Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 154


__ADS_3

"Kakek, aku berangkat kerja dulu, Ya," pamit Quen sambil memasukan jas dokternya ke dalam tas.


"Queen. boleh, kakek ikut denganmu?" tanya Andrean dengan serius.


"Kakek mau ke rumah sakit buat lihat kondisi papa dan mama?"


Pria itu mengangguk sambil tersenyum. Lalu, Quen mendorong kursi roda kakeknya menuju ke mobil.


Dengan perlahan, wanita itu memapah sang kakek menuju mobil, lalu melipat kursi roda dan memasukannya ke dalam bagasi.


'Kok, aku kuat dan gak kesulitan ya saat bantuin kakek masuk ke dalam? Kek orang yang bisa jalan saja,' gumam Quen dalam hati.


Lalu, ia pun segera masuk agar ada banyak waktu tersisa sebelum jam kerjanya di mulai.


"Kek, nanti kakek mau menunggu di depan ruang ICU sama orangnya kak Al, atau pulang dulu? Biar aku izin ke atasan untuk mengantarkan kakek," ucap Queen memulai pembicaraan.


"Nunggu kamu tidak apa-apa. Kakek kangen banget sama papa dan mamamu, Quen. Harusnya mereka sudah sadar. Ini terlalu lama mereka seperti itu berjuang di antara hidup dan mati."


Andrean tertunduk, menyembunyikan matanya yang mulai basah.


"Kek, ada, kan kasus seseorang selamat dan kembali sadar setelah dua tahun setengah ia mengalami koma? Aku yakin papa dan mama adalah dua di antara mereka. Aku ga ada feeling bahwa mereka akan diam saja seperti itu. Denyut nadinya masih bergerak, mereka akan sadar kelak," jawab Quen penuh dengan rasa percaya diri.


"Iya, kakek cuma rindu dengan mereka. Selama ini. Mungkin dengan melihat mereka cukup mengobati rindu kakek selama ini," jawab Andrean masih tertunduk.


Selama ini, memang Andrean hanya satu kali melihat keadaan mereka berdua. Dan ini adalah yang kedua kalinya. Ia sengaja bukan karena ia merasa tak sanggup melihat kedua anaknya tergeletak tak berdaya seperti itu.


Tiba di rumah sakit, Quen mengantar sang kakek ke ruang ICU sebelum dia memulai bekerja. Cukup lama juga ia menemani sang kakek, sekitar duapuluh lima menit. Akhirnya ia pun bersiap ke tempatnya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Aditya memijat pelipisnya pelan, seharian ini jadwalnya begitu padat. Mulai jam tujuh pagi hingga jam setengah sembilan ada tugas mengajar di kampus. Setelahnya rapat selama satu jam, dan piket di rumah sakit selama tiga jam.


"Uuuhhh... Capek sekali," ucapnya seorang diri sambil mengeluarkan tubuhnya di atas kursi. Hal itu membuat ingatannya menjadi teringat akan Queen, lalu, Novita. Sungguh dua wanita itu sama-sama kuat bertahta di hatinya. Ia tak mampu memilih salah satupun di antara mereka. Tapi, jika memang Novita memaksa untuk pergi, dia tidak mampu berbuat apa-apa. Toh, dia sudah menyakiti hatinya dengan menghamili wanita lain, sekalipun wanita itu sudah berhasil dibunuhnya. Lalu Quen?


"Ah, rupanya aku masih sangat berambisi untuk mendapatkanmu, aku jadi menyesal, kenapa dulu saat kita pacaran aku tidak menidurimu saja, agar kehilanganmu tidak sesakit ini, Queen," ucap Aditya seorang diri sambil mengamati foto wanita berambut pirang dalam layar ponselnya.


Belum puas memandang paras cantik wanita itu, sebuah panggilan membuat foto wanita itu berubah. Aditya menyeringai saat melihat foto wanita itu berkedip di ponselnya dengan penuh gairah dia mengangkat panggilannya.


"Halo, Sayang. Apakah kau ingin bertemu denganku?" jawabnya sambil tertawa kecil.


"Iya, ada yang harus kita bicarakan. Kamu bisa kapan?" jawab wanita di seberang sana dengan nada datar.


"Sudah kuduga, kau pasti kangen aku, kan? Ok sekarang aku juga sudah pulang kerja, gimana kalau ketemu di tempat... " Belum sempat Aditya menyelesaikan kalimatnya,  Novita memotongnya.


"Tidak perlu. Biarkan aku yang menentukannya."


"Hahaha, baiklah sayangku. Kau ada di mana sekarang?"


"Kenapa di sana? Tidak adakah tempat lain untuk berkencan, Sayang?"


"Kau cepatlah kemari!"


"Baik, sayangku, mcuah." Aditya pun segera menutup panggilannya dan dengan semangat ia pun meninggalkan tempat kerjanya dan bergegas menemui Novita. Karena terlalu senang, ia bahkan tidak berfikir atau minimal pemasaran utnuk apa mengajaknya bertemu di tempat itu.


Sekitar dua puluh menit, Aditya sudah tiba, dengan segera ia meninggal parkiran sambil menelfon Novita, untuk ditujukan letak laboratorium yang dia maksut.


Ia melihat seorang wanita mengenakan autfit berwarna biru muda dan celana 3/4 berwarna putih, rambut hitamnya dibiarkan terurai indah. Dengan setengah berlari, Aditya pun menghampiri ibu dari putra satu-satunya itu.


"Maaf, sudah membuatmu menunggu lama." Aditya pun duduk di sebelah kiri Novita dan menatap wajahnya bersiap mendengarkan apa yang akan dikatakan istrinya itu.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" tanya Novita, tak dapat menghilangkan perhatian kecil yang biasa ia lakukan pada suamunya.


"Sudah, kamu mau ngomong apa? Bicara saja."


"Ya.... " Hanya kata itu yang keluar dari mulut Novita. Selebihnya ia diam, lidahnya terasa kelu untuk mengatakan apa yang beberapa hari ini telah berkecamuk dalam hatinya.


'Dari semalam sudah ku persiapkan pertanyaan untuk dia tapi kenapa seolah semuanya hilang setelah aku bertemu dengannya,' batin Novita.


"Kamu mau bicara apa, Nov?" tanya Aditya penuh perhatian.


Hal itu membuat Novita kian bingung, ia tak tahu harus memulai dari mana pertanyaan itu. Untuk menghilangkan rasa canggung nya, wanita itu mengambil ponselnya, lalu membuka salah satu aplikasi catatan dan membacanya mulai dari mana ia harus memulai pertanyaan.


Novita menarik nafas dalam-dalam dengan setengah memaksa ia bertanya kepada Aditya, "Aku mau tanya sama kamu. Tapi, kamu harus janji dulu, kau jawab jujur pertanyaanku. Aku tidak mau kamu bohong," ucap Novita sambil menatap wajah pria di sampingnya.


Dengan santai dan rileks Aditya pun menjawab, "Kamu tanya apa? Ngomong saja! Aku akan jawab jujur kok, sama kamu. Kali ini aku akan benar-benar jujur tidak akan membohongi kamu lagi," jawabnya meyakinkan


"Apakah selama ini kau masih mencintai Queen, dan masih belum rela kehilangan dia? Lalu, kenapa kau masih bertahan denganku? bahkan kau sangat mesra seperti dulu. Apakah kau menganggap aku ini Queen dan menjadikan ku pelampiasan, saja?" tanya Novita, lalu memalingkan pandangannya dari wajah Aditya.


Seketika itu juga, ekspresi Aditya sedikit berubah. Entah itu akting atau bukan. Tapi, semua itu terlihat sangat natural. Ia menjawab, "Maafkan aku, Nov. Jujur aku masih mencintai Queen, aku tidak rela siapapun memilikinya termasuk Alex. Memang aku akui, aku berambisi untuk mendapatkan dia tapi apa yang aku lakukan kepadamu semuanya tulus dari hatiku. Andai kalian berdua sama-sama mencintaiku dan aku harus memilih satu diantara kalian jujur, Nov, aku tidak bisa. Aku mencintai kau dan juga dia. Aku menginginkan kalian berdua, aku merasa kalian adalah wanita terbaik dan aku ingin memiliki kalian yang penuh kasih sayang."


Novita masih membeku di tempatnya. Ia bergeming menunduk sambil meremas ujung baju yang ia kenakan. Entah dia cemburu atau tidak. Sedih, sakit bahagia atau biasa saja. Meskipun iya merasa sakit karena dikhianati setidaknya dia masih bertahta di hati pria itu meski bukanlah yang satu-satunya.


"Lalu, apa maksudmu melakukan hubungan terlarang dengan Helena? Bahkan dia sampai mengandung anakmu?" ucap Novita air matanya pun mulai mengalir.


Aditya mengepalkan tangannya. Ia paling benci melihat Novita menangis. Dan hal itu Helena lah yang menyebabkan, jika saja Helena tidak ceroboh, apakah sampai semua ini terungkap? Dan andai saja dia mau minum pil kontrasepsi, mana mungkin dia akan hamil? Jika pun harus ketahuan dan tidak samapi hamil, Hati Novita tidak akan sesakit ini, Aditya yakin itu.


'Ah, kenapa aku kemarin memberinya kematian yang sangat mudah baginya? Harusnya dia tahu dong, kalau ini fatal dan akan sangat melukai hati Novi. Harusnya kusayat sedikit demi sedikit dan ku kuliti saja tubuh wanita itu sampai ajalnya datang,' batin Aditya dalam hati.


Tanpa berkata apapun, Aditya mendekatkan dirinya dengan Novita, meniadakan jarak di antara keduanya lalu, ia memeluk erat wanita itu.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku khilaf. Kau boleh benci aku, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku."


Soal hati dan perasaan Novita memanglah lemah, harusnya dengan apa yang sudah Aditya lakukan, tidak ada lagi kata maaf darinya. Tapi... Entahlah. Novi yang lemah, atau Aditya yang memang pandai merayu.


__ADS_2