
Raisha berjalan dengan langkah gontai, dia tidak menuju kantin, melainkan ke toilet. Dia mencuci mukanya berulangkali agar dirinya terlihat baik-baik saja. Dia berusaha menyingkirkan semua hal negatif tentang apa yang dia lihat tadi.
Bagaimana bisa dia terus memaksa logikanya bahwa wanita yang bersama Vano tadi hanyalah pemuas nafsunya saja, sedangkan uda jelas-jelas Vano memperlakukannya sangat spesial sekali, terlebih sejauh ini Vano tidak pernah membawa atau mengizinkan wanita datang ke kantornya.
Gadis itu manis, cantik masih sangat imut dan manja sekali pada Vano, 'Siapa dia sebenarnya? Pacarnya atau siapa?' pikiran Raisha tidak bisa berhenti. Harinya sangat kacau banyak pekerjaan yang keteteran karena kurang fokus.
"Maaf pak, jika saya lancang, siapa gadis yang kemarin berada di ruangan bapak?"
"Sha, kamu itu asistenku, hanya boleh bertanya mengenai pekerjaan kantor, bukan soal pribadiku!" cetus Vano kesal.
Hal itu membuat Raisha semakin yakin kalau gadis itu memang benar-benar spesial baginya.
"Ok, jika ini maumu, Van. Aku akan membuat kau tak berdaya, kau harus jadi miliku, jika tidak bisa dengan cara baik, dengan cara kotorpun aku tidak masalah," ucap Raisha seorang diri. Saat melihat Vano sudah berjalan jauh di depannya.
"Sayang, kamu tidur dulu saja, gih! Ga usah nunggu aku, aku pulang larut karena lembur," isi pesan Vano untuk Clara, setelah menulis pesan itu ponselnya diletakkan asal dalam saku kemejanya, dia hanya fokus pada pekerjaan supaya cepat selesai.
Malam itu semua staf dan karyawan sudah sepi, tidak ada seorang pun kecuali satpam. Namun, rupanya Raisha tidak pulang, dia menunggu Vano.
"Permisi, pak. Ini saya bawakan kopi untuk bapak supaya tidak mengantuk," ucap Raisha sambil meletakan secangkir kopi di atas meja kerja Vano.
"Ok, taruh situ saja!" ucap Vano cuek.
Raisha masih saja berada di samping Vano, engan beranjak dari tempatnya.
"Kenapa kamu tidak pulang? Ini sudah malam."
"Saya masih nunggu jemputan dari teman saya, tapi dia tidak bisa saya hubungi," jawab Raisha.
Dia tersenyum melihat Vano mulai meraih kopi yang dibuatnya dan langsung meminumnya sampai habis.
"Aduuuuh!" erang Vano sambil memijat kepalanya.
"Pak Vano, Bapak kenapa?" tanya Raisha pura-pura panik.
"Tidak tahu, Sha! Kepalaku pusing sekali," ucap Vano.
__ADS_1
Raisha menggandeng tubuh Vano yang sudah lemas, di raihnya kunci mobil di hadapan Vano. Dengan bersusah payah dia menggiring Vano masuk ke dalam mobil.
"Pak Vano kenapa, Mbak?" tanya seorang satpam.
Raisha kaget, karena ada yang melihatnya, tapi dia berusaha untuk tenang seolah ia tidak tahu apa-apa, "Kami tadi lembur untuk persentasi besok, Pak. Tapi sepertinya dia kelelahan sampai pingsan, mari Pak." ucap Raisha lalu mengemudikan mobil Vano ke sebuah hotel.
"Malam ini, akan menjadi sejarah buat kita, Vano. Kau selamanya akan menjadi milikku," ucap Raisha di hadapan Vano yang sudah sadar tapi kepalanya terasa berat.
Raisha melepas semua pakaian yang Vano kenakan, dia mulai mencumbu Vano yang tidak 100% sadar, dia benar-benar kehilangan akal, manakala mendengar ucapan bercampur desahan tak jelas keluar dari bibir Vano.
"Clara Sayang!"
Raisha kaget mendengar Vano menyebut nama Clara sambil meraih dirinya dan mencumbunya, "Van, ini aku Raisha bukan Clara!"
"Clara, aku sangat sayang sama kamu, aku cinta kamu Ra," ucap Vano sambil terus mencium leher Raisha.
Pagi-pagi sekali Clara sudah berulang kali menghubungi suaminya tapi, nomornya tidak aktif, "Katanya pulang malam, tapi sampai pagi juga tidak pulang," gerutu Clara lalu melempar ponselnya di atas ranjang. Dan pergi ke kamar mandi.
Sehabis mandi Clara turun ikut sarapan besama Andrean dan Vivian," Selamat pagi, Papa, Mama." Lalu duduk dan mengambil sepiring nasi goreng di hadapannya.
"Vano mana, sayang?"
"Vano tidak pulang, Pa. Katanya semalam lembur."
Mendengar jawaban Clara, Andrean berkerut kening, dia tidak merasa memberi banyak tugas kepada Vano, kenapa harus sampai tidak pulang.
"Claraaa!" rintih Vano lirih.
Vano terkejut mendapati dirinya di sebuah tempat tidur yang tidak dia kenal bersama asistennya dalam keadaan tak berbusana. "Ada apa ini, Sha?" bentak Vano.
"Bapak membentak saya? Pak semalam anda begitu memaksa saya, dan menodai saya, dan sekarang bapak justru marah pada saya?" ucap Raisha sambil menangis.
__ADS_1
Kepala Vano sangat berat, dia masih tidak bisa mengingat apapun, dia berusaha bangkit menuju kamar mandi.
"Pak Vano, Pak! Saya mohon bapak mau bertanggung jawab atas yang anda lakukan pada saya, saya malu pak!"
"Lepaskan saya!" bentaknya.
Dia langsung mengenakan pakaian sejadinya, lalu bergegas keluar dari kamar hotel, dan dengan kecepatan tinggi Vano mengemudikan mobilnya pulang ke rumah.
Raisha tersenyum penuh kemenangan manakala melihat hasil potretan dirinya bersama Vano, seoalah benar-benar bercinta semalam.
"Ok, akan kucari Clara, dan kutunjukan foto-foto ini padanya. So, dia akan pergi meninggalkan Vano, dan Vano akan menjadi miliku selamanya," ucapnya sambil menggenggam erat gawainya.
Clara baru saja mengantar Andrean dan Vivian berangkat ke kantor dari gerbang. Dia hendak masuk kerumah, baru saja menarik ganggang pintu, terdengar bunyi clakson. Clara menoleh, matanya berbinar manakala melihat mobil Vano yang datang.
Vano turun dari mobil dengan penampilan kucel dan acak-acakan, tidak seperti biasa yang selalu terlihat rapi, dia juga terlihat kurang sehat.
"Kamu dari mana saja, Sayang?"
Vano diam tidak menjawab, tiba-tiba badannya ambruk, dan hanya bertumpu pada Clara. Tubuh Clara juga sempat oleng, dia bertahan karena tembok tepat ada di belakangnya, jika tidak. Bisa dipastikan keduanya akan sama-sama jatuh di lantai.
"Bi Narti, tolong!" Clara berteriak saat hamoir tidak mampu menahan tubuh Vano.
Bi Narti datang dengan tergopoh-gopoh, "Den Vano kenapa? Ada apa ini Mbak?"
"Tidak tau, Bi. Ayo bantu aku bawa di ke kamarnya! Tolong ya Bi,"
Dengan bantuan Bi Narti akhirnya Vano bisa berbaring nyaman di atas ranjangnya.
"Ada yang bisa saya bantu lagi, Mbak?" ucap Bibi setelah memberikan baki berisi air hangat untuk mengompres Vano.
"Tolong buatkan Vano bubur ya Bi," ucap Clara merasa tidak enak. Memang selama ini Clara tidak pernah mau di panggil Non atau apalah, cukup mbak atau Clara saja. Soal keperluan pribadinya, jika tidak q-benar darurat, dia selalu mengerjakan semuanya sendiri.
__ADS_1