
Di sebelah kanan, tidak jauh dari tempatnya, terlihat oleh Axel segerombolan gadis SMA dengan pakaian yang lumayan sexi. Bahkan kelihatannya, pakaian itu juga tidak murah, pasti anak orang kaya. Axel tersenyum miring ketika menemukan ide. Lalu, ia berjalan menghampiri mereka yang terdiri dari tiga orang.
"Halo, kakak. Kalau tidak salah, kamu kakaknya Adriel, ya? Ganteng banget, ya ternyata kakaknya," sapa salah satu dari tiga gadis yang berada di sana.
Axel hanya tersenyum saja. Tidak langsung menimpali.
"Kukira adiknya sudah sangat ganteng. Tapi, gila... Kakaknya malah seperti seorang pangeran."
"Coba lihat, itu Adriel, kan?" ucap Axel sambil menunjuk ke arah adiknya yang tengah menemani Berlyn.
Seketika tiga gadis itu langsung melihatnya. Tapi, tidak satupun dari mereka yang berkomentar.
"Aku tahu, kalian menyukai Adriel. Aku, sebagai kakak juga netral tidak harus Adriel itu berpasangan dengan siapa. Asal wanita itu mau setia dan pengertian pada adikku."
"Adriel sudah bersama princessnya pesta ini. Mana berani kami. Apalahi, kabarnya, mereka dalam masa PDKT."
"Mereka belum jadian?" tanya Axel yang juga bingung. Sebab, saat pertandingan bola basket kemarin Adriel mengatakan kalau Berlyn adalah pacarnya. Seasaat Kemudian Axel tersenyum tipis penuh arti. Lalu, pria itu mendekati salah satu gadis yang lebih banyak diam daripada dua lainnya.
"Aku suka kamu. Kurasa, kau adalah yang tepat untuk Adriel adikku. Kenapa tidak berusaha mendekatinya?" tanya Axel.
"Aku bukan seleranya, Kak. Dia hanya menyukai Berlyn," jawabnya sambil menunduk.
"Apakah cinta tak bisa diperjuangkan? Selagi janur kuning belum melengkung, masih bisa ditikung. Apalagi mereka belum resmi pacaran, bukan? Kalian bersaing lah secara sehat. Jangan saling menjatuhkan, apalagi mencelakakan. Berlomba-lomba lah menjadi baik dan bikin dia nyaman."
Tiga gadis itu saling pandang. Lalu, tersenyum satu sama lain.
"Kau memang benar, Kak Axel. Terimakasih," ucap mereka secara bersamaan.
"Ingat, jangan saling menyakiti, dan aku hanya akan memiliki satu adik ipar saja," imbuh Axel lalu pria itu pun pergi meninggalkan dua gadis itu. Ia duduk di bangku kosong memperhatikan Adriel dan Berlyn sambil menikmati softdrink di tangannya.
Adiel menunjuk ke langit. Sepertinya dia menunjukkan sebuah bintang pada gadis di sampingnya. Gadis itu pun mendongak ke atas. Adriel terus menatap wajah gadis itu lalu mendekatkan wajahnya pada pipi Berlyn. Sepertinya ia hendak menciumnya.
"Hay, Adriel. Kita ke naik panggung, yuk nyumbang lagu," sapa seorang gadis. Dia adalah salah satu dari tiga gadis yang di hampiri Axel tadi.
Namun, belum sampai Adriel menyetujui permintaan dari gadis itu, muncul dua gadis lagi dia mengajak Adriel duduk bersantai menikmati pesta, dan satunya lagi, mengajak Adriel menari bersama.
"Kalian ke sana lah sendiri, aku masih ingin bersama Berlyn," jawab Adriel dengan sungkan.
Berlyn hanya diam memperhatikan raut wajah Adriel. Ia menangkap sesuatu yang aneh dari ekspresi yang Adriel perlihatkan. Semacam mau-mau tapi malu.
"Kenapa kau begitu sungkan di depan princess kita malam ini? Kalian juga belum pacaran, bukan? Ayo!" salah satu dari mereka menarik Adriel mengajaknya menari dan mengalungkan kedua lengannya pada dua sisi pundak Adriel.
Sementara dua gadis yang masih bersama Berlyn mengatakan sesuatu pada Berlyn dengan sopan. Tapi, menusuk.
"Selamat ulang tahun ya, Lyn. Kau sangat sempurna dan cantik sekali malam ini. Tapi, kita rasa kau tidak pantas bersanding dengan arjuna kita. Dia terlalu ramah dan asik diajak ngobrol. Tapi, kau.... " Gadis bernama Elen itu melihat Berlyn dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan senyum yang teredam.
"Elen, tidak baik mengatakan hal seperti itu pada gadis bisu. Kau harus bisa lebih menghargai, oke?" tegur temannya. Tapi, Berlyn masih terlihat santai. Ia percaya kalau Adriel akan selalu setia padanya.
Gadis itu mengangguk dan memberi isyarat agar ikut bersenang-senang dengan Adriel yang mereka anggap Arjuna. Memang, pria itu tidak hanya terkenal di sekolahnya saja. Tapi, namanya juga populer dari sekolah lain. Terkenal ganteng, cerdas dan pemain basket yang profesional.
Berlyn diam menyaksikan bagaimana Adriel saat dikelilingi tiga wanita cantik. Awalnya ia terlihat sekali kalau risih. Tapi, lama-lama dia jadi menikmati dan bahkan tangannya mulai berani towel-towel membuat Berlyn menjadi sesak saja dadanya.
'Aku izininin kamu karena aku percaya kamu, Driel. Tapi, rupanya kau tak jauh beda dengan pria yang lainnya. Berlyn pun putar arah hendak menghampiri papa dan mamanya. Ingin mengatakan kalau ia lelah dan ingin segera mengakiri pesta ini. Tapi, di mana mereka?
Berlyn mengedarkan pandangannya, mencari papa dan mamanya. Akhirnya, ia dapat menemukannya. Ia dan juga mamanya tengah ngobrol dengan beberapa tamu yang kelihatannya juga orang besar.
__ADS_1
"Hay, Sayang. Apakah kau bahagia dengan pestamu ini? Sapa Al.
Berlyn memasang muka datar. Ia tidak menggubris ucapan papanya. Lalu, ia memberi isyarat kalau acara puncak ingin langsung segera dilakukan. Yaitu potong kue.
Semua tamu berkumpul membentuk lingkaran. Yang terdepan adalah bagian dari kluarga dari pemilik pesta. Tak terkecuali Bilqis, Adriel dan juga Axel. Semua mata tertuju pada Berlyn tapi, gadis itu jelas sekali tidak terlihat tengah menikmati pestanya. Matanya masih menatap tajam bagaimana pria yang ia cintai dipepet oleh garis dari sisi kiri dan kanan. Bahkan, juga belakang. Dengan cepat Berlyn memotong kue itu membagikan pada papa mama dan kemudian pada Axel, Bilqis dan terakhir Adriel. Setelah itu dia langsung meninggalkan pestanya.
Dalam hati Axel bersorak. Usahanya membuahkan hasil. Tapi, sejauh ini Adriel masih belum menyadari kesalahannya. Tapi, itu bagus.
Berlyn berlari menuju wastafel depan kamar mandi di dekat dapur. Ia mencuci mukanya.
"Kenapa kau pergi? Lelah, ya? Ya sudah, istirahat lebih awal juga baik. Kita, masih ada satu pesta lagi besok, dan itulah pesta yang sebenarnya."
Berlyn mendongak melihat pantulan dirinya di cermin ada dua dengan pakaian yang sama. Tanpa menoleh, gadis itu bertanya, "Kau kapan tiba di sini? Kenapa harus bersembunyi?"
"Jawaban sudah jelas di watshapp tadi. Ya sudah, jika kau lelah istirahat saja."
"Apakah kau bersedia menggantikan aku?"
"Tidak, aku akan ke rumah ama, dan membawanya ke mari setelah acara selesai. Aku ingin bertemu papa mama secara terang-terangan."
"Terserah kamu," jawab Berlyn. Lalu ia beranjak ke kamarnya.
Baru saja Clarissa hendak beranjak pergi lewat pintu belakang, Biqlis datang menghampirinya. "Berlyn! Kau di sini rupanya?"
Clarissa hanya diam mematung. Ia yakin, gadis itu tidak tahu kalau kembarannya bisa bicara. Hanya dia dan Axel saja yang tahu.
Clarissa menoleh ke arah Bilqis dan tersenyum lembut sambil mengangguk.
"Kau kenapa sejak tadi menghindar terus dari pesta. Apakah ada masalah?"
Sementara Axel, ia yakin, kalau sekarang Berlyn sudah berada di dalam kamarnya. Mungkin juga menangis karena kecewa dengan Adriel. Ia melihat keadaan sekitar, semua terlihat sibuk dengan kesibukan masing-masing, pun termasuk papa Al dan mama Queen. Yakin tak ada yang memperhatikan dirinya, Axel masuk ke dalam rumah lewat pintu samping. Bersamaan dengan itu, Bilqis bersama Clarissa keluar dari rumah lewat pintu depan.
"Sayang, katanya kau tidak enak badan?" tanya Al pada putrinya. Seperti ia juga tidak sadar, kalau yang tengah bersama anak tirinya itu adalah Clarissa, dan Berlyn berada di kamar.
Axel mempercepat langkahnya dan sedikit berlari. Tiba di depan pintu kamar Berlyn, pria itu mengetuk pintu perlahan.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka, Berlyn berdiri di depan pintu masih mengenakan pakaian yang sama tapi, wajahnya terlihat kusut, matanya memerah.
"Berlyn, kau kenapa? Jangan sedih, ya? Ini adalah hari ulang tahunmu. Tersenyumlah!" seru axel sambil memegangi kedua bahu gadis itu.
"Aku lelah, Kak," jawab gadis itu.
"Kenapa? Tak tahan lihat Axel, ya? Adikku memang sangat tampan dan kharismatik. Wajar, jika banyak yang menyukainya. Jadi, walau hatinya tetap setia sama kamu, tapi hatimu kuat gak lihat yang seperti tadi. Adriel kelihatannya juga sangat menikmatinya. Kalian beda sekolah lo, ya." Axel tersenyum tertahan melihat bagaimana Berlyn merasa cemburu.
"Aku mau tidur, pergilah."
"Aku temani kamu," ucap Axel, kemudian ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam Kemudian, ia mendorong tubuh Berlyn dan memeluknya erat.
"Kak Axel, apa yang mau kau lakukan? Lepasin aku! Pergilah!" seru Berlyn saat Axel mendorong keras tubuhnya ke atas ranjang.
Axel tidak menghiraukan Berlyn. Ia menindih tubuh gadis itu dan memperhatikan bentuk tubuhnya yang sudah berbentuk dan bisa dibilang seksi. Bibirnya membentuk senyuman.
Sementara gadis itu benar-benar ketakutan sampai tubuhnya bergetar. Ia takut, hal buruk terjadi pada dirinya. Bagaimana pun, ia tak mau kehilangan benda berharga miliknya seperti yang kakak tirinya alami.
"Berlyn, kutunggu dewasamu, kelak menikah lah denganku. Aku akan menjagamu, sejak remaja sampai dewasa aku tetap melajang dan jaga jarak dari wanita juga untuk kamu," ucapnya, kemudian tubuh pria itu ambruk dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Uuuuh... dia berat sekali," keluh Berlyn sambil berusaha menyingkirkan tubuh pria itu yang menimpanya.
Berlyn mencium aroma aneh. Seperti miras yang biasa dikonsumsi papanya dulu, saat sedang stuck dan bermasalah dengan mamanya.
Berlyn tadi memang melihat kalau ada miras di acara jamuan tamu dari papanya, ia berfikir kalau Axel mengambil dan ikut meminumnya.
Padahal, nyatanya tidak demikian. Ketika dia ngobrol dengan Al, tanpa sadar Al salah ambil gelas. Yang diminum adalah gelas berisi softdrink milik Axel. Sementara Axel, mengambil satu gelas yang tersisa. Ia memang merasa ada yang aneh dengan minumannya. Tapi, karena dia juga ikut bersulang dengan para tamu, ia merasa tak nyaman jika tidak meminum sampai habis. Jadi, ia pun langsung mabuk, karena sejak kecil sampai berusia tigapuluh tahun sekalipun dia tidak pernah menyentuh yang namanya miras.
Berlyn yang sudah menyerah, ia bingung harus bagaimana. Diraihnya benda pipih miliknya di atas nakas, untung saja masuh terjangkau. Ia menhubungi kembarannya untuk meminta tolong.
"Sa, kau di mana? Tolong aku, kak Axel mabuk, dia ketiduran diatas tubuhku."
"Hah, bagaimana bisa? Ini aku ada di pesta jadi kamu, saat aku hendak pergi tiba-tiba kak Bilqis menghampiri ku dan mengajak keluar."
"Duh! Jadi, ini gimana, dong?"
"Kau pikirkan cara sendiri untuk itu. Aku akan bantu kamu dengan meminta tidur bertiga dengan papa dan mama agar namamu tidak tercemar, oke?"
"Ya, tapi aku takut, gimana dong?"
"Kau hanya perlu melepaskan diri darinya saja. Itu mudah. Kerahkan semua tenagamu, oke?"
Setelah itu, Clarissa fokus menjiwai perannya sebagai Berlyn. Tenang dan kalem. Cuma, ia merasa ada yang aneh saat melihat di suatu tempat. Ia mendapati Adriel tengah bersenang-senang dengan wanita lain. Padahal, beberapa hari yang lalu kembarannya bilang kalau ia dan Adriel saling mencintai. Apakah begini cara pria itu mencintai wanitanya?
Setelah beberapa saat, Akhirnya Berlyn berhasil menyingkirkan tubuh Axel dari atasnya. Ia hendak beranjak pergi, mengikuti instruksi dari Clarissa. Tapi, tangan Axel menahannya. Matanya sedikit terbuka.
"Jangan pergi, aku sangat mencintaimu, Berlyn!" serunya dengan lirih.
Berlyn tahu, ia tidak bisa berlama-lama di sini. Kawatirnya, mereka akan ketahuan. Jadi, ia pun mengalah. Toh, Axel juga tengah mabung. Dipeluknya pria itu saat dalan posisi merebah dan tidak benar lalu mengecup pipinya dan berbisik, "Aku juga mencintaimu, Kak Axel. Sekarang, benarkan posisimu, tidur dengan benar, pakailah kamarku, oke?"
"Kau mau ke mana?"
"Aku tidur ke tempat lain. Tidak bisa di sini denganmu. Kita, kan belum menikah."
"Tidur saja denganku. Aku tidak akan menodaimu. Kau masih terlaku muda,"
Berlyn tersenyum. Sejauh ini yang dia ketahui, ucapan yang terucap dari seseorang yang tengah mabuk itu adalah ungkapan yang jujur. Ia bisa merasakan ketulusan Axel. Tapi, hatinya terlalu bodoh. Ia masih saja terbudak oleh cinta Adriel yang kesetiaannya masih perlu dipertanyakan.
"Cukup di sini saja, tidur bersamaku, peluk aku sepanjang malam. Aku takut kau pergi, Berlyn. Aku tidak mau kehilangan kamu."
Berlyn memeluk Axel dan menuruti apa yang jadi permintaannya. Tapi, pikirannya jauh melayang ke mana-mana membayangkan bagaimana Adriel di luar sana. Setelah memastikan kalau Axel benar-benar terlelap, gadis itu segera berlari menuju pintu belakang dan masuk ke dalam mobil Clarissa.
"Apakah kita ke rumah ama sekarang, Nona?" tanya sopir tersebut.
"Iya, cepat!" jawab Berlyn. Baru beberapa meter, mobil mereka hampir menabrak seseorang. Untung saja, masih bisa di rem. Hanya saja, orang itu juga masih terkena, walau tidak parah.
"Paman, apakah dia baik-baik saja? Kau coba lihat dia," ucap Berlyn. Panik dan takut bercampur aduk jadi satu.
Karena sangat lama, Berlyn pun penasaran. Ia ikut turun dan coba melihat apa yang terjadi.
Tepat di depan mobilnya, ia melihat paman Ryu berusaha membujuk seorang gadis yang tengah melipat lututnya sambil mengis, meniupi salah satu kutunya yang lula dan mengeluarkan sedikit darah.
"Jangan duduk di tengah jalan begini, ya? Minggir dulu. Biar kubantu kasih obat, oke?"
"Huhuhu... ini sakit sekali. Kau, bisa naik mobil tidak? Kenapa masih menabrakku? Apa karena aku gak pakai mobil? Kau tidak tahu, ya siapa aku? Jika kau sudah tahu, kau pasti menyesal," ucap gadis itu sambil menangis.
__ADS_1
Sementara Berlyn terpaku menyaksikan pemandangan di depannya. Ia nyaris tak percaya siapa yang tanpa sengaja sudah ditabraknya. Ia mundur dan buru-buru masuk ke dalam mobil. Tak ingin menampakan dirinya dari gadis itu.