
Berkali-kali Al
melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan kanannya. Sudah lewat dari
duapuluh menit Queen di kamarnya untuk mengganti gaun, namun ia juga masih
belum keluar juga. Antara lelah menunggu dan tak ingin terlalu larut.
“Sayang, apakah kau masih lama?” teriak Al dari ruang tamu
sambil mengenakan jas yang dibawanya.
“Iya, sebentar.”
“Aku harus menunggu berapa lama lagi?”
“Aku sudah sudah selesai.” Entah, bagaimana dia berjalan,
tahu-tahu Queen sudah berdiri dihadapan Al dengan gaun malam berwarna maroon
yang simple, namun elegan dan terlihat mewah. Rambut panjangnya ia gelung dan mengenakan anting berlian yang cukup
besar serta kalung mewah yang membuat penampulannya kian sempurna.
“Cantik.” Al bahkan sampai bengong melihat wanita yang biasa
bersamanya itu. Memang Queen sudah cantic dari sononya, sekarang malah dipoles
dengan mekap yang sedikit glamor tapi flawless dan juga gaun yang bagus, hanya
bisa membuat Al menelan ludah saja.
“Kita berangkat sekarang? Al… Helloooo.” Berkali-kali Queen
menyapukan telapak tangannya di depan wajah Al. Karena Al masih saja bengong,
Queen menyentil hidung Al dan kembali berkata, “dih, kok bengong terus, sih?”
“Penampilanmu menghipnotisku, Sayang. Kamu cantic banget,”
ucap Al sambil meraih pinggang Queen.
“Kamu gombal,” timpal Queen sambil mencubit perut Al.
“Aw, sakit sayang.”
“Ya sudah, ayo, katanya kau buru-buru.”
“Ya, kita ucapkan selamat saja pada mereka dan kita pergi,
bagaimana?”
“Terserah kamu, aku nurut saja deh pokoknya.”
“Baiklah, bagaimana kalau satu minggu kita di sana?” usul
Al.
Queen diam tidak menjawab.
Al menatap wajah yang terdiam itu, kemudian ia berkata lagi,
“Baiklah, aku tahu kau keberatan, dan lagi, mana nyaman kita bersenang-senang
sendiri sementara papa juga baru saja kembali.
“Makasih ya pengertiannya?” ucap Queen sambil menujukkan
senyum palsunya. Sebab, Al akan curiga, jika dia bersikap baik hanya pada saat
ada Nayla. Kecuali, jika Al tidak apa-apa dimanfaatkan. Tapi sayang, dia tipe
orang yang terlalu teliti dalam segala hal. Saking telitinya, Queen bahkan
sampai tidak sadar kalau Al merasa janggal dengan dirinya.
Tiba di sebuah Gedung tempat merayakan pestanya, Al
membukakan pintu mobil dan menggandeng tangan Queen menuju ke dalam Gedung.
Queen yang semula merasa percaya diri saja dengan gaun dan aksesoris yang
dikenakannya kini malah merasa risih saat beberapa satpan memandang ke arahnya
dengan tatapan kagum. Ia sadar, bukan penampilannya yang jadi pusat perhatian
mereka. Tapi, model baju yang menunjukkan belahan dada yang sangat jelas. ‘Dih,
apa si ******** Al tadi bengong liatin ini juga, ya?’ batin Queen.
“Kita Cuma sebentar saja kan, di sini?” tanya Queen sambil
menempelkan tubuhnya pada Al untuk menutupi bagian depan atas.
“Kenapa? Udah gak sabar, ya?” goda Al sambil terkekeh.
Queen bingung harus jawab apa pada Al, apa sebaiknya jujur
saja? “Aku malu diperhatiin banyak orang.”
“Kamu memang luar biasa cantik mala mini, Sayang,” puji Al
sambil terus menggandeng lengan Queen.
Di sana, Al langsung menyapa siapapun yang hadir termasuk si
tuan rumah, yang mengadakan pesta, tepatnya.
“Pak Al, apakah dia istrimu? Wah, ternyata istri bos kita
sangat cantik, ya? Pantas saja, tidak pernah ada waktu ngumpul-ngupul di rumah.
Lawong yang menunggunya di rumah saj seorang bidadari,” goda salah satu teman
Al yang usianya terlihat seumuran dengan papa Vano.
Al hanya tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada pinggang
Queen. “Dia istri saat di rumah. Tapi, kalau di kantor, dia adalah asisten
pribadi,” jawab Al dengan nada bercanda. Kemudian diikuti suara gelak tawa dari
mereka.
“Hay, Al!”
Al dan Queen langsung menoleh kea rah wanita yang memanggil
nama Al tersebut.Terlihat oleh Queen seorang wanita dengan tinggi badan
kira-kira 155cm, berkulit putih, rambutnya tipis, lurus sepinggang dan diwarna
pirang dibagian ujungnya. Dilihat dari segi penampilan sepertinya ia lumayan
Elit. Queen mentafsirkan, biaya perawatan wajahnya saja mungkin sekitar sepuluh
juta perbulan.
Al masih diam belum menjawab selai senyuman tipis untuk meresponnya. Wanita itu
tiba-tiba saja menghampiri Al dan langsung memeluk memberikan ciuman pipi kiri
dan kanan pada pria itu.
“Kau datang juga, Al? Kamu apa kabar? Aku dm gak pernah
dibalas. Oh, iaya by the way, sendirian saja?”
“Tidak. Aku bersama istriku,” jawab Al, sambil memandang ke
arah Queen yang entah sejak kapan sudah menjaga jarak saja darinya.
“Apa? Sama istri? Emang kamu sudah menikah, Al?” tanya
wanita itu dengan tatapan terkejut sekaligus tidak percaya.
“Cewek yang memakai
drees maroon itu adalah istriku, ayo aku kenalkan!” ajak Al. kemudian pria itu
berjalan meraih tangan Queen dan memperkenalkan pada adik kelas semasa SMA
dulu.
“Sayang, kenalin ini dulu adik kelasku, dia sepupu temanku
yang mengadakan pesta ini. Namanya Angela.”
“Hy, senang bertemu denganmu, aku Quuen.’’ Queen tersenyum
sambil menjulurkan tangannya.
Gadis begaun biru itu hanya menjabat sebentar tangan Queen
dan menjawab singkat, “Angela.” Kemudian ia pun pergi ytanpa sepatah katapun.
“Biar kutebak, dia pasti naksir sama kamu dari dulu, ya?”
ucap Queen sambil tersenyum.
“Aku tidak suka sama dia, dia sama sekali bukan seleraku.”
Al nampak cemberut saat digodai istrinya sendiri.
“Seleramu sama janda, ya?” ucap Queen lagi sambil terkikik.
__ADS_1
“Awas kau sayang, aku akan menghabisimu nanti, ya?” Al
memandang tajam penuh arti pada Queen yang masih menertawakan dirinya.
“Oh, aku menanti saat itu tiba.”
“Ayo, kita ke sana, aku kenalkan kau dengan beberapa teman
SMA ku dulu.” KEmbali Al menggandeng pinggang Queen dan berjalan menuju
kerumunan laki-laki dan oerempuan di sudut Gedung.
Sekitar dua meter
jarak Al Queen berdiri, di sana ada beberapa orang brkerumun, satu diantaranya
ada Angela. Mereka sepertinya pada menggoda wanita itu.
“Ciee ada yang patah hati nih, yeee.”
“Udah, Ngel. Kau tak ada harapan lagi, menunggu dia atau,
jika kau memang ingin jadi perawan tua. Bahkan usia mu sekarang juga sudah
mendekati kepala tiga. Istri Al masih sangat muda, cantik dan sepertinya… “
Kata-kata salah satu wanita itu mwngambang tak diteruskan saat seorang pria
menyikutnya.
Sepertinya mulai saat ini Queen memiliki hobi baru, dia suka
memanas-manasi siapapun yang naksir pada Al. Mengetahui Angela menatap ke
arahnya ia pun kian erat mengaitkan lengannya pada lenggan Al. Bahkan, ia menyandarkan
kepalanya di pundak Al.
“Apa kamu lelah, Sayang?”
“Lumayan, setelah acara potong kue saja, ya kita segera
kembali.”
Al pun ikut berkumpul dengan orang-orang alumni sekolahannya
dulu. Ia memperkenalkan Queen dengan rasa bangga pada mereka semua. Pukul
Sembilan lewat klima belas menit Al pun meminta izin pada teman-temannya untuk
kembali.
“Semoga senang dengan hadiahnya. Gua gak tahu kalau ini juga
aniversari pernikahan kalian juga. Semoga senang dengan hadiahnya,” ucap Al.
“Iya, tanggal pernikahan kami saat itu juga bersamaan dengan
ulang tahun istriku, Al. Terimakasih sudah mau datang. Seringlah main ke
tempatku, ajak istrimu juga,” jawab Boby, teman Al sambil memeluk dan menepuk
pundak pria itu.
Begitu masuk ke dalam mobil, Queen langsung menyandarkan
kepalanya pada sandaran kursi, dan menghembuskan napas lega.
“Bener-bener capek, ya?” tanya Al.
“Lumayan. Maaf, ya kalau aku membuatmu tidak enak dan tak
bebas di acara aniv temanmu tadi?” ucap Queen merasa sedikit bersalah.
“Tidak apa-apa. Aku ngerti kok, kamu merasa bosan di sana
karena tidak ada satupun yang kau kenali. Jadi, itu wajar sih menurutku. Mau
ramah pada teman wanitaku, rata-rata dia tidak menyukaimu.”
Queen tersenyum malu-malu. Kemudian ia menimpali, “Uda jadi
resiko bagi wanita yang dinikahi oleh mational husband, pasti banyak hatters.”
“Tenang, aku akan selalu ada untukkmu dan melindungimu dari
apapun, apalagi serangan hatters.”
Queen terdiam, mendengar kata-kata Al barusan rupanya
sedikit menyentuh hati dan perasaannya. Bagaimana tidak, ia teringat bagaimana
saat ia melarikan diri dari Aditya dan Al pun rela menuruni jurang tanpa
pengaman demi dirinya. Padahal, kondisinya sendiri juga jauh dari kata
serupa.
‘Stop, Queen. Jangan lagi memikirkan pria lain, cukup lihat
siapa yang disampingmu, jika kau terus memikirkan Diaz, itu akan membuatnya
tidak suka dan melakukan hal buruk padanya,’ ucap Queen dalam hati sambil
mengelengkan kepalanya bberapa kali, seolah-olah ia menolak dengan keras
ingatan mengenai masa lalunya bersama pria itu.
Sekitar hampir satu jam lamanya menempuh perjalanan. Al dan
Queen pun tiba di rumah dekat pantai yang biasa ia sebut dengan Vila itu.
Dulunya, itu adalah tempat penginapan para turis domestic ataupun mancanegara
yang mendatangi pantai yang letaknya cukup tersembunyi itu. Tapi, semenjak
dibeli oleh Vano, itu menjadi tempat pribadi dan tidak disewakan. Dua atau tiga
hari sekali saja ada seseorang yang masuk ke dalam untuk bersih-bersih dan
menggantikan gorden setiap satu bulan sekali. Dan ada satu pos yang ditempati
tukang kebun, beliau asalah orabg bertanggung jawab dengan vila ini, tidak
hanya keamanan dari pencuri. Tapi, juga menyalakan lampu saat sore, dan
mematikannya ketika pagi.
“Tempay ini juga yang dulu dibuat papa dan mama berbulan
madu,” ucap Al sambil membuka pintu utama.
“Termasuk kau dan Nayla?”
“Belum pernah dia aku ajak ke sini.”
“Artinya, suatu saat kau juga akan mengajaknya kemari?”
Al tidak mau berdebat lagi dengan Queen. Lagipula dia
berkata begitu juga bukan karena cemburu. Akhirnya, ia pun mengankat tubuh
wanita itu dan membawanya masuk ke dalam kamar utama yang ada di sana. Kamar
yang paling besar dan luas. Tiba di sana, Al langssung merebahkan tubuh itu di
atas ranjang yang berukuran king size yang tertata rapih dan wangi.
“Jangan bahas wanita atau pun pria lain sekarang. Di sini
hanya ada aku, dan dirimu. Anggap ini malam pertama kita yang penuh dengan
cinta.” Al menindih tubuh Queen dan melakukan French kiss pada Queen cukup
lama.
Malam itu Al cukup surprise dan dibuat terkejut dengan
Queen. Bagaimana tidak, wanita itu membalas ciumanya, bahkan, lidahnya juga
ikut merespon menari-nari bersama lidahnya di dalam rongga mulutnya. Tidak
hanya itu, kedua tangannya pun juga memeluk lehernya, membuat ia tidak bisa
menyudahi ciumannya.
Tapi, ia dengan berat dan sangat terpaksa harus menyudahi
aktifitasnya ketika mendengar derap kaki dari luar. Ia yakin kalau itu adalah
satpan yang mengantarkan barang yang ia pesan melalui online beberapa waktu
yang lalu.
“Ehem… Maaf, pak. Ini tadi siang ada paket datang atas nama
anda.”
“Oh, ia pak, termikasih.” Al pun beranjak dan menerima
bungkusan paket tersebut.
Queen memperhatikan wajah pria paruh baya nampak merah, dan
menujukan rasa canggung serta tak nyaman. Mungkin dia sempat melihat adegan tak
__ADS_1
pantas yang Al dan Queen lakukan. Sebab, pintu kamar, terbuka lebar. Sementara
posisi ranjang juga tepat berada lurus dengan pintu.
Dengan santai, seperti tidak ada apa-apa, Al membuka
bungkusan paket tersebut dan mengeluarkan isinya. Dua buah baju, satu lingeri
dan kimono tipis, menerawang berbahan sutra dan satunya lagi adalah outfit
wanita.
Epertinya Al memang
sudah menyusun semua ini dengan matang. Bahkan paket pun juga katanya datang
tadi sore. Jika paket Ekspres, berarti hari ini ia memsan semuanya.
“Kamu ganti pakaian dulu, sekalian bersihkan mekapmu,” ujar
Al sambil memberikan dua potong pakaian wanita.
Queen menrima dua pakaian yang terdiri dari lingeri dan
kimono tersebut. ‘Astaga… apa bedanya dengan telanjang aku jika memakai ini?
batin Queen sambil membeber kain tersebut di bawah paparan cahaya lampu kamar yang terang.
“Kenapa? Apakah kau tidak menyukainya?”
“Terlalu tipis gak, sih?” Bahkan wajah Queen pun juga nampak
masam.
“Mau sampai berapa kali aku menegaskan kalau aku ini
sekarang adalah suamimu, Sayang? Tahu begitu, kubiarkan saja sekalian mala mini
kau telanjang bersamaku di sini.” Wajah Al yang nampak santai sedari tadi
bahkan juga menujukkan kekesalannya.
“Baik, Sayang, aku akan ke kamar mandi dulu, ya?” Queen pun
beranjak sambil mencium kolat bibir Al dan menuju ke kamar mandi sambil membawa
baju tidur sexy pemberian dari suaminya.
Al hanya tersenyum mendapati tingkah Queen yang terhitung
sangat berani untuk bersandiwara. Namun, Al masih belum tahu, apa alasan di
balik semua itu. Untuk apa dia melakukannya? Apakah ia sengaja mengelabuhi
Diaz?
Tiba-tiba saja, ponsel Al kembali berdering. Beruntung,
wanita itu menggunakan panggilan seluler, jika menggunakan panggilan Video,
pasti ia juga tidak akan mengangkatnya.
“Halo, ada apa, Nay?” jawabnya dengan nada datar.
“Kamu di mana, Mas? Malam ini pulang apa tidak?”
“Aku perjalanan menuku ke Bandung hari ini. Tidak bisa
kembali, tolong kamu sampaikan pada kakek dan jufa papa, ada hal yang perlu aku
urus di sana.” Tanpa menunggu jawaban dari Nayla, Al pun langsung mematikan
panggilannya dan matanya langsung tertuju pada pintu kamar mandi yang terbuka.
Untuk kedua kalinya, Queen membuat Al terhipnotis
olehpenampilannya selama semalam ini. Tanpa sadar, Al menjatuhkan benda pipih
yang ada pada genggamanmya dan berjalan perlahan tanpa mengedipkan mata menuju
di hadapan Queen.
Mata Al menyusuri setiap inci lekuk tubuh dibalik pakaian
yang sexy dan transparan itu sampai bebapa lama tanpa sepatah katapun.
“Sudah, belum melihatnya?” tanya Queen.
Tak ada jawaban dari bibir Al. kedua tangannya memegang
kedua sisi lengan atas wanita di depannya dan menatap bagian belahan dada yang
tercetak jelas dan menantang di hadapannya seraya menelan ludah.
“Al, kau masih di sini, kan?”
Lagi-lagi Al hanya diam, ia malah meloloskan kain sutra
tipis itu dari pundak Queen, dan mulai menium pundak, hingga pangkal leher dan
kembali ******* bibir wanita itu. Malam ini Al seperti benar-benar gila. I
sangat bergairah. Begitu bernafsu tapi tidak berutal dan ganas. Namun tetap
saja tak bisa di bling lembut. Al sepertinya tidak bisa berlaku lembut, kecuali
semalam saat merayu Queen yang masih membencinya.
Malam ini pun menjadi malam yang paling menyenangkan bagi Al
ia bisa mencapai puncak kenikmatannya dengan perasaan yang benar-benar puas.
Sebab, kepuasan tidak hanya dinikmati dia saja, namun juga Queen, hingga
menjelang fajar, keduanya sama-sama terkapar dalam peluh kenikmatannya.
Al menarik tubuh Queen dalam pelukannya dan mendekapnya
hingga keduanya sama-sama terlelap.
Seperti biasa , Queen selalu bangun lebih awal, diarihnya
lingeri yang berserakan di atas lantai lalu dikenakannya. Sambil mengikat
rambut, wanita itu membuka gorden kamar, dan meloleh ke arah Al sambil
tersenyum melihat ekpresi pria itu yang tengah pulas tertidur, tiba-tiba saja
sinar mentari pagi menyilaukan netranya.
Pria itu mengeliat, membuka seblah matanya dan menutup,
depan keningnya dengan telapak tangan kanan dan melihat seorang wanita beridir
di depan jendela.
“Selamat pagi, Sayang,” sapa Al dengan suara serak, khas
pria bangun tidur. Al mengeliatkan tubuhnya lagi sambil mengerang, meluruskan
otot-ototnya yang terasa menegang setelah pertempurannya semalam yang terasa
sangat melelahkan, kemudian ia menyingkap selimut dan berjalan menghampirir
Queen.
“Apakah kau tadi melihat sunrise?”
“Tidak, aku baru saja terjaga,” jawab Queen. “oh, iya.
Apakah ada bahan makan yang bisa kumasak di dapur, Al?” tanyanya, sambil
memegang tangan Al yang melingkar di pingganngya.
“Ya, seharunya ada, lah. Kan pak satpam juga butuh makan
setiap harinya, dan mengambilnya bahan makan serta mengolahnya juga di sini.”
“Ya sudah, akum au bikin sarapan dan kita segera kembali
saja ke rumah.” Queen mulai berjalan keluar kamar.
“Kenapa harus terburu-buru, Sayang?”
“Ayolah, yang ngertiin aku lagi. Kita masih bisa, kan lain
kali datang kemari?” keluh Queen dengan nada memohon.
Al tidak menjawab, ia masih saja menempel di belakang Queen,
dan malah tangannya bergerilya kemana-mana hingga menyentuh daerah sensitive
Queen.
“Ah… Al, apakah yang semalam itu kurang?” Queen mendongak ke
belakang sambil menatap wajah pria yang telah berubah jadi suami dari seorang
kakak.
“Iya, masih kurang, hehehe.”
“Aku gak mau,” jawab Queen sambil cemberut.”
“Ayolah, aku ini suamimu, kau tidak boleh menolaknya.”
__ADS_1
“Baiklah. Tapi, aku gak mau lama-lama.”
“Iya, Sayang, sebentar saja.”