Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 207


__ADS_3

 Begitu tiba di


apartemen, Al langsung menelfon anak buahnya menanyakan  tugasnya sudah dilaksanakan atau belum. Tak


lupa ia juga menanyakan Vico, dan ternyata dia sudah pergi ke Jepang sejak


tigapuluh menit setelah ia perintahkan untuk menyelidiki, siapa sebenarnya yang


berani membuat anak buahnya berkhianat menyerahkan identitas aslinya sebagai


orang biasa selama di tanah air.


Al melihat sekeliling, ia tidak menemukan Queen di sekitar


situ, ia berfikir kalau wanita itu berada di dalam kamarnya. Merasa terlalu


bosan sendirian berada di ruang tamu, ia pun berjalan menuju kamar Queen. Al


tersenyum ketika menarik ganggang pintu  rupanya tidak terkunci. Al mengedarkan pandangannya pada kamar kosong


yang tertata rapi itu. Kemudian dari arah toilet, terdengar suara pintu


terbuka, bersamaan dengan itu, muncul sosok wanita dengan rambut terurai basah


dan hanya berlilitan dengan kain handuk berwarna putih.


“Sayang! Kenapa kau mandi duluan? Apakah begitu gerah,


sampai kau tak sabar menungguku untuk mandi bersama?” ucap Al sambil terkekeh,


berjalan perlahan mendekati wanita itu yang menunjukan ekspresi marah dan


menatap tajam padanya.


“Heh, keluar sana!” bentak Queen saat Al sudah mulai dekat


dengan dirinya.


“Keluar? Keluar di mana sayang? Keluar di dalem? Hehehe.”


Queen matanya kian membelalak mendengar jawaban ambigu dari


Al yang dia rasa sangat tidak sopan. Perlahan ia melangkah mundur, tangannya


meraba-raba di atas nakas mencari apapun benda yang dapat digunakan untuk


melindungi diri.


 “Kau mau apa?


Pergilah!” teriak Queen saat melihat Al mulai melepaskan satu persatu kancing


kemejanya.


“Kenapa kau panik begitu? Tentu saja aku akan membuatmu


kotor agar kita bisa mandi bersama. Ayuk kita mulai sekarang!”


“Dasar! Kau tidak waras.” Queen berhasil meraih spry


penghahhrum ruangan dan menyemprotkan tepat pada wajah Al, kemudian ia segera


berlari keluar kamar. Mulanya ia hendak keluar apartemen. Beruntung dia segera sadar


kalau dia hanya memakai handuk saja.


“Hehehe, dugaanku tidak akan pernah meleset, kan Sayang? Kau


tak akan berani lari keluar apartemen dengan keadaan telanjang seperti itu.


Ayo, kemarilah! Kita cari kringet bareng!” Al yang sudah bertelanjang dada itu


pun membuka kedua tangannya hendak memeluk tubuh wanita yang ada di depannya.


Baru saja ia mendapatkan tubuh itu dalam pelukannya. Ponsel


miliknya yang ia geletakkan di atas meja berdering. Sebenarnya enggan mengangkat. Tapi, ia khawatir kalau itu adalah Vico.


“Aegh… Sialan!” umpatnya, dengan raut wajah suram, Al


menjawab panggilan itu.


“Halo, apakah di rumah ada masalah?” jawabnya dengan nada


marah saat tahu siapa yang menelfonnya.


“Mas, kamu ada di mana?” jawab seorang wanita dari seberang


sana.


“Kenapa? Bukan urusanmu!” cetus Al.


“Kau pulanglah, Mas! Om Hans dan tante Eren akan kembali ke


luar negeri segarang. Sementara Hanifah entah kemana dia juga tidak bisa


dihubungi.


“Baiklah!” Al pun mematikan panggilan pengganggu itu, tahu


begini, dia tak angkat saja panggilan itu. ‘Gagal, deh, sialan,’ umpatnya dalam


hati.


“Sayang, aku harus kembali, mengantarkan om dan tante kita


menuju Bandara, dan sepertinya aku juga harus bicara sama kakek mengenai


hubungan kita.” Al mengecup kening Queen dan kemudian pergi meninggalkan


apartemennya.


Queen mengusap keras keningnya yang baru saja dikecup Al, ia


merasa jijik dengan pria itu, sampai-sampai ia ke westafel untuk mencuci muka.


Masih dalam balutan handuk dan tanpa pakaian apapun, tiba-tiba ia


teringat akan sesuatu. Dengan segera ia bergegas mengambil tasnya dan mengambil


benda kecil berwarna putih kira-kira panjangnya tak sampai satu jengkal


jarinya. Dengan buru-buru, ia segera ke kamar mandi. Lima menit kemudian ia


merasa lega saat melihat hanya ada satu garis berwarna merah pada alat


tersebut.


Queen meghembuskan napas lega dan merebah, kemudian ia


berpakaian piyama dan memesan makanan via online untuk makan malamnya karena ia


sudah mulai merasa lapar.


Sambil menunggu orderannya tiba, ia iseng-iseng membuka


IG-nya. Baru saja dia online sudah melihat postingan Hnaifah makan malam di


rumah Diaz, duduk berdekatan dalam satu meja. Queen merasa sesak, ia pun


akhirnya memblokir semua jejaring social media Diaz dan juga Hnaifah bahkan


juga nomor wa dan juga selulernya.


Namun, untuk meminta penjelasan kepada Diaz dan mengajaknya


untuk kembali melanjutkan hubungan dengannnya dan meninggalkan Hanifah dia


sudah tak ada lagi keberanian. Selain dia minder dia seorang janda sementara


status Hanifah adalah gadis, Al telah merampas segalanya. Benar apa yang Al


katakan. Diaz menerima ia apa adanya sekalipun dia seorang janda. Tapi, hal itu


tidak akan menjamin ia akan tetap mau kalau ia tahu apa yang sudah Al lakukan


kepadanya semalam. Terlebih ada banyak bekas kepemilikan di area leher juga


dadanya yang sepertinya tak hilang sampai jangka waktu sepekan.


Wanita itu menangis dan merasa lelah dengan semua yang


dihadapinya. Kakek dan kakak yang teramat ia banggakan malah kini sungguh


sangat mengecewakan. Keinginan untuk bunuh diri pun ia sudah tidak ada, hati ya sudah mati dan tak


lagi memiliki kepercayaan terhadap siapapun. Selain kepada dirinya sendiri.


Pandangannya terhadap Al juga tak lebih dari seorang ******** saja, kebaikan


yang Al lakukan selama bertahun-tahun semua musnah tak lagi terlihat, bagaikan


susu sebelangga rusak karena nila setitik.


***


Begitu tiba di rumah, Al langsung menemui kakek Andrean.


Sekalipun beliau tak ada apapun yang ingin dibicarakan dengannya, Kali ini dia


lah yang ingin membicarakan sesuatu pada sang kakek.


“Kau sudah pulang, Al? sapa kakek Andrean, sambil


melemparkan senyuman begitu ia melihat cucunya sudah tiba.


“Kek, ada yang ingin Al bicarakan dengan kakek.”


“Apa, Nak? Duduklah dan bicaralah dengan baik, ada apa?”


“Apakah Nayla ada di rumah?” tanya Al sambil mengedarkan


pandangannya ke seluruh ruangan.


“Tidak, dia baru saja keluar mengantarkan Bilqis ke dokter.


Kenapa?”


“Aku mau nikah sama Queen secepatnya kek. Aku perlu


perlengkapan data dirinya untuk diajukan ke KUA,” ucap Al, langsung main too the point saja, membuat pria tua yang duduk di atas kursi roda tersebut tertawa


geli melihat ulah cucu angkatnya ini.


“Kamu yakin dengan keputusanmu, Al?”


“Tentu saja, Kek. Apakah Kakek meragukan ketulusanku? Aku


akan menjaga dan mencintainya sepenuh hati.” Jawaban itu rupanya sukses membuat


kakek Andrean terkekeh.


“Lalu, bagaimana dengan Nayla istrimu? Apa dia terima


dipoligaami?”

__ADS_1


“Jangan beri tau hal ini kepadanya. Cukup Kakek yang menjadi


wali, Diaz, Hanifah, Juna dan Gea yang menjadi saksi pernikahan kami di KUA nanti.”


Tanpa sepatah katapun, Andrean melajukan kursi rodanya


menuju ruang baca dan membuka lemari penyimpanan, ia mengambil berkas-berkas milik Queen termasuk


akta kelahiran, dan akta janda untuk dijadikan sarat untuk mengurus pernikahan. Sementara


surat izin pada kepala daerah setempat, pri tua itu menyerahkan semua kepada


Al. Bahkan di sana kakek Andrean juga sudah memberi foto copy KTP dan pas


foto  milik Queen.


"Apa ini, Kek? tanya Al. sambil memegangi amplop sebesar map yang baru saja diberikan kakek Andrean.


"Kau buka saja, sepertinya itu bukti restuku, dan kedua kakek nenekmu yang ada di alam sana."


Al dengan penasaran dan nampak tergesa-gesa membuka isi amplop itu dan melihatnya. kemudian ia tersenyum dan memeluk kakeknya. Berkali-kali dia mengucapkan ucapan terimakasih pada kakeknya.


🍁🍁🍁


Diaz, ini sudah malam. Kmau antar Hanifah pulang, ya? Kasian


kalau cewek pulang sendiri malam-malam begini. Kalau nanti ada apa-apa


bagaimana?” ucap Umik Halimah. Membuat Diaz kian dongkol saja.


Satu masalah belum selesai kini malah muncul satu lagi.


Kesalah pahaman dengan Queen juga gara-gara menuruti permintaan umiknya. Dengan


berat hati pun Diaz menuruti. Bukan karena tidak tega dengan wanita jadi-jadian


yang beesamanya. Melainkan, ia memang tidak terbiasa menolak kemauan Umiknya.


“Di.. Makasih, ya kamu sudah mau antaraku,” ucap Hanifah


memulai pembicaraan, memcah sunyi.


“Jangan kau pikir aku melakukannya karena apa. Aku hanya


ingin berbakti kepada umikku saja. Satu malasah belum selesai, gara-gara kamu


muncul lagi masalah baru antara aku dan Queen. Kau yang sadar diri Hanifah!


Wanita yang aku cintai itu bukan kamu. Tapi saudarimu.”


“Hanifah meangis mendengar ucapan kasar dari pria yang


selama ini ia kenal sebagai sosok pria yang baik dan lemah lembut. Ia bahkan


tak menyangka bagaimana dalam sekejab ia bisa berubah sekasar ini. Tapi, berkat


semangat yang kakek Andrean berikan, dan apapun yang sudah digambarkan beliau


sebelum ia kemari, ia dapat bertahan dan terus menunjukan sikap tenang


sekalipun, kedua sudut netranya sudah mengalir deras buliran bening membasahi


kedua pipinya.


Sambil tersenyum, Hanifah menjawab, “Aku tahu bagaimana


perasaanmu, Di… Kau pasti kecewa aku tahu itu. Tapi, aku yang sudah sejak dulu


mencintaimu dan terlanjur memiliki ikatan denganmu aku tidak mau melepaskanmu


begitu saja, aku ingin terus hidup besama denganmu. Dari dulu, aku sudah tak


rela jika kau harus denga yang lain, sekalipun itu bersama Queen. Izin kan aku


mencintaimu, Di… dan beri aku kesempataan, cobalah kau terima aku di hatimu,


agar kau juga tidak sakit.”


“Lihatlah dirimu! Betapa tidak tahu malunya sekali kau


berbicara demikian? Kau hanya memikirkan perasaanmu saja, tanpa peduli dengan


perasaan Queen. Salah apa sih dia sebenarnya sama kamu? Kenapa kamu teganya


berbuat sepeerti itu kepadanya?”


Hanifah terisak, ia tak dapat lagi menyembunyikan


tangisannya. Percuma ia tersenyum, dan menahan suara tangisnya, itu hanya


membuat hatinya merasa kian sakit. Tapi, jika ia berteriak dan menangis kencang


pun juga tak ada guna lagi.


“Kau tahu kenapa aku seperti ini dan berubah jadi wanita


takt ahu malu? Karena dari dulu aku terbiasa sendiri. Memiliki orang tua


lengkap hidup hanya dengan pengasuh dan pembantu saja. Karena mereka terlalu


sibuk dengan karir mereka masing-masing. Sementara Queen... Dia memiki orang tua


lengkap uyang lebih memprioritaskan anak-anak serta kakek nenek yang selalu di


rumah. Kak Al yang selalu ada buat dirinya dalam situasi kritis sekalipun. Kau


tahu kenapa aku tak lagi pedulikan dia? Jika kau tak dengannya masih ada kak Al


yang akan selalu menjaga dan menyayanginya.”


Merka saudara kandung. Tidak bisa hidup bersama seperti itu.”


“Oh, ya? Kurasa kau tidak tahu sesuatu,” ucap Hanifah.


Setelah mengatakan itu, gadis itu hanya diam, ia berharap kakek Andrean berada


di teras dan melihat kedatangannya bersama Diaz agar ia sendiri yang mengatakan


hubungan antara Al dan Queen.


Begitu keduaya sampai, mereka memasuki rumah yang pintunya


terbuka lebar. Di sana ada Al dan kakek Andrean seperti tengah mendiskusikan


sesuatu. Tapi, ada kalimat yang diucapkan Al yang Diaz tangkap, yaitu, “Mungkin


ini akan butuh waktu sebulan konfirmasi dari pihak KUA, setelah itu, aku tidak


akan menundanya lagi, Kek. Biarkan kami menikah dan menjadi bahagia kelak.”


“Siapa yang akan menikah dalam waktu satu bulan?” tanya


Diaz, begitu ia tiba. Ia benar-benar bingung. Awalnya sempat berfikir kalau Al


mengatur jadwal pernikahan untuk dirinya dengan Hanifah. Tapi, di akhir kalimat


dia berkata kami. Kami siapa? Bukankah Al sudah punya istri?


“Oh, dokter Diaz. Kemarilah, sebenarnya aku tidak mau kasih


tahu sama kamu. Tapi, berhubung kau sudah mendengar peprcakapan kami, entah


sejak kapan kau berdiri di situ aku juga tidak tahu, maka, kuberi tahu. Aku dan


Queen akan segera menikah,’’ ucap Al dengan gantlenya.


“Bagaimana mungkin kalian bisa menikah? Bukankah kalian ini


saudara?” tanya Diaz, bingung. Saat ini dia tidak hanya bingung. Namun juga meragukan pendengarannya.


“Coba kemarilah lihat ini, surat ini akan menjelaskan


segalanya, kau dan aku sama-sama bisa menikahi Queen. Tapi, aku tidak akan


biarkan itu terjadi.”


Diaz menerima kertas tebal yang sudah delaminating dari


tamngan Al. Pria itu terbelalak kaget begitu membaca apa yang tercantum di


sana, meskipun awalnya ia tidak percaya. ‘Apa, dia hanyalah anak yang diadopsi oleh


kedua orang tuanya Queen?’ batinnya.


Al menarik dengan kasar kertas itu dari tangan Diaz sambil


berkata, “sudah jelas bukan? Baiklah aku akan tidur saja, aku terlalu lelah


akhir-akhir ini, besok aku akan mengurus semua ini. Kau jangan lupa datang di


acara akhad-an kami, ya?”


Diaz hanya membeku seolah tidak percaya dengan kenyataan


yang baru saja ia lihat. Bagaimana mungkin bisa? Bahkan selama ini Queen juga


sangat tertutup pada siapapun, kepadanya saja juga tidak pernah berkata kalau


Al adalah kaka angkat. Ia jadi berfikir, kenapa saat Queen hilang, Alex seolah


jadi lepas tangan dan malah memberikan kesempatan kepadanya untuk menyelamatkan


wanita itu? Dimana  dirinya yang


mengajaknya bersaing dulu seolah hilang? Apa ini ada hubungannya dengan Al. Dia


membenci dan mengancam siapapun yang mendekati adiknya karena diam-diam dia


juga jatuh cinta padanya?


“Di… Diminum dulu, gih!” ucap Hanifah sambil meletakkan


segelas the hangan di depannya.


“Bagaimana kabar umik dan juga adik kamu Fatimah, Diaz?


Mereka sehat?” ucap kakek Andrean membuka percakapan.


“Alhamdulillah, semua sehat, Kek. Tapi, Fatimah dia sudah


kembali ke Bandung bareng bersama paman dan bib I kemarin,” jawab Diaz sedikit


tergagap saat ia baru tersadar dari lamunannya.


“Diaz, maafkan kakek, ya? Semoga kamu bisa menerima semua


ini dengan ikhlas, Kakek tidak benci sama kamu, kakek sayang sama kalian semua,


Kau, Al, Hanifah juga Queen semua adalah cucuku, Kakek merasa kalau kau lebih


pantas dengan Hanifah, semua hanya tinggal menunggu waktu. Percayalah, seiring


berjalannya waktu cinta itu juga aka nada dan muncul dengan sendirinya.”


“Apakah kakek tidak mempercayaiku untuk menjaga Queen?”

__ADS_1


“Tidak, Diaz. Bukan itu maksut kakek. Jalani saja dulu semua


dengan ikhlas kelak kau juga akan mengterti.”


Diaz melirik kea rah Hanifah yang hanya diam menunduk.


Mungkin dirinya yang pendiam pas jika disandingkan dengan Hanifah yang ceria


dan sedikit lasak itu. Sebab, mendiang abah, dan juga umiknya berkali-kali


berkata padanya kalau jodoh kita nanti tidak akan seperti kita, ya memanb pria


baik untuk wanita baik. Begitu pula seba;liknya, Tapi, meskipun sama-sama baik,


karakter jug tak harus sepenuhnya sama, bukan?


Merasa sudah larut malam, Diaz pun berpamitan pada kakek


Andrean. Nmaun, lagi-lagi pria itu masih tak bisa menerima Hanifah sebelum


mendapatkan keputusan dari WQueen.


**123


Tidak seperti biasanya, Queen kali ini ia bangun lebih awal


dari biasanya. Padahal dia jadwal praktek juga nanti sekitar jam setengah satu.


Karena ia bangun terlalu pagi, ia menggunakan waktunya untuk olah raga lari.


Awalnya dia tidak ingat dengan kondisi leher dan dadanya yang masih banyak


terdapat tato ciptaan Al. Jadi, ia mengenbakan pakaian santai. Beruntung,


ketika ia mengikat rambunya berdiri di hadapan cermin sambil melihat pantulan


dirinya di sana. Masih terlihat kebiruan dan sangat banyak. Jadi, ia pun mengganti


pakaian serba Panjang yang kiranya bisa menutupi leher.


“Haaaah, merepotkan, oke tidak apa-apa, dengan begini kan


minimal keringat yang didapat juga pasti akan lebih banyak, bukan?” gumam Queen


seorang diri.


Sekitar kurang lebih satu jam ia berlari menuju pasar


sekalian membeli bahan makanan seadanya dulu, yang kiranya ia tidak kesulitan


membawanya, terlebih dia juga tinggal sendirian di sana. selain jarak apartemen


dan pasar tidak jauh, ia sebenarnya juga sudah lama tidak melakukan olahraga


tersebut. Jadi, hanya satu kilo saja ia sudah capek. Mungkin ia bisa


membiasakan diri, meskipun ke rumah sakit berjalan kaki saja layaknya


orang-orang di luar negeri. Tidak akan naik kendaraan bermotor jika tidak jauh


banget atau menghadiri acara formal.


 Sekitar pukul tujuh,


Queen sudah tiba di rumah, sambil menunggu keringatnya kering, ia menata


bahan-bahan makanan yang baru dibellinya di dalam lemari es. Begitu semuanya


beres, ia pun mandi, harusnya dia bisa sekalian masak.  Tapi, ia paling tidak yahan dengan tubuh


lengket karena keringat. Terlebih ia mengenakan pakaian serba Panjang.


Usai mandi dan memakai pakaian santai, Queen langsung ke


dapur untuk membuat sarapan. Memang sudah jadi kebiasaanya kalau tinggal di


rumah sendiri dia kurang memperhatikan kesehatannya. Kalau lapar dan malas


untuk makan apapun, dia juga hanya makan apa yang kiranya bisa untuk mengganjal


pertunya. Tapi, kali ini dia ingin benar-benar masak makanan sehat rumahan


karena ada banyak waktu luang.


Kebiasaan Queen yang teledor tak selalu mengunci pintu rumah


ataupun kamar riupanya memang sudah akut. Sehingga ia tidak sadar ketika ada


seseorang membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya.


Tiba-tiba saja, dari belakang sepasang tangan kekar memeluk


pinggangnya. Belum hilang rasa terkejutnya, orang itu sudah menciumi tengkuk


juga telinganya sambil berbisik. “Sayang, kau sudah wangi saja sepagi ini?”


“Al! Apa yang kau lakukan sebenarnya? Lancang sekali kau?”


teriak Queen.


“Ssstttt… Jangan teriak-teriak, Sayang! Kamu yang tenang


dong.” Pria itu membalikkan tubuh wanita yang ada di dekapaannya menghadap


dirinya dambil tangannya merambat ke belakangnya dan mematikan aapi kompor.


“Mau apa kau? Pergi sana!”


“Pergi? Pergi kemana, Sayang? Mana mungkin aku bisa pergi


sebelum mendapatkan jatahku semalam? Itu karena Nayla yang tiba-tiba menelfonku


dan memintaku untuk segera pulang.” Al tak peduli apapun, ia terus menciumi


dada hingga leher wanitanya.


“Kau ini hyper atau apa siha? Bukankah kaun juga semalam


sudah melakukannya dengan istrimu?” ucap Queen sambil menampar pipi Al.


Al langsung mengentikan aksinya. Bukan karena ia ditampar,


kenapa kalau hanya tanparan ringan saja ia harus kaget? Bukankah Queen sudah


banyak melakukan ini kepadanya sejak malam itu? Jangankan ditampar dan dicakar,


dicekik sama dasi saja juga pernah.


“Jangan memandangku dengan pandangan aneh seperti itu!”


Al hanya tersenyum miring, kemudian memegang dagu Queen dan


mengarahkan ke hadapannya. “apa yang ada di pikiranmu sebenarnya, Sayang? Apa


kau menginginkan itu? Semalam aku belum puas menciumimu. Tapi, sepertinya kau


berfikir lain,” ucap Al sambil mengangkat tubuh wanita itu dan mendudukannya di


atas kitchen set.


“Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!”


“kalau aku tidak mau bagaimana?’’ ucap Al sambil melepaskan


dasinya, kemudian mengikat kedua tangan Queen.


“Al, apakah kau gila? Turunkan aku cepat!"


Lagi-lagi Al tidak menjawab selain hanya tersenyum miring


kemudian ia mendekatkan wajahnya di dekat telinga Queen sambil berbisik.


“Aku akan berangkat ke kantor, lebih baik dasiku saja yang


kusut dari pada kemeja dan jasku. Dan, ya... Aku akan menurunkan, tapi bukan kamu. Melainkan, celanamu. Hehehe.”


“Apa maksutmu?’’


“Apa? Ya apa yang ada dipikiranmu, donk!” Tanpa basa-basi Al


pun langsung ******* bibir Queen. Tak hanya itu, bahkan tangannya juga sudah


disispkan dibalik baju Queen dan bergerilya kemana-mana.


Hal seprti itu, selalu saja terjadi setiap hari, jika tidak


pagi hari, ya siang hari saat jam istirahat Al atau kapankun kira-kira Queen


ada di apartemen, Al selalu kabur dari kantor meninggalkan tugas melakukan


pekerjaan lainnya.


Tanpa terasa, hal itu sudah terjadi selama satu bulan,


selama itu, Queen merasa kalau ia telah menjadi budak nafsu Al, pria yang ia


kenal sebagai kakaknya. Tapi, faktanya berkata lain, saat ia SMA, entah kelas


berapa, ia baru tahu kalau dia anak angkat. Namun demikian ia terus


menganggapnya sebagai kakaknya sampai akhirnya malam itu terjadi, ia dilecehkan


dengan dalih mencintai dan ingin menikahinya.


Queen memegangi perutnya yang terasa kembung dan tak nyaman.


Akhir-akhir ini ia merasa kelelahan, selain jadwal dirumah sakit yang


ditambahkan, masih banyak hal-hal yang ia kerjakan di luar. Makan pun juga


semakin telat.


Tapi, yang ada dibenak Queen bukanlah ia maagnya kambuh.


Melainkan ia takut hamil.


Beberapa kali Queen membasuh  wajahnya dan kemudian menatap wajahnya yang


terpantul pada cermin, dan kemudian, ia menunduk melihat alat tes kehamilan


yang sudah baru dia pakai sekitar lima menit yang lalu. Tapi, ia terlalu takut


melihat hasilnya, ia khawatir jangan-jangan garis merahnya ada dua.


Berkali-kali wanita itu  menghela napas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya dengan pelas,


dan memaksakan diri untuk melihat hasilnya.


“Haaah… Akhirnya, untung saja aku negative,” kembali wanita


itu memegangi perutnya. Dengan cepat ia membuka laci yang ada di bawah wastafel


itu dan mengambil pil KB dan menelannya. Bgaimanapun, Queen tidak Ingin sampai


hamil.

__ADS_1


__ADS_2