Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 47


__ADS_3

Quen mengeluh kesal meilhat Hanifah yang nampak caper pada Al dan sksd pada suaminya. Ok lah pada Al tidak apa-apa. Kita saudara, dan saat kecil sebelum dia bersekolah atau, saat liburan panjang datang tentunya sering sekali tante Eren mengajak ke Indonesia dalam waktu lama, dan menginap di tenpatnya selama tiga sampai lima hari.


Quen dan Hanifah kecil tidak berebut mainan, tapi, saling berlomba mendapatkan perhatian Al. Saat itu Quen berusia sembilan tahun. Sedangkan Hanifah berusiha tujuh tahun.


Flash back***


"Han, kau menempati tempat duduk, ku," teriak Quen dengan wajah cemberut dan bibirnya monyong hampir lima meter.


"Apa sih? Kan kak Quen bisa duduk di sana," jawab Hanifah menunjuk ke ke kursi sebelah Clara.


"Gak, aku pokoknya di sini!" ucap Quen bersikukuh akan menarik kursi yang di duduki Hanifah. Yang dua tahun lebih muda darinya. "Hey, mana bisa aku duduk di sana? Sedangkan untuk suapan pertama aku akan memberikannya kepada papaku. Apakah kau tidak melakukan hal itu pada papamu?" ucao Quen menatap tajam pada Hanifah.


"Ya sudah, kamu geser saja dengan kakek Andreas, biar kamu bisa di dekat Papamu," jawan Hanifah, tidak peduli.


"Tapi, suapan kedua aku berikan pada kakakku!" teriak Quen makin kencang.


"Quen, kakak bisa lewat belakang Hanifah untuk menrima suapan darimu setelah papa, gimana?" ucap Al meberi ide.


"Hanifah, kamu pindah sini sebelah papa dan mama," ucap Eren membujuk putri kecilnya.


"Aku mau di dekat kak Al, lagian kenapa sih, kok cuma kak Quen ya g punya kakak, Hanifah kok tidak?" keluh gadis berambut hitam dan lebat itu. Membuat siapapun pasyi i a saat mendengarnya.


"Quen, kamu ngalah dulu ya sama Hanifah, kan Hanifah gak tiap hari ke sini, kan?" bujuk Clara perlahan.


Kedua gadis cilik itu nampak ya sama-sama kuat pendiriannya. Hanifah tidak mau beranjak dari tempatnya, sedangkan Quen masih menggoyang goyangkan kursi yang di duduki Hanifah agar dia pergi berpindah. Nasehat dari para orang tua mereka tak satupun di gubris.


"Quen, aku hanpir jatoh!" pekik Hanifah kaget saat Quen menarik kursinya agak keras.


"Kau pergi! Ini kursiku. Aku biasa duduk di sini!" ucap Quen.


Sayang, Duduk dipangku papa. Ya?" ucap Vano perlahan sambil memegang kedua bahu Quen.


Gadis itu tidak menjawab malah menarik lebih keras kursi yang diduduki Hanifah hingga benar-benar terjungkal. Lalu Quen pun berlari menuju kamarnya.


Semua yang ada di ruang makan terkejut berlari memberi pertolongan kepada Hanifah.


"Ya ampuu... Ren, sory, ya. Maafin Quen anakku!" ucap Clara merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Ra, biar Hanifah kami yang urus. Sekarang kau dan Vano bujuk Quen, jangan dimarahi, Ok. Cukup ajak bicara dan nasehatin perlahan." ucap Eren dengan sabar dan sambil tersenyum.


"Mana yang sakit sayang?" ucap Eren sambil menggosok belakang kepala putrinya dan tetus berusaha menenangkan.


:Acara makan malam jadi berantakan cuma gara-gara dia gadis cilik yang berebut kakak tampan nih, judulnya," ucap Hans sambil menggaruk tengkuknya tertawa canggung.


"Mungkin gitu bro kalau punya bini lebih dari satu. Horor," tambah Vano lagi dan keduanya sama-sama tertawa.


"Hey, para ayah, bantu istri-istri kalian buat urus anaknya. Malah ngomongin istri dua lagi," terial Al para anak menantu dan ponakannya.


"Baik, Ma."


"Iya, Tante."


Ucap keduanya hampir bersamaan. Hans menghampiri Erem yang sibuk menenangkan Hanifah sementara Vano menyusul Clara yang masih ada di depan pintu kamar Quen.


"Hanifah, jangan nangis lagi, ya? Ini aku kasih coklat karaktet!" Al mengeluarkan sebuah coklat dari saku kemeja yang ia kenakan.


Sebuah coklat berbentuk mickey ia sodorkan pada Hanifah yang sudah lima menitan tak kunjung diam.


Hanifah yang sedari tadi melipat lutut dan menyembunyikan wajahnya menunduk sambul memeluk kedua kakinya, ia mendongak ke arah Al. Sebuah senyuam merekah di bibir gadis kecil itu seraya berucap, " Terimakasih, Kak Al. Kakak memang baik." Gadis itu tak sungakm-sungkan menerima Cokelat pemberian Al.


"Ya sudah, duduk yang benar, ya? jangan nangis lagi, ayo kita makan malam," ajak Al dan memposisikan Hanifah di sebelah kananya. Melihat Hanifah sudah tenang, Al melihat papa mamanya masih mengetuki pintu kamar Quen.


Akhirnya ia pun berinisiatif untuk membujuk adiknya yang satu itu.


"Pah, Ma. kalian turun saja dulu, biar Quen Al saja yang bujuk dia."


Clara dan Vano saling pandang dan mengangguk satu sama lain.


"Ya sudah, kalau gitu kami turun dulu. kau segera ajak adikmu makan bersama. ya?" ucap Clara sambil menepuk kedua pundak putranya.


Begitupun dengan Vano ia tersenyum dam mengacak rambut Al dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Setelah memastikan papa mamanya turun, Al mengetuk perkahan pintu kamar Quen dan berusaha membuka ganggang pintu itu meski ia tahu kalau pintunya terkuci dari dalam. Dengan pelan tapi terdengar dadi dalam Al memanggil nama adiknya berulang-ulang.


"Quen, ini kakak. Buka pintunya, ya?" ucap Al sambil terus mengetuk pelan.


Benar saja, begitu mendengar suara kakaknya terdengar suara kunci lalu, Quen mebuka sedikit pintunya.


Al melangkah, berdiri di depan Quen dan menyeka air mata adiknya. "Kenapa harus menangis? kan Hanifah ya g jatuh?" Ledek Al sambil tertawa.


"Habis, Hanifah mau mengambilmu dariku," rengek Quen manja.


Al terseny dan membungkuk memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang.


"Sudah cukup, jangan menangis, ya?  Yuk kita ke bawah, kasian mereka menunggumu untuk makan malam." Bujuk Al.


"Tapi, aku mau duduk di tempatku,"


"Iya, kau berada di antara kakak dan papa, ok?"


Quen pun tersenyum melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya dan beranjak turun bersama Al.


Comeback***


"Alex, kalau tidak salah kamu pacar Quen saat SMA, ya?" tanya Hanifah dengan gaya sok akrabnya.


"Ya, bagaimana kau bisa tahu?" jawab Alex balik bertanya.


"Quen pernah bercerita. tapi, katanya kalian putus gitu," ucap Hanifah lagi tiada hentinya.


"Iya, kami saat itu putus pacaran, tapi, juga memutuskan untuk menjadi suami istri saja, kan sayang?" Alex merangkul pundak Quen dari belakang dan mencium kilat pipi sebelah kanannya tanpa risih meski berada di tengah-tengah keluarga besar sang istri.


Saat Hanifah menanyakan soal mantan, ia baru sadar kalau pertanyaannya semalam Alex belum sempat menjawab dan memberinya penjelasan apapun mengenai ini.


"Hanifah, kau terbiasa makan sambil berbicara, ya? Tidakkah kau takut tersedak?" ucap Quen dengan tajam.


Sontak saja, Al, kedua orang tuanya juga kedua orang tua Hanifah tertawa. Meski dua gadis itu kini sudah sama-sama dewasa kelakuan tak akurnya masih saja sama seperti saat anak-anak dulu. Yang satu suka menggoda, satunya lagi bermulut pedas.


Bahkan mereka sepakat kalau Quen dan Hanifah karakternya sama-sama nurun ke mama masing-masing. Dulu, Clara pernah marahan dan sampai menampar Eren karena cemburu sebab dia kecentilan di depan Vano.


Quen hanya diam tidak mau berdebat. Tapi jujur, kalau bukan karena menghormati om dan tantenya, pasti saat ini, detik ini juga. Gadis itu sudah pergi meninggalkan meja makan.


Bagi Quen, Alex adalah suaminya, boleh saja wanita lain berteman dekat, tapi jangan centil. Kalau gak kenal jangan SKSD. Dan Al, dia hanya kakak miliknya seorang. Tak ada satupun makhluk yang boleh dekat atau anggap Al sebagai kakaknya. Tidak boleh. Tolong digaris bawahi.


"Om, Tante katanya mau balik dan menetap di Indo, ya?" tanya Quen pada Hans dan Eren.


"Ya, rencana sih begitu...Tapi, Hanifah tidak mau pindah kuliah, dan gak mau ditinggal, tuh," jawab Eren.


"Enak di mana sih, Tante tinggal di Indo sama di Luar Negeri?"


"Sama aja, karna tante orang Indo, ya lebih suka di Negara sendiri dekat sengan saudara. Tapi, tergantung kita nyikapin, sih."


"Iya juga, ya, kak Al di Jepang juga betah tuh, gak pulang-pulang apalagi dah ada anak bini di sana, hahaha."


"Quen pernah jalan-jalan ke negara mana saja menangnya?" timpal Hans ikutan nimbrung.


"Katrok dia itu Pa, cucu pemilik perusahaan matrial dan garmen terbesar di Indonesia dan Cucunya pemilik pembisnis pesawat jet satu-satunya di Jepang malaysia aja dia paling tidak tahu," ucap Hanifah menggoda Quen.


"Heh, Nona. Kau syirik, ya? Aku gini aja dah bahagia gak perlu pengakuan status sosial dari dunia maya, gak kaya kamu, bahagianya saat dipuji, kan? Cantik tapi jomblo aja, dih gak laku!" teriak Quen.


"Sayang, ngomong yang baik, ya? Bulan depan mamaku ulang tahun, kita ke sana, ya? Mamaku tinggal di Canada," bisik Alex dengan lembut.


"Tuh, suaminya baik, pengertian, syukuri, Quen. Jangan marah-marah mulu."


"Eh, kamu yang bikin aku emosi, kampret!"


"Udaaa udaaah. Ok stop. Dari tadi eyke makan ga enak banget gak nikmat gara-gara yeey semua. Eren, Lala, anak kalian kok bagai tom ann jerry gitcu, sih? Heran deh, madam." Ucap Erwin setelah menghabiskan satu porsi sup iga. Sepotong paha ayam, satu mangkuk sup cream dan juga seporsi stik sapi.


"Astaga, bahkan kau bisa bicara tidak enak makan setelah makan segitu banyak, Win?" ucap Eren sambil menepuk jidatnya.


"Gimana enak jika ada dua gadis berantem gini, kan? Yes... Adanya gak khusyuk pas makan, Ren. Masak kau gak tau? Ih rempong!"


"Maaf, aku udah kenyang, aku akan istirahat dulu," ucap Quen. Menggeser kursinya kebelakang lalu pergi menuju tangga.

__ADS_1


Alex memperhatikan istrinya yang nampak dalam mood buruk, sepertinya hubungan dia dan saudara sepupunya itu tidak begitu baik, karena memiliki selera yang sama dalam banyak hal. Entah, sama atau memang Hanifah saja yang memang jail.


"Ma, Pa. Kakek, Nenek dan semua, saya susul Quen dulu," ucap Alex berpamitan.


Alex menarik ganggang pintu dengan perlahan dan membukanya. Terlihat olehnya Quen yang tengah berdiri dindepan jendala memandangi lampu kota metropolitan di malam hari.


"Sayang," sapa Alex perlahan dan sedikit ragu.


Tanpa Alex duga, gadis itu berputar membalikan tubuhnya dan memberikan senyuman terbaik untuknya.


"Kami dari dulu memang begini, dulu, dia selalu ingin mengambil kak Al dariku, sekarang dia berusaha dekati kamu. Mana boleh aku membiarkan milikku diambil orang?" Quen melangkah hingga dekat dengan Alex. Dan meletakan kedua tangannya di kedua bahu Alex.


"Apakah selera kalian sama?" Alex meraih tangan kanan Quen. Diletakan pada pipi kirinya lalu. Mencium telapak tangan itu.


"Entahlah, kurasa dia memang ingin berada pada posisiku saja. Apakah Hanifah sangat cantik?"


"Tidak." Mata Alex menatap tajam pada mata Quen.


"Kau bohong!"


"Bagaimana jika aku jujur? Asal jangan bandingkan dia dengan madam yang ada di meja makan, ya tidak akan pernah bisa secantik kamu, kau natural, kalau dia terlalu banyak polesan. Aku tidak suka."


Quen tersipu malu mendengar ucapan Alex. Dia menunduk tak berani menatap wajah yang rupawan itu.


"Aku baru tahu, kalau ternyata istriku ini rasa cemburunya besar, artinya kau benar-benar cinta sama aku. Kan?" Alex selangkah lagi lebih delay, meraih dagu Quen dan ditariknya ke atas hingga tatapan mereka bertemu. Lalu, ia mendaratkan sebuah kecupan pada bibir gadis itu.


"Alex, kau berhutang penjelasan padaku! Bahkan aku baru tahu kemarin kalau kak Novi itu kakak kandungmu, pantas saja saat dia menemuiku aku merasa tidak asing melihat wajahnya."


"Hah, dia menemuimu beneran?" tanya Alex terkejut.


Quen mengangguk pelan dua kali. "Saat itu seminggu sebelum aku menikah, tanpa sengaja dia melihat kami saat makan siang di senbuah cafe lalu menguntit dan datang kemari begitu Aditya pergi."


"Dia suami kakak iparmu, jangan panggil cm nama, dengan suaramu yang begitu, terdengar mesra tau," ucap Alex berlagak marah dan cemburu.


Quen tersenyum, lalu meraih pipi Alex dengan kedua tangannya dan saling menempelkan hidung. Tapi, gadis itu mencium pipi laki-laki itu," I love you Alex, iam just love you, no other."


"Iam belive you." Alex tersenyum lembut sambil menatap lembut ke arah Quen.


"Alex, kau punya hutang penjelasan padaku, bagaimana bisa kau tiba-tiba muncul di pernikahanku dan menggantikan Aditya saat aku membatalkannya?"


"Oh, itu, ya?" Alex menggaruk tengkuknya. Ia berfikit apakah harus mengatakan dengan jujur kalau itu permintaan Al? Bisa-bisa dia dibunuh kalau sampai Quen memprotesnya.


"Iya, kenapa? Kau diam saja dari kemarin, ayo jawab!" Seru Quen tidak sabar.


"Ehm, bagaimana ya? Kalau aku merasa kalau kau memang sudah ragu dengan Aditya tak ingin meneruskannya bagaimana?"


"Ya sudah, terus, bagaimana kau seyakin itu?"


"Aku merasa kalau kau adalah jodoku, jadi, kau hanya akan menikah denganku. Jadi, aku datang di pernikahanmu. Dan benar, kan? Feelingku kuat."


"Tidak mungkin, kau pasti bohong, cepat katakan atau kau akan puasa selama sebulan!" cetus Quen.


"Ok, baiklah, sekarang kita duduk dulu, kamu dengerin aku, ya? Aku akan beri tahu semua yang aku tahu dengan jujur, ok?" Alex menarik lengan Quen mengajak duduk di tepi ranjang.


"Jadi, saat itu kakakku Novi dia dicampakan oleh suaminya yang seorang pilot muda itu, sejak saat itu kakakku sadar betapa bodohnya dia menyia-nyiakan lelaki yang setia dan cinta dia apa adanya. Dia menyesal setengah mati bahkan hampir gila. dia meminta Aditya untuk kembali padanya tapi, Aditya menolak karena sudah akan menikah denganmu. hanya saja kakakku merasa kalau cinta laki-laki itu masih ada dan tetap untuh untuknya. hanya saja dia tidak mau menghancurkan hati yang sudah dia bangun cinta di sana. Tapi, besamaan dengan itu kak Juna menemuiku dan membahas soal pernikahanmu. bahkan dia juga tanya perasaanku terhadapmu, persetan dengan itu, asal kau bahagia, Aditya mencintaimu Axel menerimamu, biarlaku sakit sendiri tak masalah. kau dulu pergi juga karna kesalahanku, kan?" ucap Alex panjang lebar.


"Tunggu! jadi selama ini kau masih sayang aku, Lex?" tanya Quen terkejut dan dijawab anggukan kepala oleh Alex.


"Kenapa kau tidak mengatakan dari dulu? Kau tahu awal kau mendekatiku di smester pertama masuk, Aditya pernah melamarku aku tolak, karena aku menunggu kau menyatakan kembali cintamu, tapi, aku salah. kau justru menghilang setelah gila-gilaan memberiku sejuta perhatian. Aku juga sakit saat itu, tau. kau kemana dan apa maksutmu?" tanya Quen sambil memukul dada bidang Alex.


Alex lagi-lagi hanya tersenyum memegang erat tangan Quen dan menempelkannya tepat di mana bisa dirasakan jantung itu berdetak.


"Kau mau tahu aku kemana? Saat kita pulang dari gym kan ketemu Adit di bawah apartemenmu, saat itu dia menghadang mobillu dan meminta aku mundur. awalnya aku menolak dan menantang dia untuk bersaing secara sehat tidak dengan cara banci seperti yang dia lakuka. tapi aku kalah ketika dia berkata kalau kau mencintainya dan Axel menerimamu sebagai ibu sambungnya. Di dunia ini hanya kau yang aku cintai, melihatmu bahagia pun sudah cukup meski aku harus sakit. Dan untuk Axel dia keponakanku satu-satunya. Aku merasa iba dengannya saat ditinggal mamanya dia sampai sakit-sakitan seperti itu. karena aku tidak bisa memberi apa-apa, jadi aku mundur saja. dan Soal nikahan itu, Kak juja disuruh kak Al. dan semua ini sudah dia rencanakan dia sudah menebak kau akan batalkan pernikahanmu."


Quen bergeming dan membeku mendengar penjelasan Alex mengenai Al. entah dianharus bahagia atau sedih atau menangis. benar saja dia memang kakak yang baik dan memikirkan adiknya.


"Quen, kenapa kau diam?" tanya Alex mulai khawatir.


"Benar, kan. Kak Al memang terbaik, kau tahu itu? tanpa membahas dirimu saja dia tahu kalau aku masih mencintaimu. tanpa bercetita pum dia tahu Aditya hanyalah pelampiasan karna kau pergi waktu itu."


Alex diam sesaat, wajar saja Quen sangat benci dengan Hanifah yang manja pada Al dan ingin menjadi adiknya pula, terus, jika saja Quen tahu kalau diam-diam Hanifah sedikit menggodanya cemburu, gak ya?"

__ADS_1


__ADS_2