudah, ayo kita sarapan dulu. Mama, papa dan mama sudah menunggu kita."
*****
Sejak kejadian itu Bilqis jadi banyak diam. Sempat pula dua
hari pertama di kediaman barunya juga mogok makan. Nayla yang memang sudah stres
berat bercerai dengan Al, Jevin yang berkhianat makin tambah tak keruan.
Berkali-kali ia beruasaha sabar menghadapi putrinya. Tapi, kesabaran itu juga tidak bertahan lama.
“Bilqis. Kamu ini masih mau hidup tidak, sih? Kenapa kamu
tidak mau makan? Apakah kamu sedih karena berpisah dengan papa Al? Jika kamu mengalami seratus kesedihan, yang mama rasakan adalah sepuluh ribu sedih dan
sakitnya karena kehilangannya. Terlebih, ia akan memiliki anaknya sendiri dengan
wanita itu. Kalau kamu sayang sama mama, kamu makan, jangan cuma diam mengurung
diri dan tak mau makan dan minum apapun, Bilqis!” teriak Nayla, histeris.
Mendengar teriakan dari mamanya Bilqis hanya bisa menangis.
Tapi, apa yang bisa gadis kecil itu lakukan? Bahkan usianya sekarang juga baru
dendammu pada Queen dan juga anaknya. Akan kubawa papa kembali untukmu mama. Sumpah
Bilqis dalam hati.
Gadis kecil itu pun berjalan menghampiri mamanya, tubuh
kecilnya memeluk Nayla yang duduk bersimpuh, ia merasa prustasi dengan semua
ini. Walaupun, sudah tiga hari ini berlalu, ia juga masih sama sekali belum menghubungi Jevin. Apalagi bertemu, belum sama sekali.
“Ma, kalau memang papa Al tidak mau lagi dengan mama. Kenapa
tidak bersama om Jevin saja? Bukankah dia baik dengan kita?”
Nayla membalas pelukan putrinya dan berkata dalam isakannya,
“Kau masih terlalu kecil untuk memahami semua ini, Sayang. Sudahlah, walau
tanpa seorang ayah, mama akan berusaha menjadi ayah sekaligus ibu untukmu.”
“Mama jangan sedih. Apapun keputusan mama, Bilqis akan
dukung. Maafkan Bilqis ya, Ma? Selama ini tak pernah percaya dengan apa yang
kau katakan. Ternmyata benar, Queen itu jahat. Aku benci dia. Aku bersumpah, ia tidak akan pernah bahagia.”
Nayla memeluk Bilqis kian erat, ia menangis dalam senyuman
dan kemudian menatap mata putri semata wayangnya, dari matanya, ia menumpahkan
segala harapannya untuk gadis kecil itu.
“Lagipula aku ini mamamu, Nak. Siapa yang akan sayang sama
kamu selain mama? Tidak akan ada yang bisa menyayangimu lebih dari mama. Sekarang, kau mau kan, menuruti apa maunya mama?”
Gadis kecil itu membalas tatapan mata ibunya dan mengangguk.
“Mulai sekarang, Bilqis janji akan selalu patuh dengan mu, Ma.”
“Bagus, anak baik. Kau memang anak mama dan akan begitu
seterusnya.” Nayla kembali memluk putrinya dengan penuh kasih. Tapi, hatinya mulai memanfaatkan keadaan ini.
***
Al duduk di meja kerjanya dan memainkan bulpoin
memukul-mukul halus pada tepi meja untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosannya dari menunggu.
Selang beberapa menit, pintu ruangannya di ketuk dari luar.
“Masuk!” jawabnya dengan dingin.
Kemudian pintu terbuka setengah, bediri seorang wanita
dengan tinggi kira-kira 165cm dengan berat badan ideal dan rambut diikat
sanggul asal namun sangat modis.
“Pak, yang mau diinterview sudah datang,” ucap wanita itu.
“Suruh dia kemari dan kau boleh kembali ke ruanganmu.”
Setelahnya, muncul sosok dengan tubuh tegab tinggi besar
berdiri di ambang pintu. Pria itu menunjukkan senyuman terbaiknya dan sedikit
membungkkkan badan untuk menghormati Al sebagai calon bos jika memang ia diterima bekerja di sini.
Al sempat tertegun melihat pria itu. Sebab ia benar-benar
__ADS_1
mirip sekali dengan mendiang Aditya. Hanya beda di apa? Mungkin usia, dia lebih
muda beberapa tahun saja dari Aditya. Sepertinya pria yang ada di hadapannya
seumuran dengannya, kalau tidak lebih tua sedikit.
“Selamat pagi, Pak.”
“Iya, selamat pagi. Duduklah di situ!” seru Al sambil menunjuk pada kursi di depannya.
Dengan santun pula, pria itu duduk di hadapan Al. Dan
interview pun berlangsung cukup lama. Tapi, yang kebanyakan Al bahas bukan
mengenai pengalaman kerjanya. Karena Al sudah yakin pria itu memiliki potensi
yang baik dalam mendesain bangunan jenis apapun. Al justru lebih tertarik
dengan kehidupan pribadi pria bernama Candra itu.
Candra adalah pria asal jogja. Dia lulusan S2 jurusan
arsitektur. Pernah bekerja di sebuah perusahaan kontruksi ternama di luar
daerah. Dan kini, ia memutuskan untuk tinggal dan menetap di ibukota. Jadi,
dengan terpaksa ia harus resign dari tempat kerja lamanya dan mencari yang baru di sini.
“Oke, biar saya pertimbangkan dulu, tunggu kabar tiga hari
sampai satunminggu untuk bisa atau tidaknya bekerja di sini,” ucap Al
mengakhiri wawancaranya.
Setelahnya, Al langsung meminta bagian HRD agar besok
menghubungi pria bernama Candra itu untuk mulai bekerja.
Usai interview, Candra berniat hendak kembali ke
kos-kosannya. Tapi saat tiba di gang yang menuju ke tempat kos-kosannya. Ia teringat kalau dia tidak memiliki stok makanan. Merasa capek, dan yang ia masak
rasanya selalu tidak enak ia berniat pergi ke restoran.
Candra berjalan dengan sangat cepat seperti yang telah di
kejar-kejar waktu. Padahal, ia juga tidak ada kegiatan lain, dan untuk hari ini dia juga free tak ada acara apapun. Rupanya, berjalan cepat seperti orang dikejar kerbau ngamuk memang sudah jadi ciri khas pria itu.
Sesaat ketika ia melintasi sebuah mini market, ia berpapasan
dengan wanita hamil. Ya, wanita yang tiba-tiba saja menangis histeris setelah
marah-marah kepadanya. Merasa penasaran apa penyebabnya menangis dan juga
memiliki utang akan menggantikan buah yang ia rusak, Candra berbalik arah mengejar wanita itu.
“Hey, Mbak!” serunya, setengah berlari sambil melambaikan tangan
pada wanita hamil berbaju overall dress dari bahan jeans dan baju dalam berupa
kaus lengan Panjang berwanra putih.
Wanita yang merasa dipanggil oleh seseorang itu pun
menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Begitu ia mengetahui yang memanggil adalah
orang yang sama. Orang yang membuat jantungnya berdekup kencang serta aliran
darahnya terasa deras. Ia jadi terpaku. Ingin berlari untuk menghindar agar
kejadian memalukan menangis tanpa sebab itu tak terulang kembali. Tapi,
kenyataannya seluruh tubuhnya seperti tak bisa ia kendalikan. Terutama kaki,
rasanya sangat kaku dan tak bisa digerakan sama sekali.
“Mbak, Aku punya utang sama kamu. Apakah kau mau ke
minimarket itu lagi? Ayo kalau begitu, aku akan gantikan apelmu yang kurusak
kemarin,” ucapnya dengan rasa penuh percaya diri.
Novita masih diam terpaku, dengan segenap tenaga yang ia
kumpulkan, ia berkata, “Tidak perlu.”
“Mbak, kamu kenapa sih? Apakah ada yang aneh dengan diriku?
Jujur selama beberapa hari ini aku tidak bisa tidur gara-gara kamu. Bagaimana tidak? Kau yang mulanya marah-marah kepadaku tiba-tiba saja menangis histeris tanpa
sebab dan mengusirku? Aku kan,
jadi penasaran.”
“Oh, itu? Maaf. Lupakan saja anggap itu tidak pernah ada,”
jawab Novita sambil mengalihkan pandangannya ke termapt lain yang jauh dari
tempatnya berdiri di depan pria yang sangat mirip dengan mendiang suaminya,
papanya Axel dan anak yang ada dalam kandungannya.
“Apa? Melupakan? Enak sekali kau bilangnya, Mbak? Aku saja tiga
hari tiga malam gak bisa tidur, ini kita ketemu dan kau dengan mudahnya bilang
lupakan saja,” protes Candra.
“Ya sudah, maumu apa? Mau mentraktirku apel? Ayo kalau
begitu! Kebetulan aku juga akan berbelanja di minimarket ini,” jawab Novita
dengan cuek.
Akhirnya keduanya pun masuk ke dalam mini market. Novita
membeli apapun yang ia butuhkan, sedangkan Candra, dia juga membeli bahan makanan. Keinginannya untuk langsung makan saat tiba di kos-kosan jadi urung. Dia terpaksa membeli bahan makanan
mentah dan mengolahnya dulu. Entah kenapa, di depan wanita yang bahkan ia tak tahu siapa Namanya ia ingin terlihat hebat, dan mengesankan. Padahal masakannya tidak enak. Kalau tidak hambar ya keasinan.
"Aku sudah selesai." Novita menghampiri pria itu dan kemudian melihat ke arah ranjangnya. Pria itu membeli cukup banyak buah dan sayur serta bumbu-bumbu. Apakah dia bisa masak? Atau, membelikan istrinya. Baik sekali dia. Batin Novita.
"Oh, sudah, ya? Ya sudah. Ayo kita ke kasir. Itu sini jangan angkat berat-berat. Itu tidak baik untuk wanita hamil sepertimu," ucap pria itu sambil meraih belanjaan Novita.
"Kamu belanja banyak banget? Sengaja membelikan untuk istri, apa dia sudah titip?"
Pria itu tertawa payah. Kemudian menjawab pertanyaan Novita dengan santai, "Aku masih sendiri. Belum pernah menikah. Hahaha.... Bahkan ibuku selalu marah-marah dan memgataiku bujang lapuk. Karena di usiakau yang ke duapuluh sembilan masih saja sendiri."
"Maaf. Aku tidak bermaksud... "
"Sudah, lupakan saja. Oke?" Potong pria itu, kemudian mengajaknya ke kasir.
Sesampai di kasir dan tiba giliran mereka, pria itu tidak hanya membayar apel yang dibeli Novita. Tapi, juga semua barang yang dibeli oleh wanita itu.
"Loh, kenapa kamu membayar semuanya?"
"Tidak apa-apa. Anggap saja ini untuk hari yang baik memulai perkenalan kita. Oh, ia. Namaku Candra. Kamu siapa?" Pria itu mengulurkan tangannya pada Novita.
"Panggil saja aku Ovi. Ya sudah terimakasih, ya? Aku harus segera kembali. Putraku sudah menungguku di rumah." Wanita itu segera menghindar dan pergi begitu saja.
Tapi, jauh di dalam hatinya ia merasa sakit dan mengianati mendiang suaminya. Ia tak mampu lagi membendung air matanya. Tapi, kebersamaan dengan pria bernama Candra yang hanya setengah jam itu juga sudah mampu mengalihkan dianiaya. Dia pria pertama yang bisa membuatnya nyaman.
'Sadar, Nov. Dia masih bujang dan kau janda dengan anak hampir dua. Lupakan saja,' batinya.
Kemudian ia mempercepat langkahnya agar segera tiba di rumah.
__ADS_1