
Queen turun dari taxi tepat di depan kantor Al. Ia mendongak melihat gedung tinggi yang terpampang di hadapannya seraya bergumam, "Bahkan aku baru saja dilantik menjadi dokter, tapi aku langsung terjun ke di bidang yang tak ada kaitannya dengan kesehatan. Haaaah.... Kakak cuma satu, sibuk terus lagi."
Quen berjalan masuk ke area kantor. Semua mata memandang ke arahnya. Entah, kagum sinis atau benci. Yang jelas dari para wanita tak ada yang menyukai dirinya. Yah, itu tidak akan jadi masalah baginya.
"Selamat siang Bu dokter!"
Quen menoleh ke belakang. Ia melihat Juna yang tengah berdiri dan tersenyum padanya.
"Eh, kamu, Kak. Apa kabar?" Sapa Queen sambil menerima uluran tangan dari Juna, serta sedikit memberikan pelukan dan saling cium pipi.
"Maaf ya gak bisa hadir. Dapat tugas di mana?"
"Belum tahu juga kak. Biasanya dokter baru selalu diletakan di pelosok negeri," jawab Queen sambil keduanya berjalan beriringan.
***
"Apa, dia seorang dokter? Yang benar saja?" tukas Iren begitu mendengar informasi dari salah satu rekannya.
"Ya, aku lihat sendiri pak Juna tadi memberikan ucapan selamat. Bocah itu juga nampak mengenakan mekap yang lumayan tebel, loh. Tau sendiri biasa ya dia selalu tampil dengan kecantikan alaminya."
"Stop, Sil! Kau berani mengatakan kalau ada wanita yang lebih cantik dariku?"
"Sudahlah Ren, semua cantik gak usah merasa dirimu yang paling cantik, sebab, berapa tahun kau bekerja di sini sekalipun pak Al tak pernah melirikmu," ucap Sila.
"Ok, lah. Kau benar. Aku masih kalah dari bocah itu," ucap Iren dengan emosi.
Sementara Queen berhenti persis di depan ruangan Al.
"Sudah masuk sana, aku mau ngerjain tugas dulu," ucap Juna.
"Baik, kak. Makasih, ya?" Queen melambaikan tangan sambil tersenyum pada Juna. Dan ia pun membuka pintu.
Di dalam ruangan ia melihat Al yang nampak serius menatap ke arah laptopnya. Ia tersenyum melihat kakaknya yang bahkan tak menyadari kedatangannya.
"Kak," ucap Queen. Cukup membuat pria itu terkejut.
"Sayang, sejak kapan kau di sini?" ucap Al sambil menggeret kursi putarnya.
"Baru saja. Kakak serius banget, sih?"
"Maaf, Minggu depan kakak mau ke Jepang. Kamu mau ikut?" tawar Al sambil menatap ke arah Queen yang sudah tidak lagi mengenakan jilbabnya.
__ADS_1
"Kakak sendiri saja ke sana. Siapa nanti yang jaga kakek kalau aku ikut?"
Al berdiri dan memeluk Quen sambil berbisik di dekat telinga Quen.
"Terimakasih pengertiannya, sayang."
Al melepaskan pelukannya, dan bertanya, "Kamu mau diadakan pesta seperti apa untuk merayakan hari ini?" tanya Al lagi.
Queen diam, awalnya ia inginkan pesta makan malam di restoran mahal sekaligus menagadakan reuni SMA tapi, tiba-tiba bayangan wajah sang nenek terlintas. Ia mengurungkan keinginannya itu, ia menginkan mengadakan tasyakura di panti dan memberi hadiah pakaian dan mainan untuk anak-anak panti di mana Al dulu di asuh.
Al memperhatikan raut wajah Quen lalu mencium pipinya. "Kenapa diam?'
"Kakak tidak kangen sama umi Fatiya?
Al menaikan sebelah alisnya, lalu bertanya, "Apakah kau ingin ke sana?"
Queen mengangguk sambil tersenyum.
"Kapan kita akan ke sana?" tanya Al.
"Saat kita mengadakan perayaan," jawab Quen.
🍁🍁🍁
"Helena, tidak bisakah kau diam sesaat? Aku pusing melihatmu seperti ini terus," ucap Aditya.
"Bagaimana aku bisa diam, Dit? Kau bilang pengaruh hipnotis Alex itu permanen, dan hanya akan bisa hilang kalau orang itu sendiri yang menghilangkannya. Tapi, kenapa Alex tidak mau menceraikan Quen?"
"Lalu apa dengan begitu kau mengira pengaruhnya sudah hilang?"
"Ya...tidak, sih. Cuma aku merasa Alex suka sama Queen."
"Makanya, buat dia benci dengan wanita itu. Lagipula sudah kuberi tahu kamu sebelumnya agar segera memisahkan keduanya. Ya ini ya g kutakutkan." Cetus Aditya.
Helena menatap tajam pada Aditya. Tiba-tiba saja merasa jengah dengan pria di depannya. Ia mengambil handbacknya dan bergegas untuk pergi. Tapi, dengan cepat pria itu menahannya.
"Kau mau kemana? Sudah selama ini aku membantumu tapi mana usahamu agar aku bisa bersama Queen bahkan tidak ada?"
"Hentiakan Dit! Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Jika Queen sudah resmi bercerai dengan Alex bukankah itu baik?"
"Ya, tapi aku mau saat dia masih menjadi istri orang. Seperti halnya dirimu bisa bersama Alex saat ia masih menjadi suami dari wanita lain."
__ADS_1
"Itu urusanmu aku tidak mau tahu. Bukankah aku sudah bilang jika aku gagal kau bisa menggunakan tubuhku? Dan aku sudah berkali-kali melakukannya denganmu," ucap Helena marah.
"Kau jangan macam-macam, ya? Aku punya semua rekaman yang kita lakukan dan kita bicarakan. Mulai dari rekaman telfon dan bukti chat, berani kau macam-macam aku beber kebusukanmu!"
Helena diam sesat ia mendengarkan suara rekaman dari obrolan telfon antara dia dan pria yang kini tengah menjambak rambutnya.
Ia baru sadar, kenapa setiap kali ia membahas mengenai Alex dan Queen pria itu lebih banyak diam dari para menimpali. Dan saat ia meminta janjinya justru malah terkesan pasif. Dan harus Helena yang agresif begini.
Jelas, hal itu memberi kesan Helena memaksa Aditya agar menghancurkan hubungan Alex dan Queen dengan imbalan tubuhnya.
Merasa jengkel Helena berusaha meraih barang bukti di ponsel Aditya. Tapi, lagi-lagi ia gagal dan kalau cepat dengan pria itu.
"Berani kau melawan atau menentangku? Lihat saja. Aku dokter Aditya, bisa dengan mudah membuatmu busuk di penjara. Dan dengan begitu sekalipun Alex tak ingat akan pernikahannya, dia akan membencimu dan sadar kalau Queen adalah gadis terbaik yang sudah dimilikinya. Apalagi benih-benih cinta di akal barunya juga mulai tumbuh, kan?"
Aditya menghempaskan tubuh Helena di lantai kamar hotel itu dan menyeringai.
"Pergi dan pikirkan bagaimana agar aku bisa dengannya sebelum ia resmi bercerai atau semua ini akan terbongkar, hahaha."
Pria itu tertawa terbahak penuh dengan kemenangan karena mampu mengelabui Helena yang merasa hebat tapi polos di matanya.
Setelah Helena pergi meninggalkan kamar, tawa Aditya terhenti ketika sebuah panggilan dari Novita membunyikan layar sentuh pada genggamannya.
Ia duduk sejenak menstabilkan pernapasannya agar terdengar santai karena habis tertawa yang cukup mengeluarkan tenaga. Minimal ia harus nampak tenang.
"Halo sayang, kau belum tidur? Di mana Axel putra kita?" jawab Aditya terdengar sangat manis seolah dia suami dan ayah yang baik untuk keluarganya.
"Dia baru saja tidur, kaku rencana di Bogor berapa hari Dit? Kapan kembali ke Jakarta?"
"Besok siang juga pulang, kenapa? Kamu kangen sama aku sayang?" Goda Aditya pada istrinya dengan sangat mesra.
"Kamu sering sibuk akhir-akhir ini. Bahkan aku lupa kapan terakhir kali kita berlibur bersama."
"Ok, kamu mau kita pergi ke mana sayang? Berdua saja, atau dengan Axel?" ucap Adit dengan sedikit berbisik sehingga terdengar sexy bagi wanita yang tengah berbicara dengannya di seberang sana.
"Ah, terserah kamu. Axel biar sama ortuku gak masalah, kan?" jawab Novita tak kalah manja saat mendengar suara suaminya yang begitu sexi dan sensual.
"Ya sudah, kau tidur saja sayang ini sudah malam," ucap Adiitya bermaksud mengakhiri pembicaraan.
"Ya, kamu juga cepet istirahat ya Dit. Byee!"
Ya, bye... Mcuah"
__ADS_1
Aditya pun mematikan panggilannya dan terpampang wallpaper ponselnya adalah foto Quen dan dirinya dulu yang diam-diam masih disimpannya.
"Bagaimana pun caranya aku pasti bisa dapatin kamu, kalau tidak sebagai istri, minimal simpananku," ucap Aditya dengan sombongnya dan penuh percaya diri.