Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
WILL DIE 12


__ADS_3

Al dan Queen saling memandang. Ada banyak pertanyaan yang


ingin wanita itu tanyakan. Tapi, ia harus  menahannya karena masih ada anak-anak bersama


mereka.


“Apakah selama ini kau baik-baik, saja?” tanya Al pada Queen


yang masih berdiri kaku. Ia tahu, istrinya ingin sekali memeluknya. Tapi, mana mungkin ia berpelukan di depan anak-anak. terlebih di situ juga ada Bilqis yang


sudah beranjak dewasa.


“Aku baik-baik, saja. bagaimana denganmu? Kau pasti


kelelahan setelah bekerja keras. Kamu mau makan sama apa? Biar ku ambilkan,” tawar Queen, Ketika Al sudah duduk.


“Apa aja, deh. Di mana bi Yul? Kamu ya yang masak, semuanya?”


tanya Al sambil memandang ke arah istrinya setelah mengedarkan pandangannya ke dapur yang kosong tanpa seorang pun.


“Iya, aku yang masak semuanya. Bibi sekarang sedang ke


pasar.”


Al hanya tersenyum sambil memandang Queen tanpa menjawab


sepatah kata pun.


“Mama, aku sudah selesai makannya,” ucap Adriel. Kemudian,


Berlyn juga mengangkat kedua tangannya sambil memainkan masing-masing jari tangannya.


Mengisaratkan kalau ia pun juga sudah selesai makan.


“Kalian mandi, dan siap-siap, ya? Bilqis. Kamu tolong bantu


adek-adek kamu, ya Sayang. Mama akan membereskan piring kalian,” ucap Queen.


Dengan patuh juga gadis berusia tujuh belas tahun itu mematuhi


perintah Queen. ia berjalan mengikuti Berlyn. Karena, kalau Adriel cukup memakai jas kecil yang kemarin sudah disiapkan juga jadi. Mungkin hanya perlu


menyisisr dan metana rambut saja supaya rapi. Lain halnya dengan Berlyn. Ia


ingin menjanggulnya.


Pandangan Al terus mengikuti Queen yang tengah membersekan


piring Axel, Berlyn, Bilqis dan juga Adriel. Saat Queen pergi ke dapur, Al


meletakkan sendok dan garpunya. Ia mengejar Queen dan memeluknya dari belakang


sambil berbisik, “Maafin aku, ya?”


Queen menghela napas panjang. Ia diam tidak langsung


menjawab. Bukan karena marah. Tapi, sebenarnya ia kaget. Karena tidak mendengar suara langkah kaki, tiba-tiba Al main peluk dari belakang aja. Dengan segera


diletakkannya piring-piring itu dan ia berbalik badan menghadap Al, kemudian mengalungkan kedua lengannya pada leher pria itu.


“Kau kemana saja, sih? Ke luar kota sampai selama itu. dan


tidak biasanya juga kamu sering mematikan nomor telfonmu. Kau pasti kelelahan, lihat, pipimu sedikit tirus,” ucap Queen sambil menatap lekat wajah Al. Sepertinya suaminya juga kehilangan cukup banyak berat badannya.


“Maafin aku, ya?” ucap Al lagi, lalu mencium istrinya.


“Kita berangkat ke kampusnya Axel jam delapan lewat


tigapuluh, kan? Kamu sudah mandi?” tanya Al setelah melepaskan ciumannya.


“Belum. Lalu, kamu?”


“Ya sudah, tinggalkan ini. Kita mandi saja, yuk!” ajak Al.


“Barengan?” tanya Queen sambil sedikit melotot.


“Memangnya kenapa? Kita sudah lama kan, tidak melakukan itu?” ucap Al sambil mengangkat tubuh istrinya, dan membawanya ke dalam kamarnya.


“Aaaaw! Turunkan aku!” seru Queen, berteriak karena


terkejut.


“jangan berisik. Apa kau ingin dilihat oleh anak-anak kita?”


bisik Al penuh dengan penekanan.


“Aku takut, mereka melihat kita,” jawab Queen. Al mendorong


pintu kamar dengan kakinya, lalu menguncinya. Kemudian….


“Aku kangen sama kamu,” bisiknya di dekat telinga Queen.

__ADS_1


“Ini sudah jam tujuh. Sebentar lagi Alex pasti ke sini, kan?


Kita tunda nanti saja, ya?” ucap Queen sambil mendorong wajah Al sedikit menjauh dari wajahnya.


Sementara Al hanya tertawa saja melihat tingkah istrinya.


Coba saja dulu, saat Berlyn masih kecil, dan ikut bersama neneknya. Dia pasti sudah sangat manja dan tak tahu tempat. Karena di rumah hanya ada mereka


berdua. Sedangkan bibi… ia sudah disibukkan dengan pekerjaannya sendiri.


Tidak berselang lama setelah mereka semua bersiap, Alex,


Zahar dan juga putra mereka sudah tiba di kediaman Al dan Queen.


“Apakah kita bisa berangkat sekarang?” tanya Zahara pada


Queen.


“tentu saja.”


“Ada yang mau ikut sama mobilnya, om?” tanya Alex pada


anak-anak.


“Aku sama Berlyn,” jawab Adriel dengan semangat.


“Oke, jadi Bilqis bareng sama papa dan mama, ya?” ucap Al.


dan mereka pun meluncur dengan dua mobil menuju kampus Axel. Tiba di sana, mereka merasa


lucu jasa. Sebab, biasanya acara wisuda hanya didatangi oleh orang tua atau wali dan saudarinya. Tapi, lain halnya dengan Axel. Ia membawa dua pasang orang


tua dalam acara graduationnya.


“Xel, siapa mereka?” tanya Samuel, teman satu kelasnya, yang


kini sama-sama telah tamat S1.


“Om dan tante sebagai pengganti papa dan mamaku. Dan yang itu,


yang pakai kebaya warna pastel itu calon mertuaku,” jawab Axel sekenanya. Tapi,


ia sambil tertawa. Sebab, ia merasa sangat ngaco dan konyol. Tapi, bukan kah


kata-kata itu adalah sebuah doa? Bodo amat soal usia. Jika Berlyn mau hidup bersamanya selamanya, apakah dunia juga akan menolak? Sekalipun iya, bukankah


doa bisa merubah segalanya?”


ungu pastel sambil menggandeng Berlyn dan Adreiel di kedua sisi tangannya. Lalu,


ia duduk di deretan bangku nomor tiga dari depan bersama dua anak itu dan juga


dua orang yang Axel katakana sebagai calon menantunya.


“Gilaaa. Pantesan selama ini kamu cuek-cuek saja. saat kamu


bekerja mengisi liburan panjang di Jogja. Kemarin juga santai-santai saja saat dikejar-kejar


oleh skertaris muda itu. Siapa Namanya? Sherly?” tanya Samuel meyakinkan, dengan memasang ekspresi mengingat.


“Muda apanya? Muda itu cewek gua dong. Sherly itu sudah tua,”


timpal Axel. Lalu pergi meniggalkan temannya yang terkenal berjiwa wartawan.


“Xel! Mau ke mana, kau? Tunggu aku,” ujar remaja itu sambil


mengejar Axel.


“Eh, adiknya cewek mu itu, gila… usia berapa dia? Masih kecil


saja sudah cantik dan anggun gitu. Bagaimana kalau sudah dewasa, ya?” ucapnya


sambil merangkul pundaknya dari belakang.


Axel hanya tertawa miring dan membatin, ‘Bodoh. Memang dia


yang aku sukai. Bukan yang besar. Tapi, baguslah jika kau mengiranya dia. Jika sampai


kau paham Berlyn lah yang aku sukai, kau pasti bergosip, dan yang ada seluruh kampus


mengiraku up normal alias pedofil.’


“Dasar mata keranjang. Dia itu baru berusia sepuluh tahun.” Jawab


Axel. Sebenarnya ia cemburu. Bukan semata-mata menutupi perasaan yang sebenarnya.


“Hehehe aku ini detektif cinta. Jelas bisa tahu, dong mana


bibit yang unggul dan yang tidak,” kilah Samuael sambil terus bergelandut pada


Axel yang beberapa cm lebih tinggi darinya.

__ADS_1


“Bilang saja kalau buaya.”


“Eh, by the way. Dia sama adikmu sangat akrab. Bakal jadi


adik ipar, dong!”


Axel menampik lengan Samuel dan menghindari pria itu. sedikitpun


ia tidak berharap kalau sampai Adriel dan Berlyn saling jatuh cinta. Sedekat apapun


dia. Mungkin sudah saatnya ia harus mengambil Langkah, mendekati gadis itu agar


terbiasa dengannya dan menganggap dialah yang terbaik. Sebab, Bilqis dulu juga


terbiasa bersamanya, sampai pada akhirnya ia mengalami cinta yang overdosis begini. Tapi sayang. Axel tidak bisa menerima dan membalas perasaan gadis itu. Ia malah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Berlyn. Entah cinta atau apa. Kala itu Berlyn masih berusia lima tahun.


Dua hari setelah acara wisudanya Axel, Al benar-benar


menepati janjinya. Ia mengajak Berlyn dan juga Queen istrinya ke Jepang. Pada yang


lain bilangnya berlibur. Tapi, kenyataannya ada yang lebih berarti selain berlibur. Ya itu menjenguk salah satu putri kembarnya yang berada di sana.


Tapi sayang sekali, Berlyn menolak ajakan kedua orangtuanya.


Bukan karena ia tidak rindu dengan Clarissa. Dia sangat rindu sekali. Tapi, ia ingin memberi kesempatan pada saudari kembarnya untuk merasakan tinggal bersama


bersama kedua orangtua tanpa adanya dia, seperti halnya dia.


Lagi pula, di sini selain bibi ada kak Adriel yang selalu setia


menjadi teman, pikir gadis itu. belum lagi Bilqis, dan Axel.


“Berlyn, apakah kau tidak rindu pada saudarimu?” tanya Queen


sambil berjongkok menatap wajah putrinya.


Berlin tersenyum tipis. Ia tersenyum kemudian mengangguk


dengan pelan.


“Lalu, kenapa kau menolak pergi ke Jepang, Sayang?” tanya


Queen masih tidak habis pikir.


Tanpa menjawab, Berlyn berlari mengambil selembar kerta dan bupoin,


kemudian ia menuliskan sebuah kalimat yang ia tujukan pada kedua orang tuanya. “Aku


sudah sering kali menghabiskan waktu bersama kalian. Tapi, tidak dengan


Clarissa. Aku juga ingin melihat dia bahagia dengan hanya bersama kalian saja


tanpa ada aku. tidak masalah. lain kali kita bisa datang lagi bersama ke sana. Atau,


diam-diam ajak dia kemari untukku.” Gadis itu menunjukkannya sambil tersenyum.


“Sayang. Kau dewasa sekali, Nak? Akan mama sampaikan


padanya. Pasti dia akan senang. Walau, mungkin awalnya ia sedikit kecewa.


Berlin mengelengkan kepanya. Ia memberi isyarat kalau Clarissa


tidak akan keberatan dengan ini. Selama dirinya mau melakukan dengan suka rela.


Sebab, sebelumnya mereka sudah bernegoisasi, memang awalnya Clarissa juga


keberatan. Sebab, merasa kalau saudarinya sangat butuh perhatian kusus dari


papa dan mama mereka. Jadi, ia tidak pernah mempermasalhkan hal ini sedikitpun.


Memang sudah semestinya kalau Berlyn yang tinggal bersama mereka.


“Ya sudah. Kamu jaga diri baik-baik jika besok papa dan mama


berangkat, ya Sayang?” ucap Queen dengan berat hati.


Karena berangkatnya masih besok malam, dan ininjuga baru pukul


tiga sore, Queen mengajak Al ke tempat Alex dan Zahara. Kebetulan, Adriel berada di sana sejak acara wisuda kakaknya kemarin.


Setibanya di sana Dan setelah cukup berbasa-basi Al dan Queen mengutarakan maksud kedatangannya. mereka tidak semata-mata hanya untuk melihat kondisi Adriel di sini. Tapi, mereka juga bermaksud menitipkan Berlin yang tidak ingin ikut ke Jepang dengan alasan ia tidak mau ketinggalan pelajaran sekolah. Jadi, kali ini Al menggunakan alasan perusahaannya yang ada di Jepang memiliki kendala dan harus dia sendiri yang datang. Karena, jika mengatakan liburan, jelas sangat tidak pantas jika tidak mengajak putrinya.


Untuk Queen, sebagai alasan karena mereka juga sekalian menjenguk mami Jeslyn yang mereka tahu masih berada di Singapura.


"Zahara, Alex. Maaf jika sebelumnya kami telah merepotkan kalian berdua. Niat kedatangan kami kemari sebenarnya untuk menitipkan Berlin. Dia menolak ikut kami ke Jepang. padahal, sekalian kami ingin menjenguk mami di sana," ucap Queen memilai percakapan.


"Oh, tentu saja tidak masalah. Dengan senang hati kami akan menjaganya, seperti kalian menjaga Adriel, iya kan Lex?" jawab Zahara dengan ramah sambil memandang ke arah suaminya.


"Iya, mungkin saja Berlyn menolak untuk ikut karena tidak mau ketinggalan pelajaran. Iya, kan Berlyn?" ucap Alex yang kebetulan memangku gadis kecil itu.


Berlyn hanya tersenyum sambil mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2