Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 48


__ADS_3

Quen bercengkrama bersama Axel di teras sambil menunggu Adiya pulang. Sedangkan Livia, dia berada di dalam. Entah apa yang dilakukannya.


"Kakak, apakah benar kau akan menikah dengan papaku dan menjadi mama baruku?" tanya Axel polos.


Quen menatap mata hitam itu berbinar menunjukan kebahagiaan di sana.


"Siapa yang bilang?"


"Papa kemarin bilang. Kalau kakak jadi mamaku, aku pasti senang setiap hari kita bersama." Bocah itu tertawa menunjukan barisan giginya yang kecil-kecil dan rapi.


Quen menatap anak itu dengan seksama, saat tersenyum dia begitu menawan seperti papanya.


Lalu, kenapa Novita bisa meninggalkan anak dan suami yang baik seperti ini demi pria yang belum tentu baik? Tidakkah mereka menyesal?


"Kakak, jangan melamun. Kakak tidak suka sama aku ya?"


"Tentu saja kakak suka sama kamu, iya, sebentar lagi kakak akan menikah dengan papa Aditya, dan menjadi mama barumu," ucap Quen sambil memeluk Axel.


"tiiinn..tiiiin...tiin"


Quen dan Axel menoleh ke arah gerbang, rupanya Aditya sudah datang.


"Kakak, Papa sudah datang." Axel melompat kegirangan berhambur menuju garasi menghampiri Aditya.


"Papa!" Anak itu terus berlari memeluk papanya yang baru saja datang.


Dengan sigap Aditya menangkap putranya dan menggendongnya.


"Ada apa sayang? Kau sepertinya bahagia sekali hari ini, ada apa?" tanya Aditya.


"Kapan papa akan menikahi kakak biar dia cepat menjadi mamaku," jawab bocah itu sambil tertawa.


"Secepatnya. Ayo kita masuk dan makan malam." Aditya menurunkam Axel dari gendongannya, anak itu berlari ke dalam sambil bertetiak memanggil Omanya.


Sedangkan Aditya menghampiri Quen lalu memberikan sedikit pelukan.


"Bagai mana siangmu di sini? Bisa tidur, gak?" tanya Aditya lirih, setengah berbisik.

__ADS_1


"Terlalu nyenyak malah, aku bangun tidur mama sudah selesai masak dan mengepel, aku jadi tidak enak."


"Tidak apa-apa, dia ngerti kalau kamu lelah." Pria itu memberikan ciuman kecil pada kening Quen. "Kita makan malam dulu, setelah itu kuantarkan kamu pulang, ok?"


"Baiklah." Gadis itu menunjukan senyumannya berjalan sambil bergelandut manja di lengan kiri Aditya.


"Aditya, Quen, kapan kalian akan tunangan? Apakah menentukannya?" ucap Livia membuka pembicaraan.


Dua insan itu saling pandang, antara kaget dan bingung. Karena memang keduanya belum memikirkan kapan akan dilaksanakannya.


"Aditya sih terserah Quen aja. Kalau perlu gak usah tunangan, kita langsung nikah aja, gimana Quen? Prang dijodohkan kebanyakan juga langsung nikah, kan?" Aditya melirik sambil tersenyum penuh arti.


"Aku sih iya aja, tapi kamu bicara sama papa mamaku," timpal Quen.


"Ya sudah, segera berikan dia cincin yang sudah kau persiapkan, Dit. Dan jangan tunda lagi pernikahan kalian, kalian sudah lama pacaran bukan? Dan akhir-akhir ini kalian kuga sering pergi bersama. Kita menghindari yang buruk saja."


"Baik, Ma. Sekalian deh, aku lamar lagi Quen di depan orangtuanya. Mama dan Axel ikut ke rumah Quen, ya?" ucap Aditya bergegas ke dalam kamar. Tak lama kemudian ia sudah megenakan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu. Sangat rapi dan begitu manly.


Quen tersenyum seorang diri mendapati dirinya merasa beruntung dinikahi oleh pria yang sudah lama jadi pujaan para mahasiswi di kampusnya. Sekalipun mereka tahu bahwa Aditya seorang duda beranak satu. Ia juga pernah dengar salah satu teman sekelasnya berkata sekalipun pak Aditya punya anak lima kalau seperti itu, aku ga akan sanggup nolak.


Tiba-tiba Aditya berjongkok di bawah Quen yang dduk di kursi teras.


"Tidak," jawab Quen terharu.


Aditya merogoh saku celananya, mengeluarkan benda herbentuk hati warna merah hati, membukanya dan menunjukannya kepada Quen.


"Apakah kau menyukainya?"


Terlihat dari dalam sepasang cincin berlian yang cantik dan elegant.


"Bagus, apakah itu untuk pernihakan kita?"


"Nanti aku akan melamarmu, memang sangat konyol dan terkesan memberi kejutan buat keluargamu. Tapi, apa mau dikata. Mamaku menginginkannya saat ini juga!"


Tak lama kemudian Liva keluar bersa Axel mengajak Aditya agar segera berangkat agar tidak kemalaman. Karena besok Axel harus sekolah.


🌸 🌸 🌸

__ADS_1


Dan benar saja, saat tiba di rumah Quen semua orang terkejut karena Aditya membawa ibu dan anaknya. Terlebih saat Aditya bermaksut melamar dan ingin melaksanakan pernikahan secepatnya.


Tentu saja, pagi pamitnya bermain kr pantai, mampir ke rumah Aditya malamnya mereka bertunangan tanpa persiapan. Karena Quen sendiri tidak keberatan maka kedua orang tua dan keluarganya pun memberikan restu. Menundukung penuh keputusan mereka serta mendoakan agar keduanya hidup rukun bahagia selamanya.


"Jadi pernikahan akan dilaksanakam pertengahan bulan depan ini, ya Bu?" tanya Clara pada calon besannya untuk memperjelas.


Setelah semua di rasa cukup Aditya dan keluarganya pun memohon diri.


Sedangkan di dalam rumah itu, Quen menerima banyak pertanyaan yang sama dari seisi rumah.


Kenapa mendadak sekali? Kenapa kesannya buru-buru.


Lalu Quen menceritakan pada mereka kalau ini keinginan mamanya Aditya. Sedangkan dia sendiri masih mau menunggu dirinya sekalipun nanti sampai ia resmi mendapat gelar dokter.


Karena sudah larut, semua orang bubar masuk ke kamar masing-masing. Untuk beristirahat. Namun tidak dengan Quen. Dia tidak bisa tidur, entah terlalu bahagia atau bagaimana. Di dalam kamar ia punemutuskan untuk menghubungi kakaknya yang berada di Jepang.


"Apakah kakak sibuk sampai-sampai tidak pernah lagi menghubungku?" Protes Quen sambil mengapit benda pipih itu di antara teling dan lehernya, sedangkan tangannya sibuk menyiapkan keperluan kuliahnya besok.


"Maafkan kakak, dalam seminggu ini kakal memang sedikit sibuk, bahkan jarang pulang ke rumah, apakau kau merindukan kakak?" jawab Al dari seberang sana.


"Ya, kapan kakak bisa pulang? tangal duapuluh Desember aku akan menikah. tidakkah kau ingin menyaksikan pernikahan adikmu ini?"


Quen mendengar suara Al terbatuk di seberang sana, sepetinya kakaknya mendengarkan dirinya bicara sambil meminum sesuatu. karena terkejut, jadi pria itu tersedak dan terbatuk-batuk.


Al berdehem beberapa kali, mengatur napas dan menghembuskan napas panjang. "Kau menikah Desember bulan depan di tahun ini?" tanya pria itu seolah tidak percaya dengan pendengarannya.


"Tentu saja tahun ini, jika tahun depan, buat apa aku memintamu pulang sekarang?" jawab Quen kesal sambil memutar dua bola matanya.


"Baiklah, kakak akan segera menyelesaikan pekerjaan di sini, mungkin baru dua minggu lagi kakak bisa pulang, tidak apa-apa, kan?"


"Iya, tidak apa-apa, asal jangan mepet sama hari H saja. bagaimana kabar Bilqis dan kak Nayla?"


"Mereka baik-baik saja di rumah. "


"Ya sudah kak, aku mau tidur dulu, ya? byee."


Gadis itu pun memutus sambungan selulernya meletakan benda pipih itu di atas meja belajarnya lalu berjalan ke arah kasur dan tertidur begitu badannya terhempaskan.

__ADS_1


🌸 🌸 🌸


Siang itu saat Quen pulang dari kampus di halaman rumahnya ada mobil asing terparkir. dia tidak mengenali mobil itu. dan benar saja di rumahnya tengah kedatangan tamu dan baru kali ini Quen melihatnya. kira-kira siapa pria itu?


__ADS_2