Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 97


__ADS_3

Dengan langkah sedikit tergesa-gesa Quen menuju ruangan dr Lusi dengan maksut memberikan laporan hari ini. Senang, sudah pasti. Karena waktu praktik sudah usai. Tapi, satu hal yang ia sesalkan. Ia kurang waspada saat akan memasukan jarum infus pada seorang nanti sampai-sampai perutnya tertendang.


Dia berjalan sambil mengusap beberapa kali perutnya dannberharap cukup dia saja yang merasa sakit. Jangan anaknya.


Perlahan Quen mengetuk pintu ruangan. Karena sudah mendengar sahutan dari dalam, ia pun masuk.


"Permisi, selamat siang, Dokter."


"Silahkan, Quen! Bagaimana hari pertamamu praktek? Tadi, mamamu menelfon menanyakan kamu ke tante."


Mendengar arah pembicaraan tante Lusi tidak formal, dan lagi, tiada siapapun, Quen juga relax san menggunakan bahasa santai pula.


"Sudah terjadi drama tadi, Tan. Perutku kena tendang bocah sembilan tahun yang terkena DBD tadi, semoga aja anakku tidak apa-apa, kasian sekali dia," ucap Quen sambil mengelus perutnya.


mendemgar pernyataan Quen, Lusi benar-benar terkejut. Tapi, menyemangati adalah hal yang wajib dia lakukan dari pada menunjukan kekawatirannya.


"Hal wajar, tapi, janin kamu tidak apa-apa, kan? Lebih hati-hati lain kali, masih ada banyak drama dan tantangan yang akan kai hadapi selama menjado koas. Semoga dengan kecerdasanmu kau bisa segera meraih gelar dr sebelum dua tahun, ya?"


"Iya, Tante. Terimakasih."


"Ya sudah, kau boleh pulang sekarang. Salam pada papa dan mama, ya?"


"Baik, Tante. Nanti Quen sampaikan."


Keluar dari dalam ruangan dr Lusi, Quen berjalan sedikit pelan sambil memperhatikan layar gadgetnya. Ia menerima pesan dari Alex dan Al. Alex meminta maaf memberitahukan kalau dia tidak bisa menjemput. Tapi, Al yang akan menjembutnya. Dan nanti malam ia akak menjemputnya di rumah orangtuanya. Dan Al, memberi pesan yang isinya serupa.


Tapi, di sebuah lorong dengan ruangan tiba-tiba ada yang menarik lengan kanannya dan membawanya masuk ke dalam. Belum sempat Quen berteriak, orang itu sudah membukam mulutnya dengan kencang.


"Kau diam, atau nama baik dan reputasimu hancur. Percuma kau berteriak dan mengundang perharhatian orang-orang. Mereka akan tetap berfikir kau yang menggodaku. Ingat, kau hanya koas di sini. Sementara aku sudah lama bekerja sebagai dokter spesialis. Namaku baik dan bersih mereka akan lebih percaya kata-kataku." ancam suara itu.


Quen hafal dengan suara dan aroma tubuh ini. Dulu, mungkin dia menyukai dan betah dalam pelukannya tapi tidak dengan sekarang. Ia menciumnya saja sudah tersa mual.


"Lepaskan aku!" Serunta sambil menahan rasa mau mutah.


Aditya yang sudah gila dan tak memahami ekspresi itu tetap mendekap Quen. Dan parahnya, ia malah menghadapkan tubuh wanita itu kearahnya dan...


"Hoeek!"


Mual di perutnya tak tertahankan lagi, Quen pun berhasil memutahi jas dokter berwarna putih yang Aditya kenakan dan bahkan sebagian besar juga bercecer di lantai.


Aditya memegangi dahinya, dan bergumam lirih, "Sialan!"


"Kakak ipar, rupanya calon keponakanmu ini tidak suka dengan aroma tubuhmu, jadi, jangan dekat-dekat apalagi sampai main sergap dan peluk seperti tadi. Kau, tak ingin dia keracunan gas dari yang mamanya hirup, kan?" ujar Quen lalu segera keluar dan berlari keluar ruangan.

__ADS_1


"Apa, Quen sudah hamil? Kenapa Alex tidak memberitahukannya padaku, pada Novi atau siapa. Bahkan aku tidak tahu apa-apa. Pantas daja, dari tadi dia nampak terus mengelus perutnya."


Memikirkan Quen, Aditya melupakan lantai bahkan kemeja kotor yang masih ia kenakan. Rasa risih dan jikik seolah terlupakan akibat terlalu syock.


"Quen hamil, ya? Hahaha, menarik akan lebih menarik lagi jika janin dalam rahimnya itu adalah anakku bukan anak Alex, gumam Aditya seorang diri.


Tanpa sengaja, Diaz melihat Quen di depan rumah sakit, awalnya pria itu akan menawarkan tumpangan dan mengantarnya pulang. Tapi, ia lebih dulu berhambur pada pria yang dilihatnya saat video call dengan Quen di kantin rumah sakit. Ya, dia adalah Al. Kakaknya Quen.


Gadis itu tersenyum memeluk sang kakak dan bersalaman mencium tangannya. Sama persis seperti adiknya di kampung. Setelah sedikit mengobrol dan sang kakak mengusap ujung kepala sang adik, mereka berjalan masuk ke dalam mobil ferrary merah. Semakin ciutlah jiwa Diaz untuk bisa mendekati Quen. Ia merasa tak pantas.


Kalau pun tanpa beasiswa, mana mungkin dia bisa menjalani praktik sampai seperti ini? Quen selain cerdas dia juga terlahir dari keluarga kaya. Hidup di kampung, mungkin sangat tidak cocok dengannya.


Diaz pun memacukan motor matic beatnya dan melucur menuju tempat kosnya.


* * *


Aku kira papa yang mau jemput aku nanti, Kak. Kemana mobilmu?" tanya Quen saat berada di dalam mobil sang kakak.


"Ada di sorum. Masih melakukan perawatan," sahut Al.


"Ini, kau mau kakak antar ke rumah Alex apa pulang ke rumah dulu?"


"Iya deh, gapapa. Dari pada nanti Alex harus jemput aku ke rumah, kasian aku pulang langsung aja ya kak."


"Tumben, kemana?"


"Ke yayasaan sama nenek dan Nayla cari pembantu baru. Dan kedua kakek kita pergi fishing," ucap Al sambil tertawa.


"Yah, rumah kosong, dong!"


"Makanya, kakak tawarin kamu, pulang apa ke rumah mama dulu."


"Iya, deh iya. Pulang aja!"


Sekitar lima belas menit mobil yang dikendarai Al dan Quen sudah tiba di halaman rumah Alex.


Sementara Quen segera mengirimkan pesan singkat pada sang suami kalau dia sudah tiba di rumah. Jadi, Alex tidak harus repot-repot jemput Quen ke rumah mertuanya.


"Kak, mampir dulu yuk, ngopi atau ngeteh, sekalian tunggu Alex pulang," ajak Quen pada pada sang kakak.


Al melirik jam tangannya, masih menunjukan pukul lima. Ia pun menyetujuinya.


Saat mereka membuka pintu. Bibi yang bekerja di rumah Alex turut menyambut. Karena sudah kenap dengan Al juga, dia turut mempersilahkan.

__ADS_1


"Den, Al. Kirain den Alex yang datang. Mari, den. Mau kopi, apa teh?" sapa wanita paruh baya itu dengan ramah.


"Makasih, Bi. Apa aja deh, lagi ingin yang panas-panas begini," jawab Al.


"Duduk saja, kak. Duapuluh menit lagi Alex juga akan tiba, kok. Aku mandi dulu," ucap Quen beranjak meninghalkan Al.


Selang beberapa menit, Quen sudah kembali dengan wajah yang lebih segar dan fres dengan balutan daster berbahan katun motif floral selutut sambil membawa kotak berwarba pink.


"Tuan putri, tumben mandinya cepet banget?" goda Al.


"Hahaha, aku tidak tega melihat kau dikacangin di sini, Kak." Gadis itu pun dudul di sebelah Al dan membuka isi di dalam kotak itu. Lalu menawari kakaknya, "Mau?"


Al bergidik sambil mengelengkan kepalanya membayangkan keasaman buah itu saja dia tak mampu, apalagi memakannya.


"Ya udah kalau gak mau, aku makan sendiri nih!" Dengan lahap Quen mengunyah mangga muda yang tadi tak sempat ia makan. Seolah rasanya nikmat dan manis.


"Bagaimana hari pertama kau kerja? Ketemu kakak ipar, tidak?"


Mendengar pertanyaan itu Quen langsung tersedak.


"Eh, hati-hati. Kau kenapa, Quen?" tanya Al panik. Dan hanya bisa mengelus punggung adiknya agak keras.


"Iya, ketemu," jawab Quen singkat.


"Kenapa sampai tersedak gitu kalau cuma mo ngomong itu aja? Terjadi sesuatu?"


"Tidak!"


"Kau ini tidak ada bakat berbohong. Jawab jujur, ada apa?"


"Tadi aku gak sengaja muntah di bajunya, kak."


"Kenapa?"


"Dia terlalu dekat sama aku, dan kayaknya keponakanmu ini tidak suka dengan aroma dia. Jadilah dia mual dan muntahin ke jas dokter omnya yang rese itu."


"Oh, sepertinya dia belum rela ya lepasin kamu gitu saja?"


"Ih, kakak Sotoy, deh!"


"Kamu gak usah mengelak. Kakak diam-diam selalu menyelidiki orang di sekitarmu," tegas Al.


"Dasar cctv!" ejek Quen. Dan pria itu pun hanya tertawa.

__ADS_1


Dalam hati Al tidak peduli kalau ini dikatakan berlebihan oleh siapapun, sebab, Quen adalah prioritas setelah Clara yang harus bahagia dan dijamin keamanannya.


__ADS_2