Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
part 29


__ADS_3

BOLEH NANYA TIDAK, SEJAUH INI BAGAIMANA PENDAPAT KALIAN TENTANG NOVEL INI? KASIH KOMEN, YA BIAR AKU SEMANGAT NULISNYA, KARENA NGETIK JUGA PERLU PERJUANGAN...😊😊😊




************



Pagi-pagi sekali Clara sudah terjaga, dengan segera dia ke kamar toilet mencuci jawah dan menggosok giginya.



Sambil meletakan handuk, dilihatnya jam pada ponselnya, masih menunjukan pukul 05.45 WIB.



Clara berjalab ke arah jendela kamar dan menyibak gorden. Beberapa saat Clara berdiri dan menghirup udara segar. Lalu pandangannya teralih kepada Vano yang masih terlelap.



Dia tersenyum dan berjalan perlahan menghampiri pria yang baru aja menikahinya.



Ia tiduran miring di seblah sang suami, matanya menatap setiap inci wajah Vano tanpa terlewat.



Jemari lentiknya pun kini mulai membelai rambut hitam Vano turun ke pelipis, pipi, dagu dan kini Clara telah membelai dada bidang Vano.



"Hoby baru, ya? Mandang sambil elus-elus aku di pagi hari?" ucap Vano dengan suara serak khas bangun tidur sambil membuka sebelah matanya.



"Eh, kamu uda bangun, Sayang?" Clara tersipu malu, wajahnya nampak memerah.



Bukannya menjawab, Vano malah meraih tubuh Clara dan memeluknya erat.



"Aaw, Van. Uda stop!" ucap Clara.



"Kenapa? Aku ga boleh nyium istri sendiri?"



"Bukannya orang rumah sudah menunggu kita? Mandi dulu gih!"



"Ok, ya sudah aku aja dulu, biasanya Wanita lama banget selesainya,"



"Ya sudah, buruan."



Clara melihat isi kotak dari petugas hotel semalam, dia penasaran siapa yang mengirimnya.



Ternyata sebuah dres polos warna maroon, berlengan panjang selutut dan 1 kemeja lengan pendek.


Cukup lama Clara mengamatinya, modelnya tampak sederhana namun elegan, dia mengira pengirimnya adalah Erwin.



Di lihatnya tulisan yang terdapat dalam bungkusnya ternyata benar.



Diraihnya ponsel di atas kasur, dia scrol kontak mencari nama Erwin, lalu menelfonnya telfonnya.



[Hallo, aduh cyin ini terlalu pagi buat kamu calling-calling.]



[Sory, Win. Kamu masih tidur, ya?]



[Ya uda bangun, lah. Kamu mau ucapin makasih sama eyke, kan? Berkat kiriman dres semalam bisa menolongmu karena  gaun pengantinmu dirobek ama  your husband?]



[Dasar, sotoy! Ya gak lah, masa dirobek?] ucap Clara kesal.



[Hahaha.] dari seberang Erwin terbahak-bahak. [gimana semalam, kuat brapa ronde kamu? Aaah kamu pasti uda menjerit-jerit kan digarap sama laki kamu yang sexy itu?]



[Dasar,] umpat Clara lalu mematikan telfonnya lalu meletakan kembali di atas nakas.



Matanya memandang gaun pemgantin maroon yang dikenakannya salamalam lalu meraihnya.



Clara terkejut tak percaya mendapati bagian lengan gaun itu benar-benar sobek.



"Beneran deh tu anak, bisanya nebak jitu banget kalau soal beginian, ah tapi dia ga tau kalau aku kedatangan tamu, kan semalam? Jadi, dia kalah," ucap Clara seorang diri.



Mata Clara tertuju pada sepucuk kertas yang terjatuh, karena penasaran, dia menganbilnya, dan membaca isi tulisannya.



'Sampai kapanpun, aku tidak rela kau tinggalkan, aku akan berbuat apapun untuk mendapatkan kamu kembali, kupastikan pernikahanmu hancur dalam sekejap!'



Clara berkerut kening, siapa kira-kira yang mengirimkan surat kaleng ini? Erwi? tidak mungkin, ah entahlah, Clara tidak mau ambil pusing.



'Klek'



Pintu kamar mandi terbuka, keluar Vano dengan hanya dengan berlikitan handuk kecil yang mampu menutupi bagian bawahnya saja, Clara terpaku menatap body Vano yang benar-benar atletis. Rambut basahnya dan badanya yang mengkilap membuat Vano terlihat semakin sexy saja.







Clara bangkit dari ranjang, dia mendekati Vano, menyentuh dada bidangnya.



"Kenapa aku baru sadar kalau kamu semaskulin ini?" ucap Clara sambil meraba dada dan pertu sixpack Vano.



"Kamu suka?"



Clara tersenyum genit, "Rajin GYM, ya?"



"Iya."



"Kapan? Kok aku tidak pernah tahu?"

__ADS_1



"Lalu, tau kamu apa?"



Clara mencubit pinggang Vano, lalu meloloskan diri ke kamar mandi.




Selama perjalanan menuju rumah, Clara banyak diam, dia masih saja memikirkan isi dan menerka siapa pengirim surat kaleng itu, kalau Erwin, atas dasar apa? Tidak mungkin.


------



'Breaking news, seorang nara pidana berhasil melarikan dari lapas kamis 11 ...."



"Yah! Kenapa sih ini, listriknya?" gerutu Wijaya, merasa kesal karena listrik padam ketika dia asik nonton berita tv.



"Ada apa sih, Pa?" sapa Andrean.



"Itu, ada berita narapidana kabur, tapi mati listrik rupanya."



"Papa, Kakek!" sapa Clara dari luar,berlari menghampiri Andrean dan Wijaya yang bersantai di ruang tengah.



"Loh, kalian kok uda kembali?" tanya Wijaya heran, ketika melihat kedatangan Vano dan Clara sepagi ini.



"Bagaimana bisa kami melewatkan momen jarang sarapan bersama? Lagian, Vano hari ini juga ngantor," jawab Clara.



"Kamu gak ambil cuti, Van?" tanya Andrean bingung.



"Iya, Pa. Nanti Clara juga kuliah, kok. Iyakan Sayang?" Vano merangkul lengan Clara di sebelahnya sambil memandangnya senentar.



Clara tersenyum sambil mengangguk, dia berhambur ke dapur membantu ibu dan Neneknya menyiapkan sarapan, seperti Andrean dan Wijaya, Vivian dan Tika juga terkejut.


-----



"Hah, jadi semalam kalian cuma ngapain saja jauh-jauh ke hotel kalau ga ngapa-ngapain?" tanya Eren.



"Ya tidur, lah," jawab Clara santai, sedangkan Selly dan Erwin begitu terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya.



"Betapa... Wajah Vano ketika mau belah duren, durennya belum masak, hahahaha," ucap Selly.



"Aduuuh, iya lucu-lucu gemes, aw tau gitu, biar dia puas sama aku saja," sambung Erwin.



"Win, suamiku cowok tulen kali."



"Lagian, tu tamu ga sabaran banget, sih besok kek dateng, ngapa, hahaha," kembali Selly tertawa terbahak.



"Kalian tuh, ngledekin mulu, aku cabut dulu, deh," ucap Clara beranjak meninggalkan area base camp.




Clara memekik kaget, terlebih dia tau siapa yang menariknya, "Farel? Bukannya kamu .... "



"Hah, kenapa?" tanya Farel seraya menyeringai.



Clara masih saja diam dan berusaha cari cara untuk melepaskan dirindari pria di depannya.



"Aku bisa melakukan apapun, Ra. Asal bukan merelakan kamu dengan yang lain, kamu uda nikah, kan? Siapa pria itu? Reza kah?"



"Bukan, urusan kamu, kepaskan aku dan menjauhbm dariku." Clara terus berusaha berontakm



"Menjauh darimu? Itu mustahil sayang. Kita akan pergi bersama dan bersenang-senang."



"Tidak akan kubiarkan kau melukainya!" mata Clara melotot di injaknya kaki Farel dengan kencang.



Hampir saja Clara bisa lolos. Namuj dengan kegesitan Farel dengan mudah ia menangkapnya kembali.



"Itu orangnya, ayo, tangakap!"



Bersamaan dengan suara itu, Farel membawa Clara berlari memasuki gang lalu bersembunyi di sebuah gudang kosong, gelap dan pengap.



Keduanya merunduk di bawah meja, Tangan kanan Farel merangkul Clara sedang tangan kirinya digunakan membengkam mulutnya.



Clara merasa sesak dan susah bernapas, tapi mau tak mau dia menahannya dengan mata terpejam.



Melihat wajah Clara yang memucat, Farel merasa tidak tega, dia longgarkan bungkamannya dan terus memeluknya erat dari belakang.



"Ssttt jangan bersuara," bisik Farel lirih di telinga Clara.



Melihat sepatu dari 5 pasang kaki yang berusaha mengejar Fareo tadi, Clara sadar mereka adalah sekelok polisi. Kini ia mengerti kemungkinan Farel kabur dari penjara dan mengirimkan surat kaleng padanya semalam.



'Tapi, dari mana dia tahu kalau aku menikah?' batin Clara.



Begitu keadaan sudah dipastikan aman, Farel terlentang bernafas lega.



"Kamu kabur dari lapas, Rel?"



"Hah, kau pikir. Aku gila mendengar berita pernikahanmu, Ra. Apapun akak aku lakukan, aku terima kau jebloskan ke penjara tapi tidak dengan ini," ucap pria itu lalu bangkit dan duduk di sebelah Clara.


__ADS_1


"Ini sudah malam, aku mau pulang, kasian suamiku, dia pasti mengkhawatirkanku," ucap Clara dan beranjak.



Baru beberapa langkah gadis itu melangkah, kembali Farel meraih pergelangan tangannya.



Dengan muka memelas pria itu memohon, "Plis jangan tinggalin aku, aku bisa gila, Ra."



"Cukup, Rel. Hubungan di antara kita sudah lama usai, sekarang lepasin aku, oke?"



"Apakah kau sangat mencintai pria itu?"



"Bagaimana tidak? Dia suamiku."



"Aku akan membuat perhitungan kepadanya, akan kubunuh dia."



"Lalu apa yang kau dapat? Apa kau fikir setelah dia tiada aku akan kembali padamu? Tidak, Rel. Yang ada aku akan membencimu."



"Tidak peduli setelah itu. Asal kau tidak dengan pria manapun jika tidak denganku!" seru Farel sambil mencekik leher Clara.



"Kau sudah gila, ya?" ucap Clara terbata-bata.



"Ya, benar. Dan kau lah yang sudah membuatku gila."



Clara kehabisan akal, dia menendang keras-keras tulang kering Farel lalu segera berlari meninggalkan gudang itu.


---------


Dengan muka lusuh dan pakaian kotor Clara kembali ke apartemen, dia tidak ada keberanian kembali ke rumah dalam kondisi seperti ini.




"Sayang, dari mana saja kamu?" tanya Vano panik.



"Aku, aku .... "



Vano langsung memeluk Clara, "Seharian aku menelfonmu, tapi nomor kamu tidak aktif, kamu kemana saja? Sedangkan Eren bilang kamu sudah pulang sejak jam 3 sore tadi."



Clara tidak menjawab ia menangis dalam pelukan suaminya. Perlahan ia melepaskan diri dan beberapa langkah menjauh dari Vano.



"Apa yang terjadi padamu?" Vano mengamati tubuh Clara dari atas sampai bawah, pamdangannya kini terfokus pada lehernya yang membiru seperti bekas cekikkan, ia juga baru sadar kalau wajah Clara nampak pucat dan pakaiannya kotor.



"Aku suamimu, sudah seharusnya memberi perlindungan padamu, ayo ceritakan padaku apa yang terjadi," ucap Vano lembut sambil membelai rambut Clara.



Clara masih saja tidak bisa menjawab.


"Kamu mandi saja dulu, ganti dan kita pulang. Papa dan mama mencemaskanmu."



Begitu Clara sudah masuk ke dalam kamar mandi Clara mengambil gawainya dan mengabari Andrean kalau Clara sudah bersamanya.



[Iya, Pah. Clara sudah sama Vano dan ini perjalanan pulang. Cuma mungkin agak sedikit terlambat karna sangat macet.]



[Syukurlah, dari tadi mamamu khawatirin dia. Dia baik-baik saja, kan?]



[Iya, cuma sepertinya dia sedikit shock.]



Tak lama kedian Clara sudah keluar dari kamar dalam keadaan bersih dan rapi, buru-buru Vano mematikan telfonnya dan menghampiri Clara.



"Ayo, kita pulang sekarang!" Vano mengulurkan tangannya pada Clara.



Dengan lembut Clara membalas uluran itu, keduanya terus bergandengan tangan menuju parkiran.



Sesampao di rumah, Andrean dan Vivian sudah menunggu di ruang tamu dengan wajah panik.



"Kamu baik-baik saja, sayang?" Begitu melihat Clara Vivian langsung berhambur memeluk putrinya.



"Clara gapapa Ma," ucap clara tersenyum tenang.



"Mama tadi benar-benar taku, bersamaan dengan hebohnya Farel kabur dari penjara, kamu juga tidak bisa di hubungi."



Clara terdian sesaat, dalam hatinya ia membenarkan kekawatiran Vivian.



"Van, kamu ajak Clara ke kamar, habis ini biar bi Narti antar makan malam untuk kalian," ucap Andrean.



Dengan segera Vano menggandeng Clara ke lantai atas.




"Apa kamu tadi bertemu dengan Farel?" Tanya Vano, perlahan dan sangat berhati-hati.



Clara tidak menjawab, melainkan hanya menatap lekat mata pria do hadapannya.



"Ra, Aku khawatir banget sama kamu," ucap Vano sambil memeluk Clara.



Clara tertawa kecil dalam pelukan Vano, "Kamu sadar, Van? Tadi kamu juga melakukan ini padaku."



"I love you my wife."



"I love you to my husband."


__ADS_1



__ADS_2