
Baru beberapa menit Queen menemani belajar Berlyn di ruang
tengah, Al sudah tiba. Kali ini ada yang berbeda dengan suaminya. Wajahnya
terlihat lebih cerah dan seolah hidupnya tidak ada beban. Ada apa? Apakah ada
kabar baik? Tapi, apa? Harusnya dia juga merasa lelah, bukan karena sejak
kematian papanya dia harus urus dua perusahaan sekalius sendirian, dan bolak
balik ke sana ke mari setiap jamnya. Tergantung, di mana yang membutuhkan
penanganannya secara langsung. Bertemu clien missal.
“Assalamualaikum, Sayang, lagi pada ngapain?” sapa Al pada
anak dan istrinya yang terlihat tengah asik mewarnai gambar di ruang tengah.
“Papa sudah pulang, cepat hampiri dia dan cium tangannya,”
ucap Queen pada Belyn.
Dengan cepat dan wajah yang menyungginkan senyum gadis kecil
itu berlari menghampiri papanya sambil berlari dan bersiap memeluknya. Al
langsung berjongkok, dan menggendong putrinya, keduanya sama-sama tertawa. Sesekali
Al menciumi pipi cubi putrinya.
“Bagaimana harimu, Sayang? Apakah menyenangkan? Mama masih
pulan sore tadi, ya?” tanya Al.
Gadis itu tersenyum, mengangguk dan meraih tangan kanan
papanya lalu mencium punggung tangannya.
“Anak papa pinter sekali. Berlin mewarnai apa? Boleh papa
lihat?” tanya Al sambil meletakkan tas kerjanya sambil melonggarkan dasi, dan
melepas dua kancing kemeja teratasnya, agar tidak gerah.
Dengan senang hati gadis kecil itu menunjukkan pada Al
gambar-gambar yang berhasil ia warnai dengan rapi. Ada ambar buah, buga, kupu-kupu,
pohon pisang yang masih lengkap dengan buah dan jantungnya.
Al tersenyum melihati karya putrinya. “Pinter banget kamu
kalau mewarna, Sayang. Hasilnya sangat rapi. Siapa yan ajarin?”
Gadis kecil itu memberi isarat, kalau yang ajari adalah bu
Guru di sekolahan.
“Pinternya. Ya sudah. Alat tulis dan semua dirapihkan, lalu
simpan dan kita makan malam bareng, oke?” ucap Al pada putrinya.
Queen diam dan terus mengamati wajah Al. setelah putrinya
pergi menyimpan peralatan sekolah karena makan malam sudah hampir siap, barulah
ia bertanya, “Mukanya cerah banget? Ada kabar apa?”
“Gak ada kabar apa-apa, sih. Kau bisa datang ke kantor besok
jika kau ingin tahu ada apa,” jawab Al sambil mencubit hidung istrinya dan
__ADS_1
beranjak meningalkan tempat tersebut.
Queen hanya diam dan memanyunkan bibirnya saja. “Aku tidak
janji. Aku tanya sama kamu, tapi kau malah memintaku datang ke kantormu,”
ucapnya sambil mengambil tas kerja suaminya dan meletakkan ke dalam ruang baca.
Tempat suaminya menyimpan berkas dan dokumen penting, setra kadang juga ia gunakan
untuk melakukan pekerjaan jika tidak di dalam kamar mereka.
Setelahnya Queen segera menuju kamarnya dan mengambilkan
pakaian ganti untuk suaminya. Barulah, setelah itu dia ke dapur membantu bibi
menyiapkan makan malam yang sudah hampir selesai.
“Non, biasa banget, sih? Kenapa harus dicuci itu
piring-piringnya? Kalau mau bantu cukup bawa makanan ke meja makan saja, tidak
apa-apa,” ucap bi Yul oada Queen.
Mereka tidak pernah ribut jika Queen masuk ke dapur. Sebagai
asisten rumah tangga yang rajin dan bisa menempatkan diri, jadi merasa sangat
sungkan jika majikannya ikut bekerja.
“Tidak apa-apa, Bi. Dulu almarhum mama, urusan masak ya dia.
Yang bikini kopi buat papa, ya mama sendiri, ga pernah minta mbak yang bekerja
di rumahnya. Saya aja yang tidak nurun ke mama. Banyak ngandalin bibi dalam
mengerjakan banyak hal,” timpal Queen.
“La terus saya ini
“Ya, kan masih ada rumah yang harus tiap hari dibersihkan,
baju yang dicuci dan disetrika, Bi.” Queen sudah menyelesaikan pekerjaannya.
Kemudian ia mengusung sisa hidangan yang belum sempat disajikan ke meja makan
dan menikmatinya bersama anak dan suaminya.
*****
Sekitar pukul sembilan, Queen baru akan berangkat menuju
klinik setelah mengantarkan Belyn ke sekolah. Karena ada kegiatan, putrinya
hari ini putrinya masuk siang. dan ia
akan pergunakan waktu tiga jam selama putrinya di sekolah untuk tetap berada di
Klinik. Tapi, hari ini seperti ada yang beda. Tapi, apa? Apakah seorang wanita
duduk di pagar klinik yang letaknya tidak jauh dari pintu gerbang. Queen
melihat dengan seksama wanita tersebut dan hendak menghampirinya. Tapi, salah
satu perawat yang dia pekerjakan di kliniknya berlari menghampirinya.
“Dok, ada pasien mengalami darurat. Hari ini tidak ada
dokter yang piket,” ucap perawat wanita tersebut.
“Ada apa memangnya?” tanya Queen panik.
__ADS_1
“Ada pasien yang katanya sakit perut hebat. Kami tidak tahu
sakitnya karena apa. Takutnya itu usus buntu.”
Tanpa menjawab, Queen pun segera berlari ke dalam untuk
melihatnya sendiri, ia sampai melupakan prihal wanita yang duduk lemah di depan
klinik yang cukup menyita perhaiannya. Memang ini adalah klinik kecil,
sekalipun fasilitasnya dapat dikatakan banyak dan mungkin lengkap untuk tempat
praktik sekelasnya, tetap saja, hanya ada tiga dokter di sana. Salah satu
diantaranya adalah dia sendiri. Untuk psykolog juga hanya di hatai, bahkan tanggal
tertentu saja.
Sesampainya di dalam klinik. Queen tidak mendapati pasien
yang terlihat darurat. Bahkan Gea juga ada di sana. Ia terlihat sedang
memeriksa pasien yang datang. Queen mengerutkan keningnya. Semua masih berjalan
normal. Di ruang pemeriksaan yang sementara masih satu dan tak memiliki poli
kusus seperti di rumah sakit besar, atau puskesmas. Hanya saja, ada beberapa
ruangan kusus untuk dokter spesialis. Biasanya untuk konsultasi dengan seorang
psikolog.
“Suster, di mana pasien yang darurat itu?” tanya Queen
sambil memandang pada wanita yang menyambutnya di hakaman tadi.
“Ada kok Dok. Dia maksa dan berontak tidak mau ditangani
oleh siapapun termasuk dokter Gea. Apalagi para koas. Tetap minta anda yang
harus memeriksanya,” jawab wanita itu.
“Di mana dia sekarang? Dan kenapa begitu?” tanya Queen mulai
curiga. Karena merasa ada yang tidak beres dengan susternya. Entah, suternya
apa pasiennya yang aneh.
“Dia ada di dalam ruangan sana, Dok. Menunggu anda. Kasihan,
sepertinya sudah parah sekali. Sengaja dia minta dokter Queen yang memeriksanya
sendiri karena pasien itu bilang sakit yang dia rasakan juga karena anda
katanya,” jawab suter itu sambil menukuk ke sebuah ruangan yang biasa pasien
kejiawaan berkonsultasi dengan psekeater.
Queen pun melangkah dengan mantap ke tempat itu dan mulai
membuka pintu perlahan. Dilihatnya seorang wanita berambut panjang yang duduk
di atas kursi membelakangi dirinya yang kini sudah berdiri di ambang pintu.
“Selamat pagi,” ucap Queen menyapa wanita itu. dia jadi penasaran
dengan penyakit apa yang di derita oleh satu pasiennya yang aneh ini. Sebab,
jika memang dia benar-benar sakit dan darurat, bagaimana bisa duduk setenang
itu?
__ADS_1
Dengan perlahan, wanita itu menolah dan tersenyum. “Hay,
Queen,” sapa wanita yang mengenakan baju terusan lengan panjang tersebut.