Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 208


__ADS_3

“Al. gawat, ini, Al… “ Begitulah suara seorang pria dari


seberang, saat Al mengankat telfon yang sudah hampir seribu kali bergetar ketika


dirinya sedang rapaat.


Al, yang merasa pelik dengan urusan kantor yang berantakan, karena


tidak berjalan sesuai harapan kian naik darah saat mendengar Vico yang ngomong


hanya setengah-setengah.


“Kamu itu ngomong apa? Yang jelas napa?” bentak Al.


“Gawat ini Al. Seharusnya kau Tarik saja santunan dari


keluarga penghianat itu, biarkan saja mereka hidup susah, Dia menunjukan identitasmu


pada otrang-orang pemerintahan Jepang. Aku khawatir nanti mereka… “


“Cukup! Biarkan saja! Aku tidak akan mati terbunuh oleh


siapapun selama tanggung jawabku menjaga Queen belum berakhir. Jika nanti orang


suruhan mereka bisa membunuhku, artinya, tugasku memang sudah terlaksana dengan


baik. Tapi, itu mustahil.”


“sudah ada sebagian yang menyelundup di Indonesia, Al. Dan, mereka menyamar menjadi apa juga kita tidak tahu, aku kawatir dia memasukan


sesuatu untuk meracunmu.”


“Itu tidak akan mungkin terjadi, lakukan saja semua sesuai


rencana kita, jika sudah, segeralah kembali!” Al pun langsung mematikan


panggilannya.  Ia mengumpat seorang diri


marah-marah  tak jelas di dalam ruang


pribadinya yang kosong.


Sejak kejadian itu, Queen benar-benar marah. Sudah tidak mau


pergi ke kantor dan tak mau tahu dengan urusan kantor. Sudah berkali-kali dia


mencari orang untuk menggantikan posisi Queen. Tapi, tetap saja tidak ada yang


sepertinya. Dari segi pekerjaannya maksutnya, bukan dari segi yang bisa


dijailin dan digrepe-*****. Kalau cari yang seperti itu, tidak akan sulit bagi


Al.


Berkali-kali Al berusaha memfokuskan diri untuk mengerjakan


pekerjaannya. Ia masih saja tidak bisa. Meskipun dia tahu Queen tak mau bertemu


dengan Diaz, ia juga merasa takut jika saja suatun saat mereka bertemu dan pria


itu berhasil meyakinkan wanitanya agar mau kembali bersamanya. Cukup lama Al


larut dalam ketakutannya sendiri. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mematikan


komputernya dan pergi meninggalkan kantor.


Suasana kantor sudah sepi hanya ada satu dua orang saja yang


kebetulan lembur, dan security yang jaga malam, mereka semua menyapa Al saat


berpapasan di loby, Tapi Al malah mengabaikannya.


Saat menyetir pun dia juga sama sekali tidak bisa fokus.


Berkali-kali hampir menyerempet mobil yang ada didepannya. Berkali-kali pula


dia mendapat klakson keras  sebagai


ungkapan rasa marah para pengendara lain.


Al yang semula ingin pergi ke tempat Martin, entah apa,


tiba-tiba dia sudah ada di depan pintu apartemen Queen. Sambil menempelkan


keningnya pada pintu pria itu mengetuk pintu tersebut dengan pelan. Ia nampak


lemah dan tak bertenaga saja.


Queen yang free dan mengisi waktu luangnya dengan membaca


majalah sambil menikmati pancake buatannya sendiri langsung menoleh kea rah


pintu saat mendengar suara ketukan dengan jeda beberapa detik.


“Siapa malam-malam kesini? Suara ketukkannya sangat aneh?”


gumamnya seorang diri. Wanita itu pun menaruh majalan danmelepaskan hadset dari


dari telinganya kemudian segera bergegas menuju pintu utsma sekaligus ingin melihat


siapa yang datang.


Menuju ke arah pintu Queen tak ada hentinya menebak-nebak


kira-kira siapa? Kakeknya, atau siapa? Tapi, sedikitpun ia tidak berfikir


tentang Al. Padahal selama ini yang sering datang ke apartemennya malam hari


hanyalah dia. Cara mengetuknya yang berbeda membuat wanita itu melupakan dirinya.


Perlahan Queen menarik gagang pintu dan membuka  pintu itu lebar-lebar. Tapi, siapa sangaka


seorang pria yang ada di hadapannya langsung memeluknya erat sambil meletakkan


dagunya di pundaknya. Pria itu terlihat lelah dan lemah, mungkin tekanan


pekerjaan membuat ia melupakan tentang dirinya. Tidak hanya itu, Queen juga


dapat merasakan tekanan suhu badannya yang tinggi. Dia yang selalu marah-marah


jika dipeluk dan dicium paksa oleh Al dengankali ini ia hanya diam. Bicarapun juga


pelan tidak ngegas dengan suara tinggi seperti biasanya.


“Al, kau kenapa? Apakah kau sakit?’’ tanya Queen.


Tak ada jawaban dari Al. ia masih saja diam dan bertahan


dalam posisinya.


“KRAAAK!”


Queen menoleh di pintu depan apartemennya. Ia melihat


penghuninya keluar, merasa tidak enak, dan juga malu tentunya, Queen mengajak


Al untuk masuk. Karena Al tidak mau melepaskan dirinya, ia pun berjalan mundur


dan perlahan sampai tiba dikamarnya.


Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu. Rasa khawatir


dan iba sepertinya  telah membuat wanita


itu melupakan segalanya. Perlahan ia membaringkan Al, melepaskan spatu juga jas


pria itu. Tidak hanya itu, bahkan dia juga membantu pria itu mengganti


kemejanya dengan kaus obrlong agar dia merasa lebih nyaman saat beristirahat.


“Aku sudah orderkan bubur untuk kamu, maaf, bukannya tidak


mau memasakan sendiri. Sepertinya kau telat makan, dan proses membuat bubur


juga tidak cepat,” bisiknya lirih sambil memasang kompresan kain di kening Al,


kemudian menggambil tamp yang sudah berbunyi beberapa kali untuk dicek suhunya.


“Kamu panas banget, Al? lihat, subu badan kamu sampai 39,2,” ucap Queen panik.


Sementara Al masih saja diam dan menatap terus wajah wanita


yang merawatnya, nyaris tanpa berkedip.


Kemudian Queen keluar saat mendengar suara pintu, pasti itu


dari driver ojek online yang mengantarkan pesanannya. Tak lama kemudian Queen


sudah kembali degan nampan di tangannya yang berisi bubur ayam dan segelas teh


hangat.


“Makan dulu, Al.” Queen membantu Al duduk dengan


perlahan  setelah meletakkan nampan di


tangannya. Dengan telaten juga Queen menyuapi Al bubur sampai hampir habis. Tak


seperti biasanya. Ada apa dengan Sal? Di mana sifatnya yang jahil kemarin?


Bahkan yang biasanya tidak doyan bubur juga ini ia makan tanpa memberontak


sampai meminum obat pun juga tak ada kesulitan sama sekali.


“Kamu tidur saja di sini tidak apa-apa, aku akan tidur di


sofa, panggil aku jika kau butuh sesuatu.” Meski Al tidak berulah sejak dia


datang. Rupanya ia tidak membiarkan Queen pergi dari sampingnya. Baru saja


wanita itu hendak beranjak dari tempat tidur, Al sudah memegangi pergelangan


tangan kanannya dan berkata seperti orang setengah mengigau.


“Jangan pergi! Tetaplah di sini temani aku.” Bahkan sekarang


Al menciumi punggung tangan Queen.


Queen pun berbalik badan dan mengelus kening Al yang sudah


mulai turun demamnya. “Baiklah aku akan menemani kamu di sini. Tapi, janji dulu


sama aku, kamu besok harus sembuh, jangan sakit lagi, ya?” ucap Queen sambil


berjongkok dan meletakkan kepalanya pada tepi ranjang. Sementara mata Al sudah


terpejam sejak tadi.


Sekitar piukul 00.00 dini hari Al terjaga dari tidurnya, ia


melihat tangan kanannya berada di antara kedua telapak tangan Queen yang juga


tertidur.


“Queen? Apa yang kau lakukan tidur berjongkok di lantai


seprti itu,” umpat Al seoraqng diri ia pun bangun mengangkat tubuh wanita itu


meletakkanya di atas kasur dan bergumam, “lihat lah! Bahkan dia membiarkan aku


tetap tidur dengan mengenakan celana jeans ini.”

__ADS_1


Al pun menuju kamar sebelah mencari celana kolor untuk


dikenakan, dan setelahnya ia pun kembali ke kamar Queen tidur bersamanya,


keduanya berpelukan sampai pagi. Queen terbangun lebih dulu dan kembali


marah-marah pada Al.


“Kau tahu sopan santun dikit kenapa, Sih?”


“Sayang, ini masih terlalu pagi untuk rebut. Ayolah kemari,


kita nikmati saja hari Minggu ini dengan beramlas-malasan di tempat tidur.” Al


menarik tubuh Queen dan mendekapnya dalam pelukannya.


Sedangkan Queen terus memberontak dan kemudia pergi keluar


kamar, untuk bersih-bersih dan menyiapkan sarapan. Selama di apartemen Queen


memang sangat sibuk dengan pekerjaanya dan juga rumah. Makanya ia dengan


sengaja tidak lagi ikut campur mengenai urusan yang ada pada perusahaan.


Queen menghela napas lega setelah mempersihkan seluruh


apartemen dan mengepelnya, termasuk kamarnya yang di dalamnya ada Al yang masih


ngorok. Begitu semuanya selesai, Queen pun mulai menyipakan sarapan. Inginnya


mengabaikan Al, dia Cuma ingin masak untuk dirinya saja. Tapi, entah kenapa ia


tidak tega. Bahkan, saat roti isi keju omelet daging dan segelas susu segar


sudah tersaji ia membangunkan Al untuk sarapan.


“Al! Bangun gih, ayok sarapan keburu dingin,” ucap Queen


sambil menarik paksa selimutnya sampai pria yang ada di baliknya terjaatuh dari


tempat tidur.


“Aduh! Queen, kau so sweet dikit napa sih kalau bangunin


aku, kasar banget sampai aku terjatuh.”


“Dari tadi aku membangunkanmu bahkan kau tak juga bangun.”


“Apanya yang tidak bangun? Aku atau adik kecilku?” tanya Al


sambil terkekeh di ata lantai, sementara punggungnya masih menempel di tempat


tidur.


Queen matanya melotot melihat ke arah Al sambil memasang


wajah marah.


“Hehehe, kau kenapa marah begitu sayang? Apa karena semalam


kau tidak mendapatkan jatahmu? Aku benar-benar pusing. Sebenarnya tengah malam


aku terbangun. Tapi, obat yang kau berikan padaku rupanya memberi efek ngantuk


yang luar biasa, jadi aku tidur lagi. Tapi enak, kan semalaman penuh boboknya


dipeluk?”


“Tahu kau tetap seperti ini, kubiarkan saja kau semalam


mati,” cetus Queen sambil berlalu meninggalkan Al.


Sementara Al hanya terkekeh saja melihat Queen seperti itu,


ia pun bangkit dan menyusulnya untuk sarapan bersama. Ia melihat Queen


menikmati makannya tanpa berbicara dan menoleh ke arahbya sama sekali.


“Queen, kita nikah saja yuk!”


Queen diam tidak menjawab. Sebab ia tahu kalau Al sudah


mulai kembali melantur dan aneh seperti biasanya.


“Queen denger gak, sih? Aku ajak kamu nikah, lo,” ucap Al


sekali lagi, memandang kea rah Queen sambil menyuapkan makanan pada mulutnya.


“Jangan mimpi, jika kau kemari hanya membahas itu, cepat kau


pergi! Tinggalkan tempat ini.


“Tapi aku serius sama kamu, akum au nikahin kamu agar aku


bisa jaga kamu seumur hidupku.”


“Apa? Jaga aku seumur hidupmu? Tidakkah kau sadar kalau


kaulah yang  menghancurkan hidupku? Pertunanganku


gagal juga gara-gara siapa? Jika memang kau menysal dan merasa bersalah,


harusnya kau tidak melakukan hal itu berulang kali, Al!” bentak Queen. “bahkan,


gara-gara ulahmu sampai saat ini aku tidak ada keberanian utnuk menemui Diaz,”


imbuh Queen.


“Tapi, kau menikmatinya juga, kan?”


“PLAK!” Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Al


sampai memerah.


biarkan aku saja yang pergi,” ucap Queen ia benar-benar marah. Kemudian ia


beranjak pergi ke dalam kamarnya. Di sana ia memasukkan barang-barang


pribadinya ke dalan tas slempang kecil danpergi dengan hanya mengenakan jaket


dan celana pendek seatas lutut. Al yang melirik Queen hendak menuju ke arah


pintu bertanya, “Mau ke mana kau?”


“Bukan urusanmu!”


Merasa jengkel, Al pun beranjak menarik lengan Queen dan


mencengramnya dengan keras.


“Al, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!”


“Tidak, kau tidak bisa kemana-mana, kau harus tetap sama aku


mulai dari sekarang!”


“Apa maksut kamu?”


Tanpa banyak bicara, Al mengangkat tubuh Queen dan


membawanya ke dalam kamar, kemudian menguncinya dari luar. Di ruang tamu, Al


menghubungi kakek Andrean mengutarakan keinginannya tanpa basa-basi.


“Ada apa, Al? Kau ada di mana sekarang?”


“Aku ada di apartemennya Queen dari semalam, Kek. Akum au


menikah sekarang juga, apa kakek bisa bantu atur?”


“Baik, akan kakek atur, kau bersiap-siaplah, sebentar lagi


mereka akan datang ke sana, kau mau melaksanakan ijab khobul di apartemen, atau


di masjid akbar?’


“Kita ke masjid saja, datangkan tukan rias kemari untuk


merias pengantinku, Kek.”


“Baik, kau tunggu saja!” Andrean pun mematikan telfonnya dan


geleng-geleng kepala. Haaah, ada-ada saja mereka itu. Lagian kenapa harus


dadakan dan hari minggu begini, sih? Untung saja kenal dengan orang dalam,


bisa dadakan tanpa membuat janji terlebih dahulu,” gumam Andrean sambil


menghembuskan nafas Panjang.


Sebelum Al membuka kunci kamar Queen, ia memastikan mengunci


pintu utama dan menyembunyikaan kuncinya agar Queen tidak kabur. Baginya tidak


ada alasan lagi untuk menunggu, Queen masih seperti dulu, ia sama sekali tidak


berubah tetap saja mebencinya. Jadi, tak ada jalan keluar lain selain memaksa


untuk menikah bersamanya.


Al membuka pintu kamar, dengan raut wajah tanpa ekspresi


dan nada datar, Al meminta Queen untuk segera bersiap sebelum perias datang.


“Kau cepatlah mandi, kuberi waktu duapuluh menit. Atau, aku yang memandikanmu


sekarang!”


Queen yang merasa lelah hanya menghentakkan kakinya saja dan


mengusab kasar air matanya sambil mengumpat sedikit keras, “ Tahu kau seperti


ini, semalam kubiarkan saja kau mati sekalian!”


Mendengar umpatan Queen, Al hanya tersenyum miring saja


sambil melihat kea rah pintu kamar mandi. Sepuluh menit kemudian Queen sudah


keluar, dia sudah bersiap dan masih dengan pakaian yang sama. Namun wajahnya


sudah terlihat lebih fresh dan segar.


Al menghampiri Queen dan memeluknya tanpa mengucap sepatah


kata pun. Kemudian di dekat telinga Queen Al berbisik, “Jadilah istriku, aku


akan membahagiakanmu selamanya.”


Queen hanya diam mematung. Ia tidak tahu kenapa sejak


semalam ini Al jadi berubah. Sekalipun dia tidak menujukan kemarahan seperti


saat merusak malam pertunangannya dulu, Namun ekspresi ini membuat Queen


teringat akan hal itu dan sedikit ada rasa trauma saja. Jadi, tak ada pilihan


selain menuruti apapun yang diperintahkan oleh Al. Sekalipun itu sungguh


membuat hatinya terasa sesak. Di sisi lain dia juga membenarkan keputusan Al


untuk menikah dari pada setiap hari mereka berdua selalu jadi pasangan zina.

__ADS_1


Melakukan hubungan suami istri namun status bukan lah suami istri. Sungguh ini


adalah suatu kesalahan yang fatal. Sudah sekitar satu bulan hal itu terjadi. Walaupun ini dapat dikatakan keinginan sepihak.


“tunggu di sini, mereka sudah tiba,” ucap Al begitu


mendengar suara bel rumah apartemennya berbunyi.


Sambil memumggu Queen di rias, Al pun juga mempersiapkan


diri. Wanita perlu waktu satu setengah jam untuk berdandan, sementara


laki-laki, setengah jam saja dia sudah tampil ganteng dengan kemeja putih dan


teksudo berwarna hitam dan rambut yang memang dia bikin sedikit berantakan


nantun tetap saja rapi.


***123


Sementara kakek Andrean sedikit kwalahan mengatur semua


acara Al dan Queen sendirian. Walaupun hanya acara akhad nikah biasa yang hanya


dihadiri penghulu dan beberapa saksi. Tapi, ia hampir saja prustasi untuk tetap


berpura-pura menggunakan kursirodanya. Dan sejauh ini hanya Diaz dan Alex saja


yang tahu kalau kakek Andrean sebenarnya sudah bisa berjalan.


Begitu semuanya sudah beres, Andrean bergegas pergi.


“Kakek mau ke mana?” tanya Nayla saat melihat kakek


mertuanya berpakaian rapi. Biasanya beliau kemana-mana pun juga hanya


mengenakan pakaian santai. Tapi, kali ini Nayla melihat Andrean terlihat


sedikit berbeda. Selain mengenakan kemeja lengan Panjang, kakek juga memakai


spatu pantofel.


“Kakek masih ada urusan, kamu jaga rumah, ya? Tidak lama kok


paling Cuma satu jam saja kakek sudah akan kembali,” jawab Andrean.


Begitu tiba di masjid tempat di mana ia akan melakukan ijab


khobul Queen hanya mendapati kakek Andrean Gea dan juga Juna. Mereka bertiga


melempar senyum padanya dan juga Al. Meskim mulut mereka sama-sama terbungkam,


namun isyarat mata mereka mengatakan turut bersuka cita untuknya. Walau kalimat


itu tidaklah tepat baginya, karena ia tidak mencintai pria yang akan


menjadi suaminya.


“Queen, kakek akan menjadi walimu. Menikahlah kau dengan Al.


Kakek harap rumah tangga kalian berjalan dengan baik dan bahagia. Siapa tahu


dengan begini papa dan mama kalian nanti akan segera sadar. Akan lebih bagus


lagi, jika kau sudah mengandung anak dari Al,” ucap Andrean lirih, yang hanya


bisa di dengan oleh dia dan Al saja.


‘Apa? Mengandung anak ******** itu? Jangan harap,’ umpat


Queen dalam hati.


Gea menghampirinya, ia menggandenga Queen untuk duduk di


depan penghulu dan berjajar dengan Al. Akhad nikah dilakukan sendiri oleh kakek


Andrean, Pak penghulu dan satu orang dari KUA hanya menjadi saksi sahnya


pernikahan mereka berdua.


Acara ijab qobul berjalan dengan lancar dan hikmat, dan


ditutup dengan doa.


Dengan bermaharkan seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan emas seberat duaratus gram, Queen kini sudah resmi menjadi istri sah Al secara hukum dan agama.


Queen menoleh ke belakang dengan tujuan ingin


menghampiri Gea dan membisikan kata kalau ia tidak bahagianpada sahabatnya. Tapi, dia dibuat terkejut


dan sampai lari meninggalkan acaranya begitu melihat Diaz dan hanifah ternyata


juga hadir dalam acaranya.


Queen melihat pria itu menatapnya dengan tatapan kosong dan


sakit yang tak bisa dijelaskan.


“Diaz? Kau juga hadir?” lirih Queen. Ia pun melepaskan


penutup kepala yang dipasangkan untuk dia dan Al kemudian berdiri dan berlari


keluar meninggalkan tempat itu.


“Queen, ya Allah!” seru Gea terkejut saat mendapati aksi


reflek yang dilakukan sahabatnya itu.


Tanpa basa-basi, Al pun segera menyusul Queen begitu


mendapat isyarat mata dari kakek Andrean.


Mulanya Diaz juga hendak beranjak untuk ikut mengejar Queen


keluar setelah melihat Al pergi. Ia merasa tidak terima dan ingin membuat


perhitungan dengan Al. Ia tahu, kalau Queen melakukan pernikahan ini juga


terpaksa. Dia tahu Queen mencintai dia, bukan Al.


“Kau tidak bisa pergi untuk mengejarnya, dia sudah menjadi


istri pria lain. Kau juga lihat sendiri, kan ijab qobul barusan? Biarkan semua


itu jadi urusan mereka.”


Diaz hanya diam dan mengepalkan tangannya kuat-kuat dan


memukulkan pada lantai masjid untuk meluapkan emosinya agar hati dan


perasaannya menjadi lebih baik.


“Queen, berhenti!” teriak Al.


Queen yang berlari dengan mengenakan kebaya, membuat ia


tidak bisa berlari dengan cepat. Kecuali jika dia menggadaikan rasa malunya


dengan menyingkap rok kebaya nya sampai sebatas paha, lain lagi. Namun hal itu


menguntungkan buat Al. Dia yang masih belum sehat sepenuhnya karena kelelahan


dan banyak berfikri dengan mudah bisa menggapainya.


“Queen, kau mau kemana? Sudah, lupakan saja Diaz, biarkan


saja dia menemukan bahagianya dengan Hanifah. Kau sekarang adalah istriku


secara sah dan juga sudah diakui negara, tingal kau saja ciptakan bahagiamu


dalam hatimu sendiri dengan menerimaku.”


Queen menangis sambil menunduk. Entah kenapa, ia yang begitu


benci dengan Al malah menjatuhkan kepalanya pada dada bidang pria  itu. Beruntung mereka tidak di tepi jalan


raya. Melainkan di sebuah gang yang sepi. Jadi, Al bisa tetap tenang dan


menikmati pelukan Queen yang menurutnya tidak wajar. Bagaimana tidak, dia


sangat membencinya, berkali-kali ingin mencelakainya tapi kenapa dia seperti


itu? Apakah dia sudah menyerah dan mulai menerima kenyataan, kalau Al adalah


suaminya?


Ternyata tidak, siapapun yang menduga hal itu, tentu saja


salah besar, itu hanya modus yang Queen lakukan untuk mengamabil pistol yang


selalu Al sembunyikan di balik pingganya. Tapi, sayang. Queen kali ini harus


kecewa. Sebab, saat ia sudah menempelkan ujung piatol tepat di belakang


punggung Al yang kiranya akan dapat membuat peluru itu bersarang di jantungnya. Berkali-kali ia menarik pelatuknya, namun tak ada hasil.


ternayata pistol itu kosong tidak ada isinya sama sekali.


Al menyeringai ketika menyadari Queen membanting sesuatu


dengan penuh amarah.


“Aku sudah memperkirakan semuanya, Sayang. Sekalipun kau


wanita baik-baik, tapi aku masih ingat kau juga pernah ikut latihan dengan ku


di bawah tanah. Kau cucu mafia, dan sedikit banyak, darah mafia juga akan


mengalir dalam dirimu.”


“Aku benci kau, Al. Aku akan membunuhmu nanti!” teriak Queen


Al tetap tenang menghadapi kemarah Queen, ia hanya tersenyum


tipis meraih pistol yang ada di belakangnya dan menyisipkannya lagi di


pinggannya kemudian ia mengankat tubuh Queen dan membawanya ke dalam mobil.


“Al, turunkan aku,” ucap Quee dengan lirih namun penuh


penekanan.


“Kenapa tidak berteriak seperti biasanya? Apa kau malu


dengan orang yang ada di sekitar kita?”


“Turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri. Kali ini aku tidak


akan melawanmu lagi.”


“Oh, menarik sekali, baiklah, ayo kita ke mobil dan pergi


dari sini, kurasa kau akan membenci dan menghindari dr.Diaz, kan?” ucap Al


sambil menurunkan Queen. Mereka pun berjalan sambi saling bergandengan tangan.


Begitu tiba di mobil, Al melambaikan tangan pada kakeknya. Meskipun ia tidak


mengatakan kemana akan membawa Queen pergi,  kakek Andrean juga pasti sudah tahu. Tapi, lain halnya saat Al


pandangannya bertemu dengan Diaz. Mereka seolah seperti dua musuh bebuyutan

__ADS_1


yang saling bertemu. Senyuman Al terhadapnya juga terkesan sangat mengejek atas


kekalahannya.


__ADS_2