
Karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari Nayla Al pun
bertanya sekali lagi dengan nada yang sedikit lebih tinggi. Masih tak ada
jawaban dari wanita yang ia nikahi sekitar empat tahun silam itu, melainkan bocah berusia lima
tahu itu lah yang bertanya kepadanya.
“Papa, apakah benar aku ini bukan putri kandungmu? Apakah
ketika kau menikah dengan mama aku sudah ada?”
Al memandang ke arah Queen, tangannya masih menggenggam
lengannya, sementara ekspresi wanita itu kian tak peduli.
“Apakah kau mengatakan sesuatu barusan?” tanya Al dengan lirih, Tampa mengalihkan pandangannya ke arah Queen.
“Tanyakan padanya, dari siapa dia mendengarnya.” Queen pun
menghempaskan tangan kakaknya lalu pergi. Wanita itu menghampiri kakeknya,
mengajak ke rumah sakit terlebih dahulu, sebab jadwal prakteknya yang masih
dikatakan agak siang, sekalian mengajak kakek satu-satunya untuk pergi
jalan-jalan.
Sedangkan di dapur, Al tidak mau mengulur waktu, ia merasa
jengah berada dalam satu ruangan dengan Nayla. Jadi, ia pun memberi jawaban
pada Bilqis yang sebenarnya. Meskipun ia tahu itu mungkin sangat menyakitkan,
namun kenyataannya juga memang seperti itu.
“Kamu dengar dari siapa, Bilqis?”
“Mama tadi ngomong sama tante Queen.”
“Iya, yang dikatakan oleh mamamu benar, ya sudah cepatlah
kamu pergi ke sekolah!” Pria itu pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Sementara ketika di luar, ia melihat Queen mendorong kursi roda kakek Andrean
keluar.
“Queen, Kakek,kalian mau ke mana sepagi ini?” tanya Al saat
ia hendak ke garasi.
“Kami mau ke rumah sakit untuk jenguk papa dan mama kalian,
Al. Sebenarnya kakek maunya nanti bareng saat Queen berangkat berkerja. Tapi,
Queen menolak.
Al Nampak berfikir sejejak. Lalu kemudian ia menyampaikan
pendapatnya, “Bagaimana kalau sama Al juga, Kek? Nanti setelah dari sana Al
langsung ke kantor? Kasian Queen juga nanti kalau membantu kakek keluar sama masuk mobil sendirian.”
Andreas hanya tersenyum, lalu kemudian, pagar yang memang
sudah tidak terkunci itu terbuka lebar. Al hafal dengan gestur itu, siapa yang tengah
membuka pagar ia tahu. Seketika itu juga pria itu langsung buang muka.
“Oh, sama dia kalian pergi? Ya sudah.” Al langsung menuju
garasi tanpa mau menyapa Diaz terlebih dahulu, bahkan saat mobilnya melewati
mereka pun Al juga tidak mengklaksonnya.
Andrean hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saja
saat melihat tingkah Al yang menurutnya lucu.
“Apakah kita akan berangkat sekarang, Kek?” tanya Diaz.
“Iya, tunggu apa lagi?” ucap kakek Andreas.
Tiba di kantor Al merasa pikirannya sangat kacau, semua staf
dan karyawan yang menyapanya tak ia tanggapi.
“Pak Al kira-kira kenapa, ya? Baru tiba dan sepagi ini saja
ia sudah terlihat murung gitu?”
“Gak tahu, kita buruan kerja saja jangan sampai ada
kesalahan hari ini agar tidak kena marah berlipat.”
“Dalam kondisi seperti ini hanya asisten Queen saja yang
bisa mengatasinya, kemana dia, ya? Nanti dia masuk apa tidak, ya?”
“Gak tahu, denger-denger sih, dia itu dokter loh.”
“Hah, serius?”
“Iya, kemarin saat rapat aku dengar pak Al berkata seperti
itu. Itu pula yang menjadikan alasan kenapa pak Al memberi dia kebebasan waktu
untuk bekerja.
“Uda lama ini dia tidak ke kantor, kira-kira kenapa,ya?”
“Mungkin sibuk di rumah sakit bantu atasi para pasien yang
kena corona.”
🍁🍁🍁
Andrean meminta Diaz dan Queen untuk tetap di luar saja,
sekalipun dua anaknya itu ada dalam keadaan koma, dan mungkin juga tidak akan
bisa dengar apa yang ia katakana, ia tetap ingin mengatakan sesuatu yang
penting dan tentu saja tanpa sepengetahuan mereka berdua.
Queen mengajak Diaz ke balkon, keduanya berdiri di sana
sambil menikmati pemandangan ibu kota yang sepi.
Diaz meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan
Queen.
Queen melihat tangan pria itu lalu, mendongak ke wajahnya,
mereka pun sama-sama tersenyum.
“Nanti malam dinner, yuk!”
“Hah, di mana?”
“Terserah kamu, mau di mana?”
“Pulang dari praktek saja kamu jemput aku, kita belanja
bahan makanan, dan masak di tempat kamu, dinnernya di rumah saja.”
“Kamu gak keberatan?”
“Tentu saja tidak, nanti kalau kita sudah menikah juga bakal
kek gitu, kan?”
Diaz tersenyum tidak menjawab, hanya tangannya menjulur ke
wajah wanita di depannya sambil mencubit hidung bangirnya.
Sementara di Ruang ICU Andrean memegang tangan kedua anaknya
yang masih terbaring tak sadarkan diri, ia terus berbicara meminta agar mereka
__ADS_1
segera sadar supaya dapat melihat seperti apa lucunya anak yang mereka adopsi
dan ia besarkan itu cemburu pada pacar adiknya.
“Clara, Vano. Jika saja kalian tidak seperti ini, mungkin
kalian bisa bantu mempercepat menyatukan hubungan mereka, Kulihat Al juga sudah
bosan dengan Nayla, tapi, sejauh ini papa dan siapapun belum ada yang tahu
alasan di balik itu sema untuk apa dia tetap mempertahakan juga kami tidak tahu,
kalian cepat sadarlah, Nak. Papa rindu, papa Andreas dan mama kalian sudah
tidak ada lagi bersama kita, jika kelak kalian sadar, papa harap ikhlaskan
kepergian mereka ya? Agar mereka tenang di alam sana.”
Andrean mencium kening kedua anak-anaknya secara bergantian,
lalu ia pun keluar meninggalkan ruang ICU. Sedangkan Queen dan Diaz sudah ada
di depan ruangan tempat di mana keluarga pasien menunggu.
“Kita kemana sekarang?” tanya Andrean kepada dua anak muda
yang tengah menunggunya.
“Kakek mau kemana? Kita siap temanin kok,” jawab Queen
antusias.
”Kita kembali saja pulang ke rumah.’’
🍁🍁🍁🍁
Tidak seperti biasanya, setelah mengantarkan Bilqis ke
sekolah Nayla langsung saja pulang ke rumah, ia merasa ada yang janggal dengan
Al. Jika dulu ia seperti menjaga psikis Bilqis, sengaja tidak memberitahukan
kalau dia adalah anak tirinya, sekalipun dalam keadaan marah, kenapa pagi tadi saat
bersama Queen malah dengan enteng mengatakahn yang sejujurnya tanpa berusaha
menutupinya. Atau minimal berkata saja, meskipun begitukan papa sayang sama
Bilqis bukan?
Hari ini Nayla hanya mengunci diri di dalam kamarnya saja, ia
mulai berfikir kalau Al memang benar-benar tidak mencintai dirinya lagi. Namun tidak
berfikir jika suaminya jatuh cinta pada adik angkatnya itu, karena beberapa
hari ini mereka banyak bertengkar. Sayangnya, Nayla tidak tahu apa penyebab
mereka marahan. Mungkin jika dia tahu pasti akan semakin terpuruk saja.
Dalam keterpurukannya, ia mengambil gawainya dan berusaha
menghubungi Jevin yang selalu ada untuknya. Tak lama kemudia pria itu
mengangkatnya.
“Halo, Nay, ada apa?”
“Kamu tidak sedang sibuk ya kok bisa angkat panggilanku?”
“Ada apa? Selama tidak ada suamimu, kenapa aku harus
mengabaikan panggilan darimu, Nay? Apa kau ada dalam masalah?”
“Ya, dapat dikatakan seperti itu.”
“Kenapa? Cerita saja sama aku, nanti aku dengerin dan jika
bisa pasti aku kasih solusi.”
“Sepertinya sudah tak ada solusi lagi Jev. Aku Cuma butuh
“Masalah sama adik ipar atau suami? Perlu kukasih pelajaran
lagi?”
“Nanti saja, Jev. Kita kemu di tempat biasa.”
“Ya sudah, tunggu aku nanti, begitu jam makan siang aku akan
segera menjemputmu.”
“Jangan menjemputku, Aku akan langsung ke sana saja, biar
lebih hemat waktu,”j awab Nayla, lalu mematikan panggilannya.
Baru saja Nayla mematikan telfonnya, di bawah sana terdengar
suara berisik, sepertinya Queen dan kakek mertunaya sudah tiba dari rumah
sakit.
Naya berfikir, jika saja mama mertuanya tidak seperti
itu, dan masih ada bersama mereka seperti dulu, ia yakin Al, tidak akan dingin
kepadanya, sebab hanya dia yang suaminya dengar, dan hanya mama mertuanya saja
yang sepertinya selalu ada dipihaknya, tidak ada bosannya mama Clara menasehati
Nayla dan Al agar keduanya rukun. Tapi semenjak kecelakaan itu, Al kini jauh
lebih tak terkendali, hampir tidak ada yang ia dengarkan di rumah ini.
Untuk berbasa-basi, Nayla turun ke bawah ikut menemui Diaz,
di sana ia juga menawarkan minuman untuk tamunya.
“Loh, Diaz. Kok bisa datang berengan?”
“Iya, Kak. Tadi kami ke rumah sakitnya barengan kok,” jawab
Diaz.
“Mau minum apa kamu Diaz?” tawar Nayla.
Sudah dibuatkan bibi kok, kak,” jawab pria itu sambil
tersenyum ramah. Sementara Queen hanya memutar bola matanya, menunjukan kalau
ia tengah jengah dengan wanita berbisa itu.
“Diaz, katanya kamu akan segera melamar Queen, Benar?” ucap
kakek Andrean.
Semua pandangan ketiga anak yang seusia cucunya itu pun tertuju pada pria tua yang tengah
duduk di kursi roda itu.
“Benar, Kek. Kira-kira kapan apakah dari pihak sini sudah menentukan
tanggalnya?”
“Kalau hari kamis bagaimana? Terlalu mendadak apa tidak?
Seminggu setelahnya, pihak perempuannya yang ke Bandung. Sekalian bahas
pernikahan kalian, apa lagi kan yang ditunggu, kalian sama-sama sudah menjadi
dokter juga, kan?”
“Insyaallah saya siap, Kek. Saya juga akan jaga Queen dengan
baik.”
“Baguslah kalau begitu, lalu kamu bagaimana Queen apakah
sudah siap menikah dengan Diaz?”
Wanita itu tidak menjawab, hanya tertunduk sambil tersenyum
__ADS_1
malu-malu saja. Wajahnya Nampak memerah, lalu sedikit mengintip melihat wajah
pria yang ia cintai di sebelahnya, yang juga memandangnya dan tersenyum.
“Kamu siap gak jadi istriku secepatnya?” tanya Diaz lirih
sambil tersenyum.
Queen juga ikut tersenyum, dan memberi jawaban dengan aggukan
saja.
“Ya sudah, kalau gitu kita sepakat hari kamis, ya? Queen,
kamu bisa hubungi Hanifah, ajak dia ke boutique beli kebaya, sekalian pilihkan
untuk dia gaun biar terlihat pantas saat datang di acaramu nanti,” ucap
Andrean, sambil melemparkan pandangannya pada cucu perempuannya.
“Oh, Queen sama Diaz sudah akan tunangan ya? Kok tiba-tiba
sekali?” timpal Nayla.
“Iya, Kak. Doakan saja semua lancar-lancar saja, ya?” jawab
Diaz sambil tersenyum ramah.
Merasa sedikit kasian karena banyak mengabaykan Nayla,
Andrean pun berbasa-basi kepadanya agar ikut membantu Al untuk menyiapkan acara
adiknya untuk hari kamis.
“Nay, kakek sudah bilang sama suamimu, kalau Queen dan Diaz
akan segera bertunangan. Hanya saja dia tidak tahu kapan acaranya, karena kamu
sudah tahu, kamu bilang sama dia, persiapkan sebaik mungkin, kakek mau acara
cucu kakek akan berjalan baik tanpa hambatan apapun.”
Tanpa terasa, mereka bertiga telah ngobrol selama hamir satu
jam, tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul Sembilan lewat lima belas menit,
artinya ia harus segera kembali, sebab jam sepuluh nanti ia harus segera ke rumah
sakit, sementar Queen masih jam sebelas nanti.
“Kek, Nayla mau jemput Bilqis dulu ke sekolahan,” pamit
Nayla yang sedari tadi juga ikut ngbrol bersama mereka.
“Iya, kamu hati-hati,” jawab kakek Andrean sambil mengangguk
pelan.
“Kek, nanti aku habis kerja ke tempat Diaz, ya?” ucap Queen
mengabil kembali perhatian kakeknya yang tengah melihat Nayla keluar.
“Mau ngapain?”
“tadi kan dia ngajak dinner, aku bilang ke dia, kita
sama-sama pulang sore, mending belanja bahan makanan saja terus masak di tempat
dia, dan makan dah berdua.”
Kakek Andrean hanya tersenyum sambil menganguk.
“Ya sudah, kamu persiapkan dulu untuk bekerja kamu nanti,
lalu istirahatlah, masih jam sebelas, kan kamu ke rumah sakitnya?”
“Iya, Kek. Terimakasih, ya?” ucap Queen sambil memeluk dan mencium pipi
kakeknya dan segera berlari ke kamarnya. Sampai di kamar, ia mengeirim pesan
singkat pada Hanifah mengajaknya ke boutique besok pagi untuk acaranya, barulah
dia menyipkan baju, tas sepatu dan perlengkapan yang perlu ia bawa nanti ke
tempat kerjanya.
Di halaman belakang kakek Andrean mencoba menghubungi
Hanifah, tapi nomor gadis itu sibuk melulu, sudah dua kali, ia pun meletakan
ponselnya ke dalam saku dan bersiap hendak melajukan kursi rodanya. Tapi,
tiba-tiba ponselnya pun berdering, setelah ia lihat Hanifah lah yang menelfon.
Jadi, kemungkinan saat ia menelfonnya barusan itu bersamaan dengan Hanifah
menelfon ke nomornya jadi jawabannya akan sama-sama sibuk.
“Halo, Hanifah? Ada apa? Tumben menelfon kakek duluan?”
“Kek, Queen sama Diaz beneran mau tunangan Ya? Kok barusan
dia chat aku katanya mau beli gaun besok?” ucap gadis itu sambil terisak.
“Iya, kamu ikut saja sama dia, pakai pakaian yang pantas,
nurut sama apa yang disarankan Queen, ya?”
“Aku gak ada harapan sama Diaz lagi dongk Kek? Aku kira
kemari Diaz itu ngomong ke aku dia tidak serius, dan katanya kakek mau dukung
aku sama Diaz? Kok malah melancarkan pertuangan mereka sih Kek? Emang aku bukan
cucu kandung kakek, kan? Mama papaku saja tidak peduli sama aku, mereka lebih
mementingkan karir dari pada aku, apalagi kakek yang hanya kakek paman.” Gadis
itu pun Nampak sesenggukan.
Abdrean tidak berkata apapun selain hanya tersenyum dan
meminta Hanifah tetap tenang dan mengikuti alur. Tapi baik sekali, gadis itu
selalu menuruti apapun yang diperintahkan kakek Andrean, sekalipun itu sakit
baginya.
Usai menjemput
Bilqis, Nayla segera pulang. Kali ini ia melakukan semuanya dengan lebih cepat,
tidak membiarkan Bilqis bermalasa-malasan meminta dia agar segera cuci tangan
muka dan kaki lalu berganti pakaian. Bahkan Nayla tidak meminta putrinya
mengulang pelajaran yang didapat di sekolahan tadi, melainkan ia segera
menyuapinya.
“Ma, kenapa begitu buru-buru? Tanya bocah itu dengan polos.
“Iya sayang, habis ini mama harus segera ke kantor papa
untuk menemuinya, ada hal penting yang mau mama sampaikan.”
“Apa, Ma? Apakah kalian akan berpisah? Sebab tadi Bilqis
lihat klian masih marahan, dan papa juga sekarang tak sepeduli dulu dengan
Bilqis, Ma.”
“Bukan, itu. Sudah kamu jangan memikirkan hal yang tidak
penting, sekarang cepat kau main sebentar nanti jam setengah dua belas
segeralah tidur, jika kamu perlu apa-apa, minta tolong sama bibi, ya?”
Nayla pun bergegas mengganti pakaian dan berdandan secantik
mungkin sebelum akhirnya ia berangkat ke kantor suaminya.
__ADS_1