
Kak, Nay, kau adalah wanita pertama yang dicintai kakakkuz titip kakakku ya? Walau dulu pernah dekat dan hampir tunangan dengan wanita lain kal Al tidak cinta. Cuma paksaan saja.'
'Oh, ya? Benarkah? Kukira kakakku play boy loh.'
'Bukan. Dia baik. Kau kenal dengan dia, dia juga dekat denganmu sekarang.'
"Nay."
"Eh, iya. Apa, Mas?" panggilan Al berusaja sukses membuat Nayla kembali tersadar dari lamunannya.
"Ditanya nglamun aja, ya udah, kalau kamu belum siap buat cerita, mungkin lain kali saja. Tapi, asal kamu tahu. Orang yang aku cintai itu kamu setelah mama. Quen adalah satu-satunya adik yang aku sayang. arena yang ku tahu hanya dialah adikku."
Nayla tersenyum sambil beranjak memeluk erat pria itu. Dalam hati Al membenarkan perkataannya barusan, "Benar, kan? Dia yang aku cintai setelah mama Clara?" Pria itu pun mendesah mengeluarkan napas lega.
Sejak kecil dia selalu diajari untuk jujur, hanya saat bersama mantan pacar papanya saja, Della dia belajar berbohong. Tapi, ya sudahlah. Pada akhirnya wanita licik itu ketahuan dan di penjara berkat bantuan para sahabat mama Clara. Dan dia pun diadopsi hingga mendapatkan hidup yang seperti saat ini.
🍁 🍁 🍁
Pagi-pagi buta Quen mendapati Alex sudah duduk di depan lap topnya. Entah apa yang ia lakukan tidak biasanya seperti ini pula.
"Alex," panggil Quen sambil mengucek kedua matanya yang masih terasa lengket.
"Hay, Sayang. Kau lihat ini! Lamaranku menjadi dosen olahraga di kampus kita diterima. Dan besok harusnya lusa, aku akan interview. Kita berkemas untuk segera ke Indo, ok." tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya, Alex mengatakan berita bagus ini.
Awalnya dia membuka laptop berniat mencarikan tiket liburan untuk kakaknya, sementara dia dan Quen akan tetap tinggal sampai batas waktu awal yang sudah di tentukan. Tapi, takdir berkata lain. Keduanya harus segera kembali atau Alex kehilangan kesempatan ini.
Dalam hati Quen sudah menduga, sebab dia termasuk mahasiswa yang berprestasi dalam bidangnya. Bakatnya menjadi atlit sudah terlihat sejak ia menduduki sekolah kelas dasar, katanyan yang dia tahu ya saat SMA dan waktu kuliah saja. Tapi, melihat banyak piala, medali dan piagam penghargaan yang ia dapatkan untuk sekolah dan yang terpajang di rumahnya Indonesia sudah cukup menceritakan kebenaran itu. Benda-benda itulah yang menjadi saksi bisu.
"Benarkah, Sayang? Selamat, ya?" Quen melompat dari ranjangnya dan memeluk Alex dari belakang.
Sementara Alex manggeser tubuh Quen menariknya kedepan dan memangkunya, mereka duduk berhadapan. Wajah Alex berada di bawah wajah Quen.
"Aku turut bahagia atas diterimanya kamu."
"Lalu, kelak kau ingin melamar jadi dosen juga, tidak?"
Quen mengelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Selama tidak kekurangan dosen di salah satu universitas aku tidak akan mengajukan lamaran. Aku hanya akan fokus pada profesiku sebagai dokter saja. Menolong mereka yabg sakit terutama untuk rakyat kelas menengah ke bawah."
"Jadi, itu alasan kamu mengapa menjadi dokter umum saja?" Dengan jawaban Quen saja Alex sudah menangkap alasan wanitanya itu. Sebab. Kalangan menengah ke bawah, tidak akan datang ke dokter spesialis yang terkenal mahal.
"Jika kau nanti di tugaskan di tempat yang sangat pelosok, bagaimana?"
"Tidak masalah!"
"Banyak para dokter yang menolak karena peralatan medis di sana tidak lengap dan tidak memenuhi standar, loh!"
"Aku bisa minta papa dan kakakku membukakan klinik, biar tidak besar tapi fasilitas komplit dengan harga standar warga sana."
Alex meraih belakang kepala Quen dan menciumi gadus pilihannya itu.
"Aku menyukaimu karena hatimu, bukan karna apa-apa. Ternyata, aku tidak salah pilih. Dan Tuhan sepertinya juga sudah menakdirkan kita untuk bersama."
"Sudah gombalnya? Kau mandilah! Aku akan berkemas dulu." Quen merosotkan diri dari pangkuan suaminya. Berjalan ke lemari dan mengeluarkan kopernya. Lalu, mengemasi barang-barangnya yang perlu dia bawa.
Usai Alex keluar dari kamar mandi, giliran Quen yang mandi dan keduanya keluar ke meja makan untuk sarapan bersama.
Saat di meja makan Quen tidak mendapati Aditya, Novita juga Axel. Kata mama Rita mereka pergi joging bersama sekaligus sarapan di luar.
"Ma, nanti kami akan balik ke Indonesia," ucap Alex yang membuat Papa Nicolas dan mama Rita terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Apa? Kenapa kalian pergi mendadak sekali? Quen tidak betah ya tinggal di rumah mama?" Dengan raut wajah sedih dan kecewa mama Rita memandang Quen.
"Bukan, Ma. Lusa Alex interview pekerjaan. Maunya sih ya kita di sini dulu, tapi... Kita janji, kalau ada cuti akan berkunjung kemari," ucap Alex dengan cepat menjelaskan.
"Oh, benarkah? Alex... Mama bangga padamu, Nak. Semoga lancar wawancara dan kau diterima bekerja di sana, ya Sayang." Mama Rita pun bangkit dari duduknya menghampiri putranya dan memeluknya.
Pukul delapan pagi waktu setempat Quen dan Alex diantar oleh Novita, Adit Axel juga kedua orang tuanya.
Saat Alex hendak pergi Aditya memeluk Alex dan membikan permintaan maafnya.
"Maafkan aku selama ini membuatmy sakit hati."
"Sama-sama kak, aku titip kak Novi, ya? Jaga dia, aku mewakili dia meminta maaf jika di masa lalu dia pun banyak nyakitin kak Adit."
Saat tiba di kursi penumpang Alex berkata pada Quen, "Kau sudah menhubungi mama, papa dan papa muda?"
"Papa muda?" Quen rupanya melupakan sesuatu dan mengerutkan keningnya.
"Papa Al." seketika Alex pun terkekeh saat menyebutkan nama kakak iparnya itu.
"Aku cuma kirim pesan ke mereka, tidak sempat telfon."
🍁 🍁 🍁
Pukul empat belas waktu indonesia barat pesawat mereka telah landas. Surpries sekali, mama Clara yang menjemput mereka seorang diri.
"Di mana papa dan kakak, kok mama sendirian?" tanya Quen sambil memeluk wanita muda dengan pakaiannya yang sangat modis.
"Ya, mereka ada urusan. Alex, bagaimana kabar papa dan mama di sana? Lain kali kalau ada waktu, papa dan mama juga ingin berkunjung ke sana."
"Iya tante. Mereka tunggu. Di sama semua baik-baik saja. Bagaimana kalian dan nenek? Baik-baik saja?"
" Ya, baik-baik saja. Ya sudah ayuk masuk mobil, kalian pasti lelah bukan?" ajak Clara.
Alex hanya tersenyum geli melihat tingkah istrinya. Ya, memang ini sifat alamai Quen saat sudah merasa nyaman dan akrab dengan seseorang. Jika tidak, pasti dia akan dinilai terlalu jaim bahkan sombong. Seperti saat pertama ia mengenalnya di bangku SMA dulu.
Flash back***
"Eh, ada cowok bule, tuh. Quen." busik Sinta dan Bela saat keduanya tengah asik menikmati mie kuah instan di kantin sekolahan.
Jangankan menjawab, gadis berambut pirang itu hanye melirik sebentar dan kembali tatapannya ke makanan yang ada di depannya.
Mungkin ketampanan Alex saat itu tidak lebih memikat dari semangkuk mie bagi Quen yang sudah kelaparan. Sebab, dia kesiangan dan tidak sempat sarapan.
Sementara Alex, yang biasa selalu jadi pusat perhatian para cewek di sekolahannya maupun sekolahan lain ia merasa tertarik pada Quen. Sebab, baru kali ini ada cewek yang memasang ekspresi datar ketika melihatnya.
Pria itu terus mengamati Quem dari kejauhan. Tak ada tanda-tanda dia mencuri pandang. Malah ia lebih sibuk dengan minuman dan layar sentuhnya. Entah apa yang dia baca. Jika chat, tidak nampak seperti orang yang tengah chatingan.
"Kenapa? Cantik dia ya? Dia tidak akan tertarik sama kamu, dia jurusan IPA juga juara metematika dan bahasa ingris. Denger-denger dia menguasai empat bahasa, loh." bisik Dion sahabat Alex.
"Oh, ya? Menarik sekali, dilihat dari penampilannya dia tidak seperti kuti buku dan anak-anak cerdas kebanyakan. Dia masih sempat modis kaya anak IPS atai akutansi, ya?" ucap Alex tanpa memalingkan pandangannya.
"Ya iyalah, bapak dan emaknya saja lebih keren dari Bu Guru Diana, loh."
"Hah, Masak?" terlihat wajah Alex nampak terkejut.
"Kau tak percaya ini IG Quen. Bentar, ya?" Nampak dia membuka gadgetnya dan memainkan jarinya di atas layar sentuh itu dan... Ketemu.
"Gila, umur berapa bapak dan emaknya? Kaya anak masih kuliahan, ya? Kalau anaknya masih TK wajar, ini dah SMA."
"Nah, itulah. Mungkin menikah muda, hehehe," jawab Dion.
Sejak saat itu Alex semakin tertarik mendekato Quen walau kadang proses pdkt-nya di ganggu oleh Helena yang memang sejak awal sudah menyukainya.
__ADS_1
Enam bulan melakukan pendaktan akhirnya mereka sukses jadian saat mereka duduk di kelas dua. Tapi, hubungan itu tidak berjalan lama, karena Quen melihat dengan mata kepalanya sendiri dia bermesraan dengan Helena di kantin sekolahan. Tidak hanya di putuskan. Bahkan Alex juga mendapat hadiah satu kali tinjuan pas kena mata hingga membuat mata sebelahnya seperti panda.
* *
"Aku nyesel, Dion nyakitin Quen. Harusnya aku bisa saja jaga nafsu dan stop play boy. Sepertinya aku benar-benar suka dia, deh. Aku gila kehilangan dia, bro." Curhat Alex kepada Dion setelah diputuskan Quen.
Saat itu mati-matian Alex meminta maaf dan memohon kesempatan satu kali lagi. Tapi, Quen benar-benar menolaknya dan tidak menerima permohonan untuk kembali dalam bentuk apapun.
Tapi, kesalahan Alex, dia masih tidak memutuskan Helena, meskipun itu untuk pelampiasan.
Hingga saat naik kelas tiga ia memutuskan semua pacarnya, fokus dengan pendidikannya agar citra dia sebagai seorang play boy pun hilang.
Smester tiga, Alex mulai mendekati Quen lagi dengan barbagai perhatian dan sedikit gombalan berharap agar cinta di hati gadis itu kembali tumbuh. Tapi, di saat hubungan sudah semakin baik dan dekat ia harus di hadapkan dengan Aditya yang juga mengejar Quen. Jadi, demi kebahagiaan putranya pak dosen yang sebenaenya merupakan keponakannya, ia pun mundur. Tapi, siapa sangka muncul keajaiban yang tak terduga. Saat ijab qobul Quen minta pernikahannya benar-benar di batalkan. Sehingga dia bisa datang dengan alasan menjaga reputasi Quen dan keluarganya.
Walau sebelumnya sudah direncakanakan oleh kak Al dan kak Juna. Tapi, tak ada satupun yang memprovokasi Quen. Tau lah, tak akan mudah bagi dia menikahu duda yang masih cinta mantan istri dan lagi, mantan istri sudah kembali dan.meminta rujuk. Meskipun sekarang dia masih seperti gila dan tidak terima kehilangan Quen begitu saja.
Come back.
Quen bertrtiak memanggil Nayla dan memeluknya erat. "Hay, Kak, apa kabar? Aku kangen banget sama kamu."
"Baik, kakak baik-baik saja, bagaimana dengan mu?"
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja," ucap Quen.
"Aku punya banyak oleh-oleh buat Bilqis. Baju dan penjepit rambut di sana lucu-lucu, di mana dia? Semoga saja dia menyukainya."
"Dia masih ikut kakek, kau hanya membawakan untul Bilqis saja? Sementara aku tidak?" Goda Nayla.
"Aku ada mekap dan beberapa parfum, kakak pilih saja, nanti sisanya berikan pada kak Lyli."
"Banyak banget, Quen? Untuk mama dan yang lain?"
"Mereja sudah riques, jadi sudah aku bungkuskan sendiri. Untuk kak Nay kan aku tidak tahu selera aromanya yang seperti apa. Jadi aku bawa lima pilihan aroma yang berbeda. Kak Lyli kasih dua atau satu gapk papa, lah."
"Kau tidak lelah? Mau minuk apa?" Tawar Nayla.
"Apa saja, aku mau air putih saja deh, gak udah yang dari kulkas."
"Baik, kakak ambilkan dulu utnukmu."
Nayla pun beranjak ke dapur mengambil segelas air putih dari dispenser.
Dari awal wanita itu memang sudah menyukai Quen. Tapi, karena rasa cemburu yang besar dia tak pernah bisa menerima jika Al dekat-dekat dengannya, apapun itu alasannya.
"Sayang, aku ke kamar dulu, ya?" pamit Alex.
"Iya, kau istirahatlah dulu, persiapkan dirimu untuk besok biar lebih fresh."
"Ma, nenek di mana?"
"Dia bersama kakek dan Bilqis menghadiri kegiatan di panti, kan ini hari santunannanak yatim, sayang."
Dalam hati Quen menyesalkan tidak dapat mengikuti moment ini. Tapi, dia kan masih bisa datang lain kali bersama Alex, Nyala dan kak Al.
Tak lama kemudian Nayla tiba dengan segelas air putih dan sepiring puding sutra favoritnya.
"Ih, apa itu? Siapa yang bikin, kak?" tanya Quen dengan mata berbinar.
"Aku lah, karena denger kabar kamu akan pulang hari ini. Dan aku tahu dari Mas Al kalau kau sangat menyukai ini, kan?"
"Iya, di mana kak Al dak papa kok belum tiba?"
"Biasa, sibuk dengan istri keduanya, katanya sih area jakarta saja. Jadi, sebentar lagi pasti tiba." Nayla melirik jam tangan yang melingkar lada lengan kirinya itum dan duduk di sebelah Quen kembaki mengobrol.
__ADS_1