
Setelah Aditya dan kedua mertuanya pulang dari mengantarkan Alex. Quen menawari makan siang sebelum minum obat.
"Lex, kaku mau makan apa, biar aku masakan untukmu," ucap Queen sambil mengelus lembut punggung tangan Alex yang masih memakai plaster bekas infus.
"Terserah apa saja,'" jawab Alex singkat dan cuek.
sementara Queen hanya diam dan tersenyum ia tahu makanan apa yang disukai suaminya dan dia bisa memasaknya dengan mudah.
sekitar setengah jam Queen kembali dengan nampan berisi air putih hangat nasi, sayur dan stik daging favorit Alex.
awalnya pria itu masih memasang ekspresi datar. bahkan bersamaan dengan itu ia juga nampak menyembunyikan ponselnya. sudah jelas dia baru saja menghubungi siapa Queen sudah bisa menebaknya ia hanya bisa tersenyum menyembunyikan kesedihannya.
"Lex, makan dulu ya. dan minumlah obat lalu istirahat." Dengan telaten Queen menyendokkan nasi sayur dan lauk meniupinnya lalu menyuapkan kepada Alex.
Alex masih saja datar tidak merespon perlakuan Queen meski gadis itu sudah memberikan perlakuan yang terbaik untuknya.
"Aku akan cuti selama tiga hari ini untuk merawat mu," ucap Queen sambil menyiapkan obat yang harus Alex minum.
Alex masih saja bungkam enggan menjawab meski hanya sepatah kata.
Queen pun memberikan lima butir pil dan segelas air secara bergantian. Lalu, membiarkan suaminya untuk tidur sementara dia akan keluar mengerjakan tugas kantor di di rumah dan akan mengirimkan hasilnya kepada Al melalui email.
"Neng, tidak makan siang dulu? Bibi siapin, di sini, ya?" tawar bibi yang bekerja di rumah Alex. Sebab ia perhatikan sejak nonanya datang ia hanya menyuapi suaminya laku membuka laptop. Dan belum makan sama sekali.
"Oh, iya bi, boleh. Bawa kesini saja langsung nasi dan sayur jangan dipisah-pisah, ya?" jawab Queen dengan ramah. Sebab, ia sendiri juga baru sadar kalau belum makan siang. Perutnya pun juga mulai lapar.
Tak lama kemudian bibi kembali dengan sebuah nampan berisi nasi dan segelas air putih. Lalu meletakan di meja kerja Queen dekat dengan laptopnya.
"Makan dulu, Neng. Keburu dingin nanti tidak enak," ucap bibi sebelum pergi ke dapur.
"Terimakasih, ya Bi. Duh, jadi ngrepotin," ucap Queen sambil tertawa dan meraih sendok yang sudah ada di piring itu.
"Aduuuh si Neng apaan, ya? Kan sudah tugas bibi, ini, neng," jawab di bibi jadi tak enak hati memiliki majikan yang baik dan santun seperti ini.
Akhirnya Queen pun makan sambil bekerja. Ia lakukan bersamaan. Terus mantengin laptop, sesekali makan. Ngunyah sambil ngetik. Yang ada dalam kepalanya saat ini hanyalah tugas harus terselesaikan. Mumpung tidak ada tamu. Sebab, jika nanti ipar dan mertuanya datang untuk menjenguk Alex, jelas ia tak dapat lagi melanjutkan pekerjaannya.
Sekitar dua jam setengah Queen bekerja keras tanpa jeda. Tidak hanya kepala nya aja yang lelah. Pinggangnya pun juga terasa pegal.
Quen mengeliat menaikan kedua tangannya dan meluruskan otot-otot badannya sambil bersandar di kursi yang ia dudukinya.
"Ting...tong...."
"Hmmm benar, kan ada tamu? Untung saja kerjaan dah kelar dan beras. Kak Al juga sudah menerimanya," gumam Queen seorang diri. Lalu bangkit Henda membukakan pintu.
Tapi, ia terkejut saat Alex nampak terburu-buru keluar dari kamar juga hendak menuju pintu ruang tamu.
"Alex, kau sudah bangun?" Senyuman Quen mengambang dan hilang begitu saja saat Alex tak menggubris pertanyaannya dan membukakan pintu yang ternyata adalah Helena.
"Maaf kalau membuatmu menunggu lama, Ayuk masuk. Mau minum apa?" Sapa Alex dengan senyumannya yang khas dan sangat ramah.
"Hmmm haaahh...." Queen hanya menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dari mulut sambil mengelus dada.
"Senyuman dan tatapan mata itu, kemarin hanya kau berikan padaku, Lex. Tapi, sekarang malah pada wanita yang selalu kau hindari. Ya. Aku dan Helena saat ini tengah bertukar posisi. Sekarang aku yang selalu kau acuhkan dan kau abaikan.
Gumam Queen dalam hati.
Dengan hati besar Queen turut menemui Helena dan ikut mengobrol. Bahkan ia masih mengenakan pakaian yang tadi dia pakainya di kantor.
"Helena, dari mana kau? Sengaja kemari atau mampir?" Sapa Queen sambil duduk tepat di dekat Alex.
Helena hanya diam. tidak berani menjawab.
"Aku yang meminta Helena kemari, Queen. Kau tidak perlu repot-repot merawatku. Dia akan tinggal di sini bersama kita. Iya kan, Helena?"
Queen tercengang. Kata-kata Alex barusan seperti Sambaran petir yang menyambar tepat di kepalanya saja.
Ia tidak akan menyangka jika akan seperti ini. Kenapa tuhan? Kenapa jadi seperti ini? Aku harus menolak atau menerima keputusan Alex?
__ADS_1
"Lex, aku bisa merawat mu sampai kau sehat. Kan aku sudah bilang untuk tiga hari ini aku akan cuti, apakah itu kurang?" ucap Queen berusaha merayu.
"Tapi sedari tadi kau nampaknya sibuk dengan laptop mu, Queen. Aku hanya tidak ingin merepotkan dirimu saja. Masih ada Helena yang mau merawat ku."
Tenang, Quen. Tarik bibirmu untuk tetap tersenyum pada mereka.
"Aku tadi hanya menyelesaikan kan beberapa tugas saja, dan sekarang sudah selesai, Lex. Aku siap rawat kamu, kok."
Bersamaan dengan itu. Bibi datang dengan membawakan minum untuk tamunya. Jadi, sedikit banyak ia pun mendengar dan tahu permasalahan dalam rumah tangga kedua majikannya.
"Kau kan juga masih melakukan pendidikan profesi. Biarkan Helena saja yang menjagaku. Dia tidak akan keberatan," tukas Alex sekali lagi.
"Baiklah, asal Helena bersedia. Kapan kau akan mulai tinggal Helena?" tanya Queen.
"Sekarang. Aku sudah membawa beberapa pakaian ganti koperku ada di teras," jawab Helena.
"Oh, ya sudah. Bagus."
Dada Queen terasa kian sesat lehernya seolah tercekik saja akibat menahan tangis. Namun, bibirnya tetap menebarkan senyum keramahan mesi jika menatap ke dalam mata gadis itu, semua akan terlihat sangat berlawanan.
Dalam suasana hati kalut dan rasanya sudah tak mampu lagi ditutupi sebuah panggilan dari ponselnya berdering di waktu yang tepat. So, dia punya alasan untuk meninggalkan dua sejoli yang tengah gila asmara itu di ruang tamu.
"Non, ada telfon," teriak bibi dari dapur.
Queen segera berlari bahkan tidak sempat berpamitan pada mereka.
Di dapur, ia merijeg panggilan dari Al. Ia tidak ingin berbicara dengan siapapun. Ia duduk berjongkok di pojokan dekat kulkas sambil meluapkan seluruh kesediha di hatinya. Ia pun menangis sejadi-jadinya seorang diri. Dia pikir, Alex dan Helena pasti juga tengah memanfaatkan situasi berduaan. Bibi juga tengah beres2 rumah.
Ya Tuhan, aku sudah pernah kehilangan Alex sebelumnya. Tapi, kenapa aku masih belum bisa terima jika harus ini terjadi untuk yang kedua kalinya? Dan, kenapa kali ini rasanya lebih sakit dari dulu? Bahkan dalam dadaku saja rasanya sampai seperti ditusuk-tusuk. Apakah ini yang namanya sakit hati? Gumam Queen seorang diri.
"Neng, Sabar ya, Neng. Mungkin ini ujian. Lagi pula, sebenarnya ada apa dengan tuan Alex? Kenapa bisa sampai seperti ini? Bukankah dia dulu sangat benci neng Helen, ya?" ucap bibi yang tiba-tiba saja muncul. Sebenarnya cukup lah untuk mengagetkan dirinya.
Tapi, sudah kepalang basah. Tak ada gunanya juga ia menutupi dan pura-pura bahagia seolah tak ada apa-apa.
Quen pun menangis dalam pelukan si bibi.
Si bibi pun tak mampu berkata apapun selain berucap sabar, sabar dan sabar. Bahkan dia pun juga ikut menangis tak tega dengan apa yang sudah menimpa Queen.
'Ya Allah, neng Queen itu orang yang baik, cantik fisik juga hati. Kenapa aku memberikan banyak masalah dalam hidupnya kedua orang taunya belum sadar, lalu keguguran dan kini, malah suaminya lupa ingatan. Beri dia kehidupan yang berbahagia, ya Allah," ucap bibi dalam hati sambil ikut terisak.
🍁 🍁 🍁 🍁
Hanifah berlari menuju taman belakang begitu mengetahui kalau Diaz ada di sana.
Ia merasa kalau Diaz agak bosan dia ikutin terus. Akhirnya dia pakai cara murahan pura-pura terpeleset. Tapi, naas. Air hujan membuat tanah taman yang sebagian besar mengandung tanah liat itu licin. Alhasil Hanifah benar-benar terpeleset.
"Aaaaa... Diaz tolong aku....!" tariak Hanifah. Yang jatuh berjongkok pada kubangan lumpur.
Diaz menoleh ke belakang melihat Hanifah yang nampak kesulitan untuk berdiri.
Dengan raut muka datar pria itu berjalan menghampiri Hanifah menarik lengangnya yang. Kebetulan menggunakan pakaian lengan panjang.
"Kau apakah tidak bisa sedikit berhati-hati? Cepat masuk ke dalam dan bersihkan dirimu," ujar Diaz.
"Tapi, pinggangku sakti, Diaz... Dan kakiku, auw... Kayaknya terkilir," ucap Hanifah sedikit hampir mewek.
"Sini, aku bantu!" Diaz pun memapah lengan Hanifah dan menuntunnya ke kursi taman dekat dengan kursi roda Andrean.
"Diaz, kamu kan kuat. Kenapa gak gendong aku saja? Sakit beneran ini kakiku," rengek Hanifah dengan nada manja.
"Makanya, jangan suka aneh-aneh. Lagian, siapa yang nyuruh kamu pura-pura jatuh? Sekarang jatuh beneran, kan?"
"Ups.... Dia tahu kalah aku pura-pura," batin Hanifah.
"Emang kamu dukun atau peramal, gitu bisa aja tahu padahal kamu gak lihat sendiri," protes Hanifah.
"Duduk!" seru Diaz cuek.
__ADS_1
Lalu pria itu pun duduk berjongkok memijit pergelangan kaki kanan Hanifah, lalu memutarnya beberapa kali.
"Au, aduh! Pelan, Diaz. Sakit tau," ucap Hanifah meringis sambil menahan sakit.
Sementara Diaz tidak menghiraukan Omelan Hanifah yang terus meracau menyuruhnya pelan karena sakit. Di bagian akhir Diaz malah menarik kaki gadis itu dengan keras sehingga membuatnya menjerit.
"Aaaaaaa..... Diaz. Apa kau tidak punya telinga? Sakit, tahu!" Setelah berteriak gadis itu memukul bahu pria yang tengah berjongkok di depannya dengan keras.
"Coba bangun! Sakit, gak?"
Lagi-lagi pria itu memasang ekspresi datar. Namun sexy bagi gadis itu.
Dengan perlahan ia berusaha bangun dan menggerakkan kakinya. Dan benar saja, kakinya sudah tidak terasa sakit lagi.
Ia pun berjingkrak memeluk dan kembali mencium pipi Diaz di depan kakek Andrean.
Muka Diaz sontak berubah merah antara jengkel dan malu bercampur menjadi satu. Sampai-sampai ia pun bergumam, nih cewek terbuat dari apa sih? Gak waras sekali.
Dengan langkah malu-malu Diaz menghampiri kakek Andrean.
"Sudah sore, kek. Kakek mau masuk sekarang?" ucap pria itu.
"Ya...boleh," jawab kakek Andrean sambil tersenyum simpul membuat Diaz jadi salah tingkah. Sebab, ia tahu kalau pun sang kakek tertawa, jelas saja dia yang di tertawakan.
"Kamu kerja hari ini?"
"Iya, kek. Saya ambil jatah libyr tiga hari selama satu bulan dan ini sudah habis."
"Ya sudah, kamu hati-hati ya nak. Kemarilah setiap kali ada waktu. Kakek akan selalu menunggumu," ucap Andrean sambil tersenyum lebar.
Diaz pun berpamitan sambil mencium punggung tangan kanan kakek Andrean lalu ia pun keluar setelah mengantarkan kakek di ruang tengah.
Dari kamar tamu, bersebelahan dengan kamar yang dia gunakan pada saat menginap, Hanifah meneriakinya.
"Hey, Diaz!"
Pria itu mendengus kesal lalu menoleh ke belakang di lihatnya Hanifah yang tersenyum sambil melambaikan tangan. Lalu berlari menghampirinya.
"Ada apa?" Masih dengan nada dan ekspresi wajah datar sedatar datarnya.
"Ih, kamu tuh cowok. Jangan galak-galak, napa? Awas gua ***** kau nanti, ya," geram Hanifah.
Andrean yang tidak tega melihat Diaz sedari tadi selalu dikerjai cucu keponakannya itu pun akhirnya meminta Hanifah agar tidak berbuat demikian.
"Hanifah, Diaz mau kerja, sayang. Jangan ganggu dia, ya? Kau apakah sudah mengerjakan tugas kampus mu?"
"Hehehe, iya Kakek. Aku ngerjain tugas dulu, ya?" jawab Hanifah langsung menciut mentalnya.
"Pak dokter, lain kali ya, main-mainnya. jangan bosan kemari untuk apelin saya," ucap Hanifah tapi, masih saja gadis itu sempat memberikan ancaman pada Diaz.
"Awas kau, ya. kali ini lolos. tapi, tidak untuk kedepannya. anggap saja karena kakekku kau bisa selamat."
****
Begitu tiba di kos-kosan Diaz tiba-tiba saja teringat dengan Queen. Ingin dia menelfonnya dan menanyakan kabar Alex sekalian dia takut malah mengganggu. akhirnya, pria itu hanya mengirimi pesan chat.
"Bagaimana kondisi Alex? apakah sudah membaik?"
Setelah pesan terkirim Diaz meletakan ponselnya hendak mandi, tapi, denting ponsel tanda chat masuk berbunyi. dia tak menyangka sedikitpun kalau Queen bakal membakas chatnya dengan cepat.
"Dia sudah baikan, Diaz. tapi,tidak dengan ingatannya." Tulis gadis itu.
"Sabar, ya? semoga ia segera pulih dan mendapatkan kembali ingatannya," balas Diaz.
beberapa detik kemudian Queen mengirimkan stiker gambar wanita berhijab dengan caption aamiin.
Diaz hanya tersenyum lalu meletakan benda pipih itu dan pergi ke kamar mandi, karena waktu magrib sudah dekat.
__ADS_1