
Tadi, Juna datang kemari bersama Vico, katanya kamu ada
masalah di kantor, ya?”
Queen menundukan pandangannya, ia tak langsung menjawab
pertanyaan kakeknya. Sebab, apapun itu kakek tidak akan menerimanya, dan selalu
menyalahkan dirinya, kenapa harus keluar dari ruangan Al. Apapun jabatannya,
dia adalah putri pendiri dan owner sah.
“Itu terjadi karena kamu masuk ke ruang staff dan terjadilah
permasalahan dengan Iren, kan?”
“Heeembbb!” Queen menghembuskan napas panjang, dan membatin,
‘Sudah kuduga.’
“Mulai besok, kembalilah bekerja satu ruangan dengan kakakmu
lagi, ya” usul Andrean.
‘’Kek, aku ke kantor itu untuk apa, sih?” tanya Queen dengan
nada mengeluh.
“Tentu saja untuk membantu kakakmu menghandle perusahaan,
Queen. Kok masih tanya?”
Memang harus ke kantor, ya? Toh peran ku di sana tidaklah
begitu penting. Aku tidak pernah keberatan bantu kakak, Kek. Asal bisa
mengerjakannya di rumah saja, lagian aku juga keluar masuk perusahaan sebisaku,
kan? Jika aku mengerjakannya di rumah, aku bisa lah sambil menemani kakek di
sini biar tidak kesepian.”
“Tidak perlu, kau harus tetap di perusahaan agar mereka tahu
kamu juga bagian dari perusahaan. Kalau pun tidak di kenal sebagai adiknya Al,
minimal di akui karyawati kantor itu.”
“Bailah,” jawab wanita itu sambil menunduk.
“Kamu sudah bertemu dengan Hanifah, Queen?”
Ketika kakeknya menyebut nama saudarinya itu tiba-tiba saja
hati Queen trasa bedesir dan berdebar. Sepertinya ini yang ia takutkan untuk
bertemu kakeknya. Sebagai wanita yang mencintai pasangannya ia pun sebenarnya
juga cukup peka, Ia juga tahu kalau selama ini diam-diam Hanifah ada rasa dengan Diaz. Tapi, Queen... dia, bukan karena apa, ia tidak mau rebut dan ingin mempertahan-kan pria baik hati itu. Sebab, hanya dia satu-satunya pria yang
mengerti dirinya, menerima kekurangannya, tanpa melecehkan meskipun tahu dengan
jelas dia adalah seorang janda.
Queen hanya mengelengkan kepalanya saja, sambil memberitahu kakeknya kalau nomor Diaz pun dari
kemarin malam juga tak aktif, tidak hanya nomor, tapi semua akun social mediaya juga off.
“Kamu merasa ada yang aneh tidak dengan Hnifah kemarin
malam? Kenapa tiba-tiba ia menangis dan pergi begitiu sja?”
“Kenapa kakek nanyanya sama aku?” wanita itu balik bertanya, karena tidak mau terjebak dalam percakapan yang akhirnya nanti, sebagai saudara ya g lebih tua ia harus mengalah pada Hanifah. Sebab, dia yang lebih dulu mencintai Diaz.
“Tidak apa-apa, kamu segeralah
istirahat, agar tidak terlalu capek!” seru Andrean.
🍁🍁🍁🍁🍁
Dengan langkah sempoyongan dan terhuyung Al berjalan keluar
dari garasi. Badannya terasa berat dan kepalanya pusing akibat kebanyakan
minum. Berkali-kali ia beruasa memasukan
anak kunci ke dalam lubang untuk membuka pintu, selalu gagal. Anak kunci itu selalu saja jatuh.
Al merasa kesal, sudah ketiga kalinya ia gagal. Untuk
menduduk saja rasanya kepalanya kian sakit, dan bola matanya terasa seperti mau
keluar saja dari tempatnya. Tapi, bukan Al namanya jika menyerah seblum
berhasil. Baru yang kelima, ia bersal membuka pintu ruang utama. Tapi, dia yang
masih sangat mabuk, membiarkan pagar dan pintu rumahnya tetap terbuka begitu
saja, untung ini sudah pukul empat tiga puluh dini hari, Artinya Bik Yul
sebenarnya sudah bangun, tapi belum mulai bekerja. Untuk membuka pintu dan
pagar saja Al memakan waktu hampir satu jam.
Karena sudah tak tahan dengan sakit di kepalanya Al rasanya
tak mampu untuk berjalan ke kamar, sekalipun itu kamar tamu. Jadi, pria itu
memutuskan untuk rebahan dan tidur di sofa ruang tamu saja.
Tepat pukul lima usai menunaikan ibadah sholat subuh, Bik
yul keluar dari kamar untuk mulai bekerja, wanita paruh baya itu di kejutkan
oleh Al yang tidur di sofa dan pintu ruang utama yang dibiarkan terbuka lebar.
Bik Yul sangat panik dan berusaha meneliti barang dan benda
berharga yang terpajang di ruang tamu dan sekitarnya takut ada yang hilang.
Karena ketika ia akan menutup pintu ruang utama, pagar pun juga terbuka lebar.
“Masyaallah… Ini kok semuanya terbuka, dan den Al tadi jam
berapa datangnya? Ada maling masuk apa gak ini?” gumam wanita itu seorang diri sambil
melihat satu persatu pajangan yang ada di lemari hias ruang tamu. Tapi,
sepertinya semua utuh dan lengkap.
Buru-buru bibi menutup pagar dan menguncinya kembali dan
berusaha membangunkan Al agar pindah kamar.
“Den, Al, bangun Den, kok tidur di sini?” panggilnya agak
panik, antara takut ketahuan Andrean, dan ingin cepat-cepat menyiapkan sarapan.
“Aduh, Deeen, bangun napa, Den! Keburu tuan bangun dan liat
__ADS_1
Aden di sini apalagi mabuk begitu, bisa marah besar nanti,” ucap bibi kian
panik saja.
Tapi, upaya bibi kali ini gagal dan sia-sia saja. Sebab, Al
tidak mau bangun dan Andrean sudah berada di ambang pintu kamarnya.
“Kenpa Al tidur di situ, Bi?”
“Waduh, mateng aku… Tuan uda bangun bakal kena semprot ini.
Tapi, gak apa-apa, untung pagar dan pintu rumah sudah terkunci. Paling cuma di marahin karena mabuk aja. Maaf ya den, bibi ga bisa bantu lagi.” Wanita itu pun
berdiri dari jongkok dan menundukkan kepala.
“Jam berapa dia pulang, Bi?’’ tanya kakek Andrean dengan
suara keras dan tegasnya.
“Saya benar-benar tidak tahu Tuan, tau-tau sudah ada di sini
saja den Al saya bermaksut membangunkan agar berpindah di kamtr tapi, tidak
bangun juga,” jawab bibi, jujur.
“Ya sudah, Bi. Silahkan Bibi kerja saja, biar Al saya yang
bangunkan,” ucap Andrean
Dengan menggunakan kursi rodanya, Andrean mendekat ke arah
Al. Diguncang nya tubuh cucunya itu sambil dipanggil-panggil namanya. Tapi, ia
tak kunjung bangun juga. Sampai akhirnya Queen sudah bangun dan turun dari
tangga Al masih saja tidur.
“Queen, tolong ambilkan air satu gayung untuk bangunun
kakakmu,” ucap Andrean saat melihat cucu perempuannya bangun.
“Iya, Kek.” Queen yang semula enggan dan tak mau tahu, jadi
ikut campur urusan Al deh. Lagian, kenapa sih kakak tu gak ada kapok-kapoknya.
Gerutu wanita itu dalam hati.
Tiba di dapur, tiba-tiba saja muncul ide jail Queen.
Itung-itung buat kasih pelajaran. Dengan cepat ia mengambil gayung besar
mengisinya dengan air dari dalam kulkas dan masih di tambah dengan bebrapa biji
kotak kecil es batu yang memang tersedia di dalam freezer.
Sambil menahan tawa, wanita itu berjalan cepat setengah
berlari menuju ke arah kakeknya.
“Ini, Kek, mau disiram ke muka kak Al, ya?” tanya nya
semangat.
“Ya. Siramkan saja!” seru Andrean.
‘Aku tak perlu meminta maaf saat melakukan dan tak usah
merasa bersalah, ini kamu dulu yang memulai, kak. Anggap saja ini caraku
memaafkannmu,’ batin Queen, dan tanpa ragu langsung menyiram wajah kakaknya
sampai air yang isinya kira-kira dua liter itu habis tak tersisa.
terkejut oleh rasa dingin di wajah dan badannya ia meneriaki nama Queen.
“Queen, awas hati-hati!” teriaknya sambil spontan duduk.
Qeuun menjatuhkan gayung itu di atas lantai. Ia merasa
bersalah, menyesal dan terkejut. Ingin sekali ia pergi dan berlari dari situ menghindari
tatapan mata Al yang penuh dengan rasa
khawatir dan panik itu. Tapi, kakinya terasa kaku dan berat untuk melangkah. Ia
pun hanya terpaku di tempatnya berdiri. Pandangan mata keduanya saling bertemu.
Tanpa diduga-duga. Al bangkit dan memeluk Quen dengan
tubuhnya basah dan dingin sehingga tubuh wanita itu pun ikut basah.
“Kamu tidak apa-apa, kan? Jam berapa semalam kamu tiba dari rumah sakit?” ucap Al lirih.
Tidak ada Jawaban dari Quen. Wanita itu tetap diam.
“Eheem. Kamu mabuk lagi, Al?” tanya kakek Andrean
menyadarkan keduanya kalau masih ada dia di situ.
Dengan cepat Queen mendorong tubuh kakaknya menjauh darinya.
Lalu, ia pun pergi ke dapur untuk mengambil air putih hangat untuk diminum. Wanita itu tidak mau tahu bagaiman kakeknya
memarahi kakaknya itu.
Ia duduk di ruang tengah sambil menonton tv.
‘’Queen, hari ini kamu piket malam, kan? Ikut kakak ke
kantor, kamu yang menyupir. Dan kembalilah bekerja satu ruangan dengan
kakakmu.’’ Tiba-tiba saja kakek Andrean muncul dari belakangnya dan masih bersikukuh agar dia kembali bekerja dan satu ruangan dengan kakaknya.
Queen mendesah kesal sambil memutar bola mtanya, hmmm tahu
saja sih kakek ini dengan jadwalku. Apakah dia meletakan pelacak di tubuhku
sehingga dapat mendengar apapunyang aku bicarakan dan orang katakana di
dekatku? Batin wanita itu.
‘’Baik, Kek.’’ Dengan malas ia pun kembali naik ke kamarnya
untuk mandi dan bersiap-siap ke kantor. Usai mandi dan semua sudah beres, ia
melihat Al masih tidur di kamar tamu dengan posisi telungkup. Kebetulan, di
saat yang tepat Nayla melintas di depannya, Queen pun memanggil dan memintanya
untuk mengurusi suaminya.
“Kak, Nay, ini sudah jam enam lebih dan kak Al belum
siap-siap. Hari ini ada miting dia, tolong bantu dia.” Queen pun langsung pergi
setelah menyampaikan apa yang perlu di sampaikan pada kaka iparnya.
“Baik, Queen,” jawab Nayla singkat. Lalu wanita itu pun
__ADS_1
masuk ke dalam kamar, membangunkan Al dengan pelan dan memintanya agar mandi.
Mengetahui yang masuk ke dalam kamarnya adalah Nayla bukan
Queen, Al pun dengan segera bangun dan keluar menuju ke kamarnya untuk segera
mandi. Duapuluhlima menit kemudian Al sudah siap dan berkumpul bersama untuk
sarapan. Tidak ada obrolan dari satupun diantara mereka, Queen yang biasanya
ceria juga lebih banyak diam karena suasana hatinya tidak enak dengan siapapun.
Pada kakek Andrean yang biasanya dia tidak bisa marah ini juga sediki dongkol
karena masalah semalam.
Aku sudah sarapannya, kutunggu di mobil.” Queen pun meraih
tas kerjanya dan berjalan meninggalkan meja makan.
Al hanya melihat adiknya yang melintas di sebelahnya, wanita
itu tampak masih marah dan belum bisa memaafkan kesalahannya.
“Cepat sedikit makannya Al. Biar adikmu yang mengemudikan
mobilnya, kau pasti masih pusing,” tukas kakek Andrean.
“Mama, apakah papa sakit?” tanya Bilqis dengan sangat polos,
rupanya diam-diam gadis cilik itu juga mengamati papanya sejak tadi.
“Iya, Sayang papa Cuma sedikit pusing saja nanti juga sampai
kantor dia baikan, dia Cuma kurang istirahat,” jawab Nayla.
“Kenapa tidak istirahat dulu, Pa?” Dengan mata lebarnya
bocah itu menatap Al penuh rasa kekawatiran.
“Papa kan pemimpin sayang, jadi gak boleh manja harus
disiplin,’’ jawab Al sambil mengusap kepala anak itu.
“Urusan Iren bagaimana Al?” tanya kakek Andrean saat melihat
cucunya hendak meninggalkan meja makan.
“Sudah dipecat, Kek.: Al pun bergegas pergi, bahkan
dengan sedikit berlari takut Queen makin
cemberut saja karena menunggunya terlalu lama.
Benar saja, saat ia tiba Queen kelihatan banget kalau
hatinya merasa dongkol. Baru saja Al duduk belum memakai sabuk pengaman, wanita
itu sudah main gas aja, Al terbelalak kaget melihat Queen yang seperti ini.
Sebab, selama ini dia terkesan selalu kalem dalam situasi apapun, kenapa bisa
sekasar ini?
Barulah ketika tiba di jalan raya kendaraan melaju dengan
pelan karena macet, walaupun tidak macet parah, ini lebih baik dari pada macet
parah wanita itu pasti sudah akan menggerutu habis-habisan.
“Makasih uda nyiram es batu tadi pagi, ya? Aku jadi bisa
bangun berkat kamu.”
Tanpa Queen duga, Al malah mengucapkan kalimat itu, ia
bingung harus menjawab apa. Meski sejujurnya dia masih belum bisa memaafkan
kakaknya, tapi jauh di dalam hatinya ia pun juga merasa kasian dan menyesal
sudah melakukan itu. Mana masih pagi-pagi buta lagi.
Queen diam, bukan karena tak mau menjawab, tapi dalam
hatinya tengah berperang ia bingung harus menjawab apa pada kakaknya. Ia
kawatir jika dia sudah memaafkannya nanti malah terulang lagi atau malah
ngelunjak lagi. ‘Dia beristri kenapa masih bisa begitu? Apakah dia tak pernah
lagi melakukannya dengan kak Nay?’ batin Queen.
“Lagian kakak kan punya istri.”
“Sejak pulang darinjepang aku sudah tak lagi menyentuhnya,
Queen. Aku tidak bisa,” jawab Al jujur, namun tidak menjelaskan alasannya.
Queen tertawa miring dan menatap sinis pada Al yang duduk di
sampingnya, ia tidak mempercayai hal itu. “Btah, ya suami istri yang sudah lama
menikah Cuma kaya pacaran doing? Lalu, bagaimana banyak tanda merah di leher
kak Nay setiap kau pulang malam?”
Al tertawa lirih, menertawai dirinya sendiri. Ia sudah menduga kalau Queen tak akan mempercayai hal
itu. Makanya ia tak buru-buru menceraikan Nayla dulu.
Sepanjang perjalanan, Queen terus memandan lurus ke depan,
mekipun tidak sepenuhnya dia focus mengemudi, ia sengaja mendiamkan Al yang ada
di sebelahnya.
Ketika tiba di parkiran kantor pun Queen juga segera turun
dan meninggalkan kakaknya sendiri. Tapi, Al yang memang terlalu banyak akal,
selalu saja bisa mengelabuhi adiknya, ia pura-pura sempoyongan lagi dan seolah
hampir terjatuh di dekat mobi, san
bersandar di sana.
Secara reflek Queen berteriak memanggil nama kakaknya, “Kak
Al!” Wanita itu pun berlari dan menahan tubuh pria yang lebih tinngi dan lebih
besar pula tentunya agar tidak sampai terjatuh. “kakak masih pusing, ya? Jalan
hati-hati, ya,’’ imbuhnya.
Semua mata tertuju pada Queen yang tiba lebih pagi dan dalam
keadaan memapah bos mereka, desas desus dan aroma gosib jelas terasa sangat
tajam Tapi, Queen tidak peduli itu, selama tidak dikatakan menjadi dokter hasil dari jual tubuh, ia tidak akan marah.
__ADS_1
Queen mengantarkan kakaknya masuk ke dalam ruang kerjanya, setelah itu ia kembali masuk ke ruang kerja para staf yang lain. Dia tidak mau menuruti semua kemauan kakeknya, sudah mau datang ke kantor saja sudah bagus. Pikirnya.
#Sekedar kasi tau ya. barangkali suka cerita yang agak horor bin serem. saya Uda crazy up novel berjudul ''Gadis Psycopath" cuman, sama Mimin belom di ACC. dan mulai sekarang insyaallah saya fokus 2 novel. jadi maaf jika di sini gak up tiap hari.