
Dengan kasar Axel meraih benda pipih yang tergeletak diatas nakas. Ia mendengus kesal kala melihat siapa yang memanggilnya, " Huh, bocah sialan ini, pasti baru bangun tidur dan tidak menemukanku di rumah," umpatnya kesal. Kemudian, dia mengangkat panggilan itu.
"Halo, Driel. Ada apa? Sudah bangun kau, rupanya?" tanya Axel dengan kesal, karena merasa adiknya telah mengganggu moment yang jarang terjadi antara dia dan Berlyn.
"Iya nih, aku sudah bangun, Kakak nggak ada ke mana pagi-pagi tau-tau ngilang aja," jawab remaja itu dengan suara yang sepertinya sudah sejak dari tadi bangun
"Aku lagi sama Berlin nih, bantu mencari Bilqis. Dari kemarin dia menghilang, nggak tahu minggat kemana tu bocah," jawab Axel sedikit kesal.
"lho, kok bisa? Emangnya kenapa, ya? Apa mungkin ada masalah? Memang kemarin dia berpamitan pulang, katanya ditelepon sama tante Nayla, penting gitu," ucap adriel dari seberang sana. Kedengarannya dia juga sedikit terkejut dan kaget dengan berita menghilangnya Bilqis.
"Iya, ada masalah katanya sama tante Nay. Ya sudah, ini kita lagi nyari. Papa sama mama Queen juga nyariin dia, nggak tahu ke mana saja. Kamu, kalau nggak ada kegiatan, bantu kita nyari gih! Kemana, kek," ngucap Axel.
"Iya, kak. Iya... ini aku selesaikan sarapanku dulu, ya. Habis ini aku bantu cari. Kakak ke arah mana? Aku akan cari ke arah berlawanan," tanya Adriel.
"Kakak berada di area jalan gajah Mada, dan ini terus lurus ke timur kamu cari ke tempat lain saja yang sekiranya Kak Bilqis berada di sana," saran Axel
"Ya, Kak," jawab Adiel kemudian mematikan teleponnya. Dia sendiri bingung harus mencari kemana. Sebab dia sendiri juga tidak tahu ke mana biasanya kak Bilqis pergi saat dalam masalah seperti ini. Karena sejauh ini dia mengenal sosok gadis itu sebagai sosok yang selalu periang ceria dan bertingkah sedikit kekanak-kanakan karena sejak kecil yang menjaga dia dan Berlin adalah Bilqis.
Dengan kesal Axel melempar ponselnya ke atas dasbor mobil. Ia menoleh kearah Berlyn yang memalingkan wajahnya sambil menutup bibirnya dengan tangan kanannya. Terlihat Gadis itu tengah tertawa tertahan. Jelas ia menertawai dirinya. Sapa lagi?
"Kenapa tertawa? Lucu, ya?" tanya Axel pada Berlin.
Gadis itu menoleh dengan anggun lalu menggelengkan kepala sambil tersenyum kemudian ia tertawa terbahak sampai menutup mulut dengan kedua tangannya. Sepertinya gadis itu tidak bisa menahan nya. Mungkin saja dia teringat adegan romantis yang pernah dia tonton di sebuah drama saat si pria menatap wanitanya dan mungkin hendak mencium wanita tersebut, ciuman yang pertama, malah di kacaukan oleh suara telepon. Bahkan yang lebih parah ibu dari si Gadis itu sendiri, tiba-tiba melintas dan memanggil nama salah satu dari mereka.
jadi Gadis itu kian terpingkal saja. Meskipun tidak mengeluarkan suara. Namun jelas sekali, seperti apa ekspresi nya.
Axel diam terus menatap Berlyn yang ceria. Seumur hidupnya, dia tak pernah melihat gadis yang dia cintai tertawa lepas sampai seperti ini. Ia membatin, 'tidak masalah sekalipun aku terlihat konyol ataupun bodoh di depan semua orang, selama itu bisa membuatmu senang dan tertawa lepas seperti ini. Aku terima. Karena tawamu adalah bahagiaku. Sementara air matamu adalah lukaku.'
"Ini sudah jam makan siang, kamu pasti lapar. Kita makan dulu, ya. Ya setelah makan siang kita lanjut cari kak Bilqis lagi. Gimana?" tanya Axel menatap Berlin menunggu persetujuan.
Awalnya Berlyn menatap wajah pria itu. kemudian pandangannya teralihkan. ia menuju ke jalanan di depan mobil kemudian pandangannya mengikuti berbelok ke arah kiri. Berlin terdiam untuk beberapa saat lalu Gadis itu seperti mengatakan sesuatu sambil menunjuk ke arah depan dan sebelah tangannya memukuli lengan Axel.
__ADS_1
"Ada apa Berlin? Kamu lihat apa?" tanya Axel.
Tak tahu bagaimana mengisyaratkan nya, buru-buru Berlin mengambil ponsel Axel yang kebetulan tidak memiliki kata sandi ia membuka aplikasi chat dan menulis sesuatu di sana buru-buru menyerahkan pada Axel agar segera dibaca oleh pria itu.
'Barusan aku melihat Kak Bilqis naik ke dalam angkot warna biru itu cepat kita ikuti dia!"
"Bilqis? Kamu benar gak salah orang?" tanyanya sambil menyalakan mesin mobil dan mulai melajukan kendaraan tersebut.
Sudah merasa tak sabar dia menghantarkan kedua kakinya sambil menarik kemeja yang dikenakan axel meminta agar dia lebih cepat.
Sementara di tempat lain, Al juga mendapatkan kabar dari orang suruhannya, kalau salah satu dari mereka melihat Bilqis masuk ke dalam sebuah bangunan kuno berupa gedung tinggi yang sepertinya belum selesai pembangunannya namun sudah ditinggalkan.
Khawatir Bilqis melakukan sesuatu yang nekat, dengan cepat Al menghubungi istrinya yang kini juga telah mencari Bilqis bersama Nayla di tempat lain.
Namun sepertinya kedatangan mereka sedikit terlambat. Untung saja Axel dan Berlyn lebih dulu tiba di tempat itu. Jika saja tidak, mungkin Gadis itu sudah benar-benar nekat mengakhiri hidupnya dengan meloncat dari lantai enam.
"Bilqis! Sesulit apa, sih masalahmu? Kita bisa pecahkan bersama. namun tidak dengan cara seperti ini. Kami akan selalu menerima mu. Jangan berpikiran sempit! Jangan lakukan hal bodoh, itu kemarilah mendekat!" bujuk Axel.
Kau ini bukan aku, kak Axel. Bagaimana kau bisa mengerti aku? Kamu tidak tahu masalah ku. Kamu hanya melihat aku sebagai wanita menyebalkan yang terus mengejarmu saja, kan? Kamu nggak usah ikut campur dengan kehidupanku! Aku bukan siapa-siapamu," ujar Bilqis sambil berurai air mata
"Bilqis! apa yang kau lakukan, Nak? Kenapa kau sampai seperti ini? maafkan Mama. Mama tidak akan menjodohkanmu dengan pria mana pun. terserah kamu. kamu mau dengan siapa, Mama juga tidak akan lagi membahas tentang pernikahan padamu. maaf kan mama, sayang. kemarilah," ucap Nayla sambil menangis ia terkejut kalau tindakannya sangat melukai putrinya sampai-sampai membuatnya frustasi dan ingin bunuh diri.
"Tidak, Ma. Aku tidak marah padamu. Seharusnya aku lebih menurut denganmu. Tapi ini salahku Aku tidak pantas jadi anakmu lagi satu-satunya jalan aku memang harus mati saja," ucap Bilqis.
Awalnya Nayla ingin berlari menghampiri putrinya. Tapi, Queen menahan nya. ia khawatir jika Nayla mendekat Bilqis malah nekat loncat.
Tapi, Nayla yang khawatir terjadi sesuatu hal buruk pada putrinya, iya tak menghiraukan Queen. Dia lepaskan genggaman tangan Queen dan beranjak mendekati putrinya
"Stop! jangan ada yang mendekat! Jika salah satu dari kalian berani melangkah 1 langkah saja, aku akan loncat dari sini," ancam Bilqis dengan tatapan kosong dan menghitam di bagian bawanya. Sepertinya sejak kemarin dia sama sekali tidak tidur.
"Kak coba tenang dulu, Kak! Serahkan padaku, hal buruk tidak akan terjadi pada Bilqis," bujuk Queen. Meyakinkan Nayla.
__ADS_1
Perlahan Queen melangkah ia mencoba membujuk Bilqis sebisanya.
Bilqis Mama mohon kamu jangan nekat. Kamu percaya, kan sama mama Queen? Mama Queen akan berusaha melindungimu jika kau hanya ingin berbicara dengan Mama Queen biarkan mereka semua pergi oke ucap Queen. dengan berhati-hati melangkah pun ia hanya berani dua langkah dari tempatnya berdiri. Tidak berani lebih dekat karena posisi Bilqis sudah sangat menepi. Tidak ada setengah meter dia juga pasti sudah jatuh.
"Apa yang mau dibicarakan, Ma? Semua terlambat," keluh Bilqis sambil menangis. Ia pun roboh jatuh tersungkur dan bertumpu pada kedua lengan di depan tubuhnya.
Dia atas lantai gedung tua yang mulai menghitam karena jamur.
"Tentu permasalahan kamu dong Sayang lagi pula kamu kenapa marah sama Mama Nayla lalu malah pergi? Kau bisa pulang ke rumah Mama Queen dan papa Al. Rumah kita berdua selalu terbuka untukmu Jika saja kau masih tidak ingin berbicara dengan Mama Nayla kami juga akan memberi pengertian padanya lalu apa maksudmu ini?dan kau kenapa mau melakukan hal sebodoh ini? Kau tahu jika sudah mati itu tidak bisa hidup lagi? dan yang ada hanya penyesalan yang tak ada ujungnya dan itu pun juga sia-sia. menyesal pun saat kau mati itu juga tidak akan menghidupkanmu kembali."
Mendengar nasehat dari Queen, Bilqis mulai mengangkat kepalanya, di tatap nya wanita yang mengenakan blus putih dan rock sepan hitam sepanjang lutut yang menangis terisak kemudian mulai berdiri dan bertanya beranjak mendekati Queen dan memeluknya.
"Selama ini kau memang tidak pernah ingkar janji. Mungkin ini alasannya kenapa aku mempercayaimu, lalu bisakah kau berjanji satu kali lagi padaku kau akan tetap menerimaku dan tidak menyalahkan ku atas apa yang terjadi padaku?"
"Tentu saja. Kenapa tidak kau tetaplah Bilqis. apapun yang terjadi padamu tidak akan merubah kenyataan kau tetaplah putriku walaupun aku tidak ikut mengandung dan melahirkan muka dunia ini," ucapkan Bilqis meyakinkan sambil membalas pelukan Bilqis
"Kau tetap menerima aku sebagai putrimu?"
"Ya sekarang katakan apa masalahmu,"
Bilqis diam sesaat tak lama kemudian ia malah berteriak histeris dan kembali menangis ia mengamuk dan hendak berlari menuju tepi gedung, seperti hendak meloncat namun dengan sigap Queen ini langsung memegangi Gadis itu dan meneriaki Al untuk meminta bantuan agar dia juga memeganginya.
Bilqis apa yang terjadi pada mu? Tenanglah! Jangan berbuat seperti itu! Kita disini untuk mencari kamu, kita menghawatirkan mu jika kita tidak sayang padamu? Kenapa kita semua mencarimu? Kamu lihat adikmu Berlyn dari tadi terus menangisimu yang seperti ini ini. Sejak kemarin kita tidak ada yang tenang setelah mendengar kabar kalau kau menghilang. Cba pikirkan itu," bentak Al dengan keras.
Seketika gadis yang berontak dan mengamuk itu pun diam sambil menatap dalam mata Papa tirinya. Baru kali ini ia melihat kalau Papa tirinya benar-benar marah dan membentak nya. ia sedikit takut dan gentar. Akhirnya ia pun menurut untuk pulang.
Tidak hanya Bilqis. Tapi semua terkejut. Kecuali Nayla yang dari dulu sudah sering bertengkar dan menghadapi Al, mantan suaminya yang seperti ini.
"Kita pulang ke rumah mama Queen saja, ya?" bujuk Queen lirih sambil memeluk Bilqis.
Gadis itu mengangguk patuh dan turun meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1