
Usai sarapan, Al langsung mengenakan jas yang sudah Queen
siapkan. Dia berangkat sangat pagi sekali, pukul enam. Biasanya juga pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Karena ada rapat, dia berangkat lebih dulu, dan meminta Queen untuk mengantarkan Berlyn ke sekolahannya.
Ternyata rapat pagi ini hanya akal-akalan Al saja. Dia tidak
menuju kantor. Melainkan menemui pak Darto di rumah yang dulu Lyli tempati. Rumah yang menjadi saksi bagaimana dia dengan teganya memukul wanita yang sudah
merawatnya sejak kecil hingga meregang nyawa di sana.
Al melihat jenazah Lyli bukan untuk memberi penghormatan
untuk yang terakhir kalinya. Tapi, ia memastikan, apakah pak tua itu sudah
benar-benar menepati janjinya apa tidak. Yang dia khawatirkan yang mati tadi bukanlah Lyli. Hanya saja berita dibuatciri-ciri korban mengarah ke Lyli. Jadi,
dia berniat untuk memastikannya sendiri. Baru, dia akan percaya.
Sebuah ambulance masuk ke dalam gerbang rumah mewah yang dulu itu adalah istana Lyli saat
dirinya masih menjadi simpanan pak Darto. Ambulan yang membawa jenazah Lyli yang mati
tersengat arus listrik yang di dalamnya hanya berisi orang dalam saja. Artinya,
semua adalah anak buah pak Darto.
Tak lama setelah Jenazah di turunkan dan di bawa masuk ke
dalam rumah, sebuah mobil Ferrari merah masuk dalam gerbang luas tersebut dan
parkir tepat di sebelah ambulance warna putih tersebut. Kemudian, dari dalam
mobil turun seorang pria yang mengenakan pakaian jas serba dan kacamata seba
hitam.
Dengan wajah lurus ke depan, pria itu langsung masuk ke
dalam rumah tersebut dan langsung disambut oleh pria berkepala botak dan hampir
seluruh rambutnya yang tersisa sudah berwarna putih.
“Di mana dia?” tanya Al dengan nada dingin tanpa melepaskan
kacamata hitam yang membinkai wajahnya.
“Itu, Tuan. Anda bisa cek jika tidak percaya. Dia
benar-benar Lyli,” jawab pak tua itu sambil memberi isyarat pada bawahannya
untuk membuka kain penutup pada wajah Lyli.
Al memandang wajah jenazah itu sampai beberapa detik,
setelah yakin itu benar-benar Lyli, ia pun berpamitan untuk pergi. Entah, mau
diapain jasat wanita itu oleh kakek sugino kw Al juga sudah tidak peduli.
Sekalipun, ia benar-benar memutilasi dan menjual organ-organ tubuh wanita itu. Anggap aja sebagai ganti pengeluaran besarnya pada Lyli, dan untuk seratus juta
yang diberikan pada istrinya sebagai hadiah peresmian dan pembukaan pertama di
kliniknya beberapa hari yang lalu.
Efek dari nipu bini, kini Al tahu rasa sendiri, dia tiba di
kantor sangat awal dan hanya ada beberapa cleaning service saja yang datang. Al menghela napas panjang di dalam ruangannya yang belum dibersihkan. Ia merasa borring dan beberapa kali
melihat ke arah jam tangannya. Harusnya jam segini masih ngopi dan sarapan bareng istri. Tadi, Cuma makan sepotong roti saja, dan karena terburu-burur, segelas susu yang sudah Queen siapkan hanya ia minum setengahnya saja. Apakah ini yang dinamakan kualat? Ah, tidak juga. Pria itu menganggap ini sebagian kecil dari pengorbanan. Dia rela kesepian di kantor demi memastikan musuh dalam keluarganya sudah benar-benar binasa, apa belum.
Jadi, mau tidak mau, ia harus tetap menikmati saja berangkat
lebih awal di kantor bersamaan dengan cleaning service membersihkan ruang kerja para pekerja. Termasuk juga ruangannya.
“Selamat pagi, Pak. Permisi, saya bersihkan dulu ruangannya,’'
ucap salah seorang OB, dengan sedikit sungkan, karena tidak biasanya dia
bekerja diawasi dan itu pun langsung bigboss. Apalagi dia adalah pekerja lama. Tentu saja ia tahu kalau Al adalah putra dari pemilik perusahaan. Dia sampai berkeringat dingin begitu, mungkin berfikir, kalau Al sengaja datang lebih awal untuk melihat cleaning servis mana yang rajin, dan yang hanya bermalas-malasan. Dia memang tidak merasa malas. Tapi, standar orang mengatakan kalau pekerja itu rajin atau tidaknya kan tidak sama.
“Oh, iya. Silahkan,” ucap Al dengan cuek. Tak begitu
pdulikan dengan OB yang terlihat begitu grogi.
***
Tanpa terasa duah satu bulang Novi dan Candra pindah ke
Jogja. Semua berjalan lancar dan sesuai harapan. Sepertinya dia selalu
beruntung dua kali menjalin hubungan pernikhan dengan pria, selalu mendapatkan mertua yang baik dan
sayang padanya. Menganggap dirinya sebagai putrinya. Bukan sebagai menantu.
“Bagaimana? Apakah kau menyukai sekolah barumu ini?” tanya
Novi pada putranya setelah dia menjembut dari sekolahan.
“Ya, aku suka sekali. Hanya saja, di sini banyak yang menggunakan Bahasa jawa. Aku tidak begitu bemngerti selain menebak-nebak artinya saja,” jawab bocah berusia tujuh tahun itu dengan polos.
“Tidak masalah. kau bisa tanya pada temanmu jika ada yang
tidak kau ketahui artinya. Dengan begitu, lambat laun, kau bisa mahir berbahasa jawa seperti mereka,”jawab Novita sambil menganggdeng putranya menuju mobil.
“Ma, apakah kak Axel tidak akan ke sini akir pekan nanti?” tanya Adriel setelah ia duduk di samping kemudi.
“Apakah kau merindukannya? Mungkin kita bisa ke sana esok. Lihat
saja, apakah papamu sibuk, atau tidak, oke?”
“Baik.”
Sesampai di rumah, Novi menyuapi Adriel, meneminya mengulang
__ADS_1
kembali pelajaran yang ia dapat hari ini dari sekolahan sekalian mengecek PR yang diberikan guru. Setelahnya, ia meminta putranya untuk berangkat tidur siang sendiri. Sedangkan dia, menyusul ibu mertuanya di dapur.
Mama Dian memang memiliki hobi memasak. Dan yang selalu
beliau masak adalah makanan tradisional khas jawa. Seperti kue basah jajanan pasar. Novi banyak belajar cara membuatnya dari beliau. Walaupun makanan seperti klepon di Jakarta juga ada, tapi rasanya berbeda. Buatan mertuanya benar-benar juara.
“Mama, bikin apa hari ini?” sapa Novita pada Mama mertuanya
yang terlihat sibuk uprek di dapur.
“Kau sudah kembali, Nov?” tanya mama Dian. “ini, mama mau
bikin yang lagi viral. Bikin klepon dengan aneka warna,’' jawab wanita itu
sambil terlihat mengupas buah naga.
“Bikinnya pakai pewarna alami, Ma?” tanya Novita penasaran,
sebab, di sebelah mamanya blender tengah menyala. Dan sepertinya mamanya tengah memblender daun pandan. Mungkin saja, itu yang akan dijadikan sebagaia pewarna hijau alami pada kleponnya.
“Ya harus alamai. Kita punya anak balita, gak boleh asal
membuat pewarna makanan apalagi rasa-rasa. Makanya, mama sirup juga selalu bikin sendiri,” jawab wanita itu dengan lembut. Namun penuh dengan percaya diri.
“Jadi, nanti untuk ungu kita gunakan ubi ungu, warna kuning
kita gunakan dari labu, hijau dari daun pandan, dan yang pink, atau ungu muda dari kulit buah naga.”
“Loh, kulitnya, ya Ma?”
“Buahnya kasihkan pada Adriel saja,” jawab wanita itu sambil tersenyum.
Kemudian, disusul dengan tawa oleh Novita. “Baik, Novi siap bantu, Ma.”
Keduanya pun akhirnya uprek di dapur. Setiap hari ada saja ide
mebuat cemilan. Hal itu, membuat berat badan Novi jadi naik drastis. Dari semula 55kg, kini berat vasannya menjadi 63kg. Harusnya berat badan segitu tidak lah membuatnya
terlihat bulat, karena, Novita sendiri sebagi mantan pramugari exlucive dia memiliki tinggi badan 168cm. sangat tinggi memang sebagai ukuran waita Indonesia pada umumnya.
Suatu malam, saat semua sudah ada di dalam kamar
masing-masing, termasuk juga Adriel dan mama Dian, Novita berputar-putar di depan cermin besar yang ada di dalam kamarnya. Dirabanya lengan perut dan juga
pahanya. Kemudian dia mengeleng dan terlihat nampak prustasi dengan perubahan fisiknya yang pesat.
Wanita itu mendesah kesal dan terlihat cemberut saat melihat
suaminya keluar dari kamar mandi dari cermin. "Baru berapa lama di sini? Badanku sudah sangat mengembang seperti adonan kue yang sudah diberi banyak soda," gumamnya lirih.
“Kenapa, Sayang?” tanya Candra sambil memeluk dari belakang.
“Kamu lihat, deh aku! Gendut banget,” ucapnya dengan manja
sambil menyentuh kedua pipinya yang tak lagi tirus. Kemudian berpindah pada tumpukan lemak pada perut.
“Kamu itu tidak gendut, Sayang. Kamu itu sexy dan montok. Aku
lebih suka kamu yang begini,” jawab Candra dengan manja menempelkan wajahnya pada leher Novi dari belakang.
kamu juga ngatain aku kek gajah bengkak, kan?” cecar Novita.
“Beneran, aku serius kamu bener-bener cantik yang begini. Kenapa sedih, sih? Kalau berat badan naik kan artinya kamu bahagia.”
“Dari dulu juga bahagia. Tapi, gak gendut, tuh. Mama sih,
tiap hari bikin makanan terus,” ucap Novita menyalahkan ibu mertuanya.
“Loh, kok jadi nyalahin mama, sih? Kan itu memang hobi dia. Dia
sengaja minta aku ngurus perusahaan agar dia tidak perlu bekerja dan
masak-masak aja di rumah.”
“Nah itu, tiap hari bikin, mau gak di makan takut tersinggung.
Kalau aku ngicipin, mulut gak bisa berhenti sebelum habis.”
Seketika Candra terbahak mendengar celotehan istrinya yang
sangat jenaka. Terlebih Novi bicaranya juga sambil tersenyum malu-malu.
“Hahaha, kamu memang suka jajanan tradisional, ya?”
“Suka banget, apalagi mama yang bikin. Asli enak,” jawab
Novita sambil merenggangkan kedua tangan Candra yang memeluknya dari belakang
dan duduk di yepi tempat tidur.
“Ada masalah?’' tanya Candra seolah mengerti kalau istrinya
tengah berfikir keras.
“Ada.”
“Apa? Ceritakan saja padaku, aku yang akan bantu.” Candra
mencondongkan wajahnya pada wajah Novita.
“Masalahnya, aku kangen sama Axel. Gimana dong? Dia masih
sibuk-sibuknya di kampus. Akhir pekan bisa tidak kalau kita ke Jakarta besuk dia? Aku juga kangen sama Lutfy,” ucap Novita lirih.
“Jadi, itu masalahnya? Oke baik. Emb… missal mama juga ikut
serta bagaimana? Apakah kau keberatan?”
“Tentu saja tidak. Apakah mama ingin ikut?”
“ya, dia juga ingin bisa dekat dengan Axel. Kan cucu dia
bukan Cuma Adriel,” jawab Candra sambil memainkan kedua alisnya naik turun. Mungkin
__ADS_1
dia ingin menaikkan sebelah alisnya. Tapi, tidak bisa.
“Baiklah. Kamu besok yang ngomong sama mama. Biar dia juga
bisa bersiap,'’ ucap Novita lalu beranjak untuk tidur. Sekalipun suaminya berangkat kerja jam delapan, dia tidak bisa bangun telat seenaknya. Malu sama
mertua setiap abis subuh sudah uprek di dapur menyiapkan sarapan. Dan sarapannya selalu lengkap, ada nasi, sayur dan berbagai jenis lauk. Wajar saja sedari pagi
selalu sibuk dan hampir tak bisa diam jika di rumah. Lain halnya dengannya di Jakarta. Karena sudah terdokterin sarapan gak harus nasi dan sudah terbiasa dengan roti dan susu.
***
Clarissa selalu berontak pada amanya yang ada di singapura. Dia memang memiliki hp kusus yang
dia gunakan unutk berkomunikasi hanya dengan amanya saja. Sedangkan kesehariannya,
ia memakai milik saudari kembarnya. Karena, di sini dia menyamar sebagai Brlyn.
Dan ini tugasnya sudah selesai saatnya ia kembali ke negara spin untuk sekolah.
Sebab, meminta Berlyn untuk menggantikan dirinya juga sangat tidak mungkin. Selain
dia sudah kelas enam SD, Berlyn juga
memiliki keterbatasan, sekolah dia juga baru TK nol besar. tahun depan baru masuk
SD itupun juga baru kelas satu.
“Ama, jika kau tidak mau jemput aku, dan minta papa dan mama
untuk berkunjung. Aku akan nekat kembali sendiri, nih!” ucap Clarissa dengan
kesal. Walaupun hari ini papa dan mamanya tidak ada di rumah, tapi, ada bibi
yang kadang-kadang suka tiba-tiba gedor-gedor pintu. Kebiasaan dia sendiri tidak
bisa berbicara dengan nada pelan. Apalagi saat marah. Pasti dah ngegas. Itulah alasan
kenapa Clarissa setiap menelfon amanya slalu masuk ke dalam toilet kamarnya.
“Clarissa. Kau ngerti sabar tidak?”
“Haaah… aku ini kurang sabar gimana, sih Ama?” keluh Clarissa
sambil mengelus dadanya sendiri.
“Oke, kamu sudah sangat sabar. Jadi, ama minta kamu ngertiin
papa dan mama kamu, ya? mereka itu sibuk, mengurus perusahaan sendiri, dan
pasti banyak baget tugas yang papa kamu kerjakan, dia ngurus dua perusahaan
sendirian.”
Clarissa diam sejenak. Dalam hati ia juga membenarkan apa
yang amanya katakan. Belum lagi bisnis peninggalan mendiang kakek Andreas yang
berada di Jepng. Yang masih ia gunakan fasilitas kapal jetnya untuk pergi ke
Indonesia-Singapura. Harusnya tiga perusahaan. Meskipun sudah om Vico yang
handle, kan dia hanya CEO. Owner adalah papanya.
“Ama benar. Kelak jika aku sudah kembali menjadi diriku,
akan kuminta mama berhenti bekerja di klinik. Cukup jaga Berlin dan bantu
handle salah satu kantor peninggalan kakek Andrean.”
“Clarissa…. “ Jelyn hanya tepuk jidat dan memijat kedua
pilipisnya saat mendengar nada tuut… tuut… tuut! Artinya boca itu sudah
mematikan panggilannya sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
“Clarissa… Clarissa. Kamu tuh, gak deket gak jauh kok ya
sama aja. Tidak ada kerjaan lain apa selain bikin amamu yang sudah tua ini
pening?” gumam Jeslyn sambil terus mengurut pelipisnya sendiri dengan lembut.
Tanpa sadar sebuah tangan kecil memegang peegelangan tangan
kirinya. Jelyn menunduk, di dapatinya wajah polos seorang gadis kecil
memberikan sebuah senyuman teduh padanya.
“Berlyn,” ucap wanita itu, lalu menggandeng tangannya dan
duduk di kursi sambil memangku bocah itu.
“Maafin ama, ya kalau selalu uring-uringan. Mama kamu tidak
pernah, kan seperti ini? Ama bukannya tidak sayang sama Clarissa. Kalian ini
sama-sama berlian yang tak ternilai harganya bagi ama. Ama sayang sekali dengan
kalian berdua. Tidak berat sebelah.”
Berlyn tersebum dan mengelus dada wanita itu, memberi
isyarat agar dia sabar dengan kelakuan ajaib Clarissa. Apa yang dikatakan tidak
semua salah. Walau terkesan keras kepala.
“Kau sangat persis mama kamu, ya? baik, pengertian dan lemah
lembut,” ucap Jeslyn sambil mencium kening cucunya.
Padahal, kalau di lihat-lihat, Berlyn itu kalem seperti nenek
buyutnya, Vivian. Sebab, nenek Clara dan mamanya, Queen dulu sangat pecicilan. Dan
__ADS_1
mungkin saja Clarissa itu pecicilannya nurun mamanya. Kejeniusannya dalam
telnologi dan memimpin sebuah kelompok nurun pada Al. Soal kebeeanian, Queen dan Claea juga pemberani, apalagi Al. Super gentle sebagai cowok.