
“Al. gawat, ini, Al… “ Begitulah suara seorang pria dari
seberang, saat Al mengankat telfon yang sudah hampir seribu kali bergetar ketika
dirinya sedang rapaat.
Al, yang merasa pelik dengan urusan kantor yang berantakan, karena
tidak berjalan sesuai harapan kian naik darah saat mendengar Vico yang ngomong
hanya setengah-setengah.
“Kamu itu ngomong apa? Yang jelas napa?” bentak Al.
“Gawat ini Al. Seharusnya kau Tarik saja santunan dari
keluarga penghianat itu, biarkan saja mereka hidup susah, Dia menunjukan identitasmu
pada otrang-orang pemerintahan Jepang. Aku khawatir nanti mereka… “
“Cukup! Biarkan saja! Aku tidak akan mati terbunuh oleh
siapapun selama tanggung jawabku menjaga Queen belum berakhir. Jika nanti orang
suruhan mereka bisa membunuhku, artinya, tugasku memang sudah terlaksana dengan
baik. Tapi, itu mustahil.”
“sudah ada sebagian yang menyelundup di Indonesia, Al. Dan, mereka menyamar menjadi apa juga kita tidak tahu, aku kawatir dia memasukan
sesuatu untuk meracunmu.”
“Itu tidak akan mungkin terjadi, lakukan saja semua sesuai
rencana kita, jika sudah, segeralah kembali!” Al pun langsung mematikan
panggilannya. Ia mengumpat seorang diri
marah-marah tak jelas di dalam ruang
pribadinya yang kosong.
Sejak kejadian itu, Queen benar-benar marah. Sudah tidak mau
pergi ke kantor dan tak mau tahu dengan urusan kantor. Sudah berkali-kali dia
mencari orang untuk menggantikan posisi Queen. Tapi, tetap saja tidak ada yang
sepertinya. Dari segi pekerjaannya maksutnya, bukan dari segi yang bisa
dijailin dan digrepe-*****. Kalau cari yang seperti itu, tidak akan sulit bagi
Al.
Berkali-kali Al berusaha memfokuskan diri untuk mengerjakan
pekerjaannya. Ia masih saja tidak bisa. Meskipun dia tahu Queen tak mau bertemu
dengan Diaz, ia juga merasa takut jika saja suatun saat mereka bertemu dan pria
itu berhasil meyakinkan wanitanya agar mau kembali bersamanya. Cukup lama Al
larut dalam ketakutannya sendiri. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mematikan
komputernya dan pergi meninggalkan kantor.
Suasana kantor sudah sepi hanya ada satu dua orang saja yang
kebetulan lembur, dan security yang jaga malam, mereka semua menyapa Al saat
berpapasan di loby, Tapi Al malah mengabaikannya.
Saat menyetir pun dia juga sama sekali tidak bisa fokus.
Berkali-kali hampir menyerempet mobil yang ada didepannya. Berkali-kali pula
dia mendapat klakson keras sebagai
ungkapan rasa marah para pengendara lain.
Al yang semula ingin pergi ke tempat Martin, entah apa,
tiba-tiba dia sudah ada di depan pintu apartemen Queen. Sambil menempelkan
keningnya pada pintu pria itu mengetuk pintu tersebut dengan pelan. Ia nampak
lemah dan tak bertenaga saja.
Queen yang free dan mengisi waktu luangnya dengan membaca
majalah sambil menikmati pancake buatannya sendiri langsung menoleh kea rah
pintu saat mendengar suara ketukan dengan jeda beberapa detik.
“Siapa malam-malam kesini? Suara ketukkannya sangat aneh?”
gumamnya seorang diri. Wanita itu pun menaruh majalan danmelepaskan hadset dari
dari telinganya kemudian segera bergegas menuju pintu utsma sekaligus ingin melihat
siapa yang datang.
Menuju ke arah pintu Queen tak ada hentinya menebak-nebak
kira-kira siapa? Kakeknya, atau siapa? Tapi, sedikitpun ia tidak berfikir
tentang Al. Padahal selama ini yang sering datang ke apartemennya malam hari
hanyalah dia. Cara mengetuknya yang berbeda membuat wanita itu melupakan dirinya.
Perlahan Queen menarik gagang pintu dan membuka pintu itu lebar-lebar. Tapi, siapa sangaka
seorang pria yang ada di hadapannya langsung memeluknya erat sambil meletakkan
dagunya di pundaknya. Pria itu terlihat lelah dan lemah, mungkin tekanan
pekerjaan membuat ia melupakan tentang dirinya. Tidak hanya itu, Queen juga
dapat merasakan tekanan suhu badannya yang tinggi. Dia yang selalu marah-marah
jika dipeluk dan dicium paksa oleh Al dengankali ini ia hanya diam. Bicarapun juga
pelan tidak ngegas dengan suara tinggi seperti biasanya.
“Al, kau kenapa? Apakah kau sakit?’’ tanya Queen.
Tak ada jawaban dari Al. ia masih saja diam dan bertahan
dalam posisinya.
“KRAAAK!”
Queen menoleh di pintu depan apartemennya. Ia melihat
penghuninya keluar, merasa tidak enak, dan juga malu tentunya, Queen mengajak
Al untuk masuk. Karena Al tidak mau melepaskan dirinya, ia pun berjalan mundur
dan perlahan sampai tiba dikamarnya.
Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu. Rasa khawatir
dan iba sepertinya telah membuat wanita
itu melupakan segalanya. Perlahan ia membaringkan Al, melepaskan spatu juga jas
pria itu. Tidak hanya itu, bahkan dia juga membantu pria itu mengganti
kemejanya dengan kaus obrlong agar dia merasa lebih nyaman saat beristirahat.
“Aku sudah orderkan bubur untuk kamu, maaf, bukannya tidak
mau memasakan sendiri. Sepertinya kau telat makan, dan proses membuat bubur
juga tidak cepat,” bisiknya lirih sambil memasang kompresan kain di kening Al,
kemudian menggambil tamp yang sudah berbunyi beberapa kali untuk dicek suhunya.
“Kamu panas banget, Al? lihat, subu badan kamu sampai 39,2,” ucap Queen panik.
Sementara Al masih saja diam dan menatap terus wajah wanita
yang merawatnya, nyaris tanpa berkedip.
Kemudian Queen keluar saat mendengar suara pintu, pasti itu
dari driver ojek online yang mengantarkan pesanannya. Tak lama kemudian Queen
sudah kembali degan nampan di tangannya yang berisi bubur ayam dan segelas teh
hangat.
“Makan dulu, Al.” Queen membantu Al duduk dengan
perlahan setelah meletakkan nampan di
tangannya. Dengan telaten juga Queen menyuapi Al bubur sampai hampir habis. Tak
seperti biasanya. Ada apa dengan Sal? Di mana sifatnya yang jahil kemarin?
Bahkan yang biasanya tidak doyan bubur juga ini ia makan tanpa memberontak
sampai meminum obat pun juga tak ada kesulitan sama sekali.
“Kamu tidur saja di sini tidak apa-apa, aku akan tidur di
sofa, panggil aku jika kau butuh sesuatu.” Meski Al tidak berulah sejak dia
datang. Rupanya ia tidak membiarkan Queen pergi dari sampingnya. Baru saja
wanita itu hendak beranjak dari tempat tidur, Al sudah memegangi pergelangan
tangan kanannya dan berkata seperti orang setengah mengigau.
“Jangan pergi! Tetaplah di sini temani aku.” Bahkan sekarang
Al menciumi punggung tangan Queen.
Queen pun berbalik badan dan mengelus kening Al yang sudah
mulai turun demamnya. “Baiklah aku akan menemani kamu di sini. Tapi, janji dulu
sama aku, kamu besok harus sembuh, jangan sakit lagi, ya?” ucap Queen sambil
berjongkok dan meletakkan kepalanya pada tepi ranjang. Sementara mata Al sudah
terpejam sejak tadi.
Sekitar piukul 00.00 dini hari Al terjaga dari tidurnya, ia
melihat tangan kanannya berada di antara kedua telapak tangan Queen yang juga
tertidur.
“Queen? Apa yang kau lakukan tidur berjongkok di lantai
seprti itu,” umpat Al seoraqng diri ia pun bangun mengangkat tubuh wanita itu
meletakkanya di atas kasur dan bergumam, “lihat lah! Bahkan dia membiarkan aku
tetap tidur dengan mengenakan celana jeans ini.”
__ADS_1
Al pun menuju kamar sebelah mencari celana kolor untuk
dikenakan, dan setelahnya ia pun kembali ke kamar Queen tidur bersamanya,
keduanya berpelukan sampai pagi. Queen terbangun lebih dulu dan kembali
marah-marah pada Al.
“Kau tahu sopan santun dikit kenapa, Sih?”
“Sayang, ini masih terlalu pagi untuk rebut. Ayolah kemari,
kita nikmati saja hari Minggu ini dengan beramlas-malasan di tempat tidur.” Al
menarik tubuh Queen dan mendekapnya dalam pelukannya.
Sedangkan Queen terus memberontak dan kemudia pergi keluar
kamar, untuk bersih-bersih dan menyiapkan sarapan. Selama di apartemen Queen
memang sangat sibuk dengan pekerjaanya dan juga rumah. Makanya ia dengan
sengaja tidak lagi ikut campur mengenai urusan yang ada pada perusahaan.
Queen menghela napas lega setelah mempersihkan seluruh
apartemen dan mengepelnya, termasuk kamarnya yang di dalamnya ada Al yang masih
ngorok. Begitu semuanya selesai, Queen pun mulai menyipakan sarapan. Inginnya
mengabaikan Al, dia Cuma ingin masak untuk dirinya saja. Tapi, entah kenapa ia
tidak tega. Bahkan, saat roti isi keju omelet daging dan segelas susu segar
sudah tersaji ia membangunkan Al untuk sarapan.
“Al! Bangun gih, ayok sarapan keburu dingin,” ucap Queen
sambil menarik paksa selimutnya sampai pria yang ada di baliknya terjaatuh dari
tempat tidur.
“Aduh! Queen, kau so sweet dikit napa sih kalau bangunin
aku, kasar banget sampai aku terjatuh.”
“Dari tadi aku membangunkanmu bahkan kau tak juga bangun.”
“Apanya yang tidak bangun? Aku atau adik kecilku?” tanya Al
sambil terkekeh di ata lantai, sementara punggungnya masih menempel di tempat
tidur.
Queen matanya melotot melihat ke arah Al sambil memasang
wajah marah.
“Hehehe, kau kenapa marah begitu sayang? Apa karena semalam
kau tidak mendapatkan jatahmu? Aku benar-benar pusing. Sebenarnya tengah malam
aku terbangun. Tapi, obat yang kau berikan padaku rupanya memberi efek ngantuk
yang luar biasa, jadi aku tidur lagi. Tapi enak, kan semalaman penuh boboknya
dipeluk?”
“Tahu kau tetap seperti ini, kubiarkan saja kau semalam
mati,” cetus Queen sambil berlalu meninggalkan Al.
Sementara Al hanya terkekeh saja melihat Queen seperti itu,
ia pun bangkit dan menyusulnya untuk sarapan bersama. Ia melihat Queen
menikmati makannya tanpa berbicara dan menoleh ke arahbya sama sekali.
“Queen, kita nikah saja yuk!”
Queen diam tidak menjawab. Sebab ia tahu kalau Al sudah
mulai kembali melantur dan aneh seperti biasanya.
“Queen denger gak, sih? Aku ajak kamu nikah, lo,” ucap Al
sekali lagi, memandang kea rah Queen sambil menyuapkan makanan pada mulutnya.
“Jangan mimpi, jika kau kemari hanya membahas itu, cepat kau
pergi! Tinggalkan tempat ini.
“Tapi aku serius sama kamu, akum au nikahin kamu agar aku
bisa jaga kamu seumur hidupku.”
“Apa? Jaga aku seumur hidupmu? Tidakkah kau sadar kalau
kaulah yang menghancurkan hidupku? Pertunanganku
gagal juga gara-gara siapa? Jika memang kau menysal dan merasa bersalah,
harusnya kau tidak melakukan hal itu berulang kali, Al!” bentak Queen. “bahkan,
gara-gara ulahmu sampai saat ini aku tidak ada keberanian utnuk menemui Diaz,”
imbuh Queen.
“Tapi, kau menikmatinya juga, kan?”
“PLAK!” Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Al
sampai memerah.
biarkan aku saja yang pergi,” ucap Queen ia benar-benar marah. Kemudian ia
beranjak pergi ke dalam kamarnya. Di sana ia memasukkan barang-barang
pribadinya ke dalan tas slempang kecil danpergi dengan hanya mengenakan jaket
dan celana pendek seatas lutut. Al yang melirik Queen hendak menuju ke arah
pintu bertanya, “Mau ke mana kau?”
“Bukan urusanmu!”
Merasa jengkel, Al pun beranjak menarik lengan Queen dan
mencengramnya dengan keras.
“Al, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!”
“Tidak, kau tidak bisa kemana-mana, kau harus tetap sama aku
mulai dari sekarang!”
“Apa maksut kamu?”
Tanpa banyak bicara, Al mengangkat tubuh Queen dan
membawanya ke dalam kamar, kemudian menguncinya dari luar. Di ruang tamu, Al
menghubungi kakek Andrean mengutarakan keinginannya tanpa basa-basi.
“Ada apa, Al? Kau ada di mana sekarang?”
“Aku ada di apartemennya Queen dari semalam, Kek. Akum au
menikah sekarang juga, apa kakek bisa bantu atur?”
“Baik, akan kakek atur, kau bersiap-siaplah, sebentar lagi
mereka akan datang ke sana, kau mau melaksanakan ijab khobul di apartemen, atau
di masjid akbar?’
“Kita ke masjid saja, datangkan tukan rias kemari untuk
merias pengantinku, Kek.”
“Baik, kau tunggu saja!” Andrean pun mematikan telfonnya dan
geleng-geleng kepala. Haaah, ada-ada saja mereka itu. Lagian kenapa harus
dadakan dan hari minggu begini, sih? Untung saja kenal dengan orang dalam,
bisa dadakan tanpa membuat janji terlebih dahulu,” gumam Andrean sambil
menghembuskan nafas Panjang.
Sebelum Al membuka kunci kamar Queen, ia memastikan mengunci
pintu utama dan menyembunyikaan kuncinya agar Queen tidak kabur. Baginya tidak
ada alasan lagi untuk menunggu, Queen masih seperti dulu, ia sama sekali tidak
berubah tetap saja mebencinya. Jadi, tak ada jalan keluar lain selain memaksa
untuk menikah bersamanya.
Al membuka pintu kamar, dengan raut wajah tanpa ekspresi
dan nada datar, Al meminta Queen untuk segera bersiap sebelum perias datang.
“Kau cepatlah mandi, kuberi waktu duapuluh menit. Atau, aku yang memandikanmu
sekarang!”
Queen yang merasa lelah hanya menghentakkan kakinya saja dan
mengusab kasar air matanya sambil mengumpat sedikit keras, “ Tahu kau seperti
ini, semalam kubiarkan saja kau mati sekalian!”
Mendengar umpatan Queen, Al hanya tersenyum miring saja
sambil melihat kea rah pintu kamar mandi. Sepuluh menit kemudian Queen sudah
keluar, dia sudah bersiap dan masih dengan pakaian yang sama. Namun wajahnya
sudah terlihat lebih fresh dan segar.
Al menghampiri Queen dan memeluknya tanpa mengucap sepatah
kata pun. Kemudian di dekat telinga Queen Al berbisik, “Jadilah istriku, aku
akan membahagiakanmu selamanya.”
Queen hanya diam mematung. Ia tidak tahu kenapa sejak
semalam ini Al jadi berubah. Sekalipun dia tidak menujukan kemarahan seperti
saat merusak malam pertunangannya dulu, Namun ekspresi ini membuat Queen
teringat akan hal itu dan sedikit ada rasa trauma saja. Jadi, tak ada pilihan
selain menuruti apapun yang diperintahkan oleh Al. Sekalipun itu sungguh
membuat hatinya terasa sesak. Di sisi lain dia juga membenarkan keputusan Al
untuk menikah dari pada setiap hari mereka berdua selalu jadi pasangan zina.
__ADS_1
Melakukan hubungan suami istri namun status bukan lah suami istri. Sungguh ini
adalah suatu kesalahan yang fatal. Sudah sekitar satu bulan hal itu terjadi. Walaupun ini dapat dikatakan keinginan sepihak.
“tunggu di sini, mereka sudah tiba,” ucap Al begitu
mendengar suara bel rumah apartemennya berbunyi.
Sambil memumggu Queen di rias, Al pun juga mempersiapkan
diri. Wanita perlu waktu satu setengah jam untuk berdandan, sementara
laki-laki, setengah jam saja dia sudah tampil ganteng dengan kemeja putih dan
teksudo berwarna hitam dan rambut yang memang dia bikin sedikit berantakan
nantun tetap saja rapi.
***123
Sementara kakek Andrean sedikit kwalahan mengatur semua
acara Al dan Queen sendirian. Walaupun hanya acara akhad nikah biasa yang hanya
dihadiri penghulu dan beberapa saksi. Tapi, ia hampir saja prustasi untuk tetap
berpura-pura menggunakan kursirodanya. Dan sejauh ini hanya Diaz dan Alex saja
yang tahu kalau kakek Andrean sebenarnya sudah bisa berjalan.
Begitu semuanya sudah beres, Andrean bergegas pergi.
“Kakek mau ke mana?” tanya Nayla saat melihat kakek
mertuanya berpakaian rapi. Biasanya beliau kemana-mana pun juga hanya
mengenakan pakaian santai. Tapi, kali ini Nayla melihat Andrean terlihat
sedikit berbeda. Selain mengenakan kemeja lengan Panjang, kakek juga memakai
spatu pantofel.
“Kakek masih ada urusan, kamu jaga rumah, ya? Tidak lama kok
paling Cuma satu jam saja kakek sudah akan kembali,” jawab Andrean.
Begitu tiba di masjid tempat di mana ia akan melakukan ijab
khobul Queen hanya mendapati kakek Andrean Gea dan juga Juna. Mereka bertiga
melempar senyum padanya dan juga Al. Meskim mulut mereka sama-sama terbungkam,
namun isyarat mata mereka mengatakan turut bersuka cita untuknya. Walau kalimat
itu tidaklah tepat baginya, karena ia tidak mencintai pria yang akan
menjadi suaminya.
“Queen, kakek akan menjadi walimu. Menikahlah kau dengan Al.
Kakek harap rumah tangga kalian berjalan dengan baik dan bahagia. Siapa tahu
dengan begini papa dan mama kalian nanti akan segera sadar. Akan lebih bagus
lagi, jika kau sudah mengandung anak dari Al,” ucap Andrean lirih, yang hanya
bisa di dengan oleh dia dan Al saja.
‘Apa? Mengandung anak ******** itu? Jangan harap,’ umpat
Queen dalam hati.
Gea menghampirinya, ia menggandenga Queen untuk duduk di
depan penghulu dan berjajar dengan Al. Akhad nikah dilakukan sendiri oleh kakek
Andrean, Pak penghulu dan satu orang dari KUA hanya menjadi saksi sahnya
pernikahan mereka berdua.
Acara ijab qobul berjalan dengan lancar dan hikmat, dan
ditutup dengan doa.
Dengan bermaharkan seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan emas seberat duaratus gram, Queen kini sudah resmi menjadi istri sah Al secara hukum dan agama.
Queen menoleh ke belakang dengan tujuan ingin
menghampiri Gea dan membisikan kata kalau ia tidak bahagianpada sahabatnya. Tapi, dia dibuat terkejut
dan sampai lari meninggalkan acaranya begitu melihat Diaz dan hanifah ternyata
juga hadir dalam acaranya.
Queen melihat pria itu menatapnya dengan tatapan kosong dan
sakit yang tak bisa dijelaskan.
“Diaz? Kau juga hadir?” lirih Queen. Ia pun melepaskan
penutup kepala yang dipasangkan untuk dia dan Al kemudian berdiri dan berlari
keluar meninggalkan tempat itu.
“Queen, ya Allah!” seru Gea terkejut saat mendapati aksi
reflek yang dilakukan sahabatnya itu.
Tanpa basa-basi, Al pun segera menyusul Queen begitu
mendapat isyarat mata dari kakek Andrean.
Mulanya Diaz juga hendak beranjak untuk ikut mengejar Queen
keluar setelah melihat Al pergi. Ia merasa tidak terima dan ingin membuat
perhitungan dengan Al. Ia tahu, kalau Queen melakukan pernikahan ini juga
terpaksa. Dia tahu Queen mencintai dia, bukan Al.
“Kau tidak bisa pergi untuk mengejarnya, dia sudah menjadi
istri pria lain. Kau juga lihat sendiri, kan ijab qobul barusan? Biarkan semua
itu jadi urusan mereka.”
Diaz hanya diam dan mengepalkan tangannya kuat-kuat dan
memukulkan pada lantai masjid untuk meluapkan emosinya agar hati dan
perasaannya menjadi lebih baik.
“Queen, berhenti!” teriak Al.
Queen yang berlari dengan mengenakan kebaya, membuat ia
tidak bisa berlari dengan cepat. Kecuali jika dia menggadaikan rasa malunya
dengan menyingkap rok kebaya nya sampai sebatas paha, lain lagi. Namun hal itu
menguntungkan buat Al. Dia yang masih belum sehat sepenuhnya karena kelelahan
dan banyak berfikri dengan mudah bisa menggapainya.
“Queen, kau mau kemana? Sudah, lupakan saja Diaz, biarkan
saja dia menemukan bahagianya dengan Hanifah. Kau sekarang adalah istriku
secara sah dan juga sudah diakui negara, tingal kau saja ciptakan bahagiamu
dalam hatimu sendiri dengan menerimaku.”
Queen menangis sambil menunduk. Entah kenapa, ia yang begitu
benci dengan Al malah menjatuhkan kepalanya pada dada bidang pria itu. Beruntung mereka tidak di tepi jalan
raya. Melainkan di sebuah gang yang sepi. Jadi, Al bisa tetap tenang dan
menikmati pelukan Queen yang menurutnya tidak wajar. Bagaimana tidak, dia
sangat membencinya, berkali-kali ingin mencelakainya tapi kenapa dia seperti
itu? Apakah dia sudah menyerah dan mulai menerima kenyataan, kalau Al adalah
suaminya?
Ternyata tidak, siapapun yang menduga hal itu, tentu saja
salah besar, itu hanya modus yang Queen lakukan untuk mengamabil pistol yang
selalu Al sembunyikan di balik pingganya. Tapi, sayang. Queen kali ini harus
kecewa. Sebab, saat ia sudah menempelkan ujung piatol tepat di belakang
punggung Al yang kiranya akan dapat membuat peluru itu bersarang di jantungnya. Berkali-kali ia menarik pelatuknya, namun tak ada hasil.
ternayata pistol itu kosong tidak ada isinya sama sekali.
Al menyeringai ketika menyadari Queen membanting sesuatu
dengan penuh amarah.
“Aku sudah memperkirakan semuanya, Sayang. Sekalipun kau
wanita baik-baik, tapi aku masih ingat kau juga pernah ikut latihan dengan ku
di bawah tanah. Kau cucu mafia, dan sedikit banyak, darah mafia juga akan
mengalir dalam dirimu.”
“Aku benci kau, Al. Aku akan membunuhmu nanti!” teriak Queen
Al tetap tenang menghadapi kemarah Queen, ia hanya tersenyum
tipis meraih pistol yang ada di belakangnya dan menyisipkannya lagi di
pinggannya kemudian ia mengankat tubuh Queen dan membawanya ke dalam mobil.
“Al, turunkan aku,” ucap Quee dengan lirih namun penuh
penekanan.
“Kenapa tidak berteriak seperti biasanya? Apa kau malu
dengan orang yang ada di sekitar kita?”
“Turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri. Kali ini aku tidak
akan melawanmu lagi.”
“Oh, menarik sekali, baiklah, ayo kita ke mobil dan pergi
dari sini, kurasa kau akan membenci dan menghindari dr.Diaz, kan?” ucap Al
sambil menurunkan Queen. Mereka pun berjalan sambi saling bergandengan tangan.
Begitu tiba di mobil, Al melambaikan tangan pada kakeknya. Meskipun ia tidak
mengatakan kemana akan membawa Queen pergi, kakek Andrean juga pasti sudah tahu. Tapi, lain halnya saat Al
pandangannya bertemu dengan Diaz. Mereka seolah seperti dua musuh bebuyutan
__ADS_1
yang saling bertemu. Senyuman Al terhadapnya juga terkesan sangat mengejek atas
kekalahannya.