Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
will die 20


__ADS_3

"Hiburan? Harus masuk ke sana?" tanya Nayla dengan nada meninggi. Membuat Bilqis menjadi gemetar dan kian takut saja. Sebab, sebelumnya mamanya tidak pernah terlihat semarah ini.


Bilqis diam dan kian ketakutan saja. Ia berfikir, apakah masalah ini serius dan perlu dibesar-besarkan?


"Mama tanya sekarang sama, kamu. Kamu sudah berapa, sih?" tanya Nayla


Gadis itu tetap diam menunduk. Dia tidak mau menjawab berapa usianya saat ini. Pasti mamanya juga tahu sudah tahu. Lalu, untuk apa dijawab pikir gadis itu. Apa sengaja bertanya untuk meledek kalau sifatnya masih terlalu kekanak-kanakan? Entahlah. Diam itu lebih baik.


"Mulai sekarang mama tegaskan kamu. Jangan lagi sering kluar bareng Tiara. Mama sudah slidiki siapa dia dan apa pekerjaannya itu tidak benar."


"Ma. Aku,kan tidak ikut-ikutan dia, Ma," bantah Bilqis. masih dalam kondisi kepala tetap tertunduk.


"Ya, mama tahu itu. Tapi, itu sekarang. Bagaimana jika nanti? Sudah, mama sudah terlalu sabar padamu selam ini. Sekarang kau mandi dan siap-siap. Pakailah baju ini," ucap Nayla masih dengan raut wajah yang masih tetap datar dan tegas. meraih tas karton warna kuning gading yang sejak tadi ada di bawah kaki Nayla.


Tanpa membantah lagi, Bilqis menerima tas itu dan masuk ke dalam kamar. Ia diam dan terus berfikir. 'Siapa yang kira-kira mengatakan sesuatu pada mama sampai-sampai ia harus menyelidiki latar belakang Tiara? Dia memang seorang kupu-kupu malam. Tapi, jugia tetap manusia, kan? kenapa juga harus membenci dan menjauhinya? Apa mungkin kak Axel?' batin Bilqsi.


Usai mandi, dan masih menggunakan handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya, Bilqis mengambil smart phone miliknya yang masih berada di dalam tas kerjanya. Ia mescroll kontak dan menghubungi Axel. Dia ingat, selama ini yang terlihat sangat tidak menyukai Tiara itu adalah dia. Dulu, ia juga pernah beberapa kali berpesan agar tidak dekat-dekat dengan Tiara.


*flash back.

__ADS_1


'Sudah berapa kali aku peringatkan? Aku tidak suka kau dekat-dengan dengan wanita gatal seperti itu,' ucap Axel dengan ekpresi kesal karena merasa diabaikan.


Bilqis yang juga jengkel menjawab dengan ketus dan nada tinggi, 'Memangnya apa masalahnya denganmu? Dia yang gatal, kenapa kamu yang bingung? Kamu tidak suka karena dia menjadai wanita panggilan dan simpanan itu apa alasannya?"


"Aku tidak mempermasalahkan dia, tapi kau. Aku kawatirnkau terpengaruh olehnya. Jadi lebih baik jaga jarak saja sama dia, oke?" jawab Axel dengan suara yang sedikit merendah.


"Apa? kau peduli, ya sama aku? Aku ini apamu? Urus aja Berlyn mu itu. jadikan dia wanita baik dan nurut padamu saja. Kan kelak dia yang akan jadi istrimu bukan aku. Jika pun aku juga menjadi nakal seperti Tiara juga kenapa? jangan bawa-bawa hubungan kita yang seperti saudara. Kita juga bukan siapa-siapa. Tak ada hubungan darah setetespun diantara kita," jawab Bilqis dengan angkuh dan kaku.


"terserah!" ucap Axel kesal. Lalu pria itu pun pergi meninggalkan Bilqis seorang diri.


Bilqis hanya melihat punggung Axel sambil terisak. Setelah pria pergi, ia berkata lirih seorang diri dalam tangisnya. "Kak Axel, tahukah engkau kenapa aku menentangmu seperti ini? Aku berniat agar selalu dapat perhatian darimu. Aku ini butuh kamu dan hanya ingin kamu. Bukan siapa-siapa. Aku harap setetah ini, kau bisa semakin lebut dan dekatilah aku, jangan benar-benar pergi dan menjauhiku. Jangan benci aku, kak Axel. Aku begini hanya cari perhatianmu." Biqlis terus terisak sambil menghapus buliran bening yang mengalir di kedua ujung matanya.


**comeback.


"Kak, apakah kau berkata sesuatu pada mamaku terkait Tiara?" tulis Bilqis lalu mengirimkannya pada Axel.


Tidak berselang lama, Axel membalas pesan chatnya. Tapi, bukan berupa jawaban.malah sebaliknya. Pria itu balik bertanya padanya. "Tadi kamu tidak bekerja, kan? Ngapain kamu masuk ke tempat prostitusi yang berkedok dengan karaoke?"


Bilqis terkejut dan takut sampai-sampai tangan yang ia gunakan untuk memegang smartphone miliknya bergetar hebat. Walaupun di dalam sana yang dia lakikan benar-benar menyanyi atau karaokean saja. Tetap saja, orang yang melihat dianggap dia sudah tidak benar. Bilqis tidak menyangka, bagaimana bisa Axel mengetahui hal itu. Dari mana? Apakah dia diam-diam mematainya? Belum sempat menulis balasan untuk Axel, terdengar teriakan mamanya dari luar. Padahal, ia masih berfikir keras bagaimana cara menjelaskannya pada pria blasteran itu.

__ADS_1


"Bilqis! Cepatlah sedikit! Apa yang kau lakukan selama ini?"


"Iya, Mama. Masih ganti baju," jawab Bilqis lalu buru-buru mengambil baju yang dibelikan mamanya. Namun, ia tiba-tiba saja berhenti saat melihat baju yang ada di tangannya kini. Untuk meyakinkan, Biqlis membembreng baju itu dan melihat modelnya.


Terpampang di depannya sebuah mini dress warna hitam berbahan katun. Model span sebatas paha dengan ekor dari bahas sifon sepanjang lutut dengan lengan tiga perempat dan mekar di bagian bawah lengannya, serta baju yang memamerkan leher dan kedua pundak pemakainya Modelnya sangat formal simpel dan elegan.


"Mau ajak ke mana mama ini kok beliin aku baju kek gini?" gumam Bilqis seorang diri.


"Cepetan, Bilqis. Jangan sampai kita telat!" seru Naila lagi dari bawah.


"I... Iya, Ma. Ini hampir selesai," jawab Bilqis sekenanya lalu, mengenakan baju itu tanpa sempat melepas bandrol di bagian belakangnya.


Tidak lama kemudian, Bilqis pun sudah selsai. Gadis itu turun dengan gaun yang diberikan oleh namanya padi dipadukan dengan spatu hak tinggi warna hitam membuat gadis itu terlihat kian mempesona dan memukau saja.


"Ayo!" seru malah terkesan buru-buru.


Sampai di dalam mobil, Bilqis memberanikan diri bertanya pada mamanya, "Ma. Kita mau kemana, sih?"


Sepertinya Nayla enggan menjawab pertanyaan putrinya. Ia diam sampai beberapa detik lalu akhirnya ia pun menjawab dengan nada dingin dan raut wajah yang datar. "Kita akan bertemu dengan pria yang akan jadi calon suamimu. Mama akan menjodohkanmu usiamu sudah tidak muda lagi, Bilqis! Usiamu sudah duapuluh enam tahun."

__ADS_1


Saking terkejutnya, Bilqis sampai melotot dan terngaga. Dilihatnya Nayla dengan tatapan yang seolah tidak percaya. Bagaimana bisa, seorang ibu kandung yang ia anggap baik dan sangat menyayanginya bisa melakukan hal seperti itu? Melakukan perjodohan diam-diam tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu. Jangankan persetujuan, membicarakannya bersama saja, tidak. Apakah harus seperti ini?



__ADS_2