
Tiba di Jakarta, Al langsung menuju kantor. Padahal baru
satu hari saja ia meninggalkan perusahaan. Tapi, ia seperti merasa melakukan kesalahan besar saja pada mendiang papa dan kakeknya. Ia merasa mereka berdua
tengah menelitinya saja. Padahal, walaupun mereka masih ada juga tidak akan demikian.
Turun dari mobil, Al langsung berjalan cepat dan setengah
berlari. Memang ini sudah telat. Sudah pukul sepuluh. Tapi, apakah ada kata
terlambat baginya yang merupakan CEO dan juga owner perusaan itu sendiri? Siapa yang berani memarahinnya? Jelas tidak ada. Tapi, kedisiplinan yang sudah tertanam
sejak dini lah yang membuatnya seolah selalu berbuat kesalahan.
Saat ia masuk lobi kantor, Al mengambil ponselnya dan
menelfon Queen. menayakan kabarnya.
“Halo, Sayang,” jawab istrinya dengan ceria.
“Halo. Kau di mana sekarang?” tanya Al sambil terus berjalan
menuju ruangannya. Sedikit mengabaikan para staffnya yang menunduk memberinya
salam. Dia memang tidak menjawab salam mereka satu demi satu. Tapi, pria itu balik melempar senyum dan mengangguk pada semua staf yang menyapanya saat kebetulan mereka berpapasan.
“Aku di klinik sejak pagi tadi. Sebentar lagi juga akan
keluar. Menjemput Berlyn lalu pulang. Apakah kau sudah tiba di kantor?”
“Iya. Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Al sambil tersenyum, senyuman yang bercabang. Ditujukan pada istrinya di seberang sana, dan juga pada staf yang menyambutnya.
“Karena banyak suara orang yang menyapamu. Mana mungkin jika
di Bandara akan begitu, kan? Kau juga bukan artis.”
Al tertawa lebar. Ia membuka pintu ruangannya, meletakkan
tas dan duduk di kursi kebersarannya.
“Kali saja mereka penggemarku, Sayang.kan aku gantengnya setara
dengan artis. Bahkan, dengan Tukul Arwana saja juga gantegan aku,” ucap Al mulai bergurau.
“haaah… terserah kamu, deh,” timpal Queen dengan malas. Sengaja ia tidak meladeninya. Karena, jika diladeni akan merembet ke mana-mana.
Lagi-lagi Al hanya tertawa.
“Ya sudah ya, Sayang. Aku berisap dulu mau jemput Berlyn,
oke?” ucap Queen, berpamitan.
“Ya, hati-hati, Sayang.”
“Apakah kau rindu makanan rumah?”
“Lumayan. Apakah kau akan membawa makan siang ke kantor?” tanya Al balik.
“Ya, jika kau mau,” timpal Queen. kemudian wanita itu
mengakhiri panggilannya.
Usai menerima telfon
dari suaminya, ia berpamitan pada tim kerjanya. Kebetulan juga sedang sepi, dan tidak ada yang darurat. Jadi, ia tidak akan khawatir lagi. Toh jika ada yang mendesak ia juga siap dan bersedia dipanggil sewaktu-waktu oleh admin, perawat,
atau pun dokter yang dipekerjakan di kliniknya.
Usai menjemput Berlyn dan menjalankan tugas sebagai ibu,
memintanyanya cuci tangan wajah dan kaki lalu berganti pakaian, menyuapinya dan
mengulang kembali pelajaran yang diberikan guru selama duapuluh lima menit. Lalu, ia meminta Berlyn untuk tidur siang, sedangkan dia memasak menyiapkan makan siang untuk dirinya dan juga Al. hari ini Adriel menginap di rumah omnya. Sejak semalam, om dan tantenya menjemputnya, mengajak si kecil malang itu untuk berkunjung ke panti milik mendiang mama dari Zahara.
Jadi, Queen hanya fokus pada putrinya saja.
Kali ini ia sengaja tidak mengajak serta putrinya ke kantor
untuk menemui papanya. Selain Berlyn capek, dan perlu istirahat siang, ia juga ingin berbicara secara pribadi dengan Al mengenai Clarissa. Jika pun ada yang lain yang ingin dilakukan, jelas sesuatu yang hanya Al dan Queen sendiri yang
tahu.
Usai menyiapkan makan siang, Queen segera bergegas berangkat
ke kantor. Karena ini juga sudah sangat mepet. Bahkan, sampai sana juga sepertinya nanti akan sedikit terlambat.
“Dedi, antar saya ke kantor tuan, ya?” ucapnya tergesa-gesa.
“Baik, Non.” Dengan sigap pria dengan tinggi badan 170 itu pun langsung bergegas segera meraih kunci yang disodorkan majikannya dan masuk ke dalam mobil tersebut dan mengemudikannya.
Queen melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan
tangannya. Kurang sepuluh menit lagi sudah tepat pukul duabelas siang. waktu jam istirahat.
“Ded, agak cepat sedikit, ya?” ucapnya. Karena ia juga tahu
persis siapa Dedi dan bagaimana bisa bekerja di tempatnya. Jadi, jika soal
ngebut, bisa lah diandalkan. Meskipun tidak segila suaminya.
__ADS_1
“Baik, Non. Siap-siap, ya?” ucap pria itu sambil tersenyum
penuh intruksi dan mulai menambah kecepatan mobilnya. Ia sudah mengeluarkan
segenap kemampuanya. Tapi, yang ia herankan, Queen tampak tenang-tenang saja.
Padahal dia sudah sangat ngebut banget.
Setibanya di kantor pria itu pun bertanya, “Non, kok tenang-tenang
saja, apakah tidak takut? Istri saya kalau pas saya pulang kampung, dan saya ajak jalan-jalan, ngebut dikit tidak sampai sekencang ini saja, dia sudah teriak-teriak dan setelahnya dimarahin saya," ceritanya panjang lebar.
Queen hanya terseyum. Mungkin Dedi tidak sadar, ya antara
tak sadar istrinya siapa Queen itu, atau sebaliknya, mengira kalau bosnya tidak pernah ngebut saat bersama anak dan istrinya. Sama anaknya sih, benar selalu pelan, jika pun cepat juga normal. Tapi, tidak jika hanya berdua dengan istrinya. Apalagi saat Al kesal dengan Queen.
“Pak Al biasa ngebut, ya?” tanya Dedi lagi.
“Kau juga tahu sendiri, dia kalau dah ngebut kek apa, kan? Hahaha.”
Dedi hanya menggaruk tengkuknya sendiri yang tidak gatal. Diam-diam
ia merasa malu sendiri.
“Ya sudah, terimakasih, ya? Kau hati-hati di jalan,” ucap Queen.
“Nanti perlu dijemput, Non?”
“Tidak usah. Bareng pak Al saja nanti. Atau jika tidak saya bisa pesan taxi online.”
“Baik, Nona. Selamat bersenang-senang,” ucap Dedi dan
langsung tancap gas.
Sementara Queen hanya tersenyum seorang diri dan
geleng-geleng kepala saja. Kemudian wanita msuk ke dalam kantor tersebut dan langsung menuju ruangan suaminya.
Tiba di sana, ia langsung membuka pintu. Di dapatinya
suaminya tengah duduk memandang ke arah layar monitor dengan serius. Serta kacama putih yang membingkai wajahnya membuat pria itu kian terlihat ganteng saja.
‘Memang, lelaki itu paling ganteng kalau dia sedang serius,’
batin Queen lalu beranjak menghampirinya. Kali ini, ia tidak lupa menutup pintu. Meskipun tidak menguncinya. Karena, di sini tidak ada satu pun staf yang dekat dengan suaminya. Lain jika di perusahaan Garmen. Di sana ada kak Juna. Harus mengunci pintu untuk antisipasi. Karena, jika dia ada keperluan dengan big bossnya asal nyelonong dan buka pintu gitu aja tanpa mengetuk, apalagi minta izin dan permisi.
“Kamu sudah tiba, Sayang?” tanya Al, sambil memandang ke
arahnya, menghentikan jari jemarinya menari di atas keyboard pc-nya.
“Ya, aku baru saja tba. Aku memasak sendiri setelah mengurus Berlyn. Maaf, ya jika aku telat,” ucap Queen sambil menghampiri suaminya. Diletakkannya tas berisi box makanan di atas meja. kemudian ia merangkul Al dari belakang, mencium pipi pria itu dari belakang.
Sayang. Kau kangen aku, ya?”
“Tentu. Apakah kau tidak?” Queen melepaskan pelukannya dan
beridiri tepat di depan suaminya.
“Aku sangat kangen sama kamu. Tapi, aku sengaja langsung ke
kantor. Karena aku yakin kau juga tidak bakal di rumah. Kenapa Berlyn tidak diajak?” tanya Al. kedua mata mereka saling bertemu.
“Dia tidur siang. karena nanti jam setengah tiga akan ada les
privat,” jawab Queen sambil meraih kacamata yang digunakan suaminya dan melepaskan lalu ditaruh di atas meja kerja.
Sedangkan Al, ia langsung memberi respon, menarik leher
Queen dan menciumnya.
Dengan cepat Queen menarik wajahnya menjauh dari Al. “Aku
masakin kamu tumis kacang panjang, tempe mendoan dan ikan dori goreng tepung. Apakah
kau mau makan sekarang?” tanya Queen berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Aku gak selera,” jawab Al sambil tersenyum tipis. Matanya lekat
memandang Queen yang sok sibuk.
“Aku sudah capek-capek masakin kamu, tapi kamu malah bilang
tidak selera, coba saja tadi kau tidak bilang kangen masakan rumah. Aku ga bakal masakin kamu,” ucapnya, sambil cemberut.
“Ya, kangen masakan rumah. Tapi aku masih pengen makan kamu dulu.”
kembali Al melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Tapi, kali ini Queen tidak menunjukkan penolakan sama sekali.
Setelahnya, barulah mereka menikmati hidangan makan siang yang sudah dibawakan oleh Queen tadi di rumah. Di saat jam mepet. Karena lima menit
lagi sudah tepat jam satu. Waktunya bekerja. Memang, selama ini Al selalu bebas melakukan apa saja. Tak aka nada seorang pun yang memarahinya. Tapi, meski begitu ia juga tidak harus berbuat semaunya sendiri kan? Dari kedisiplinan yang ia miliki, menciptakan staf dan karyawan yang displin pula. Dengan dia selalu datang awal, maka, para staf akan malu jika terlambat.
“Setelah ini apakah kau akan pulang? Atau menungguku saja
kita pulang bersama?”
“Aku bantu kamu cek perusahaan garmen saja, gimana?” usul
Queen. sekaligus memberikan jawaban atas pertanyaan suaminya.
__ADS_1
“Apakah kamu tidak lelah?” tanya Al khawatir.
“Tidak. Aku sudah izin pada putri kita, kalau mama akan
kembali sore, kemungkinan bersama papa. Dari pada aku diam di sini tidak ada yang kukerjakan, aku urus yang sana saja, kan? Ada hasilnya aku meninggalkan putri kita.”
Al tersenyum dan berkata, “Terimakasih, ya?”
“Kita memang harus selalu ada, kan? Oh, iya. Bagaimana keadaan
Clarissa?” tanya Queen.
Cukup lama Al diam. Ia tidak langsung menjawab. Ia bingung,
mau berkata apa terkait putrinya yang itu. sebab, di balik sikap cerianya
sebenarnya ia sendiri juga rapuh, manja, terlihat sekali kalau ia butuh banget orang tua. Tapi, jika Al mengatakan yang sebenarnya, ia takut Queen juga jadi sedih. “Dia baik-baik saja, Sayang. Kian besar, kian dewasa. Sudah tidak lagi suka membuat amanya marah dan ngomel-ngomel, pokoknya.”
“Syukurlah. Tapi, kenapa ya Al. aku merasa kalau di balik ceria dan kenakalannya ada luka besar di hatinya yang ia sembunyikan dengan cara kenakalan dan juga prestasinya itu. sebenarnya dia butuh perhatian. Makanya, ia mendobrak dirinya sendiri melakukan apa yang tidak bisa dilakukan anak seusianya
pada umumnya,” ucap Queen sambil sedikit melamun. Bagaimana pun Namanya orang
tua. Terlebih lagi seorang ibu. Pasti sedih jika hanya bisa mengandung dan melahirkan buah hatinya tanpa bisa ikut merawat dan membesarkannya sendiri. Sekalipun si ibu tahu, putrinya tidak mempermasalahkan, tahu keadaan dan baik-baik saja, komunikasi juga terjalin lancar dengan baik.
Al diam mendengar suara hati istrinya. Sia-sia dia menutupi
kebenaran. Ia lupa, kalau Queen adalah ibu dari Clarissa. Apapun yang dialami putrinya, seorang ibu akan bisa merasakannya. Bahkan, hal buruk belum trjadi saja seorang ibu juga sudah memiliki firasat terlebih dulu.
“Semoga suatu saat kita bisa berkumpul bersama, ya?” ucap Al
sambil merangkul Pundak Queen.
Sementara wanita itu hanya diam saja. Ia sedikit menyesalkan
mendiang mamanya yang menyerahkan salah satu putri kembarnya pada mama Jeslyn,
hanya karena sebuah ramalan yang tidak tentu benar. Tapi, bagaimana pun, dia adalah mama kandung suaminya. Tanpanya tidak akan ada Al. ia juga harus menghargainya. Walaupun, sejak kecil ia tidak pernah diajari percaya dengan ramalan. Lagi pula, dulu orang pertama yang tidak terima dan menunjukkan kemarahan rentang ini juga Al sendiri. Baru setuju setelah mama Clara yang membujuknya.
“Aku berfikir, kalau mami sudah sepuh, Al. dia tidak layak
tinggal sendiri. Kita sebagai anak seharusnya hidup berkumpul bersamanya dan
merawatnya,” ucap Queen. maksut dia memang bagus. Selain dia benar-benar kasian
dengan mama mertuanya, ia juga sudah sangat ingin bisa tinggal berkumpul dengan
kedua anak kembarnya.
“Akhir bulan, kita ke sana bersama, kau bicaralah sama mami,
oke? Siapa tahu, dia mau tinggal di Indonesia bersama kita, kan?” ucap Al sambil mencium pipi iatrinya.
"Tapi, jika tidak, bagaimana?"
"Kau kan bisa membujuknya, Sayang."
“Ya sudah, aku pergi dulu, ya?” pamit Queen pada suaminya
setelah membereskan sisa-sisa makanan dan membawa lagi boxnya.
“Ya, hati-hati, sayang,” ucap Al sambil mengantar istrinya sampai
depan pintu ruangannya.
Queen hanya tersenyum dan melambaikan tangan pada suaminya
dan terus berjalan. Sambil menjawab salam dari staf suaminya.
Setelah Queen tidak lagi nampak dari pandangannya, Al baru menyadari
satu hal. Dia lupa menayakan naik apa istrinya ke mari, bawa mobil sendiri,
atau naik taxi online. Buru-buru Al menelfon Queen sebelum kembali memulai bekerja lagi.
“Halo, ada apa, Al?” tanya Queen. seperti ya ia sudah berada
di dalam mobil.
“Kau tadi kesini bagaimana?” tanya Al, sedikit dengan nada bodoh, karena menaykan hal seperti ini tidak dari tadi. Harusnya, baru sampai juga sudah menanyakan.
“Dedi yang antar. Ada apa?” taanya Queen sekali lagi.
“Lalu sekarang?”
“Aku sudah berada di dalam taxi. Tidak ,masalah. kau bekerja
lah dengan baik, oke?” jawab Queen. Benar-benar tidak mempermasalahkan hal ini.
“Maaf jika aku lupa tidak menanyakan ini padamu tadi. Aku lupa, Sayang.” Al mengepalkan tangan kanannya dan meletakkan di depan keningnya.
“Tidak apa-apa,” jawab Queen santai dan penuh pengertian.
“Hati-hati,” ucap Al. karena ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Selain itu. lalu, mematikan panggilannya.
#Untuk tokoh Axel keknya belum nemu visual. Gimana kalau Berlyn dan Clarissa itu Dilraba saat dewasa nanti, sekarang kan masih 10 tahun. Keknya cocok banget. Bisa ekting jadi orang yang ceria, sekaligus gadis yang anggun.
__ADS_1