Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 22


__ADS_3

Dengan cepat Al menyambar jaket hitam dan membawa koper, langkahnya nampak tergesa-gesa.


Semua pandangan orang dari meja makan tertuju padanya yang tengah berpakajan rapih. Spatu, clana panjang dan kemeja serba hitjam.


Vivian dan Clara mendesah kesal. Sudah bisa menbak kemana Al akan pergi.


Al masih terpaku di tempatnya beberapa detik. Dengan berat ia neletakan kopernya dan berjalan ke meja makan, orang pertama yang dihampirinya adalah Clara.


Pria itu berjongkok di bawah kaki mamanya, mendunduk sambil memegang kedua tangan Clara.


"Ma, maaf tidak bisa ikut makan malam bersama, Al harus segera pergi," ucapnya dengan rasa bersalah.


Clara menghela napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Karena dia mulai terbiasa dan menerima semuanya. Memang ini adalah salah satu dari sekian banyak amanah yang dia pikul sebagai pewaris utama perusahaan Andreas di Jepang. Hanya saja, karena ada Lyli di meja makan Clara tidak berucap apapun selain memberikan restunya.


"Pergah, Nak. Dan segera kembali jika urusanmu beres!" Clara mengusap kepala Al layaknya bocah berusia delapan tahun. Lalu mengankat badannya dan keduanya berpelukan.


Setelah Clara, Al berpamitan kepada Vano, Vivian, Andrean lalu Andreas untuk meminta dukungan mental dan semangat.


Tarakir kepada sang Adik, Quen.


"Kau pergilah, dan bawa aku jika datang liburanku nanti ke sana bersamamu," ucap Quen meski sebenarnya dia ingin menangis.


Tapi, sebagai adik yang baik tidak seharusnya dia menyurutkan mentak kakaknya.


Al memeluk adiknya, "Kau jangan cengeng. Selama aku belum kembali jaga diri baik-baik, ok!"


Quen mengangguk bibirnya tersenyum tapi matanya berair. Al menghadiahakan satu kecupan di kening adiknya lalu bergi dengan hanya memandang ke pada Lyli dan mengangguk saja tanpa kata-kata.


"Quen, kau harusnya sudah terbiasa, jangan menangis. Kasian kakakmu!" Seru Andreas.


"Kek, badanku sakit semua, aku bermaksut setelah makan malam minta pijitin dia. Tapi, malah pergi," jawab Quen dan membuat semua yang mendengarnya tertawa.


"Baiklah, kalau begitu biar kakek yang memijitimu, nanti," ucap Andreas. Sebenarnya dia pun tahu, kalau itu hanyalah alasan Quen saja agar tidak terlihat lemah. Karena dia tahu pekerjaan kakaknya sangat beresiko.


Quen menoleh ketika ia mendenfar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.


"Ada apa Kak Lyli? Masuklah!" Sementara Gadis itu masih sibuk dengan tugas-tugas campusnya.


Lyli duduk di pingiran kasur Quen memperhatikan Quen yang nampaknserius ke arah monitornya, tidak beda dengan kakaknya, Al.


"Kemana Al pergi? Apakah kau tahu, Quen?" tanya Lyli ragu-ragu.


"Oh, di ke Jepang. Kau tahu lah, dari dulu dia selalu pulang pergi sana sini seperti aku berangkat ke campus, kan?" ucap Quen berusaha berkelekar dan tertawa.


"Bukannya kuliah kakakmu sudah beres, memang ada urusan apa di sana?"


Quen terdiam, teringat pesan kakek Andreas beberapa waktu lalu.


🌸 🌸 🌸


"Kau tahu kenapa kakek melatih keras kak Al, Quen?"


Gadis berambut cokelat pekat itu hanya mengelengkan kepalanya, tampa menjawab sepatah kata pun.


"Dia adalah penerus usaha kakek, meski bukan satu-satunya pewaris. Tapi, dia harus kuat dengan ujian-ujian yang kakek berikan. Dan untuk kamu, jaga tentang bisnis ini, kakakmu masih muda, jangan sampai ada orang luar tahu siapa Al sebenarnya," jelas Andreas panjang lebar.


"Memang apa salahnya sebagai owner dari usaha pesawat jet, kek?"


Pria tua itu tersenyum sambil mengelus kepala Quen.


"Kau mau kakakmu didekati wanita hanya karna dia CEO muda? Kawatir jika sampai bocor identitas kakakmu diketahui musuh, nyawa Al yang jadi incaran mereka, Nak."


Quen terkejut. Dia semakin yakin kalau kakaknya terlibat dalam dunia mafia. Lalu, apakah bisnis yang dijalankan kakek selama ini ilegal?


Seolah Andreas paham dengan perdebatan batin Quen, dia tersenyum dan memberi jawaban.


"Dalam dunia bisnis itu jarang yang melakukan persaingan dengan cara sehat dan bersih. Adakalanya saat kita sukses sementara rekan kita tidak itu bisa menimbulkan iri, saling menjatuhkan, bahkan bunuh."


"Katanya kawan, kenapa harus menusuk belakang, Kek?"


"Kelak kau akan tahu, Quen. Bisnis tidaknada istilah kawan abadi dan juga musuh permanen."


Pria itu tertawa menepuk bahu Quen lalu pergi meninggalkan gadis itu seorang diri.


🌸 🌸 🌸


"Mana kutahu, mungkin dia sudah jadi Pak RT di sana, hahaha"


Lyli diam, tak puas dengan jawaban dari Quen. Tapi melihat gadis itu, dia merasa kalau Quen tidak sedang menutupi apapun.


Lyli berusaha memendam kekecewaannya. Dia merasa kalau tak dianggap, bahkan melihat yang tadi, dia merasa Al tidak serius dengannya.

__ADS_1


Tapi, jika memang tidak serus kenapa harus datang kerumah untuk meminta restu orang tuanya?


"Kakakku tidak pernah berpacaran sebelumnya. Apalagi pakainkenalan dengan orang tua si gadis. Kami juga kaget melihat dia mendadak pergi, dengan begini siapkan dirimu menikahi Jelangkung jantan," ucap Quen tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Jelangkun?" Lyli mengerutkan kening dan memandang tajam ke arah Quen.


"Ya, apa lagi? Datang tak diundang, pulang tak diantar, hahaha."


Lyli pun ikut tertawa dengan candaan Quen.


🌸 🌸 🌸 🌸


Di Jepang


Di sebuah gedung besar, orang-orang yang hampir semuanya laki-laki tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Berjalan kesana kemari dengan berkas, polio juga map dalam pelukannya.


Di sebuah ruangan CEO, seorang pira muda nampak berusaha tenang dari emosinya. Beberapa puntung rokok yang baru habis setengahnya memenuhi asbak. Jemari tangan dan kakinya digerak2 kan, wajahnya juga nampak gusar.


Sesaat pria itu menoleh begitu pintu ruangannya di buka. Seorang pria babak belur dipegangi oleh dua orang berbadan tinggi besar dan kekar.


"Jadi, kau penghianatnya?" ucap Al dingin dengan sorot mata yang tajam.


Al merasa enggan dengan pria itu, dia hanya melempar senyuman sinis lalu pergi meninggalkan ruangan. Tapi, sebelumnya pria itu berpesam pada dua orang suruhannya.


"Dia kuserahkan pada kalian."


Al merasa pikirannya sangat kacau, kembali dia mengambil rokok dari dalam sakunya dan menyalakannya sebatang.


Beberapa menit dia berdiri di atas balkon tanpa tahu langkah apa yang akan dia ambil nanti.


"Bos, kepercayaan dari ketua geng Warior sudah kami tangkap, kita apa kan dia?"


Ucap seorang pria tergopoh-gopoh memberi kabar kepada Al.


Al melemparkan puntung rokok ke dalam ranjang sampah, dia berjalan mendekati pria itu.


"Bawa aku ke sana!"


Tak lama kemudai Al masuk ke sebuah ruangan yang gelap dan lembab, surkulasi udaranya juga sangat buruk, penjara bawah tanah. Tempat yang sengaja di sediakan untuk mengurung para musuh yang tertangkap.


"Kau yang kemarin menyusup ke ruang kerjaku dan membuka file rahasia perusahaan kami?" tanya Al dingin.


Pria itu hanya diam tanpa memberi jawaban.


"Kau dengar atau tidak?" Teriak Al emosi.


Sementara pria itu masih saja bungkam tidak mau berbicara.


"Katakan siapa yang menyuruhmu atau aku akan...."


Kalimat Al terputus, tangannya mengawang diudara dengan sebuah pistol siap menembak kepala pria itu.


"Tidak semua kejahatan dibalas dengan kejahatan, Al. Misalnya saja kau digigit anjing. Apakah kau akan menggigit dia balik?"


Aaarghh!!!


Al melempar kasar pistol itu mana kala ia kembali terbanyan oleh suara lembut dan senyuman manis mama angkatnya, Clara.


"Kuserahkan pada kalian, jangan sampai dia mati sebelum memberitahu siapa yang memerintahkannya. Atau, jika perlu cari sanak familinya," ucap Al lalu pergi meninggalkan ruangan.


Al berbaring di di atas sofa merasa lelah dengan permainan hidupnya, ia memejamkan mata sambil memijat pelan pelipis kirinya.


"Bagaimana aku bisa melakukan tugasku, Clara? Sementara bayangan wajahmu dan semua nasehatmu seolah nyata di depan mataku!" umpat Al kesal.


Awalnya, Al menerima menjalankan usaha Andreas tanpa mau terlinat dalam dunia mafia. Tapi, ketika perusahaannya semakin pesat dan banyak mata-mata masuk dan juga penghianat yang membocorkan rencananya untuk perkembangan yang lebih pesat, terpaksa dia mengambil jalur hitam untuk menyelamatkan perusahaan. Dan memberi pelajaran pada mereka yang berkianat juga musuh, tentunya.


Satu tahun masuk ke dalam dunia mafia, Al terbiasa menyiksa sampai membunuh. Bahkan tak segan-segan menculik anak gadis, kekasih atau saudari lawan dan membiarkannya dilecehkan oleh beberapa orangnya di depan lawan untuk memberi efek jera.


Namun, siapa sangka. Begitu tamat kuliah dan sudah propesional dalam usahanya kembali bertemu dengan Clara malah melunakkan hatinya. Bahkan, pria yang terkenal dengan kekejamannya kini menangis menyesali apa yang dia perbuat selama ini.


Dengan tangan bergetar diambilnya gawai dari saku celananya. Buru-buru dia menghubungi Andreas dan menceritakan semuanya.


"Bagaimana, Al? Apakah sudah ketemu siapa yang menyusup dan mencuri data?" tanya Andreas begitu dia mengangkat telfonnya.


"Kami sudah menangkapnya, Kek. Tapi, siapa dalangnya kami belum tahu."


"Sudah kau lakukan cara yang kakek ajarkan untuk mengintrogasi pelaku?"


"Ya, kita di sini masih mencari data keluarga pria itu."


"Bagus! Kakek bangga padamu."

__ADS_1


"Kek, aku mau kembali besok. Urusan di sini biar mereka yang kerjakan."


Al langsung memutus panggilan karena tidak mau berargumen dengan kakeknya.


🌸 🌸 🌸


Suatu sore ketika Rika tengah menyapu halaman.


"Ibu, aku pulang."


"Kau pulang dengan siapa, Nak? Sendiri?"


Gadis itu hanya mengangguk.


"Cepat masuklah. Dan istirahat di dalam!" Seru Rika.


Sementara wanita itu melanjutkan menyapu dan kemudian ke dalam menyusul putrinya.


"Kau ambil libur berapa hari, Lyli?" tanya Rika sambil membuatkan teh untuknya.


"Besok pagi aku kan kembali, Bu."


"Kenapa buru-buru?"


"Sebenarnya aku tidak ambil libur, hanya saja aku ingin kembali menanyakan tentang pendapat ibu dan ayah, apakah ayah sudah tanu hubunganku dengan mas Al?"


"Kau yakin dia benar-benar serius? Dia itu anak orang kaya, lulusan dsri universitas ternama di negara Jepang. Kau yakin?"


"Ibu, hampir lima tahun Lyli bekerja di sana. Tentu saja tahu seluk beluk merek. Mas Al tidak mungkin mempermainkan Lyli."


Gadis itu tiba-tiba saja tersulut emosi, berbicara kepada ibunya dengan nada tinggi.


"Lyli, ibu tidak menaruh curiga dengan mereka terlebih Al. Tapi, kalau bisa carilah pria lain." jawan Rika berusaha sabar.


"Tidak! Tidak ada pria lain yang sesempurna mas Al. Aku wanita pertama yang mas Al dekati bahkan sampai datang kemari untuk meminta restu padamu, Bu!" Seru Lyli. Mulai terisak.


"Kenapa kau begitu yakin? Apakah kau tahu seperti apa kehidupannya selama lima tahun di Jepang? Kau hanya percaya dengan ucapannya?"


"Adiknya yang bilang. Mereka sangat dekat, dan saling memahami satu sama lain, Bu. Jauh sebelum mas Al kembali, Aku sudah dekat dengan adiknya, nona Quen."


"Jangan buru-buru, pikirkan dulu baik-baik dan jalani saja semuanya. Jika memang kau ditakdirkan bersamanya pasti ada jalan. Tapi, jika tidak, ibu harap kau mampu bersambar.


Rika mengelus punggung putrinya memberikan nasehat agar putrinya tidak jatuh dalam jurang.


"Ibu percaya sudah lama kau tahu Al. Tapi, kalian hanya sebatas tahu, belum mengenal. Jangan sampai kelak kau menyesal dengan keputusanmu yang buru-buru ini."


"Tapi, bu? Apakah hampir tiga tahun tidaklah cukup?"


"Adakah kedekatan dan pembicaraan dari hati ke hati antara kalian berdua? Pernakah kalian terlibat masalah atau cek cok? Bagaimana dia menangani jika pasangan tersulut emosi dan cemburu? Kau tahu itu semua?


Lyli merenung diam sambil memegangi gelaa berisikan teh manis buatan ibunya.


"Iya, selama ini kami kenal seagai pembantu dan anak cucu majikan saja. Selebihnya tidak."


Kembali ingatan Lyli teringat kejadian minggu lalu di mana Al tanpa kata apa-apa tiba-tiba saja pergi ke Jepang sampai sekarang tidak pernah ada kabar sekalipun.


Hanya kepada keluarga dan adiknya saja dia berpamitan, sementara padanya ia hanya sebatas memandang.


"Terimakasih, Ibu. Tapi, jika memang aku benar-benar merasa dia baik, dan dia benar serius padaku apakah kau akan merestui?" tanya Lyli sekali lagi.


Rika hanya diam tak memberi jawaban apapun.


"Ini sudah sore, Ibu akan masak. Sebentar lagi ayahmu juga pulang, Lyli."


Gadis itu mendesah kesal, dan menyandarkan kepalanya di atas meja kayu.


Dengan langkah lesu Lyli menyusul ibunya ke daput turut membantunya memasak.


"Kau kalau capek beristirahatlah dulu, Nak. Biar ibu yang kerjakan!" Seru Rika saat mendapati Lyli mencuci gelas bekas tehnya dan beberapa piring kotor di tempat cucuian.


"Tidak apa-apa, Bu. Lyli dah terbiasa," jawabnya sementara tangannya masih sibuk menyabun dan membilas.


Ketika keduanya menyiapkan hidangan makan malam, ayah Lyli pun datang. Dengan wajah datar pria itu melewati keduanya di dapur menuju kamar mandi.


Lyli hanya mendesah kesal, teringat dengan rumah tangga bosnya, Vano dan Clara, lalu ingatannya kembali ke putra mereka Al. Lyli berharap keduanya bahagia dan bisa membina rumah tangga harmonis seperti orang tua Al.


"Setelah ayahmu keluar dari kamar mandi, salamilah nanti!" Seru Rika mengingatkan Lyli.


Gadis itu hanya diam dan tersenyum getir atas rumah tangga kedua orang tuanya yang dingin dan hampir tidak lepas dari percek cok an.


Kembali ingatan Lyli ke masa di mana awal dia bertemu dengan Al. Dia memang type cowok yang cuek dan tidak suka menebar pesonya kepada siapapun. Masuk akal pula jika dia tidak penah dekat dengan wanita. Buktinya tidak ada satupun wanita datang selain mencari Quen.

__ADS_1


Dan sekarang dia mendekatinya dan langsung meminta dikenalkan dengan kedua orang tuanya.


Tapi Lyli bingung, kenapa ibunya seolah menentang pernikahannya denga Al. Padahal sejak awal ibunya sudah tahu malau majikannua bukanlah orang yang suka menindas.


__ADS_2