Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 149


__ADS_3

Rombongan Al, Nayla dan semuanya sudah lebih dulu ke Vila, sementara Queen dan Diaz, menuju ke rumah orang tua pria yang akan menjadi suaminya nanti.


"Aku nervous, Diaz," ucap Quen, saat tujuannya kurang lima ratus meter lagi.


"Kenapa? Kan sudah pernah bertemu umi," jawab Diaz dengan lembut dan sabar.


"Ada yang salah tidak, dengan penampilanku?"


Diaz tersenyum gemas sambil mencubit hidung bangir Queen dan berkata, "Sudah Tuan putri. kecantikanmu berlipat sepuluh kali saat kau berhijab seperti itu."


Queen tersipu malu mendengar pujian dari Diaz.


Begitu mobil mereka memasuki gang rumah Diaz, Queen dibuat takjub. banyak orang yang lalu lalang di jalan dan saling menyapa. Entah berapa kali, Diaz melambaikan tangan sampai keluar jendela mobil pada para bapak-bapak dan ibu-ibu yang kebetulan berpapasan.


"Kamu kenal semua sama mereka?" tanya Queen pemasaran.


"Mungkin iya, tapi aku sudah lupa. Dan mereka masih ingat aku, sebab, aku satu-satunya yang telah menjadi dokter dan mengabdi di kampung halaman sendiri," jawab Diaz.


"Kamu selama kuliah dan menempuh pendidikan profesi sering pulang tiap Minggu, ya? Kok bisa lupa?"


Diaz tersenyum lalu menjawab, "Karena sejak lulus SD aku ada di pesantren. Mulai dari SMP hingga mendapat beasiswa kuliah kedokteran. Masih tetap di pesantren dan hanya pulang satu tahun satu kali, itu pun hanya seminggu saja."


Artinya kamu baru keluar pesantren belum ada dua tahun ini, donk?" Quen menunjukan keantusiasannya dalam menanyai Diaz. Wanita itu kian penasaran. Baginya, membicarakan tentang Islam adalah suatu obrolan yang menyenangkan di antara mereka.


Tiba-tiba kejadian di apartemen Malam itu terlintas di benak Queen. Ia merasa malu sendiri telah menjadi setan bagi Diaz.


"Sudah sampai, ayo turun!" Seru Diaz saat mobil sudah memasuki halaman yang luas dan penuh dengan tanaman bunga-bunga.


Di sebelah rumah berdiri gazebo kira-kira berukuran empat kali lima meter, dan terdapat banyak anak gadis berusia delapan belas sampai duapuluh dua tahunan tengah duduk berbaris menghadap ke arah wanita paruh baya. Ya, dia adalah uminya Diaz.


Queen terpaku melihat pemandangan itu, dia merasa betapa ruginya dia yang tak pernah mengikuti kegiatan seperti ini. Masa mudanya hanya untuk menggali ilmu umum dan bersenang-senang saja.


"Ayo ke sana!" seru Diaz, pada Quen yang masih saja berdiri di samping mobil.


"Aku malu," ujarnya sambil memainkan ujung jilbabnya dengan melilitkan di jari telunjuknya.


"Kenapa malu? Tidak usah, kamu dengan mereka semua manggilnya adek, kecuali sama umi."


Queen pun akhirnya bersedia berjalan mengekor di belakang Diaz. Lalu wanita itu meraih tangan pria di depannya dan meremasnya agak kuat untuk menetralisir rasa tidak percaya dirinya.


"Assalamualaikum, Umi!" seru Diaz saat keduanya sudah tiba beberapa meter dari pintu gazebo tersebut.


Sontak semua mata memandang ke arah Diaz dan Queen. Semua saling berbisik. Hanya ada satu gadis yang melihat ke arahnya sekilas, lalu menunduk.


Umi hanya tersenyum saat melihat mereka, Diaz sadar arti senyuman wanita yang telah melahirkannya itu, hanya saja dia tidak enak kalau tiba-tiba menarik tangannya begitu saja. Apalagi di sini banyak para gadis cantik, ia takut kalau Queen berfikir ada hati wanita lain yang Diaz jaga.


"Aduh, kalian ini kok sudah berpegangan tangan macam pengantin baru saja. Queen. Kemarilah, Nak! Diaz. Kamu masuk saja ke dalam, ya?" ujar umi dengan lembut dan sangat sabar.


Dengan segera lepaskan genggaman tangannya dark Diaz. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.


"Kamu sama umi dulu, ya?" bisik Diaz lirih. Barulah pria itu berjalan menuju rumah begitu Queen sudah melangkah masuk ke dalam gazebo tersebut.


Di barusan paling depan nomor dua dari kiri ia melihat calon adik iparnya yang rupanya ikut mengaji dan melempar senyuman padanya.


Umi memperkenalkan pada santriwatinya yang ternyata adalah putri dari tetangganya sendiri.


🍁🍁🍁🍁


Tiba di Vila, Al hanya menghabiskan waktunya dengan kakek Andrean. Sementara Nayla bermain dengan putri kecilnya, Bilqis.


Al memang tidak begitu memperhatikan mereka berdua bercengkrama. Tapi, ia dapat menangkap dengan jelas apa yang anak tirinya itu pertanyakan pada mamanya.


"Ma, kenapa saat Mama tengah bersama papa kok tidak pernah banyak bicara dan bercanda seperti mereka?" Bocah itu menunjuk ke arah Juna dan Gea yang tengah mengobrol dan bersenda gurau.


"hanya dengan om Jevin Mama seperti itu. Apakah kalian pacaran?" imbuhnya polos.


Dengan cepat Nayla membungkam mulut Bilqis dan berbisik, "Sayang, jangan berkata seperti itu ya jika ada papa. Tidak boleh, oke?" ucapnya.


Rupanya bocah itu tidak puas dengan apa yang namanya katakan. Ia pun bertanya kenapa tidak? kalaupun Mama ingin bercanda atau berpacaran, harusnya kan, sama papa, bukan dengan om Jevin. Dia bukan pasangan Mama." Bocah itu terus mencecar Nayla dengan pertanyaan yang membuat wanita itu gelagapan tak mampu menjawab, ia khawatir Al yang berada tidak jauh darinya mendengar apa yang putrinya baru saja katakan.


Nayla pun memangi sekitar halaman Vila. Ia menemukan bunga yang indah, ia pun menunjuk ke bunga itu, berharap putri kecilnya tertarik dan berlari untuk memetiknya.


Benar saja, Bilqis dengan girang berlari memetik bunga itu. Nayla pun bernafas lega. 'Akhirnya... semoga saja mas Al tidak mendengarnya,' gumam nya seorang diri.


Wanita itu pun menoleh ke arah suaminya yang tengah bersama kakak mertuanya. Tak ada tanda-tanda kalau al mendengar apa yang putrinya tadi bicarakan. Nayla pun kembali bernapas lega untuk yang kedua kalinya.


Kepura-puraan Al ternyata sukses. Ia hanya menyeringai mendengar apa yang Bilqis tanyakan tadi, yang sebenarnya dia sudah tahu jauh hari sebelum hari ini. Hanya saja dia pilih diam.


Tak lama kemudian Quen dan Diaz datang. Al tersenyum melihat ke arah adiknya yang tidak hanya bersama dengan Diaz. Ia mengajak serta Fatimah. Awalnya juga umik diajaknya. Tapi, beliau menolak.


Al menghampiri mereka, jabatan dan merangkul Diaz lalu mencium kedua pipi adeknya. "Kukira kau betah di sama dam tidak akan kemari," ucap Al pada Quen.


"Kak, kenalkan ini fatimah adiknya Diaz," ucap queen memperkenalkan calon atik ipar nya kepada sang kakak.


Al mengeluarkan tangannya, bejabatan dengan gadis belia itu dan menyebutkan namanya, serta memperkenalkan diri sebagai kakaknya Queen.


Gadis itu tersipu malu, dan membatin, pantas saja kak Quen cantik sekali. Kakaknya juga ganteng."


Al memanggil Nayla dan Bilqis serta Gea dan juga Juna memperkenalkan mereka. Hanya saja Al tidak tahu kalau anak istri serta kakeknya sudah lebih dulu kenal dengan Fatimah ketimbang dirinya yang baru pertama kali. Sebab, saat pelantikan adiknya ia pulang lebih dulu karena sebuah urusan.

__ADS_1


Mereka berkumpul bersama, menyimpkan tungku untuk membakar ikan dan daging. Dalam hal ini, hanya Quen dan Nayla saja yang bisa diandalkan, Gea adalah anak mama, ia bahkan tidak tahu bagaimana menggoreng telur mata sapi.


Sementara Fatimah ia hanya diam saja di bawah pohon. Mengamati sang kakak yang tengah asik usil menggoda calon iparnya.


Meskipun ada Fatimah, Diaz tak tanggung-tanggung memanjakan Quen. Memeluknya dari belakang, bercanda dan sesekali mencubit hidungnya, serta menyelipkan anak rambut wanitanya yang tersapu angin ke belakang telinga.


"Diaz, ada Fatimah loh, yang merhatiin kita," ucap Quen dengan nada khasnya yang terkesan manja dan menggoda.


"Kenapa memang kalau ada dia? Asal kita tidak melakukan hal yang serupa saja seperti di apartemen."


Quen tersenyum gemas lalu mencubit perut Diaz.


Entah sejak kapan tahu-tahu Fatimah sudah berdiri di sebelah mereka saja sambil berkata, "Kak. Aku harus segera kembali ke rumah sebelum Maghrib. Aku ada setoran hapalan ini."


Queen menyembunyikan senyumnya saat melihat Diaz gelagapan.


"Baik, ayok, pamit sama kak Al, kakek dan yang lain di dalam, yuk!


"Tapi kamu nanti balik kemari lagi, kan Diaz?" tanya kakek pada kesayangannya setelah Al.


"Insyaallah, iya kek." Jawab Diaz dengan menunduk sopan.


Sepanjang perjalanan tidak ada hentinya Fatimah nyerocos menceramahi kakak ya yang dianggap lepas kendali. Diaz hanya diam saja jadi pendengar yang baik. Membuat gadis belia itu kian kesal.


"Kak, kok diam aja sih? Akutuh cuma mo ingetin jangan los gitu toh sama kak Quen kalian belum tentu jadi, kan? Tak laporkan umi, nanti ya?" ancamnya.


"Ya laporkan saja toh, biar cepet dinikahin kakak ini," jawab Diaz santai sambil terkekeh.


Fatimah tidak tahu kalau hanya pada Queen saja kakaknya tak bisa menahan nafsunya. Fatimah hanya tahu, ada dia yang bisa saja melapor pada umi danΒ  merekamnya utnuk bukti aja gak takut, apalagi kalau mereka hanya berdua saja? Dan sepertinya kakak dan kakeknya Queen juga membiarkan saja mereka sendirian berdua. Apa karena ada aku?


Fatimah hanya menganggap kakaknya ini benar-benar dimabuk cinta dan takut kebablasan.


Sesampai di rumah, benar saja, Fatimah mengadukan pada uminya. Alhasil Diaz tidak boleh kembali ke Vila. Kecuali, besok pagi. Diaz memang anak yang tidak pernah bisa menolak perintah uminya. Jadi, ia pun nurut saja dan menghubungi Queen. Menggunakan alasan lain agar dia dapat mengerti, meskipun sejauh ini wanita itu selalu pengertian dan tak pernah banyak menuntut padanya.


***


Saat malam hari, Queen duduk di depan api unggun yang mereka buat di halaman belakang vila. Sengaja dia sedikit menjauh dari gerombolan keluarganya. Pandangannya diedarkan ke arah Juna dam Gea. Ia tersenyum seorang diri. 'Andai Diaz ada di sini, pasti dia juga akan melepaskan jaketnya memasangkannya untukku dan memelukku seperti yang dilakukan kak Juna pada Gea,' ucap Quen dalam hati sambil menyembunyikan senyumannya.


Malam ini hanya anak-anak muda saja yang ada di halaman belakang menikmati api unggun, kakek dan Bilqis sudah tidur lebih dulu karena dinginnya udara di Bandung.


Al melihat ke arah api unggun, di sana ada Juna yang asik dengan pacarnya tanpa peduli dengan dua wanita yang sendiri tanpa kekasih. Al tersenyum seorang diri. Melepaskan jaketnya dan memasangkan pelan pada pundak Nayla sambil berbisik di belakangnya, "Dingin banget, ya?"


"Iya, Mas. Padhal dah deket dengan api, lo," timpal wanita itu sambil tersenyum.


"Apakah Bilqis sudah tidur?" tanyanya.


"Iya, sudah tidur. Kamu pakai saja jaketku biar gak kedinginan."


Al melihat ke arah Quen yang meringkuk memeluk lututnya agar tubuhnya tetap hanyat. Meskipun ia mengenakan lengan panjang, tapi, bahan yang digunakan tipis, bahkan ia tidak menggunakan jaket.


Al pun berjalan menghampiri adiknya dan memeluknya dari belakang, menyisipkan wajanya di antara pundak dan rahang Queen dari belakang. Queen tidak memberi reaski apapun saat napas hangat Al meniupi lehernya. Ia juga melihat lengan kakaknya yang telanjang karena ia hanya mengenakan kaus pendek. Sementara jaketnya sudah diberikan pada sang istri.


"Begini apakah sudah hangat, Sayang?" bisikny setengah bercampur desahan. Al kian mengeratkan pelukannya, seolah menyalurkan hawa hangat dari tubuhnya pada Queen.


"Ya, Diaz tidak bisa kembali karena ada urusan," jawab Queen.


"Biar kakak saja yang menghangatkamu malam ini."


Queen menoleh kebelakang saat mendengar kalimat Al yang nampak ambigu. Hanya saja ia pilih diam daripada menanggapi, sebab ia khawatir malah akan merembet kemana-mana. Akhirnya ia pun diam tak menjawab meskipun hanya dengan kata "terimakasih"


Juna yang sedari tadi sengaja pamer kemesraan pada Nayla dan Quen jelas, matanya tak lepas dari dua wanita itu.


Ia berbisik pada Gea, "Sayang, apakah kau lihat itu?"


"Kak Al melepaskan jaketnya untuk dipakai kan pada kak Nayla agar hangat, lalu menghangatkan adiknya dengan pelukannya."


"Menurutmu apakah tidak ada sesuatu diantara mereka berdua?'


"Sesuatu apa emangnya? Kurasa itu wajar, Yang. Dari jaman kuliah kak Al emang sudah sanyang banget sama Queen. Dan Quen juga manja sama kakanya. KurasaΒ  itu wajar dan biasa saja,"Β  jawab kaya


Sayangnya Juna kenal mereka sejak di bangku SMA. Jadi, ia lebih tahu tentang kedekatan mereka, hanya saja akhir-akhir ini ada perubahan pada diri Al ke Queen. Walau dari dulu juga sudah memanjakan dan membiasakan peluk cium kedua pipi saat bertemu dan hendak berpisah tapi rasa sayang terhadap saudara dan sayang yang ditambah dengan rasa cinta itu beda.


Tapi, tidak ada gunanya saja membahas ini. Biarkan semua mengalir. Menurut pandangan Juna, cinta Al terhadap adik angkatnya bertepuk sebelah tangan. Di hati Quen hanya ada Diaz. Sementara Al pada Nayla sudah mati rasa, hanya ada Queen di jaringan tapi, pria itu terlalu naif untuk menyadarinya.


🍁🍁🍁🍁


Kondisi Helena dan Aditua sudah berangsur membaik, bahkan keduanya nanti sudah diizinkan pulang. Meskipun di rawat di rumah sakit yang berbeda.


Tiba di rumah, dengan sangat tidak sabar aditya mengirimi pesan chat pada Helena meskipun Novita ada di sampingnya. Dia berani sebab selama ini istrinya tidak pernah memeriksa ke dalam ponselnya.


Helena meraih ponselnya yang bertenting. Wajah cerianya berubah tatkala mendapati nama Aditya di layar ponselnya.


"Aku sudah keluar dari rumah sakit, nanti kita ketemu di tempat biasa ada yang mau kubahas!"


"Maaf, aku tidak bisa hari ini," balas Helena. Lalu segera meletakan ponselnya saat Alex kembali dengan membawakan segelas air putih untuk meminum obat.


"Siapa yang chat?"


Aneh, tidak biasanya Alex menanyakan tentang hal itu.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa, kok Lex. Hanya teman saja," jawab Helena gelagapan.


Alex pun melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya lalu berkata pada Helena, "Hari ini aku akan pulang agak terlambat. Kamu jangan lupa makan siang, ya?" ujar Alex lalu meraih tasnya untuk segera ke kampus untuk mengajar.


Saat Alex pergi kembali Helena meraih hpnya yang sengaja ia silent tanpa getar. Layar ponselnya berkedip Panggi seluler dari Aditya masuk untuk yang kedua kalinya.


Helena berfikir kalau Alex pasti sudah jauh dan tidak mungkin kembali. Sementara bibi, dia tidak dekat dengannya. Bahkan si bibi yang bekerja di rumah Alex nampak jelas tidak menyukainya.


"Ada apa mengajakku bertemu? Masih kurang puas kamu menyiksaku?" tanya Helena dengan penuh emosi.


"Tidak. Karena kamu memilih untuk mempertahankan bayi itu, ok terserah tapi, jangan cari aku atau kait-kaitkan bayi itu denganku. Tapi, ada yang Ining aku bicarakan dulu mengenai kerjasama kita," ucap Aditya dengan tenang.


"Apa yang ingin kau bicarakan?"


"Temui saja aku nanti jam dua sore, atau kau akan menerima akibatnya jika menolak."


Aditya pun mematikan panggilannya. Sementara Helena mengumpat kasar melampiaskan kekesalannya.


"Baru saja mulai sembuh, dia malah akan berulah lagi."


Karena masih pagi, Helena memutuskan untuk tidur lebih dulu, matanya terasa sangat mengantuk karena efek obat yang baru saja diminumnya.


***


Usai mengajar dan rapat, sekitar pukul satu lewat tiga puluh menit, Alex menerima pesan dari nomor yang sama untuk kesekian kalinya. Siapa pemiliknya sangatlah misterius. Tapi, yang membuatnya tertarik adalah, ia tahu banyak mengenai dirinya.


"Jika benar kau ingin tahu tentang jati dirimu, datang ke tempat ini, tukar mobilmu dengan mobil merah yang sudah disediakan sekarang juga. Dan pergi ke hotel ****"


Begilah isi pesan itu. Alex yang mulanya enggan dan mengabaikan akhirnya, ia berubah pikiran juga. Ia berniat datang ke tempat yang dimaksud.


Dan benar saja, mobil brio merah sudah terparkir di tepi jalan. Kembali, Alex menerima pesan kalau ia cukup menungglkan Kunci mobilnya di dalam, sementara kunci Brio juga ada di dalam sana. Siap ditukar jika kepentingannya untuk mendapatkan informasi sudah dapat.


Tanpa ragu-ragu, Alex keluar dari dalam mobilnya lalu masuk ke dalam mobil brio tersebut dan melajukan mobilnya ke menuju hotel yang di sebutkan dalam pesan dari nomor yang tidak di kenal.


Baru tiga menitan Alex tiba mengawasi suasana hotel, berhenti sebuah taxi agro di depan hotel. Dan turun seorang wanita yang ia kenal lalu dengan terburu-buru masuk ke dalam.


"Helena?" gumamnya lirih.


"Ngapain dia kemari? Dan kenapa dia tidak pamit?"


Karena penasaran Alex pun mencoba menghubungi nomornya.


Ia dapat melihat Helen dengan jelasz berhenti sejenak mengambil ponselnya yang berdering lalu mengangkatnya.


"Halo, Lex, ada apa? Kapan kamu pulang?" tanya nya seolah suaranya dibuat serak khas bangun tidur.


Alex menyeringai tanpa melepaskan pandangan dari wanita berambut pendek warna pirang itu.


"Kamu di mana, sekarang?"


"Aku ada di rumah. Kapan kamu pulang?"


"Nanti malam, maaf ya, janga diri baik-baik. Kamu udah makan siang?"


"Sudah, baru saja. Tapi gak enak makan kalau gak ada kamu, cepet pulang, ya?" jawab Helena.


"Ya sudah, biar cepat kelar dulu ururanku agar tidak kemalaman," jawab Alex lalu mematikan teleponnya.


"Benar saja, bahkan dia saat berbohong pun begitu lancar seperti orang bernapas. Seolah yang dia katakan seperti yang dikerjakannya. Bodoh sekali aku selama ini."


Alex mengubah mode silent pada ponselnya lalu diam-diam membuntutinya.


Tak ada satupun pelayan hotel yang mencegahnya mengendap dan melarang dirinya yang melakukan tindak mencurigakan. Mereka seolah sudah diberitahu untuk melancarkan penyelidikan yang dilakukan Alex. Mereka hanya diam justru malah membantu dengan menunjukkan CCTV di dalam kamar tersebut yang sudah dipasang.


Jelas hal ini sangat memudahkan dirinya. Tapi, tidak mungkin semua terjadi secara kebetulan. Sebab, di mana pun tidak ada hotel yang memasang CCTV di dalam kamar, selain di lobi, tempat parkir, dan administrasi. Lalu, siapa yang mengatur semua ini untuknya?" pikir Alex


Begitu tiba di ruangan tersebut, Alex sadar yang dilihatnya bukan lah CCTV. Melainkan camera tersembunyi, sebab, suara mereka pun jelas.


Ia melihat Helena dengan kesal menatap Aditya dan berkata, "Apa lagi yang mau kau bahas? Atau kamu belum puas sudah menghajarku habis-habisan kemarin?"


Pria yang merupakan kakak iparnya pun hanya terkekeh dan menimpali pertanyaan Helena dengan santai, "Lagipula, siapa suruh bohongi aku? Ditanya jawab aja jujur, tinggal bilang iya kalau itu janin milikku saja susah banget. Apa kau tidak takut, mengaku itu milik Alex dan saat lahir ternyata tidak mirip Alex? Mirip kamu kau masih selamat, bagaimana kalau dia justru malah mirip aku?" Kembali pria itu terkekeh penuh kemenangan.


"Apa maumu?" bentak Helena. Tentu layanan kamu, apa lagi memangnya?"


"Hehm, bahkan setelah apa yang kau lakukan padaku kemarin, tanpa rasa malu kau minta dilayani. Tebal sekali mukamu, Dit."


"Ya kalau kamu tidak mau nggak apa-apa. Ya sudah, kita sama-sama saja masuk penjara. akan kutunjukkan pada Queen dan juga Alex mengenai apa yang kita lakukan. Kita kerjasama untuk mendapatkan keinginan kita masing-masing. Aku menginginkan Queen dan kau menginginkan Alex, kita menggunakan cara kotor dengan menghipnotis Alex agar melupakan semua yang berkaitan dengan Queen setelah sadar dari pingsannya nanti, lalu menjatuhkan diri bersama mobilnya ke dalam jurang tersebut. Bagaimana? Apakah kau siap?" ancam Aditya.


Akhirnya mau tak mau Helena pun menyetujui permintaan gila dari Aditya untuk yang kesekian kalinya.


Alex shock melihatnya. Jadi, selama ini Queen dan juga orangtuanya tidak pernah membohongi dia justru yang dia percayalah yang berbohong. Ia baru sadar kalau ternyata Helena sangat licik.


Alex pun meminta rekaman tersebut dikirim ke ponselnya. Dan orang itu pun menyetujui begitu saja. Dengan barang bukti itu, Alex pun meninggalkan hotel dan pergi untuk menenangkan diri ia berusaha menghubungi Queen tapi wanita itu sepertinya sibuk dia tidak mengangkat panggilannya. Akhirnya, Alex berniat menyusul Quen ke tempat kerjanya.


baru Nemu foto yang sesuai bayangan Helena. cantik ya? cocok, gak?



dan Helana sama Queen castnya Quen di Dumai ternyata teman dekat. sumpah author gak tau sebelumnya dan surprise banget saat melihat ini

__ADS_1



__ADS_2