Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 95


__ADS_3

"Sayang, apakah kau ingin gaun baru untuk acara ulang tahun Helena nanti?" tanya Alex kepada istrinya yang sedari tadi hanya memakani mangga muda tanpa merasa asam sama sekali.


"Tidak, gaunku banyak yang belum pernah kepake, kan sayang. Tapi, ada di rumah mama." Wanita itu menjawab tanpa memalingkan wajah dari mangga muda di hadapannya.


"Perlu ku antar ke sana untuk mengambil?" tawar Alex.


"Nanti saja dulu, agak malaman dikit biar ga terlalu macet."


Alex memperhatikan Quen yang nampak menyukai mangga itu. Dalam hati, dia merasa sangat bersalah. Sebab, ia mendapatkannya tidak dari pasar atau pedagang buah. Tapi, malah dia mencuri dari pohon di rumah kosong yang kebetulan buahnya lebat dan menjuntai hampir ke tanah.


Walau kelihatannya mudah. Tapi, Alex banyak mempertaruhkan segala hal demi mendaparkannya.


Satu. Dia masih memakai pakaian formal. Jelas yang melihat akan ilfeel padanya dikata pencuri mangga dengan gaya elit atau bahkan lebih buruk dari itu.


Dua. Rumahnya sepi, besar jauh daro keramaian apa lagi saat senja suasana horor makin terasa.


Tiga. Dia harus berjuang berlari menghindari gigitan anjing gila yang kebetulan melintaa mengejarnya.


Kenapa harus mencuri kalau dia ada duit buat beli? Mungkin itu yang ada di benak pembaca. Di pasar dan semua toko buah hanya menjual buah yang sudah tua dan masak. Kalau sudah tua, sekalipun belum masak tidak akan se asam mangga muda, kan? Quen maunya yang muda dan daging buahnya masih putih.


"Sayang, apakah itu sangat enak? Sepertinya kau menyukainya."


"Ya, enak sekali mualku jadi hilang rasanya, kau mau?" tawar Quen sambil menyodorkan piring berisi potongan mangga muda yang hampir habis padahal tadi sepiring penuh.


Alex hanya nyengir sambil menggelengkan kepala lalu menjambak rambut dengan kedua tangannya pelan.


'Ya Tuhaaaan... Ampuni aku yang memberi barang curian pada anak istriku. Hukum aku saja jangan mereka,' keluh Alex dalam hati.


Sementara Quen, sedikitpun ia sepertinya tidak peduli.


"Apakah enak, Quen?" tanya Alex dengan tatapan mata penuh rasa bersalah.


"Iya, enak banget. Aku mau lagi besok buat bekal hari pertama praktek kerja. Gak lucu kan kalau dokter nangani pasien malah keliatan sakit? Padahal dia lagi nyidam." jawab wanita itu lalu beranjak pergi ke kamar.


Tak lama kemudian, Quen kembali menghampiri Alex, dengan hand bag di tangannya.


"Ayo, kalau ke rumah mama. Besok aku praktek pagi,"


Tanpa menjawab, Alex beranjak mengambil kontak mobil lalu beranjak ke garasi.


****


Sementara di rumah Clara, suasana sedang panas-panasnya. Seluruh penghuni rumah tengah mengintrogasi Lyli. Menanyakan apa maksutnya mengadu domba antara anak dan menantu keluarga ini.


Awalnya dia hanya bungkam. Tapi, saat hanya berbicara dengan Clara dan Vano dia mengakui kalau sebenarnya tidak terima diputuskan sebelah pihak oleh Al.


Meski sudah terjadi kesalah pahaman yang cukup rumit. Lyli masih berharap hubungan mereka berlanjut. Dia masih tetap menyukai Al sekali pun tahu Al sudah lama berkeluarga dengan Nayla.


Clara hanya diam mendengarkan pengakuan gadis di depannya itu. Setelah merasa cukup, ia pun pergi lalu di susul oleh Vano. Ia menemui orangtua rumah itu dan menceritakan semuanya.

__ADS_1


Mendengarkan penjelasan Clara, Andrras merasa sangat marah, emosinya kian meluap dan tak tertahankan lagi. Sambil beranjak ia berkata pada seluruh keluarganya, "Wanita itu tidak bisa dibiarkan. Dia tak ada lagi tempat di sini. Dia harus dipecat."


Al, Vano, Vivian, Andream, Clara dan Nayla hanya diam. Tak bisa lagi mencegah keinginan tetua di rumah ini. Selain Andreas yang paling tua, keputusan yang di ambil juga tepat. Hanya saja yang lain masih memiliki rasa iba dan kasihan. Dan lagi, ini bukanlah yang pertama kali Lyli berbuat kesalahan. Sekali pun ini yang pertama juga sudah sangat fatal.


Andreas bergegas masuk ke dalam kamarnya, ia meraih amplop coklat kecil dan mengisinya dengan uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah, lalu mengahmpiri Lyli memberikam uang itu dan berkata.


"Kau cepat berkemas dan pergi dari rumah ini. Itu gajimu selama seminghu dan pesangon dari kami."


Lyli tersentak kaget ia mendongak ke arah Andreas. Dari dulu dia memang sudah takut dengan tua tua yang satu ini. Selain jarang bicara pada siapapun, ia memiliki aura yang keras dan sepertinya kejam.


"Tuan, bisakah anda memaafkan saya dan memberi satu kali lagi kesempatan utntuk tinggal?" mohon Lyli dengan memelas.


"Pak Makmur! Bantu dia bereskan semua barangnya. Pastikan tak ada satu pun yang tertinggal. Dan antar dia pulang setelah itu segera kembali."  Pria yang hampir seluruh rambutnya itu di penuhi uban pun berbalik dan pergi meninggalkak gadis itu yang masih duduk tersungkur.


"Pak Makmu, tolong, saya masih ingin bekerja di sini," ucap Lyli memohon.


"Duh, gimana, ya Neng? Saya juga bekerja di sini. Saya bisa bantu apa coba?" ucap pak Makmur bingung. Sebab, ia benar-benar tak tahu apa-apa tentang masalah yang di buat oleh Lyli sehingga Andreas yang turun tangan sendiri. Yang dia ketahui adalah Lyli memiliki hubungan baik dengan semua bosnya. Dan bahkan lebih dekat dari dirinya yang lebih dulu bekerja di sini.


"Coba, Pak. Kasih tahu nyonya Clara dan tuan Vano. Bilang kalau aku dipecat sama tuan Andreas tiba-tiba. Mungkin mereka bisa bantu saya dan bermusyawarah kembali," usul Lyli.


"Wah, saya tidak enak, Neng. Begini saja, Neng kemas-kemas saja dulu. Lalu pamitan pada mereka, siapa tahu mereka bisa bantu, kan?" ucap pak Makmur berusaha memberi solusi.


"Ok. Baiklah!" jawab gadis itu singkat dan diliputi rasa emosi dalam hatinya. Sebab, keinginannya tak terpenuhi.


* * *


Quen mendapati rumah orang tuanya nampak aneh, tidak seperti biasanya. Rumah yang biasa nampak ceria dan penuh kehangatan walau tak didapati seorang pun di ruang tamu, ini terasa tegang dan mencekam sekali.


"Alex," panggil Quen.


Pria itu menangkap maksut wanuta di hadapannya. Ia menggenggam tangannya dan melangkah ke dalam. Di ruang tengah semua keluarga berkumpul dengan espresi yang tegang. Bahkan tidak satu pun di antara mereka yang menyadari kedatangan Quen dan Alex. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masih.


"Hay, selamat malam semuanya," sapa Quen jadi sedikit kikuk. Ia bahkan tak tahu harus menunjukan ekspresi apa. Senyumnya sanggat nanggung.


"Quen, kau datang, Nak?" sapa Vivian yang segera sadar dengan kedatangan cucu dan menantu cucunya itu.


"Kenapa kalian berkumpul dan mengheningkan cipta di sini?" tanya Quen antara ragu tak ingin bertanya. Tapi, kepo berat.


Semua diam tak memberi jawaban. Nayla yang ingin menjawab pun kuga nampak ragu mendapati ekspresi yang datar dan tak ingin menjawab pertsnyaannya.


"Alex, Quen. Kalian duduklah! Mau minum sesuatu?" tawar Vivian setelah mempersilahkan keduanya duduk.


Dugaan Quen kalau rumahnunu sedang dalam masalah kian kuat. Tapi, apa? Melihat Al dan Nay keduanya tidak nampak bertengkar. Keduanya sepert7 sedang baik-baik saja. Lalu, apa?


Kembali melihat papanya yang masih asik dengan gadgetnya. Ini tidak wajar. Papa bukan sosok yang maniak hp.


Melihat mama, ia nampak memijat pelipisnya dan raut mukanya kuga seperti tengah berfikir berat. Mama tipe orang rilex juga sih. Kalau kedua kakeknya memang begitu. Suak diam tanpa ekspresi terlebih kakek Andreas.


Al nampak menghela napas dan akan menjelaskan sesuatu kepada Quen. Tapi, keduluan Lyli keluar sambil membawa tas besar berisi barang-barangnya. Dan di belakang Pak Makmur tampak berjalan mengekor di belakang gadis itu.

__ADS_1


"Tuan, Nyonya. Saya pamit, saya minta maaf kalau selama bekerja di sini banuyak melakukan kesalahan." Gadis itu tertunduk. Tapi, sedikit melirik ke arah Quen.


Quen menebak permasalahan di rumah ini Lyli penyebabnya. Tapi, ia tak mau pasti. Dia menahan diri untuk bertanya sampai gadis yang bahkan lebih tua darinya itu pergi dulu.


Lyli masih mematung di tempat ia berdiri. Menunggu kalimat yang terucap dari Clara dan Quen. Kalau pun tidak mencegah, setidaknya bertanya kenapa harus mengemasi barang-barang dana mau ke mana.


Clara masih diam tak bersuara. Ia memberi isyarat mata kepada sang suami. Vano pun bangkit berdiri tanpa melakangkah ia berkata, "Ya sudah. Hati-hati, ya. Pak Makmur, anda, kan yang akan antar Lyli pulang ke rumahnya?"


"Sial, memang sudah di rencanakan," umpat Lyli dalam hati.


Setelah Lyli pergi, Quen buru-buru berpindah ke samping papanya dan mulai mencecar banyak pertanyaan pada pria yang masih nampak modish dengan warna rambut berabu alias abu-abu itu. Bahkan, saking bingungnya Vano, ia pun protes pada putrinya yang juga hampir menjadi ibu.


"Sayang, tanyakan satu demi satu, papa bingung mau jawab yang mana."


"Baiklah. Kenapa kak Lyli pulang dengan banyak barang dan wajahnya sedih? Di pecat?" ucap Quen. Mengulangi lagi sebagian pertanyaannya yang tadi.


"Iya, dia terpaksa dipecat oleh kakek Andreas. Tapi, kita semua dah membicarakannya bersama."


"Memang kenapa, Pa?" tanya Quen makin penasaran.


Vano tidak langsung menjawab, ia memandang ke arah Al dan Nayla lalu pada Clara.


"Karena dia belum move on dari kakakkmu. Dia penyebab kenapa kakakmu dan istrinya brantem terus." ucap Vano menjelaskan.


Quen hanya diam mengangguk berlagak paham meski sebenarnya tak paham. Bagaimana bisa Lyli melakukannya? Bukankah kak Al bukan type yang mueah di hasut. Sementara hubungan dengan kakak iparnya, sangat buruk. Keduanya seperti kucing dan anjing.


"Ya sudah. Yang bikin masalah dah agak ada kak Nay dan kak Al jangan berantem mulu, donk!" Seru Quen.


"Quen. Nenek buatkan kamu air lemon hangat. Minumlah!" Seru Vivian. Menyodorkan satu cangkir tanggung berisi lemon hangat untuk Quen untuk mengurangi rasa mual untuk wanita yang tengah hamil muda seperti dirinya.


"Makasih, Nek." Quen menerima cangkir itu dan langsung menyesapnya. Rasa manis dan asam berpadu jadi satu memberikan rasa nyaman baginya setelah meminumnya.


"Kau tumben malam-malam pulang kemari tanpa menelfon dulu, apakah ada kepentingan?" tanya Vivian lagi.


"Iya, Nek. Quen mau ambil gaun lusa mau datang ke pesta ulang tahunnya youtubers," jawab Quen sambil tertawa.


Seisi ruangan nampak berfikir dan di benak mereka meragukan kalau dia dalah Atta Halilintar. Sebab, keluarganya tidak kenal secara langsung dengan raja you tube itu dan para you tubers lainnya.


Beda dengan Al, ia langsung menangkap kalau itu adalah mantan pacar adik iparnya. "Helena?" tanyanya.


"Ya, enak kali ya kerjanya jadi traveller bloger gitu. Jalan-jalan makan-makan dapat duit," ucap Quen sambil tertawa.


"Semua sudah memiliki bidang masing-masing, bagi mereka, juga merasa enak kau bisa jadi dokter di usia muda," sahut Vano.


"Kau mau menginap, di sini, Quen?" tanya Clara yang sedari tadi diam saja.


"Kayaknya gak deh, Ma. Soalnya besok aku praktek pagi. Gak enak ama tante Lusi kalau samoe telat."


"Ok, baiklah! Hari pertama kerja semngat ya? Tapi, jaga pula kondisi kamu, mama gak mau ada hal buruk terjadi dengan cucu mama," ucap Clara.

__ADS_1


"Iya, Maaa iyaaa!" Quen pun beranjak ke atas tangga menuju kamarnya di lantai atas.


__ADS_2