
Begitu tiba di
apartemen, Al langsung menelfon anak buahnya menanyakan tugasnya sudah dilaksanakan atau belum. Tak
lupa ia juga menanyakan Vico, dan ternyata dia sudah pergi ke Jepang sejak
tigapuluh menit setelah ia perintahkan untuk menyelidiki, siapa sebenarnya yang
berani membuat anak buahnya berkhianat menyerahkan identitas aslinya sebagai
orang biasa selama di tanah air.
Al melihat sekeliling, ia tidak menemukan Queen di sekitar
situ, ia berfikir kalau wanita itu berada di dalam kamarnya. Merasa terlalu
bosan sendirian berada di ruang tamu, ia pun berjalan menuju kamar Queen. Al
tersenyum ketika menarik ganggang pintu rupanya tidak terkunci. Al mengedarkan pandangannya pada kamar kosong
yang tertata rapi itu. Kemudian dari arah toilet, terdengar suara pintu
terbuka, bersamaan dengan itu, muncul sosok wanita dengan rambut terurai basah
dan hanya berlilitan dengan kain handuk berwarna putih.
“Sayang! Kenapa kau mandi duluan? Apakah begitu gerah,
sampai kau tak sabar menungguku untuk mandi bersama?” ucap Al sambil terkekeh,
berjalan perlahan mendekati wanita itu yang menunjukan ekspresi marah dan
menatap tajam padanya.
“Heh, keluar sana!” bentak Queen saat Al sudah mulai dekat
dengan dirinya.
“Keluar? Keluar di mana sayang? Keluar di dalem? Hehehe.”
Queen matanya kian membelalak mendengar jawaban ambigu dari
Al yang dia rasa sangat tidak sopan. Perlahan ia melangkah mundur, tangannya
meraba-raba di atas nakas mencari apapun benda yang dapat digunakan untuk
melindungi diri.
“Kau mau apa?
Pergilah!” teriak Queen saat melihat Al mulai melepaskan satu persatu kancing
kemejanya.
“Kenapa kau panik begitu? Tentu saja aku akan membuatmu
kotor agar kita bisa mandi bersama. Ayuk kita mulai sekarang!”
“Dasar! Kau tidak waras.” Queen berhasil meraih spry
penghahhrum ruangan dan menyemprotkan tepat pada wajah Al, kemudian ia segera
berlari keluar kamar. Mulanya ia hendak keluar apartemen. Beruntung dia segera sadar
kalau dia hanya memakai handuk saja.
“Hehehe, dugaanku tidak akan pernah meleset, kan Sayang? Kau
tak akan berani lari keluar apartemen dengan keadaan telanjang seperti itu.
Ayo, kemarilah! Kita cari kringet bareng!” Al yang sudah bertelanjang dada itu
pun membuka kedua tangannya hendak memeluk tubuh wanita yang ada di depannya.
Baru saja ia mendapatkan tubuh itu dalam pelukannya. Ponsel
miliknya yang ia geletakkan di atas meja berdering. Sebenarnya enggan mengangkat. Tapi, ia khawatir kalau itu adalah Vico.
“Aegh… Sialan!” umpatnya, dengan raut wajah suram, Al
menjawab panggilan itu.
“Halo, apakah di rumah ada masalah?” jawabnya dengan nada
marah saat tahu siapa yang menelfonnya.
“Mas, kamu ada di mana?” jawab seorang wanita dari seberang
sana.
“Kenapa? Bukan urusanmu!” cetus Al.
“Kau pulanglah, Mas! Om Hans dan tante Eren akan kembali ke
luar negeri segarang. Sementara Hanifah entah kemana dia juga tidak bisa
dihubungi.
“Baiklah!” Al pun mematikan panggilan pengganggu itu, tahu
begini, dia tak angkat saja panggilan itu. ‘Gagal, deh, sialan,’ umpatnya dalam
hati.
“Sayang, aku harus kembali, mengantarkan om dan tante kita
menuju Bandara, dan sepertinya aku juga harus bicara sama kakek mengenai
hubungan kita.” Al mengecup kening Queen dan kemudian pergi meninggalkan
apartemennya.
Queen mengusap keras keningnya yang baru saja dikecup Al, ia
merasa jijik dengan pria itu, sampai-sampai ia ke westafel untuk mencuci muka.
Masih dalam balutan handuk dan tanpa pakaian apapun, tiba-tiba ia
teringat akan sesuatu. Dengan segera ia bergegas mengambil tasnya dan mengambil
benda kecil berwarna putih kira-kira panjangnya tak sampai satu jengkal
jarinya. Dengan buru-buru, ia segera ke kamar mandi. Lima menit kemudian ia
merasa lega saat melihat hanya ada satu garis berwarna merah pada alat
tersebut.
Queen meghembuskan napas lega dan merebah, kemudian ia
berpakaian piyama dan memesan makanan via online untuk makan malamnya karena ia
sudah mulai merasa lapar.
Sambil menunggu orderannya tiba, ia iseng-iseng membuka
IG-nya. Baru saja dia online sudah melihat postingan Hnaifah makan malam di
rumah Diaz, duduk berdekatan dalam satu meja. Queen merasa sesak, ia pun
akhirnya memblokir semua jejaring social media Diaz dan juga Hnaifah bahkan
juga nomor wa dan juga selulernya.
Namun, untuk meminta penjelasan kepada Diaz dan mengajaknya
untuk kembali melanjutkan hubungan dengannnya dan meninggalkan Hanifah dia
sudah tak ada lagi keberanian. Selain dia minder dia seorang janda sementara
status Hanifah adalah gadis, Al telah merampas segalanya. Benar apa yang Al
katakan. Diaz menerima ia apa adanya sekalipun dia seorang janda. Tapi, hal itu
tidak akan menjamin ia akan tetap mau kalau ia tahu apa yang sudah Al lakukan
kepadanya semalam. Terlebih ada banyak bekas kepemilikan di area leher juga
dadanya yang sepertinya tak hilang sampai jangka waktu sepekan.
Wanita itu menangis dan merasa lelah dengan semua yang
dihadapinya. Kakek dan kakak yang teramat ia banggakan malah kini sungguh
sangat mengecewakan. Keinginan untuk bunuh diri pun ia sudah tidak ada, hati ya sudah mati dan tak
lagi memiliki kepercayaan terhadap siapapun. Selain kepada dirinya sendiri.
Pandangannya terhadap Al juga tak lebih dari seorang ******** saja, kebaikan
yang Al lakukan selama bertahun-tahun semua musnah tak lagi terlihat, bagaikan
susu sebelangga rusak karena nila setitik.
***
Begitu tiba di rumah, Al langsung menemui kakek Andrean.
Sekalipun beliau tak ada apapun yang ingin dibicarakan dengannya, Kali ini dia
lah yang ingin membicarakan sesuatu pada sang kakek.
“Kau sudah pulang, Al? sapa kakek Andrean, sambil
melemparkan senyuman begitu ia melihat cucunya sudah tiba.
“Kek, ada yang ingin Al bicarakan dengan kakek.”
“Apa, Nak? Duduklah dan bicaralah dengan baik, ada apa?”
“Apakah Nayla ada di rumah?” tanya Al sambil mengedarkan
pandangannya ke seluruh ruangan.
“Tidak, dia baru saja keluar mengantarkan Bilqis ke dokter.
Kenapa?”
“Aku mau nikah sama Queen secepatnya kek. Aku perlu
perlengkapan data dirinya untuk diajukan ke KUA,” ucap Al, langsung main too the point saja, membuat pria tua yang duduk di atas kursi roda tersebut tertawa
geli melihat ulah cucu angkatnya ini.
“Kamu yakin dengan keputusanmu, Al?”
“Tentu saja, Kek. Apakah Kakek meragukan ketulusanku? Aku
akan menjaga dan mencintainya sepenuh hati.” Jawaban itu rupanya sukses membuat
kakek Andrean terkekeh.
“Lalu, bagaimana dengan Nayla istrimu? Apa dia terima
dipoligaami?”
__ADS_1
“Jangan beri tau hal ini kepadanya. Cukup Kakek yang menjadi
wali, Diaz, Hanifah, Juna dan Gea yang menjadi saksi pernikahan kami di KUA nanti.”
Tanpa sepatah katapun, Andrean melajukan kursi rodanya
menuju ruang baca dan membuka lemari penyimpanan, ia mengambil berkas-berkas milik Queen termasuk
akta kelahiran, dan akta janda untuk dijadikan sarat untuk mengurus pernikahan. Sementara
surat izin pada kepala daerah setempat, pri tua itu menyerahkan semua kepada
Al. Bahkan di sana kakek Andrean juga sudah memberi foto copy KTP dan pas
foto milik Queen.
"Apa ini, Kek? tanya Al. sambil memegangi amplop sebesar map yang baru saja diberikan kakek Andrean.
"Kau buka saja, sepertinya itu bukti restuku, dan kedua kakek nenekmu yang ada di alam sana."
Al dengan penasaran dan nampak tergesa-gesa membuka isi amplop itu dan melihatnya. kemudian ia tersenyum dan memeluk kakeknya. Berkali-kali dia mengucapkan ucapan terimakasih pada kakeknya.
🍁🍁🍁
Diaz, ini sudah malam. Kmau antar Hanifah pulang, ya? Kasian
kalau cewek pulang sendiri malam-malam begini. Kalau nanti ada apa-apa
bagaimana?” ucap Umik Halimah. Membuat Diaz kian dongkol saja.
Satu masalah belum selesai kini malah muncul satu lagi.
Kesalah pahaman dengan Queen juga gara-gara menuruti permintaan umiknya. Dengan
berat hati pun Diaz menuruti. Bukan karena tidak tega dengan wanita jadi-jadian
yang beesamanya. Melainkan, ia memang tidak terbiasa menolak kemauan Umiknya.
“Di.. Makasih, ya kamu sudah mau antaraku,” ucap Hanifah
memulai pembicaraan, memcah sunyi.
“Jangan kau pikir aku melakukannya karena apa. Aku hanya
ingin berbakti kepada umikku saja. Satu malasah belum selesai, gara-gara kamu
muncul lagi masalah baru antara aku dan Queen. Kau yang sadar diri Hanifah!
Wanita yang aku cintai itu bukan kamu. Tapi saudarimu.”
“Hanifah meangis mendengar ucapan kasar dari pria yang
selama ini ia kenal sebagai sosok pria yang baik dan lemah lembut. Ia bahkan
tak menyangka bagaimana dalam sekejab ia bisa berubah sekasar ini. Tapi, berkat
semangat yang kakek Andrean berikan, dan apapun yang sudah digambarkan beliau
sebelum ia kemari, ia dapat bertahan dan terus menunjukan sikap tenang
sekalipun, kedua sudut netranya sudah mengalir deras buliran bening membasahi
kedua pipinya.
Sambil tersenyum, Hanifah menjawab, “Aku tahu bagaimana
perasaanmu, Di… Kau pasti kecewa aku tahu itu. Tapi, aku yang sudah sejak dulu
mencintaimu dan terlanjur memiliki ikatan denganmu aku tidak mau melepaskanmu
begitu saja, aku ingin terus hidup besama denganmu. Dari dulu, aku sudah tak
rela jika kau harus denga yang lain, sekalipun itu bersama Queen. Izin kan aku
mencintaimu, Di… dan beri aku kesempataan, cobalah kau terima aku di hatimu,
agar kau juga tidak sakit.”
“Lihatlah dirimu! Betapa tidak tahu malunya sekali kau
berbicara demikian? Kau hanya memikirkan perasaanmu saja, tanpa peduli dengan
perasaan Queen. Salah apa sih dia sebenarnya sama kamu? Kenapa kamu teganya
berbuat sepeerti itu kepadanya?”
Hanifah terisak, ia tak dapat lagi menyembunyikan
tangisannya. Percuma ia tersenyum, dan menahan suara tangisnya, itu hanya
membuat hatinya merasa kian sakit. Tapi, jika ia berteriak dan menangis kencang
pun juga tak ada guna lagi.
“Kau tahu kenapa aku seperti ini dan berubah jadi wanita
takt ahu malu? Karena dari dulu aku terbiasa sendiri. Memiliki orang tua
lengkap hidup hanya dengan pengasuh dan pembantu saja. Karena mereka terlalu
sibuk dengan karir mereka masing-masing. Sementara Queen... Dia memiki orang tua
lengkap uyang lebih memprioritaskan anak-anak serta kakek nenek yang selalu di
rumah. Kak Al yang selalu ada buat dirinya dalam situasi kritis sekalipun. Kau
tahu kenapa aku tak lagi pedulikan dia? Jika kau tak dengannya masih ada kak Al
yang akan selalu menjaga dan menyayanginya.”
Merka saudara kandung. Tidak bisa hidup bersama seperti itu.”
“Oh, ya? Kurasa kau tidak tahu sesuatu,” ucap Hanifah.
Setelah mengatakan itu, gadis itu hanya diam, ia berharap kakek Andrean berada
di teras dan melihat kedatangannya bersama Diaz agar ia sendiri yang mengatakan
hubungan antara Al dan Queen.
Begitu keduaya sampai, mereka memasuki rumah yang pintunya
terbuka lebar. Di sana ada Al dan kakek Andrean seperti tengah mendiskusikan
sesuatu. Tapi, ada kalimat yang diucapkan Al yang Diaz tangkap, yaitu, “Mungkin
ini akan butuh waktu sebulan konfirmasi dari pihak KUA, setelah itu, aku tidak
akan menundanya lagi, Kek. Biarkan kami menikah dan menjadi bahagia kelak.”
“Siapa yang akan menikah dalam waktu satu bulan?” tanya
Diaz, begitu ia tiba. Ia benar-benar bingung. Awalnya sempat berfikir kalau Al
mengatur jadwal pernikahan untuk dirinya dengan Hanifah. Tapi, di akhir kalimat
dia berkata kami. Kami siapa? Bukankah Al sudah punya istri?
“Oh, dokter Diaz. Kemarilah, sebenarnya aku tidak mau kasih
tahu sama kamu. Tapi, berhubung kau sudah mendengar peprcakapan kami, entah
sejak kapan kau berdiri di situ aku juga tidak tahu, maka, kuberi tahu. Aku dan
Queen akan segera menikah,’’ ucap Al dengan gantlenya.
“Bagaimana mungkin kalian bisa menikah? Bukankah kalian ini
saudara?” tanya Diaz, bingung. Saat ini dia tidak hanya bingung. Namun juga meragukan pendengarannya.
“Coba kemarilah lihat ini, surat ini akan menjelaskan
segalanya, kau dan aku sama-sama bisa menikahi Queen. Tapi, aku tidak akan
biarkan itu terjadi.”
Diaz menerima kertas tebal yang sudah delaminating dari
tamngan Al. Pria itu terbelalak kaget begitu membaca apa yang tercantum di
sana, meskipun awalnya ia tidak percaya. ‘Apa, dia hanyalah anak yang diadopsi oleh
kedua orang tuanya Queen?’ batinnya.
Al menarik dengan kasar kertas itu dari tangan Diaz sambil
berkata, “sudah jelas bukan? Baiklah aku akan tidur saja, aku terlalu lelah
akhir-akhir ini, besok aku akan mengurus semua ini. Kau jangan lupa datang di
acara akhad-an kami, ya?”
Diaz hanya membeku seolah tidak percaya dengan kenyataan
yang baru saja ia lihat. Bagaimana mungkin bisa? Bahkan selama ini Queen juga
sangat tertutup pada siapapun, kepadanya saja juga tidak pernah berkata kalau
Al adalah kaka angkat. Ia jadi berfikir, kenapa saat Queen hilang, Alex seolah
jadi lepas tangan dan malah memberikan kesempatan kepadanya untuk menyelamatkan
wanita itu? Dimana dirinya yang
mengajaknya bersaing dulu seolah hilang? Apa ini ada hubungannya dengan Al. Dia
membenci dan mengancam siapapun yang mendekati adiknya karena diam-diam dia
juga jatuh cinta padanya?
“Di… Diminum dulu, gih!” ucap Hanifah sambil meletakkan
segelas the hangan di depannya.
“Bagaimana kabar umik dan juga adik kamu Fatimah, Diaz?
Mereka sehat?” ucap kakek Andrean membuka percakapan.
“Alhamdulillah, semua sehat, Kek. Tapi, Fatimah dia sudah
kembali ke Bandung bareng bersama paman dan bib I kemarin,” jawab Diaz sedikit
tergagap saat ia baru tersadar dari lamunannya.
“Diaz, maafkan kakek, ya? Semoga kamu bisa menerima semua
ini dengan ikhlas, Kakek tidak benci sama kamu, kakek sayang sama kalian semua,
Kau, Al, Hanifah juga Queen semua adalah cucuku, Kakek merasa kalau kau lebih
pantas dengan Hanifah, semua hanya tinggal menunggu waktu. Percayalah, seiring
berjalannya waktu cinta itu juga aka nada dan muncul dengan sendirinya.”
“Apakah kakek tidak mempercayaiku untuk menjaga Queen?”
__ADS_1
“Tidak, Diaz. Bukan itu maksut kakek. Jalani saja dulu semua
dengan ikhlas kelak kau juga akan mengterti.”
Diaz melirik kea rah Hanifah yang hanya diam menunduk.
Mungkin dirinya yang pendiam pas jika disandingkan dengan Hanifah yang ceria
dan sedikit lasak itu. Sebab, mendiang abah, dan juga umiknya berkali-kali
berkata padanya kalau jodoh kita nanti tidak akan seperti kita, ya memanb pria
baik untuk wanita baik. Begitu pula seba;liknya, Tapi, meskipun sama-sama baik,
karakter jug tak harus sepenuhnya sama, bukan?
Merasa sudah larut malam, Diaz pun berpamitan pada kakek
Andrean. Nmaun, lagi-lagi pria itu masih tak bisa menerima Hanifah sebelum
mendapatkan keputusan dari WQueen.
**123
Tidak seperti biasanya, Queen kali ini ia bangun lebih awal
dari biasanya. Padahal dia jadwal praktek juga nanti sekitar jam setengah satu.
Karena ia bangun terlalu pagi, ia menggunakan waktunya untuk olah raga lari.
Awalnya dia tidak ingat dengan kondisi leher dan dadanya yang masih banyak
terdapat tato ciptaan Al. Jadi, ia mengenbakan pakaian santai. Beruntung,
ketika ia mengikat rambunya berdiri di hadapan cermin sambil melihat pantulan
dirinya di sana. Masih terlihat kebiruan dan sangat banyak. Jadi, ia pun mengganti
pakaian serba Panjang yang kiranya bisa menutupi leher.
“Haaaah, merepotkan, oke tidak apa-apa, dengan begini kan
minimal keringat yang didapat juga pasti akan lebih banyak, bukan?” gumam Queen
seorang diri.
Sekitar kurang lebih satu jam ia berlari menuju pasar
sekalian membeli bahan makanan seadanya dulu, yang kiranya ia tidak kesulitan
membawanya, terlebih dia juga tinggal sendirian di sana. selain jarak apartemen
dan pasar tidak jauh, ia sebenarnya juga sudah lama tidak melakukan olahraga
tersebut. Jadi, hanya satu kilo saja ia sudah capek. Mungkin ia bisa
membiasakan diri, meskipun ke rumah sakit berjalan kaki saja layaknya
orang-orang di luar negeri. Tidak akan naik kendaraan bermotor jika tidak jauh
banget atau menghadiri acara formal.
Sekitar pukul tujuh,
Queen sudah tiba di rumah, sambil menunggu keringatnya kering, ia menata
bahan-bahan makanan yang baru dibellinya di dalam lemari es. Begitu semuanya
beres, ia pun mandi, harusnya dia bisa sekalian masak. Tapi, ia paling tidak yahan dengan tubuh
lengket karena keringat. Terlebih ia mengenakan pakaian serba Panjang.
Usai mandi dan memakai pakaian santai, Queen langsung ke
dapur untuk membuat sarapan. Memang sudah jadi kebiasaanya kalau tinggal di
rumah sendiri dia kurang memperhatikan kesehatannya. Kalau lapar dan malas
untuk makan apapun, dia juga hanya makan apa yang kiranya bisa untuk mengganjal
pertunya. Tapi, kali ini dia ingin benar-benar masak makanan sehat rumahan
karena ada banyak waktu luang.
Kebiasaan Queen yang teledor tak selalu mengunci pintu rumah
ataupun kamar riupanya memang sudah akut. Sehingga ia tidak sadar ketika ada
seseorang membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya.
Tiba-tiba saja, dari belakang sepasang tangan kekar memeluk
pinggangnya. Belum hilang rasa terkejutnya, orang itu sudah menciumi tengkuk
juga telinganya sambil berbisik. “Sayang, kau sudah wangi saja sepagi ini?”
“Al! Apa yang kau lakukan sebenarnya? Lancang sekali kau?”
teriak Queen.
“Ssstttt… Jangan teriak-teriak, Sayang! Kamu yang tenang
dong.” Pria itu membalikkan tubuh wanita yang ada di dekapaannya menghadap
dirinya dambil tangannya merambat ke belakangnya dan mematikan aapi kompor.
“Mau apa kau? Pergi sana!”
“Pergi? Pergi kemana, Sayang? Mana mungkin aku bisa pergi
sebelum mendapatkan jatahku semalam? Itu karena Nayla yang tiba-tiba menelfonku
dan memintaku untuk segera pulang.” Al tak peduli apapun, ia terus menciumi
dada hingga leher wanitanya.
“Kau ini hyper atau apa siha? Bukankah kaun juga semalam
sudah melakukannya dengan istrimu?” ucap Queen sambil menampar pipi Al.
Al langsung mengentikan aksinya. Bukan karena ia ditampar,
kenapa kalau hanya tanparan ringan saja ia harus kaget? Bukankah Queen sudah
banyak melakukan ini kepadanya sejak malam itu? Jangankan ditampar dan dicakar,
dicekik sama dasi saja juga pernah.
“Jangan memandangku dengan pandangan aneh seperti itu!”
Al hanya tersenyum miring, kemudian memegang dagu Queen dan
mengarahkan ke hadapannya. “apa yang ada di pikiranmu sebenarnya, Sayang? Apa
kau menginginkan itu? Semalam aku belum puas menciumimu. Tapi, sepertinya kau
berfikir lain,” ucap Al sambil mengangkat tubuh wanita itu dan mendudukannya di
atas kitchen set.
“Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!”
“kalau aku tidak mau bagaimana?’’ ucap Al sambil melepaskan
dasinya, kemudian mengikat kedua tangan Queen.
“Al, apakah kau gila? Turunkan aku cepat!"
Lagi-lagi Al tidak menjawab selain hanya tersenyum miring
kemudian ia mendekatkan wajahnya di dekat telinga Queen sambil berbisik.
“Aku akan berangkat ke kantor, lebih baik dasiku saja yang
kusut dari pada kemeja dan jasku. Dan, ya... Aku akan menurunkan, tapi bukan kamu. Melainkan, celanamu. Hehehe.”
“Apa maksutmu?’’
“Apa? Ya apa yang ada dipikiranmu, donk!” Tanpa basa-basi Al
pun langsung ******* bibir Queen. Tak hanya itu, bahkan tangannya juga sudah
disispkan dibalik baju Queen dan bergerilya kemana-mana.
Hal seprti itu, selalu saja terjadi setiap hari, jika tidak
pagi hari, ya siang hari saat jam istirahat Al atau kapankun kira-kira Queen
ada di apartemen, Al selalu kabur dari kantor meninggalkan tugas melakukan
pekerjaan lainnya.
Tanpa terasa, hal itu sudah terjadi selama satu bulan,
selama itu, Queen merasa kalau ia telah menjadi budak nafsu Al, pria yang ia
kenal sebagai kakaknya. Tapi, faktanya berkata lain, saat ia SMA, entah kelas
berapa, ia baru tahu kalau dia anak angkat. Namun demikian ia terus
menganggapnya sebagai kakaknya sampai akhirnya malam itu terjadi, ia dilecehkan
dengan dalih mencintai dan ingin menikahinya.
Queen memegangi perutnya yang terasa kembung dan tak nyaman.
Akhir-akhir ini ia merasa kelelahan, selain jadwal dirumah sakit yang
ditambahkan, masih banyak hal-hal yang ia kerjakan di luar. Makan pun juga
semakin telat.
Tapi, yang ada dibenak Queen bukanlah ia maagnya kambuh.
Melainkan ia takut hamil.
Beberapa kali Queen membasuh wajahnya dan kemudian menatap wajahnya yang
terpantul pada cermin, dan kemudian, ia menunduk melihat alat tes kehamilan
yang sudah baru dia pakai sekitar lima menit yang lalu. Tapi, ia terlalu takut
melihat hasilnya, ia khawatir jangan-jangan garis merahnya ada dua.
Berkali-kali wanita itu menghela napas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya dengan pelas,
dan memaksakan diri untuk melihat hasilnya.
“Haaah… Akhirnya, untung saja aku negative,” kembali wanita
itu memegangi perutnya. Dengan cepat ia membuka laci yang ada di bawah wastafel
itu dan mengambil pil KB dan menelannya. Bgaimanapun, Queen tidak Ingin sampai
hamil.
__ADS_1