Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 196


__ADS_3

Karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari Nayla Al pun


bertanya sekali lagi dengan nada yang sedikit lebih tinggi. Masih tak ada


jawaban dari wanita yang ia nikahi sekitar empat  tahun silam itu, melainkan bocah berusia lima


tahu itu lah yang bertanya kepadanya.


“Papa, apakah benar aku ini bukan putri kandungmu? Apakah


ketika kau menikah dengan mama aku sudah ada?”


Al memandang ke arah Queen, tangannya masih menggenggam


lengannya, sementara ekspresi wanita itu kian tak peduli.


“Apakah kau mengatakan sesuatu barusan?” tanya Al dengan lirih, Tampa mengalihkan pandangannya ke arah Queen.


“Tanyakan padanya, dari siapa dia mendengarnya.” Queen pun


menghempaskan tangan kakaknya lalu pergi. Wanita itu menghampiri kakeknya,


mengajak ke rumah sakit terlebih dahulu, sebab jadwal prakteknya yang masih


dikatakan agak siang, sekalian mengajak kakek satu-satunya untuk pergi


jalan-jalan.


Sedangkan di dapur, Al tidak mau mengulur waktu, ia merasa


jengah berada dalam satu ruangan dengan Nayla. Jadi, ia pun memberi jawaban


pada Bilqis yang sebenarnya. Meskipun ia tahu itu mungkin sangat menyakitkan,


namun kenyataannya juga memang seperti itu.


“Kamu dengar dari siapa, Bilqis?”


“Mama tadi ngomong sama tante Queen.”


“Iya, yang dikatakan oleh mamamu benar, ya sudah cepatlah


kamu pergi ke sekolah!” Pria itu pun pergi meninggalkan mereka berdua.


Sementara ketika di luar, ia melihat Queen mendorong kursi roda kakek Andrean


keluar.


“Queen, Kakek,kalian mau ke mana sepagi ini?” tanya Al saat


ia hendak ke garasi.


“Kami mau ke rumah sakit untuk jenguk papa dan mama kalian,


Al. Sebenarnya kakek maunya nanti bareng saat Queen berangkat berkerja. Tapi,


Queen menolak.


Al Nampak berfikir sejejak. Lalu kemudian ia menyampaikan


pendapatnya, “Bagaimana kalau sama Al juga, Kek? Nanti setelah dari sana Al


langsung ke kantor? Kasian Queen juga nanti kalau membantu kakek keluar sama masuk mobil sendirian.”


Andreas hanya tersenyum, lalu kemudian, pagar yang memang


sudah tidak terkunci itu terbuka lebar. Al hafal dengan gestur itu, siapa yang tengah


membuka pagar ia tahu. Seketika itu juga pria itu langsung buang muka.


“Oh, sama dia kalian pergi? Ya sudah.” Al langsung menuju


garasi tanpa mau menyapa Diaz terlebih dahulu, bahkan saat mobilnya melewati


mereka pun Al juga tidak mengklaksonnya.


Andrean hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saja


saat melihat tingkah Al yang menurutnya lucu.


“Apakah kita akan berangkat sekarang, Kek?” tanya Diaz.


“Iya, tunggu apa lagi?” ucap kakek Andreas.


Tiba di kantor Al merasa pikirannya sangat kacau, semua staf


dan karyawan yang menyapanya tak ia tanggapi.


“Pak Al kira-kira kenapa, ya? Baru tiba dan sepagi ini saja


ia sudah terlihat murung gitu?”


“Gak tahu, kita buruan kerja saja jangan sampai ada


kesalahan hari ini agar tidak kena marah berlipat.”


“Dalam kondisi seperti ini hanya asisten Queen saja yang


bisa mengatasinya, kemana dia, ya? Nanti dia masuk apa tidak, ya?”


“Gak tahu, denger-denger sih, dia itu dokter loh.”


“Hah, serius?”


“Iya, kemarin saat rapat aku dengar pak Al berkata seperti


itu. Itu pula yang menjadikan alasan kenapa pak Al memberi dia kebebasan waktu


untuk bekerja.


“Uda lama ini dia tidak ke kantor, kira-kira kenapa,ya?”


“Mungkin sibuk di rumah sakit bantu atasi para pasien yang


kena corona.”


🍁🍁🍁


Andrean meminta Diaz dan Queen untuk tetap di luar saja,


sekalipun dua anaknya itu ada dalam keadaan koma, dan mungkin juga tidak akan


bisa dengar apa yang ia katakana, ia tetap ingin mengatakan sesuatu yang


penting dan tentu saja tanpa sepengetahuan mereka berdua.


Queen mengajak Diaz ke balkon, keduanya berdiri di sana


sambil menikmati pemandangan ibu kota yang sepi.


Diaz meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan


Queen.


Queen melihat tangan pria itu lalu, mendongak ke wajahnya,


mereka pun sama-sama tersenyum.


“Nanti malam dinner, yuk!”


“Hah, di mana?”


“Terserah kamu, mau di mana?”


“Pulang dari praktek saja kamu jemput aku, kita belanja


bahan makanan, dan masak di tempat kamu, dinnernya di rumah saja.”


“Kamu gak keberatan?”


“Tentu saja tidak, nanti kalau kita sudah menikah juga bakal


kek gitu, kan?”


Diaz tersenyum tidak menjawab, hanya tangannya menjulur ke


wajah wanita di depannya sambil mencubit hidung bangirnya.


Sementara di Ruang ICU Andrean memegang tangan kedua anaknya


yang masih terbaring tak sadarkan diri, ia terus berbicara meminta agar mereka

__ADS_1


segera sadar supaya dapat melihat seperti apa lucunya anak yang mereka adopsi


dan ia besarkan itu cemburu pada pacar adiknya.


“Clara, Vano. Jika saja kalian tidak seperti ini, mungkin


kalian bisa bantu mempercepat menyatukan hubungan mereka, Kulihat Al juga sudah


bosan dengan Nayla, tapi, sejauh ini papa dan siapapun belum ada yang tahu


alasan di balik itu sema untuk apa dia tetap mempertahakan juga kami tidak tahu,


kalian cepat sadarlah, Nak. Papa rindu, papa Andreas dan mama kalian sudah


tidak ada lagi bersama kita, jika kelak kalian sadar, papa harap ikhlaskan


kepergian mereka ya? Agar mereka tenang di alam sana.”


Andrean mencium kening kedua anak-anaknya secara bergantian,


lalu ia pun keluar meninggalkan ruang ICU. Sedangkan Queen dan Diaz sudah ada


di depan ruangan tempat di mana keluarga pasien menunggu.


“Kita kemana sekarang?” tanya Andrean kepada dua anak muda


yang tengah menunggunya.


“Kakek mau kemana? Kita siap temanin kok,” jawab Queen


antusias.


”Kita kembali saja pulang ke rumah.’’


🍁🍁🍁🍁


Tidak seperti biasanya, setelah mengantarkan Bilqis ke


sekolah Nayla langsung saja pulang ke rumah, ia merasa ada yang janggal dengan


Al. Jika dulu ia seperti menjaga psikis Bilqis, sengaja tidak memberitahukan


kalau dia adalah anak tirinya, sekalipun dalam keadaan marah, kenapa pagi tadi saat


bersama Queen malah dengan enteng mengatakahn yang sejujurnya tanpa berusaha


menutupinya. Atau minimal berkata saja, meskipun begitukan papa sayang sama


Bilqis bukan?


Hari ini Nayla hanya mengunci diri di dalam kamarnya saja, ia


mulai berfikir kalau Al memang benar-benar tidak mencintai dirinya lagi. Namun tidak


berfikir jika suaminya jatuh cinta pada adik angkatnya itu, karena beberapa


hari ini mereka banyak bertengkar. Sayangnya, Nayla tidak tahu apa penyebab


mereka marahan. Mungkin jika dia tahu pasti akan semakin terpuruk saja.


Dalam keterpurukannya, ia mengambil gawainya dan berusaha


menghubungi Jevin yang selalu ada untuknya. Tak lama kemudia pria itu


mengangkatnya.


“Halo, Nay, ada apa?”


“Kamu tidak sedang sibuk ya kok bisa angkat panggilanku?”


“Ada apa? Selama tidak ada suamimu, kenapa aku harus


mengabaikan panggilan darimu, Nay? Apa kau ada dalam masalah?”


“Ya, dapat dikatakan seperti itu.”


“Kenapa? Cerita saja sama aku, nanti aku dengerin dan jika


bisa pasti aku kasih solusi.”


“Sepertinya sudah tak ada solusi lagi Jev. Aku Cuma butuh


“Masalah sama adik ipar atau suami? Perlu kukasih pelajaran


lagi?”


“Nanti saja, Jev. Kita kemu di tempat biasa.”


“Ya sudah, tunggu aku nanti, begitu jam makan siang aku akan


segera menjemputmu.”


“Jangan menjemputku, Aku akan langsung ke sana saja, biar


lebih hemat waktu,”j awab Nayla, lalu mematikan panggilannya.


Baru saja Nayla mematikan telfonnya, di bawah sana terdengar


suara berisik, sepertinya Queen dan kakek mertunaya sudah tiba dari rumah


sakit.


Naya berfikir, jika saja mama mertuanya tidak seperti


itu, dan masih ada bersama mereka seperti dulu, ia yakin Al, tidak akan dingin


kepadanya, sebab hanya dia yang suaminya dengar, dan hanya mama mertuanya saja


yang sepertinya selalu ada dipihaknya, tidak ada bosannya mama Clara menasehati


Nayla dan Al agar keduanya rukun. Tapi semenjak kecelakaan itu, Al kini jauh


lebih tak terkendali, hampir tidak ada yang ia dengarkan di rumah ini.


Untuk berbasa-basi, Nayla turun ke bawah ikut menemui Diaz,


di sana ia juga menawarkan minuman untuk tamunya.


“Loh, Diaz. Kok bisa datang berengan?”


“Iya, Kak. Tadi kami ke rumah sakitnya barengan kok,” jawab


Diaz.


“Mau minum apa kamu Diaz?” tawar Nayla.


Sudah dibuatkan bibi kok, kak,” jawab pria itu sambil


tersenyum ramah. Sementara Queen hanya memutar bola matanya, menunjukan kalau


ia tengah jengah dengan wanita berbisa itu.


“Diaz, katanya kamu akan segera melamar Queen, Benar?” ucap


kakek Andrean.


Semua pandangan ketiga anak yang seusia cucunya itu pun tertuju pada pria tua yang tengah


duduk di kursi roda itu.


“Benar, Kek. Kira-kira kapan apakah dari pihak sini sudah menentukan


tanggalnya?”


“Kalau hari kamis bagaimana? Terlalu mendadak apa tidak?


Seminggu setelahnya, pihak perempuannya yang ke Bandung. Sekalian bahas


pernikahan kalian, apa lagi kan yang ditunggu, kalian sama-sama sudah menjadi


dokter juga, kan?”


“Insyaallah saya siap, Kek. Saya juga akan jaga Queen dengan


baik.”


“Baguslah kalau begitu, lalu kamu bagaimana Queen apakah


sudah siap menikah dengan Diaz?”


Wanita itu tidak menjawab, hanya tertunduk sambil tersenyum

__ADS_1


malu-malu saja. Wajahnya Nampak memerah, lalu sedikit mengintip melihat wajah


pria yang ia cintai di sebelahnya, yang juga memandangnya dan tersenyum.


“Kamu siap gak jadi istriku secepatnya?” tanya Diaz lirih


sambil tersenyum.


Queen juga ikut tersenyum, dan memberi jawaban dengan aggukan


saja.


“Ya sudah, kalau gitu kita sepakat hari kamis, ya? Queen,


kamu bisa hubungi Hanifah, ajak dia ke boutique beli kebaya, sekalian pilihkan


untuk dia gaun biar terlihat pantas saat datang di acaramu nanti,” ucap


Andrean, sambil melemparkan pandangannya pada cucu perempuannya.


“Oh, Queen sama Diaz sudah akan tunangan ya? Kok tiba-tiba


sekali?” timpal Nayla.


“Iya, Kak. Doakan saja semua lancar-lancar saja, ya?” jawab


Diaz sambil tersenyum ramah.


Merasa sedikit kasian karena banyak mengabaykan Nayla,


Andrean pun berbasa-basi kepadanya agar ikut membantu Al untuk menyiapkan acara


adiknya untuk hari kamis.


“Nay, kakek sudah bilang sama suamimu, kalau Queen dan Diaz


akan segera bertunangan. Hanya saja dia tidak tahu kapan acaranya, karena kamu


sudah tahu, kamu bilang sama dia, persiapkan sebaik mungkin, kakek mau acara


cucu kakek akan berjalan baik tanpa hambatan apapun.”


Tanpa terasa, mereka bertiga telah ngobrol selama hamir satu


jam, tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul Sembilan lewat lima belas menit,


artinya ia harus segera kembali, sebab jam sepuluh nanti ia harus segera ke rumah


sakit, sementar Queen masih jam sebelas nanti.


“Kek, Nayla mau jemput Bilqis dulu ke sekolahan,” pamit


Nayla yang sedari tadi juga ikut ngbrol bersama mereka.


“Iya, kamu hati-hati,” jawab kakek Andrean sambil mengangguk


pelan.


“Kek, nanti aku habis kerja ke tempat Diaz, ya?” ucap Queen


mengabil kembali perhatian kakeknya yang tengah melihat Nayla keluar.


“Mau ngapain?”


“tadi kan dia ngajak dinner, aku bilang ke dia, kita


sama-sama pulang sore, mending belanja bahan makanan saja terus masak di tempat


dia, dan makan dah berdua.”


Kakek Andrean hanya tersenyum sambil menganguk.


“Ya sudah, kamu persiapkan dulu untuk bekerja kamu nanti,


lalu istirahatlah, masih jam sebelas, kan kamu ke rumah sakitnya?”


“Iya, Kek. Terimakasih, ya?” ucap Queen sambil memeluk dan mencium pipi


kakeknya dan segera berlari ke kamarnya. Sampai di kamar, ia mengeirim pesan


singkat pada Hanifah mengajaknya ke boutique besok pagi untuk acaranya, barulah


dia menyipkan baju, tas sepatu dan perlengkapan yang perlu ia bawa nanti ke


tempat kerjanya.


Di halaman belakang kakek Andrean mencoba menghubungi


Hanifah, tapi nomor gadis itu sibuk melulu, sudah dua kali, ia pun meletakan


ponselnya ke dalam saku dan bersiap hendak melajukan kursi rodanya. Tapi,


tiba-tiba ponselnya pun berdering, setelah ia lihat Hanifah lah yang menelfon.


Jadi, kemungkinan saat ia menelfonnya barusan itu bersamaan dengan Hanifah


menelfon ke nomornya jadi jawabannya akan sama-sama sibuk.


“Halo, Hanifah? Ada apa? Tumben menelfon kakek duluan?”


“Kek, Queen sama Diaz beneran mau tunangan Ya? Kok barusan


dia chat aku katanya mau beli gaun besok?” ucap gadis itu sambil terisak.


“Iya, kamu ikut saja sama dia, pakai pakaian yang pantas,


nurut sama apa yang disarankan Queen, ya?”


“Aku gak ada harapan sama Diaz lagi dongk Kek? Aku kira


kemari Diaz itu ngomong ke aku dia tidak serius, dan katanya kakek mau dukung


aku sama Diaz? Kok malah melancarkan pertuangan mereka sih Kek? Emang aku bukan


cucu kandung kakek, kan? Mama papaku saja tidak peduli sama aku, mereka lebih


mementingkan karir dari pada aku, apalagi kakek yang hanya kakek paman.” Gadis


itu pun Nampak sesenggukan.


Abdrean tidak berkata apapun selain hanya tersenyum dan


meminta Hanifah tetap tenang dan mengikuti alur. Tapi baik sekali, gadis itu


selalu menuruti apapun yang diperintahkan kakek Andrean, sekalipun itu sakit


baginya.


 Usai menjemput


Bilqis, Nayla segera pulang. Kali ini ia melakukan semuanya dengan lebih cepat,


tidak membiarkan Bilqis bermalasa-malasan meminta dia agar segera cuci tangan


muka dan kaki lalu berganti pakaian. Bahkan Nayla tidak meminta putrinya


mengulang pelajaran yang didapat di sekolahan tadi, melainkan ia segera


menyuapinya.


“Ma, kenapa begitu buru-buru? Tanya bocah itu dengan polos.


“Iya sayang, habis ini mama harus segera ke kantor papa


untuk menemuinya, ada hal penting yang mau mama sampaikan.”


“Apa, Ma? Apakah kalian akan berpisah? Sebab tadi Bilqis


lihat klian masih marahan, dan papa juga sekarang tak sepeduli dulu dengan


Bilqis, Ma.”


“Bukan, itu. Sudah kamu jangan memikirkan hal yang tidak


penting, sekarang cepat kau main sebentar nanti jam setengah dua belas


segeralah tidur, jika kamu perlu apa-apa, minta tolong sama bibi, ya?”


Nayla pun bergegas mengganti pakaian dan berdandan secantik


mungkin sebelum akhirnya ia berangkat ke kantor suaminya.

__ADS_1


__ADS_2