
Al memandangi Queen yang nampak serius dengan laptopnya. Bahkan gadis itu nyaris tidak berkedip.
"Sebentar lagi jam makan siang. Kau mau makan apa?" tawar Al pada adiknya yang kini tengah menyambar menjadi staf.
"Apa aja terserah. Sebentar lagi kak Nayla akan kemari membawakanmu makanan. Mungkin aku bisa numpang." Bahakan saat berbicara pun Queen masih saja tetap tidak mengalihkan pandangan matanya dari pekerjaannya.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Baru saja aku japri dia. Menanyakan kemari atau tidak, jika ya, aku minta dia membawakan kemeja, dasi dan juga jas. Setelah jam makan siang anda ada meeting tidak mungkin menemuinya dengan kaus oblong, kan?"
Al menyeringai kecil. Sambil memutar-mutar bolfoin yang ada di tangan kanannya.
"Kau nanti ada praktik atau tidak?" tanya Al.
"Ada, jam tiga nanti, dan aku akan meninggalkan kantor pukul dua lewat lima belas menit, boleh, kan?" Dengan wajah ceria Queen memandang sang kakak. Dan hanya ditimpali dengan anggukan dan senyuman tipis saja.
"Oh, ya. Nanti biar kakak yang antar kamu ke rumah sakit. Kakak ada sedikit keperluan dengan temanmu," ucap Al seolah teringat sesuatu.
"Siapa? Gea? Dia pacar kak Juna. Jika mau cari selir yang lain saja."
"Bukan, apakah kau hanya punya satu teman saja?"
"Tahan emosi, Pak. Saya sedang bekerja. Anda jangan mengacaukan segalanya," sela Queen.
"Pokoknya nanti aku akan antar kamu, titik."
"Alex sudah berjanji akan menjemput dan mengantarkan ku," ucap Queen keberatan.
"Ya sudah aku telfon dia sekarang." Al pun langsung mengambil gawainya dan menelfon adik iparnya. Memberitahukan kalau dia yang akan mengantarkan Quen ke rumah sakit.
Tanpa di jelaskan mengapa, Alex rupanya sudah tahu kalau Al ada keperluan dengan Diaz. Sebab, kakek mertuanya sempat bercerita padanya tempo hari lalu.
"Masalah beres, kan?" ucap Al sambil menatap dengan tatapan seolah mencibir adiknya.
Queen pun mendesah kesal atas apa yang Al putuskan.
Waktu pun menunjukkan pukul dua belas siang. Sudah saatnya para staf dan karyawan beristirahat bersamaan dengan bel herbunyi. Dari HRD menelfon memberi tahukan kalau istri direktur datang. Tanpa menunggu lama Al pun meminta mereka untuk mepersilahkan Nayla masuk.
Selang tiga menit Nayla pun masuk dengan box berisi makan siang dan tas kertas berisi kemeja dasi dan jas untuk Al.
"Quen, kau ada di sini?" tanya Nayla terkejut.
"Ya, pak bos sudah menerimaku bekerja di sini. Jadi, selama di kantor aku tidak memanggil kalian kakak. Melainkan pak dan Bu biar sama dengan yang lain," jawab Quen dengan raut mimik ceria.
Dua gadis itu pun mengobrol dan saling tertawa. Entah apa yang dibicarakannya.
Sementara Al dari tempat dia duduk hanya diam memperhatikan Queen yang tertawa lepas seolah tidak ada beban. Akhir-akhir ini sejak terjadi musibah, gadis itu nyaris tidak bisa tersenyum. Kini, keceriaan itu berangsur-angsur kembali. Diam-diam Al pun ikut tersenyum saat memperhatikan mereka berdua.
"Oh, ya Queen. Kakak bawa makan siang dengan jumlah banyak. Kita ke taman kantor saja bagaimana dan makan bertiga?" ajak Nayla.
"Baik, dengan senang hati. Kita berangkat saja dulu, biarkan pak Al mengganti pakaiannya dulu," Queen pun merapihkan mejanya dan keluar ruangan lebih dulu bersama Nayla.
Saat mereka mulai duduk rupanya ada staf laki-laki yang duduk di taman tersebut sambil membuka laptop dan menikmati makan siangnya.
Hanya saja Queen merasa kalau dia telah mengamati mereka, hanya saja dia diam dan berpura-pura tidak sadar dengan apa yang dilakukan pria itu.
Tak lama kemudian Al datang dengan hanya mengenakan kemeja saja tanpa dasi dan jas utuk makan siang. Karena ia melihat Jevin ada di taman tersebut ia pun mengajak pria itu untuk bergabung dengan mereka.
Jevin pun ikut bergabung dan tak menunjukan sikap keberatan sama sekali. Tapi, pria itu menatap terus ke pada Queen. Queen yang merasa risih akhirnya pun menegur pria itu.
"Hallo, Tuan. Dari sejak kami datang kau selalu melihatku, apakah kita kenal atau pernah bertemu sebelumnya?"
"Eh, maaf. Mba... Anda sekertaris baru pak Al, ya? Tapi, memang sepertinya kita memang pernah ketemu. Dan wajah anda sangat familiar dan tidak asing bagi saya," jawab Jevin dengan percaya diri.
__ADS_1
"Iya, kah? Di mana kau melihatku?"
"Di rumah sakit. Ah, maaf lupakan saja. Mungkin mirip atau saya terlalu terobsesi oleh calon dokter di rumah sakit tersebut. Sebab dia sangat cantik dan sabar seperti mba.' Jevin pun menunduk.
"Ya, dan kusarankan kau jangan sampai teropsesi pada calon dokter itu dan dia. Sebab memang satu orang. Dia sudah menikah," timpa Al.
Jevin pun dengan cepat mendongak melihat ke arah Queen seolah tidak percaya. Lalu, untuk menghilangkan kecanggungan dia pun menatap ke arah Nayla dan menyapanya dengan panggilan Bu.
"Selamat siang, Bu. Kita ketemu lagi," ucap Jevin.
"Kalian pernah ketemu juga sebelumnya?" Tanya Al bingung.
"Mas, kau ingat saat kita bertengkar di jalan waktu itu? Sepulang dari gym? Aku pesan taxi online tapi salah masuk ke mobil dia," jawab Nayla malu-malu
Seketika itu juga tawa Queen langsung meledak. Ia terus tertawa seperti orang kesurupan.
"Ah, tidak menyangka. Dunia itu begitu sempit, ya?" Queen terus tertawa sambil memegangi perut dan menyeka air mata yang mengalir di ekor matanya.
"Sudah Queen. Simpan energimu untuk rapat dan praktek mu di rumah sakit nanti," ucap Al dengan tegas.
Bukannya diam. Queen melihat kakaknya yang seperti itu tawanya malah kian menjadi.
"Ok, ok. Aku diam... Aku diam..." Dan begitu terus tapi, tidak dapat berhenti tertawa. Akhirnya gadis itu pun memilih pergi saja mencari makan di kantin bersama karyawan lain.
Al dan Nayla saling memandang satu sama lain dan keduanya pun saling mengangkat kedua bahunya.
"Mungkin di depan staf barumu itu kau belum pernah menunjukkan ekspresi garangmu, Mas," ucap Nayla.
"Ya, kurasa begitu... Karena dia anak baru," jawab Al sekenanya.
Jam makan siang pun selesai. Semua staf kembali masuk ke dalam ruangannya sendiri dan melanjutkan kembali pekerjaan masing-masing.
Begitu pula dengan Queen. Dia sudah berada di ruangannya menyiapkan berkas dan arsip untuk rapat hari ini.
"Sayang, apakah semua sudah selesai?" tanya Al yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"Haha. Maaf aku hanya terbiasa saja. Lagi pula tidak ada orng di sini," jawab Al.
"Semuanya sudah siap. Apakah kita ke tempat rapat sekarang? Rapat di mulai kurang lima belas menit lagi." Queen melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya.
Al merebahkan diri di atas kursi kerjanya sambil bersandar ia meraih tas kertas dan mengambil dasi dari dalamnya dan meminta Queen untuk memasangkannya.
"Pasangkan ini."
"Gak mau!" Seru Queen.
"Kau menolak permintah bosmu, Queen?"
Quen pun mendengus kesal lalu bangkit. Diraihnya dasi dari tangan Al dengan kasar dan ia berdiri tepat ndindrpannya sedikit membungkuk untuk memasangkan dasi itu di leher kakaknya.
"Tok...tok..tok..."
"Masuk!" jawab Al.
Rupanya Queen tidak menyadari kalau ada yang masuk ke dalam ruangan itu. Ia terlalu fokus memasanhkan dasi itu. Dan dua menit kemudian.
"Nah, sempurna... Akhirnya bisa juga. Untung papa pernah mengajariku," ucapnya ceria.
"Terimakasih, sayang." Dengan sengaja Al mencium pipi kiri Queen di depan staf wanitanya yang sudah sedari tadi berdiri menunggu Al. Dan jelas saja dia tahu apa yang mereka berdua lakukan.
"Sama-sama, Pak." Quen menjawab dengan senyuman dan mengelus kedua sisi dada Al dengan maksud merapihkan kemejanya di bagian itu.
Tapi, saat ia berputar dan melihat seorang wanita dengan pakaian sexy dan rambut di curly betapa terkejutnya dia.
__ADS_1
Ya, bukan dia. Tapi, mereka sama-sama terkejut. Queen terkejut karna ada orang lain yang melihatnya. Meskipun itu baginya sudah biasa, tapi, luar biasa bagi orang lain. Terlebih mereka tidak tahu hubungan asli antara dia dan Al.
Sementara wanita itu terkejut karena baru kali ini melihat bosnya yang seperti kulkas itu bersikap romantis pada wanita, dan itu bukan isterinya.
"Ada apa, Ren?" Tanya Al dengan suara dinginnya. Seraya memperbaiki lagi letak dasinya. Justru malah terkesan yang dilakukan Queen baru saja bukan memasang dasi, tapi aktivitas lain yang membuat dasinya berantakan.
"E... Anu, Pak itu. Peserta rapat sudah siap," jawab wanita itu tergagap.
"Ok. Lima menit lagi saya akan masuk ruangan."
Wanita itu pun segera bergegas berlari. Queen sudah menduga. Pasti mereka akan keluar dan menggosip.
Dan benar saja saat Queen dan Al keluar semua staf berkumpul dan mengobrolkan sesuatunya. Saat mereka melintas semuanya diam dan bungkam.
Acara rapat berjalan lancar. Usai rapat Queen segera saja keluar dari ruangan itu tanpa peduli dengan Al.
Menyadari perubahan pada adiknya Al segera berlari menyusul. Satu kali dua kali Al memanggil, Queen tidak menggubris. Tapi, di panggilan ketiga dia sadar akan sesuatu. Jika dia menunjukkan sikap marahnya. Maka sang kakak akan malah semakin menggodanya
Ini aneh memang. Dulu, dia yang suka menggoda sang kakak dan menjulukinya gay sampai pria tua. Sekarang justru malah Al yang suka menggoda Queen. Saat semuanya jadi terbalik.
"Queen! Kau marah sama kakak?"
"Pak, ini tempat kerja. Siapa juga yang marah sama kamu?" Jawab Quen sambil terus berjalan.
"Itu kamu jadi beda," protes Al.
"Hey, pak tua. Kau ini sudah dewasa dan tua. Stop jangan berprilaku seperti anak kecil." Cetus Queen membuat Al tertawa dan mengejarnya.
"Ayo ke rumah sakit sekarsng!" Ajak Al sambil menggandeng tangan adiknya paksa.
Begitu dia orang yang baru saja bertengkar itu melintasi lobi dan keluar kantor para staf kususnya cewek gencar bergosip.
"Itu staf baru siapa sih namanya? Queen ya kalau ga salah. Baru sehari kerja sudah sangat berani pada pak Al."
"Ya, sepertinya dia suka. Bahkan tadi saat aku masuk ruangan mereka wanita itu berdiri di depan pak Al yang tengah duduk di kursinya setelah tau aku masuk wanita itu buru-buru ambil jarak sementara pak Al membenarkan dasinya. Ngapain aja coba di dalam?"
"Mama kita tahu, bertahun-tahun kita berkerja di sini tidak ada yang pernah satu ruangan apalagi diajak makan siang bareng. Dasar wanita ular di depan istri bos sok baik, di belakang malah merayu."
Mendengar segerombolan para wanita menggosih, Jevin yang kebetulan tengah bersama Juna menghampiri mereka.
Dengan tegas Jevin berkata pada mereka, "gadis yang kalian sebut wanita ular itu adalah wanita cerdas dalam akademik. Dia baru lulus dari fakultas kedokteran di universitas Indonesia tahun ini dan tengah menjalani sekolah profesi. Mungkin satu tahun lagi juga resmi jadi dokter. So jangan samakan dia dengan kalian yang hanya jual tampang."
Sontak empat wanita itu langsung bungkam. Terlebih ada Juna di sana. Pria yang terkenal sebagai tangan kanan Al itu juga ditakuti oleh semua staf.
"Kalian bubar dan bekerja di tempat masing-masing."
Dua pria itu pun pergi ke ruangannya kebetulan mereka masuk dalam satu tim di bagian pemasaran.
"Memang apa alasan nona Queen tidak menunjukan identitas aslinya pada kami, Jun? Tanya Jevin penasaran.
"Ya, mungkin dia menghindari perhatian orang-orang. Dari sejak SMA dia juga begitu. Tampil biasa dan sederhana. Ke sekolah ikut naik angkot dengan teman-temannya. Jadi, tidak ada yang tahu kalau dia putri konglomerat."
"Menarik sekali," gumam Jevin tanpa sadar tersenyum seorang diri.
"Jangan tertarik sama dia. Dia sudah menikah," cetus Juna.
"Loh, yang dikatakan pak Al tadi benar dong?"
"Apaan?"
"Kalau Queen sudah menikah."
"Dasar! Ya sudah ayo kerja!" Ajak Juna. "Eh, tunggu dulu. Kau bagaimana bisa tau kalau Queen itu koas, Jev?"
__ADS_1
"Ya, sebulan sekali aku mengantar ibuku kontrol dan pernah dua kali Queen yang menangani. Awalnya dia malah kena hina ibuku." Jevin menutup wajahnya dengan tangank kanannya. "Ibuku bilang tidak mau ditangani oleh koas karena mereka tidak berpengalaman dan banyak lagi, ah. Aku malu kalau ketemu dia lagi," ucap Jevin.
Sementara Juna bingung harus apa. Dia akhirnya hanya memilih tertawa saja.