Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 65


__ADS_3

Baru beberapa menit Queen menemani belajar Berlyn di ruang


tengah, Al sudah tiba. Kali ini ada yang berbeda dengan suaminya. Wajahnya


terlihat lebih cerah dan seolah hidupnya tidak ada beban. Ada apa? Apakah ada


kabar baik? Tapi, apa? Harusnya dia juga merasa lelah, bukan karena sejak


kematian papanya dia harus urus dua perusahaan sekalius sendirian, dan bolak


balik ke sana ke mari setiap jamnya. Tergantung, di mana yang membutuhkan


penanganannya secara langsung. Bertemu clien missal.


“Assalamualaikum, Sayang, lagi pada ngapain?” sapa Al pada


anak dan istrinya yang terlihat tengah asik mewarnai gambar di ruang tengah.


“Papa sudah pulang, cepat hampiri dia dan cium tangannya,”


ucap Queen pada Belyn.


Dengan cepat dan wajah yang menyungginkan senyum gadis kecil


itu berlari menghampiri papanya sambil berlari dan bersiap memeluknya. Al


langsung berjongkok, dan menggendong putrinya, keduanya sama-sama tertawa. Sesekali


Al menciumi pipi cubi putrinya.


“Bagaimana harimu, Sayang? Apakah menyenangkan? Mama masih


pulan sore tadi, ya?” tanya Al.


Gadis itu tersenyum, mengangguk dan meraih tangan kanan


papanya lalu mencium punggung tangannya.


“Anak papa pinter sekali. Berlin mewarnai apa? Boleh papa


lihat?” tanya Al sambil meletakkan tas kerjanya sambil melonggarkan dasi, dan


melepas dua kancing kemeja teratasnya, agar tidak gerah.


Dengan senang hati gadis kecil itu menunjukkan pada Al


gambar-gambar yang berhasil ia warnai dengan rapi. Ada ambar buah, buga, kupu-kupu,


pohon pisang yang masih lengkap dengan buah dan jantungnya.


Al tersenyum melihati karya putrinya. “Pinter banget kamu


kalau mewarna, Sayang. Hasilnya sangat rapi. Siapa yan ajarin?”


Gadis kecil itu memberi isarat, kalau yang ajari adalah bu


Guru di sekolahan.


“Pinternya. Ya sudah. Alat tulis dan semua dirapihkan, lalu


simpan dan kita makan malam bareng, oke?” ucap Al pada putrinya.


Queen diam dan terus mengamati wajah Al. setelah putrinya


pergi menyimpan peralatan sekolah karena makan malam sudah hampir siap, barulah


ia bertanya, “Mukanya cerah banget? Ada kabar apa?”


“Gak ada kabar apa-apa, sih. Kau bisa datang ke kantor besok


jika kau ingin tahu ada apa,” jawab Al sambil mencubit hidung istrinya dan

__ADS_1


beranjak meningalkan tempat tersebut.


Queen hanya diam dan memanyunkan bibirnya saja. “Aku tidak


janji. Aku tanya sama kamu, tapi kau malah memintaku datang ke kantormu,”


ucapnya sambil mengambil tas kerja suaminya dan meletakkan ke dalam ruang baca.


Tempat suaminya menyimpan berkas dan dokumen penting, setra kadang juga ia gunakan


untuk melakukan pekerjaan jika tidak di dalam kamar mereka.


Setelahnya Queen segera menuju kamarnya dan mengambilkan


pakaian ganti untuk suaminya. Barulah, setelah itu dia ke dapur membantu bibi


menyiapkan makan malam yang sudah hampir selesai.


“Non, biasa banget, sih? Kenapa harus dicuci itu


piring-piringnya? Kalau mau bantu cukup bawa makanan ke meja makan saja, tidak


apa-apa,” ucap bi Yul oada Queen.


Mereka tidak pernah ribut jika Queen masuk ke dapur. Sebagai


asisten rumah tangga yang rajin dan bisa menempatkan diri, jadi merasa sangat


sungkan jika majikannya ikut bekerja.


“Tidak apa-apa, Bi. Dulu almarhum mama, urusan masak ya dia.


Yang bikini kopi buat papa, ya mama sendiri, ga pernah minta mbak yang bekerja


di rumahnya. Saya aja yang tidak nurun ke mama. Banyak ngandalin bibi dalam


mengerjakan banyak hal,” timpal Queen.


 “La terus saya ini


“Ya, kan masih ada rumah yang harus tiap hari dibersihkan,


baju yang dicuci dan disetrika, Bi.” Queen sudah menyelesaikan pekerjaannya.


Kemudian ia mengusung sisa hidangan yang belum sempat disajikan ke meja makan


dan menikmatinya bersama anak dan suaminya.


*****


Sekitar pukul sembilan, Queen baru akan berangkat menuju


klinik setelah mengantarkan Belyn ke sekolah. Karena ada kegiatan, putrinya


hari ini putrinya masuk siang.  dan ia


akan pergunakan waktu tiga jam selama putrinya di sekolah untuk tetap berada di


Klinik. Tapi, hari ini seperti ada yang beda. Tapi, apa? Apakah seorang wanita


duduk di pagar klinik yang letaknya tidak jauh dari pintu gerbang. Queen


melihat dengan seksama wanita tersebut dan hendak menghampirinya. Tapi, salah


satu perawat yang dia pekerjakan di kliniknya berlari menghampirinya.


“Dok, ada pasien mengalami darurat. Hari ini tidak ada


dokter yang piket,” ucap perawat wanita tersebut.


“Ada apa memangnya?” tanya Queen panik.

__ADS_1


“Ada pasien yang katanya sakit perut hebat. Kami tidak tahu


sakitnya karena apa. Takutnya itu usus buntu.”


Tanpa menjawab, Queen pun segera berlari ke dalam untuk


melihatnya sendiri, ia sampai melupakan prihal wanita yang duduk lemah di depan


klinik yang cukup menyita perhaiannya. Memang ini adalah klinik kecil,


sekalipun fasilitasnya dapat dikatakan banyak dan mungkin lengkap untuk tempat


praktik sekelasnya, tetap saja, hanya ada tiga dokter di sana. Salah satu


diantaranya adalah dia sendiri. Untuk psykolog juga hanya di hatai, bahkan tanggal


tertentu saja.


Sesampainya di dalam klinik. Queen tidak mendapati pasien


yang terlihat darurat. Bahkan Gea juga ada di sana. Ia terlihat sedang


memeriksa pasien yang datang. Queen mengerutkan keningnya. Semua masih berjalan


normal. Di ruang pemeriksaan yang sementara masih satu dan tak memiliki poli


kusus seperti di rumah sakit besar, atau puskesmas. Hanya saja, ada beberapa


ruangan kusus untuk dokter spesialis. Biasanya untuk konsultasi dengan seorang


psikolog.


“Suster, di mana pasien yang darurat itu?” tanya Queen


sambil memandang pada wanita yang menyambutnya di hakaman tadi.


“Ada kok Dok. Dia maksa dan berontak tidak mau ditangani


oleh siapapun termasuk dokter Gea. Apalagi para koas. Tetap minta anda yang


harus memeriksanya,” jawab wanita itu.


“Di mana dia sekarang? Dan kenapa begitu?” tanya Queen mulai


curiga. Karena merasa ada yang tidak beres dengan susternya. Entah, suternya


apa pasiennya yang aneh.


“Dia ada di dalam ruangan sana, Dok. Menunggu anda. Kasihan,


sepertinya sudah parah sekali. Sengaja dia minta dokter Queen yang memeriksanya


sendiri karena pasien itu bilang sakit yang dia rasakan juga karena anda


katanya,” jawab suter itu sambil menukuk ke sebuah ruangan yang biasa pasien


kejiawaan berkonsultasi dengan psekeater.


Queen pun melangkah dengan mantap ke tempat itu dan mulai


membuka pintu perlahan. Dilihatnya seorang wanita berambut panjang yang duduk


di atas kursi membelakangi dirinya yang kini sudah berdiri di ambang pintu.


“Selamat pagi,” ucap Queen menyapa wanita itu. dia jadi penasaran


dengan penyakit apa yang di derita oleh satu pasiennya yang aneh ini. Sebab,


jika memang dia benar-benar sakit dan darurat, bagaimana bisa duduk setenang


itu?

__ADS_1


Dengan perlahan, wanita itu menolah dan tersenyum. “Hay,


Queen,” sapa wanita yang mengenakan baju terusan lengan panjang tersebut.


__ADS_2