
Karena hari minggu tidak pernah ada acara, dan selalu merasa
bosan. Bilqis sebenarnya rindu dengan Berlyn, sudah lama sekali dia tidak
bertemu. Sejak dia pergi ke Singapura, ia tak pernah lagi bertemu. Sebab,
setelah kembali dari sana, adik kecilnya tinggal di rumah kakek dan neneknya terus. Ingin
sekali dia bermain ke rumahnya. Tapi, ia yakin, kalau hari minggu Berlyn pasti
keluar dengan papa dan mamanya. Ia tak ingin mengganggu, atau merusak suasana kebersamaan itu.
Setelah beberapa menit berdiam diri di depan televisi yang ia
putar asal tanpa melihat apa acaranya, ia teringat dengan Axel. Tanpa mengabari
terlebih dahulu, gadis itu bersiap untuk pergi ke rumahnya. Lagi pula, ada Adriel dan juga tangte Novi. Kalaupun ia dicuekkan oleh Axel di sana, dia bisa lah bermain dengan adiknya dan mamanya Axel.
“Ma, aku mau keluar dulu, ya?” teriak gadis itu pada mamanya yang
tengah mengecek laporan keuangan dari beberapa outlet roti dan cakenya.
“Kau mau ke mana, Sayang?” jawab Nayla tanpa mengalihkan
tatapan matanya dari lembaran berkas yang ada di tangannya.
“Mau ke rumah tate Novita. Ke mana lagi? Aku kan anak muda
yang hanya bergaul dengan wanita tua, dan anak-anak layaknya baby sister,” jawab Bilqis dengan nada melas.
“Kenapa tidak bermain dengan Tiara? Bukankah kalian cukup dekat dan akrab?” usul Naylam
“Dia bekerja, Ma.”
Nayla meletakkan lembaran kertas di tangannya. Ia heran,
memang bekerja apa anak seusia itu. Sekalipun ia tampak sudah dewasa, tapi, Tiara masih kelas satu SMP, kan? Usianya pasti juga tidak beda jauh dengan Bilqis, putrinya.
“Kerja? Kerja apa, dia?”
“Nanti saja aku akan cerita sama mama, oke? Sekarang izinkan
aku dulu pergi ke rumah tante Novi, bye Mama.” Gadis kecil itu pun mencium pipi mamanya dan berlari ke luar.
Sesampainya di rumah Axel, tante Novita lah yang membukakan
pintnya. Ini adalah kali kedua. Seperti biasa, wanita itu selalu menyambutnya dengan ramah.
“Eh, Bilqis! Mari masuk lah! Apakah kau mencari kak Axel?”
tanya wanita itu sambil duduk di depannya.
“ya, kalau tidak ada, kan ada tante sama Adriel, di rumah
bosan, Tante. Mungkin enak ya kalau memiliki saudara seperti kak Axel. Biasanya juga main sama Berlyn. Tapi, dia sering tinggal bersama kakek dan neneknya.”
Novita hanya tersenyum mendengar ucapan gadis kecil itu.
“Jika kau ingin bermain ke sini, kemarilah tak usah sungkan-sungkan. Pintu rumah tante terbuka lebar untukmu, Bilqis.”
“Terimakasih Tante. Maaf, jadi curhat gini, kak Axel dan Adriel ada di mana, Tan?”btanya Bilqis.
“Adriel ada di rumah, kalau Axel dia tengah keluar dengan omnya.”
“Ke mana, Tan? Apakah lama?”
“Tante sendiri juga tidak tahu, soalnya dia cuma bilang ajak
omnya keluar sebentar ke suatu tempat. Mungkin sebentar lagi mereka juga kembali."
Bersamaan dengan jawaban Novita kepada Bilqis, sebuah mobil
berwarna putih masuk ke halaman rumahnya. Novita mendongak melihat ke luar. Ternyata yang datang adalah mobilnya Candra.
“itu mereka sudah datang,” ucap Novita.
Bilqis juga ikut melihat ke luar. Bilqis mengedipkan matanya
berkali-kali. Dia tahu siapa pemilik mobil rush tersebut. Apakah dia tak salah lihat? Batinnya.
“Itu mobil om Candra, bukan?” ucap Bilqis tanpa sadar.
“Iya, kak Axel keluar bersama om Cndra tadi,” jawab Novita,
wajahnya memancarkan sebuah kebahagiaan yang tak dapat terlukiskan oleh kata-kata.
Bilqis diam tertegun. Saat tante Novi barkata kalau Axel
keluar dengan omnya tadi dia mengira kalau om Alex lah yang di maksut. Tapi, ternyata malah om Candra. Bagaimana mungkin? Tapi, sesaat kemudian ia tertawa jail diam-diam. Dalam kepalanya berfikir, jika dengan Candra yang ia benci saja
bisa akur dan berdamai, masa dengan dia yang tidak ia benci sama sekali tidak bisa cinta? Bukankah cinta itu datang karena terbiasa?
“Aku pulang. Novi… Bilqis, kau ada di sini?” sapa Candra
begitu melihat ada tamu yang juga ia kenal berada di dalam rumah tersebut.
“Iya, Om. Om Candra apa kabar?” sapa gadis yang beranjak remaja itu dengan ramah.
“Om baik, lalu, kau sendiri bagaimana? Lama tidak ketemu, ya?”
“Om Candra deh, kayanya yang njarang ke sini,” jawab Bilqis,
enteng.
“Oh, iya, ya? Hahaha sampai lupa begini.”
“Om Candra!” sapa seorang bocah berusia enam tahun tersebut
dan berlari memeluknya.
“Adriel! Hey, good boy jam berapa kau bangun tadi, ha?
Katanya semalam kau begadang, ya?” ucap Candra sambil mengecup pipi bocah itu.
“Iya, Adriel tidak bisa tidur sampai jam satu,” jawab Adriel polos.
Candra diam tertegun, 'kenapa bisa sama, begini, ya?’ batinnya.
“Ndra, Axel mana?” tanya Novita, membuyarkan lamunan pria
berusia tiga puluh tujuh tersebut.
“Eh, iya duh, kenapa bisa lupa begini, ya?” ucap Candra
sambil menepuk jidatnya sendiri.
Sementara Novi dan Bilqis melihat ke pada pria itu menunggu
jawaban yang keluar dari bibirnya untuk mengetahui keberadaan Axel yang tidak ikut pulang bersamanya.
“Tadi Axel mengajakku ke makan mendiang papanya, dia juga
mengajakku ke makan sepupunya. Anaknya Alex, kata dia. Pas di sana, kami bertemu dengan pak Al dan juga bu Queen. Axel ikut bersama mereka pergi ke mall
bersama putrinya. Ini aku di suruh jemput kalian jika kalian ingin pergi ke
sana, kita bisa menyusulnya,” jawab Candra panjang lebar.
“Apa, ke mall om? Kita bisa main ke time zone donk! Mau om
aku mau,” ucap Adriel antusias.
“Baik, kalau begitu kau bersiap dulu, ya?” Candra menurunkan
Adriel dari gendongannya.
Bocah berusia enam tahun itu langsung berhambur pada mamanya
minta digantikan pakaian. Mungkin juga sekalian mandi. Sebab, kelihatannya ia juga seperti baru bangun tidur, terlihat sekali kalau wajahnya masih kucel dan masih mengenakkan piyama.
Candra melihat ke arah Bilqis yang berada di sampingnya.
“Bilqis, sekalian ikut, yuk!” ajak Candra pada gadis yang terkesan memiliki
ambisi untuk mengejar calon anak tirinya yang besar itu.
“Beneran boleh, Om?” tanya Bilqis meyakinkan. Ia takut, geer
duluan ternyata Cadra hanya berbasa-basi saja.
“Tentu saja. Kenapa tidak? Bukankah kau cukup dekat dengan putri pak Al dan bu Queen?” jawab Candra.
“Mau, Om. Mau banget, makasih ya Om?” ucap Bilqis. Ia sangat
bersyukur akhirnya bisa bertemu dengan Berlyn juga setelah beberapa minggu tidak bertemu. Rasa kangennya akan terobati nanti.
Tiga puluh menit kemudian, Novita dan Adriel sudah kembali,
mereka berdua sudah siap untuk pergi.
“Bilqis, bagaimana kalau kau ikut saja? Katanya kau tadi
kangen sama Berlyn, kan ini kesempatan kamu untuk bertemu dengannya. Dari pada
dia nanti kembali ke rumah kakek dan neneknya dan kau tidak dapat bertemu lagi nanti,” ajak Novita pada gadis yang mulai beranjak dewasa itu.
“Iya,Tante. Bilqis mau banget, om Candra juga ngajakin
Bilqis barusan.” Terlihat jelas sekali bagaimana raut wajah Bilqis yang sangat semringah. Kebahagiaannya tak dapat lagi ia sembunyikan.
Akhrinya, mereka pun berangkat berempat. Bilqis duduk di
kursi belakang bersama Adriel sambil bercengkrama. Memang pada dasarnya Bilqis
sangat menyukai anak kecil. Jadi, kalau pun nanti ia mendapat bagian menjaga dua anak sekaligus, Belyn dan juga Adryl ia tidak akan masalah. Apalagi, ditemani Axel. Memang dia berharap begitu.
Begitu memasuki area parkir mall. Novita langsung chat Queen
dan juga Axel putranya, untuk menanyakan mereka berada di mana sekarang. Setelah mendapatkan info kalau mereka berada di time zone menemani Berlyn bermain
lempar bola basket dengan Axel.
Novita, Candra beserta Bilqis dan Adriela pun langsung
menuju ke sana dan langsung bertemu dengan Queen. Tak hanya Axel dan Berlyn
saja yang nampak semagat bermain, bahkan Al pun juga terlihat nampak
bersemangat sekali bermain demi mendapatkan sebuah voucer yang bisa di tukard engan hadiah.
Memang, hadiahnya tidak lah seberapa. Jika pun mereka ingin,
mereka juga bisa membelinya dengan mudah. Tapi, ada kesenagan tersendiri saja saat di dapat dari berusaha keras dari sebuah permainan yang menyenangkan.
“Berlyn,” gumam Bilqis lirih. Dengan semangat gadis itu
mengajak Adriel menghampiri balita kecil yang ia anggap seperti adiknya
sendiri.
“Berlyn!” panggil gadis itu sambil menyentuh Pundak balita
berusia lima tahun tersebut.
Dengan sangat antusias, Berlyn yang melihat Bilqis langsung
memeluknya, andai dia bisa berbicara, pasti ia sudah berkata kalau ia sangat
merindukan Bilqis. Tapi, kata-katanya terhalang oleh keterbatasan yang ia
milikki.
“Kak Bilqis sangat merindukanmu, Berlyn. Apakah kau juga
merindukan kakak?” teriak gadis yang mulai beranjak remaja itu dengan kencang. Karena area di time zone sangat bising. Jadi, untuk berbicara saja harus sedikit berteriak.
Dengan senyuman yang ceria serta mata berbinar, Berlyn
mengangguk beberapa kali dan mencium pipi kakak yang tengah menggendongnya.
“Bilqis, kau juga ikut? Bagaimana bisa kebetulan banget?”
sapa Queen pada anak tiri suaminya.
“Tadi, aku bermain ke rumah kak Axel, Ma. Kata tante kak
Axel keluar sama om Candra, saat om Candra kembali, ia tidak bersama kak
Axel. Katanya kak Axel ikut mama Queen dan juga papa Al ke sini, dan aku diajak.”
“Oh, tumben kau mau di tempat seperti ini, apa karena… “
Sebelum Queen menyelesaikan kalimatnya untuk menggoda
Bilqis, gadis itu langsung memotong kalimat mantan madu mama kandungnya itu.
“Aku kangen sama Bilqis, Mama Queen. Sejak seminggu sebelum ke Singapura bahkan
aku tidak bertemu dengannya sama sekali,” jawab gadis itu.
“Oh, iya. Mama Queen tahu itu. Jelas kau aja sangat
merindukannya. Lalu, ada tidak yang kau rindukan selain Berlyn?” goda Queen.
“Ya Mama dan papa Al, lah.” Jawab Bilqis malu-malu. Ia tidak
menyangka sama sekali kalau mama Queen bahkan tahu mengenai bagaimana dirinya
yang tengah berusaha mengejar Axel. Mana Axel selalu cuek dan dingin tak
memberi sedikitpun harapan padanya, sungguh, malu-maluin.
“Ya sudah, ayo kita main bareng saja yuk!” ajak Queen.
Tanpa terasa, sampai jam satu siang mereka asik bermain
hingga tak ingat waktu. Padahal, salah satu dari mereka pun belum ada yang
makan siang. Untung Queen segera sadar. Jadi, ia memanggil suaminya dan mengajak semuanya untuk berkumpul makan siang bersama di food courd.
Sambil menunggu pesanan, Al mengingatkan Bilqis untuk izin
pada mamanya. “Bilqis, kau sudah izin mamamu apa belum?”
__ADS_1
“Sudah kok Pa. sama mama diizinkan selama tetap bersama kalian,”
jawab gadis itu.
“Ini kak Nay chat aku, Al. dia menaykan apakah benar Bilqis
ikut bersama kita atau tidak,” timpal Queen.
“Ya kamu kirim saja foto Bilqis pada Nayla,” ucap Al.
“Sudah, kok.”
Tanpa terasa, mereka semua bermain hingga larut. Pukul enam
sore, mereka memutuskan untuk segera pulang, karena bsok adalah hari senin. Al, Queen dan juga Candra mulai bekerja, sementara anak-anak juga mulai bersekolah.
“Bilqis, kamu naik mobil mama dan papa saja, ya? Biar kami
yang mengantarkanmu pulang," ucap Al.
“Baik, Pa. terimakasih,” jawab Bilqis, kemudian menggendong
Berlyn yang sudah terlihat nampak sangat ngantuk sekali itu menuju ke tempat parkir.
Tidak lama mobil melaju meninggalkan area mall, Berlyn sudah
terlelap di pangkuan Bilqis. Queen melihat Berlyn dan Bilqis dari spion tengah mobilnya. Melihat Berlyn anteng, Queen bertanya pada Bilqis yang tengah memangku purinya sambil bermain hp.
“Berlyn kok anteng, Bilqis? Apakah dia tidur?”
“Iya, Ma. Mungkin dia ngantuk dan juga kelelahan setelah
sehari bermain dan tidak tidur siang sama sekali.”
Queen diam tidak menjawab. Lalu, Al ikut menimpali. “Nanti
kalau Bilqis sudah tiba di rumahnya, kamu pangku dia duduk di deoan sini saja,” ucap Al.
“Iya, Sayang,” jawab Queen sambil menyentuh lengan Al dan
memandang lelakinya dari samping yang tengah fokus mengemudikan mobil.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah masuk ke area
perumahan di mana Bilqis dan mamanya tinggal.
“Sudah sampai,” ucap Queen, ia juga ikut turun dari mobil,
menggendong putrinya dan membiarkan Bilqis turun.
“Mama Queen dan Papa Al tidak mau masuk dulu?” ucap Bilqis
pada dua orang dewasa itu.
“Ini sudah malam, besok kami juga harus bekerja. Lain kali
saja, ya?” salam buat mama mu, apakah dia tidak di rumah?” jawab Queen sambil
melihat ke rumah yang terlihat sepi.
“iya, Mama berada di salah satu outlet rotinya, Mama Queen.”
“Ya sudah, masuklah, hati-hati, ya? Jangan sembarangan
membukakan pintu untuk orang asing,” pesan Queen yang khawatir pada Bilqis.
“Iya, Ma. Mama juga bawa kunci rumah sendiri kok,” jawab Bilqis.
Mulanya Bilqis baru akan menutup pagar setelah Al dan Queen
meninggalkan tempat itu. Tapi, Queen meminta agar Bilqis segera masuk ke dalam, mengunci pagar dan pintu rumahnya, barulah mereka akan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Tiba di rumah, Queen langsung membaringkan putrinya pada
kamarnya sendiri, setelahnya, ia masuk ke dalam kamarnya. Barulah wanita itu segera masuk ke dalam kamarnya sendiri. Tanpa membaringkan tubuhnya, ia
langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menyiapkan air hangat pada bath up.
Al menghampiri istriny yang duduk di tepi ranjang sambil
menunggu bath upnya terisi oleh air hangat.
“Apakah kau capek, Sayang?” tanyanya sambil memijati kedua
Pundak Queen.
“Lumayan, kamu baik banget sih mau mijitin aku?” timpal Queen sambil tersenyum manja menatap mata suaminya.
Al tidak menjawab, ia mengecup bibir istrinya.
“Aku mau mandi dulu, siapa tahu setelah mandi badanku terasa
enteng,” timpal Queen sambil beranjak ke dakam kamar mandi. Al yang sudah mandi lebih dulu, hanya tersenyum saja melihat istrnya. Ia membaringkan tubuhnya sambil membaca buku untuk menunggu istrinya keluar.
Tapi, belum sampai Queen selesai mandi, Al justru malah
terlelap duluan. Mungkin dia kelelahan karena saat di time zone dia bermain
dengan Adriel dan Berlyn sangat over, bahkan bermain adu dance bersama Axel dan Bilqis juga.
Setelah mandi, Queen mendapati suaminya sudah terlelap
dengan sebuah buku yang beberapa hari ini menjadi bahan bacaannya berada di atas dadanya.
Wanita itu tersenyum dan mengambil buku tersebut perlahan, kemudian
meletakkannya di atas nakas.
Karena hawanya dingin, Queen mematikan ac ruangan yang tadi
Al nyalakan, karena dia tidur dalam keadaan telanjang dada. Setelahnya, ia berbaring di samping Al, melatkkan kepalanya pada dada bidang pria itu dan sebelah tangannya diletakkan diatas tubuh suaminya. Keduanya pun tidur berpelukan sepanjang malam. Meskipun ini baru pukul setengah delapan, mereka smua sama-sama terlelap karena kelelahan.
****
Pertukaran musim hujan ke kemarau memang membuat hawa atau
udara menjadi dingin. Tak hanya di tempat Queen saja, di kediaman Alex pun juga sama. Terlebih di tempat Novita yang memang lingkungannya sangat asri. Jelas lebih dingin.
Malam itu, sambil menunggu suaminya pulang, Zahara menikmati
satu mug susu hangat dan biscuit kusus ibu hamil, ia membuka jejaring social IG-nya, sambil menunggu suaminya pulang.
Baru saja ia membuka IG, postingan teratas langsung muncul milik keponakan dari suaminya. Axel. Pria remaja itu memposting foto selpi
dirinya dengan Berlyn di time zone, ada pula foto Queen bersama mamanya, Novita yang sepertinya dari hasil jepretannya ia memfotonya secara diam-diam saat makan
di food court. Dengan caption, “Akhirnya, bertemu juga, sudah beberapa bulan aku merindukannya, tak disangka berjumpa di tempat yang tak pernah kuduga juga.”
Membaca caption dari postingan Axel keponaksnya, seketika
Zahara langsung meradang. Ia merasa, kalau dirinya sebagai istri kedua dari omnya tidak begitu diterima oleh Axel.
Tangan kanan yang semula memegang mug berisi susu yang sisa
setengahnya saja, langsung ia letakkan di atas meja dengan kasar oleh wanita
itu. Dengan kesal, ia meninggalkan begitu saja biscuit dan juga susu itu ke
dalam kamarnya.
mencari istrinya. Setelah seharian aktifitas melatih fisik dan melatih bebrapa orang yang ingin diet serta membentuk tubuh, Ia merasa cukup kelelahan. Melihat
Zahara tidur miring membelakanginya, ia berharaap kalau istrinya belum tidur,
sebab, biasanya Zahara kan menunggunya meski sampai larut sekalipun. Sejak
hamil, dia tidak ernah bisa tidur tanpa ada Alex di sampingnya.
“Sayang, apakah kau sudah tidur?” sapa Alex sambil duduk di
tepi ranjang.
Tak ada jawaban dari wanita tersebut. Tapi, dari hembusan
napasnya, Alex tahu sekali kalau Zahara masih belum tidur. Tapi, kenapa dia diam? Jika memang ia ngambeg, apa salahnya? Pikir Axel.
“Sayang… aku bawakan sesuatu untuk kau, bangun, yuk! Kita
makan bareng.”
Zahara masih diam tak ada jawaban, Alex perhatikan pundaknya
bergetar, sepertinya ia menangis. Apa yang ia tangiskan? Apakah dia rindu
dengan umiknya dan juga anak-anak panti? Tidak ada henti-hentinya Alex memutar pikiran menebak apa yang terjadi sebetulnya. Sebab, ia juga tidak merasa berulah yang membuat hati istrinya sakit hingga menangis.
Karena tak juga ada jawaban, Alex memegang pundaknya dan
menariknya ke belakang perlahan, ia juga naik ke atas ranjang untuk melihat istrinya.
“Kamu kenapa, Ra?” tanya Alex lagi.
“Aku tidak apa-apa. Kau jika lelah cepatlah tidur, aku cuma
lelah saja,” jawab wanita itu menghindari tatapan mata Alex.
“Ra, kamu ngomong dong sama aku. Kalau kau diam, mana mungkin aku bisa ngerti apa yang kamu mau?”
“Kamu mau aku ngomong, Lex? Oke aku ngomong sekarang,
sebagai istri kedua aku tidak pernah diterima oleh keluargamu, ayah ibumu,
bahkan kaka dan juga keponakanmu masih menganggap Queen lah yang istrmu, papa
mamamu masih mengangganya menantu, bahkan lebih dari itu. Sudah lama kalian
bercerai, dari cara berbicaranya melalui telefon juga seperti ngomong pada anak
sendiri. Bahkan kak Novi, ia masih anggap Queen adalah adiknya seniri,
bagaimana bisa? Al yang membunuh suaminya, ayah dari kedua anaknya, kenapa istri pemunduh masih dianggap begitu baik? Apa karena mereka kaya dan memiliki segalanya?” teriak Zahara sambil berusaian air
mata.
Alex diam, ia berusaha menghirup napas dalam-dalam dan
menghembuskannya dengan kasar melalui mulut, tubuhnya bergetar menahan gejolek emosi yang sepertinya sudah naik di atas ubun-ubun. Dalam hati tak ada habisnya pria itu beristifar agar tidak terpancing emosi.
“Iya, kan? Axel juga bahkan sangat menyayangi dia dari pada
aku? Karena ia hampir jadi ibu tirnya, tapi, akhirnya dia jadi tentenya. Tak
peduli apa, yang penting Queen sekalipun menjadi piala bergilir setelah dimilikki papanya , lalu omnya.”
“Zahara, kau ini wanita berpendidikan dan memilikki ilmu
agama yang tinggi. Apakah pantas bagimu mengatakan hal seperti itu pada sesama wanita? Apa sih masalhamu sebenarya? Bukankah kau tahu, yang bisa bercerai itu
suami istri. Yang ada mantan suami dan istri, mantan anak, menantu dan mantan ipar itu tidak ada. Jadi wajar kalau hubungan mereka dengan Queen masih baik-baik saja dan terjaga sampai sekarang.
“Bahkan kau juga mendukungnya, kan? Aku tahu, kau bercerai
dengannya juga karena Helena dan Aditya, kakak iparmu. Jika tidak, mungkin kau tidak menikahiku, mungkin masih tetap bersamanya dan memiliki anak lagi denagnnya. Jika memang kau masih cinta sama dia, kenapa, saat kau mendapatkan lagi kesadaran mu kau tak ajak dia rujuk?”
"Aku tidak ajak Queen rujuk karena aku sudah tak mencintainya lagi. Aku tidak peduli dengannya. Yang penting adalah kau, istriku."
Alex memeluk Zahara di tengah-tengah emosinya, ia berusaha
keras memaklumi dan mengerti kalau ia tengah hamil, dan wanita hamil itu sama dengan wanita yang tengah pms emosinya, sangat labil.
“Sudahlah, kan mereka, yang penting aku adalah suamimu dan
yang kucintai sakarang adalah kau,” ucap Alex, berusaha bersabar dan meredam
emosinya.
“Kau tak tahu rasanya jadi aku, Lex. Aku merasa diasingkan
padahal akulah yang menantu dan istrimu yang sekarang. Apakah karena Queen anak orang kaya dan dia seorang dokter? Sementar aku?”
“Zahara, satu pun dari keluargaku tak ada yang membanding-bandingkan anatara kau dan dia, kau sendirilah yang membandingkan
dirimu dan dirinya. Papa mama, kakak dan juga keponakanku menerimamu dengan baik, dan kau sendiri pula yang merasa tidak diterima oleh mereka. Harusnya kau berfikir, sebelum Queen menjadi istriku, Axel sudah mengenalnya lebih dulu
sebagai murid sekaligus teman papanya, mereka sering bermain berdua, belajar bersama, wajar, kan kalau dia merasa rindu demgan Queen? Dari tadi aku berusaha
bersabar sama kamu, tapi kamu tak ada hentinya menyerangku, Zahara. Maumu itu apa? Kurang apa aku sama kamu selama ini? Apa perlu aku minta pada keluargaku untuk tidak berhubungan dengan Queen
lagi kerena kau tidak menyukainya?”
Akhirnya, luapan emosi pun keluar, meskipun Alex masih bisa
menahannya. Tapi, tetap saja, kesabaran yang dimiliki pria itu akhirnya habisn juga, dan menunjukkan kemarahan pada wanita berhijap putih tulang itu.
Zahara masih terisak. Ia tahu dan sadar apa yang dikatakannya juga salah. Tapi, ia tidak bisa menahan sakit hatinya Ketika melihat Axel sangat dekat dekat dengan Queen dan bahkan di postingannya mengatakan kalau dirinya rindu padanya. Tapi, dengannya sendiri selama
bertahun-tahun menikah dengan Alex, pria remaja itu biasa saja.
“Kurasa kau butuh ketenangan dulu untuk berfikir. Aku akan
tidur di sofa luar saja. Segera lah tidur jangan sampai kelewat malam. Itu
tidak baik untuk Kesehatan janin kita,” ucap Alex datar lalu meninggalkan kamar tersebut.
Tiba di ruang tengah, bibi pengurus rumahnya menghampiri Alex
untuk menanyakan biskuait dan susu hamil milik Zahara yang belum Zahara
habiskan padanya
“Den, ini bagaimana susu dan biskuitinya? Apakah non Zahara
masih mau memakannya lagi atau tidak?” tanya bibi.
Alex yang merasa pening dan kepalanya berat, langsung
berbaring dan menutupi kepalanya dengan lengan sebelah kanannya sambil berkata,
“Tanyakan saja padanya, Bi. Dia masih mau makan apa tidak, jika tidak, tolong buang saja!”
Merasa kalau majikannya tidak dalam keadaan baik-baik saja,
bibi pun langsung meninggalkan Alex dan pergi menuju kamar Zahara.
__ADS_1
“Tok... tok… tok! Non Zahara, apakah anda masih mau dengan
susu dan biscuitnya?” tanya bibi dengan suara sedikit lantang.
“Buang saja, Bi. Saya tidak mau,” jawab Zahara dari dalam.
Dari suaranya yang sendu, sepertinya ia baru saja menangis.
“Baik, Non.” Wanita paruh baya itu pun beranjak pergi meninggalkan kamar majikannya dan membersihkan bekas susu dan biscuit milik Zahara tadi yang berda di meja ruang keluarga.
Sementara Alex, di sana terlihat kalau memejamkan mata.
Tapi, ia tidak terlihat sedang tidur. Hanya sekedar memejamkan mata berharap bisa segera terlelap.
Bibi menarik napas dalam-dalam dan mengehmbuskannya panjang
sambil menggelengkan kepalanya saja. Dalam hati, ia merasa sangat kasian dengan majikannya yang sejak kecil sudah ia temani, bahkan, sudah seperti anak sendiri.
“Kasian sekali, den Alex. pernikahannya yang sekarang jadi sering bertengkar, lain dengan saat masih dengan Nona Queen dulu, adem melihatnya, mereka sangat akur. Kukira dulu Non Zahara juga akan seperti itu, ternyata tak
beda jauh dengan Helena. Tak tahu lelaki pulang kerja sudah capek malah diajak berantem,” gumam wanita itu sambil mencuci gelas dan piring.
Setelahnya ia pun masuk ke dalam kamarnya. Karena masih
belum larut, wanita itu kembali keluar dan naik ke atas, memisah pakaian korot sesuai warna untuk dicuci besok.
**
Pagi harinya, Alex sudah berusaha berdamai dengan dirinya
sendiri, disapanya Zahara yang duduk di depannya saat di meja makan.
“Selamat pagi, Sayang. Aku minta maaf, ya jika semalam aku
terbawa emosi, aku lelah,” ucap pria itu. Bahkan, sekalipun ia tidak bersalah, dia dulu yang meninta maaf pada istrinya.
Zahara meraih mug berisi susu hamil rasa coklat yang memang
disiapkan untuknya. Ia menyerutpunya perlahan, menikmatinya seolah tak ada yang mengajaknya bicara. Seolah dia sendiri di meja makan.
Alex menghela napas panjang sekali lagi. Diambilkannya roti,
diolesnya dengan pasta kacang dan memberikannya pada Zahara. “Kamu makan, gih. Kacang bagus untuk daya ingat anak, agar anak kita kelak menjadi anak yang cerdas dan pintar,” ucap Alex sambil mengulurkan roti itu pada istrinya.
“Aku eneg tiap hari makan selai kacang, aku mau seley nanas saja,”
jawab Zahara.
Kembali, pria itu menarik napas dalam, di rumah ini tidak
pernah sekalipun menyediakan seleai nanas. Tapi, kenapa Zahara malah mencari itu? Padahal
di meja sudah tersedia selai stowbery, coklat, dan melon selain kacang.
“Ya sudah, kalau kamu eneg, biar aku saja yang memakannya,” jawab Alex.
Mereka berdua makan satu meja berhadapan tanpa sepatah kata
pun. Tak ada obrolan dan canda tawa, semuanya hambar.
“Aku ingin bertemu dengan umik nanti,” ucap Zahara dengan
nada datar.
“Kapan kamu mau ke sana? Biar aku antar kau,’' jawab Alex
yang sudah merasa lelah mengalah.
“Bagaimana kalau sekrang? Apakah kau bisa antar aku?”
Alex mengangguk, dan mengambil secangkir kopi di depannya dan
meneguknya. “Kau siap-siap saja, aku akan mengantarkanmu.”
“Aku sudah menyiapkannya semalam,” jawab Zahara.
“Ya sudah, aku antar sekarang.” Alex beranjak mengambil kunci mobil dan langsung menuju garasi untuk memanaskan mobil.
Tak lama kemudian, Zahara menuju mobil dengan tas tangannya,
sementara di belakangnya, bibi pengurus rumah berjalan menuju mobil sambil membawa koper.
Sebenarnya Alex sendiri terkejut kenapa Zahara membawa
barang sebanyak itu. Apakah ia ingin tinggal lama di rumah umiknya? Padahal awalnya dia cuma mengira, pagi ke sana, sore sudah kembali untuk sekedar menenangkan
pikirannya saja di sana dengan mendengarkan tausiah dari umik, dan bermain dengan anak-anak panti.
Alex diam tak mau berbicara dari pada diabaikan terus. Toh selama
ini juga dia banyak mengalah. Dia akan menemani jika Zahara ingin dia tinggal di rumah umiknya. Tapi, jika tidak, dia akan pergi menemui kakanya.
Selama perjalanan mereka pun juga sama-sama diam. Tidak berbicara
apapun sampai tiba di rumah umik.
Dengan cepat dan cekatan, Alex mengeluarkan koper milik
Zahara dan membawanya masuk ke dalam.
Dengan gerakan sedikit lemah Zahara mengetuk pintu rumah tersebut tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membuka pintunya dan menyambut dua anak muda tersebut dengan senyumannya yang teduh menyejukkan hati.
"Alex, Zahara. Kalian datang kemari? Masuklah!" sambutnya dengan wajah yang berbinar.
Masih dengan tampang yang datar Zahara masuk lalu duduk di sana, sementara umi Fathiya
langsung masuk ke dalam membuatkan minum untuk anak dan menantunya.
Zahara yang biasanya menyusul umiknya dan membantu membuatkan minuman juga diam saja di tempat. menunduk sibuk dengan hp nya. Alex yang berada di sampingnya juga tidak digubris.
Alex terus memperhatikan istrinya sampai nyaris tidak
berkedip. Tapi, yang diperhatikan hanya diam, acuh tak acuh menganggap seolah Alex tidak sedang berada di situ.
Umi Fatya kembai dari dalam membawa nampan berisi dua gelas
teh hangat untuk Alex dan Zahara.
“Umi, kok repot-repot, sih?” ucap Alex pada ibu mertuanya.
“Cuma teh saja, Lex. Repotnya di mana?” sahut umi Fatiya.
Meletakkan dua teh tersebut di depan Alex dan Zahara.
“Zahara, kamu kenapa?” tanya umi Fatiya dengan lembut. Ia
merasa ada yang tidak beres dengan putrinya.
“Tidak apa-apa, Mi,” jawab Zahara, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar sentuhnya.
Umi Fatiya diam, bibirnya memang menunjukkan senyuman. Tapi,
raut wajahnya tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
Alex mulanya masih diam. Tapi, saat dua sanpai tiga kali umik
mengajak bicara, dan Zahara masih saja acuh tak acuh, Alex pun angkat bicara.
“Zahara, aku berusaha bicara denganmu kau abaikan tidak
apa-apa. Walaupun aku suamimu, setidaknya tidak iktu sakit dan susahnya mengandung kamu selama Sembilan bulan, tidak bertaruh nyawa untuk melahirkanmu ke dunia, dan tidak pula lelah merawatmu. Tapi, kenapa saat ibumu berbicara kau
bisa acuh tak acuh begitu? Apakah itu sopan? Kau disekolahkan tinggi-tinggi
Pendidikan umum dan agama, apakah seperti ini akhlakmu yang sebenarnya?” ucap Alex mulai geram.
Zahara meletakkan ponselnya di atas meja, dan berkata pada
Alex
“Kamu kenapa, sih ikut
campur dengan kami? Umik tidak mempermasalahkan sikapku. Tapi, kau yang membesarkan masalah,” ucap Zahara dengan kesal.
“Aku suamimu, Zahara, berhak atas dirimu,” jawab Alex dengan
tangan yang mengepal erat dan tubuh bergetar karena menahan amarah.
Karena kesal, Zahara pergi meninggalkan ruang tamu dan masuk
ke dalam. Sementara umik Fatiya bingung, harus bicara degan menantunya dulu,
atau mengejar Zahara putrinya dulu.
“Nak, Alex. apakah
kalian ada masalah? Tunggu di sini sebentar, ya Nak?” Wanita paruh baya itu pun berlari mengejar putrinya.
“Zahara, ada apa sebenarnya denganmu dan nak Alex?
kandunganmu sudah besar, sebentar lagi anak kalian akan segera lahir, tidak baik jika terus-terusan berantem begini. Emosimu mempengaruhi kondisi janin yang kau kandung,” ucap umik Fatiya dengan lembut.
Zahara hanya diam dan menangis sesenggukan. “Aku tidak
apa-apa, Umik. Minta Alex untuk pergi saja. Dia boleh kembali nanti, atau kapan jika dia ingin kemari,” ucap Zahara sambil menyembunyikan wajahnya pada bantal.
Karena putrinya masih belum mau berbicara, umi Fatiya pun pergi menemui Alex yang ada di ruang tamu.
“Maaf, Nak Alex. bukan maksut umik ikut campur masalah
kalaian. Tapi, sebagai orang tua, mungkin umik bisa ambil jalan tengahnya. Kalian ini sudah akan menjadi orang tua. Masa akan terus seperti ini?” ucap umi
Fatiya dengan sangat berhati-hati. Agar tidak menyinggung menantunya.
“Saya sudah berusaha sabar dengan Zahara, Umik. Dia terlalu
posesif dengan mantan istri saya. Dia marah kerena melihat postingan keponakan saya di ig, foto bersama Berlyn, putrinya Al dan Queen. Sebagai istri saya, dia merasa kurang diterima karena mereka masih berhubungan baik dengan Queen. Padahal, semua juga menerimanya dengan sangat baik.”
Umi Fatiya menghela napas panjang. Ia tahu, kalau menantunya
sangat sabar dan menyayangi putrinya selama ini. Jika sudah seperti ini,
artinya memang Zahara yang berlebihan.
“Lalu, bagaimana dia kemari tadi, Nak Alex?” tanya wanita
itu, pelan dan lemah lembut.
“Saat sarapan Zahara saya ajak bicara selalu diam. Tiba-tiba
ngomong ingin ke tempat umik. Saya menyanggupinya. Saya tanya kapan, dia minta sekarang. Saya pikir dia hanya sekedar berkunjung saja. Tapi, ternyata dia malah minta bibi bawakan koper besar. Tapi, saya diam saja.”
“Ya sudah, kamu yang sabar, ya Lex. Kalau kamu ada urusan,
kamu bisa tinggal dulu Zahara di sini. Biar umik bantu bujuk dia.”
“Terimakasih, Umik.” Pria itu pun berpamitan dan berjabat
tangan mencium tangan ibu mertuanya.
Umik Fatiya mengantarkan Alex sampai depan gerbang. Setelah
mobil ferarry warna kuning tersebut lenysp dari pandangan. Wanita paruh baya yang mengenakan hijab syar’I tersebut masuk ke dalam. Ia kembali menemui Zahara.
“Alex sudah pergi. Apa masalahmu sebenarnya dengan suamimu?”
Zahara masih bertahan pada posisinya. Mirirng dan memeluk
guling membelakangi pintu kamar.
“Kenapa kamu jadi sering bertengkar sekarang ini?”
Zahara diam tidak menyahut.
“Padahal, jika umik lihat, Alex itu baik, dan sayang banget
sama kamu. Dia kuga sangat sabar.”
“Maafin aku, Umik. Aku yang salah, aku yang kesal dengan
diriku sendiri dan Alex hanyalah orang yang kena imbasnya,” ucap Zahara sambil terisak.
“Kenapa memangnya? Bicaralah sama umik. Siapa tahu, kita
bisa sama-sama temukan solusinya.”
“Aku, selalu merasa sesak jika melihat Queen. Kenapa orang
lain selalu menyanjungnya dan menyukainya? Mertuaku, ipar dan keponakan Alex semua menyukainya, tiak peduli dengan perasaanku,”
“Tidak peduli bagaimana, maksud kamu? Apakah dia membandingkan antara kau dan Queen?”
Zahara mengelngkan kepalanya.
“Lalu, kenpa kau berfikir demikian? Kalau mereka masih berhubungan baik dengan Queen, apa salahnya? Bukannya yang bisa bercerai itu
hanya suami istri? Mertua dan ipar tidak? Karena tidak ada Namanya mantan adik, sekalipun itu ipar, dan tak ada mantan mantu, atau mertua.”
“Kenapa dada ini terasa nyesek saat melihat Queen begitu
dekat dengan keluarga suamiku, Umik? Apa karena aku tidak sedekat itu dengan dia? Apakah aku terlalu jaim?” keluh Zahara dalam isakannya.
“Karena, di dalam hatimu ada ambisi mengalahkan Queen. Kau
ingin menjadi yang paling terbaik. Jadi, kau merasa sakit hati kalau Queen masih berhubungan dengan mereka. Hilangkan rasa itu di hati kamu, Zahara.”
Zahara diam. Ia berusaha mencerna apa yang umiknya katakan. Selama
ini dia kenal baik dengan Diaz, dan faham betul bagaimana kehidupan keluarga Diaz yang religius. Sangat berbanding terbalik dengan kehidupan pribadi Queen. Saat
ia dekat dengan Alex, dia memang merasa lebih dari Queen dalam segala hal. Terlebih
usianya juga lebih dewasa dari Queen bahkan Alex sendiri. Jadi, ia merasa kali ia akan lebih baik dan mereka bersukur Alex bercerai dengan Queen karena mendapatkan ganti yang jauh lebih baik. Tapi, nyatanya tidak. Queen tetaplah Queen yang baik tanpa menjelekkan Zahara.
Benar apa yang umiknya katakana, ia merasa sakit hati jika keluarga Alex masih menganggap Queen adalah wanita baik. Itu terjadi karena dia Inging Queen itu tidak baik dan tak paham agama, beda dengan dirinya.
"Astaghfirullah... " Zahara menangis seorang diri. Penyakit hati di dalam dirinya dirinya sendiri lah yang menciptakan.
"Zahara. Segeralah meminta maaf pada suamimu. Kau berkata Alex ikut campur seperti itu tidak pantas. Kau tahu, bukan. Baik buruknya seorang istri itu tergantung suami. Jika kau terus tetap begini, Alex di cap orang gagal dan tak bisa bimbing istinya sendiri."
"Iya, Umik. Aku yang salah. Aku harus minta maaf padanya," ucap Zahra.
Melihat putrinya sudah terlihat tenang, wanita paruh baya itu pun pergi meninggalkannya ke dapur. Membantu para anggota lain untuk menyiapkan makan siang untuk anak-anak panti.
__ADS_1
Sementara Zahara sendiri masih ragu dan bimbang untuk menghubungi Alex. Sekarang, ataj nant? Diangkat apa tidak kira-kira?