
Tiba di kediaman Vico dan Shinta. Keadaan sudah cukup ramai.
Di sana, Queen juga bertemu dengan Alex bersama Zahara, istrinya. Sudah empat tahunan mereka menikah, tapi masih belum dikaruniai seorang anak saja. Entah kenapa, Queen juga tidak tahu.
Di sudut ruangan, Vico tengah mengobrol bersama dengan Al
dan juga Juna. Kini juna juga sudah menikah dengan Gea. Dari pernikahannya, ia
dikaruniai seorang anak laki-laki berusia tiga tahun dan anak perempuan berusia
sepuluh bulan. Karena kebobolan, jadi sudah memiliki anak saat anak pertama mereka lagi butuh-butuhnya kasih sayang, dan perhatian dari kedua orang tuanya.
“Gimana, Bro? hubungan loe ama bini anget-anget saja, tuh. Gak
mau nambah anak lagi?” tukas Juna pada Al.
“Apaan, kami sering berantem,” jawab Al sambil menyesap
segelas beer yang ada dalam genggamannya.
“Kenapa? Kurang jatah, ya? Anak tuh, sekali-kali titipin ke
neneknya. Loe liburan ke mana gitu atau minimal, pesan kamar di hotel biar bebas, kalau
begitu baru mlorotin celana anak rewel ya gagal,” ledek juna sambil terkekeh.
“Pantes, anak masih kecil saja dah ada adeknya.
Jangan-jangan Gea sudah hamil lagi aja, ini,” jawab Al sambil tertawa miring.
“Mumpung masih muda, ntar kalau dah tua mau nambah anak,
yang ada dikira momong cucu lagi.” Juna pun terbahak dan diikuti oleh Vico.
Al masih diam, ia memperhatikan istrinya yang tengah
mengobrol dengan Gea dan juga Shinta di tempat yang tidak jauh dari tempatnya berkumpul. Queen lebih fokus pada putri mereka yang kadang-kadang merengek minta sesuatu. Sedangkan, dua temannya, mereka sangat bebas karena anaknya dijaga oleh baby sister masing-masing.
Ia membatin, ‘Benar saja kalau Queen pasti sangat lelah
mengurus semuanya sendiri. Memang kami memiliki pembantu. Tapi, tidak semua
urursan rumah juga bergantung padanya. Sedangkan Gea, dia juga seorang dokter.
Tapi, waktu bersama anaknya juga sedikit. Dan Shinta, ia kini tak lagi bekerja sebagai pramugari. Hanya menjadi nyonya yang menemani putranya di rumah saja.
Tapi, semua urusan rumah dan anak juga tetap bergantung dengan baby sister dan
art. Queen memang lain.’
Diam-diam Al merasa menyesal dengan perbuatannya sendiri.
Terlebih saat melihat ketika tiba-tiba putrinya rewel meminta sesuatu. Queen
sibuk mencari tahu dan menenangkan saat rewel. Sedang yang lain, langsung minta
baby sisternya untuk menenangkan, mereka lanjut ngobrol.
“Anakku rewel,” ucap Al pada Vico dan Juna yang masih sibuk
menertawai dirinya.
“Berlyn minta apa, Sayang? Sebentar, Ya? Habis ini kita
kembali setelah acara pototng kue selesai. Apakah kau tidak ingin melihat kak
Putra memotong kue seperti yang Berlyn lakukan dulu?” bujuk Queen berusaha
menenangkan.
“Dia kenapa, Sayang?” tanya Al, seketika ia langsung
mengambil alih putrinya dari gendongan istrinya.
“Gak tahu. Sepertinya dia minta pulang.”
“Berlyn mau kita pulang sekarang?” tanya Al sambil menatap
putrinya penuh kasih sayang.
Bocah itu mengangguk dan menatap matanya dengan tatapan penuh
permohonan.
“Berlyn tidak mau menunggu kak Putra potong kue dulu?” tanya
Al lagi.
Gadis dalam gendongannya itu menggelengkan kepala, dan
menelungkupkan kedua tangannya di depan dada.
Al menatap ke arah Queen dan berkata, “Kita pulang sekarang
saja,” ujarnya.
Sementara istrinya hanya mengangguk saja.
“Vic, sory, putriku rewel. Aku kembali dulu, ya?” pamit Al
pada Vico. Sedangkan Queen sambil menggendong Berlyn juga berpamitan pada
Shinta. Sebenarnya ia merasa tidak nyaman. Tapi, karena tak ada pilihan lain, dan suaminya pun juga sudah memtuskan untuk kembali, mau gimana lagi?
Sampai di pertengahan jalan, sekitar pukul setengah sembilan
malam, ternyata putrinya sudah tidur. Sampai rumah pun juga ia tidak terjaga.
Setelah membaringkan putrinya, Queen mematikan lampu kamar
dan hanya menyisakan lampu tidur saja, ia langsung pergi meninggalkan kamar tersebut, untuk kembali ke kamarnya sendiri.
“Kau masih belum tidur, Al?” sapa Queen saat mendapati
suaminya menyalakan televisi di ruang keluarga. Sedangkan jam Sembilan kakek Andrean dan bi Yul juga sudah tidur.
“Besok kan hari minggu. Kemarilah duduk bersamaku,” ujar Al
sambil menepuk tempat duduk di sebelahnya.
Sambil membenarkan ikatan rambutnya,wanita itu berjalan ke arah suaminya, dan duduk di dekatnya.
Begitu Queen duduk, Al langsung meraih kepala Queen dan
membawanya dalam dekapannya.
“Eh, kenapa?” tanya Queen dan langsung secara reflek
mengalungkan kedua tangannya pada tubuh suaminya.
“Maafkan aku ya sayang? Aku terlalu egois selama ini. Aku
banyak menyalahkanmu tanpa mengerti bagaimana posisimu. Kau pasti sangat
lelah.”
“Tidak apa-apa. Kamu tidak mau tidur sekarang?”
“Tidak, aku masih kangen sama kamu.”
Queen mengerutkan keningnya. Setiap hari juga bertemu dan
masih tidur di ranjang yang sama, dan Al mengatakan kangen padanya? Kenapa?
Al langsung menerkam wanita di depannya. Tanpa basa-basi, ia
******* bibir istrinya dan membaringkannya pada single sofa yang mereka duduki.
“Al, kalau tiba-tiba bibi keluar gimana? Kita pindah, yuk!”
Jangankan beranjak, memjawab saja tidak, pria itu malah kian
gencar melakukan apa yang sudah lama tidak mereka lakukan. Dengan cepat kilat
ia membuka kancing baju Queen dan meloloskan pakaiannya hingga dada dan pundaknya terekspose dan membuat banyak tanda kepemilikan di sana.
“Apakah kita harus melakukan di sini?” ucap Queen yang sudah
kwalahan.
Sementara Al hanya tersenyum sambil menempelkan hidunganya
pada hidung Queen.
“tidak masalah, bukan? Jika sekali-kali begini? Kita sudah
lama tidak melakukan.”
“Kau sering pulang telat,” jawab Queen dengan napas yang
sedikit memburu karena nafsu.
“Kita mulai semuanya dari awal kembali, ya?” jawab Al.
kemudian ia mengangkat tubuh Queen dan membawanya ke kamar. Di dalam sana,
barulah, ia melanjutkan apa yang ingin mereka lakukan. Hingga keduanya merasa
kelelahan dan tertidur.
Sekitar pukul stu dini hari Queen terbangun dari tidurnya.
Ia tersenyum mendapti Al terlelap di sebelahnya. Queen yang mulanya hendak ke
dapur untuk mengambil minum karena haus pun teralihkan perhatiannya saat
melihat suaminya yang begitu menggoda.
Ia pun mendekatkan tubuhnya pada tubuh Al dan meraba dada
bidang pria itu dan mulai membelai leher, dan juga pipi.
Ketika Queen menikmati wajah tampan itu, tiba-tiba sebuah
tangan besar dan berotot menggenggam punggung tangannya.
“Jam berapa ini, Sayang?” tanya-nya dengan suara serak khas
pria bangun tidur.
“Al, kau terbangun? Maaf jika aku menganggumu,” jawab Queen
sambil menarik tangannya dari pipi Al.
Al pun merubah posisinya dari berbaring jadi duduk bersandar.
“Ini masih jam satu dini hari, kau tidurlah lagi” ucap Queen
merasa tidak enak.
Sejak kelahiran Berlyn dan mengetahui kalau putrinya bisu,
Queen memang sering marah-marah pada Al, menganggap semua yang menimpa salah
satu dari putrinya adalah karma. Al sendiri yang berada di pihak yang selalu di
salahkan dan terpojokkan oleh istrinya sendiri juga lama-lama muak dan
memberontak. Hanya saja Al tidak mau ribut. Jadi, sebagai pelampiasan ia jarang
pulang, entah bermalam di kantor atau di apartemen juga Queen tidak tahu. Al sendiri juga tidak memberi tahu.
Baru saja Queen sudah bisa menerima kalau apa yang menimpa
Berlyn adalah takdir, Malah Al yang balik menuntut pada Queen, minta
menambah anak, padahal putri mereka baru dua tahun. Karena Queen menolak, Al
marah dan meminta istrinya resign dan berhenti menjadi dokter.
Al terus memandang Queen, lalu berkata, “Kita sudah
lama tidak menghabiskan waktu bersama, walaupun hanya sekedar mengobrol pun
kini menjadi jarang. Aku merasa kau jadi canggung bicara denganku, tak seperti
duu. Harusnya makin lama seseorang berumah tangga, mereka akan lebih dekat.
Tapi, kenapa kita malah sebaliknya?’’
“Ya sudah, kita mulai dari awal, seperti yang kau katakan tadi,” jawab Queen dengan suara pelan.
“Aku minta maaf, ya kalau aku selama ini banyak menuntut dan
tak ada pengertiannya sama kamu sedikitpun?”
“Ya, dimaafkan. Aku juga minta maaf karena selama ini selalu
menyalahkanmu atas apa yang menimpa Berlyn.’’
"Dulu, saat putri kita masih bayi, aku sengaja berangkat pagi pulang malam agar aku tidak nafsu liat kamu. Kan, kamu masih masa nifas dan pemulihan. Mama berani aku mengajakmu melakukan itu. Jadi, itu inisiatifku sendiri. Maaf, jika menjadikan salah paham."
Queen diam. Ia menduk dan merasa bersalah sendiri, sebab saat itu, ia berfikir kalau Al sudah tak cinta lagi dengannya. Dan ingin mencari gadis untuk memuaskan kebutuhan biologisnya.
"Aku juga minta maaf karena sering marah-marah dan menuduh mu yang bukan-bukan."
Al mengecup bibir Queen. Jika tidak begitu, wanitanya akan
terus berbicara dan ujung-ujungnya hanya menyalahkan diri sendiri saja.
“Cukup. Jangan menyalahkan diri sendiri. Benar jika kau
menyalahkanku, dan aku sebaiknya juga tidak banyak menuntutmu. Harusnya aku banyak mengenal kata cukup lebih dalam lagi agar aku tidak begini yang membuat
rumah tangga kita malah meretak. Harusnya aku bersyukur dengan dirimu yang
sudah mau menerimaku sebagai suami, dan mau melahirkan anak untukku juga sudah
bagus. Kau tidak bisa dibandingkan oleh siapapun. Mungkin di luar sana banyak
wanita yang mau dan bahkan sangat ingin menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku.
Itu karena yang mereka lihat adalah kelebihanku, kedudukan. Lain halnya dengan
dirimu. Semua yang aku miliki ini harusnya milikkmu. Aku hanyalah anak yang
diasuh oleh orang tuamu yang malah dengan lancangnya menghancurkan
pertunanaganmu dan memper… “
“Biarkan saja. Itu masa lalu. Sekarang, aku sangat
mencintaimu dan tak ingin kehilangan kamu.” Queen meletakkan telunjuknya pada bibir Al agar pria itu diam.
Al memegang tangan Queen. Memasukan kelima jemarinya di
sela-sela jari Queen dan menggenggamnya erat.
“I love you Queen.”
Queen hanya tersenyum dan mencium pipi Al yang mulai
ditumbuhi bulu-bulu halus. Mungkin ia terlalu sibuk bekerja sampai tak sempat
memeperhatikan dirinya sendiri.
“Pengen brewokan, ya? Kok gak dicukur?” tanya Queen sambil
tertawa.
“Belum sempat, kamu tidak suka, ya?” tanya Al sambil menyentuh
pipinya dan mengelus-ngelusnya. Merasakan bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di sekitar sana.
“Kapan aku pernah tidak suka? Aku selalu suka dengan
gayamu.”
Al tersenyum genit sambil mencubit hidung istrinya dan
merangkulnya.
__ADS_1
“Besok ada rencana untuk jalan-jalan, tidak?” tanya Al.
“Bagaimana kalau ke tempat mama? Aku kangen dengannya.”
“Baiklah. Kita mau tidur lagi atau…. “ Al diam,
menggantungkan kalimatnya.
“Atau apa? Ini masih terlalu larut jika kita ingin jogging,”
jawab Queen.
Sementara Al yang menganggap istrinya menjadi lemot dan mencium
pipinya dan menggigit telinganya karena gemas. “Kita bisa melakukan olahraga malam
selain jogging, dan tetap di tempat, tapi berkeringat dan juga nyaman, apakah kau masih belu tahu?”
“Al, geli, ah. Jangan begitu,” proters Queen sambil berusaha
melepaskan diri.
“Kamu capek tidak?”
“Tidak juga.”
“Ya sudah, ayo kita ulangi lagi mumpung semua masih pada
tidur.”
“Hey, apakah kau tidak lelah?”
“kenapa? Tidak. Aku sudah lama tidak mendapatkan hakku.
Jadi, aku tidak akan mengenal kata lelah.”
“Dasar maniak.”
“Bukan maniak, tapi kamu yang sudah lama tidak melakukan kewajibanmu.”
****
“Ama, katanya, mama dan papa akan kemari bersama Berlyn.
Boleh aku selfi bersamanya nanti, agar semua tahu, kalau aku punya saudara kembar?”
tanya seorang bocah berusia lima tahunan dengan bangga.
“Kapan mereka mau ke sini, Sa?”
“Katanya minggu depan.” Gadis itu menunjukkan sebuah pesan
chat yang ada di dalam tapnya pada wanita tua yang ia panggil ama.
Ama adalah sebutan nenek pada umumnya orang cina yang
tinggal di Singapura.
“Kamu boleh saja foto bersamanya. Tapi, jangan di publish.
Itu tidak baik, sayang. Karena ada hal yang membuat kalian dipisahkan satu sama
lain,” ucap Jeslyn mencoba menjelaskan dan memberi pegertian pada cucu
kecilnya.
Ya, mungkin ini kedengarannya sangat berat bagi balita usia
segitu, dan obrolan ini memang tak sepantasnya. Tapi, karena Clarissa memiliki
kecerdasan di atas rata-rata. Jadi, sekalipun ini pembicaraan orang dewasa pun
ia juga sudah paham.
“Memang kenepa? Jadi, kalau Clarissa mau foto bareng papa
dan mama boleh di publish, gitu?”
“Iya, Sayang. Tidak apa-apa. Kau boleh tunjukkan pada Dunia
siapa papamu, dan siapa mamamu. Tapi, jangan pernah katakana kalau kau dan Berlyn adalah kembar.”
“Jika memang itu rahasia, Ama. Lebih baik kalau Clarissa
tidak usah foto bersama saja sekalian sama Berlyn,” jawab bocah itu, sambil
naik ke atas sofa dan meletakkan tab di sebelahnya.
“Loh, kenapa? Ama, papa, dan juga mama kamu tidak akan
melarang, Sayang,” ucap Jeslyn, merasa bersalah.
“Buat berjaga-jaga adanya kemungkinan terburuk, Ama. Kalau
ponsel Clarissa di retas, atau hilang, ada yang menemukan dan melihat isi di
dalamnya, juga sama saja. Jaman sekarang banyak yang tidak bertanggung jawab
membuat akun medsos tapi, foto orang lain yang digunakan. Aku takut, nanti
fotoku yang dipake, dan mengaku kembar saat ada fotoku bersama Brlyn. Ya, yang
tidak kenal dengan salah satu keluarga kita aman. Yang kenal lapor dan mencari
salah satu dari kita… apa gunanya misahin kalau gitu, kan?”
“Anak cerdas.” Jeslyn langsung memeluk cucunya dan menciumi
pipi cuby itu beberapa kali. Bahkan, ia pun tidak berfikir sampai sejauh itu.
Benar-benar Crlarissa itu bocah ajaib.
Tiba-tiba saja ia kembali murung saat mengingat bagaimana
cucunya yang lain malah kebalikan dari Clarissa, ia bisu walau tidak bodoh, ia
juga termasuk gadis yang cerdas juga. Meskipun memiliki kekurangan. Tapi,
tetap saja kecerdasannya tak bisa dibandingkan dengan Clarissa.
“Ama kenapa murung? Sedih mikirin Berlyn? Ama gak boleh gitu.
Dia itu saudariku yang kuat. Jika ada yang iba dan kasihan dengannya, ia malah
akan sedih, dan down. Jangan tunjukkan muka seperti itu jika saudariku nanti datang.”
“Baik, Sayang,” jawab Jeslyn sambil tertawa tertahan.
Benar-benar Clarissa itu gadis yang unik. Selain cara
berfikirnya sudah seperti orang dewasa, lagak bicaranya, suka memerintah
seperti layaknya seorang boss saja.
“Ya sudah, cucu ama minta makan apa?”
“Apapun yang Ama masak itu enak. Clarissa suka sekali,”
jawab bocah itu dengan ceria.
“Ya sudah, bagaimana kalau kita bikin toyum saja?” usul
jeslyn.
“Baik, ayo, biar aku bantu membersihkan udang dan memotong
cumi-cuminya, Ama.” Dengan semangat pula gadis itu melompat dari sofa, menuju
dapur memasang celemek dan topi putih ala-ala koki. Sungguh, kelincahannya
sangat menurun pada Queen.
****
Di sebuah rumah yang masih asri jauh dari keramaian, seorang
pria remaja dengan wajah bule tengah bermain bersama adiknya yang usianya
mengajari bagaimana cara bermain basket yang baik dan benar pada bocah yang
bahkan bicara “R” saja masih cedal. Tapi, berkat kegigihan dan kerja kerasnya,
sang adik sudah sangat piawai bermain basket, bulu tangkis dan juga berenang.
Tak jarang pula, dia dan sang adik pergi ke tempat gym milik omnya.
“Adriel, ayo lempar bolanya pada ranjang!” seru pria itu, dengan
sangat semangat. “lompat yang tinggi!’’ imbuhnya lagi.
Bocah enam tahun bernama Adriel itu pun melompat
setinggi-tingginya dan melempar bola pada ranjang basket.
Bola masuk dengan sempurna. Tapi, saat ia mendarat,
tiba-tiba saja ia terjatuh karena kakinya terkilir.
“Aduh! Kakak Axel, tolong aku!” seru bocah itu sambil
meringis menahan rasa sakit di pergelangan kaki kananna.
“Adriel! Kau kenapa?” seketika pria itu pun berlari ke arah
adiknya yang tengah jatuh dan kesakitan.
“Kakiku terkilir, Kak,” ucap bocah itu sambil memegangi
pergelangan kaki tangannya.
“tenang, jangan banyak bergerak.” Dengan segera Axel
memncoba memijat pergelangan kaki adiknya seperti yang telah diajarkan oleh omnya, Alex.
Sekitar lima menit memberikan pijatan, dan Adriel juga
terlihat sudah lebih baik, Axel langsung menggendong adiknya dan membawanya
pulang.
“Kakak, kau mau membawaku ke mana? Cepat turunkan aku!” seru
bocah itu.
“Kita akan pulang. Mama pasti sudah menunggu kita
untuk makan siang,” jawab Axel dengan nada dingin.
“Aku masih ingin berlatih. Kenapa harus pulang? Mama tidak akan marah. Kalau di rasa kita telat, nanti mereka juga akan
menyusul kemari.”
“Sudah, kau sudah terkilir, jangan keras kepala. Apakah kau
akan menurut setelah kakimu patah?”
“Baiklah, kau memang selalu benar. Buktinya juga aku yang
selalu di marahi oleh mama.”
‘’Kau saja yang memang bandel.”
“aku hanya berusaha teguh dalam pendirian. Bukan bandel,”
jawab Adriel sambil memanyunkan bibirnya.
“Ya, benar. Tapi, tidak sesuai pada tempatnya. Jadi hanya
bandel.” Axel terus melangkah dan tak hiraukan ocehan adiknya yang terus
bersikeras ingin melanjutkan latihan bola basketnya.
“Candra, kau cepatlah pergi. Sebentar lagi kedua putraku
akan pulang. Aku tak ingin mereka melihatmu ada di sini,” usir novita sambil
terus mendesak pria yang kira-kira tiga tahun lebih muda darinya itu agar segera pergi.
“Kenapa, sih Nov? biarkan saja mereka lihat. Toh selama jni
Axel dan Adriel juga sudah tahu aku, kan? Apa yang kau takutkan?”
“Kenapa sih, Ndra kau keras kepala banget?”
“Oh, ya? Kepala bawah jauh lebih keras, Nov. kau mau coba?
Hehehe,” ucap Candra sambil cengengesan.
“Candra!” bentak Novita sambil melotot ke arah pria yang
sangat mirip dengan mendiang mantan suaminya itu.
Ya, wajah atau rupa boleh mirip. Tapi kepribadian sangat
jauh berbeda. Kalau Aditya bawaannya orangnhya santai tenang, tenang dan juga
santun, ini Candra justru kebalikannya. Dia cenderung suka clometan dan susah
serius orangnya. Lucu, sih. Tapi, tetap saja menyebalkan.
“Apa, Novita sayang? Kau tak perlu berteriak begitu, aku ini
belum tuli. Pendengaranku masih sangat normal dan bagus.” Candra memegangi
telinga kananya, karena, Novita berdiri di sebelah kanannya.
“Aku gak mau tahu. Kau pokoknya harus pergi! Ayo cepat,
pergi!” Akhirnya, Novita pun mendorong tubuh kekar itu sampai kakinya turun
dari teras rumahnya.
“Om Candra!” teriak Adriel dari kejauhan.
Seketika pria itu dan Novita langsung menoleh ke sumber
suara yang memanggil nama Candra dengan sebutan om tersebut.
“Adriel!” seru Candra sambil melambaikan tangannya untuk
menyambut dua putra Novita yang gantengnya diatas rata-rata, Si Axel maksutnya.
Sedangkan Adriel sendiri, ia merasa kalau bocah itu sangat mirip dengan
dirinya. Bagaimana bisa mirip pun sejauh ini juga Candra juga tidak tahu
bagaimana bisa putra kedua dari wanita yag dikejarnya bisa sangat mirip
dengannya. Sebab, saat ditanya Novita juga tak pernah mau menjawabnya. Jika pun
menjawab, jawabannya juga pasti “Tidak tahu.”
“Adriel, kenapa kau minta gendong pada kakakmu?’ tanya
Novita sedikit cemas.
“Kakak saja yang terlalu memanjakanku, Ma,” jawab bocah itu
sambil tertawa, memamerkan barisan giginya yang putih dan kecil-kecil.
“Apaan memanjakanmu? Dia baru saja jatuh, kakinya terkilir,”
jawab Axel, lalu menurunkan adiknya di dekat mamanya.
“Bagaimana bisa? Mana kakimu yang sakit? Apakah sudah
membaik?”
“Sudah, Ma. Tenang saja. Axel lapar, mau makan dulu,” ucap
anak remaja itu tanpa menyapa Candra. Sejak awal pertemuannya dengan Candra,
__ADS_1
Axel cemderung diam dan lebih menutup diri. ia hanya dekat dengan Alex saja, si
om yang selalu ada untuknya sejak papanya pergi untuk selama-lamanya.
Sementara Candra,
mengabaikan Axel dan mengajak bicara pada Adriel saja yang lebih terkesan
menerima dirinya dari pada kakaknya yang sangat cuek. Meskipun ia sudah
berusaha keras memenangkan hatinya, tetap saja hasilnya nihil. Axel cemderung
memiliki sfat seperti mamanya yang tidak bisa dengan mudah menerima kehadiran orang baru.
“Om Candra, kau sudah makan apa belum? Kalau belum, ayo
temani aku dan kakakku makan siang,” ajak bocah itu dengan sangat ramah.
“Mamamu tidak mengizinkan om masuk ke dalam rumah kalian,
mana mungkin bisa, om Candra bisa menemani kalian berdua makan siang?” ucap
Candra sambil melirik Novita dan mengedipkan sebelah matanya pada wanita yang
berdiri tidak jauh darinya.
Membuat wanita itu menjadi kian kesal saja padanya.
“Baiklah, tenang saja Om. Kau serahkan saja semuanya padaku,”
ucap bocah itu lalu merosot dari gendongan Candra dan memegang kedua
pergelangan mamanya untuk memohon.
“Mama, izinkan om Candra masuk dan makan siang bersama kita,
ya?”
Novita hanya diam, tidak menjawab.
“Ma, ayolah aku mohon… pliss. Izinkan om Candra masuk dan
makan siang bersama kita semua, ya?”
“Baiklah.” Novita menghela napas Panjang sebagai luapan rasa
kesalnya. Tapi, tidak bisa berbuat apa-apa.
Sedangkan Candra menujukkan senyum kemenangannya kepada
Novita. Dan akhirnya, mereka pun menikmati makan siang berempat. Adriel
menunjukkan ekspresi kesukaannya pada Candra, sementara Novita dan Axel lebih
banyak diam.
Ketika mereka hampir menyelesaikan makan siangnya, tiba-tiba
saja ponsel Axel berdering. Dengan malas pula pria itu mengangkat panggilan
terseebut.
“Halo, ada apa Bilqis?” jawabnya dengan nada datar dan
dingin.
“kak Axel, apakah kau ada di rumah? Aku perlu bantuanmu
untuk mengerjakan pr biologi dari guru,” jawab gadis kecil itu dari seberang sana.
“Ya, aku ada di rumah sekarang. Jika kau mau ke sini,
kemarilah cepat. Soalnya nanti sore aku akan ke gym bersama om ku.” Kemudian,
ia mematikan panggilannya dan meletakkan kembali ponselnya pada saku celananya
dan lanjut makan buah yang sudah disiapkan mamanya.
“Bilqis mau ke sini, Xel?” tanya Novita.
“Iya, habis ini mungkin, Ma.”
“Kau ada janji dengan om Alex ke gym?”
“Tidak.”
“Lalu, katamu barusan?” tanya Novita sambil menatap putranya
penuh selidik.
“Kalau tidak begitu dia akan drama, Ma. Sengaja datang sore,
diajari tidur, alasan kemaleman gak berani pulang dan ujung-ujungnya minta
anter,” jawab Axel dengan wajah muak.
Novita hanya tersenyum saja melihat putranya yang sudah
beranjak remaja dan mulai di kelilingi wanita cantik. Tapi, Bilqis baru berusia
duabelas tahun.
‘Ah, bukankah wanita mengalami masa puber lebih cepat dari
seorang laki-laki? Jika laki-laki tujuh belas tahun, maka seorang gadis bisa
mulai Sembilan tahun juga bahkan ada yang sudah menstruasi,’ batin Novita.
“Axel, sudah punya pacar, belum?” tanya Candra, berusaha
nimbrung.
“Axel mau fokus dengan pindidikan dulu, Om. Soal pacar,
kelak kalau dah sukses dan banyak duit para wanita juga akan datang dengan
sendirinya tanpa dicari,” jawab remaja itu dengan dingin. Membuat Candra hanya
bisa tertawa kikuk saja, dan tak bisa berkata apapun. Tapi, dalam benaknya juga membetulkan itu.
“Mama, aku sudah selesai makan. Axel ke kamar dulu,” ucapnya
lalu pergi meninggalkan meja makan.
Sementara Novi hanya menimpali putranya hanya dengan
tersenyum saja. Kemudian, pandangannya beralih pada Adriel yang duduk di pangkuan
Candra sejak tadi, dan meminta untuk segera tidur siang.
“Adriel, ini kan sudah siang, kamu istirahat siang dulu, ya?
Kan sudah selesai makan bersama om Candra juga.”
Bocah itu tidak menjawab selain memeluk lebih erat pada
tubuh candra yang tengah memangkunya.
“Adriel, anak baik, nurut sama apa kata mama, ya sayang?
Kalau Adriel jadi anak yang penurut, om Candra akan sering-sering ke sini,”
bujuk Candra dengan halus.
“Sungguh, om?” tanya anak itu sambil menatap dengan tatapan
penuh harap.
“Iya, om akan janji. Selama, mamamu mengizinkan om datang.”
“Mama… “
“Iya, Adriel.” Sengaja Novita memotong pembicaraan putra
kecilnya karena sudah tak ingin lagi berdebat dengannya. Seberapa besar ia berusaha, hasilnya juga sama aja. Tidak pernah bisa menang jika lawan dengan Adriel.
Dengan raut wajah gembira, bocah itu pun turun dari pangkuan
Candra dan bersorak gembira sambil berlari menuju kamarnya, “Horeeeee!”
Novita tersenyum simpul memandang putranya sampai lenyap di
balik pintu kamarnya. Kemudian, senyumnya memudar ketika pandangannya beralih
pada Candra.
“Apa yang kau tunggu, lagi? Cepat, pergi!”
“Kau mengusirku?”
“Jika iya?”
“Kau tidak ingat, kalau kau butuh aku? Adriel menyukaiku,
lo… ayolah Nov. beri aku kesempataan. Aku janji akan jadi ayah yang baik untuk
kedua putramu. Percayalah,” ucap Candra memohon.
“Ndra, kau carilah gadis lain yang lebih muda dan lebih
cantik. Sudah kuperingatkan padamu sejak dulu, kalau aku ini lebih tua darimu.
Jadi, jangan pernah berharap lebih. Kita cukup berteman saja, ya?”
“Argh! Nov. aku sudah bilang, aku ini sulit jatuh cinta.
Sudah berapa tahun usiaku? Bahkan aku masih lajang dan belum pernah menikah
sekalipun. Cuma kamu satu-satunya yang aku cintai. Dan hanya bersamamu aku
ingin menikah. Tak peduli, berapa banyaka anak yang kau miliki, dan anak kita
sendiri nanti. Aku berani bersumpah, akan tetap menyayangai Axel dan Adriel
seperti anakku sendiri jika kita telah menikah nanti.”
Novita masih diam membisu, dan memalingkan wajahnya ke
samping, tak ingin memandang Candra yang telah memohon, itu hanya akan
membuatnya iba dan pertahanannya runtuh saja.
“Jika aku ingkar, ayo, kita gunakan surat hitam di atas
putih yang ditandatangani materai, aku akan berjanjimmenyayangi Axel dan Adriel
selama aku masih suamimu, dan jika aku ingkar…. “
“Stop! Sudah, Ndra. Jangan diteruskan lagi. Aku tidak mau
dengan apapun lagi darimu. Anakku Adriel meungkin meyukaimu. Tapi, apakah aku
tidak memikirkan Axel yang juga putraku? Kau jangan egois memaksakan
keinginanmu sendiri begitu, Ndra,” bentak Novita sambil beruraian air mata.
“Nov, maafkan aku, aku tidak bermaksut membuatmu sedih dan
menangis.”
“Pergi!”
“Tapi, Nov.”
“Aku bilang pergi! Kau dengar tidak?” teriak Novita dengan
suara lebih kencang.
Dengan berat hati, pria itu pun pergi meninggalkan kediaman
Novita dan juga anak-anaknya. Sebenarnya ada ibu mertuanya juga di sana. Tapi,
sudah tiga hari ini beliau berada di Bandung. Menemani kakek yang tengah sakit.
Novita mengusap air matanya lalu memutar badannya hendak
masuk ke dalam rumah. Tapi, begitu ia berbalik ia dikejutkan dengan putranya,
yang tengah berdiri di ambang pintu.
“Axel? Bagaimana kau bisa di sini, Nak? Bukankah kau berada
di kamar?”
“Maafin Axel, Ma. Axel tidak berniat untuk menguping. Axel
tidak sengaja, karena Bilqis bilang ia akan segera datang. Aku takut nanti saat dia
datang melihat om Candra.”
“Ya sudah, apakah kau akan menunggunya di luar?” ucap Novi
sambil tersenyum.
“Tidak. Aku ingin bicara sama Mama. Tenang saja, Adriel
sudah benar-benar tidur.”
“Baiklah, putraku mau bicara apa? Kelihatannya serius
banget?”
“Mama kalau memang ingin menikah, menikahlah, tidak apa-apa.
Axel tidak masalah memiliki ayah tiri. Kelihatannya om Candra memiliki
ketulusan dan Adriel juga menyukainya,” ucap anak itu tanpa tudu aling-aling.
Lansung saja to the pint.
“Axel, kamu bicara apa, sih Nak? Mama sudah tua. Cukup fokus
sama kalian saja. Selama mama bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup kalian,
untuk apa?”
“Apakah mama tidak butuh pendamping? Apa karena om Candra
memiliki wajah yang mirip dengan almarhum papa? Dia memang sedikit konyol dan
humoris. Tapi, setidaknya, ia bukanlah seorang psychopath.”
“Axel!” seru Novita karena terkejut dengan apa yang putranya
katakan.
“Mama, kau tidurlah siang! Sebentar lagi Bilqis akan datang.
Aku tidak mau kalau dia nanti sampai caper dan sok kenal sok deket sama mama.”
“Baiklah, mama istirahat dulu kalau begitu,” ujar Novita
sambil mengacak-acar rambut putranya. Lalu, beranjak pergi ke dalam.
Sedangkan Axel, ia menunggu Bilqis di dalam sambil bermain
game di ruang keluarga. Dia tak mau terlihat kalau ia tengah menunggunya, yang
ada bocah ingusan itu malah GR dikira ia suka padanya lagi, karena selama ini
Ia merasa kalau tingkah Bilqis sudah mulai tidak wajar. Sementara Axel sendiri tidak mau menjalin hubungan yang disebut pacarana sebelum ia bekerja. Jangankan
Bilqis yang baru kelas satu SMP, teman sebayanya saja juga ia abaikan.
Apalagi, sebentar lagi ia sudah mulai menghadapi ujian
nasional. Jadi, harus belajar dengan giat. Ia memiliki cita-cita masuk ke
universitas ternama dan harus masuk dengan beasiswa, agar orang tua
satu-satunya yang ia miliki bisa bangga terhadapnya.
__ADS_1
Selin itu, juga sebagai kakak, ia juga harus memberi contoh yang baik pada adiknya.