
Kurang lebih satu setengah jam sudah, Novita berbincang-bincang dengan calon mama mertuanya. Banyak hal yang mereka bahas.
Mulai dari anak-anak Novita. Novita tak menyangka kalau mamanya Candra akan
semudah ini menerimanya. Sungguh, bayangannya meleset. Dia sendiri bukanlah siapa-siapa,
bagaimana bisa, mamanya yang terkesan Elit begitu bisa dengan mudahnya akrab
begitu. sampai ke pertanyaan mama Dian bertanya pada putrnya.
“Ndra, kan mama sudah kasih restu, nih. Kapan kamu akan
melamar Novita? Cepatlah menikah. Apalagi yang ditunggu. Kalau sudah pada sama-sama suka dan cocok mau nunggu apa lagi? Nunggu mama tua, dan mati dulu?”
“Ma, jangan gitu, donk. Iya, aku akan segera menikahi
Novita,” jawab Candra dengan cepat.
“Ya sudah, buruan lamar Novita dan cepat atur tanggal
pernikahan kalian. Ini sudah malam, mama harus segera kembali,” ucap mama Dian.
“Mama mau menginap di hotel, apa langsung pulang?” tanya
Candra.
“Ini sudah malam, Ndra. Tentu saja mama akan ke hotel dulu,
kan sampai besok jam dua belas batas cek in-nya.”
“Oh, kirain.” Candra hanya cengar-cengir sambil menggaruk
kepalanya sendiri yang tidak gatal.
“Ya sudah, Candra, ini sudah malam. Cepat antarkan Novita
kembali sebelum jam sembilan malam,’' perintah mama Dian. Kemudian, mereka pun
bersiap untuk kembali.
Sepanjang perjalanan, Novita terus saja tersenyum seorang
diri. Ia tidak bisa membendung kebahagiaan yang meluap dari hatinya melalui senyuman.
“Ndra, kamu banyak cerita mengenai aku, dan anak-anak, yak ke
mama kmu?” tanya Novita mengawali percakapan. Lagi pula, di kursi belakang yang
sudah Candra siapkan kasur mobil di dalamnya, Adriel juga sudah tertidur lelap.
“Iya, donk! Hehehe.”
“Tapi, dia pendengar yang baik dan bisa mengingat dengan
sangat baik loh, ya?” ucap Novita lagi sambil mengingat kejadian tadi.
“Hemb? Bagaimana kau bisa seyakin itu?” tanya Candra. Sebab,
sejauh ini yang ia kenal, mamanya type orang yang termasuk cuek. Tapi, itu bisa saja terjadi, karena beliau sangat menyukai Novita dan tidak keberatan
sama sekali menerima kekasihnya yang hanyalah seorang janda dan memiliki dua
anak.
“Jika tidak yakin, bagaimana tebakannya bisa tepat, Ndra.
Kau dengar tidak, sih tadi? Dia bisa menebak Adriel dengan benar. Axel anak pertamaku, dan kesibukan dengan ujian nasional.”
“Ya sudah, kali ini aku akan melamarmu, bagaimana? Apakah
kau bersedia menerima aku sebagai suamimu?”
Novita memandang Candra dengan tatapan jenaka. Kemudian ia
tertawa terbahak. Karena, bagaimana pun ekspresinya juga tidak akan bisa lihat dengan jelas.
“Maaf. Kalau aku tidak sopan melamarmu di mobil. Apalagi
dalam keadaan menyetir seperti ini,” ucap Candra lagi. Karena ia menyadarai Novita memandang seperti itu karena menganggapnya aneh.
“Itu, kamu merasa di mana salahnya. Kenapa di terusin?”
Wanita itu pun akhirnya tak bisa menahan tawanya.
“Habis, mau kapan? Waktuku tidak akan banyak. Aku harus
melamarmu malam ini. Jika tidak sekarang, sampai di rumahmu juga pasti aku sudah kau usir. Jangankan masuk, menginjakkan kaki di atas tanah halaman juga pasti tak kau izinkan.”
“Hahaha, nada kamu lucu banget. Mau ngelamar kok melas
banget gitu?” timpal Novita, tak bisa bersikap biasa saja karena saking
bagaianya. Dia sendiri bahkan sudah lupa, kapan terakhir bisa merasa bahagia dan tertawa lepas seperti ini.
“Giaman? Terima, tidak?”
“Baiklah, aku akan menerima lamaranmu.”
“Seirus?”
“Duarius.”
“Yes!”
“Sudah fokuslah menyetir, aku tidak mau kau terlalu bahagia
nanti malah lepas kendali lagi. Sudah banyak, lo kek gitu, tuh!”
“Baik, nyonya.” Jawab Candra senang. Secepat kilat pria itu
meraih tangan Novita dan mencium tangannya.
“Heh, geli, jangan begitu, donk. Kau panggil apa barusan?
Apakah, pantas?”
“Kenapa tidak? Kau sebentar lagi juga akan jadi nyonya
Candra. Kenapa tidak pantas?”
‘‘Oh, iya, Ndra. Apakah mamamu ke sini dari Jogja mengemudikan mobil sendiri?” tanya Novita penasaran.
“Iya, memang kenapa?” jawab Candra santai dan malah bertanya
balik.
“Kamu sebagai anak, apakah tidak khawatir dengannya?”
“Dia sudah biasa begitu. Jangankan hanya Jakarta ke Jogja.
Ke Bali saja dia nyetir sendiri, loh.”
“Hah, serius? Usia berapa sih mama kamu, Ndra?”
“Entahlah. Jangan pernah bahas usia kalau dengan dia ya
seusia dengan tante Clara. Tapi, ia merasa kalau dirinya masih merasa muda dan
ABG saja. Jadi…. “Candra sengaja tidak meneruskan kalimatnya. Ia hanya
mengangkat kedua bahunya saja. Membiarkan Novita menebaknya sendiri sesuai apa
yang ada di dalam kepalanya sendiri.
“Ya sudahlah. Ini sudah sampai, terimakasih, ya? kau cepatlah
pulang dan istirahat.”
“Bukankah besok hari Minggu?”
“Ya, aku juga tidak akan melupakan kalau besok hari Minggu. Tapi, apa yang ingin kau lakukan di sini? Apakah kau ingin digerebek warga kembali dari tempat
__ADS_1
janda sampai jam sembilan lewat?”
“Sudah kuduga.” Candra tertawa ke arah Novita. Kemudian,
Novita pun beranjak pergi memasukki gerbang setelah menggendong Adriel yang bahkan masih tertidur dengan pulas.
“Bye, sayang. Besok aku akan ke tempat Alex untuk membahas
pernikahan. Jika semua sudah beres, kita pergi ke boutique untuk fitting baju
pengantin, Sayang.”
Novita tidak menimpali dengan sepatah kata pun. Percuma
bicara. Setelah mengatakan itu, Candra langsung melajukan kendaraan dengan
cepat.
****
Sekitar pukul delapan, setelah memperkirakan Alex sudah
tidak sibuk, Candra menelfon pria itu via seluler.
“Halo, Ndra. Ada apa?” tanya Alex dari seberang setelah
panggilannya tersambung.
“Iya, halo, Lex. Kamu ada waktu tidak? Aku mau bertemu
denganmu. Ada hal yang perlu aku bicarakan denganmu.”
“Jam setengah sembilan di café chery, dekat rumahku,” jawan Alex seperti tidak berfikir.
“Oke, baiklah. Aku akan segera ke sana.” Bersamaan dengan
Candra mematikan panggilannya, ia juga telah selesai menyisir rambut. Diraihnya
deodorant. Kemudian setelahnya berganti dengan menyemprotkan parfum ke badannya,
lalu ia pun beranjak pergi untuk menemui Alex.
Tiba di café, Candra masih belum melihat satu pun pengunjung
yang datang. Dia adalah pengunjung pertama. Bahkan, nampak olehnya beberapa pelayan
café tengah sibuk membersihkan meja dan juga menyapu, dan Sebagian pula ada yang
mengepel bagian yang sudah bersih.
“Selamat pagi, selamat datang. Anda pengunjung pertama kami,
ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang barista dengan ramah.
“Dua kopi susu, Mbak,” jawab Candra singkat.
Selang beberapa menit, barista yang sama, datang membawakan
dua cangkir kopi. Sementara Candra masih sibuk dengan benda pipih yang ada dalam genggamannya.
“Sory, Bro membuatmu lama menunggu.” Seorang pria mengenakan jemper biru dongker dari pintu
masuk café datang dengan sedikit terburu-buru.
“Tidak masalah. aku juga baru saja datang,” jawab Candra. Meletakkan
ponselnya di atas meja.
“Kau bahkan sudah memesankan kopi untukku.”
“Jangan berfikir berlebihan. Aku pengunjung pertama, dan
tidak perlu menunggu antrian.”
“Hahaha. Oke.” Alex mengangkat cangkir kopi susu miliknya
menunjukkan pada Candra kemudian menyeruputnya sedikit. “Sepagi ini kau
“Semalam, aku mengajak Novita bertemu dengan mamaku. Dia sudah
memberikan restunya pada kami dan ingin agar aku dan Novita segera menikah. Menurutmu,
bagaimana?”
Alex diam sesaat. Pria itu mengeluarkan rokok filter dari
dalam saku jaket jempernya. Mengambil satu batang dan melemparkan bungkusnya di
depan Candra. Sebagai isyarat para cowok untuk menawarkan pada temannya.
“Lalu, bagaimana dengan kak Novi sendiri?”a
“Aku sudah melamarnya semalam, dan dia juga bersedia untuk
segera menikah denganku.”
“Kalau dari semua pihak sudah saling mengiyakan. kenapa
harus menuda-nunda. Bagaimana kalau tagl 31 bersamaan dengan ulang tahun
kakakku?” usul Alex sambil terkekeh.
“Apa? Dua minggu lagi?” Candra sedikit shock dengan apa yang
Alex katakan. Idenya memang tidaklah buruk. Tapi, dua minggu menyipakan pernikahan
apakah tidak terlalu mendesak. “Dua minggu lagi, Lex?” Kembali, candra
bertanya.
“Itu tidak buruk. Soal pesta serahkan pada aku dan Zahara. Kami
siap membantu dengan sepenuh hati. Sekarang. Pergilah kesana, ajak dia fitting
gaun penganting agar tidak berantakan.”
“Oke. Thank’s, Bro.” Dua pria itu saling bersalaman dan
berpelukan. Kemudian, sama-sama meninggalkan café tersebut.
****
“Candra, bagaimana bisa kau datang tidak memberiku kabar
terlebih dahulu?” ucap Novita, Marah. Karena dia juga belum mandi dan baru
selesai mengerjakan pekerjaan rumah. Penampilannya sungguh, masih seperti
gembel saja.
“Kenapa memang? Bukannya nanti kalau kita sudah menikah dan
tinggal bersama aku akan lebih sering melihatmu yang seperti ini dari pada
berdandan cantik seperti pada saat di luar?”
“Iya, sih. Tapi, aku kan jadi malu.”
“Apakah aku akan tetap di sini dan tidak dipersilahkan untuk
masuk sama sekali, ini?” tanya Candra.
“Oh, iya. Masuklah!” Novi menggeser tubuhnya memberi akses
lewat untuk Candra.
Begitu masuk, Candra sudah mendapati rumah yang sudah bersih
dan rapi. Axel dan Adriel nampak duduk di depan tv sambil menonton serial pagi.
Mereka berdua juga terlihat sudah rapi dan fresh. Khas orang baru mandi.
__ADS_1
“Selamat pagi. Kalian asik banget. Nonton apa? Spongebob,
ya?” sapa Candra sambil tersenyum. Pandangannya lebih dominan pada Axel remaja
yang usianya menginjak sembilan belas tahun dari pada ke arah Adriel yang baru
menginjak kelas satu SD.
Mungkin dalam hati pria itu membatin, bagaimana dia mengerti
cara mendekati cewek, kalau diusianya yang sudah bukan anak-anak lagi
tontonannya masih spongebob.
“Om, Candra? Apakah kau mau mengajak kami kemuar lagi?” sapa
Adriel. Penuh antusias.
“Betul sekali. Bagaimana denganmu, Xel? Apakah kau juga mau
ikut?”
“Mau ke mana memangnya, Om? Bukan untuk sarapan, kan?”
“Hahaha. Tentu saja bukan. Om berani jamin kalau kalian
pasti juga sudah sarapan.”
Axel hanya tersenyum tipis. Lalu kembali memandang ke layar
televisi. Seolah ia tidak merelakan acara itu terlewatkan meski hanya sedetik.
Ingin rasanya Candra menghujat calon anak tirinya ini. Tapi,
dia tidak berani. Biarkan saja. Kelak, jika sudah ada masanya, dia juga akan
menemukan dan mengejar wanita yang akan dia sukai.
Sekitar tiga puluh menit, setelah Novita mandi dan berhganti
pakaian, ia menghampiri Candra yang tengah ngobrol dengan kedua putranya.
“Apa yang membawamu ke mari, Ndra? Kau bahkan juga tidak
mengabariku terlebih dahulu.”
“Pergi, yuk!”
“Ke mana?”
“Fitting gaun pengantin buat acara nikahan kita, donk!”
“Hah, sekarang?”
“Masa tahun depan? Ya sekarang, lah. Ayo mumpung masih pagi.
Kan ini hari minggu, biasanya boutique-boutique akan sangat ramai pengunjung di
hari weekend begini.”
“Baiklah, Adriel, kamu ikut mama ya? yuk, mama gantikan baju
dulu buat kamu.”
“Aku ada rencana mau jenguk tante Queen, Ma. Mungkin Adriel
akan suka bila bermain dengan Berlyn nanti, ya kan Driel?” sahut Axel dengan
cepat.
“Baik, aku kan ikut pergi ke rumah tante Queen.” Ucap Axel
dengan cepat.
Candra tertawa tertahan. Seolah Axel memang sengaja mencari
alasan yang tepat untuk membirakan mamanya pergi hanya berdua saja dengannya.
“Loh, kamu kok gak bilang mama, sih sebelumnya Xel kalau mau
ke sana?” tanya Novi dengan muka sok ling-lung karena bingung.
tadi pas Mama masak Axel sudah bilang. Tapi, Mama diam. Kupikir karena menyetujui. Jadi, karena gak denger, ya?” jawab Axel dengan tenang.
“Jadi gimana? Adriel mau ikut siapa? Ikut om dan mama, atau
ikut kak Axel ke rumah Berlyn?” tanya Candra karena sudah tak sabar ingin
melihat Novita mencoba beberapa gaun pengantin dan mencarikannya yang cocok untuknya.
“Adriel mau iku kak Axel saja, deh Om.”
“Oke, ayo kita berangkat sekarang, Driel! Kau bersiaplah!”
seru Axel lalu beranjak mengambil kunci mobil. Sebenarnya remaja itu lebih suka
mengendarai sepeda motor. Tapi, karena Adriel sering ketiduran kalau naik
motor, dan takut jatuh, akhirnya ia pun memilih untuk mengendarai mobil saja.
Begitu kedua putrnya pergi, Novita segera bersiap-siap mengganti
pakaiannya dan buru-buru berangkat tanpa menanyakan pada Candra sudah sarapan
atau belum.
Tiba di sebuah boutique. Candra langsung mengajak Novi untuk
memilih gaun verra wang. Di sana ada tiga gaun terbaik dan terbaru. Candra
bingung ingin membelikan yang mana. Pengennya semuanya akan dia beli untuk
Novita. Tapi, jika demikian, sama halnya dia membongkar identitas dirinya di
depan calon istrinya sebelum menikah. Karena yang diktehui oleh Novi dan yang
lain, dia adalah seorang karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan.
“Bagus yang mana? Ini apa yang baru saja aku coba tadi? Atau
yang itu?” tanya Novita, meminta pendapat pada Candra.
“Kamu maunya yang mana?”
“Aku, sih suka yang ini, Ndra. Lebih elegan dan tidak
terlalu ramai kayaknya. Menurutmu, bagaimana?” ucap Novita sambila menunjukkan
baju yang dikenakannya.
Tanpa pikir panjang, Candra langsung mengangguk. Ia sendiri
juga sebenarnya lebih condong pada baju tersebut, gaun warna putih lengan tiga
perempat, dan baian dressnya memanjang hingga menjuntai tanah, dan tidak
terlalu mekar. Sangat cocok untuk wanita seusianya.
“baiklah. Dari pertama lihat, aku juga suka itu, jadi Fix, ya itu. Ayo kita bungkus,” ucap Candra.
Setelah menemukan gaun pengatin yang cocok dan teksudo yang pas
untuk ukuran tubuhnya, mereka pun memutuskan untuk pergi ke rumah Alex sambil
menjenguk dan melihat bagaimana kondisi bayi mereka. Jika pun mau pualng ke
rumah juga tidak enak. Karena Adriel dan Axel sedang ke rumah Queen. Ya, kalau
keduanya sudah remi menikah. Sudah pasti lain lagi ceritanya. Dan akan
menggunakan kesempatan tersebut untuk berduaan dan bermesraan.
__ADS_1