
"Ada apa, Axel?" tanya Queen dengan tenang memandang ke arah pria bule yang lebih mirip dengan Alex, ketimbang Aditya, sang ayah.
"Ma, maaf sebelumnya jika Axel lancang. Tapi, ini Axel bicara sebagai kakaknya Adriel," ucap Axel dengan sedikit terbata-bata.
Queen tersenyum. Sifat dan karakter anak ini cenderung mirip sang ibu. Lain halnya dengan Adriel yang dominan mirip ayahnya. Di mana dia terlalu berambisi untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Sampai-sampai ia harus menghalalkan segala cara.
"Kamu katakan saja, Xel. Tidak usah ragu."
"Adriel sejak saat itu terus mengunci diri. Tidak mau bicara, makan dan minum apapun."
"Jadi, kamu mendukung mereka menikah agar mereka bisa menjalani kehidupan dengan baik seperti biasanya?"
"Dengan sangat terpaksa. Lagipula... Ada surat perjanjian hitam di atas putih, kan Ma?"
Mata Queen lekat memandang Axel, dia ingin mengutarakan sesuatu, hanya saja, untuk mengatakan hal tersebut dia masih ragu.
"Yah walaupun diam-diam perjanjian itu bisa mereka langgar, karena namanya hubungan yang sudah diresmikan oleh agama dan keduanya sama-sama dimabuk asmara kita bisa apa kalau mereka udah bersama tidak mungkin kan kita terus mengawasi atau memasang CCTV di kamar mereka?" ujar Axel.
Seketika, Queen pun tertawa terbahak.
"Kau ini, ngerti banget sih apa yang ada di pikiran mama Queen."
"Terimakasih pujiannya, Ma," jawan Axel sambil tersenyum canggung.
"Axel, untuk permintaan kamu, mama tidak bisa langsung memberi jawaban sekarang. Mama masih harus menunggu papa Al kembali," ujar Queen.
Tanpa sengaja mata aksel memandang ke arah layar ponsel Queen yang tengah berkedip di sana muncul sebuah foto yang rupanya dikirim dari aplikasi chat berwarna hijau yang menunjukkan foto bapak Al bersama Berlyn dengan caption, "malam ini aku tidak pulang Sayang aku harus bersenang-senang untuk menghilangkan rasa penakut setelah beberapa hari ini melakukan banyak pekerjaan dengan princess kita."
Baru saja Axel berpikir bahwa Al pergi ke suatu tempat bersama dengan Berlin. Namun, bersamaan dengan itu dia melihat sekelebat bayangan yang tak lain itu adalah Berlin yang tengah membawa sebuah nampan berisi soft drink untuk dibawa ke arahnya.
'Lalu, siapa yang bersama papa Al tadi?' pikir Axel. Tapi, untuk bertanya dia juga tidak berani.
"Terimakasih, Berlyn," ucap Al sambil tersenyum tipis, begitu gadis tersebut meletakkan minuman di depannya dan memberi isyarat agar dirinya meminumnya.
Tapi, Queen masih diam. Rupanya, wanita paruh baya itu butuh waktu yang cukup lama untuk bisa segera berdamai dengan dirinya sendiri.
Merasa suasana di rumah tersebut sudah terasa tidak nyaman karena kemunculan Berlin yang membuat mama Queen berubah seketika, maka Axel pun memutuskan untuk pamit.
Axel sendiri tahu, dia masih mencintai gadis tersebut. Hanya saja, dari sorot matanya juga nampak bahwa Berlyn lebih mencintai sang adik. Dia juga yakin, adiknya pasti akan menjaga gadis itu dengan sepenuh hati.
Usai menghabiskan waktu jalan-jalan, kini Al dan Clarissa kembali ke banglow tempat tinggal Clarissa di Nasim Road.
"Kamu capek, Sayang?" ucap Al, menemani putrinya yang hendak tidur, dan sudah siap dengan slimut yang menutup setengah tubuh gadis belia itu.
__ADS_1
"Nggak. Sama Papa, aku gak pernah capek," jawab gadis itu sambil tersenyum manja.
"Dasar, kau manja begini, sama persis dengan namamu," timpal Al sambil mencubit hidung putrinya dengan gemas.
"Apakah setelah aku terlelap nanti Papa akan segera kembali ke Indonesia?"
"Sepertinya memang harus begitu, Sayang. Apakah kamu keberatan?" Al menatap lekat kedua netra putrinya.
Clarissa tersenyum dan menggelengkan kepala. "Mana mungkin aku keberatan? Papa sudah memberikan banyak waktu padaku hari ini. Padahal, Papa juga sangat sibuk, dan pasti capek, kan?"
Al mengehela napas. Kemudian mengusap rambut Clarissa. "Terimakasih atas pengertiannya, Sayang. Tapi, jika kau ingin Papa kembali besok, juga tidak masalah. Papa bisa langsung ke kantor."
"Selesaikan saja dulu masalah Berlyn. Bukankah mama sekarang sudah ada di rumah. Jangan terlalu lama mendiamkan putrimu yang lainnya."
"Baiklah, Papa akan menemani kamu. Tapi, jangan sedih ya Jika besok pagi papa sudah tidak di sini."
Clarissa tidak menjawab, dia hanya tersenyum, membuka kedua tangan dan memeluk papanya hingga dia terlelap.
Setelah Clarissa sudah benar-benar terlelap, Al melihat jam dinding di atas nakas. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 waktu Singapura. Artinya, di Indo masih pukul 21.00WIB. Untuk pulang dia tidak butuh waktu lama, kemungkinan besar juga nyampe rumah pukul 22.30 WiB.
Berat sekali hati Al meninggalkan putrinya. Tapi, harus bagaimana lagi? Di rumah, dia ada hal yang harus segera di selesaikan, memang benar, apa yang dikatakan oleh Clarissa. Masalah Berlyn tidak bisa dibiarkan terlalu lama.
Seperti biasa, saat ia tiba di rumah suasana sudah begitu sepi. Mungkin saja, semua juga sudah tidur. Termasuk juga Queen.
Al menoleh, melihat di depan kamar putrinya Berlyn berdiri di sana dengan tatapan wajah yang tak bisa diabaikan oleh Al. Karena gadis itu terlihat begitu melas.
Dengan ragu-ragu, Al pun menghampiri putrinya dan bertanya tampa mengusap rambut seperti yang dia lakukan setiap kali berjumpa dengan kedua anak kembarnya. "Kamu belum tidur?" Bahkan, untuk memanggil sayang saja juga rasanya sangat berat.
Bukan karena dia tidak lagi menyayangi Berlyn setelah apa yang dilakukan. Tapi, dia terpaksa melakukan ini agar istrinya tidak menganggap dirinya menentang aturan yang telah dibuat demi kebaikan anak-anak.
Mungkin lebih tepatnya anak-anak agar bisa intropeksi. Sebab kebanyakan di luar sana apabila seorang ibu memberi pelajaran dan sang ayah membela anak tidak akan bisa mengerti akan kesalahannya yang ada dia akan semakin melonjak dan itu merugikan dirinya sendiri kelak di masa depan.
Berlyn mengangguk. Kemudian, dia mulai memberi isyarat bahwa dirinya memang menunggu Al datang.
Kemudian, isyarat kedua, gadis itu bertanya, apakah papa sudah makan?
"Papa sudah makan tadi di luar. Kamu, bagaimana?"
Gadis itu tersenyum. Lalu mengangguk dan memberi isyarat bahwa dirinya juga sudah makan. Namun, itu benar atau tidak, Al juga tidak tahu.
"Mau diambilkan minum, Pa?" tanya Berlyn lagi, dengan bahasa isyarat.
"Tidak perlu. Ini sudah malam. Lebih baik kamu segera istirahat, ya? Besok, kamu kan juga harus sekolah."
__ADS_1
Gadis itu tidak langsung memberi respon. Kedua mati nik matanya yang hitam dan bulat menatap lekat ke arah papanya. Ingin sekali dia mengatakan bahwa sengaja dia menunggu papanya pulang karena ada hal yang ingin diutarakan.
Tapi karena ini sudah larut dia tidak bisa mengatakan hal itu saat ini juga. Apa yang dikatakan papanya benar besok dia harus sekolah, namun bukan itu yang membuat dirinya mematuhi apa yang dikatakan papanya hingga mengurungkan apa yang ingin dia ucapkan.
Melainkan melihat papanya yang terlihat begitu lelah dan nyampai rumahnya juga terlalu larut pasti papanya juga ingin segera istirahat setelah aktifitas seharian.
Barulah setelah itu Berlyn mengangguk. Akhirnya dengan berat hati, gadis itu pun berjalan menuju kamarnya kembali dengan langkah yang berat.
'Maafkan papa, Berlyn. Papa harus tegas sama kamu, dan selalu menunjukkan bahwa papa akan selalu setuju dengan keputusan mamamu apapun itu, walau dalam hati juga terkadang ingin berontak,' batin Al.
"Cklek!"
Selang berapa detik setelah Al membuka pintu kamar, tiba-tiba lampu kamar menyala dan menerangi ruangan.
"Apa yang kau obrolkan dengan Berlyn barusan, Al?"
"Sayang, kau belum tidur?"
"Jawab dulu pertanyaan ku. Baru, kau boleh bertanya padaku."
Al menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak tahu harus berkata apa. Sebab, jika sudah seperti ini, istrinya tidak akan percaya dan akhirnya nanti malah ngambek.
"Dia cuma menawariku makan dan minum. Tapi, aku menolak, dan memintanya agar segera tidur."
"Yang bener?"
"Kamu perlu bukti yang seperti apa? Aku memang berkata seperti itu menolak semua tawarannya agar dia tidak mengutarakan apa yang ingin dia katakan kepadaku pasti dia juga akan merengek memintaku untuk membujukmu supaya pernikahannya dengan Adriel direstui."
Queen tersenyum. Rupanya, Al masih saja sosok yang begitu peka dan teliti sekali.
"Kamu, malam-malam begini, kenapa belum tidur?"
"Sebenarnya aku sudah tidur. Tapi, karena mendengar suara mobilmu, aku terjaga," jawab Queen.
"Kamu, bisa saja. Emang sih, dari muka keliatan kalau bangun tidur."
"Emang, kelihatan?"
"Iya, cantiknya alami."
"Gombal! Ya sudah sana cepat Kamu bersihin diri dan istirahat udah malam banget ini besok kamu juga ada jadwal meeting di luar kota kan?"
"Iya, Sayang. Terimakasih ya atas pertahunnya," ujar Al sambil mengecup kening istrinya dan kemudian ia pun menuju kamar mandi.
__ADS_1
Sementara Queen hanya senyum-senyum sendiri seolah-olah tidak sabar menunggu bagaimana reaksi suaminya setelah melihat apa yang telah dia siapkan di dalam sana.