
Al mendapati istrinya sudah dalam keadaan bersih. Tapi, dirinya masih dengan kemeja kotor berdarahnya tadi.
"Bagaimana dengan anak kita, Al?" Tanya Queen sambil menatap lekat pada suaminya.
"Mereka sangat cantik sayang, kita memiliki bayi kembar." Al berdiri di sebelah Queen dan beberapa kali mencium kening istrinya.
"Aku ingin melihatnya, apakah boleh?"
Al diam, karena dia tidak berani ambil keputusan tanpa intruksi dari tim medis yang menangani istrinya.
"Al, tanyakan pada suster, boleh apa tidak? Aku sudah kuat berjalan."
Lagi-lagi Al dibikin bingung dengan rengekan Queen yang terus memaksa ingin melihat bayinya. Bukan dia tak mau, tapi berfikir, kalau istrinya pasti masih lemah dan juga lelah.
Karena selalu di desak, Al pun terpaksa bertanya pada seorang suster yang tengah menyiapkan entah apa, di tempat yang tak jauh dari tempatnya.
"Sus, istri saya ingin melihat kedua bayinya. Apakah boleh?" tanya Al dengan ragu-ragu. Dia tidak berharap tim medis mengizinkan. Asal sudah izin ya sudah. Biar Queen bisa diam tak lagi merengek.
"Boleh, saya siapkan kursi roda dulu, ya Pak, untuk istrinya," jawab Suster itu dengan ramah. Kemudian Al kembali ke tempat Queen.
"Bagaimana? Boleh, kan?" tanya wanita itu dengan mata berbinar.
Al hanya mengangguk sambil tersenyum lembut.
Sementara di luar, Clara dan Vano masih menunggu instruksi kapan mereka bertiga diizinkan untuk masuk. Tak lama kemudian, dari UGD Al keluar sambil mendorong kursi roda yang di duduki Queen.
"Mama!" seru Queen.
"Sayang! Selamat ya atas kelahiran bayi kamu. Mereka semua lucu dan sangat cantik," ucap Clara sambil memeluk putrinya. kini, ia sudah menjadi seorang nenek. dan Vano menjadi seorang kakek.
Tanpa terasa, mereka sudah tua saja.
"Di mana Kakek, Ma?" tanya Al.
"Dia sedang melihat bayimu, Papa sama mama sudah ke sana tadi, giliran satu persatu gak boleh barengan," jawab Clara.
"Al, kau kan sudah lihat kedua putrimu. Tunggu saja di sini dulu. Sebentar lagi Dedi kemari membawakan kamu pakaian ganti," ujar Vano, sambil melihat ke arah kemeja putranya yang penuh dengan noda darah yang mulai mengering.
"Oh, iya Pah. Sampai lupa saking senengnya, pantesan para suster pada liatin, kirain ganteng. Hehehe," jawab Al sambil nyengir.
"Dari kemarin kamu kepedean, deh," ucap Queen sambil mendongak ke atas belakang melihat suaminya.
"Ganteng, kan suami kamu, Sayang. Aku setia, kok."
"Van, ini Jeslyn telfon. mungkin dia sudah tiba, gimana kalau kamu jemput dia saja?" ucap Clara saat menerima panggilan dari ibu kandung Al.
"Ya sudah, jemputnya jangan sendiri dong. Sama kamu ayo!" jawab Vano dengan santai.
"Tapi, bagaimana dengan mereka?"
"Mereka tidak apa-apa. Iya, kan, Al, Queen?"
"Iya, Ma. Pergilah temani Papa. biar dia ada temannya ngobrol di djalan," sahut Al sambil tersenyum.
Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan anak-anaknya untuk menjemput mami Jeslyn.
Queen dan Al hanya menatap mereka dari belakang sapai lenyap dari pandangan.
"Kau tahu apa maksut papa tadi minta antar mama, Sayang?"
"Apa?" ucap Queen, balik bertanya.
"Papa menjaga kesetiaan mama. Mami kan ga punya suami, dan ke sini juga sendiri, dia tak ingin timbul salah faham. Jadi, biar semua damai, dia meminta agar mama ikut bersamanya.
"Apa kau juga akan begitu? Tidak membiarkan ada kesalah pahaman antara aku dan wanita manapun?"
"Emang aku pernah dekat dengan wanita lain?"
"Ada, kamu tiap hari minta dimasakin sama dia," jawab Queen.
"Bik, Yul?" jawab Al sambil tersenyum genit.
Mereka berdua pun sama-sama tertawa.
"Boss, Al!"
Al dan Queen menoleh ke sumber suara yang memanggil nama Al tersebut.
Seorang pria dengan pawakan tinggi, kecil, kulit sawo matang, dan potongan rambut cepak, tengah berjalan cepat setengah berlari ke arah mereka.
"ni tadi kakek Andrean meminta saya untuk mengantar baju ganti untuk Anda," ucapnya sambil memberikan tas karton warna kuning kepada Al.
Al menerima tas tersebut dan membukanya.
"Makasih, Ded. Kamu tolong jaga istriku dulu, aku mau ganti," ujar Al pada Dedi dan hanya dibalas dengan anggukan saja oleh pria itu.
Setelahnya, ia hanya menatap ke arah Queen dan hanya cukup
memberi isyarat pandangan mata saja lalu ke toilet umum rumah sakit.
Ketika ia kembali, Ternyata kakek Andrean sudah berada di
sana bersama Queen dan juga Dedi, dan kini, giliran Al dan Queen yang melihat
dua bayi kembarnya.
Begitu melihat dua bayinya, Queen langsung meminta berdiri
dan berjalan perlahan menuju ke box tersebut. Tanpa terasa air matanya
kebahagiaan mengalir membasahi pipinya.
“Lihat, mereka benar-benar cantik, Al. mereka berdua
secantik berlian,’” ujarnya, sambil sedikit menyandarkan diri pada dada bidang Al.
“Iya, lihat bibirnya dan matanya persis denganmu,” sahut Al.
“Alisnya tebal, hidungnya mancung seperti milikmu,” timpal
Queen lagi. “Al, aku ingin menyususi mereka, bisa kau bantu mengambilkan
mereka?” pinta wanita itu pada suaminya sambil perlahan merambat dan duduk di
kursi roda.
“Sebentar, ya?” Al sebenarnya bingung dan sedikit takut
untuk mengangkat bayi yang baru saja lahir. Karema seumur hidup, dia belum
pernah. Ini pun juga pertama kali ia memiliki anak sendiri, dan langsung
mendapatkan kembar sekaligus.
“Al, ayo ambil salah satu dari mereka, aku akan
__ADS_1
menyususinya,” ucap Queen yang merasa tidak sabar karena melihat suaminya hanya
berputar-putar saja di antara dua box itu.
“Yang mana dulu, Sayang?” tanya Al, untuk menutupi kegugupannya.
“terserah yang mana saja, kan giliran.”
Saking lamanya mereka berdua berargumen, sampai-sampai ada
seorang perawat yang masuk, dan perawat itu lah yang membantu Queen untuk mengambil salah satu putrinya dari box bayi.
“Begitu perawat itu berlalu, barulah Al berbisik lirih di
dekat telings istrinya yang tengah menyusui, “Sebenarnya aku belum pernah menggendong bayi. Katanya tulang bayi itu masih sangat muda dan rawan, aku takut
salah angkat.”
Queen mendongak memandang ke arah suaminya sambil tertawa
tertahan, dalam hati ia berguman, ‘Gitu, kenapa kau diam saja tidak mau
ngomong?’
Setelah memberikan asi pada kedua bayinya, seorang perawat
yang sama pula mengatakan kalau kamar inap untuk Queen sudah di siapkan, ia pun
kini menuju di kamarnya untuk beristirahat. Kemudian, beberapa menit kemudian
dua bayi kembarnya juga menyusul berada dalam satu ruangan dengan ibunya.
***
Begitu tiba di bandara Soekarno Hatta, Clara langsung mengambil gawainya dan brrbiat menghubungi wanita yang ditunggunya.
Baru beberapa saat panggilan berdering, seorang wanita
dengan pakaian kaus stret warna navi dipadukan dengan celana pensil biru gelap dan flat shoes serta kaca mata hitam berjalan ke arah mereka, rambut lurusnya sebahu yang dibiarkan tergerai melampai-lambai diterpa angin sepoi-sepoi.
“Clara!” seru wanita itu, dan langsung memeluk wanita di depannya.
“Oh, Jeslyn. Aku menelfonmu, dan ini juga tersambung,” jawab
wanita itu sambil membalas pelukan wanita yang dijemputnya.
“Loh, iya kah? Aku mode silent. Jadi aku tidak tahu, ponsel
juga berada di dalam koperku,” sahut jeslyn dan hanya menyapa Vano dengan
senyuman saja. Untuk berbicara, ia merasa sungkan sendiri karena Vano cenderung
diam orangnya. Jadi, Jeslyn berfikir kalau Clara sangat pencemburu. Ya, wajar saja, suami tampan kaya dan baik, siapa yang tidak cemburu dengan suami yang
seprti itu?
Johan yang menyebalkan bak iblis saja dia masih cemburu, dan tukang
selingkuh alagi.
Ketiganya pun masuk ke dalam mobil dan langsung menuju rumah
sakit.
memulai pembicaraan.
“Kita memiliki cucu kembar perempuan, mereka xsangat lucu
dan cantik-cantik.”
Mendnegar jawaban itu, tiba-tiba saja dada Jeslyn merasa
sakit. Ia kembali terngiang oleh ucapan peramal cinna yang ia temui di tample tujuh bulanan yang lalu.
“Ra, maafkan aku jika aku lancang beranin ngomong begini,
mungkin aku tidak berhak. Tapi, aku melakukan ini demi kebaikan anak-anak kita
dan juga kedua cucu kita. Percayalah, aku mebuang Al ke panti asuhan karena apa
kurasa kau juga tahu dan jika kau ragu, kau bisa mencari informasi dendiri ke
Sigapura. Aku beri tahu kontak mantan suamiku,” ucap Jeslyn sambil menangis.
Padahal ia sudah berusaha kuat agar tidak sampai menitikkan air mata.
“Apa, Jes? Iya. Kami semua percaya sama kamu. Jika pun aku
yang berada dalam posisimu juga akan melakukan hal yang sama. Katakan apa yang
ingin kau katakana jangan di pendam.” Clara memandang lekat wajah wanita di
sebelahnya, mata dan seluruh wajahnya memerah karena isakannya.
“Sebenarnya sejak kejadian itu, aku sempat melupakan Al.
tapi, tujuh bulan yang lalu aku datang ke temple dan bertemu dengan seoran
peramal cina. Ia mengatakan ada dua keturunanku akan binasa jika tidak satu
dari mereka diselamatkan. Aku bingung, siapa? Tapi, setelah kupikir-pikir
barulah aku teringat dengan Al. apalagi, selama kehamilan Queen juga tidak
terdetesi, bukan kalau ia mengandung anak kembar?”
Clara diam, ia sudah bisa meperkirakan apa yang kan terjadi
nanti. Dalam dunia ini karma benar-benar ada, yang membunuh akan terbunuh yang
membinasakan juga kelak akan dibinasakan. Mengingat siapa Al dulu, jelas ia
memiliki banyak musuh. Jadi, bisa saja, tak bisa menghabisi dia, musuh
menggunakan ketururnannya.
“Than, what you want to do?”
(Lalu, apa yang ingin kau lakukan?) tanya Clara dengan
tatapan kosong lurus ke depan.
“Mai I bring one of our grandchild? I will protect her
identity. After all, nobody knew that Al was my son.”
__ADS_1
(Bolehkan aku bawa salah satu cucu kita? Aku akan jaga
identitasnya. Lagi pula, tidak ada yang tahu kalau Al adalah putraku.)
“Bagaimana, Van?” ucap Clara melibatkan suaminya.
“Kita tidak ada hak atas mereka, Sayang. Bicarakan saja
nanti dengan Al dan Queen.
“Van, akumohon, kau boleh tidak mepercayai ramalan, karena
dalam agamamu itu di larang. Tapi, tidakkah kau juga tahu banyak
ramalan-ramalan yang juga tidak meleset dalam membaca sebuah masa depan? Kita
tidak perlu mengimani hal itu. Cukup jaga diri untuk kejadian terburuk.”
“Kita berdua akan mendukungmu. Nanti, atau besok saja, kita
bicarakan semua ini dengan ayah dan ibu si bayi.”
Vano pun sebenarnya juga bingung dengan ini. Baru saja dia
senang dengan memiliki cucu kembar dan membayangkan akan bermain dengan
keduanya mulai dari kecil, menjadi anak-anak sampai dewasa nanti malah harus
terpisahkan.
‘Ya Tuhan. Apakah ini rencana yang sudah kau siapkan
sebelumnya dengan menutupi salah satu bayi yang ada di kandungan putriku? Guma
Vano dalam hati.
Ketiganya pun hanya diam sampai mereka tiba di rumah sakit.
Sebenarnya Jeslyn juga sudah menyangka akan seperti ini jadinya jika ia
mengatakan yang sesungguhnya, serta apa maunya. Tapi, jika tidak disampaikan,
ini sudah akan menyangkut masa depan keturunannya juga. Jika memang semua
masih bisa di cegah, kenapa tidak?
Lagi pula, siapa yang akan tega memisahkan anak dan ibunya
kalau bukan karena terpaksa dan demi kebaikannya?
Setiba di rumah sakit, mereka bertiga sedikit canggung.
Jeslyn juga belum apa-apa sudah merasa bersalah duluan pada Al dan juga Queen.
“Selamat ya sayang atas kelahiran putri kembarmu,” ucap nya
sambil mencium kedua pipi menantunya.
“terimakasih mami. Kau apa kabar?”
“Seperti yang kau lihat, Sayang. Mami baik-baik saja.”
Lalu, wanita itu menatap ke arah Al dan beranjak menghampiri
putranya, “Sayang, selamat, ya? Kini kau sudah menjadi seorang ayah,” ucap
Jeslyn sambil memeluk putranya.
Setelah menyapa semuanya, termasuk kakek Andreas, Jeslin
mendekati dua box bayi yang berjajar di sudut kamar, ia meperhatikan kedua
cucunya yang sangat cantik dan lucu-lucu itu. Kemudian memandang ke arah Al dan
juga Queen, lalu air matanya pun tanpa terasa mengalir lagi.
Ia tak tega mebayagkan bagaimana sakitnya mereka terpisah
dengan salah satu putrinya. Meskipun sebelumnya mereka juga tida tahu kalau
akan memiliki anak kembar, tetap saja.
Naluri sbegai orang tua akan sakit dan sedih jika mengalami ini.
Jeslyn mengangkat salah satu cucunya dan menggendongnya, sambil
mengajaknya bicara, sebagai lampiasan rasa suka citanya atas kelahiran cucu
pertamanya. Karena kedua kakanya Al yang ia asuh bersama mantan suaminya dulu
juga masih belum memiliki anak. Bahkan, salah satu dari mereka berdua juga
belum ada yang menikah.
“Hay, cucu ama yang cantik… ikut ama ke Singapura, Yuk salah
satu dari kalian, agar ama tidak kesepian,’ ucap Jeslyn.
Kedengarannya memang seperti sebuah candaan. Tapi, memang
begitu lah keinginannya. Ia memang ingin mengajak salah satu dari mereka pergi
agar aman. Tapi, sejauh ini, Jeslyn tidak tahu, siapa sebenarnya putranya di
masa lampau. Yang ia ketahui, Putranya yang dulu bayi dan masih merah, kini
sudah menjadi pemuda dewasa yang tampan, hebat dan berkedudukan tinggi.
Jeslyn menatap Al yang tengah duduk di sebelah istrinya, ia
tersenyum seorang diri sambil mengayun-ayunkan salah satu cucu kembarnya.
‘Lihatlah dirimu, Al. kau yang dulu mami taruh di pagar panti
masih bayi dan merah kini sudah menjelma menjadi pemuda tampan dan
berkedudukan. Tak sia-sia pengorbanan mami, menangis tiap malam dan selalu
meminta pada tuhan agar kau selalu dilindungi dan sehat, ternyata tuhan telah
mengabulkan doa mami. Kau diadopsi orang baik dan murah hati, sudah memberikan
segalanya padamu, dan masih memberi mami hak penuh untuk menemuimu kapanpun
mami mau,’ batin Jeslyn di tengah-tengah lamunannya.
__ADS_1