Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 49


__ADS_3

Kurang lebih satu setengah jam sudah, Novita berbincang-bincang dengan calon mama mertuanya. Banyak hal yang mereka bahas.


Mulai dari anak-anak Novita. Novita tak menyangka kalau mamanya Candra akan


semudah ini menerimanya. Sungguh, bayangannya meleset. Dia sendiri bukanlah siapa-siapa,


bagaimana bisa, mamanya yang terkesan Elit begitu bisa dengan mudahnya akrab


begitu. sampai ke pertanyaan mama Dian bertanya pada putrnya.


“Ndra, kan mama sudah kasih restu, nih. Kapan kamu akan


melamar Novita? Cepatlah menikah. Apalagi yang ditunggu. Kalau sudah pada sama-sama suka dan cocok mau nunggu apa lagi? Nunggu mama tua, dan mati dulu?”


“Ma, jangan gitu, donk. Iya, aku akan segera menikahi


Novita,” jawab Candra dengan cepat.


“Ya sudah, buruan lamar Novita dan cepat atur tanggal


pernikahan kalian. Ini sudah malam, mama harus segera kembali,” ucap mama Dian.


“Mama mau menginap di hotel, apa langsung pulang?” tanya


Candra.


“Ini sudah malam, Ndra. Tentu saja mama akan ke hotel dulu,


kan sampai besok jam dua belas batas cek in-nya.”


“Oh, kirain.” Candra hanya cengar-cengir sambil menggaruk


kepalanya sendiri yang tidak gatal.


“Ya sudah, Candra, ini sudah malam. Cepat antarkan Novita


kembali sebelum jam sembilan malam,’' perintah mama Dian. Kemudian, mereka pun


bersiap untuk kembali.


Sepanjang perjalanan, Novita terus saja tersenyum seorang


diri. Ia tidak bisa membendung kebahagiaan yang meluap dari hatinya melalui senyuman.


“Ndra, kamu banyak cerita mengenai aku, dan anak-anak, yak ke


mama kmu?” tanya Novita mengawali percakapan. Lagi pula, di kursi belakang yang


sudah Candra siapkan kasur mobil di dalamnya, Adriel juga sudah tertidur lelap.


“Iya, donk! Hehehe.”


“Tapi, dia pendengar yang baik dan bisa mengingat dengan


sangat baik loh, ya?” ucap Novita lagi sambil mengingat kejadian tadi.


“Hemb? Bagaimana kau bisa seyakin itu?” tanya Candra. Sebab,


sejauh ini yang ia kenal, mamanya type orang yang termasuk cuek. Tapi, itu bisa saja terjadi, karena beliau sangat menyukai Novita dan tidak keberatan


sama sekali menerima kekasihnya yang hanyalah seorang janda dan memiliki dua


anak.


“Jika tidak yakin, bagaimana tebakannya bisa tepat, Ndra.


Kau dengar tidak, sih tadi? Dia bisa menebak Adriel dengan benar. Axel anak pertamaku, dan kesibukan dengan ujian nasional.”


“Ya sudah, kali ini aku akan melamarmu, bagaimana? Apakah


kau bersedia menerima aku sebagai suamimu?”


Novita memandang Candra dengan tatapan jenaka. Kemudian ia


tertawa terbahak. Karena, bagaimana pun ekspresinya juga tidak akan bisa lihat dengan jelas.


“Maaf. Kalau aku tidak sopan melamarmu di mobil. Apalagi


dalam keadaan menyetir seperti ini,” ucap Candra lagi. Karena ia menyadarai Novita memandang seperti itu karena menganggapnya aneh.


“Itu, kamu merasa di mana salahnya. Kenapa di terusin?”


Wanita itu pun akhirnya tak bisa menahan tawanya.


“Habis, mau kapan? Waktuku tidak akan banyak. Aku harus


melamarmu malam ini. Jika tidak sekarang, sampai di rumahmu juga pasti aku sudah kau usir. Jangankan masuk, menginjakkan kaki di atas tanah halaman juga pasti tak kau izinkan.”


“Hahaha, nada kamu lucu banget. Mau ngelamar kok melas


banget gitu?” timpal Novita, tak bisa bersikap biasa saja karena saking


bagaianya. Dia sendiri bahkan sudah lupa, kapan terakhir bisa merasa bahagia dan tertawa lepas seperti ini.


“Giaman? Terima, tidak?”


“Baiklah, aku akan menerima lamaranmu.”


“Seirus?”


“Duarius.”


“Yes!”


“Sudah fokuslah menyetir, aku tidak mau kau terlalu bahagia


nanti malah lepas kendali lagi. Sudah banyak, lo kek gitu, tuh!”


“Baik, nyonya.” Jawab Candra senang. Secepat kilat pria itu


meraih tangan Novita dan mencium tangannya.


“Heh, geli, jangan begitu, donk. Kau panggil apa barusan?


Apakah, pantas?”


“Kenapa tidak? Kau sebentar lagi juga akan jadi nyonya


Candra. Kenapa tidak pantas?”


‘‘Oh, iya, Ndra. Apakah mamamu ke sini dari Jogja mengemudikan mobil sendiri?” tanya Novita penasaran.


“Iya, memang kenapa?” jawab Candra santai dan malah bertanya


balik.


“Kamu sebagai anak, apakah tidak khawatir dengannya?”


“Dia sudah biasa begitu. Jangankan hanya Jakarta ke Jogja.


Ke Bali saja dia nyetir sendiri, loh.”


“Hah, serius? Usia berapa sih mama kamu, Ndra?”


“Entahlah. Jangan pernah bahas usia kalau dengan dia ya


seusia dengan tante Clara. Tapi, ia merasa kalau dirinya masih merasa muda dan


ABG saja. Jadi…. “Candra sengaja tidak meneruskan kalimatnya. Ia hanya


mengangkat kedua bahunya saja. Membiarkan Novita menebaknya sendiri sesuai apa


yang ada di dalam kepalanya sendiri.


“Ya sudahlah. Ini sudah sampai, terimakasih, ya? kau cepatlah


pulang dan istirahat.”


“Bukankah besok hari Minggu?”


“Ya, aku juga tidak akan melupakan kalau besok hari Minggu. Tapi, apa yang ingin kau lakukan di sini? Apakah kau ingin digerebek warga kembali dari tempat

__ADS_1


janda sampai jam sembilan lewat?”


“Sudah kuduga.” Candra tertawa ke arah Novita. Kemudian,


Novita pun beranjak pergi memasukki gerbang setelah menggendong Adriel yang bahkan masih tertidur dengan pulas.


“Bye, sayang. Besok aku akan ke tempat Alex untuk membahas


pernikahan. Jika semua sudah beres, kita pergi ke boutique untuk fitting baju


pengantin, Sayang.”


Novita tidak menimpali dengan sepatah kata pun. Percuma


bicara. Setelah mengatakan itu, Candra langsung melajukan kendaraan dengan


cepat.


****


Sekitar pukul delapan, setelah memperkirakan Alex sudah


tidak sibuk, Candra menelfon pria itu via seluler.


“Halo, Ndra. Ada apa?” tanya Alex dari seberang setelah


panggilannya tersambung.


“Iya, halo, Lex. Kamu ada waktu tidak? Aku mau bertemu


denganmu. Ada hal yang perlu aku bicarakan denganmu.”


“Jam setengah sembilan di café chery, dekat rumahku,” jawan Alex seperti tidak berfikir.


“Oke, baiklah. Aku akan segera ke sana.” Bersamaan dengan


Candra mematikan panggilannya, ia juga telah selesai menyisir rambut. Diraihnya


deodorant. Kemudian setelahnya berganti dengan menyemprotkan parfum ke badannya,


lalu ia pun beranjak pergi untuk menemui Alex.


Tiba di café, Candra masih belum melihat satu pun pengunjung


yang datang. Dia adalah pengunjung pertama. Bahkan, nampak olehnya beberapa pelayan


café tengah sibuk membersihkan meja dan juga menyapu, dan Sebagian pula ada yang


mengepel bagian yang sudah bersih.


“Selamat pagi, selamat datang. Anda pengunjung pertama kami,


ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang barista dengan ramah.


“Dua kopi susu, Mbak,” jawab Candra singkat.


Selang beberapa menit, barista yang sama, datang membawakan


dua cangkir kopi. Sementara Candra masih sibuk dengan benda pipih yang ada dalam genggamannya.


“Sory, Bro membuatmu lama menunggu.” Seorang pria mengenakan jemper biru dongker dari pintu


masuk café datang dengan sedikit terburu-buru.


“Tidak masalah. aku juga baru saja datang,” jawab Candra. Meletakkan


ponselnya di atas meja.


“Kau bahkan sudah memesankan kopi untukku.”


“Jangan berfikir berlebihan. Aku pengunjung pertama, dan


tidak perlu menunggu antrian.”


“Hahaha. Oke.” Alex mengangkat cangkir kopi susu miliknya


menunjukkan pada Candra kemudian menyeruputnya sedikit. “Sepagi ini kau


“Semalam, aku mengajak Novita bertemu dengan mamaku. Dia sudah


memberikan restunya pada kami dan ingin agar aku dan Novita segera menikah. Menurutmu,


bagaimana?”


Alex diam sesaat. Pria itu mengeluarkan rokok filter dari


dalam saku jaket jempernya. Mengambil satu batang dan melemparkan bungkusnya di


depan Candra. Sebagai isyarat para cowok untuk menawarkan pada temannya.


“Lalu, bagaimana dengan kak Novi sendiri?”a


“Aku sudah melamarnya semalam, dan dia juga bersedia untuk


segera menikah denganku.”


“Kalau dari semua pihak sudah saling mengiyakan. kenapa


harus menuda-nunda. Bagaimana kalau tagl 31 bersamaan dengan ulang tahun


kakakku?” usul Alex sambil terkekeh.


“Apa? Dua minggu lagi?” Candra sedikit shock dengan apa yang


Alex katakan. Idenya memang tidaklah buruk. Tapi, dua minggu menyipakan pernikahan


apakah tidak terlalu mendesak. “Dua minggu lagi, Lex?” Kembali, candra


bertanya.


“Itu tidak buruk. Soal pesta serahkan pada aku dan Zahara. Kami


siap membantu dengan sepenuh hati. Sekarang. Pergilah kesana, ajak dia fitting


gaun penganting agar tidak berantakan.”


“Oke. Thank’s, Bro.” Dua pria itu saling bersalaman dan


berpelukan. Kemudian, sama-sama meninggalkan café tersebut.


****


“Candra, bagaimana bisa kau datang tidak memberiku kabar


terlebih dahulu?” ucap Novita, Marah. Karena dia juga belum mandi dan baru


selesai mengerjakan pekerjaan rumah. Penampilannya sungguh, masih seperti


gembel saja.


“Kenapa memang? Bukannya nanti kalau kita sudah menikah dan


tinggal bersama aku akan lebih sering melihatmu yang seperti ini dari pada


berdandan cantik seperti pada saat di luar?”


“Iya, sih. Tapi, aku kan jadi malu.”


“Apakah aku akan tetap di sini dan tidak dipersilahkan untuk


masuk sama sekali, ini?” tanya Candra.


“Oh, iya. Masuklah!” Novi menggeser tubuhnya memberi akses


lewat untuk Candra.


Begitu masuk, Candra sudah mendapati rumah yang sudah bersih


dan rapi. Axel dan Adriel nampak duduk di depan tv sambil menonton serial pagi.


Mereka berdua juga terlihat sudah rapi dan fresh. Khas orang baru mandi.

__ADS_1


“Selamat pagi. Kalian asik banget. Nonton apa? Spongebob,


ya?” sapa Candra sambil tersenyum. Pandangannya lebih dominan pada Axel remaja


yang usianya menginjak sembilan belas tahun dari pada ke arah Adriel yang baru


menginjak kelas satu SD.


Mungkin dalam hati pria itu membatin, bagaimana dia mengerti


cara mendekati cewek, kalau diusianya yang sudah bukan anak-anak lagi


tontonannya masih spongebob.


“Om, Candra? Apakah kau mau mengajak kami kemuar lagi?” sapa


Adriel. Penuh antusias.


“Betul sekali. Bagaimana denganmu, Xel? Apakah kau juga mau


ikut?”


“Mau ke mana memangnya, Om? Bukan untuk sarapan, kan?”


“Hahaha. Tentu saja bukan. Om berani jamin kalau kalian


pasti juga sudah sarapan.”


Axel hanya tersenyum tipis. Lalu kembali memandang ke layar


televisi. Seolah ia tidak merelakan acara itu terlewatkan meski hanya sedetik.


Ingin rasanya Candra menghujat calon anak tirinya ini. Tapi,


dia tidak berani. Biarkan saja. Kelak, jika sudah ada masanya, dia juga akan


menemukan dan mengejar wanita yang akan dia sukai.


Sekitar tiga puluh menit, setelah Novita mandi dan berhganti


pakaian, ia menghampiri Candra yang tengah ngobrol dengan kedua putranya.


“Apa yang membawamu ke mari, Ndra? Kau bahkan juga tidak


mengabariku terlebih dahulu.”


“Pergi, yuk!”


“Ke mana?”


“Fitting gaun pengantin buat acara nikahan kita, donk!”


“Hah, sekarang?”


“Masa tahun depan? Ya sekarang, lah. Ayo mumpung masih pagi.


Kan ini hari minggu, biasanya boutique-boutique akan sangat ramai pengunjung di


hari weekend begini.”


“Baiklah, Adriel, kamu ikut mama ya? yuk, mama gantikan baju


dulu buat kamu.”


“Aku ada rencana mau jenguk tante Queen, Ma. Mungkin Adriel


akan suka bila bermain dengan Berlyn nanti, ya kan Driel?” sahut Axel dengan


cepat.


“Baik, aku kan ikut pergi ke rumah tante Queen.” Ucap Axel


dengan cepat.


Candra tertawa tertahan. Seolah Axel memang sengaja mencari


alasan yang tepat untuk membirakan mamanya pergi hanya berdua saja dengannya.


“Loh, kamu kok gak bilang mama, sih sebelumnya Xel kalau mau


ke sana?” tanya Novi dengan muka sok ling-lung karena bingung.


tadi pas Mama masak Axel sudah bilang. Tapi, Mama diam. Kupikir karena menyetujui. Jadi, karena gak denger, ya?” jawab Axel dengan tenang.


“Jadi gimana? Adriel mau ikut siapa? Ikut om dan mama, atau


ikut kak Axel ke rumah Berlyn?” tanya Candra karena sudah tak sabar ingin


melihat Novita mencoba beberapa gaun pengantin dan mencarikannya yang cocok untuknya.


“Adriel mau iku kak Axel saja, deh Om.”


“Oke, ayo kita berangkat sekarang, Driel! Kau bersiaplah!”


seru Axel lalu beranjak mengambil kunci mobil. Sebenarnya remaja itu lebih suka


mengendarai sepeda motor. Tapi, karena Adriel sering ketiduran kalau naik


motor, dan takut jatuh, akhirnya ia pun memilih untuk mengendarai mobil saja.


Begitu kedua putrnya pergi, Novita segera bersiap-siap mengganti


pakaiannya dan buru-buru berangkat tanpa menanyakan pada Candra sudah sarapan


atau belum.


Tiba di sebuah boutique. Candra langsung mengajak Novi untuk


memilih gaun verra wang. Di sana ada tiga gaun terbaik dan terbaru. Candra


bingung ingin membelikan yang mana. Pengennya semuanya akan dia beli untuk


Novita. Tapi, jika demikian, sama halnya dia membongkar identitas dirinya di


depan calon istrinya sebelum menikah. Karena yang diktehui oleh Novi dan yang


lain, dia adalah seorang karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan.


“Bagus yang mana? Ini apa yang baru saja aku coba tadi? Atau


yang itu?” tanya Novita, meminta pendapat pada Candra.


“Kamu maunya yang mana?”


“Aku, sih suka yang ini, Ndra. Lebih elegan dan tidak


terlalu ramai kayaknya. Menurutmu, bagaimana?” ucap Novita sambila menunjukkan


baju yang dikenakannya.


Tanpa pikir panjang, Candra langsung mengangguk. Ia sendiri


juga sebenarnya lebih condong pada baju tersebut, gaun warna putih lengan tiga


perempat, dan baian dressnya memanjang hingga menjuntai tanah, dan tidak


terlalu mekar. Sangat cocok untuk wanita seusianya.


“baiklah. Dari pertama lihat, aku juga suka itu, jadi Fix, ya itu. Ayo kita bungkus,” ucap Candra.


Setelah menemukan gaun pengatin yang cocok dan teksudo yang pas


untuk ukuran tubuhnya, mereka pun memutuskan untuk pergi ke rumah Alex sambil


menjenguk dan melihat bagaimana kondisi bayi mereka. Jika pun mau pualng ke


rumah juga tidak enak. Karena Adriel dan Axel sedang ke rumah Queen. Ya, kalau


keduanya sudah remi menikah. Sudah pasti lain lagi ceritanya. Dan akan


menggunakan kesempatan tersebut untuk berduaan dan bermesraan.

__ADS_1


__ADS_2